Ajakan Naik Kerinci-Gunung Tujuh (Awal April atau Akhir Mei/Awal Juni-2015)

Dear rekan-rekan IBP,

Tahun 2012 saya pernah posting ajakan serupa (khusus Gunung Tujuh saja), beberapa ada yang merespon tapi akhirnya batal. Di tahun yang sama saya juga merespon ajakan naik Kerinci dengan serius, namun tidak mendapat info final. Baiklah, walau beberapa kali gagal saya beranikan diri untuk posting ulang walau telah berlalu 3 tahun. Sebagai pelampiasan, di tahun 2013 saya mendaki Puncak Rinjani, disusul 2014 kebagian Gunung Semeru.

Tahun 2015 ini, saya mencari teman jalan untuk naik ke Gunung Kerinci dan Danau Gunung Tujuh-nya. Lama perjalanan kira-kira 7 hari, dengan jalur (bisa didiskusikan) Padang-Kayu Aro-Padang (jika tertarik ke Bukittinggi) atau Padang-Kayu Aro-Bengkulu. Saya akan start dari kota Jogja atau Jakarta. Budget kasar sekitar 5 juta rupiah.

Saya bukan pendaki cepat, dan umur juga sudah tidak muda banget, sehingga yang saya harapkan adalah pendakian dengan kecepatan perlahan-sedang dan lebih memberikan waktu untuk menikmati dan mengabadikan keindahan alamnya (saya suka memotret). Peralatan mendaki seperti tenda dan peralatan masak akan sewa di lokasi, plus membawa porter secukupnya untuk membawa peralatan tsb (carrier bawa sendiri).

Jika ada rekan-rekan yang serius, silakan japri, kita rundingkan itin detilnya.Saya tidak berharap pendakian ala rame-rame (maksimal 4 orang) jadi walau ada satu orang saja yang berminat bergabung dan serius, InsyaAllah akan direalisasikan.

Salam,

R. Heru Hendarto

[indobackpacker] Jalur Tikus / Jalur Masyarakat Lokal Kalimantan Barat – Sumatera

Hai Mbak Erlina, makasih banyak loh buat inonya… Ngngn.. Kalau boleh saran yah… Sekecil apa pun info yang anda punya, kabarkanlah karena itu bisa jadi clue bagi orang lain untuk lebih dikembangkan.Janganlah ragu! Saya pribadi yakin, bahwa teman2 di group ini cukup dewasa menyikapi setiap informasi. Info yang masuk, akan mereka telisik lebih jauh dan dalam lagi sebelum dieksekusi. Anyway, gegara Pelabuhan Sintete Mbak Erlina, saya teringat email lama dari teman yg pengusaha cangkang sawit di Medan. Pas saya contact teman itu buat tanya2, dia bilang, terkadang ada kapal tongkang, roro dari Pelabuhan sintete ke Dumai. Dia kemudian memperkenalkan saya dengan seseorang yg berprofesi semacam mandor kuli angkut di pelabuhan tersebut. Dari si Mandor, sy dapat info bahwa ada kapal kayu yang biasa ke Natuna dari Pelabuhan Sintete ini, meski tidak reguler. Tidak cuman itu, si mandor juga bilang kalau masih ada lagi 2 pelabuhan kecil di daerah Pemangkat, namanya pelabuhan Tj. Batu dan Pelabuhan Seteher. Tapi katanya, ke dua pelabuhan kecil tadi adalah pelabuhan nelayan yang mencari ikan sampai ke Natuna sana (seneng banget pas denger bagian ini.. :D ). Dari data2 ini saya coba contact salah seorang teman di WWF Indonesia, untuk lebih yakinnya. Dan doi membenarkan dan menyarankan untuk naik lebih ke atas lagi sampai ke Kecamatan Paloh (setelah intip di peta, Binggo!.. ujung euyy…) karena di Paloh ada pantai cantik yang ‘must be visit’ karena menjadi pantai tempat peneluran penyu terbesar ke 2 di Indonesia dan masih ada lagi pelabuhan kecil tempat bongkar/menjual ikan nelayan setempat yg melaut di sekitar perairan Natuna dan Laut Cina Selatan. Sekalian aku diminta bantu2 teman2 pokdarwis (Kelompok Sadar Wisata) di Paloh untuk mengedukasi masyarakat nelayan tentang pelestarian hiu dan penyu, Gila ya… di daerah sejauh (dan mungkin terpencil) itu, ada kelompok sadar wisata..!? Bukan main hebatnya Indonesia ini !!  So, kesempatan untuk menemukan dan mencicipi jalur tikus, semakin terbuka lebar. And yo know what..!? Because of you.. :)

Salam Petualang Nusantara,

Why’ Is Pada Selasa, 20 Januari 2015 17:26, e r menulis:

Mas, saya coba jawab via japri aja ya karena saya jg ga yakin dengan jalur ini…saya kelahiran pontianak dan pernah keliling pulau Kalimantan via udara, darat, dan laut (sebagian kecil)…untuk Singkawang dan Sambas setau saya ga ada pelabuhan laut yg cukup besar, dalam pengertian untuk kapal2 nelayan yg berlayar sampai sejauh ke Aceh/ Medan, ada nya pelabuhan atau teluk kecil tempat perahu2 nelayan motor tunggal aja…tapi ada 1 pelabuhan laut yg cukup besar di area Pemangkat (antara Singkawang dan Sambas), nama nya pelabuhan Sintete klo ga salah, mungkin mas bisa coba cari info via pelabuhan ini, kapal perintis biasa nya…atau menempuh jalan via pelabuhan Pontianak di mana jauh lebih banyak kapal besar (dulu ada kapal pelni, coba cek rute di web ybs), tapi ya itu rute jd kebolak balik. Good luck :) Erliana From: “Uwais Al Qarni uwais_alqarni@ymail.com [indobackpacker]” To: indobackpacker@yahoogroups.com Sent: Tuesday, January 20, 2015 5:57 AM Subject: [indobackpacker] Jalur Tikus / Jalur Masyarakat Lokal Kalimantan Barat – Sumatera

  Hello Travelers,Newbie mohon info dan masukan nih.. Pertengahan tahun ini sy berencana utk longtrip 3 bulan dan akan memulai perjalanan dari Benteng Keraton Buton di Sulawesi Tenggara tgl 17 mei dan finish di Puncak Mahameru tgl 17 agustus.Ada pun rute yg sy inginkan, sbb: Buton (start) – Wakatobi – Ambon (explore Maluku) – Ternate (explore Maluku Utara) – Manado – Tarakan – Nunukan – Malinau (overland explore Pulau Kalimantan sampai di Sambas, Kalbar via jalur Trans Kalimantan) – overland explore Sumatera dari Aceh (titik 0 Indonesia) ke Lampung via jalur barat Trans Sumatera – Banten (overland Jawa sampai Malang) – Gn. Semeru (finish).

Pada kesempatan ini, saya memilih solo trip. Dan akan meng-combine moda transportasi darat dan laut saja. Biar perjalanannya efektif dan efisien, sebisa mgkn sy hindari jalur bolak balik saat berpindah dari point ke point. Nah, yg ingin sy tanyakan.. Adakah teman2 yg punya info atau saran bagaimana sebaiknya sy mentaktisi perjalanan saat meninggalkan Pulau Kalimantan menuju Pulau Sumatera ??FYI, sejauh ini jalur paling efektif yg saya kantongi adalah Pontianak – Natuna – Batam – Medan (via laut) – Aceh (via darat).Rute ini masih sy rasa kurang memuaskan, karena sy masuk ke Kalimantan Barat dari Kalimantan Tengah, tiba di Pontianak, sy masih ingin bergerak ke atas (arah utara) sampai ke Kab, Sambas. So, biar bisa nyebrang ke Natuna, saya mesti balik lagi dong ke Pontianak ?? Ini yg kurang sreg menurutku. Belum lagi dari Medan ke Aceh (naik ke atas) kemudian turu lagi sampai ke Lampung. Sy berharap menemukan info jalur laut dari daerah sekitar Kab. Sambas atau (at least) Kota Singkawang di Kalbar menuju Aceh di Sumatera, atau paling tidak Masuk Sumatera via Medan. Note: Jalur laut yg saya cari adalah jalur laut yg tidak biasa.. Kalau istilah saya pribadi, jalur tikus/jalur masyarakat lokal.Seperti contoh:Teman2 mau berkunjung ke TN. Takabonerate, Otomatis, teman2 harus ke Makassar dan lanjut ke Selayar (entah dgn cara bagaimana, overland via Tanjng Bira atau flight Makassar-Selayar), kemudian di mainland Selayar nyari boat ke Kawasan TN Takabonerate. Dan baliknya pake jalur itu juga. Nah, bagaimana kalau teman2 mau balik tapi tidak ingin mengulang jalur yg sama atau gak bisa balik (tertunda) karna ombak di perairan rute itu lagi ngamuk berat ?? Parahnya lagi, teman dikejar waktu. Haruskah panik..!? Gak perlu menurutku. Karena sebenarnya, ada alternatif lain.. Begini caranya: Saat bertemu kasus seperti yg saya deskripsikan, berusahalah untuk menggapai Pulau Jampea (Pulau terbesar dan berpenduduk terpadat di Kawasan TN Takabonerate), Di pulau ini ada jalur tikus menuju ke Alok, Maumere, NTT. Kapal para saudagar/pedagang berangkat tiap hari untuk berdagang,baik dari P. Jampea ke Maumere maupun sebaliknya, dengan waktu tempuh 5 jam (tahun 2011 kemarin sy membuktikannya dari Maumere ke P. Jampea).Jalur tikus kayak begini, tidak banyak yang tahu karena hampir tidak terekspos. Hanya masyarakat sekitar dan pelancong (yang beruntung) nyasar macam saya di 2011 kemarin yg tahu.Contoh lain: Teman2 Domisili di Makassar, kebetulan ngidam pengen ke Kelimutu sementara waktunya sempit (4-5 hari). Apesnya lagi.. untuk akses cepat via udara, budget jauh dari kata mencukupi. Gimana dong..!? Haruskah kita membujuk teman itu untuk mengurungkan niatnya, atau lebih ekstrim kita ngejek doi dengan bilang “itu sih derita lo!” ?? Tahun 2010 lalu saat sy punya waktu lowong sekitar 2 mingguan, entah mengapa tiba2 muncul ide dikepala untuk iseng melaut ikut kapal nelayan. Berbekal beberapa kenalan pemilik kapal penangkap ikan yg sering sandar di Pelabuhan Paotere Makassar, bergegaslah saya ke pelabuhan tersebut. Singkat cerita, saya ikut berlayar di salah satu kepal penangkap ikan itu. Selama seminggu melaut, hasil tangkapan di jual di Maumere. Menurut nahkoda kapal yg sy tumpangi, ada begitu banyak kapal dr Pelabuhan Paotere Makassar, yang seliweran ke Lombok sampai Larantuka. Baik itu utk menjual ikan hasil tangkapan, maupun berdagang barang2 campuran antar pulau. Nah, ini juga jalur tikus yg hampir tidak terendus. —-> Dari pengalaman inilah, saya menemukan info kalau ada rute pelayaran Maumere – P. Jampea, yg berhasil sy aktualisasikan di tahun berikutnya., :) Anyway, info jalur tikus seperti ini yg berharap saya dapatkan untuk diaplikasikan saat meninggalkan Kalimantan dan berpindah ke Sumatera pada rencana longtrip saya nanti.Besar harapan saya teman2 bisa memberi masukan dan ide2 (gila). Kalaupun cuman sebatas info, even kabar burung sekalipun.. Let me know! Beri sy kesempatan utk mengeksekusinya. Thanks buat feedback dan inputnya.

Salam Petualang Nusantara,

Why’ Is  #yiv4558151072 — #yiv4558151072ygrp-mkp {border:1px solid #d8d8d8;font-family:Arial;margin:10px 0;padding:0 10px;}#yiv4558151072 #yiv4558151072ygrp-mkp hr {border:1px solid #d8d8d8;}#yiv4558151072 #yiv4558151072ygrp-mkp #yiv4558151072hd {color:#628c2a;font-size:85%;font-weight:700;line-height:122%;margin:10px 0;}#yiv4558151072 #yiv4558151072ygrp-mkp #yiv4558151072ads {margin-bottom:10px;}#yiv4558151072 #yiv4558151072ygrp-mkp .yiv4558151072ad {padding:0 0;}#yiv4558151072 #yiv4558151072ygrp-mkp .yiv4558151072ad p {margin:0;}#yiv4558151072 #yiv4558151072ygrp-mkp .yiv4558151072ad a {color:#0000ff;text-decoration:none;}#yiv4558151072 #yiv4558151072ygrp-sponsor #yiv4558151072ygrp-lc {font-family:Arial;}#yiv4558151072 #yiv4558151072ygrp-sponsor #yiv4558151072ygrp-lc #yiv4558151072hd {margin:10px 0px;font-weight:700;font-size:78%;line-height:122%;}#yiv4558151072 #yiv4558151072ygrp-sponsor #yiv4558151072ygrp-lc .yiv4558151072ad {margin-bottom:10px;padding:0 0;}#yiv4558151072 #yiv4558151072actions {font-family:Verdana;font-size:11px;padding:10px 0;}#yiv4558151072 #yiv4558151072activity {background-color:#e0ecee;float:left;font-family:Verdana;font-size:10px;padding:10px;}#yiv4558151072 #yiv4558151072activity span {font-weight:700;}#yiv4558151072 #yiv4558151072activity span:first-child {text-transform:uppercase;}#yiv4558151072 #yiv4558151072activity span a {color:#5085b6;text-decoration:none;}#yiv4558151072 #yiv4558151072activity span span {color:#ff7900;}#yiv4558151072 #yiv4558151072activity span .yiv4558151072underline {text-decoration:underline;}#yiv4558151072 .yiv4558151072attach {clear:both;display:table;font-family:Arial;font-size:12px;padding:10px 0;width:400px;}#yiv4558151072 .yiv4558151072attach div a {text-decoration:none;}#yiv4558151072 .yiv4558151072attach img {border:none;padding-right:5px;}#yiv4558151072 .yiv4558151072attach label {display:block;margin-bottom:5px;}#yiv4558151072 .yiv4558151072attach label a {text-decoration:none;}#yiv4558151072 blockquote {margin:0 0 0 4px;}#yiv4558151072 .yiv4558151072bold {font-family:Arial;font-size:13px;font-weight:700;}#yiv4558151072 .yiv4558151072bold a {text-decoration:none;}#yiv4558151072 dd.yiv4558151072last p a {font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv4558151072 dd.yiv4558151072last p span {margin-right:10px;font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv4558151072 dd.yiv4558151072last p span.yiv4558151072yshortcuts {margin-right:0;}#yiv4558151072 div.yiv4558151072attach-table div div a {text-decoration:none;}#yiv4558151072 div.yiv4558151072attach-table {width:400px;}#yiv4558151072 div.yiv4558151072file-title a, #yiv4558151072 div.yiv4558151072file-title a:active, #yiv4558151072 div.yiv4558151072file-title a:hover, #yiv4558151072 div.yiv4558151072file-title a:visited {text-decoration:none;}#yiv4558151072 div.yiv4558151072photo-title a, #yiv4558151072 div.yiv4558151072photo-title a:active, #yiv4558151072 div.yiv4558151072photo-title a:hover, #yiv4558151072 div.yiv4558151072photo-title a:visited {text-decoration:none;}#yiv4558151072 div#yiv4558151072ygrp-mlmsg #yiv4558151072ygrp-msg p a span.yiv4558151072yshortcuts {font-family:Verdana;font-size:10px;font-weight:normal;}#yiv4558151072 .yiv4558151072green {color:#628c2a;}#yiv4558151072 .yiv4558151072MsoNormal {margin:0 0 0 0;}#yiv4558151072 o {font-size:0;}#yiv4558151072 #yiv4558151072photos div {float:left;width:72px;}#yiv4558151072 #yiv4558151072photos div div {border:1px solid #666666;height:62px;overflow:hidden;width:62px;}#yiv4558151072 #yiv4558151072photos div label {color:#666666;font-size:10px;overflow:hidden;text-align:center;white-space:nowrap;width:64px;}#yiv4558151072 #yiv4558151072reco-category {font-size:77%;}#yiv4558151072 #yiv4558151072reco-desc {font-size:77%;}#yiv4558151072 .yiv4558151072replbq {margin:4px;}#yiv4558151072 #yiv4558151072ygrp-actbar div a:first-child {margin-right:2px;padding-right:5px;}#yiv4558151072 #yiv4558151072ygrp-mlmsg {font-size:13px;font-family:Arial, helvetica, clean, sans-serif;}#yiv4558151072 #yiv4558151072ygrp-mlmsg table {font-size:inherit;font:100%;}#yiv4558151072 #yiv4558151072ygrp-mlmsg select, #yiv4558151072 input, #yiv4558151072 textarea {font:99% Arial, Helvetica, clean, sans-serif;}#yiv4558151072 #yiv4558151072ygrp-mlmsg pre, #yiv4558151072 code {font:115% monospace;}#yiv4558151072 #yiv4558151072ygrp-mlmsg * {line-height:1.22em;}#yiv4558151072 #yiv4558151072ygrp-mlmsg #yiv4558151072logo {padding-bottom:10px;}#yiv4558151072 #yiv4558151072ygrp-msg p a {font-family:Verdana;}#yiv4558151072 #yiv4558151072ygrp-msg p#yiv4558151072attach-count span {color:#1E66AE;font-weight:700;}#yiv4558151072 #yiv4558151072ygrp-reco #yiv4558151072reco-head {color:#ff7900;font-weight:700;}#yiv4558151072 #yiv4558151072ygrp-reco {margin-bottom:20px;padding:0px;}#yiv4558151072 #yiv4558151072ygrp-sponsor #yiv4558151072ov li a {font-size:130%;text-decoration:none;}#yiv4558151072 #yiv4558151072ygrp-sponsor #yiv4558151072ov li {font-size:77%;list-style-type:square;padding:6px 0;}#yiv4558151072 #yiv4558151072ygrp-sponsor #yiv4558151072ov ul {margin:0;padding:0 0 0 8px;}#yiv4558151072 #yiv4558151072ygrp-text {font-family:Georgia;}#yiv4558151072 #yiv4558151072ygrp-text p {margin:0 0 1em 0;}#yiv4558151072 #yiv4558151072ygrp-text tt {font-size:120%;}#yiv4558151072 #yiv4558151072ygrp-vital ul li:last-child {border-right:none !important;}#yiv4558151072

Transportasi darat antar kabupaten di Pulau Flores

Hi teman-teman Backpacker, 

Saya berencana untuk melakukan trip bulan februari dari Alor ke Labuan Bajo.Setelah melakukan research di internet, sepertinya sepertinya transportasi umum yang tersedia untuk melakukan trip melalui darat (menggunakan bus) atau ferry antar kabupaten di Pulau Flores cukup terbatas. Dari teman-teman backpacker yang pernah traveling ke Flores, apakah ada saran? Terima kasih sebelumnya..

Cheers, Villya

Jalur Tikus / Jalur Masyarakat Lokal Kalimantan Barat – Sumatera

Hello Travelers,Newbie mohon info dan masukan nih.. Pertengahan tahun ini sy berencana utk longtrip 3 bulan dan akan memulai perjalanan dari Benteng Keraton Buton di Sulawesi Tenggara tgl 17 mei dan finish di Puncak Mahameru tgl 17 agustus.Ada pun rute yg sy inginkan, sbb: Buton (start) – Wakatobi – Ambon (explore Maluku) – Ternate (explore Maluku Utara) – Manado – Tarakan – Nunukan – Malinau (overland explore Pulau Kalimantan sampai di Sambas, Kalbar via jalur Trans Kalimantan) – overland explore Sumatera dari Aceh (titik 0 Indonesia) ke Lampung via jalur barat Trans Sumatera – Banten (overland Jawa sampai Malang) – Gn. Semeru (finish).

Pada kesempatan ini, saya memilih solo trip. Dan akan meng-combine moda transportasi darat dan laut saja. Biar perjalanannya efektif dan efisien, sebisa mgkn sy hindari jalur bolak balik saat berpindah dari point ke point. Nah, yg ingin sy tanyakan.. Adakah teman2 yg punya info atau saran bagaimana sebaiknya sy mentaktisi perjalanan saat meninggalkan Pulau Kalimantan menuju Pulau Sumatera ??FYI, sejauh ini jalur paling efektif yg saya kantongi adalah Pontianak – Natuna – Batam – Medan (via laut) – Aceh (via darat).Rute ini masih sy rasa kurang memuaskan, karena sy masuk ke Kalimantan Barat dari Kalimantan Tengah, tiba di Pontianak, sy masih ingin bergerak ke atas (arah utara) sampai ke Kab, Sambas. So, biar bisa nyebrang ke Natuna, saya mesti balik lagi dong ke Pontianak ?? Ini yg kurang sreg menurutku. Belum lagi dari Medan ke Aceh (naik ke atas) kemudian turu lagi sampai ke Lampung. Sy berharap menemukan info jalur laut dari daerah sekitar Kab. Sambas atau (at least) Kota Singkawang di Kalbar menuju Aceh di Sumatera, atau paling tidak Masuk Sumatera via Medan. Note: Jalur laut yg saya cari adalah jalur laut yg tidak biasa.. Kalau istilah saya pribadi, jalur tikus/jalur masyarakat lokal.Seperti contoh:Teman2 mau berkunjung ke TN. Takabonerate, Otomatis, teman2 harus ke Makassar dan lanjut ke Selayar (entah dgn cara bagaimana, overland via Tanjng Bira atau flight Makassar-Selayar), kemudian di mainland Selayar nyari boat ke Kawasan TN Takabonerate. Dan baliknya pake jalur itu juga. Nah, bagaimana kalau teman2 mau balik tapi tidak ingin mengulang jalur yg sama atau gak bisa balik (tertunda) karna ombak di perairan rute itu lagi ngamuk berat ?? Parahnya lagi, teman dikejar waktu. Haruskah panik..!? Gak perlu menurutku. Karena sebenarnya, ada alternatif lain.. Begini caranya: Saat bertemu kasus seperti yg saya deskripsikan, berusahalah untuk menggapai Pulau Jampea (Pulau terbesar dan berpenduduk terpadat di Kawasan TN Takabonerate), Di pulau ini ada jalur tikus menuju ke Alok, Maumere, NTT. Kapal para saudagar/pedagang berangkat tiap hari untuk berdagang,baik dari P. Jampea ke Maumere maupun sebaliknya, dengan waktu tempuh 5 jam (tahun 2011 kemarin sy membuktikannya dari Maumere ke P. Jampea).Jalur tikus kayak begini, tidak banyak yang tahu karena hampir tidak terekspos. Hanya masyarakat sekitar dan pelancong (yang beruntung) nyasar macam saya di 2011 kemarin yg tahu.Contoh lain: Teman2 Domisili di Makassar, kebetulan ngidam pengen ke Kelimutu sementara waktunya sempit (4-5 hari). Apesnya lagi.. untuk akses cepat via udara, budget jauh dari kata mencukupi. Gimana dong..!? Haruskah kita membujuk teman itu untuk mengurungkan niatnya, atau lebih ekstrim kita ngejek doi dengan bilang “itu sih derita lo!” ?? Tahun 2010 lalu saat sy punya waktu lowong sekitar 2 mingguan, entah mengapa tiba2 muncul ide dikepala untuk iseng melaut ikut kapal nelayan. Berbekal beberapa kenalan pemilik kapal penangkap ikan yg sering sandar di Pelabuhan Paotere Makassar, bergegaslah saya ke pelabuhan tersebut. Singkat cerita, saya ikut berlayar di salah satu kepal penangkap ikan itu. Selama seminggu melaut, hasil tangkapan di jual di Maumere. Menurut nahkoda kapal yg sy tumpangi, ada begitu banyak kapal dr Pelabuhan Paotere Makassar, yang seliweran ke Lombok sampai Larantuka. Baik itu utk menjual ikan hasil tangkapan, maupun berdagang barang2 campuran antar pulau. Nah, ini juga jalur tikus yg hampir tidak terendus. —-> Dari pengalaman inilah, saya menemukan info kalau ada rute pelayaran Maumere – P. Jampea, yg berhasil sy aktualisasikan di tahun berikutnya., :) Anyway, info jalur tikus seperti ini yg berharap saya dapatkan untuk diaplikasikan saat meninggalkan Kalimantan dan berpindah ke Sumatera pada rencana longtrip saya nanti.Besar harapan saya teman2 bisa memberi masukan dan ide2 (gila). Kalaupun cuman sebatas info, even kabar burung sekalipun.. Let me know! Beri sy kesempatan utk mengeksekusinya. Thanks buat feedback dan inputnya.

Salam Petualang Nusantara,

Why’ Is