Pegunungan Iyang Argopuro
By admin • Oct 30th, 2004 • Category: Gunung / Mountain
Gunung Argopuro adalah bagian dari pegunungan Iyang yang terletak di kabupaten Probolinggo, Jawa Timur. Ketinggiannya mencapai 3088 m dpl, berada pada posisi geografis ………… Ada beberapa puncak yang dimiliki oleh gunung ini. Puncak yang terkenal bernama Puncak Rengganis. Sedangkan puncak tertingginya berada pada jarak ± 200 m di arah selatan puncak Rengganis. Puncak tertinggi ini bernama Welirang dan ditandai dengan sebuah tugu ketinggia(triangulasi)
Gunung argopuro merupakan bekas gunung berapi yang sudah tidak aktif lagi. Bekas kawahnya yang sudah tidak aktik namun terkadang masih berbau belerang dapat ditemui di sekitar puncak Rengganis. Di dekat bekas kawahnya yang sudah mati ini dapat ditemukan bekas-bekas bangunan pada masa lampau.
Terlepas dari segala mitos dan legenda yang beredar di masyarakat, gununng ini memang sangat indah. Pemandangan yang beragam dan indah akan dapat ditemui sepanjang perjalanan. Perkebunan, padang rumput, taman bunga, taman edelweiss, hutan pinus, hutan hujan tropis, dan bahkan danau menghias alam Argopuro. Padang rumputnya yang amat luas dan berbukit-bukit menjadi keindahan tersendiri. Belum lagi taman edelweiss yang berisi tumbuhan edelweiss yang ketinggiannya lebih dari 3 m, suatu pemandangan yang jarang ditemui.. Pada musim hujan, di kanan kiri jalur pendakian tumbuh beberapa tanaman bunga, sehingga serasa berjalan dalam sebuah taman bunga. Sumber airpun mudah ditemukan di gunung ini, sehingga para pendaki lebih mudah memperoleh persediaan air. Dibandingkan gunung lainnya di pulau jawa, lebih mudah menemukan satwa di gunung ini, suara burung dan ayam hutan akan menemani perjalanan anda. Bahkan jika beruntung, biasa bertemu dengan burung merak. Namun sayangnya saat ini banyak hutannya sudah musnah habis terbakar, yang mengakibatkan banyaknya pohon tumbang dan mengurangi keindahan Argopuro.
Untuk mendaki gunung argopuro ada dua pintu masuk yang biasa digunakan, yaitu melalui desa Baderan, Besuki dan Bremi, Probolinggo. Dibutuhkan waktu lebih lama untuk mencapai puncak jika melalui Baderan, karena jalurnya lebih panjang dan landai. Perjalanan dapat dimulai dari desa Bremi dan pulang melalui Baderan, ataupun sebaliknya.
Biasanya dibutuhkan waktu 5 hari 4 malam untuk melakukan pendakian. Namun jika ada yang sudah berpengalaman dapat ditempuh paling cepat dalam waktu 3 hari dua malam. Pendakian sebaiknya dimulai pada pagi hari dan berhenti pada malam hari. Mengingat alamnya yang berbentuk pegunungan, pendaki harus berjalan melingkar, naik turun beberapa bukit dan menyusuri beberapa punggungan. Karena itu perlu dipersiapkan fisik, kelengkapan alat dan cadangan makanan yang cukup selama perjalanan minimal untuk 3 hari. Pendaki biasanya memilih musim hujan untuk melakukan pendakian di gunung ini. Meskipun medannya menjadi lebih sulit karena licin, dan resiko digigit pacet cukup besar. Hal ini disebabkan karena, pemandangannya lebih indah dan lebih mudah menemukan sumber air serta terhindar dari bahaya kebakaran yang sering terjadi di pegunungan ini.
Akses dan Transportasi
Untuk mencapai Baderan ataupun Bremi, dari Jakarta dapat menggunakan kereta atau bis malam jurusan Surabaya. Atau bila ingin melalui Bremi dapat menggunakan bis malam, bisa langsung jurusan Jakarta-Probolinggo. Atau bila ingin melalui Baderan, bisa menngunakan bis jurusan Jakarta-Banyuwangi/Bondowoso turun di Besuki.
Dari Surabaya menuju Baderan, dapat menumpang bis jurusan Surabaya-Bayuwangi turun di Besuki. Lalu dilanjutkan menggunakan angkot menuju Baderan. Sedangkan dari Surabaya menuju Bremi, dapat naik bis jurusan Probolinngo. Dari terminal Probolinggo perjalanan dilanjutkan naik bis ¾ menuju Bremi.Yang mesti diketahui bis jurusan Probolinggo-Bremi hanya ada 2 kali dalam sehari, yaitu pagi dan siang.
Ongkos dan Lama Perjalanan Transportasi Umum
Jakarta – Surabaya
• Bis non AC Rp 16 jam
• Bis AC Rp 16 jam
• Kereta ekonomi Rp 16 jam
• Kereta Rp 100.000 13 jam
Bis Surabaya – Probolinggo 3 jam Rp 7000
Bis Surabaya – Besuki 4 jam Rp
Bis ¾ Probolinggo – Bremi 2 jam Rp 5000
Angkot Besuki-Baderan 1 jam Rp 2000
Perijinan Aturan
Untuk mendaki gunung Argopuro, pendaki cukup lapor pada kantor polis krucil atau petugas PHPA setempat jika ingin lewat desa Bremi. Sedangkan jika lewat Baderan, harus melapor kantor polisi sector Sumber Malang atau pada kantor Perhutani. Kantor polisi ini terletak 1 km dari Baderan, dan kantor perhutan berada sebalah kanan jalan di dekat pertigaan tempat turun angkot di desa Baderan. Namun petugas kantor perhutani, waktu saya berkunjung, memindahkan tempat melapor di warung makan miliknya yang terletak di dekat tempat turun angkot.
Akomodasi
Di desa Baderan terdapat penginapan yang sederhana, yang disewakan kepada para pendaki dengan tarif yang cukup murah. Dan di desa Bremi terdapat penginapan sederhana, yang bangunannya berupa peninggalan zaman Jepang. Selain itu saat ini juga ada pondok pendaki, yang dapat disewa.
Jalur Pendakian
Jalur Baderan
Jalur yang akan ditempuh melalui rute ini cenderung landai, hanya akan ditemui beberapa jalan sedikit menanjak. Tapi para pendaki harus cukup sabar melewati jalan-jalan yang panjang, sebelum mencapai tujuan Diperlukan waktu 15-18 jam untuk mencapai puncak.
Dari kantor perhutani, kemudian jalur menempuh jalan beraspal sepanjang kurang lebih 200 m. Lalu belok ke kanan, sedikit menanjak melewati jalan desa yang berbatu. Setelah setelah ± 1 km berjalan, akan ditemui saluran irigasi kecil. Menyebrangi saluran air ini, maka perkebunan jagung akan mendominasi pemandangan sepanjang jalur pendakian. Jika sempat mampirlah ke salah satu petani jagung, yang biasanya adalah orang Madura dan tidak bisa berbahasa Indonesia. Kemudian beristirahat di dangau kecil di tengah kebun jagung, sambil memandang hamparan perbukitan yang menghijau, ditingkahi oleh suara burung-burung dan kelakar monyet, adalah pengalaman yang tak kan terlupakan.
Jalur akan memasuki hutan sekunder, yang sudah mulai rusak setelah hampir 1,5 jam melewati perkebunan. Di sepanjang jalan, mungkin akan ditemui para penebang kayu, yang membawa potongan kayu di atas kepalanya. Suara Siamang, akan menjadi teman sepanjang perjalanan. Mata air akan ditemui, setelah ±3 jam memasuki hutan. Mata air ini terletak di sebelah kiri jalan, dengan posisi agak jauh ke bawah. Di sini ada tanah yang cukup lapang untuk berkemah.
Jalur selanjutnya masih berupa hutan yang lebih rapat, setelah ± 3 jam berjalan, akan ditemui turunan yang menuju sebuah padang rumput yang cukup luas. Beberapa jenis burung dan babi hutan, terkandang melintasi padang rumput ini. Padang rumput ini biasa disebut alun-alun kecil.
Setelah melewati beberapa padang rumput dan hutan kecil selama ± 2,5 jam, akan ditemui sebuah sungai yang airnya jernih. Di sungai ini tumbuh tanaman selada air. Sungai ini berasal aliran sungai bawah tanah, dan diberi nama mata air Kolbu. Sedikit agak ke atas dari sungai, akan ditemui lapangan rumput lain yang amat luas, Cikasur.
Pos Cisentor akan dicapai, setelah perjalanan selama ± 3 jam dengan rute yang agak melingkar melewati beberapa padang rumput, dan hutan pada punggungan bukit, yang sebagian besar rusak karena terbakar. Sebuah sungai yang alirannya cukup besar, menandai keberadaan pos Cisentor. Cisentor adalah persimpangan antara jalur Baderan dan Bremi.
Dari Cisentor menuju pos selanjutnya, Rawa Embik, diperlukan waktu ± 2,5 jam. Jalur yang dilalui berupa sisa hutan terbakar di beberapa punggungan bukit, kali mati dan taman edelweiss yang sudah tua. Di Rawa embik ada sumber air yang berupa sungai kecil. Jika beruntung, mungkin akan ditemui burung merak di sini.
Untuk mencapai puncak dari Rawa Embik, diperlukan waktu kurang dari 1,5 jam. Jalur yang dilewati masih berupa punggungan-punggungan bukit, dengan hutannya yang habis terbakar. Sebelum puncak, akan ditemui beberapa buah batu besar dan sebuah persimpangan. Kea rah kanan menuju puncak tertinggi, ke arah kiri menuju puncak Rengganis.
Baderan perkebunan jagung 1,5 km 30 menit
Perkebunan Hutan 2 km 1,5 jam
Hutan Mata air 2,5 km 3 jam
Mata air Padang rumput 3 km 3 jam
(Alun-alun kecil)
Alun-alun kecil Cikasur 7 km 2,5 jam
Cikasur Cisentor 3 km 3 jam
Cisentor Rawa Embik 2,5 jam
Rawa Embik Pucak 1,5 jam
Jalur Bremi
Jalur Bremi lebih terjal dibandingkan jalur Baderan dan lebih mudah menemukan sumber air. Banyak sekali punggungan bukit yang harus disusuri, sehingga pendaki harus mempersiapkan dirinya naik turun bukit yang medannya lumayan berat. Lama perjalan melalui jalur ini diperkirakan 12-15 jam.
Setelah melewati jalan kampung yang berbatu dari pintu masuk, akan ditemui perkebunan kopi dan damar. Lalu jalur melewati hutan hujan tropis yang basah dengan beberapa kali kecil. Pada musim penghujan, akan banyak ditemui pacet. Hewan penghisap darah ini banyak terdapat di dahan-dahan pohon. Setelah ± 3,5 jam perjalanan akan di temui sebuah pertigaan. Dimana ke arah kanan menuju Danau Taman Hidup dan lurus terus menuju puncak. Para pendaki biasanya bermalam di sini, untuk menikmati keindahan danau ini.
Dari danau Taman Hidup, medan yang ditempuh berupa hutan hujan tropis yang basah dan punggungan bukit. Pos selanjutnya yang akan ditemui adalah Kali Putih. Pos ditandai dengan sebuah kali kecil didekatnya. Pos ini tidak terlalu luas, sehingga kurang nyaman untuk berkemah. Lama waktu yang dieperlukan dari Danau ke Kali putih sekitar ± 3.5 jam
Setelah pos Kali Putih, pos yang akan ditemui selanjutnya adalah Cisentor. Punggungan bukit yang berisi hutan terbakar dan tanaman roboh, masih akan ditemui sepanjang perjalanan. Pendaki juga harus melewati semak-semak rapat yang berupa tanaman rumput setinggi ± 2 meter. Perjalanan menuju Cisentor diperkirakan ± 3,5 jam. Dari Cisentor perjalanan dapat dilanjutkan menuju Rawa Embik dan akhirnya ke puncak.
Bremi Danau taman Hidup 3,5 jam
Danau Kali Putih 3,5 jam
Kali Putih Cisentor 3,5 jam
Cisentor Rawa Embik 2,5 jam
Rawa Embik Pucak 1,5 jam
Tempat Menarik
1. Danau Taman Hidup
Hampir sepanjang hari danau ini ditutupi oleh kabut. Ada sebuah dermaga kecil yang dibangun di pinggir danau, sayangnya kondisinya sudah rusak. Para pendaki senang menghabiskan waktu di tepi danau ini, dengan berkemah, memancing, ataupun hanya duduk di dermaga memandangi danau yang ditumbuhi ganggang.
2. Alun-alun Cikasur
Alun-alun Cikasur adalah adalah padang rumput bergelombang yang amat luas. Lapangan ini adalah bekas lapangan terbang Belanda pada penjajahan. Di sini akan ditemui sebuah pondok kecil untuk beristirahat para pendaki. Di Belakang pondok ini, ada sisa-sisa bangunan peninggalan Belanda. Suara burung dan ayam hutan, menjadi musik sepanjang siang dan malam di sini. Air juga mudah didapat pada tempat ini, karena mata air Kolbu terletak tak jauh dari pondok pendaki.
3. Puncak Rengganis
Puncak ini amat menarik karena disana akan ditemui susunan batu yang dipercaya sebagai petilasan seorang dewi pada masa lampau. Di depan susunan batu ada sebuah jurang yang cukup dalam, seperti tempat untuk melemparkan persembahan. Sebelum puncak akan ditemui sisi bangunan yang terletak di dekat kawah. Ada suatu legenda yang beredar di masyarakat yang bertempat tinggal di kaki pegunungan Iyang ini, bahwa bangunan itu adalah bekas istana Dewi Rengganis, salah seorang selir kerajaan Majapahit. Karenanya puncak itu diberi nama Rengganis



