Pulau Sumba
By Santoso • Nov 13th, 2004 • Category: Petualangan
5 hari di Sumba cukuplah untuk membayar penantian 18 tahun kendati minus menyaksikan pasola. Pasola digelar antara Februari-Maret, bareng dengan datangnya nyale. Siang saya mendarat di Mau Hau, sore itu juga disambung bis umum Waingapu - Waikabubak. Belum sejam bis berjalan seorang calon penumpang menghentikan bis. Bawaannya ranjang besi tempat tidur! Selanjutnya 3 hari berturut-turut saya ke luar-masuk kampung-kampung tua di Sumba Barat dan Sumba Timur. Hari terakhir, sempat memutari Waingapu sebelum ke bandara.
Nukilan berikut adalah nota jalan hari kedua. Dari Waikabubak saya menuju Waigalli, Praigoli, Bondowonuta, dan berujung di pantai Marosi. Sore kembali ke Waikabubak, terus dilanjut ke kampung adat Tarung yang terletak di pinggir kota.
Pengantar
1997 saya menjelajahi Sumba. 7 tahun telah lewat namun rasanya baru lusa atau sepekan silam. Saya percaya ini buah dari kesabaran sehingga memori itu selalu segar. Lantaran menarik (bagi anak usia SMA), sebuah artikel tentang Sumba di Kompas edisi Minggu Oktober 1980 saya potong. Selanjutnya analogi bekerja. Setiap ketemu tulisan Sumba saya kumpulkan. Setelah 18 tahun membayangkan kubur tua, padang savana, kuda, umbu, lembu, laru (tuak Sumba), hotu (cap tanda kepemilikan pada ternak), pranggang (pasar); tiba juga saat untuk mencecap sendiri tanah, air, batu, rumput, debu Tana Sumba.
5 hari di Sumba cukuplah untuk membayar penantian 18 tahun kendati minus menyaksikan pasola. Pasola digelar antara Februari-Maret, bareng dengan datangnya nyale. Siang saya mendarat di Mau Hau, sore itu juga disambung bis umum Waingapu - Waikabubak. Belum sejam bis berjalan seorang calon penumpang menghentikan bis. Bawaannya ranjang besi tempat tidur! Selanjutnya 3 hari berturut-turut saya ke luar-masuk kampung-kampung tua di Sumba Barat dan Sumba Timur. Hari terakhir, sempat memutari Waingapu sebelum ke bandara.
Nukilan berikut adalah nota jalan hari kedua. Dari Waikabubak saya menuju Waigalli, Praigoli, Bondowonuta, dan berujung di pantai Marosi. Sore kembali ke Waikabubak, terus dilanjut ke kampung adat Tarung yang terletak di pinggir kota.
Salam dari Sangatta
7-Juli-2004
*****
Wanokaka-Lamboya
Antara jalan ke barat atau ke selatan adalah pilihan sulit. Bila akhirnya kami lebih menyenangi yang belakangan, alasannya tak lain karena batu megalith di kawasan Wanokaka dan Lamboya lebih bervariasi dibanding di Bondokodi. Sebagai tanda mata untuk masuk ke kampung-kampung adat, hasil ngobrolku semalam dengan pak Timo, guide kami, mengantar kami pagi ini ke pasar membeli sirih-pinang dan rokok. Lepas dari Waikabubak matahari belum lagi tinggi, namun hembusan angin savana telah mulai menebarkan hawa panas. Kubur-kubur batu pun mulai berserak di puncak-puncak bukit berkisar di tengah pemukiman. Seperti halnya di Nias, demi keamanan, kampung-kampung tua di Sumba dibangun di ketinggian dengan dikelilingi dinding batu setinggi dada.
Satu-satunya akses ke Waigalli adalah jalan menanjak setengah kilo. Di keteduhan pohon satu kubur meja yang ditonggaki batu di empat sudutnya, masih setia menyimpan misteri selama berpuluh tahun. Nuansa magis pun segera terasa sekalipun aneka jemuran — ya kain, benang tenun atau sejenis umbi — malang-melintang di atas batu kubur. Kami terus jalan dan satu undak mesti lagi dilewati untuk sampai di pusat uma. Dan sesampai di atas, luar biasa … kubur kuno dengan berbagai ukuran dan hiasan yang hanya bisa dibaca dalam mata ajar sejarah, sekarang bisa dilihat wujud fisiknya. Inilah pusat ritual kepercayaan Marapu. Antara rumah beratap tinggi dan kubur batu yang dikitarinya ada benang merah penyambung alam nyata dan alam pasca kematian. Kampung sendiri terasa lengang. Hanya beberapa ibu menggoyang kalira tenun, sedang kebanyakan lelaki melewatkan siang hari di padang untuk berladang dan menggembala. Satu pamali di kampung ini, begitu kata para tetua, adalah menginjak sebuah batu datar paling ujung. Kabarnya dulu ada pendatang yang nekad melanggarnya, dan kontan saja kakinya membengkak mirip penderita Elephantiasis.
Di Praigoli bawah, satu pantangan untuk tidak mengambil photo sebuah menhir (punden) secara langsung tetaplah tabu untuk dilanggar sekalipun itu disampaikan sembari menyuguhkan sirih isyarat persahabatan. Kupetik selembar dan tak lama berselang lidah pun serasa terkelupas. Ini salahku sendiri menghindari makan pinang, si penawar pedas, hanya demi agar ludah tidak memerah. Di kampung atas, kami diantar ke rumah Rato — pendeta Marapu dan pembuka momen ritual tahunan Pasola — tepat di depan kompleks pemakaman. “Semua benda yang terpahat di batu kubur, harus ada di dalam rumah almarhum”, begitu sebagian penjelasannya. “Dulu batu kubur itu ada sepasang,” katanya dalam bahasa setempat yang disalin anak lelakinya sambil menunjuk satu ukiran antik, “Tapi waktu invasi Portugis, karena dikira manusia sedang mengintai, batu itu ditembak dan patah.”
Satu kampung di kawasan Lamboya masih kami singgahi sebelum rehat siang di pantai Marosi. Namanya Bondowunuta dengan Daja Duka sebagai kepala adatnya. Waktu kami bertandang, beliau tengah bermalasan di atas balai bambu, teras rumah panggungnya. Banyaknya aksesori rahang babi dan tanduk kerbau, yang berbaur dengan poster Soeharto kegemukan beratribut Angkatan Laut, adalah tanda penghuninya orang terpandang dan berada. Pada hematku sendiri Bondowunuta bisa disebut semi tua. Letaknya yang tepat di tepi jalan aspal telah membawa pengaruh berarti, yang nampak dengan keberadaan rumah tembok di pintu kampungnya.
Momen penting yang sayang untuk dilewatkan di Marosi adalah gotong royong membangun rumah adat yang melibatkan seluruh warga kampung. Para lelaki begitu sibuk dengan alat pertukangannya, sedang kaum wanitanya di dapur umum menyiapkan kopi dan cadangan energi.
Dari Marosi niat mampir di Kadengar kami urungkan dan cukup menikmatinya dari ketinggian savana. Pemandangan luar biasa cantiknya. Ke arah selatan adalah hamparan samudra Indonesia yang tak henti menggelorakan ombaknya. Sedang ke utara, sungai Kadengar yang melatar-depani sebuah kampung adat, makin menambah asri lembah tambun dengan padi dan nyiur hijaunya. Hari sudah lewat asar saat kami balik ke Waikabubak dan terus ke Elopada. Maksud menemui pak Christian, kenalan seperjalanan kemarin, di BRI cabang setempat tidak kesampaian karena beliau masih absen lantaran kecapaian. Sebagai obat kecewa, segera kami menuju ke Waikelosawah, sebuah mata air bawah tanah yang dibendung tepat di mulut guanya. Barang 20 menit kami lewatkan di sini sekedar jalan dan meniti sampai di ujung bangunan sadap.
Penutup jalan hari ini adalah menyambangi Waitabar dan Tarung yang ada di pinggiran kota. Aura dan atmosfir masih seperti laiknya kampung adat lain. Yang beda adalah kecakapan penduduknya dalam berbahasa Indonesia dan tiadanya sorot mata curiga terhadap pendatang. Terus terang di kampung selatan tadi, terasa ada hambatan komunikasi dan sedikit gegar budaya. Bukan hanya bagi kami, tapi juga buat pak Timo yang agak asing dengan dialek di sana. Di tengah suara gamelan untuk persiapan upacara malamnya sehubungan dengan penarikan batu kubur, kami membeli songket khas Sumba Barat. Motif sulamannya sendiri cukup beraneka; ada batu kubur, rumah adat, mamoli — emas kawin orang Sumba — dan bintang-bintang.
(Waikabubak, 20-Oktober-1997)
Santoso is
Email this author | All posts by Santoso



