Suatu Hari di Perkampungan Suku Dayak Meratus
By admin • Nov 6th, 2004 • Category: Budaya / Cultural
Sebelumnya, kami berkunjung ke Balai Malaris untuk sekedar melihat dari dekat aktifitas mereka disiang hari. Untuk mencapai Balai ini hanya membutuhkan waktu sekitar 15 menit jalan kaki dari Loksado, dan ini merupakan balai yang terdekat. Karena letaknya paling dekat dengan pemukiman masyarakat umum lainnya, maka balai ini yang termodern dibanding balai lainnya. Siang itu beberapa warganya sedang sibuk menguliti kemiri dan menjemur kayu manis, sementara babi-babi yang merupakan hewan ternak peliharaan dengan b
Sore itu anak-anak kecil di Balai Dayak Landuyan sedang asyik bermain permainan tradisional mereka. Beberapa lempengan kecil terbuat dari batok kelapa yang dilontarkan dengan potongan bambu, entah apa namanya. Mereka tampak kaget dan berlarian menghindar ketika melihat kedatangan kami. Mungkin ada sesuatu yang aneh ? tidak juga, karena sebenarnya balai itu sering dikunjungi turis-turis. Setelah yakin tidak ada apa-apa, mereka melanjutkan permainan sambil tertawa-tawa,
sementara beberapa anak lainnya mengintip malu-malu dari balik pintu, kaum wanita remajanya sedang sibuk menganyam kerajinan tangan. Balai Landuyan yang masih tradisional ini letaknya didalam hutan. Dari Loksado yang berjarak tempuh sekitar 6 jam perjalanan darat dari ibu kota Banjarmasin itu, untuk mencapainya diperlukan waktu setengah harian berjalan kaki menyusuri jalan setapak di dalam hutan tropis yang lembab, naik-turun bukit-bukit, beberapa anak sungai, dan balai-balai dayak lainnya. Sore itu saya bersama Ancok, seorang teman yang baru saya kenal di Banjarmasin, yang sekaligus menjadi guide. Setelah menemui kepala adat dan menyampaikan maksud untuk menginap, kami dipersilahkan masuk ke dalam Balai. Seperti tipikal rumah suku dayak lainnya, Balai ini merupakan satu tempat tinggal berbentuk rumah panggung yang panjang, tingginya sekitar 2 m dari atas permukaan tanah, ditengah-tengah terdapat satu ruangan besar yang berfungsi sebagai aula untuk melaksanakan upacara adat, sementara masing-masing keluarga menghuni ruangan-ruangan bersekat yang ada disekelilingnya. Jumlah penghuninya ada 11 KK, jika dihitung bersama anak-anak mereka, mungkin sekitar 30 jiwa. Di Pegunungan Meratus sendiri tersebar puluhan balai-balai yang dihuni masyarakat Suku Dayak Meratus. Karena tinggalnya disekitar bukit-bukit, mereka juga dikenal sebagai Orang Bukit. Tempat tinggalnya selalu dekat dengan sungai, karena sungai adalah nafas hidup mereka. Yang menarik, di dalam kawasan hutan ini juga terdapat beberapa air terjun alami.
Sebelumnya, kami berkunjung ke Balai Malaris untuk sekedar melihat dari dekat aktifitas mereka disiang hari. Untuk mencapai Balai ini hanya membutuhkan waktu sekitar 15 menit jalan kaki dari Loksado, dan ini merupakan balai yang terdekat. Karena letaknya paling dekat dengan pemukiman masyarakat umum lainnya, maka balai ini yang termodern dibanding balai lainnya. Siang itu beberapa warganya sedang sibuk menguliti kemiri dan menjemur kayu manis, sementara babi-babi yang merupakan hewan ternak peliharaan dengan bebasnya berkeliaran ditengah-tengah aktifitas mereka. Penghuni Balai Malaris sudah lama meninggalkan balai dan membangun rumah masing-masing yang telah dilengkapi dengan peralatan modern seperti listrik dan parabola. Sementara, Balai hanya digunakan untuk upacara adat.
Malam di Balai Landuyan. Di dalam aula, anak-anak berkerumun di depan TV menyimak lagu-lagu dangdut karaoke. Saya dan Ancok, mampir ke dalam bilik kepala adat yang sudah menyediakan suguhan kue dan teh. Di dalam bilik, sudah berkumpul anggota keluarga sang kepala adat. Komunikasi berjalan tidak lancar karena mereka kurang mengerti Bahasa Indonesia, jadilah Ancok penterjemah saya. Di antara anggota keluarga itu, ada seorang kakek yang tertua umurnya sekitar 100 tahun lebih, konon dulunya ia terlibat perang kemerdekaan melawan penjajah. Sang kakek meminta saya untuk tinggal di Balai sampai seminggu lagi. "Ada upacara Aruh Ganal," katanya, sesuai yang diterjemahkan oleh Ancok kepada saya. Sementara saya hanya punya waktu satu hari.
Dalam kepercayaan Agama Kaharingan, Aruh Ganal adalah upacara adat penuh magis yang terbesar dan dirayakan untuk mensyukuri masa panen padi mereka. Upacara adat berlangsung beberapa hari, biasanya mereka mengundang penghuni-penghuni Balai Dayak Meratus lainya, serta masyarakat umum diluar kawasan hutan untuk berpesta. Genset listrik dipadamkan, malam menjadi sunyi senyap, cahaya listrik berganti lampu teplok, tungku perapian dinyalakan untuk mengusir dinginnya udara pegunungan. Pertanda waktunya tidur. Sewaktu pamitan keesokan paginya, penghuni salah satu bilik tempat istirahat semalam, memberikan beberapa oleh-oleh. Kepinginnya sih dikasih Mandau, tetapi mereka memberi saya sebuah keranjang hasil kerajinan tangan, timun suri, dan sebuah batu sekepalan tangan yang diambil dari Puncak Gunung Meratus………Lumayan-bisa untuk jimat !!!
Photo click di http://members.lycos.co.uk/arisy/index.php?gallery=./dayak+meratus
admin is
Email this author | All posts by admin



