Tour de Toraja
By Santoso • Nov 21st, 2004 • Category: Budaya / Cultural
Aku ingat ucapan kenalanku orang Korea di Bukittinggi setahun silam, bahwa wisata ke Toraja serasa menggelapkan pandang karena hanya mengunjungi makam-makam. Apa perlunya gentar jika semua orang pada akhirnya menuju ke sana? Jalan setapak di depan dinding Lemo akan mengantar ke pojok bongkahan cadas. Dinding cadas kemudian berbelok. Bagian ini juga digunakan untuk makam. Dua lubang di bagian bawah telah penuh sehingga dibiarkan tanpa penutup. Di dalamnya nampak bagian-bagian kain putih pembungkus mayat. Satu kubur terbaru, belum berumur setahun, ada di sisi kiri atas. Karangan bunga yang mulai mengering menghias dinding kayu (penutup) liang kuburnya.
Dari kios souvenir yang paling jauh dari arena parkir kubeli miniatur sepasang tau-tau. Toko terjauh biasanya menawarkan harga miring. Setelah puas mengambil gambar dan ngilu di kaki reda, aku menuju ke tempat parkir. Aku telah siap mengambil sepeda, tiba-tiba kudengar teguran ibu penjaja souvenir tadi. Katanya, “Jalan balik adalah pemali, sebaiknya jalan memutar.” Mungkin pemali tadi tidak benar. Dengan menuruti sarannya aku bisa menikmati sudut lain dari Lemo yang tak kalah indahnya.
Kembali aku mengayuh sepeda di atas poros Rantepao – Makale. Jembatan lewat, ada simpang tiga kuambil jalan ke kiri. Lepas dari Lemo aku menemukan kiat jitu. Bila tanjakan terjal dan panjang, kayuh pedal semampunya lalu turun dan sepeda dituntun. Pada saat menurun kayuh kuat-kuat sehingga ada sisa momentum untuk awal pendakian berikutnya. Dengan kiat itu 15km Lemo – Sangalla berkurang tingkat kesulitannya. Panorama sepanjang jalan melenakan, 90 menit dengan 4 kali istirahat lewat begitu saja.
Pengantar
Tempat eksotis (Yunani: exotikos = foreign) selain Bali yang pertama-tama saya kenal adalah Toraja. Toraja (to = orang, raja = gunung) punya Rambu Soloq atau upacara pemakaman adat yang unik. Saya tahu itu dari Kompas Minggu edisi 1979. Kapling sehalaman penuh dijatah redaksi untuk essay foto Rapasan Sapu Randanan, salah satu jenis Rambu Soloq. Saya terkesima dan takjub. Sebagai siswa SMP yang belum bisa mencari uang sendiri, mimpi Toraja cukup saya simpan di sanubari.
Menginjak SMA ibu memberi jatah mingguan. Prioritasnya uang sekolah, bila ada sisa ditabung. Dari tabungan itu saya bisa ke Bali medio 1980. Saya ingat, untuk sepekan di Bali cukup menghabiskan Rp. 22 ribu! Tentu akomodasinya numpang di rumah kerabat. Memasuki masa kuliah minat meluas, selain itu saya pun mulai bisa mencari tambahan uang saku. Ragam latar belakang teman memudahkan saya menghimpun informasi. 1984 saya menjelajah Bali-Lombok-Sumbawa-Flores. 1985 giliran ke Lampung-Palembang-Jambi-Bukittingi-Pekanbaru. 1986 saya berencana ke Toraja. Saya pilih tengah-tahun, bulan pasca-panen di mana Rambu Soloq biasa digelar.
1986 di Yogya belum ada agen kapal. Sekadar untuk pesan tiket saya harus ke Surabaya! Saya berkereta ke Gubeng, jalan kaki ke terminal Wonokromo, disambung bis kota ke tugu Pahlawan dan akhirnya becak mengantar ke travel agent. Uang yang dikutip agen saat itu gila-gilaan, hampir 50% harga tiket. Saya langsung ke kantor Pelni yang tak jauh dari situ. Jam pelayanan tiket telah lewat tapi saya tetap masuk dan duduk di bangku tunggu. Di situlah saya melihat kolusi rapi tentara penjaga dan Pelni. Beli sendiri mesti antri pagi-pagi, itu pun belum tentu dapat. Lewat tentara dijamin dapat, uang rokoknya 4000 ribu per kepala! Teman asal Surabaya yang mengantar menyarankan saya pulang. Ia akan membantu mencarikan tiket. Sepekan berselang saya ke kostnya di Sekip, Yogya. Tiket gagal dibeli karena saya tidak meninggalkan KTP. Padahal ia antri sejak jam 6, sejak gerbang Pelni belum buka!
Niat ke Toraja baru terealisasi Februari 1987. Saya sempat dua kali merasai suasana Rambu Soloq. Yang pertama sebuah mega fiesta melepas anggota DPR asal Tana Toraja di Ke’te Kesuk. Di tengah pesta saya dengar selentingan Surono dan Harmoko hadir di panggung kehormatan. Yang kedua Rambu Soloq ukuran kecil di desa Tondon. Lantaran bersua dengan seorang perangkat desa saat mencari angkutan ke Rantepao, saya digiring ke pesta desa dan sempat mencicipi baloq (tuak Toraja).
Oktober 1995 sekali lagi saya ke Toraja (Rantepao). Sekadar mampir setelah perjalanan melelahkan dari Poso lewat Tentena, Pendolo, Wotu dan Palopo. Maunya santai, justru beroleh bonus menarik. Kenalan di sebelah penginapan menawari ikut ke pesta (melayat). Beruntung saya membawa baju hitam. Esok paginya, bersama keluarga besarnya, kami ke Sa’dan Balusu, Toraja Utara. Saya dikenalkan empunya hajat yang menjanjikan kamar sekiranya saya mau meliput sampai akhir. Sayang sekali saya sangat lelah, kebaikannya tak dapat saya penuhi. Di Rantepao saya masih menginap 2 malam lagi. Pada malam ke-4 saya lanjut perjalanan ke Ujung Pandang (Makassar). Berikut nota jalan hari ke-2.
Salam dari Sangatta,
6-November-2004
*****
Tour de Toraja
Kunamai saja acara hari itu Tour de Toraja. Sekadar gagah-gagahan tanpa niatan menyaingi Tour de France nan legendaris. Dengan merogoh kocek Rp. 7000,- (untuk wisman ditarik Rp. 8000), kusewa sebuah sepeda federal. Target utamanya adalah situs Suaya, kompleks makam 7 raja yang dulu menguasai Sangalla. Semalam dengan beberapa kenalan aku coba tukar pendapat untuk mencari route paling santai. Mereka rata-rata terkejut, “Apa tidak melelahkan?” Pertama, jarak tempuhnya cukup jauh yaitu 28km. Kedua, aku ingin berangkat via poros Rantepao – Makale yang banyak tanjakannya. Bekal pengalaman jalan kaki di lembah Bada, Sulawesi Tengah, sepekan sebelumnya membuatku yakin. Untuk jarak yang sama aku mampu melewatinya dengan kaki sendiri. Dengan bersepeda tentu lebih mudah.
Rupanya capek bersepeda beda dengan capek jalan kaki. Aku yang hanya sesekali bersepeda kalau pas pulang ke Solo, pada mulanya agak kerepotan mengatur irama. Sampai di pertigaan ke arah Londa kondisi medan masih bisa kuatasi. Selewat itu, kombinasi tanjakan tikungan nan panjang di jelang simpang tiga ke Tilanga dan Lemo membuat kaki, terutama bagian paha, luar biasa nyeri. Peluh terus menetes karena panas menyengat. Baru sekitar 10 km dari Rantepao, artinya belum separuh jarak tempuh ke Suaya, aku telah berhenti mengaso 2 kali! Makanya kuputuskan singgah ke Lemo dulu. Siapa tahu kondisi badan tidak kuat dan mesti balik, lumayan setidaknya sudah dapat satu obyek.
Tanjakan terjal menuju Lemo memaksaku turun dan sepeda kutuntun. Kaki yang baru saja untuk mengayuh serasa tanpa tenaga untuk menyanga berat badan. Sekali lagi aku berhenti untuk menepis kunang-kunang yang mulai mengintip di ekor mata. Tanjakan lagi menjelang tempat parkir kulalui sepenuhnya dengan sepeda dituntun. Sepeda terus kubawa melewati tempat penjualan tiket dan kuparkir di antara kios-kios souvenir yang kosong.
Lemo lebih cantik dibanding 8 tahun lampau (tepatnya Februari 1987) saat pertama aku mengunjunginya. Tau-tau, patung para mendiang dari kayu, memenuhi ‘ruang pajang’ samping liang kubur. Padahal 8 tahun silam aku menghitung tak lebih dari 10 buah. Makin banyak orang dikubur? Atau tau-tau lama yang disimpan direlakan keluarga mendiang untuk dipajang tanpa takut dicuri orang? Kuburan Lemo menempel di permukaan batu cadas. Ke dalam tubuh cadas yang sudutnya hampir tegak lurus itu dipahat rongga-rongga dengan penampang persegi. Di rongga-rongga itu lah jasad si mati disimpan.
Melihat letak dinding dan bentang alam sekelilingnya, mungkin sebatang sungai purba pernah mengalir di sini. Untuk mendekati Lemo orang mesti melintasi ngarai yang telah menjadi areal persawahan selebar kira-kira 100m. Bentangan panorama indah telah menyulap kompleks pemakaman yang jamaknya bersuasana muram. Aku ingat ucapan kenalanku orang Korea di Bukittinggi setahun silam, bahwa wisata ke Toraja serasa menggelapkan pandang karena hanya mengunjungi makam-makam. Apa perlunya gentar jika semua orang pada akhirnya menuju ke sana? Jalan setapak di depan dinding Lemo akan mengantar ke pojok bongkahan cadas. Dinding cadas kemudian berbelok. Bagian ini juga digunakan untuk makam. Dua lubang di bagian bawah telah penuh sehingga dibiarkan tanpa penutup. Di dalamnya nampak bagian-bagian kain putih pembungkus mayat. Satu kubur terbaru, belum berumur setahun, ada di sisi kiri atas. Karangan bunga yang mulai mengering menghias dinding kayu (penutup) liang kuburnya.
Dari kios souvenir yang paling jauh dari arena parkir kubeli miniatur sepasang tau-tau. Toko terjauh biasanya menawarkan harga miring. Setelah puas mengambil gambar dan ngilu di kaki reda, aku menuju ke tempat parkir. Aku telah siap mengambil sepeda, tiba-tiba kudengar teguran ibu penjaja souvenir tadi. Katanya, “Jalan balik adalah pemali, sebaiknya jalan memutar.” Mungkin pemali tadi tidak benar. Dengan menuruti sarannya aku bisa menikmati sudut lain dari Lemo yang tak kalah indahnya.
Kembali aku mengayuh sepeda di atas poros Rantepao – Makale. Jembatan lewat, ada simpang tiga kuambil jalan ke kiri. Lepas dari Lemo aku menemukan kiat jitu. Bila tanjakan terjal dan panjang, kayuh pedal semampunya lalu turun dan sepeda dituntun. Pada saat menurun kayuh kuat-kuat sehingga ada sisa momentum untuk awal pendakian berikutnya. Dengan kiat itu 15km Lemo – Sangalla berkurang tingkat kesulitannya. Panorama sepanjang jalan melenakan, 90 menit dengan 4 kali istirahat lewat begitu saja.
Satu kilo dari Sangalla ke arah Suaya ada rambu penunjuk ke obyek menarik kuburan bayi (babies grave). Nama Torajanya Mangunda’pa Kambira. Letaknya sekitar 50m dari jalan besar (aspal). Kuburan bayi, bayi yang masih dianggap suci karena meninggal saat belum tumbuh gigi susunya, berada di batang pohon. Di badan sebuah pohon besar dibuat 8 rongga, masing-masing 4 buah di sisi yang berlawanan. Uniknya, pelubangan batang tidak mematikan pohon yang bersangkutan. Saat pohon tumbuh meninggi, begitu filosofinya, sukma bayi pun kian dekat ke langit hingga akhirnya lepas ke puya (surga). Lebatnya pohonan dan rumpun bambu seakan memagari kubur bayi dari sentuhan matahari. Dengan cahaya minim, tripod yang selalu kubawa kini menunjukkan jasanya. Barang 30 menit aku berhenti di sini sembari menenggak cocacola yang kubeli dari kios souvenir. Menjelang pk. 13.00 aku berangkat lagi.
Berbekal keterangan seorang pemilik kios souvenir di kuburan bayi aku bisa hemat tenaga. Untuk ke Suaya aku tak perlu lewat jalan semula. Ada jalan pintas kembali ke jalan besar dan dari sana tinggal 1,5km untuk sampai di simpang ke Tampang Allo. Aku lebih menyukai ke Suaya lebih dulu. Pertimbangannya, ke Tampang Allo bisa nanti saat pulangnya dan Suaya tinggal seisapan sebatang rokok jika jalan. Kata penduduk setempat yang kutanya, patahan bukit di kanan jalan yang sudah terlihat itulah Suaya. Untuk sampai pintu gerbangnya masih 1 km lagi mengayuh.
Suaya mirip dengan Lemo yakni kubur yang dikerkah di induk bukit. Suaya dan Lemo juga sesama kompleks pemakaman bangsawan. Bedanya, Suaya khusus diperuntukkan bagi keluarga besar raja Sangalla. Tau-tau seluruh mendiang lengkap. Di depan sisi kanan dari kaki bukit karang dibangun pondok penyimpan beberapa perlengkapan penguburan. Di sisi kiri seberang makam, batuan dipahat membentuk titian anak tangga hingga ke puncak. Mungkin titian ini dipakai untuk menaikkan jasad mendiang dan tau-tau ke tempatnya.
Aku mendaki anak tangga itu hingga di ketinggian yang sama dengan tau-tau. Bisa jadi memang itulah nilai plus Suaya yang tak dimiliki situs lain. Menatap tau-tau dari samping sungguh menerbitkan aura misteri. Dari dekat terlihat detil permukaan bukit Suaya yang tak semulus Lemo. Melayangkan pandang ke arah yang lain, mata disuguhi pemandangan khas Toraja dengan bukit-bukit patahnya. Usai ambil beberapa gambar aku turun, mengisi buku tamu dan membayar tiket masuk. Ibu yang kiosnya dititipi buku tamu berkisah bahwa sebulan berselang salah satu kerabat raja Sangalla wafat. Sebagai penganut Aluq Todolo, agama tradisionil Toraja, pemakamannya akan dilakukan dengan 2 upacara. Yang pertama akan digelar Desember nanti.
Sesuai rencana, pulangnya aku mampir Tampang Allo. Sebelum Tampang Allo sebenarnya ada babies grave lain tapi kulewati saja demi hemat waktu. Tampang Allo berujud goa kubur. Upaya pertama sana gagal. Tedong (kerbau) menghadang di tengah pematang, aku berbalik arah takut kalau mengamuk. Aku naik, balik ke tempat penjualan tiket. Dengan seorang ibu penduduk setempat sesaat aku ngobrol. Katanya, pematang itu bukan jalan ke goa kubur. Si ibu, karena mengaku takut ke goa, mencarikanku teman untuk penunjuk jalan. Sulit dipercaya pengantarku anak usia 7-8 tahun!
Di simpang jalan ia mengambil arah ke kanan, kuikuti dan segera tiba di tujuan. Sekeliling cukup gelap tapi penuntunku dengan santai menuruni lorong. Di ujung lorong nampak tau-tau berderet dengan beberapa buah erong (peti kayu) di sebelah kirinya. Sebagian erong telah lapuk dan belulang menyembul. Ruang makam cukup terang berkat celah di kiri atas goa. Tanpa sadar kudukku meremang. Warna asli pakaian tau-tau yang masih melekat memberinya kesan bernyawa! Aku jadi paham mengapa si ibu tadi takut kemari. Sunyi dan dingin di goa memang berbau mistis yang aku sendiri susah menggambarkannya. Anehnya si anak kecil tetap kalem tidak terpengaruh suasana. Waktu ia menolak kumintai bantuan membawakan blitz, aku jadi salah tingkah dan cukup panik. Cepat-cepat kamera kujepret 3 kali dan segera ke luar gua. Rasanya baru saja lepas dari suasana sangat menghimpit yang syukurnya bisa kulewati.
Hari sudah sore saat aku meninggalkan Tampang Allo. Buntu Kalando hanya kusinggahi 5 menit tanpa masuk. Buntu Kalando adalah kompleks rumah adat milik raja Sangalla yang difungsikan untuk museum. Menuruti keterangan guide yang pagi tadi kutemui di Lemo, di simpang tiga beberapa kilo setelah Sangalla kuambil jalan ke kanan. Itu adalah jalan lain ke Rantepao yang lebih pendek. Pemandangan khas Toraja dengan tongkonan dan lumbung adatnya di sepanjang jalan tetap saja indah. Lewat Ke’te Kesuk dan Buntu Pune sengaja aku tidak mampir. Bukan capek atau tak ada waktu, tapi film di kameraku sudah habis. Sekitar jam 17.00 aku tiba kembali di Rantepao. Setelah cuci muka dan mengembalikan sepeda sewa aku bergegas ke warung nasi. Nasi yang kukudap itulah nasi asupan pertama di hari itu. Lelah, lunglai, lapar tapi lega.
Rantepao, 28-Oktober-1995



