105 Menit di Abu Simbel

Custom Search

By admin • Dec 27th, 2004 • Category: Petualangan

Sedini itu resepsionis telah membangunkan.  Selagi jarum pendek masih berkutat di antara angka 3 dan 4.  Dalam tempo 20-an menit saya siap di lobby hotel.  Resepsionis menyerahkan 2 kotak kardus jatah makan pagi.  Tak berapa lama jemputan datang.  Mobil jemputan masih mampir di beberapa hotel lain mengambil penumpang sebelum akhirnya berhenti di depan pos polisi corniche el-Nil.  Perlu ditambahkan, setiap kota Mesir di sepanjang Nil punya corniche, jalan raya menyisir tepian bengawan.  Saya lihat semua penumpang juga dibekali kotak kardus.  Agaknya demikianlah standard layanan hotel di Aswan.

Sedini itu resepsionis telah membangunkan.  Selagi jarum pendek masih berkutat di antara angka 3 dan 4.  Dalam tempo 20-an menit saya siap di lobby hotel.  Resepsionis menyerahkan 2 kotak kardus jatah makan pagi.  Tak berapa lama jemputan datang.  Mobil jemputan masih mampir di beberapa hotel lain mengambil penumpang sebelum akhirnya berhenti di depan pos polisi corniche el-Nil.  Perlu ditambahkan, setiap kota Mesir di sepanjang Nil punya corniche, jalan raya menyisir tepian bengawan.  Saya lihat semua penumpang juga dibekali kotak kardus.  Agaknya demikianlah standard layanan hotel di Aswan.

Sejak serangan teroris di kuil Hatshepsut, Luxor, 1997, akses untuk non-Mesir di hulu Mesir dibatasi demi keamanan.  Perjalanan bis antarkota sama artinya dengan perjalanan dalam konvoi polisi.  Konvoi itu telah terjadual dan selalu ramai untuk rute ke kota-kota turis seperti Edna dan Edfu.   Di luar konvoi moda transportasi pilihan untuk non-Mesir pun tidak banyak.  Dari Kairo ke Luxor (9,5jam) dan Aswan (13jam), misalnya, hanya tersedia 3 jenis kereta yang boleh digunakan turis.  Kereta-kereta itu juga dikawal.

Mobil-mobil telah berbaris rapi dan setiap sopir memberi arahan pada semua penumpangnya.  Kata sopir kami, "260km Aswan-Abu Simbel akan kita tempuh tanpa berhenti.  Saya akan memacu kendaraan hingga laju 100km per jam.  Jangan khawatir kalau saya mengambil jalur jalan kiri."  Ketika konvoi bergerak saya hitung panjangnya tak kurang dari 3 bis besar plus belasan minibus ukuran tiga perempat.

Tanpa jaringan kabel tegangan tinggi yang memagari jalan, Aswan-Abu Simbel bisa disamakan dengan rally Paris-Dakar.  Aspal mulus membelah hening gurun.  Ke mana pandang dilayangkan selalu terantuk gosong pasir.  Jarak antarmobil terlalu jauh.  Pantaskah ini disebut konvoi?  Mobil kami selalu di urutan buncit.  Kalau janji sopir ditepati, mobil-mobil lain tentunya dipacu dengan laju yang lebih gila!  Tanpa alasan keamanan pun saya merasa konvoi sebuah keharusan.  Tanpa konvoi muskil mengharap pertolongan jika terjadi sesuatu di jalan.  Lantaran masih pagi, kebanyakan penumpang tertidur pulas.  Saya pun mengantuk namun menyempatkan mengirim SMS ke rekan di Bontang, "Saya sedang ke perbatasan Sudan, ke kuil Abu Simbel."  Sampai di tujuan, penumpang dimuntahkan di deret kios-kios souvenir yang masih tutup.  Sopir berpesan bahwa konvoi kembali ke Aswan berangkat jam 9.  Berarti kami punya waktu 105 menit.

Berpuluh abad Abu Simbel nyenyak berselimut pasir sampai pengelana Swiss Jean Luis Burckhardt menyingkapnya 1813.  Saat itu hanya 1 dari 4 kepala Ramesses II mencuat.  Usaha pembersihannya baru lengkap dalam 4 tahun.  Abu Simbel, yang merupakan kuil terpahat di dinding batu, dibangun dalam kurun dua dasawarsa.  Konstruksinya selesai sekitar 1265 SM, tepat di ulang tahun ke-24 penobatan Ramesses II.

Kompleks Abu Simbel terdiri dari kuil besar dan kuil kecil.  Kuil besar dikawal empat patung Ramesses bertahta di singgasana kebesaran.  Keempat patung itu tingginya 20m.  Di kiri-kanan gerbang terpahat relief sang pharaoh sedang memuja Re-Horakhty.  Tertera juga di sana nama penobatannya: User-Maat-Re.  Kuil besar memiliki 2 ruang utama, 9 bilik samping, dan 1 ruang terdalam.  Di ruang terdalam, yang juga ruang terwingit, bisa ditemukan 4 patung yang mana Ramesses duduk diapit Ptah, Re-Horakhty, dan Amun.  Ruang terwingit tak bisa dimasuki namun pengunjung bisa menyapa dengan ke-4 patung dari batas pagar setinggi pinggang.

Kuil besar didirikan Ramesses sekurangnya dengan disertai 2 maksud.  Pertama, memberi persembahan kepada ketiga dewa pengapitnya.  Kedua, melegitimasi kedewataan dirinya.  Demi kedua maksud kuil besar dirancang dengan presisi menakjubkan.  Setiap tanggal 22-Februari dan 22-Oktober, sinar pertama matahari terbit langsung menerobos poros kuil hingga ruang tersakral.  Sinar itu hanya menerpa ketiga patung.  Patung Ptah, yang paling kiri bila dilihat dari arah gerbang, sengaja dirancang tetap gelap.  Mengapa?  Karena Ptah adalah dewa dunia bawah, dunia pasca kematian.  Dengan bermandikan terang mentari Ramesses memperbarui kedewataannya yang memberinya hak duduk sejajar dengan ketiga dewa!  Kuat dugaan bahwa kedua tanggal di muka merupakan hari lahir dan hari penobatan Ramesses.

Kuil kecil terpisah 100-an meter dari kuil besar.  Kuil kecil dijaga 6 pengawal setinggi 10m, masing-masing 2 patung Ramesses dan 1 patung Nefertari di kiri dan kanan gerbang.  Patung Ramesses terkiri, atau paling selatan, mengenakan mahkota Mesir hulu.  Patung Ramesses terkanan, paling utara, mengenakan mahkota rangkap Mesir hulu dan hilir.  Tata ruang kuil kecil sangat sederhana, hanya satu ruang utama, satu ruang sakral dan dua bilik samping.  Ruang sakralnya kosong tanpa patung.  Terkesan kuil kecil dibangun sebagai bentuk mula dari kuil besar.  Ramesses mempersembahkan kuil ini kepada Hathor dan Nefertari, istri paling dicintainya.  Hathor, dewi cinta dan kenyamanan, telah lama dikaitkan dengan eksistensi ratu-ratu Mesir.

Dengan dibangunnya bendungan besar Aswan 1961 muka air di hulu Nil naik puluhan meter.  Akibatnya seluruh kuil kuno di Nubia, ranah budaya di selatan katarak (air terjun) pertama Nil di Aswan, terancam terendam selamanya.  Tak terkecuali kompleks Abu Simbel yang merupakan kuil termegah.  Mengingat keunikan dan nilai historisnya, berbagai bangsa pun terundang menyelamatkan Abu Simbel.  Italia mengusulkan untuk memangkas kuil dari induk batuan, lalu mengangkatnya dengan dongkrak hidrolik untuk dipindah.  Pekerjaan ini setara dengan proyek memindahkan sebuah bangunan berlantai 20!  Inggris menyarankan agar kuil ditutup dengan kubah kaca seperti aquarium sehingga tetap bisa dikunjungi.  Tentu saja dengan peralatan selam.

Lantaran kedua usul terlalu mahal, orang berpaling ke gagasan pakar Swedia.  Kuil digergaji menjadi bongkah-bongkah lebih kecil untuk disusun ulang di tempat baru.  Volume Abu Simbel tak kurang dari 11.000m3.  Kuil besar dan kuil kecil digergaji menjadi masing-masing 807 dan 235 potong.  Berat tiap potongnya berkisar 2-10 ton.  Potongan itu lalu disusun sejarak 180m dari posisi aslinya.  Posisi baru itu 65m lebih tinggi dari elevasi semula.  Pekerjaan yang berpacu dengan laju kenaikan muka air bendungan selesai dalam 4 tahun.  Biaya yang dihabiskan tak kurang dari USD 40 juta!  Saat Abu Simbel dibuka kembali September 1968, sebuah prestasi besar telah diukir.  Proyek pemindahan kuil terbukti tidak kalah rumit dari pembuatannya.  Boleh jadi Ramesses II pun akan kagum dibuatnya!

105 menit untuk menjelajah sebuah mahakarya berumur 30 abad tentu kurang adil.  Kami beruntung masuk situs paling awal sehingga punya waktu sedikit longgar.  Sebelum konvoi kembali ke Aswan beranjak, sebuah pertanyaan besar terlintas di benak.  Saat ini China sedang membangun bendungan raksasa (3 gorge dam) di sungai Yang Tze.  Jutaan penduduk diungsikan, jutaan hektar tanah pusaka dibenamkan.  Mengapa usaha penyelamatan kuil-kuil dan situs kuno berumur ribuan tahun belum lagi terdengar?  Adakah pemerintah China rela mengubur sebagian sejarah dan budayanya?

Aswan, 19-April-2003

admin is
Email this author | All posts by admin

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

Copyright ©2004-2008 Indonesia Backpacker Community All rights reserved. All articles and Images may not be reproduced in any form without the express written permission of the copyright holder | All Information contained on this site may not be used for commercial purposes,
for more information please Contact
admin At indobackpacker.com | Powered by the WordPress

Creative Commons License
Except where otherwise noted content on this site is licensed under a
Creative Commons Licence.