Antara Rantepao-Tentena
By Erwin • Dec 10th, 2004 • Category: Romantika
Beranjak siang, pukul 11 kurang, Bis Batutumonga yang melayani trayek Rantepao-Palu mulai bergerak meninggalkan kantor perwakilannya di Jalan Mappanyuki, salah satu jalan protokol di Tana Toraja. Rata-rata bis antar kota memiliki perwakilan disepanjang jalan ini, karena tidak ada terminal bis antar kota. Rute yang dilayani adalah kota-kota besar di Sulawesi, selain ke Makassar, Palu, Kendari, Morowali, Gorontalo, sampai ke Manado, dengan waktu tempuh bervariasi tergantung tujuan, dan yang terjauh sampai 3 hari dan keberangkatannya terjadwal.
Tujuanku adalah Tentena, Kabupaten Poso. Sebuah kota kecil ditepian Danau Poso, Sulawesi Tengah. Kebetulan dapat kursi paling depan, tepat dibelakang sopir, jadi bisa lihat pemandangan. Bis berjalan pelan melewati kawasan pegunungan, jalan berkelok-kelok dan naik-turun. Satu jam perjalanan, bis berhenti di rumah makan di Hutan Wisata Nenggala III. Disitu sudah ada beberapa bis yang parkir di depan rumah makan yang menghadap ke sebuah lembah. Waktu makan, semua penumpang masing-masing disodori lauk-pauk yang sama. Ada ayam goreng, sop daging kerbau, sop mihun kari ayam, sayur daun singkong, gulai, dan sebakul kecil nasi. Aku hanya makan Ayam goreng dan sayuran. Waktu bayar, harganya ternyata satu paket. “walah….!!!, tau gitu dimakan semua…..jadi rugi deh !!,” gumamku. Dengan membayar Rp 12,000 semua itu bisa dimakan.
Bis melanjutkan perjalanan menuju Palopo, kota kecil yang cukup hidup, untuk menambah muatan. Setelah satu jam transit, lanjut lagi, melewati luasnya perkebunan kelapa sawit. Rumah-rumah penduduk jaraknya cukup berjauhan. Jalan Trans Sulawesi beraspal mulus tetapi tidak begitu lebar, kira-kira hanya pas untuk dua mobil. Selain berliku-liku dan turun-naik tanjakan karena kontur pegunungan, juga banyak melewati hutan.
Hujan turun deras, kernet jadi sering mengelap kaca yang berembun dan menghalangi pandangan sopir. Bis ukuran 3/4, dengan kursi yang sempit dan keras semakin berjalan pelan. Bis rata-rata setiap harinya penuh terisi penumpang. Pukul 21 malam, bis melewati Hutan Tadulako. Tiba-tiba lampu dalam bis dinyalakan. “KTP…..KTP…..siapkan KTPnya !!,” teriak sang kernet. Aku jadi terkejut, “ada apa nih ? sweeping dari masyarakat sekitarkah ?,” batinku.
Bis berhenti tepat di depan Pos TNI, kernet menyerahkan seluruh KTP para penumpang untuk diperiksa Tentara. “ahh….legaaa…!!,” Pemeriksaan hanya dalam beberapa menit saja, dan bis melaju kembali. “KTPnya koq gak dikembalikan ?,” tanyaku. “Sebentar, masih ada sekitar 50 pos pemeriksaan lagi ,” jawab penumpang yang duduk disampingku. “Huaaa…..!!.” Sepanjang perjalanan jadi tidak bisa tidur, selain was-was, soalnya yang ada dipikiran; KTP jangan sampai lupa kembali !!
Semenjak kerusuhan berbau SARA pecah di Poso, pemeriksaan terhadap pendatang diperketat dikawasan menjelang Kota Poso. Beberapa penumpang yang kutanya seputar keamanan di Poso jawabannya gak ada yang seragam, kadang “amanâ€,â€belumâ€, atau “ragu-ragu.â€
Untuk yang kedua kalinya, bis berhenti di rumah makan. Waktu makan, penumpang kembali disuguhi lauk yang semuanya sama, kali ini nasi sebakul kecil plus sepotong Ikan Bandeng yang banyak durinya. Nampaknya memang gak ada pilihan lauk-pauk buat makan para penumpang !! kecuali berharap ada rumah makan Padang atau Warteg disekitar sini.
Sewaktu kembali ke dalam bis, ada sekardus botol air mineral tergeletak disamping Sopir. Dalam hati, ini pasti buat dibagikan ke penumpang. Tidak lama bis melanjutkan perjalanan, harus berhenti lagi di Pos Brimob. Kernet turun menyerahkan seluruh KTP penumpang. Pemeriksaan kali ini agak lama. Kernet kembali ke bis, tiga orang penumpang pria dipanggil turun untuk ke pos, mungkin dianggap bermasalah. Bis jalan lagi, dan begitu seterusnya dalam jarak yang tidak terlalu jauh ada pos perintis untuk pemeriksaan. Setiap kernet turun, selalu bawa sebotol air mineral. Ooo….itu toh, ternyata buat upeti para petugas. Dengan sebotol air mineral….semuanya jadi lancar !!! Dalam sehari puluhan bis antar kota lewat Trans Sulawesi, bararti kalo tiap bis ngasih sebotol-sebotol, bisa kembung itu perut petugas !!!
Pukul 23.30 bis masuk di pertigaan Tentena-Poso Kota, Aku turun di sini, di Pos Perintis milik Brimob, dan harus lapor diri. Tengah malam berada di daerah ini bikin jantung deg-degan juga. Pak Polisi membantuku mencarikan ojeg yang mengantar ke sebuah losmen.
Erwin is
Email this author | All posts by Erwin



