Maaf via Phrase Book
By admin • Dec 15th, 2004 • Category: Romantika
Peloponnesos, Yunani, awal Mei 2001. Dari Nauplion kami hendak ke Olympia (catatan: mp dalam aksara Yunani dibaca mb; Olympia dieja Olimbia). Nauplion, ibukota pertama usai perang kemerdekaan, kerap ditahbiskan sebagai kota tercantik di Yunani. Arsitekturnya bergaya Venezia, tata kotanya rapi, tamannya luas dan bersih. Pendek kata, kontras dengan kota-kota Yunani seumumnya yang pengap, sumpek, dan kotor. Olympia, kita semua pernah mendengarnya, adalah ajang tempat digelarnya Olympiade kuno sejak 776SM. Sekira sekilo dari situs itu tumbuh kota kecil dengan nama yang sama. Olympia modern dihuni 1000-an jiwa.
Tiadanya bis langsung mengharuskan kami transit di Tripolis. Dalam sehari Nauplion – Tripolis (1,25jam) dan Tripolis – Olympia (3,5jam) hanya dilayani oleh 2 return trip KTEL (Damri Yunani). Dengan penduduk berkisar 11 juta, mobilitas penduduk di sana tidak semasif di tanah air. Jalan negara yang mulus dan kukuh lebarnya cukup 2 kali badan bis. Sepanjang jalan, bis memang jarang berpapasan. Sekalipun hanya 2 trip, bis jarang penuh. Ibu-ibu Yunani yang bergantian naik-turun sepanjang jalan leluasa memakai 2 kursi sekaligus. Satu kursi diduduki, kursi sebelah untuk barang bawaan. Perlu diketahui, tempat duduk di bis KTEL diatur 2-2. Jadual bis yang teratur dimanfaatkan para ibu untuk berangkat atau pulang pasar. Tak heran bila bawaan mereka sekeranjang.
Peloponnesos, Yunani, awal Mei 2001. Dari Nauplion kami hendak ke Olympia (catatan: mp dalam aksara Yunani dibaca mb; Olympia dieja Olimbia). Nauplion, ibukota pertama usai perang kemerdekaan, kerap ditahbiskan sebagai kota tercantik di Yunani. Arsitekturnya bergaya Venezia, tata kotanya rapi, tamannya luas dan bersih. Pendek kata, kontras dengan kota-kota Yunani seumumnya yang pengap, sumpek, dan kotor. Olympia, kita semua pernah mendengarnya, adalah ajang tempat digelarnya Olympiade kuno sejak 776SM. Sekira sekilo dari situs itu tumbuh kota kecil dengan nama yang sama. Olympia modern dihuni 1000-an jiwa.
Tiadanya bis langsung mengharuskan kami transit di Tripolis. Dalam sehari Nauplion – Tripolis (1,25jam) dan Tripolis – Olympia (3,5jam) hanya dilayani oleh 2 return trip KTEL (Damri Yunani). Dengan penduduk berkisar 11 juta, mobilitas penduduk di sana tidak semasif di tanah air. Jalan negara yang mulus dan kukuh lebarnya cukup 2 kali badan bis. Sepanjang jalan, bis memang jarang berpapasan. Sekalipun hanya 2 trip, bis jarang penuh. Ibu-ibu Yunani yang bergantian naik-turun sepanjang jalan leluasa memakai 2 kursi sekaligus. Satu kursi diduduki, kursi sebelah untuk barang bawaan. Perlu diketahui, tempat duduk di bis KTEL diatur 2-2. Jadual bis yang teratur dimanfaatkan para ibu untuk berangkat atau pulang pasar. Tak heran bila bawaan mereka sekeranjang.
Sampai terminal Tripolis kami segera menempah (booking) tiket ke Olympia. Si penjual memberitahu, “Berangkatnya masih 3 jam lagi.†Agaknya mau memastikan bahwa kami tidak salah tempah. Seperti biasa, waktu tunggu di terminal kami manfaatkan untuk menambah nota jalan. Ada bangku kosong, ransel kamera kami pakai untuk alas, sayang tinta pen habis. Kami keluar terminal, mampir warung K5. Kami tanya, “Do you have pen?†Penjual menjawab, “No speak English.†Kami tunjukkan pen, penjual langsung merespon dengan memberikan sekaligus warna hitam dan biru. Kami diminta memilih. Kami ambil satu, segera ia menunjukkan recehan Drachma (mata uang Yunani sebelum Euro) harganya. Betapa universalnya bahasa Tarzan!
Antara Tripolis – Olympia terjadi drama unik. Lepas dari terminal bis terisi 2/3-nya. Secara eceran penumpang bertambah dan belum batas kota tiada lagi kursi kosong. Tiba-tiba dua turis ransel yang baru naik (belakangan kami tahu dari Belanda) mengadu ke kondektur. Dengan bahasa isyarat mereka menagih jatah tempat duduk sesuai di tiketnya. Tangannya sebentar menunjuk tiket, sebentar menunjuk kursi.
Sesaat kondektur berunding dengan sopir. Selanjutnya kondektur angkat bicara dan minta penumpang duduk sesuai nomor di tiket. Kegaduhan pun pecah. Penumpang, yang rata-rata sudah berumur, meradang. Dalam kondisi biasa pun orang Yunani bicara keras (lantang) dan meledak-ledak, apalagi bila ‘protes’ (sebagai gambaran lihat di film ‘My Big Fat Greek Wedding’). Meski tidak 100% paham kami menangkap maksud mereka. Mereka tak nyaman lantaran turis naik bis umum! “Gara-gara turis kami malah dianak-titikan,†begitu kira-kira keluhan mereka. Saat ketemu nomor di tiket, serta merta kami ambil kursi belakangnya. Padahal nomor ditulis di punggung kursi. Jadi kami pun salah duduk! Selama tukar-menukar tempat duduk bis tetap berjalan, sopir tak peduli.
Setelah kondisi normal, si Belanda merasa rikuh. Kebetulan yang tadi mengambil kursinya (alias yang ‘diusir’-nya) pindah tepat di belakangnya. Orangnya aki-aki, 60-an tahun kalau melihat parasnya. Ia menyapa si kakek, membuka phrase-book Greek-nya, menunjuk diri lalu menunjuk satu frasa di bukunya. Maksudnya hendak berkata, “Bapak, maafkan saya.†Kami yang berseberangan kursi geli memperhatikannya. Kami dan si Belanda sempat beradu pandang dan sama-sama tersenyum. Si Belanda mengulang hal itu berkali-kali sampai si kakek paham dan akhirnya tersipu. Selewat puluhan kilo, kakek itu membuka ‘bekal’ makanan. Si Belanda lah yang pertama-tama ditawarinya! Tentu si kakek telah memaafkan dan agaknya ganti merasa tak enak hati.
admin is
Email this author | All posts by admin



