Mistum, Porter Gaul dari Ranupane
By admin • Dec 2nd, 2004 • Category: Romantika
Semeru dalam kenangan,15-19 Nop 2004
>> “Makan-tidur, makan-tidur, ntar gendut, mbak Ida,” timpal Mistum tiap kami rehat dan Ida makan/tidur.
“Biarin!”dengan cuek Ida tidur dan Mistum mengikuti tidur juga….
>> “Capeee Mistum, berapa jam lagi? Tidur dulu ya…,”Ida merebahkan diri.”Tidur ahhh, saya juga ngantuk…”Mistum nyengir.
Mistum berlagak bergegas,”Ayo kita tinggal saja, mbak Jenny!” dan dibalas dengan pelototan Ida.
>> Setiap kami masak, pagi-siang-malam, Mistum hobi nangga ke tenda-tenda lain,sehingga harus diteriaki Ida,”Mistuuuummmm, makaaaann!”
Suatu sore, di tepi Ranu Kumbolo, terdengar teriakan menirukan Ida,”Mistummmm, makaaaannnn!”, saya dan Ida berpandangan.
Kemudian, dilanjutkan dengan teriakan Mistum mengadu,”Ini lhooo, mbak Idaaa!”
>> Sepanjang trek menuruni Ranu Kumbolo, Ida dan saya memotret hampir 2 jam dan Mistum menjemput kerir kami untuk diangkut ke tepi ranu. Mistum tidak pernah jauh dari kami, dan selalu menemukan barang kami yang terjatuh/tertinggal….
>> “Mbak, saya duluan ke Arcopodo ngetek tempat nenda ya?”Mistum meluncur dari Kalimati ke atas.
Dipertengahan Kalimati-Arcopodo, sekitar 1 jam perjalanan, tampak Mistum menuruni trek ke arah kami.”Saya sudah ngetek tempat nenda”
wajahnya berseri-seri. “Ranselnya saya bawakan, mbak Ida!” Mistum meluncur ke atas dengan kerir Ida…
Semeru dalam kenangan,15-19 Nop 2004
>> “Jen, porternya Mistum aja, dia kuat, enak diajak ngobrol dan gati (care),”amanat Pak John, pendaki yang anaknya, Stefan juga telah menjadi pendaki “Si Mistum kocak bener deh,”komentar Ika cengar cengir geli, mungkin ingat perjalanan ke Semeru dengan Mistum di medio Agustus kemarin
Ok deeehhhh…
>> Perjalanan ber2 dengan Ida ke Semeru menjadi semarak berkat Mistum. Sepanjang jalan dia SKSD menyapa setiap pendaki dan porter yang berpapasan dengan kami. Cocok sekali porter 20 tahun itu dengan Ida, terutama dalam hal cela mencela.
>> “Mistuuummm! Masih jauh ga? Kapan sampainya ?”keluh Ida. “Sebentar lagi sampe, mbak Ida. Laper ya?” Mistum cengar cengir
>> “Makan-tidur, makan-tidur, ntar gendut, mbak Ida,” timpal Mistum tiap kami rehat dan Ida makan/tidur.
“Biarin!”dengan cuek Ida tidur dan Mistum mengikuti tidur juga….
>> “Capeee Mistum, berapa jam lagi? Tidur dulu ya…,”Ida merebahkan diri.”Tidur ahhh, saya juga ngantuk…”Mistum nyengir.
Mistum berlagak bergegas,”Ayo kita tinggal saja, mbak Jenny!” dan dibalas dengan pelototan Ida.
>> Setiap kami masak, pagi-siang-malam, Mistum hobi nangga ke tenda-tenda lain,sehingga harus diteriaki Ida,”Mistuuuummmm, makaaaann!”
Suatu sore, di tepi Ranu Kumbolo, terdengar teriakan menirukan Ida,”Mistummmm, makaaaannnn!”, saya dan Ida berpandangan.
Kemudian, dilanjutkan dengan teriakan Mistum mengadu,”Ini lhooo, mbak Idaaa!”
>> Sepanjang trek menuruni Ranu Kumbolo, Ida dan saya memotret hampir 2 jam dan Mistum menjemput kerir kami untuk diangkut ke tepi ranu. Mistum tidak pernah jauh dari kami, dan selalu menemukan barang kami yang terjatuh/tertinggal….
>> “Mbak, saya duluan ke Arcopodo ngetek tempat nenda ya?”Mistum meluncur dari Kalimati ke atas.
Dipertengahan Kalimati-Arcopodo, sekitar 1 jam perjalanan, tampak Mistum menuruni trek ke arah kami.”Saya sudah ngetek tempat nenda”
wajahnya berseri-seri. “Ranselnya saya bawakan, mbak Ida!” Mistum meluncur ke atas dengan kerir Ida…
>> Di Arcopodo kami menginap 2 malam menunggu badai angin pasir reda.
Mistum sibuk nangga dari tenda ke tenda dan ngasi tau perkembangan yang ada dan selalu dapat makanan …
“Di atas badai angin dan pasir, mbak! Yang berangkat cuma 2 tenda di bawah, yang 3 tenda tidak berangkat”….malam pertama “Waah, tendanya penuh pasir semalam ya? Tenda saya tidak ada pasir”
dengan bangga Mistum menunjukkan bagian dalam tendanya (Ida & saya memakai tenda Ika, Mistum memakai tenda saya)….
>> “Mbak…mbak… yang tadi malam ke puncak, satu orang kena batu di lengan dan kakinya. Hanya sampai cemoro tunggal, badai”
“2 tenda di atas kita sudah pulang, mbak, ga jadi muncak”
“Ada yang ngecamp di Kelik lhooo”
“Mbak di Kalimati ada rombongan 35 orang,temannya ya?”
“Mbakyu Jokooo!”Ida dan saya teriak bareng.
>> “Mbak, saya mau ke Sumber Mani ambil air dengan Pak Jari” (porter rombongan lain)Mistum meminta jeriken kosong
“Turun dari Arcopodo ke Kali Mati?”saya menatap tidak percaya
“Iya, nanti sore jalan-jalan ke Kelik lihat kondisi ya?”tawarnya
“Gah! Kamu aja ma Mistum,”Ida menggeleng
“Salam buat Joko ya, bilang Ida dan Jenny di Arcopodo,”salam saya
“Oke, mbak!” Wah, mulai menirukan kebiasaan saya menjawab dengan Oke…
Mistum, Porter Gaul dari Ranupane (II)
>> Mbak, saya ga ketemu mas Joko, tapi buanyaak banget yang nenda di Kalimati, rame banget, Mistum
datang membawa air Sumber Mani. Wah, bisa masak nasi lagi nih.
Udah laper? Saya masak nasi dulu ya
Kenyang, Mbak, saya udah makan sama Pak Jari dan
pendaki di Kalimati, Mistum menggeleng dengan wajah berseri-seri.
Busyeet deh! Anak satu ini kalo makan selalu on time. Ga doyan merokok, ngopi dan ngemil, kornet &
sarden juga ga doyan, kalo makan seadanya.
Aahh, gampang, saya mie rebus aja cukup kok! pas ga ada air buat masak nasi.
Dulu Pak John ngasi saya sarden, saya kasi pendaki Surabaya, abis ga doyan.
>> Malam pertama di Arcopodo badai. Paginya badai mereda,saya mengintip keluar tenda. Mistum telah membuat api unggun. Dia tengah menatap ke atas pepohonan, menikmati kicauan serombongan burung dengan pancaran kekaguman di wajahnya.
>> Malam kedua di Arcopodo. Mbaaaak, banguuun! Mo ke puncak ga? Pak Jari ke puncak lho ! Pk.01.00 dini hari Mistum meneriaki kami dari dalam tendanya.
Tengkyuuu! Kita makan dulu, ntar nyusul! balas saya berteriak, mengalahkan deru angin. Setelah meninggalkan sarapan buat Mistum, kami berangkat.
>> Sosok kecil bersarung yang amat saya kenal, dengan lincah menyongsong saya dkk menuruni puncak.
Mbak, saya ketemu mas Joko, masih di bawah sana. Dia kecapaian, saya dorong dari belakang, wuaahh berat sekaleee, pantatnya besaarr. Saya tarik sebentar terus dia istirahat dan saya terus ke atas. Mistum bersemangat menyampaikan laporan pandangan mata.
Tahunya kalo itu Joko, gimana? setengah geli saya bertanya.
Saya jalan terus ke atas sambil bertanya, mas Joko ya? mas Joko ya? kepada pendaki-pendaki itu. Terus mas Joko bilang, saya Jokooooo! saya dan Ibeth ngakak, wah jadi ngetop Mbakyu Joko gara-gara Mistum.
Mbak Ida mana, sampe puncak? Saya ga ketemu, Mistum mencari-cari rivalnya cela mencela
Ida turun 100 m sebelum puncak, maagnya kambuh, tolong susul dia ke Arcopodo ya.
Oke, saya turun dulu ya, nyusul Mbak Ida, dengan cekatan Mistum berlari menuruni medan pasir berbatu dan meninggalkan kami yang tertatih tatih berjalan, berpapasan dengan Joko yang sedang berjuang menuju puncak.
>> Jen, tadi saya ketemu portermu. Dia melihat saya kecapaian, lalu membantu mendorong dan menarik saya. Baek banget ya, nanti kalo ke sini lagi, saya mau sama dia, Joko menghela nafas kecapaian. Terus waktu dia turun, kami ketemu lagi dan dia bilang kalo Mas Joko ditunggu Mbak Jenny . Saya tanya dimana? Di puncak, katanya sambil nyengir .
>> Mbak, saya ke Ranu Kumbolo, nyari tempat nenda dulu ya? Mistum siap dengan gaya power ranger, kerir 75 ltr Ika di belakang dan kerir 45 ltr Ida di depan.
Kerir saya gimana? goda saya sambil menunjuk kerir 60 ltr tercinta. Mistum cengengesan menatap kerir saya dan melesat dengan kembaran nya, Pak Jari, meninggalkan Kalimati menuju Ranu Kumbolo.
>> Sewaktu menyusuri punggungan menuju puncak tanjakan cinta, Ida berhenti dan meramal, Nanti Mistum pasti bertanya jam berapa aku dari Kalimati, komentarnya pasti kok cepet, tumben. Dia paling seneng ngenyek aku, dasar!
>> Menjelang maghrib, kami menuruni tanjakan cinta. Jen, sepertinya Mistum telah mendirikan tenda kita, Ida menunjuk ke deretan tenda di tepi danau.
Mistuummm! teriak Ida. Mistum menuju ke arah kami dan memandu saya yang kena rabun senja. Kami berdiri terharu, menatap tenda yang telah terpancang dengan manis, berhadapan dengan pertemuan punggungan bukit di seberang danau. Semua logistik ditata rapi di dalam tenda dan 2 jeriken air terisi penuh.
Kamu memang Oke! saya mengacungkan ibu jari kepada Mistum. Mbak Ida dari Kalimati jam berapa? tanya Mistum tanpa basa basi. Ha ha ha saya ga dapat nahan geli. Jam 3, kenapa? Mau bilang, tumben kok cepet! balas
Ida.
Ngga, Mbak Ida, saya …
Mo ngenyek aku? Seneng ya potong Ida.
Saya . Mbak, saya main dulu ya.
Kamu memang seneng nangga. Makan di sini, jangan minta makan tenda lain!
Iya, Mbak Ida Mistum ngeloyor nangga. Ida dan saya berpandangan, tertawa bareng.
>> Mbak, Mistum ada di sana lho, goda Pak Jari ketika melewati tenda kami.
>> Mistuummm, makan! teriak Ida seperti biasa, diikuti teriakan beberapa tenda di sekeliling kami, memanggil Mistum. Wah, ngetop deh porter kami. Sepanjang makan dia berceloteh tentang tidur di Cemoro Kandang dengan Pak Jari dibuai angin sepoi- sepoi. Tentang karibnya, Mohammad Jordan yang juga porter dan biasa dipanggil Sogan.
>> Mistum, jangan ribut-ribut ya, saya mau tidur,
pesan Ida, setelah selesai makan malam. Iyaaaa Mbak Ida, saya juga mau tidur aaah. balas Mistum meninggalkan tenda kami.
Mbak Ida , Mistum memanggil dari tendanya, Jangan teriak-teriak manggil saya, ya. Saya mau tidur, ngantuk . Busyet, dia mbales! Ida dan saya cekikikan.
>> Mbak sekolah di universitas ya? Mistum mengawali cerita sambil berjalan meninggalkan Ranu Kumbolo menuju Ranupane. Saya mengangguk. Saya Cuma lulus SD. Tadinya pengen ke SMP di Tumpang, tapi sama bapak diajari tani kentang dan bawang prei (daun bawang), tetap dengan wajah berseri diganduli kerir Ika di belakang dan kerir Ida di depan. Saya ingin sekali lanjut SMP, tapi di Ranupane cuma ada satu sekolah SD. Ah, alangkah jauuuuh, kesenjangan itu
>> Seneng ya, kalau ada yang ngajari bahasa Inggris, bisa bicara dengan bule seperti mbak. Mistum mengingatkan saat berangkat 5 hari yang lalu, sempat berpapasan dengan bule dan kami sempat saling menyapa singkat.
>> Wah, pernah naik ke Gn.Arjuna ya? Saya lewat Batu, Malang. Sabtu nanti (lusa) saya dan teman-teman (petani kentang lainnya) mau naik ke sana, ikut? menawari saya. Kami mendaki sambil menunggu saat panen. Nanti turun gunung, kami tinggal panen kentang, ga perlu nunggu lagi. Mistum dan saya bertukar cerita jalur
pendakian Arjuna, jalur Batu dengan jalur Tambakwatu serta jalur Semeru. Rupanya Mistum dan teman-temannya sering menghabiskan waktu menunggu panen dengan mendaki Semeru dari berbagai jalur, mendaki Arjuna, atau mengunjungi tempat wisata lainnya.
>> Melewati lahan pertanian, Mistum akrab berbalas teriak dengan para petani dan sempat ngerumpi beberapa saat. Ngetop juga dia . Mbak, itu tuh! Mistum menunjuk beberapa petani kecil berusia belasan di tengah lahan. Bapak mengajari saya tani waktu sebesar mereka ..
>> Di Posko Ranupane, Mistum menyerahkan bungkusan sampah dan pamit sebentar. Tak lama kemudian. Ini tanaman untuk ibu Mbak Ida,
Mistum membawakan serumpun vegetasi khas Ranupane dari halaman rumahnya, sekitar 500 m dari Posko. Ida memberi kenang-kenangan tas pinggang kamera dan saya menghibahkan senter dengan tali leher, diiringi tatapan Mistum yang berbinar-binar. Pak John juga mau ke sini, katanya Nanti saya titipkan foto-fotomu ke Pak John, ya, saya mengucapkan salam perpisahan.
>> Mistum melambaikan tangan di antara kepulan debu jeep yang kami tumpangi ketika lewat di depan rumahnya. Lambaian tangan dan senyum konyolnya tak lepas sampai jeep kami menghilang di kelokan. Salam buat Arjuna, Mistuuummmm ..sampai jumpa panen kentang berikutnya, porter konyol yang baik hati
Semeru dalam kenangan,15-19 November 2004
jenny
admin is
Email this author | All posts by admin



