One-Stop-Service

Custom Search

By Santoso • Dec 2nd, 2004 • Category: Romantika


Agustus 1993 saya ke Lombok. Tujuan utamanya ke UNRAM, menanyakan syarat-syarat menjadi dosen sekalian site visit. Selain site visit mencitrakan tingkat keseriusan, kesempatan melancong pun sayang bila dilewatkan. Apalagi di waktu yang sama kawan sekos di Yogya yang asli Selong, Lombok Timur, lagi mudik. Kampung teman merupakan basis Nahdlatul Wathan. Bila di Jawa pemuka pesantren disebut Kiai, di sana disebut Tuan Guru. Letak kampung kira-kira 2km di tepi jalan sebelum Labuhan Haji. Suasananya mirip Jawa awal 70-an. Pertunjukkan layar tancap selalu ditunggu masyarakat yang haus hiburan.
Tuan rumah saya seorang ‘Lalu’. Kebetulan pula ayahnya kepala desa.
Bisa dimaklumi jika rumahnya ibarat pos. Kenalan dan kerabat datang pergi silih berganti. Suatu sore saya diajak bersantap lengkap gaya Sasak. Sebagai vegetarian, yang dihidangkan sungguh meneteskan air liur. Piring-piring dibagikan dan khusus untuk saya tersedia sendok.
Yang lain lebih nyaman makan dari suapan tangan. Sebagai tamu, saya disilakan lebih dulu. Saya ambil sekedarnya, baik nasi, sayur, maupun lauk. Saya pikir mudah saja bila ingin nambah nantinya. Tentu saja sekalian basa-basi.




Agustus 1993 saya ke Lombok. Tujuan utamanya ke UNRAM, menanyakan syarat-syarat menjadi dosen sekalian site visit. Selain site visit mencitrakan tingkat keseriusan, kesempatan melancong pun sayang bila dilewatkan. Apalagi di waktu yang sama kawan sekos di Yogya yang asli Selong, Lombok Timur, lagi mudik. Kampung teman merupakan basis Nahdlatul Wathan. Bila di Jawa pemuka pesantren disebut Kiai, di sana disebut Tuan Guru. Letak kampung kira-kira 2km di tepi jalan sebelum Labuhan Haji. Suasananya mirip Jawa awal 70-an. Pertunjukkan layar tancap selalu ditunggu masyarakat yang haus hiburan.
Tuan rumah saya seorang ‘Lalu’. Kebetulan pula ayahnya kepala desa.
Bisa dimaklumi jika rumahnya ibarat pos. Kenalan dan kerabat datang pergi silih berganti. Suatu sore saya diajak bersantap lengkap gaya Sasak. Sebagai vegetarian, yang dihidangkan sungguh meneteskan air liur. Piring-piring dibagikan dan khusus untuk saya tersedia sendok.
Yang lain lebih nyaman makan dari suapan tangan. Sebagai tamu, saya disilakan lebih dulu. Saya ambil sekedarnya, baik nasi, sayur, maupun lauk. Saya pikir mudah saja bila ingin nambah nantinya. Tentu saja sekalian basa-basi.
‘Putaran pertama’ hampir tandas dan ramai-ramai saling menyilakan nambah. Terus terang ransum yang saya ambil terlalu sedikit namun untuk nambah perlu ada yang memulai. Setelah mereka ramai-ramai memberi contoh, niat saya justru surut. Apa pasal? Yang makan dengan tangan nambahnya pun dengan tangan. Tangan yang sudah berkali-kali masuk mulut itu, tanpa dicuci lebih dulu, mendarat di periuk nasi kemudian mengobok-obok mangkuk sayur! Yang paling seru saat menyerbu sambal.
Tangan menggaruk hingga permukaan cobek batu! Tak perduli liur berbaur, nampaknya disitulah kenikmatan plusnya!
Dari kejadian itu saya belajar. Di acara makan berikutnya saya tak sungkan lagi. Sebagai pengambil pertama saya melakukan one-stop-service. Selagi masih hangat dan ’suci hama’ ambil sekalian yang kira-kira muat untuk ukuran perut.
*****
Santoso

Tagged as: ,

Santoso is
Email this author | All posts by Santoso

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

Copyright ©2004-2008 Indonesia Backpacker Community All rights reserved. All articles and Images may not be reproduced in any form without the express written permission of the copyright holder | All Information contained on this site may not be used for commercial purposes,
for more information please Contact
admin At indobackpacker.com | Powered by the WordPress

Creative Commons License
Except where otherwise noted content on this site is licensed under a
Creative Commons Licence.