Taman Nasional Ujung Kulon
By admin • Dec 16th, 2004 • Category: Taman Nasional / National Park
di tulis oleh : DESI NUHA
Kalau ingin merasakan perjalanan yang cukup lengkap, Ujung Kulon lah tempatnya. Laut, pantai, muara, sungai, rawa dengan hutan mangrovenya, sampai bukit dan gunung dengan hutan tropisnya bisa anda rasakan di sini. Belum lagi pemandangannya yang sangat indah, membuat ingin balik lagi mengunjungi tempat ini.
Banyak hal bisa dilakukan di sini. Trekking, memancing, dan menyelam. Bagi yang mempunyai hobi memotret, banyak obyek menarik yang bisa ditemui.
Ujung Kulon merupakan Taman Nasional dengan luas sekitar 80.000 ha, terletak di ujung barat pulau Jawa. Kawasan yang termasuk TNUK ini adalah pulau Panaitan, pulau Handeleum, pulau Peucang, dan sampai gunung Honje.
Bisa dikatakan maskot taman nasional ini adalah Badak Jawa yang bercula satu. Populasinya saat ini terus menyusut dan sudah terancam punah. Sehingga hewan ini termasuk hewan yang dilindungi.
Menuju ke TNUK
Untuk menuju ke Ujung Kulon adalah melewati Serang dan kemudian Labuan, dari Labuan kemudian Sumur dan Taman Jaya. Kondisi jalan rusak (belum beraspal) mulai dari Sumur. Jika hujan maka akan sangat becek.
Bila menggunakan angkutan umum, perjalanan diawali dari terminal Kalideres menuju terminal Labuan dengan menggunakan bis selama 4-5 jam. Kemudian dilanjutkan ke Sumur dengan angkutan kota selama 3 jam, baru kemudian ke Taman Jaya dengan ojek selama 1 jam. Bisa juga dari Labuan langsung ke Taman Jaya dengan menyewa mobil.
Sedangkan pulangnya, bisa menggunakan jalan darat dengan melewati kembali daerah-daerah yang telah dilewati, atau dengan melalui perjalanan laut.
Atau bisa juga pulang dan pergi dengan menggunakan kapal. Itu semua tergantung maunya pengunjung.
Perjalanan laut bisa dengan menyewa kapal dari pulau Peucang atau pulau Handeleum sampai Taman Jaya, atau Sumur, atau Panimbang, atau Labuan. Biayanya tergantung jenis kapal dan jarak.
Perijinan
Ijin memasuki taman nasional bisa dilakukan di kantor PHPA Labuan atau PHPA Sumur. Di Labuan pengunjung bisa sekalian menyewa kapal untuk mengantar atau menjemput.
Pengunjung juga diharuskan membawa guide yang sekaligus merangkap porter. Namun tidak semua porter di sana tahu betul medan Ujung Kulon.
Guide/porter di TNUK ini terkoordinir, maksudnya mereka mendapat jatah yang sama untuk menemani tamu. Namun pengunjung dapat meminta guide/porter yang dikehendaki. Mereka sangat bertanggung jawab terhadap keselamatan tamu dan kelestarian taman nasional.
Rute Perjalanan
Rute yang akan saya tulis ini adalah perjalanan dari selatan menuju ke utara Ujung Kulon.
Awal perjalanan adalah Taman Jaya menuju ke Karang Ranjang dengan waktu tempuh sekitar 4 jam. Biasanya di Karang Ranjang pengunjung akan menginap karena ada rumah penjagaan, sumur dan kamar mandi. Kondisi perjalanan adalah jalan datar dan hutan bakau. Di musim kemarau, tidak ada masalah, tapi saat musim hujan keadaannya berawa sehingga sangat sulit menjalaninya. Saat melewati muara sungai, pengunjung dapat melalui jembatan kecil.
Setelah itu perjalanan dilanjutkan menuju Cibandaweuh. Di sini ada shelter dan sungai kecil, namun di musim kemarau sungainya kering, yang ada hanya kubangan air.
Setelah itu menuju ke Cibunar melewati Cikeusik dan Citadahan. Kondisi perjalanan melewati pantai dengan pasir yang sangat halus. Ada 3 muara sungai, dan pengunjung dianjurkan berhati-hati karena ada buaya muara di muara bagian dalam tapi seringkali buaya ini muncul ke luar. Sedangkan kondisi di Citadahan adalah padang pengembalaan yang bersemak perdu. Sesekali ada banteng. Lama perjalanan dari Cibandaweuh menuju Cibunar adalah sekitar 6 jam.
Di Cibunar ada pos penjagaan dan shelter. Ada sungai yang jernih airnya di sini sehingga bisa puas membersihkan diri dan mengambil air untuk memasak. Namun guide/porter sering memperingati agar hati2 bila berenang di sungai ini karena kabarnya ada buaya di bagian dalamnya.
Dari Cibunar perjalanan dilanjutkan menuju Sanghyang Sirah dengan melewati gunung Payung (480m). Sebelum mencapai puncaknya tidak ada sungai, namun 15 menit setelah puncak ada sungai dan airnya sangat jernih. Saat musim hujan banyak pacet. Tanjakan dan turunannya cukup terjal dan curam. Lama perjalanan sekitar 8 jam.
Di Sanghyang Sirah ada rumah kecil untuk penjaga gua. Sering ada peziarah yang mengunjungi gua ini namun mereka tidak melewati jalur normal, mungkin mereka memang diharuskan melewati jalur mereka sendiri. Juga sering ada pencuri sarang burung walet. Di Sanghyang Sirah ada sungai yang jernih airnya, dan pada musim kemarau pengunjung bisa menikmati udang sungai. Pantai di Sanghyang Sirah berkarang.
Dari Sanghyang Sirah, kemudian dilanjutkan ke Ciramea (sekitar 8 jam) melewati Kelapa Bereum dan terus ke Cibom (sekitar 45 menit).
Sanghyang Sirah – Ciramea melewati pantai berkarang dan naik turun bukit. Di sini pengunjung harus berhati-hati karena jalur tidak jelas sehingga bisa salah jalan. Di sepanjang pantai ada tamikil (hewan laut yang seperti lintah) yang bisa dimakan dan ternyata harganya bisa mahal, namum hewan ini termasuk hewan yang dilindungi. Sering kali penyu bertelur di daerah Ciramea, namun telur penyu itu sering dimakan oleh macan kumbang.
Sedangkan Ciramea – Cibom (sekitar 2,5 km), perjalanan hanya memakan waktu sekitar 45 menit. Keadaan medan adalah jalanan datar dan melewati beberapa sungai, namun di musim kemarau sungai-sungai itu kering.
Di Cibom ada shelter yang cukup besar dan lautnya tenang karena mulai memasuki laut utara. Dari Cibom, anda bisa berkunjung ke Tanjung Layar karena jaraknya hanya 15 menit perjalanan. Di Tanjung Layar ada mercu suar.
Dari Cibom perjalanan dilanjutkan menuju Cidaun sekitar 2.5 jam. Jalanannya datar dan melewati hutan bakau dan 2 muara sungai, namun anda harus berhati-hati karena di muara sungai ini ada buaya muara.
Di Cidaun ada padang pengembalaan dan menara pengintainya namun menara pengintai ini sudah lama rusak. Hewan yang ada yaitu banteng, rusa, kancil, macan kumbang, burung merak, dan ayam hutan. Di Cidaun pengunjung tidak boleh bermalam atau menyalakan api, bahkan jika ketahuan mengambil buah kelapa maka akan dikenakan denda.
Pulau Peucang terletak di seberang Cibom dan Cidaun. Di Cidaun ada tiang bendera yang berguna untuk memberi tanda pada petugas di P Peucang bahwa kita ingin pergi ke sana dan dijemput dengan motor boat. Namun bisa juga pengunjung yang telah mencharter kapal dapat pergi dengan kapal itu. Biasanya saya telah menyewa kapal dan meminta agar saya dijemput di Cibom.
Di P Peucang terdapat taman laut yaitu Karang Copong, namun pengunjung yang akan pergi kesana akan dikenakan biaya. Bagi yang ingin bermalam, disediakan cottage dan restaurant. Saya sendiri lebih suka menginap di pos PHPA.
Hewan yang terdapat di P Peucang adalah rusa, biawak, dan monyet abu-abu. Monyet-monyet ini sering mengambil makanan atau barang terutama yang dibungkus plastik. Jadi, berhati-hatilah terhadap barang bawaan anda.
Bagian utara taman nasional berbeda keadaannya dengan bagian selatan. Pada musim hujan akan cukup susah melewatinya. Jarang ada pengunjung yang melewati jalur utara ini. Pada musim kemarau air yang ada rasanya kurang enak karena payau atau kondisinya yaitu air karang. Sungai-sungainya pun banyak yang kering.
Di bagian utara anda akan melewati : Telanca – Sungai Citerjun – Panalayan - Nyawaan – Nyiur – Jamang – Citelang – Cikarang – Sungai Citengah - Cigenter – dan kemudian menyeberang ke Pulau Handeleum.
Waktu tempuh : Telanca – Sungai Citerjun (30 menit). Sungai Citerjun – Panalayan (3,5jam). Panalayan – Nyawaan (1jam). Nyawaan – Nyiur (1,5 jam dengan jarak 7 km). Nyiur – Jamang (1,5 jam dengan jarak 7 km). Jamang – Citelang (45 menit). Citelang – Cikarang (1,5 jam). Cikarang – Sungai Citengah (1,5 jam). Citengah – Cigenter (2 jam).
Anjuran tempat menginap adalah Nyawaan, Jamang, Citelang, dan Cigenter.
Di Nyawaan ada pos penjagaan tapi jarang ada penjaga, dan ada camping ground. Di Nyiur ada padang pengembalaan tapi menara pengintainya sudah rusak. Di Jamang ada bekas pos penjagaan dan menara pengintai. Pos itu dipindahkan ke Citelang. Di Citelang ada pos penjagaan dan ada petugasnya, serta ada camping ground. Di Cikarang ada gubuk kecil, saya tidak tahu untuk apa dan siapa gubuk itu. Juga, ada muara sungai dimana saat musim hujan sungainya cukup dalam tapi saat musim kemarau sungai itu kering. Di Cigenter ada menara pengintai. Menurut petugas Badak Jawa bercula satu sering terlihat di Sungai Cigenter apalagi saat kemarau. Pengunjung bisa menyusuri Sungai Cigenter dengan perahu kecil yang ada disana.
Pulau Handeleum tidak serapi di Pulau Peucang tapi justru membuat keadaan sekitar terlihat alami. Pantainya berkarang. Hewan yang ada sama dengan hewan yang ada di Pulau Peucang namun monyet-monyetnya tidak sejail di Pulau Peucang. Menurit petugas, rusa-rusa di Pulau Handeleum pernah beberapa kali menyeberang ke Cigenter. Bagi pengunjung disewakan kamar penginapan.
Anjuran-Anjuran Lain
Kepercayaan penduduk terhadap hal-hal gaib masih sangat kental. Sebelum memasuki kawasan pengunjung akan diberitahukan mengenai hal-hal yang dilarang untuk dilakukan. Walaupun terdengar agak aneh namun sebaiknya kita ikuti saja, tidak ada salahnya menghormati adat setempat.
Beberapa kali dilaporkan adanya perampokan terhadap pengunjung (terutama turis mancanegara) di Cibandaweuh, dan saya beberapa kali bertemu dengan pemburu binatang dan pencari lobster. Namun guide/porter akan menjaga tamunya dan hal-hal ini sangat jarang terjadi.
Ujung Kulon masih merupakan daerah kantung malaria. Pengunjung diharapkan meminum obat anti malaria sebelum, saat, dan sesudah memasuki daerah ini. Nyamuk-nyamuk di sana rasa-rasanya tidak mempan terhadap obat nyamuk yang dioleskan ke kulit.
Selamat mengunjungi Taman Nasional Ujung Kulon. Sekali anda ke sana, pasti akan ingin kembali mengunjunginya.
admin is
Email this author | All posts by admin



