A Borneo Journal

Custom Search

By Puguh • Jan 23rd, 2005 • Category: Petualangan
Bookmark and Share

Jam satu dini hari, saya masukkan kembali buku “River of Gemâ” kedalam rak. Satu salinan halaman terakhir yang berisi peta sederhana perjalanan sang pengarang saya selipkan dalam ransel kecil, agar dapat mudah dibuka dan dibincangkan dengan teman seperjalanan.

2 Februari 2001
Kami menikmati matahari terbit diatas bus menuju ke Samarinda.  Long boat yang akan membawa kami ke Long Bagun sebetulnya berangkat dari Samarinda juga. Namun mereka meninggalkan dermaga pukul 7.30 pagi, sedangkan bis pertama yang meninggalkan Balikpapan

Jam satu dini hari, saya masukkan kembali buku “River of Gem┝ kedalam rak. Satu salinan halaman terakhir yang berisi peta sederhana perjalanan sang pengarang saya selipkan dalam ransel kecil, agar dapat mudah dibuka dan dibincangkan dengan teman seperjalanan.

2 Februari 2001
Kami menikmati matahari terbit diatas bus menuju ke Samarinda. Long boat yang akan membawa kami ke Long Bagun sebetulnya berangkat dari Samarinda juga. Namun mereka meninggalkan dermaga pukul 7.30 pagi, sedangkan bis pertama yang meninggalkan Balikpapan menuju Samarinda adalah pukul 6 pagi. Ditambah perjalanan Balikpapan “ Samarinda sekitar dua jam, maka walaupun kami berangkat dari Balikpapan menggunakan bis pertama, maka tidak mungkin naik long boat dari Samarinda. Karena itu kami berencana bergabung perjalanan air mulai di Kota Bangun.

Bis berukuran besar berganti dengan bus sedang. Perjalanan menuju Kota Bangun dilahap dalam tiga jam, didalam bus yang dimuat dengan optimal. Gang tempat jalan penumpang keluar masuk juga sudah penuh dengan bangku plastik tambahan. Kota bangun adalah kota sepanjang kurang dari satu kilometer ditepi Sungai Mahakam. Kurang lebih delapan rumah makan ikan dan ayam bakar, serta beberapa “River View Lodgingâ”.
Pukul dua belas siang, waktu yang baik untuk makan siang. Biasanya, Long Boat menuju Long Bagun akan mampir di dermaga Kota Bangun pada pukul empat sore hari. Jadi kami punya cukup waktu untuk melihat-melihat isi Kota Bangun. Selesai makan, kami menunggu datangnya long boat di ruang tunggu berupa bangunan kayu diatas sungai, beratap tanpa dinding. Disitu kami harus menghabiskan waktu. Kami bertemu dengan beberapa calon teman seperjalanan.

Pak Asen Pekerja kayu asal Pontianak, ditugaskan oleh perusahaannya untuk menjalankan log-pond, istilah untuk tempat penampungan kayu gelondongan di Karangan Seratus, empat jam berlayar dari Long Iram.  Dari beliau kami banyak mendapat informasi keadaan hulu dan bagaimana sebuah Camp penebangan kayu dijalankan. Pabrik kayu lapis tempat ia bekerja berada di Selat Panjang, pantai timur Sumatera. Kayu yang ia tebang akan dinaikkan ke Pontoon dan ditarik oleh kapal tunda sampai ke Selat Panjang.

Pak Asen percaya, bahwa hutan kalimantan tidak akan ada habisnya walau ditebang, selama setelah penebangan lahan bekas hutan tidak dibakar. Menurut pengalamannya, lahan bekas hutan yang ditebang akan kembali rimbun dengan kayu yang ekonomis setelah ditinggal sekitar sepuluh tahunan. Kuncinya adalah jangan dibakar, karena akan mematikan bibit pohon kayu yang ekonomis. Itu menurut pendapatnya. Mungkin dia harus bertemu Bjorn Lomborg,penulis buku “The Skeptical Environmentalistâ”.
Pedagang asongan di sekitar dermaga, yang berjualan khusus untuk menyambut datangnya long boat, banyak berkomentar tentang besarnya debit dan ketinggian air sungai hari itu. Menurut mereka, dengan ketinggian seperti ini, Mahakam digolongkan dalam keadaan banjir. Arus jadi lebih kuat dan long boat butuh waktu lebih lama untuk mencapai tujuannya. Benar saja, pukul empat mendekati pukul lima, long boat jurusan Long Bagun belum menampakkan haluannya. Waktu matahari sudah hampir disembunyikan cakrawala, Kapal Motor Noor Fitri 2 muncul di belokan sungai.

Kapal sepanjang 25 meter dengan lebar sekitar empat meter, tampak gagah membelah Sungai Mahakam. Kapal berlantai dua, lantai bawah tanpa dinding dan dilantai dua berdinding yang ditempeli tempat tidur untuk 53 orang. Beban yang ditanggungnya membuat ia hanya menyisakan jarak dari batas kapal terendah tiga puluh senti dengan permukaan air. Di bagian belakang lantai pertamanya, disediakan warung untuk makan bagi penumpang kapal. Dan dua ruang khusus ukuran satu meter persegi dengan lubang di tengah lantainya sebagai kakus.

Entah bagaimana warga sekitar Mahakam menamai kapal ini dengan kata bahasa inggris. Kapal dengan panjang 25 meter sampai dengan ukuran panjang sepuluh meter mereka masih menyebutnya Long Boat. Lebih kecil dari itu biasa disebut Ces atau Ketinting. Dua yang terakhir ini biasanya ditenagai oleh motor tempel satu silinder.
Semua calon penumpang, pedagang asongan berebut untuk naik ke kapal. Atas saran Pak Asen, satu dari kami harus bergegas ke lantai dua, untuk berebut tempat tidur. Yang disebut tempat tidur adalah ruang selebar dan sepanjang badan, dilengkapi dengan kasur busa tipis yang entah kapan terakhir kali dicuci.
Karena banyak dari penumpang yang sudah memesan tempat sehari sebelumnya, kami hanya mendapat dua tempat tidur. Satu untuk pak Asen, dan kami bertiga malam ini harus berbagi satu tempat tidur. Untungnya didepan lantai dua ada sepotong teras. Dua dari kami tidur di teras, ditemani lampu sorot kapal yang selalu menyorot kekiri dan kekanan untuk memastikan posisi kapal terhadap pinggiran sungai. Serangga malam tertarik oleh sinar lampu sorot membuat tidur di teras ini tidak terlalu nyaman. Kecelakaan Long Boat beberapa bulan yang lalu dan arus sungai yang sedang mengamuk tampaknya membuat sang nahkoda ekstra hati-hati.

Melak, yang pada kondisi sungai normal dicapai pada pukul dua dini hari, ternyata baru bisa dicapai pada pukul enam pagi. Hampir sepertiga dari penghuni “barak” lantai dua turun di Melak dan meninggalkan kami dengan tempat tidur yang kosong. Paling tidak pagi ini kami menebus tidur tadi malam yang tidak sempurna.

3 Februari 2001
Mahakam masih mengumbar keperkasaannya. Mesin diesel konfigurasi V sepuluh silinder meraung keras, namun kemajuan yang kita capai tidak banyak. Melewati kumpulan pemukiman di pinggir sungai. Mereka membangun rumah di tepi sungai. Atau mereka membuat rakit diatas kayu gelondongan, diapungkan disungai dan ditambatkan ke pinggir sungai. Dengan model seperti ini, rumah mereka lebih leluasa menerima perubahan tinggi muka air Sungai Mahakam.
Rumah permanen yang dibangun tidak terlalu tinggi halamannya terpaksa harus menerima kedasyatan Mahakam. Beberapa kali kami melewati penampungan kayu gelondongan. Lengkap dengan fasilitas pendukung kehidupan.

Keluarga Berlin Gani
Ibu Hasung yang sedang hamil tujuh bulan dan dua orang anak laki-lakinya adalah korban kecelakaan pesawat perintis Britten Norman milik DAS bulan November lalu. Untungnya seluruh isi pesawat selamat, hanya saja anggota keluarga ini harus mengalami cidera di kepala. Pak Berlin Gani, seorang pengumpul barang kerajinan dari pedalaman Kalimantan, terpaksa pulang dari perjalanan mengantar barang kerajinan ke Denpasar untuk mengurus keluarganya. Sekarang mereka dalam perjalanan pulang rumah di Long Lunuk, tempat dimana airport Datah Dawai berada.
Menurut cerita Pak Berlin, pasar kerajinan di Denpasar punya apresiasi yang baik terhadap barang-barang kerajinan dayak. Turis asing mengerti betul macam kayu, motif, dan ukiran dari mana sebuah kerajinan dayak berasal. Pukul 14.00 merapat di Long Iram. Kapal membongkar muatan semen. Karena banjir, pembongkaran barang membutuhkan usaha lebih. Kuli angkut harus berjalan di balok memanjang diatas banjir.

Pukul 18.30 merapat di Datah Bilang. Cukup mengagetkan, bahwa toko-toko yang dibangun diatas rakit menjual peralatan elektronik mulai televisi, kulkas, dan mesin cuci. Bahkan tersedia penyewaan pakaian pengantin ala barat. Saat melaju melalui pemukiman, atau saat berpapasan dengan ketinting, Noor Fitri 2 selalu mengurangi kecepatan. Karena ombak yang dibuat dapat membalikkan perahu ces atau rumah rakit jadi berantakan.

Pimpinan tertinggi di Long Boat ini tampaknya seorang pria yang dipanggil Pak Haji. Salah satu anaknya berdagang peralatan elektronik di Data Bilang. Dilihat dari poster yang ditempel di dalam kapalnya, Sang Nahkoda ini adalah warga Nahdatul Ulama.
Malam mulai menjelang. Kapal berjalan pelan-pelan, lebih pelan dari malam kemarin. Malam ini masing-masing kami mendapat jatah tempat tidur.

4 Februari 2001
Bangun pagi, ternyata Long Boat kami sedang tambat di desa Rukun Damai. Malam tadi sekitar pukul 1.00 pagi, Nahkoda memutuskan untuk menghentikan pelayaran karena kabut merebak.

Perjalanan dilanjutkan. Lebar sungai masih belum banyak berubah. Tanaman darat masih tidak terlihat batangnya, hanya daunnya tampak dipermukaan sungai, tanda banjir masih tinggi.
Pak Asen turun di Log Pond yang dikelolanya. Koleganya menyambut dengan lambaian tangan. Tampaknya dia datang dengan membawa suku cadang peralatan yang sudah lama ditunggu. Kami sendiri tidak sempat melambaikan tangan tanda terima kasih, karena Pak Asen langsung tenggelam diantara teman-temannya.
Pukul 12.00 kami melewati batu dinding. Dua anak laki-laki Keluarga Berlin bersorak-sorak gembira. Menurut mereka ini tanda bahwa Long Bagun sudah dekat. Batu Dinding adalah tebing batu kapur dengan ketinggian mencapai 75 meter. Berdiri tepat ditepi sungai. Di teras pada ketinggian sekitar lima puluh meter, terlihat gubuk tua yang dijadikan kuburan oleh orang dayak tua.

Dipinggir sungai, batang tanaman darat mulai kelihatan lagi, tanda banjir mulai surut. Kami berhenti di Long Malaham. Salah satu pedangan bahan makanan yang ikut di kapal kami membawa mulai membuka kotak styrofoam dan menjual ikan mas dan ayam potong kepada ibu-ibu yang menunggu di pinggir sungai sepanjang Long Malaham. Sayang, bahwa ikan yang dibawa dalam peti es dari Samarinda adalah ikan air tawar dan ayam potong. Komoditas yang seharusnya dapat mereka budidayakan sendiri di lingkungannya. Pukul 13.00 tampak kumpulan rumah dipinggir sungai dan rumah rakit, itulah Long Bagun. Tepat di depannya terlihat aktivitas sebuah log pond.

Ibu Bulan Igoy
Merapat di Long Bagun ilir, yang ternyata sekumpulan dengan Long Bagun. Kami langsung mencari rumah Ibu Bulan Igoy, untuk menyampaikan titipan dari Ibu Dinah Sayogyo. Rumah Ibu Bulan Igoy tepat didepan Lamin Adat Long Bagun Ilir. Pada saat itu tampaknya sedang diadakan rapat adat sebagai penutup tahun. Seluruh mata memandang kearah kami.
Kami berbicara dengan Ibu Bulan Igoy dengan ditemani salah satu anaknya. Seorang dari enam anaknya menikah dengan pria perancis dan sekarang tinggal di Paris.

Warga Long Bagun pernah terkenal sebagai penganyam rotan yang berkualitas. Namun sejak langkanya rotan di sekitar Long Bagun, mereka harus membawa naik rotan dari Samarinda untuk di anyam, kemudian mengirimkan kembali turun ke Hilir. Ini membuat mereka enggan untuk menganyam di desanya. Kalaupun ingin menganyam, mereka memilih untuk berdomisili di Samarinda, seperti salah seorang anak Ibu Bulan Igoy.

Penduduk dayak yang kini bermukim di Long Bagun awal tinggal di desa di atas riam Mahakam. Karena alasan kemudahan untuk turun ke Samarinda mereka pindah ke Tiong Ohang. Dari situ beberapa ada yang memilih untuk bermukim di Long Bagun, yang dapat demgan mudah dicapai dari Samarinda tanpa harus melalui riam.
Kami berjalan disepanjang desa Long Bagun untuk mencari dermaga taksi air tujuan Long Lunuk. Melewati Pasar Long Bagun yang terdiri tidak lebih dari lima puluh kios. Tapi pada saat sesiang itu sudah tidak ada taksi air yang berangkat ke Long lunuk. Menurut keterangan di dermaga depan pasar, taksi air ke Long Lunuk biasanya berangkat pukul tujuh pagi. Berarti kami harus bermalam di Long Bagun.

Kami memutuskan untuk menginap di penginapan Pak Usman. Sebuah kamar dengan kapasitas enam kasur yang digelar di lantai, itulah kamar kami. Kami harus tidur sekamar dengan para pekerja yang hendak melakukan survey jalan ke Long Boh. Untuk mandi, tersedia kamar mandi yang maha besar, Sungai Mahakam. Kebalikan dari rumah Ibu Bulan Igoy yang terletak di depan Lamin Adat Long Bagun Ilir, penginapan Pak Usman terletak persis didepan Lamin Adat Long Bagun Ulu.

Bukti kehebatan kerajinan anyaman dari Long Bagun kami temukan didinding dan dilantai penginapan. Hiasan dindingnya adalah anyaman bermotif dayak yang dianyam dengan rapat, dan jarak antara anyaman yang hampir seragam. Lantai penginapan kami juga bercerita bagaimana memilih rotan tua dan lurus untuk dibelah dan dijalinkan menjadi lampit yang baik. Lampit yang dibuat dengan rotan pilihan dapat bertahan sampai beberapa generasi dan menjadi semacam barang turun-menurun. Sayangnya, dengan maraknya barang hasil industri dan tingginya pendapatan dari sektor lain seperti bekerja di log pond, maka pekerjaan mengayam menjadi ditinggalkan.

Long Bagun banyak mempunyai warung yang menjual makanan jadi dan barang-barang konsumsi. Mungkin karena diseberang Desa Long Bagun terdapat logpond besar.
Sebelum turun dari long boat, kami sempat bertemu dengan pedagangan sarung dari Makasar. Seperti kami, ia baru pertama kali datang ke Long Bagun dengan membawa tujuh ratus lembar sarung untuk dijual. Mengingat kebiasaan mandi di sungai yang masih kental, dapat dipastikan ia akan kembali dengan lebih banyak sarung.

5 Februari 2001
Tidur dibawah guyuran hujan memang tidak baik untuk bangun pagi! Jam setengah delapan, di rumah rakit sudah tidak kelihatan lagi long boat ukuran sepuluh meter yang biasanya dipakai melintasi Jeram Udang dan Jeram Panjang menuju Long Lunuk. Pak Berlin Gani juga tampak bangun kesiangan dan sibuk bertanya-tanya kalau masih ada long boat yang belum berangkat kearah hulu.
Di salah satu rumah rakit, masih tertambat Long Boat Sinar Mahakam yang sudah dimuati barang dan ditutup terpal. Tapi Sang Motorist menyatakan masih sanggup untuk membawa kami dan Keluarga Berlin Gani sampai ke Long Lunuk.

Untuk mencapai Long Lunuk, seperti ikan salmon, kami akan menghulu dua buah jeram. Menurut informasi, Jeram Udang adalah yang terberat dan berbahaya. Karena itu di jeram ini, biasanya penumpang diminta berjalan kaki dipinggiran sungai dan beban kapal dikurangi seminim mungkin.
Sinar Mahakam berukuran panjang sepuluh meter dan lebar dua meter. Didorong oleh tiga unit motor tempel yang masing-masing bertenaga 160 tenaga kuda. Untuk perjalanan sampai di Tiong Ohang pulang pergi, kapal ini membawa enam ratus liter bensin yang dibagi dalam tiga drum besar.

Setengah jam lepas dari Long Bagun kami tiba di titik dimana para penumpang harus mulai berjalan disisi sungai. Awak kapal menurunkan setengah dari kargo, yang ternyata terdiri dari beras sekitar satu ton, dan kasur pegas!  Jeram Udang, adalah venturi Sungai Mahakam. Sungai yang sebelumnya berlebar minimal seratus meter, kini harus melewati celah batuan selebar 25 meter saja. Panjang jeram yang harus dilewati mencapai 150 meter.

Dari tempat kami berjalan kaki, dari track di pinggir sungai kami bisa menyaksikan motorist kami berjuang mengarahkan perahu agar tenaga mesin dapat dipakai secara maksimal. Terkadang long boat berada dibawah muka air, mencari arah yang tepat untuk memasuki jeram. Entah apa jadinya, kalau salah satu dari tiga unit mesin itu tiba-tiba mati. Pastinya; tidak ada kesempatan kedua, dan bahkan hanya untuk berbalik arah tidak mungkin dilakukan.

Long Boat kami diawaki oleh empat orang pemuda. Seorang yang disebut motorist memegang kemudi, dua orang dibelakang memastikan semua mesin bekerja, dan seorang lagi duduk dihaluan memberi aba-aba arah yang harus ditempuh. Kerjasama mereka menjadi tumpuan keselamatan kami. Sayangnya tepat sebelum meninggalkan Long Bagun, awak yang bertugas di haluan dengan bangganya mengangkat sebotol Vodka murahan.

Kami berjalan jauh tertinggal oleh Ibu Berlin Gani, yang sedang hamil tujuh bulan. Padahal beliau berjalan tanpa alas kaki. Sesampainya dibagian air yang cukup tenang, kami kembali naik ke atas Long Boat.  Beberapa jeram kami lewati dengan mudah.

Mengingat sulitnya jeram yang kami lalui, kami dibuat terkejut karena ternyata pengumpul kayu setempat menuruni Jeram Udang sambil menaiki rakit kayu gelondongan! Kami bertemu dengan beberapa rakit kayu yang dikawal dua buah perahu ces dikiri dan dikanannya.
Sampai di pertigaan Sungai Boh, ada rumah rakit dimana kita berhenti makan siang, mengisi tenaga untuk menghadapi Jeram Panjang. Rumah rakit ini terletak tepat didepan sebuah log pond. Mungkin dari sinilah asal kayu yang dihanyutkan melalui Jeram Udang.
Setengah jam cukup untuk mengisi perut dengan Ikan patin dimasak dengan kuah bening, yang menjadi tumpuan tenaga menghadapi jeram berikut.  Tiga motor tempel kembali meraung.

Jeram Panjang memang panjang. Sepanjang lebih dari satu kilometer terdiri dari beberapa bagian. Saya duduk dan berpegang pada pinggiran kapal, sehingga dapat merasakan bahwa setiap jeram menguji integritas dengan memelintir kapal kami. Tidak terhitung lagi air tumpah kedalam kapal. Terkadang mesin terdengar meraung, tapi saat melihat ke arah pinggir sungai, kami sadar kapal kami hampir tidak bergerak. Tenaga mesin hanya terpakai untuk mempertahankan posisi kapal ditengah arus. Ditengah ketegangan menghadapi jeram, ada dua air terjun besar yang menyumbang air ke Mahakam dan sesaat mengalihkan perhatian kami dari ketegangan yang sesungguhnya.

Terkadang permukaan air yang kami lalui tampak tenang, tapi ternyata kami berada di dalam gelombang. Ini terlihat saat permukaan air didepan kami terlihat lebih rendah atau lebih tinggi dari permukaan air tempat long boat kami berada.

Tinggi beda muka air di jeram-jeram Mahakam memang tidak luar biasa, namun debit dan ketiadaan rencana penyelamatan cukup membuat kami ciut. Ibu Berlin Gani menengok kebelakang, terlihat air matanya mulai terurai, akhirnya motorist berbaik hati untuk berhenti dan sebagian penumpang berjalan kaki dipinggir sungai. Berbeda dengan Jeram Udang yang jalur untuk pejalan kakinya telah dibuat dengan baik, di jeram panjang kami harus berjalan di semak-semak yang jarang terbuka dan melewati batu-batu yang diukir oleh arus sungai. Lepas Jeram Panjang hanya beberapa air beriak (shoal) yang menandakan daerah dangkal yang harus dihindari. Mulai banyak terlihat pulau-pulau ditengah sungai yang terbentuk dari batuan beku di tengah sungai.

How great thou art,
Forest are very wild,
The river do not decrease their width and stream
Who am I?
Just a litle pin without power to change your creation in the middle of borneo
Thank you, Amen

Pukul empat sore kami akhirnya tiba di Long Lunuk. Ongkos Rp 100,000.- per kepala untuk sembilan jam perjalanan menanjak sungai sekarang rasanya lunas sudah.

Ibu Florentina Buring Urey
Kami langsung mencari rumah Ibu Buring. Pemilik penginapan yang direkomendasikan oleh teman semenjak dari Balikpapan. Bangunan didepan rumahnya berfungsi ganda, sebagai toko dan penginapan. Ada tiga kamar yang ia sewakan. Penginapannya memiliki kamar mandi dan kloset jongkok di dalam, dengan sumber air tadah hujan.

Bu Joko
Penginapan Datah Dawai letaknya berseberangan tidak jauh dari Penginapan Ibu Buring. Dikelola oleh keluarga jawa asal Malang. Keluarga ini sampai di Long Lunuk karena Kayu Gaharu. Ibu Joko adalah satu-satunya penjual nasi di Long Lunuk. Selain itu ia juga membuka toko yang menjual bahan makanan, namun beberapa diantaranya telah lewat masa pakai.
Yang menarik dari penginapan Bu Joko adalah, bahwa ia satu-satunya yang mencoba memanfaatkan sumber daya yang ada. Pisang yang berlimpah di hulu ia buat menjadi kripik dan dikemas plastik. Halaman rumahnya ditanami dengan tanaman bumbu dapur seperti cabai dan terong. Berbeda dengan Ibu Buring, yang tampaknya tidak terlalu mengerti saat diminta membuat pisang dan singkong goreng.

Pak Nyuk
Sore hari kami memaksakan diri untuk ketemu dengan Pak Nyuk, petugas Direktorat Perhubungan Udara. Beliau bertanggung jawab atas Bandara Data Dawai dan pemesanan tiket untuk penerbangan ke Samarinda. Istri Pak Nyuk bekerja sebagai guru honorer di SD setempat.
Pak Nyuk menjelaskan bahwa dari delapan seat yang ada di pesawat Britten Norman, dibagi menjadi jatah dua kecamatan, Long Apari dan Uju Bilang. Salah satu dari empat duduk akan diprioritaskan untuk pasien. Kami segera mencatatkan nama kami untuk penerbangan hari Sabtu , 10 Februari.
Long Lunuk setahun sebelumnya adalah basis survey perusahaan penambangan emas, yang salah satunya adalah Bre-X. Kabarnya geolog Filipina yang melompat dari helikopter pernah tinggal di Long Lunuk.

6 Februari 2001
Atas bantuan Pak Nyuk, kami mendapat tumpangan long boat milik Pak Luhat untuk menuju ke Tiong Ohang. Tanpa jalur kenalan ini, kami harus menunggu long boat yang berangkat dari Long Bagun, yang biasanya lewat di Long Lunuk sore hari. Dan harus menunggu berlama-lama di rumah rakit.
Pukul 12.00 berangkat ke Tiong Ohang. Pak Luhat pergi untuk menjual hasil durian kebunnya. Long boat dengan panjang lima meter dan lebar satu meter tidak memberikan banyak ruang untuk bergerak. Setiap gerakan kecil cukup untuk membuat kapal berubah posisi.
Pak Luhat dengan ramahnya menawarkan kami untuk mencoba duren kebunnya. Dua buah durian berpindah ke dalam perut kami.  Setelah dua jam berlayar, akhirnya disebuah belokan sungai kami melihat sebuah jembatan gantung yang membentang sepanajang hampir seratus meter di ketinggian lima belas meter. Itulah Tiong Ohang yang terkenal.

Ledakan bisnis sarang burung membuat desa ini jadi pusat kegiatan yang berhubungan dengan burung walet. Para penjaga gua, tengkulak, pemasok bahan kebutuhan dan mungkin kriminal yang berniat mengacau tinggal di kota ini. Kami berhenti dibawah jembatan. Saat mulai naik ke jalan, mulai terlihat wanita dengan lipstik tebal, sedang berkumpul di rumah sebuah rumah makan.
Entah kenapa aura desa ini begitu berbeda dengan desa-desa sebelumnya. Orang memandang dengan pandangan menyelidik.
Atas saran Pak Nyuk, tempat netral yang kami tuju pertama kali adalah gereja katolik. Rencananya kami akan menemui Pastur Ding yang bertugas, dan meminta pendapat dan sarannya. Kami berencana untuk melanjutkan perjalanan sampai di jeram matahari. Namun Pastur Ding sedang tidak ada di tempat. Daerah pelayanannya yang luas membuat ia harus selalu bergerak. Warga daerah hulu 99% adalah penganut Katolik. Sehingga hampir disetiap desa yang kami kunjungi terdapat gereja yang cukup besar.
Berita tentang suasana desa Tiong Ohang sudah kami dengar semenjak di Long Bagun. Ramainya perdagangan sarang burung, letaknya yang jauh dari pusat pemerintahan, membuat desa ini seperti kota tanpa hukum. Harga barang kebutuhan sudah berlipat lima dibandingkan harga di Samarinda. Sehingga transportasi adalah barang mewah.

Pastur Ding yang semula kami harapkan menjadi kontak pertama ternyata sedang tidak ditempat. Karena letak gereja yang bersebelahan dengan Puskesmas, kami mencoba untuk menghubungi dokter.

Dokter Made
Penugasan wajib bagi lulusan dokter untuk mendapatkan ijin praktek mengirimnya ke Tiong Ohang. Karena di daerah terpencil seperti ini masa penugasan wajibnya mendapat potongan dari tiga menjadi dua tahun. Dokter lulusan UGM ini baru dua bulan mulai tugas.  Seorang dokter lagi yang melayani Kecamatan Long Apari adalah dokter Hadi, yang sudah dua tahun bertugas. Dokter gigi bertugas bergantian di Long Pahangai dan Tiong Ohang. Desa di selatan sungailah Tiong Ohang yang sebenarnya. Tiong Buâ™u yang berada di sisi utara adalah pengembangan sehingga mayoritas dihuni oleh pendatang dari Kalimantan Tengah dan Sulawesi.
Di Tiong Buâ™u, sangat maju dalam hal fasilitas hiburan, beberapa pendatang mendirikan bangunan yang difungsikan sebagai kafe atau karaoke.

Ibu Bulan
Atas saran Dokter Made, kami menginap di penginapan Putra Apari di Tiong Buâ™u. Rumah, toko dan penginapan yang dikelola oleh Ibu Bulan, istri Pak Felix seorang guru di SMP Tiong Ohang.
Sulit untuk membangun kepercayaan dengan warga setempat, terutama dengan mereka yang juga pendatang. Yang kami coba lakukan adalah bicara dengan penduduk asli dan menjelaskan bahwa misi kami benar hanya untuk melihat Hulu Mahakam.

Pendeta Matheus
Sorenya kami berkunjung ke rumah Pendeta Matheus di Tiong Ohang. Dan mendapatkan gambaran lagi mengenai keadaan daerah. Ia sudah bertugas di Tiong Ohang selama beberapa bulan dengan membawa keluarga anak dan menantunya, yang tinggal di sebelah kantor kecamatan.
Darinya kami cukup banyak mendengar mengenai kondisi sosial ekonomi desa Tiong Ohang. Tika dan Joula ikut berdoa sore itu. Dalam hati saya juga turut berdoa, karena perjalanan kami tidak tahu kalau sesuatu diluar rencana terjadi didaerah yang membutuhkan tiga hari perjalanan sungai untuk mencapai peradaban.

Long Boat menuju ke Long Apari biasanya membutuhkan biaya tiga ratus ribu rupiah untuk satu kali jalan. Kondisi di Long Apari jauh berbeda dengan desa sebelumnya, karena menurut mereka Long Apari lebih mirip ladang dari pada sebuah desa. Patut disayangkan bahwa kebutuhan dasar pangan seperti beras, masih harus didatangkan dari Samarinda. Warga tidak terlampau berminat mengelola tanah yang luas di sekitar desa. Mereka berladang menanam padi gogo hanya untuk memenuhi kebutuhan keluarga sendiri selama satu tahun. Jika hasil panennya berlebih, akan mereka jual. Setelah itu, mereka bekerja di sektor lain.
Sebagai gambaran, upah seorang penunggu sarang burung bisa mencapai satu juta rupiah perbulan, dengan semua kebutuhan pokok ditanggung oleh juragan pemilik gua. Seperti biasanya, berjalan di desa-desa Hulu Mahakam membutuhkan ketelitian. Kotoran anjing berserakan dimana-mana. Pernah kami berseloroh, bahwa kalau anjing yang berkeliaran diganti dengan ayam, akan jauh lebih bermanfaat.

7 Februari 2001
Setelah menimbang-nimbang kami putuskan untuk kembali menghulu ke Samarinda. Biaya perjalanan yang terlalu tinggi ke jeram Matahari, menjadi salah satu pertimbangannya. Sebenarnya Tiong Ohang adalah titik awal pemberangkatan bagi mereka yang hendak berjalan kaki menyeberang ke Kalimantan Barat. Tetapi karena waktu tempuh perjalanan yang simpang-siur dan perbekalan yang tidak memadai membuat kami tidak begitu tertarik.  Pilihan lain adalah untuk berjalan kaki sampai ke perbatasan dengan Serawak negara bagian Malaysia. Namun itu semua harus kami kubur mengingat persiapan kami yang minim. Seharian itu kami beristirahat di Penginapan Putra Apari menikmati panasnya udara sejak pagi sampai sore hari.

8 Februari 2001
Ibu Bulan pemilik Penginapan Putra Apari setiap dua minggu mengirim Long Boat miliknya untuk menjemput barang dagangan. Long boat itulah yang membawa kami kembali ke Long Lunuk. Kapalnya tidak dicat serapih Long Boat Herkules yang memang long boat tambang antara Tiong Ohang – Long Bagun. Tapi di long boat milik Ibu Bulan, kami menemui awak kapal yang menarik. Bapak Dayak Bahau, yang sampai akhir perjalanan kami tidak sempat kami tanya namanya, banyak bercerita tentang kisah sarang burung.
Gua sarang burung walet selalu dimiliki oleh warga setempat. Namun dalam perjalanannya, banyak pendatang yang mulai bekerja sebagai penjaga gua. Setelah mengerti benar seluk beluk hutan, mereka mulai memberanikan diri mencari gua-gua baru. Kedatangan mereka ditenggarai tidak hanya mencari gua baru, tetapi juga melakukan pembegalan di jalur yang membawa hasil panen sarang burung. Yang lebih parah adalah kelompok berseragam ninja yang merampas sarang burung siap panen di dalam gua, setelah sebelumnya melumpuhkan penjaga gua. Ini sesuai dengan keterangan dokter Made yang menyatakan bahwa kasus terbanyak di daerahnya adalah luka akibat kekerasan.
Tidak mengherankan sering terdengar di koran-koran Balikpapan mengenai perebutan gua sarang burung yang melibatkan senjata api. Bapak anonim ini sempat mengungkapkan kekesalannya pada kondisi saat ini. Ia mempertanyakan perlukah orang dayak menjalankan tradisi lama mengayau, yang secara teknis memang mereka punya kemampuan ini. Sumpit, mandau dan tombak masih merupakan pegangan mereka sehari-hari. Melihat Batu Mili di sebelah kiri, Bapak ini mulai bercerita tentang legendanya. Cerita yang keluar dari mulutnya yang mengulum sirih terkadang hilang ditelan suara mesin dan angin.

Dahulu Batu Mili adalah pohon yang menjulang ke khayangan. Tapi karena sering turun anjing dari khayangan yang mecuri beras milik penduduk, seorang satria dayak menebangnya, tinggallah pangkal pohon yang sekarang berdiri sebagai Batu Mili. Batang pohon yang jatuh menjadi Batu Dinding yang kami temui sebelum mencapai Long Bagun, membendung Mahakam. Dari situlah juga mereka belajar menangkap ikan dengan jala. Menarik bahwa orang dayak awalnya adalah penganut animisme, namun sepanjang jalan baru kali ini kami menemukan ceritera mengenai suatu fenomena alam. Satu jam kami telah tiba kembali di Long Lunuk, setengah dari lama waktu perjalanan naik. Kami berpisah di rumah rakit depan lamin adat yang belum jadi.

Sekali lagi, kami mengucapkan selamat sore kepada Ibu Buring.

9 Februari 2001
Hari ini adalah hari pesawat terbang. Biasanya pesawat akan tiba di Bandar Udara Datah Dawai sekitar pukul sebelas. Pak Nyuk terlihat memakai seragam Departemen Perhubungannya.  Ada tiga unit All-band radio di Bandara ini, ditambah satu Homing Radio. Staff bandara terdiri dari enam orang, termasuk Air Trafic Controller.
Suara deru pesawat yang kami tunggu sering tertukar oleh suara long boat. Tapi jam sebelas lewat terdengar berdengung dari arah kanan runway. Seorang petugas secara khusus berjalan memeriksa runway, dari kemungkinan binatang ternak ada yang melintas. PK-VIM, Britten Norman bermesin dua menyalakan lampu pendaratan. Kami yang berdiri di ujung landasan baru menyadari bahwa runway ternyata tidak rata. Begitu pesawat mendarat, sempat hilang dari pandangan dan muncul lagi begitu mendekati apron. Ground handling crew berupa dua buah gerobak dengan sigap bergerak mengeluarkan isi bagasi. Kemudian memuat bagasi penumpang berikutnya.

Kurang dari duapuluh menit, petugas mengusir lagi anjing yang sedang menikmati hangatnya aspal runway. Maka Kapten Bayu siap untuk membawa pesawatnya kembali ke Samarinda. Sore harinya kami anak-anak yang kemarin terlihat malu-malu mulai berani mendekat dan berbicara dengan kami. Mereka sangat senang diajak bernyanyi.

10 Februari 2001
Berita tentang pasien kanker prostat yang akan dirujuk ke Samarinda membawa ketegangan buat kami, karena berarti berkurangnya jatah tempat duduk untuk kami terbang kembali ke Samarinda.
Pagi-pagi kami langsung datang ke bandara, untuk menemui Pak Nyuk dan memintanya mengeluarkan tiket dengan segera. Akhirnya kami bertiga mendapatkan tiket seharga Rp 68,000.- untuk satu setengah jam penerbangan. Jalur ini memang sebenarnya disubsidi oleh pemerintah daerah, sehingga bisa dijangkau oleh orang kebanyakan. Diluar dugaan anak-anak yang kemarin bernyanyi di penginapan berdatangan dan minta untuk dituliskan syair lagunya.

Istri pak Nyuk tiba-tiba memberikan nenas ukuran besar dan sebuah durian.  Sewaktu kami pamiti, Keluarga Berlin Gani memberikan kenang-kenangan berupa taplak dan tas manik-manik. Kami yang tahu betul harga barang ini merasa perlu untuk memberikan sesuatu kembali untuk Keluarga Berlin Gani, mungkin saat sang ibu melahirkan bayi perempuannya.

Akhirnya sampai pada saat kami harus boarding.

Joula dan Tika diberi kenang-kenangan gelang oleh anak-anak yang mereka ajari bernyanyi. Sepulang dari perjalanan ini, pasti ada yang bisa kami lakukan untuk mereka. Kesulitan mereka berhubungan dengan orang asing, ternyata lebih disebabkan karena ketidaktahuan mereka bagaimana menghadapi orang asing. Begitu es mencair, semuanya menjadi hangat. Sayang semuanya terjadi, hanya beberapa menit sebelum kami harus meninggalkan mereka. Britten Norman diisi penuh delapan penumpang. Kapten menyalakan mesin dan mengarahkan pesawat ke ujung runway. Throthle dibuka tapi rem masih di injak. Begitu rem dilepas pesawat berlari di landasan, tidak terlalu cepat, nose up, akhirnya roda terlihat terangkat.  Untuk yang biasa menumpang pesawat bermesin jet, rasanya sulit percaya kalau kita airborne pada kecepatan yang sedemikian rendah.
Namun demikian kenyataannya, dengan tidak terlalu banyak landasan yang tersisakan, pesawat pesawat mengudara dan berbelok kekanan.

Terbaca di GPS, check point setelah Airport Data Dawai adalah Sungai Boh. Dari ketinggian kami dapat mengidentifikasi rumah rakit tempat makan siang sesudah melewati Jeram Udang. Beberapa jalan penebangan kayu tampak seperti pembuluh darah diantara pepohonan. Ketinggian jelajah saat itu sekitar 7700 feet. Hutan Kalimantan yang sering kami temui gundul sepanjang perjalanan darat Samarinda – Kota Bangun, ternyata hanya sebagian kecil dari kekayaah hutan Kalimantan. Karena hampir satu jam kami terbang, yang terlihat adalah kanopi pohon besar. Cuaca cukup baik di daerah ini. Dan kami baru sadar bahwa penerbangan ini adalah ‘smoking flight’, karena tiba-tiba Sang Pilot mengeluarkan pematik api dan menyalakan Marlboro Light-nya. Check point selanjutnya adalah SRI4. Akibat dari hujan yang selama dua hari ini mengguyur hulu terlihat dari udara. Air menggenangi daerah rendah.

Jembatan Tenggarong sudah tersambung. Dan tidak lama mulai terlihat kesibukan Sungai Mahakam yang membelah Samarinda. Bandar Udara Temindung terletak ditengah daerah pemukiman. Ternyata koreksi arah pesawat saat mendekati landasan mengerikan. Buntut pesawat bergerak kiri-kanan. Runway Bandara Temindung yang tidak terlalu lebar memberi kesan pesawat kami akan keluar dari landasan.

Ternyata gerobak ground handling bukan monopoli Bandara Data Dawai. Di Temindung pun, kami dilayani oleh gerobak ground handling. Diapron hanya tampak dua pesawat lainnya; sebuah Britten Norman dan sebuah Casa 212 yang semuanya milik DAS. Wartel adalah fasilitas yang pertama kali di cari, setelah itu perjalanan ditutup dengan makan siang di Restoran Menara Gading, didepan Bandara Temindung.

I am a part of all that I have met;
Yet all experience is an arch wherethro’
Gleams that untravell’d world, whose margin fades
For ever and for ever when I move.
How dull it is to pause, to make an end,
To rust unburnish’d, not to shine in use!
As tho’ to breathe were life.
Life piled on life
Were all too little, and of one to me
Little remains: but every hour is saved
From that eternal silence, something more,
A bringer of new things…
Alfred Lord Tennyson, England, from Ulysses

Catatan penulis :
Perjalanan ini diinspirasi oleh buku River of Gemâ oleh Lorne Blair & Rio Helmi. Informasi tambahan dikumpulkan dari buku East Kalimantan❠Times Edition, dan Lonely Planet Indonesiaâ.
Ucapan terima kasih kepada rekan-rekan yang memberikan dukungan; Ibu Dinah Darto Sayogyo, Jessy, Anang, Arya & Sanggam. Pandita, thank you buat pinjeman scanner-nya.

lihat photo :http://members.lycos.co.uk/arisy/index.php?gallery=.%2FBorneo+Journey

Tagged as: , , , , , ,

Puguh is
Email this author | All posts by Puguh

Bookmark and Share

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

Home | About Us | Disclaimer | Credits & Contributor | Join a Contributor | Our Contributor |
Komunitas Backpacker Indonesia | Indobackpacker.com | Travel Photography | Mailinglist Archive | Mailinglist Forum

Copyright ©2004-2009 Indonesia Backpacker Community All rights reserved. All articles and Images may not be reproduced in any form without the express written permission of the copyright holder | All Information contained on this site may not be used for commercial purposes,
for more information please Contact
admin At indobackpacker.com | Powered by the WordPress

Creative Commons License
Except where otherwise noted content on this site is licensed under a
Creative Commons Licence.