Suatu hari di Ayutthaya (episode wat Mahathat)

Custom Search

By admin • Jan 17th, 2005 • Category: Wisata

Waktu itu aku berjalan mencari tempat yang cukup strategis. Di gerbong tengah masih ada beberapa bangku kosong. Di seberangnya duduk seorang Bhiksu tua disamping seorang bhiksu muda yang masih berusia paling enggak 12 tahunan lah, dengan walkman dan earphone di telinganya wah… dia terlihat fungkeeeeehhh sekaliii!!!!. Dalam hati

aku berguman “kereeeeen.” Object menarik nih buat di foto. Segera kulempar backpack dan duduk disana.
Sontak dari bangku seberang sang Bhiksu tua berkata kepadaku (kalo boleh dibilang begitu) dengan bahasa yang sunguh mati aku tak tahu. Tangannya bergerak-gerak menunjuk. Bergantian. Kearahku dan menunjuk ke atas.

Busyeeetttt!!!! Mau khotbah kali yeeee…..

“Jadinya pilih yang mana? Ke Ayutthaya atau Pattaya?” tanya suamiku,
memastikan lagi. Sebel. Udah sering dijawab masih aja ditanyain lagi
“Ayutthaya!” jeritku. Barangkali, pikirnya, kok tumben nih anak pantai
kagak mau diajak backpack ke pantai.

Dalam bayanganku, mampir kesana seolah menghadirkan kembali kejayaan
masa lalu. Beberapa dinasti bergantian memerintah bumi Thai.
Beribu-ribu
orang datang dan membawa upeti. Ribuan kapal mampir melewat
sungai-sungai kecil di seputar kota.

Waktu membuka peta Periplus sebelum kami mampir kesini, mataku sudah
tertumbuk di ujung utara kota Bangkok. Melihat logo bintang berwarna
merah lambang interest place. Suatu daerah yang tertata rapi penuh
grid. Dilingkungi air disekelilingnya dengan sistem pertahanan seperti
itu, pasti menarik sekali. Dibanding objek lainnya, tempat ini tak
kalah menariknya.

Ke Pattaya yang notabene di pantai pesisir selatan, sama sekali tidak
menarik perhatianku. Hanya satu pesisir berisi deretan hotel, hostel,
wisma, restoran dan segelintir toko souvenir. Dalam bayanganku nih…
(sori deh .. kok bayangan melulu ya?) suasana kayak di Kuta. Turis
meluluuu!!!!

“Jadiii????” sebuah suara memecah lamunanku. Hampir meradang karena
kesal, tapi nggak jadi karena melihatnya tersenyum geli karena hanya
ingin menggodaku saja.

Ayuttaha merupakan ibukota lama bagi Thailand, terletak sekitar 76
kilometer di utara kota Bangkok. Kota ini sendiri dilalui oleh 3 sungai
besar, Lopburi di utara, Pasak di timur dan sungai Chao Phya di sisi
barat dan selatan.

Dari Bangkok kami menumpang kereta api. Dari beberapa jalur, kami pilih
yang Northeastern line. Hampir setiap 2 jam ada kereta yang berangkat
menuju Ayutthaya. Paling pagi pukul 05.45 hingga pukul 23.40 tengah
malam.

Waktu itu kami ambil kereta kelas 3 yang berangkat jam 11.45 siang.
Jangan bayangin kelas 3 nya seperti kelas ‘super’ ekonomi di Indonesia
ya …huuuu … jauh banget! Walau kelas tiga, kereta ini bersih sekali.
Dengan harga 15 Baht (atau sekitar 3750 rupiah) perorang kami dapat
memilih gerbong dan bangku kayu yang kami suka. Jendela berukuran 1 x
0,8 meter terbuka lebar tanpa perlu khawatir di lempar batu atau
tiba-tiba ada kepala nongol dan nyengir disana. Tidak ada yang merokok.
Tidak ada pengemis yang berseliweran atau pengamen yang mondar-mandir
tiada henti. Penjual asongan tetap relatif jarang disini. Kalaupun ada
mereka diharuskan memakai vest resmi tanda penjaja asongan. (two
thumbs
up!)

Kereta tepat berangkat pukul 11.45. Hampir ketinggalan kereta karena
aku
lagi sibuk jeprat jepret di sana-sini. Berikut wajah paniK sang suami
yang nongol di pintu gerbong He..he…. aku salah duga.. dikira keretanya
bakal ngaret !!!

Bangku jelas tidak bernomor. Yang artinya, setiap penumpang bebas
memilih tempat. Waktu itu aku berjalan mencari tempat yang cukup
strategis. Di gerbong tengah masih ada beberapa bangku kosong. Di
seberangnya duduk seorang Bhiksu tua disamping seorang bhiksu muda yang
masih berusia paling enggak 12 tahunan lah, dengan walkman dan earphone
di telinganya wah… dia terlihat fungkeeeeehhh sekaliii!!!!. Dalam hati
aku berguman “kereeeeen.” Object menarik nih buat di foto. Segera
kulempar backpack dan duduk disana.
Sontak dari bangku seberang sang Bhiksu tua berkata kepadaku (kalo
boleh
dibilang begitu) dengan bahasa yang sunguh mati aku tak tahu. Tangannya
bergerak-gerak menunjuk. Bergantian. Kearahku dan menunjuk ke atas.
Busyeeetttt!!!! Mau khotbah kali yeeee…..

Sedang suamiku cuma terbengong-bengong dan bertanya kepadaku. “Ngomong
apa dia?” emangnya tukang sulap! Sama nggak ngertinya.

Akhirnya sih nebak-nebak buah manggis …. Mencoba berpikir jernih dan
tidak panik Setelah diteliti lebih lanjut, ternyata dia hanya
menunjuk-nunjuk bangku yang aku duduki dan dua plang tulisan aksara
Thai
yang menggantung di plafon gerbong diantara kami duduk. Emang bahasa
tubuh bener-bener universal language deh. Dengan begitu aku baru ngerti
kalo kami nggak boleh duduk disana. Beberapa bangku disana memang
dikhususkan buat Bhiksu. Orang sipil kagak boleh lah yaaa…
Beberapa hari tinggal disini, aku dapat mengamati dengan jelas betapa
orang-orang seukuran Bhiksu sangat dihormati. Seperti halnya keluarga
kerajaan.

Perjalanan selama 2 jam tidak terasa lama. Pemandangan di luar sana
silih berganti seperti halnya di Indonesia. Vegetasinya, ya..
lingkungan
permukimannya. Sama sekali tidak jauh berbeda.
Nggak ada tanda-tandanya. Juga nggak ada kondektur yang bakal
teriak-teriak mengingatkan penumpang yang akan turun. Kalo kami nggak
secara kebetulan melihat plang bertuliskan Ayutthaya. Mungkin udah
lewat
deh. Kami bergegas turun. Dan tak lama kemudian, kereta api melanjutkan
perjalanannya.

Stasiun kereta Ayutthaya ini tidak begitu besar. Sama seperti Stasiun
Jatinegara deh, atau Stasiun CIrebon atau Purwokerto. Waktu itu sudah
hampir pukul 2 siang. Dalam imajinasiku nih, suasana di stasiun
bergerak sangaaaaaaaattt lambat. .. semua bergerak slow motion.
Orang-orang duduk di bangku kayu di emplasemen. Seekor anjing yang
dengan cueknya tidur di lantai dekat pintu masuk. Beberapa turis, duduk
di pojok sambil membaca lonely planet.
Tidak ada pengemis juga tidak ada calo yang kadang-kadang sedikit
opportunis mencari wisatawan.

Sadar bahwa menjadi daerah tujuan wisata. Bahkan sejak dari Stasiun
kereta pun kami sudah disuguhi informasi yang sangat jelas. Papan peta
lokasi berikut tarif tuk-tuk (alat angkutan terutama untuk jarak dekat.
Kalo di Jakarta padanannya sih Bajaj) untuk setiap tujuan. Tarif tuk
tuk
untuk lokasi terjauh sekali jalan seharga 100 Baht (atau sekitar 25
ribu
rupiah) atau kalau tidak mau repot, carter tuk tuk aja sebesar 200
Baht/jam (50 ribu) mereka akan mengantar kemana saja kita suka.
Atau kalau masih kurang puas, disana juga ada pusat informasi turis.
Mereka dengan senang hati akan membantu. Toilet umum 3 Baht (750
perak!)
sekali masuk, uniknya si penjaga toilet juag sekaligus menjual tissue
dan accessories lainnya.

Ayutthaya pernah menjadi pusat pemerintahan bumi Thai. Lebih dari 417
tahun (antara tahun 1350 – 1767) dengan 33 raja dari 5 dinasti yang
menjalankan pemerintahan. Ada sekitar 13 object yang tersebar di
segala
penjuru kota berupa kompleks istana dan Wat (yang artinya kurang lebih
kuil).
Untuk mengelilinginya dengan tenang, paling tidak dibutuhkan sehari dua
hari disini. Aku lihat ada beberapa penginapan di depan stasiun berikut
penyewaan sepeda. Sayang nggak sempet tanya harga.

Seorang wanita berusia antara 45 – 50 tahunan menghampiri kami. Dengan
sopan dan dengan bahasa Inggris yang cukup fasih menawarkan jasa untuk
mengantarkan kami ke lokasi-lokasi menarik di Ayutthaya. Baru kemudian
aku sadar bahwa dia ternyata co drivernya tuk tuk.

Kami berjalan hingga pintu keluar stasiun. Ada beberapa tuk tuk yang
mangkal disana. Nggak ada tuh usaha untuk me-mark up harga. Jelas-jelas
ia menunjuk papan harga di stasiun. Yang menarik, untuk membantu si
turis memahami apa yang ia maksud, ia menunjukkan post card bergambar
Wat dan istana yang dapat kami kunjungi.

Waktu sudah menunjukkan pukul 2 siang. Tujuan kami adalah Wat Mahathat.
Terletak benar-benar di jantung kota Ayutthaya. Terletak di antara wat
lainnya.
Cuaca terik sekali. Bayangin aja seperti jalan-jalan ke Tanjung Priok
siang hari bolong. Panas banget! Gerah! Nyengir sendiri kalo mbayangin
naek sepeda keliling-keliling kota. Hari gini? Pake sepeda? He..he…..

Sewa Tuk tuk sebesar 40 Baht (10 ribu rupiah) tepat berhenti di depan
gardu tiket. Dengan tiket seharga 30 Baht (7500 rupiah) perorang dan
barang belanjaan berupa buku seharga 20 Baht (5 ribu saja!). Kami
segera
beranjak menuju pintu gerbang yang berada tidak jauh dari sana.

Untungnya nggak terlalu banyak turis yang datang. Untuk seukuran jam 2
siang sih … ha..ha… wajar-wajar saja. Kabar baik justru. Bisa motret
sepuas hati. Kagak banyak figurannya!

Hanya ada 2 orang penjaga berseragam membawa pentungan dan peluit (buat
apaan sih? mengatur lalulintas? … penasaran kan? Lihat deh di akhir
cerita..) yang terkantuk-kantuk di kursi di depan.

Kompleks Wat Mahathat cukup luas. Ada beberapa bangunan utama yang
bentuknya mirip candi di Indonesia. Bedanya, mereka terbuat dari batu
bata merah. Hebat juga ya arsiteknya. Jaman dulu sih mana ada teknologi
beton. Numpuk batu candi kayak Borobudur aja susahnya setengah mati.
Ini? Apalagi numpukin batu bata merah. Yang justru patung kepala Budha
yang ada di dalam batang pohon.
Konon nggak ada bukti sejarah mengenai kepala Budha ini, tapi
diperkirakan ketika Ayutthaya di serang oleh tentara Birma, kuil
Mahathat terbakar dan musnah. Akibatnya sebagian besar runtuh dan kuil
ini terabaikan lebih dari ratusan tahun. Banyak pepohonan tumbuh
menyelubunginya. Versi lain menceritakan bahwa bahwa ada seorang
pencuri
mencoba untuk mencurinya, tetapi karena berat ia tidak dapat membawanya
atau mungkin juga karena takut ketahuan orang, maka ia
menyembunyikannya
disana. HIngga tanpa disadari, akar pohon menyelimutinya seperti yang
kita lihat saat ini.

Sedihnya, di beberapa tempat banyak patung Budha tanpa kepala akibat
penjarahan. Sebagian candi sudah berlumut, penuh dengan kotoran
kelelawar, miring akibat usia dan tinggal menunggu runtuhnya saja.

Mungkin karena sudah lelah. Atau sedikit bosan menungguku menjepret
object. Suamiku duduk di gundukan bata. Entah dari mana asalnya
mendadak
muncul petugas dengan sempritannya yang melengking tinggi. Gengsi?
Sudah
pasti.

Tapi untuk menyamarkannya suamiku hanya bertanya kepadaku. “maksudnya
apa?” emangnya tukang sulap lagi. Baru ngeh setelah melihat ada tulisan
(sori .. dalam aksara Thai) dan memandang gundukan bata tersebut yang
ternyata masih merupakan situs bagian dari Wat Mahathat yang harus
dilestarikan.

Sambil tersenyum simpul, kami berdua pelan-pelan berjalan menuju pintu
gerbang. Bukan maksud melarikan diri tapi memang waktu udah bener-bener
tidak memungkinkan.

Sayang, waktunya terbatas. Kami harus mengejar kereta jam 15.48 kembali
ke Bangkok. Perjalanan dengan kereta tidak terasa. Suamiku malah sudah
tertidur sejak tadi. Tapi suatu saat …. Suatu saat pasti balik lagi.
Menuntaskan ke duabelas object lainnya …. Pastiii!!!! Teriakku.
(disambit omelan suami yang mendadak bangun dan pandangan aneh dari
seluruh penumpang yang ada di sekitarku)

Serpong 5 Januari 2005 15:32
(ntar malem ada acara ngumpul di Mc D Sarinah Thamrin)

admin is
Email this author | All posts by admin

One Response »

  1. Hai saya Novi, baru aja jadi member
    Bisa kasih informasi tempat wisata bagus di thailand n transportasi apa yang bisa dipake ke tempat wiasanya ga???
    Soalnya saya n temen2 mau jalan2 ke sana.Terima kasih banyak

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

Copyright ©2004-2008 Indonesia Backpacker Community All rights reserved. All articles and Images may not be reproduced in any form without the express written permission of the copyright holder | All Information contained on this site may not be used for commercial purposes,
for more information please Contact
admin At indobackpacker.com | Powered by the WordPress

Creative Commons License
Except where otherwise noted content on this site is licensed under a
Creative Commons Licence.