Bikepacking Bali

Custom Search

By admin • Feb 7th, 2005 • Category: Hiking
Bookmark and Share

“Long-distance bicycle touring is by nature a Quixotic activity. In these days of light-speed communications, multimedia entertainment, fast, powerful, and prestigious automobiles, luxurious homes, exotic restaurants, and instant gratification, why would someone choose to pedal at slow speeds up high hills carrying a heavy load to boil rice in a small pot in the dark, insect-filled woods alone at night? Are bicycle tourers and bikepackers driven by a masochistic self-hatred that causes them to perform painful and anachronistic pilgrimages? – Ken Kifer

(Owner of www.kenkifer.com/bikepages/ – Tragically, Ken Kifer was killed by a drunk driver in September 2003)

23 Desember 2004: Cekik – Lovina

Bus tiba terlambat, yang seharusnya jam 9 pagi sudah menyeberang sekarang baru sampai di Gilimanuk pk 13.30. Setelah tiba di Gilimanuk, para penumpang diminta turun untuk pemeriksaan KTP. Saya turun dipertigaan Cekik, dimana jalan mulai terbagi antara jalur pantai utara dan pantai selatan.

“Long-distance bicycle touring is by nature a Quixotic activity. In these days of light-speed communications, multimedia entertainment, fast, powerful, and prestigious automobiles, luxurious homes, exotic restaurants, and instant gratification, why would someone choose to pedal at slow speeds up high hills carrying a heavy load to boil rice in a small pot in the dark, insect-filled woods alone at night? Are bicycle tourers and bikepackers driven by a masochistic self-hatred that causes them to perform painful and anachronistic pilgrimages? – Ken Kifer

(Owner of www.kenkifer.com/bikepages/ – Tragically, Ken Kifer was killed by a drunk driver in September 2003)

23 Desember 2004: Cekik – Lovina

Bus tiba terlambat, yang seharusnya jam 9 pagi sudah menyeberang sekarang baru sampai di Gilimanuk pk 13.30. Setelah tiba di Gilimanuk, para penumpang diminta turun untuk pemeriksaan KTP. Saya turun dipertigaan Cekik, dimana jalan mulai terbagi antara jalur pantai utara dan pantai selatan.

Gerimis mulai turun, ketika saya merakit sepeda sambil meyakinkan calo kendaraan umum, bahwa saya tidak akan naik kendaraan umum.

Pff…akhirnya saya berangkat untuk sebuah perjalanan bersepeda jarak jauh. Cukup lama keinginan ini terpendam, tetapi terhambat faktor peralatan; belum ada tas sepeda!(pannier bag) Kalaupun saya sudah mendapatkan gambar dari internet, rasanya cukup sulit dan jatuhnya mahal kalau harus menjahit sendiri. Awal 2004 saya berkunjung ke Bandung dan melihat mereka menjual pannier, maka habis sudah alasan saya untuk tidak melakukan perjalanan panjang dengan sepeda. Di Roxy saya menemukan toko yang menjual rear pannier rack. Maka klop sudah.

Sepeda yang sudah saya miliki lebih dari 10 tahun saya rekondisi. Gir depan, gir belakang, dan rantai saya ganti baru. Demikian pula dengan hub roda belakang yang ternyata tidak lurus lagi. Beberapa peralatan perbaikan sepeda juga saya kemas, seperti alat pembuka engkol, kunci jari-jari, beberapa kunci hexagonal dan kunci pas. Parts cadangan saya siapkan; ban dalam cadangan serta kabel-kabel rem dan shifter.

Perjalanan jarak jauh bersepeda yang pertama saya lakukan adalah dari Jakarta ke Bandung. Dua belas jam untuk 140-km plus dehidrasi, dan saya hanya bisa kembali menggunakan keretaapi keesokan harinya. Ide bersepeda Jakarta-Bandung itu tidak akan terlintas kalau saja saya tidak bertemu Pak Don Hasman tahun 1996 disebuah workshop fotografi. Well, dia tidak akan ingat tentang saya, tapi bertemu dengan beliau untuk beberapa jam membuat saya merasa kehilangan hak untuk merasa tua.

Etape pertama hari ini adalah rute membelah Taman Nasional Bali Barat. Jalanan relatif datar sampai bertemu dengan pantai utara Bali. TN Bali Barat ternyata cukup terjaga, sehingga walaupun terdapat jalan yang membelah taman nasional, namun di sepanjang jalan tidak terlihat pemukiman atau pedagang yang berjualan.

Mungkin ini yang membuat saya kecanduan; rasa ketidak-pastian. Ketika hidup sehari-hari di jakarta sudah penuh dengan rutinitas dan, well, sedikit kepastian; dimana saya akan tidur nanti malam, dimana saya akan makan siang, orang-orang yang saya akan temui, dan lain sebagainya.

Tetapi ketika kembali di jalanan seperti ini, hari-hari kembali menjadi penuh ketidak-pastian. Dimana saya akan tidur nanti malam? Kalau semuanya berjalan sesuai rencana; Lovina. Tapi siapa yang tahu dengkul saya akan mampu melahap jalanan, yang kata peta, sepanjang 80-km ini. Bisa jadi saya harus menginap di pinggir jalan atau harus menumpang di rumah orang yang tidak saya kenal sebelumnya, dan ketidakpastian lain.

Tidak ada suara lain selain air hujan, dan suara ban sepeda saya membelah genangan air di jalan. Happy euy!

Pemukiman pertama yang ditemui adalah Labuhan Lalang, yang digunakan sebagai base penyelam menuju titik penyelaman disekitar Pulau Menjangan. Beberapa bagian antara Labuhan Lalang dan Seririt sedang dalam perbaikan. Namun karena kepadatan lalulintas yang tidak tinggi, maka dengan mudah dapat menghindari lubang.

Di Pura Agung Pulaki saya berhenti sebentar menikmati pantai dengan tebing karang dikiri dan kanannya. Pura Agung Pulaki sendiri terletak agak naik ke bukit.

Dibandingkan jalanan sewaktu melahap rute Cianjur-Bandung, jalanan di Bali memang bagus. Dalam artian, sampai ke ujung pinggir jalan pun, jalanan masih rata-tidak bergelombang. Bisa karena dua faktor; tonase kendaraan dan kualitas pengerasan. Yang jelas kualitas jalan seperti di Bali ini, membuat saya bernafas lega karena tangan tidak lelah untuk menahan getaran di stang karena gelombang jalanan.

Di pantai utara bali sekarang tampak beberapa perkebunan anggur. Anggur yang sudah matang banyak juga dijual di pinggir jalan. Selain itu durian juga banyak dijual oleh pedagang buah, tapi kemungkinan besar durian ini berasal dari luar jawa.

Tapi saya tidak mau ambil resiko. Mengingat kalau makan anggur semua kulitnya akan ditelan, maka resiko perut ngambek akan tinggi. Cukup diliat saja lah anggur berwarna ungu dan hijau pupus nan menggoda.

Ternyata bersepeda malam cukup merepotkan, karena serangga yang tertarik cahaya lampu mobil sering masuk ke mata. Baru pada sekitar pk 19, akhirnya mencapai Kalibukbuk.

Saya memutuskan untuk menginap di Susila 2, yang ternyata dibawah satu manajemen dengan Hotel Angsoka.

Wah, kamar mandinya tampak sudah agak lama tidak digunakan. Tapi kipas angin bisa berfungsi dengan baik. Ok lah untuk harga 30 ribu per malam. Toh praktis saya hanya tergeletak tidur untuk beberapa jam. Selesai membongkar tas saya keluar dengan sepeda untuk makan malam.

Sepanjang Pantai Utara Bali banyak ditemui Warung Muslim. Yang menarik, cara memasak mereka sangat “Bali”, dimana daging ayam disuir-suir.

Sepi. Begitu komentar Budi, pemuda yang menawarkan perjalanan dengan jukung untuk melihat Lumba-lumba. Dibanding Natal tahun-tahun sebelumnya, dampak travel warning terasa di Lovina.

24 Desember 2004: Lovina – Amed

Pukul 9 perjalanan dilanjutkan. Menuju Singaraja jalanan terasa agak padat, sepeda motor dan Angkutan Kota menguasai jalanan. Baru setelah melewati Kubutambahan, jalanan mulai kembali lengang. Kubutambahan ini adalah persimpangan ke arah selatan menuju ke Danau Batur. Kalau melihat dari peta, pemandangan jalur ini pasti luar biasa, karena rutenya mendaki punggungan sampai di bibir kawah lama Gunung Batur.

Saya terus mendayung ke timur. Oh ya, untuk di Bali, sepeda angin ini lebih disebut dengan sepeda dayung, untuk membedakan dengan sepeda motor.

Jalan berbukit ringan dengan pemandangan laut lepas disebelah kiri, membuat saya tidak ingin memacu sepeda terlalu cepat. Toh hari ini, kalau semuanya lancar saya perkirakan saya akan sampai di Amed saat masih terang.

Perjalanan hari ini didominasi cuaca yang cerah, namun tidak terlalu panas. Kontur jalanan yang hanya berbukit ringan cukup bisa dinikmati tanpa harus memaksakan diri, sampai akhirnya jalanan mulai menanjak ketika mulai mendekati Culik. Jalan menuju Amed dari pertigaan Culik ini sudah banyak mengalami perubahan terutama kepadatan penduduknya. Hal ini juga diikuti dengan aktivitas pertanian, dimana lahan yang dulu dominan berwarna coklat, sekarang sudah banyak ditumbuhi tanaman produktif seperti jagung.
Amed, yang ketika tahun 1996 masih sepi, tanpa listrik, sekarang ramai sampai di perbukitan. Jaringan listrik tiga phase sudah masuk, membuat daerah ini sekarang lebih bergairah. Jumlah hotel dan restoran juga meningkat drastis.
Satu persatu penginapan terlewati. Beberapa yang baru, kemudian Hidden Paradise – yang sekarang menawarkan “budget room”, kemudian Vienna Beach.

Tepat didepan Penginapan Vienna Beach saya melirik ke restoran diseberangnya. Pak Mandre, nelayan yang berubah profesi menjadi pengelola restoran. Terakhir saya bertemu dia tahun 2001, saat itu dia sudah beralih profesi. Saat itu saya mencari dia karena pada tahun 96, ketika saya pertama kali ke Amed, dia menawarkan untuk mengantar saya menyeberang ke Gili di Lombok dari Amed menggunakan jukungnya. Satu dari sekian hitlist yang belum sempat saya lakukan. Kelihatannya dia sedang sibuk berbicara dengan beberapa orang, jadi saya memutuskan untuk tidak mampir.

Good Karma Bungalow. Penginapan ini memiliki setting yang unik, karena berada diteluk kecil. Dimana bangunan bungalow membaur dengan desa nelayan. Good Karma Bungalow mendeklarasikan atraksi utamanya; “talking and joking with Baba”. Baba adalah pengelola penginapan ini.

Ada sekitar 10 bungalow dalam teluk kecil ini. Mulai dari yang paling murah Rp 80,000/malam sampai yang paling mewah, menggunakan AC.

So, you’re sort of eccentric jakartan huh?! Aussielander yang tinggal disebelah bungalow saya tidak tahan untuk tidak berkomentar melihat saya mendorong sepeda saya.

Dari dia saya mendapat masukan tentang jalur melalui Rendang, yang dibilang Lonely Planet sebagai “Scenic Road”.

Saya coba cari informasi tentang kondisi jalanan menuju Amlapura menyusur Pantai Timur ini, tetapi tampaknya semua orang tidak ada yang tahu, karena menuju Amlapura lebih dekat dicapai melalui Culik.

25 Desember 2004: Amed – Amlapura

Walaupun bangun kesiangan, saya memutuskan untuk tetap melanjutkan perjalanan. Rasa penasaran tentang bagaimana Pantai Timur Bali tampaknya lebih kuat dibandingkan keinginan untuk beristirahat.

Dari peta, jarak antara Amed-Amlapura seharusnya kurang dari 25km. Namun bisa terbaca bahwa kontur jalur ini adalah melipir bukit Seraya. Dan benar saja, di perjalanan ini berkali-kali saya harus melalui jalan turun, yang diujungnya merupakan sungai mati, yang sebetulnya adalah dasar lembah diantara dua punggungan. Dan kemudian diikuti belok tajam untuk kemudian menanjak menuju puncak punggungan lagi. Berkali-kali menghadapi medan seperti ini tenaga dengan cepat terkuras habis. Energy bar tidak bisa memberikan tambahan tenaga terlalu banyak.

Huf…huff…huff…gir depan saya set ukuran paling kecil dan gir belakang diameter paling besar, tapi masih saja tanjakan ini terasa berat dilalui. Beberapa kali saya melirik ban belakang, dan hasilnya semua baik-baik saja. Akhirnya sepeda beberapa kali harus saya dorong untuk mencapai puncak tanjakan.

Kondisi jalanan seperti itu masih dilengkapi dengan cuaca panas sepanjang setengah perjalanan. Angin sering bertiup searah dan dengan kecepatan yang sama dengan sepeda. Mungkin daerah ini termasuk daerah yang berada di bayang-bayang hujan, di mana uap air sudah jatuh menjadi hujan dibalik perbukitan sebelum mencapai daerah ini. Mungkin karena itu juga “Tirtagangga” berada dibalik bukit ini.

Perasaan ini juga yang saya alami ketika melalui tanjakan di jalur Jonggol. Ketika beban yang secara absolut tetap sama, tapi karena stamina yang menurun, maka rasanya beban yang harus di hela menjadi berlipat-lipat.

Kalo dalam keadaan begini, biasaya saya mulai bertanya-tanya; ngapain juga susah-susah bersepeda. Mungkin ini saatnya untuk kembali mensitasi ucapannya Mallory:”because it’s there”. Otak jail saya selalu bilang bahwa ucapan Mallory sebetulnya tidak berhenti disitu, sebetulnya dia bilang “because it’s there, and now LEAVE ME ALONE!!” wajar dong, orang baru cape turun dari Everest, kok ditanya kenapa mendaki everest.

Melalui jalur ini, siksaan tidak hanya berupa cobaan fisik. Saat melewati sebuah perkampungan, tercium bau terasi bakar! Aromanya begitu sampai di syaraf penciuman langsung memberi perintah kepada perut untuk keroncongan. Repotnya, tidak ada warung nasi disekitar perkampungan itu. Tampaknya orang yang membakar terasi hanya untuk dikonsumsi sendiri.

Setelah pukul 14, cuaca mulai bersahabat, mendung yang disusul hujan rintik-rintik membantu mendinginkan suhu tubuh. Ketika hujan mulai bertambah lebat, beberapa sungai yang mati mulai dialiri air. Karena jarangnya hujan di pantai timur ini, maka umumnya tidak dibangun jembatan untuk menyeberangi sungai. Jalanan dibuat untuk bisa dialiri air saat hujan dan kendaraan harus lewat aliran air sungai.

“Sekolah Dasar Negeri Seraya” Plang sekolah ini membuat saya tersenyum. Karena berarti saya sudah mendekati Amlapura.

Jalanan kembali relatif lurus dan menurun, sampai bertemu dengan “Taman Air Ujung”. Sawah di perbukitan masih menemani sampai akhirnya memasuki kota Amlapura.
Menurut LP, Homestay Lila di Abian Soan biasa digunakan sebagai tempat menginap kalau mau melakukan ekplorasi disekitar kaki Gunung Agung. Malam ini saya berencana untuk bisa mencapai penginapan ini. Ditengah hujan gerimis, ternyata saya sudah melewati Abian Soya, dan mencapai Bebandem, terpaksa saya kembali sekitar 2 km untuk menemukan Homestay Lila di Abian Soan.

Ternyata Homestay Lila sudah lama tidak menerima tamu. Ada dua kamar yang disewakan. Semuanya dalam kondisi kurang terawat. Justru pengelolanya menyarankan untuk menginap di Kemang Remaja, empat kilometer dari Abian Soya. Jadilah kembali ke Amlapura.

Kemang Remaja lebih seperti penginapan pengemudi kendaraan antar kota. Losmen ini punya kamar yang berdekatan dengan tempat parkir mobil, dan kamar-kamar yang mengitari taman didalam rumah. Kamarnya sangat basic, dengan coretan-coretan di dinding kamar. Kamar mandinya cukup bersih, dan karena letak Amlapura yang dikaki bukit, airnya sangat menyegarkan.

26 Desember 2004: Amlapura – Rendang – Ubud

Saya mengulang 6 km perjalanan menanjak. Tapi tak apa, karena pagi ini cuaca cerah dan pemandangan layak sekali untuk dinikmati. Apalagi disebelah kanan saya ditemani Gunung Agung, yang kemarin sore disembunyikan oleh awan.

Rute melalui Rendang oleh Lonely Planet direkomendasikan untuk dilalui dari arah barat ke timur, karena jalanannya relative menurun. Mereka menyebut rute ini sebagai “Scenic road”. Tapi terus terang, mungkin untuk orang Indonesia yang cukup sering melihat sawah dan gunung, rute ini tidak terlalu luar biasa.
Yang malah menarik adalah, jalur jalanan ini melalui desa-desa kecil tradisional Bali, dimana “pusat desa” yang bisanya berupa pertempatan, terdapat pohon beringin besar. Karena belum terlalu siang, maka biasanya kegiatan masyarakat di pasar masih belum selesai. Beberapa pura juga masih menggunakan ijuk yang ditumpuk tebal sebagai atapnya.
Di jalur ini banyak ditemui pengrajin batu, yang membelah batu gunung menjadi kepingan-kepingan kecil.

Saya beruntung melewati jalur ini dengan sepeda. Dengan kendaraan yang nyaris tanpa suara ini, dibeberapa tempat ketika melalui Banjar, terdengar sayup-sayup warga banjar yang sedang berlatih gamelan.

Mencapai Rendang dari timur ke barat(kebalikan dari rekomendasi LP) cukup melelahkan. Tanjakan yang konstan, dengan beberapa kali perjalanan memotong punggungan. Mendekati Rendang, mulai terlihat truk pengangkut batu dan pasir.

Lewat di salah satu jembatan saya bisa mendengar gemericik air dari sungai dibawahnya. Tidak tahan lagi, saya menurunkan sepeda saya melalui jalan kecil dipinggir jembatan untuk kemudian mencuci baju dan berendam di sungai.

Untuk meringankan beban, saya memang hanya membawa 3 buah baju. Dua saya pakai bergantian dan satu pertahankan tetap bersih.

Lepas dari Rendang, perjalanan dilanjutkan menuju Bangli via Cempaga. Dari sana selesai sudah jalur naik turun bukit, sekarang jalanan relatif menurun kearah Gianyar.

Di perjalanan tampak sebuah plang “Menyewakan Babi Jantan”-What a job for a male!

Tiba di Ubud, butuh sejenak untuk mengembalikan orientasi. Dari ingatan tahun 96 terakhir mengunjungi Ubud, ternyata hanya kios Pasar Ubud yang masih terlihat sama. Sisanya sudah sama sekali berubah. Jalan utama didepan pasar ubud dipasangi paving blok. Dimana-mana toko.

Atas rekomendasi seorang teman, maka saya melanjutkan perjalanan ke Penestanan Kaja. Kalau menggunakan kendaraan bermotor, maka Penestanan dapat dicapai melalui jalan sesudah Musium Blanco menuju Sayan. Tapi juga ada tangga didepan Hotel Campuan. Tepat dibawah tangga terdapat parkiran motor dan plang yang berisi nama bungalow di Penestanan Kaja. Dengan akses yang tidak terlalu mudah ini, Penestanan Kaja menjadi semacam enclave bungalow.

Yang pertama kita temui tepat sesudah tangga adalah Warung Bu Putu. Lepas dari sana, kita sudah berada ditengah sawah yang diselingi bungalow-bungalow.

Santra Putra milik Pak I Wayan Sadra memiliki 4 bangunan, masing-masing digunakan untuk galeri, rumah utama, dan dua bungalow yang disewakan. Masing-masing bangunan bungalow memiliki dua lantai yang disewakan secara terpisah. Dimasing-masing lantai terdiri atas kamar utama, kamar mandi, dan dapur kecil.

Pembangunan bungalow di Penestanan agak mengkhawatirkan. Ketika beberapa bungalow terlihat tidak lagi dioperasikan, orang masih membangun bungalow baru. Mungkin sebentar lagi pernyataan “ricefield view bungalow” harus menjadi “other bungalow view”.

27 Desember 2004: Ubud

Hari ini sedianya saya memulihkan kekuatan dengkul. Sendi lutut kanan saya mulai terasa sakit untuk gerakan tertentu. Tapi kok gambaran persawahan disekitar Ubud lebih menggoda. Akhirnya saya berkeliling disekitar Ubud.

Seorang teman menyarankan untuk menghabiskan sore di Petulu, dimana ribuan Heron Bird(Burung Kuntul)akan pulang ke kandang. Pemandangan yang spektakuler, namun arah Petulu ini adalah punggungan bukit, yang hampir pasti perjalanan kesana menanjak. Saya tunda dulu rencana itu.

Berkeliling disekitar Campuan saya menyempatkan untuk sekedar melihat pintu masuk Amandari. Dari luar tidak tampak sesuatu yang istimewa. Hanya jalan masuk seperti jalan kampung, dengan sebuah tugu bertuliskan Amandari. Kalau dalamnya? Cukup lihat buku Bali-nya Rio Helmi saja lah….

Berjalan kaki dari Penestanan ke Pasar Ubud melalui Campuan ternyata membuat dengkul kembali berulah.

28 Desember 2004: Ubud

Hari ini, pagi-pagi dibangunkan oleh hujan. Hari ini memaksakan untuk tinggal di penginapan dan berisitirahat. Buku Boy dan Going Solo-nya Roald Dahl dibaca untuk kedua kalinya.

Beruntung membawa kompor lapangan, karena saya bisa memasak sarapan dan makan siang di kamar. Kemarin sore saya sempatkan untuk berbelanja makaroni dan roti di supermarket “Bintang”.

Jumlah ekspatriat yang tinggal di Ubud ternyata cukup ekonomis untuk membuka supermarket dengan kualitas barang yang setara dengan Hero di Kemang Jakarta, dengan koleksi cheese & wine yang kelihatannya lebih lengkap dari Hero Kemang.
Praktis hanya ada dua warung di Penestanan Kaja, rasa makanan Indonesianya terasa biasa sekali.

29 Desember 2004: Ubud – Kuta

Saya meninggalkan Ubud pukul 9.00. Saya turun ke Denpasar melalui Sayan, karena jalur ini lebih sepi. Hujan yang mengguyur membuat jalanan beberapa tempat digenangi air.

Di Celuk saya sempatkan berhenti sebentar untuk membeli oleh-oleh. Tempat ini terkenal sebagai pengrajin perak. Namun pengalaman tawar-menawar ditoko pertama membuat saya bingung tentang nilai sebenarnya dari perhiasan tersebut.

Setelah diperhatikan, ternyata gerakan yang membuat dengkul saya sakit adalah jika lutut saya dibengkokkan untuk melangkahi sepeda ketika akan naik pertama kali. Hari ini saya mulai kebiasaan baru, yaitu kaki diayun dalam posisi lurus saat melangkahi sepeda. Ternyata dengan ini rasa sakit di tempurung dengkul tidak muncul lagi.

Ingatan saya akan Kuta tidak berguna sama sekali. Saya beberapa kali kehilangan orientasi, sampai akhirnya harus bertanya dimana jalan bakung sari.

Saya menginap di Bamboo Inn di Jalan Bakungsari, karena saya tahu persis penginapan ini ditangani langsung oleh pemiliknya. Karena penuh, saya mendapat kamar dengan kamar mandi luar dengan tarif Rp60,000 semalam. Penginapan berbeda dengan penginapan di Kuta umumnya. Ketika penginapan lain ikut hingar bingar, disini sang pemilik menyatakan dengan terus terang kalau dia tidak suka kalau ada tamu yang terlalu berisik.

Kuta tidak menjual Bali. Mungkin terlalu menyederhanakan dan berlebihan, tapi apa yang dijual di Kuta memang tidak berhubungan dengan Bali.Yang sisa hanya orang beraksen Bali. Dan atmosfir ini yang perlahan terdorong sampai ke Ubud.

30 Desember 2004: Kuta

Hari ini saya bersepeda ke Denpasar untuk membeli tiket bus dan memastikan pengiriman sepeda ke jakarta.

Denpasar kota tidak terlalu bersahabat dengan sepeda. Daerah jalan dipusat kota Denpasar banyak dibuat satu arah, sehingga arus kendaraan praktis tanpa jeda. Sepeda motor rules the street.

Setelah itu saya melakukan eksplorasi ke utara kuta; seminyak dan krobokan.

Daerah utara kuta jauh lebih bisa dinikmati, karena bersih dan tidak terlalu padat. Tetapi untuk pilihan makanan dan penginapan murah memang tidak terlalu banyak.

31 Desember 2004: Kuta – Denpasar

Bus tujuan jakarta berangkat dari Ubung pk 15.00. Saya keluar penginapan sekitar pk. 10 dan melewati jalan pantai kuta agar bisa mengambil gambar sepeda di pinggir pantai.

Ketika melewati legian, saya cukup kaget ketika melihat sebuah banjar yang sedang disiapkan untuk pesta malam tahun baru, lengkap dengan rotary lamp á la diskotik. Saya sangat kagum, karena dengan demikian kalangan muda juga punya rasa memiliki terhadap banjar di lingkungannya.

Sepeda saya kirim ke jakarta melalui perusahaan ekspedisi di Pertokoan Jalan Diponegoro. Dari situ saya berjalan kaki ke Terminal Ubung. Cukup Jauh, tapi karena berniat tidak naik kendaraan selain sepeda selama di bali, kecuali bis datang dan pergi.

Ditengah persaingan tiket pesawat terbang, ternyata pengguna bis tidak berkurang. Hari ini bis yang saya naiki tetap penuh, dan ada dua bis lagi dengan tujuan Jakarta.

Sepanjang Denpasar – Gilimanuk peta Bali saya pegang ditangan. Ada beberapa spot yang indah disepanjang jalan ini. Persimpangan jalan arah ke Pupuan juga saya coba tandai, karena suatu saat jalan ini akan saya coba lewati…

Tidak dengan sepeda tentunya…

Kuta tidak menjual Bali. Mungkin terlalu menyederhanakan dan berlebihan, tapi apa yang dijual di Kuta memang tidak berhubungan dengan Bali.Yang sisa hanya orang beraksen Bali. Dan atmosfir ini yang perlahan terdorong sampai ke Ubud.

30 Desember 2004: Kuta

Hari ini saya bersepeda ke Denpasar untuk membeli tiket bus dan memastikan pengiriman sepeda ke jakarta.

Denpasar kota tidak terlalu bersahabat dengan sepeda. Daerah jalan dipusat kota Denpasar banyak dibuat satu arah, sehingga arus kendaraan praktis tanpa jeda. Sepeda motor rules the street.

Setelah itu saya melakukan eksplorasi ke utara kuta; seminyak dan krobokan.

Daerah utara kuta jauh lebih bisa dinikmati, karena bersih dan tidak terlalu padat. Tetapi untuk pilihan makanan dan penginapan murah memang tidak terlalu banyak.

31 Desember 2004: Kuta – Denpasar

Bus tujuan jakarta berangkat dari Ubung pk 15.00. Saya keluar penginapan sekitar pk. 10 dan melewati jalan pantai kuta agar bisa mengambil gambar sepeda di pinggir pantai.

Ketika melewati legian, saya cukup kaget ketika melihat sebuah banjar yang sedang disiapkan untuk pesta malam tahun baru, lengkap dengan rotary lamp á la diskotik. Saya sangat kagum, karena dengan demikian kalangan muda juga punya rasa memiliki terhadap banjar di lingkungannya.

Sepeda saya kirim ke jakarta melalui perusahaan ekspedisi di Pertokoan Jalan Diponegoro. Dari situ saya berjalan kaki ke Terminal Ubung. Cukup Jauh, tapi karena berniat tidak naik kendaraan selain sepeda selama di bali, kecuali bis datang dan pergi.

Ditengah persaingan tiket pesawat terbang, ternyata pengguna bis tidak berkurang. Hari ini bis yang saya naiki tetap penuh, dan ada dua bis lagi dengan tujuan Jakarta.

Sepanjang Denpasar – Gilimanuk peta Bali saya pegang ditangan. Ada beberapa spot yang indah disepanjang jalan ini. Persimpangan jalan arah ke Pupuan juga saya coba tandai, karena suatu saat jalan ini akan saya coba lewati…

Tidak dengan sepeda tentunya…

Kuta tidak menjual Bali. Mungkin terlalu menyederhanakan dan berlebihan, tapi apa yang dijual di Kuta memang tidak berhubungan dengan Bali.Yang sisa hanya orang beraksen Bali. Dan atmosfir ini yang perlahan terdorong sampai ke Ubud.

30 Desember 2004: Kuta

Hari ini saya bersepeda ke Denpasar untuk membeli tiket bus dan memastikan pengiriman sepeda ke jakarta.

Denpasar kota tidak terlalu bersahabat dengan sepeda. Daerah jalan dipusat kota Denpasar banyak dibuat satu arah, sehingga arus kendaraan praktis tanpa jeda. Sepeda motor rules the street.

Setelah itu saya melakukan eksplorasi ke utara kuta; seminyak dan krobokan.

Daerah utara kuta jauh lebih bisa dinikmati, karena bersih dan tidak terlalu padat. Tetapi untuk pilihan makanan dan penginapan murah memang tidak terlalu banyak.

31 Desember 2004: Kuta – Denpasar

Bus tujuan jakarta berangkat dari Ubung pk 15.00. Saya keluar penginapan sekitar pk. 10 dan melewati jalan pantai kuta agar bisa mengambil gambar sepeda di pinggir pantai.

Ketika melewati legian, saya cukup kaget ketika melihat sebuah banjar yang sedang disiapkan untuk pesta malam tahun baru, lengkap dengan rotary lamp á la diskotik. Saya sangat kagum, karena dengan demikian kalangan muda juga punya rasa memiliki terhadap banjar di lingkungannya.

Sepeda saya kirim ke jakarta melalui perusahaan ekspedisi di Pertokoan Jalan Diponegoro. Dari situ saya berjalan kaki ke Terminal Ubung. Cukup Jauh, tapi karena berniat tidak naik kendaraan selain sepeda selama di bali, kecuali bis datang dan pergi.

Ditengah persaingan tiket pesawat terbang, ternyata pengguna bis tidak berkurang. Hari ini bis yang saya naiki tetap penuh, dan ada dua bis lagi dengan tujuan Jakarta.

Sepanjang Denpasar – Gilimanuk peta Bali saya pegang ditangan. Ada beberapa spot yang indah disepanjang jalan ini. Persimpangan jalan arah ke Pupuan juga saya coba tandai, karena suatu saat jalan ini akan saya coba lewati…

Tidak dengan sepeda tentunya…

Kuta tidak menjual Bali. Mungkin terlalu menyederhanakan dan berlebihan, tapi apa yang dijual di Kuta memang tidak berhubungan dengan Bali.Yang sisa hanya orang beraksen Bali. Dan atmosfir ini yang perlahan terdorong sampai ke Ubud.

30 Desember 2004: Kuta

Hari ini saya bersepeda ke Denpasar untuk membeli tiket bus dan memastikan pengiriman sepeda ke jakarta.

Denpasar kota tidak terlalu bersahabat dengan sepeda. Daerah jalan dipusat kota Denpasar banyak dibuat satu arah, sehingga arus kendaraan praktis tanpa jeda. Sepeda motor rules the street.

Setelah itu saya melakukan eksplorasi ke utara kuta; seminyak dan krobokan.

Daerah utara kuta jauh lebih bisa dinikmati, karena bersih dan tidak terlalu padat. Tetapi untuk pilihan makanan dan penginapan murah memang tidak terlalu banyak.

31 Desember 2004: Kuta – Denpasar

Bus tujuan jakarta berangkat dari Ubung pk 15.00. Saya keluar penginapan sekitar pk. 10 dan melewati jalan pantai kuta agar bisa mengambil gambar sepeda di pinggir pantai.

Ketika melewati legian, saya cukup kaget ketika melihat sebuah banjar yang sedang disiapkan untuk pesta malam tahun baru, lengkap dengan rotary lamp á la diskotik. Saya sangat kagum, karena dengan demikian kalangan muda juga punya rasa memiliki terhadap banjar di lingkungannya.

Sepeda saya kirim ke jakarta melalui perusahaan ekspedisi di Pertokoan Jalan Diponegoro. Dari situ saya berjalan kaki ke Terminal Ubung. Cukup Jauh, tapi karena berniat tidak naik kendaraan selain sepeda selama di bali, kecuali bis datang dan pergi.

Ditengah persaingan tiket pesawat terbang, ternyata pengguna bis tidak berkurang. Hari ini bis yang saya naiki tetap penuh, dan ada dua bis lagi dengan tujuan Jakarta.

Sepanjang Denpasar – Gilimanuk peta Bali saya pegang ditangan. Ada beberapa spot yang indah disepanjang jalan ini. Persimpangan jalan arah ke Pupuan juga saya coba tandai, karena suatu saat jalan ini akan saya coba lewati…

Tidak dengan sepeda tentunya…

Kuta tidak menjual Bali. Mungkin terlalu menyederhanakan dan berlebihan, tapi apa yang dijual di Kuta memang tidak berhubungan dengan Bali.Yang sisa hanya orang beraksen Bali. Dan atmosfir ini yang perlahan terdorong sampai ke Ubud.

30 Desember 2004: Kuta

Hari ini saya bersepeda ke Denpasar untuk membeli tiket bus dan memastikan pengiriman sepeda ke jakarta.

Denpasar kota tidak terlalu bersahabat dengan sepeda. Daerah jalan dipusat kota Denpasar banyak dibuat satu arah, sehingga arus kendaraan praktis tanpa jeda. Sepeda motor rules the street.

Setelah itu saya melakukan eksplorasi ke utara kuta; seminyak dan krobokan.

Daerah utara kuta jauh lebih bisa dinikmati, karena bersih dan tidak terlalu padat. Tetapi untuk pilihan makanan dan penginapan murah memang tidak terlalu banyak.

31 Desember 2004: Kuta – Denpasar

Bus tujuan jakarta berangkat dari Ubung pk 15.00. Saya keluar penginapan sekitar pk. 10 dan melewati jalan pantai kuta agar bisa mengambil gambar sepeda di pinggir pantai.

Ketika melewati legian, saya cukup kaget ketika melihat sebuah banjar yang sedang disiapkan untuk pesta malam tahun baru, lengkap dengan rotary lamp á la diskotik. Saya sangat kagum, karena dengan demikian kalangan muda juga punya rasa memiliki terhadap banjar di lingkungannya.

Sepeda saya kirim ke jakarta melalui perusahaan ekspedisi di Pertokoan Jalan Diponegoro. Dari situ saya berjalan kaki ke Terminal Ubung. Cukup Jauh, tapi karena berniat tidak naik kendaraan selain sepeda selama di bali, kecuali bis datang dan pergi.

Ditengah persaingan tiket pesawat terbang, ternyata pengguna bis tidak berkurang. Hari ini bis yang saya naiki tetap penuh, dan ada dua bis lagi dengan tujuan Jakarta.

Sepanjang Denpasar – Gilimanuk peta Bali saya pegang ditangan. Ada beberapa spot yang indah disepanjang jalan ini. Persimpangan jalan arah ke Pupuan juga saya coba tandai, karena suatu saat jalan ini akan saya coba lewati…

Tidak dengan sepeda tentunya…

Kuta tidak menjual Bali. Mungkin terlalu menyederhanakan dan berlebihan, tapi apa yang dijual di Kuta memang tidak berhubungan dengan Bali.Yang sisa hanya orang beraksen Bali. Dan atmosfir ini yang perlahan terdorong sampai ke Ubud.

30 Desember 2004: Kuta

Hari ini saya bersepeda ke Denpasar untuk membeli tiket bus dan memastikan pengiriman sepeda ke jakarta.

Denpasar kota tidak terlalu bersahabat dengan sepeda. Daerah jalan dipusat kota Denpasar banyak dibuat satu arah, sehingga arus kendaraan praktis tanpa jeda. Sepeda motor rules the street.

Setelah itu saya melakukan eksplorasi ke utara kuta; seminyak dan krobokan.

Daerah utara kuta jauh lebih bisa dinikmati, karena bersih dan tidak terlalu padat. Tetapi untuk pilihan makanan dan penginapan murah memang tidak terlalu banyak.

31 Desember 2004: Kuta – Denpasar

Bus tujuan jakarta berangkat dari Ubung pk 15.00. Saya keluar penginapan sekitar pk. 10 dan melewati jalan pantai kuta agar bisa mengambil gambar sepeda di pinggir pantai.

Ketika melewati legian, saya cukup kaget ketika melihat sebuah banjar yang sedang disiapkan untuk pesta malam tahun baru, lengkap dengan rotary lamp á la diskotik. Saya sangat kagum, karena dengan demikian kalangan muda juga punya rasa memiliki terhadap banjar di lingkungannya.

Sepeda saya kirim ke jakarta melalui perusahaan ekspedisi di Pertokoan Jalan Diponegoro. Dari situ saya berjalan kaki ke Terminal Ubung. Cukup Jauh, tapi karena berniat tidak naik kendaraan selain sepeda selama di bali, kecuali bis datang dan pergi.

Ditengah persaingan tiket pesawat terbang, ternyata pengguna bis tidak berkurang. Hari ini bis yang saya naiki tetap penuh, dan ada dua bis lagi dengan tujuan Jakarta.

Sepanjang Denpasar – Gilimanuk peta Bali saya pegang ditangan. Ada beberapa spot yang indah disepanjang jalan ini. Persimpangan jalan arah ke Pupuan juga saya coba tandai, karena suatu saat jalan ini akan saya coba lewati…

Tidak dengan sepeda tentunya…

Kuta tidak menjual Bali. Mungkin terlalu menyederhanakan dan berlebihan, tapi apa yang dijual di Kuta memang tidak berhubungan dengan Bali.Yang sisa hanya orang beraksen Bali. Dan atmosfir ini yang perlahan terdorong sampai ke Ubud.

30 Desember 2004: Kuta

Hari ini saya bersepeda ke Denpasar untuk membeli tiket bus dan memastikan pengiriman sepeda ke jakarta.

Denpasar kota tidak terlalu bersahabat dengan sepeda. Daerah jalan dipusat kota Denpasar banyak dibuat satu arah, sehingga arus kendaraan praktis tanpa jeda. Sepeda motor rules the street.

Setelah itu saya melakukan eksplorasi ke utara kuta; seminyak dan krobokan.

Daerah utara kuta jauh lebih bisa dinikmati, karena bersih dan tidak terlalu padat. Tetapi untuk pilihan makanan dan penginapan murah memang tidak terlalu banyak.

31 Desember 2004: Kuta – Denpasar

Bus tujuan jakarta berangkat dari Ubung pk 15.00. Saya keluar penginapan sekitar pk. 10 dan melewati jalan pantai kuta agar bisa mengambil gambar sepeda di pinggir pantai.

Ketika melewati legian, saya cukup kaget ketika melihat sebuah banjar yang sedang disiapkan untuk pesta malam tahun baru, lengkap dengan rotary lamp á la diskotik. Saya sangat kagum, karena dengan demikian kalangan muda juga punya rasa memiliki terhadap banjar di lingkungannya.

Sepeda saya kirim ke jakarta melalui perusahaan ekspedisi di Pertokoan Jalan Diponegoro. Dari situ saya berjalan kaki ke Terminal Ubung. Cukup Jauh, tapi karena berniat tidak naik kendaraan selain sepeda selama di bali, kecuali bis datang dan pergi.

Ditengah persaingan tiket pesawat terbang, ternyata pengguna bis tidak berkurang. Hari ini bis yang saya naiki tetap penuh, dan ada dua bis lagi dengan tujuan Jakarta.

Sepanjang Denpasar – Gilimanuk peta Bali saya pegang ditangan. Ada beberapa spot yang indah disepanjang jalan ini. Persimpangan jalan arah ke Pupuan juga saya coba tandai, karena suatu saat jalan ini akan saya coba lewati…

Tidak dengan sepeda tentunya…

Dari peta, jarak antara Amed-Amlapura seharusnya kurang dari 25km. Namun bisa terbaca bahwa kontur jalur ini adalah melipir bukit Seraya. Dan benar saja, di perjalanan ini berkali-kali saya harus melalui jalan turun, yang diujungnya merupakan sungai mati, yang sebetulnya adalah dasar lembah diantara dua punggungan. Dan kemudian diikuti belok tajam untuk kemudian menanjak menuju puncak punggungan lagi. Berkali-kali menghadapi medan seperti ini tenaga dengan cepat terkuras habis. Energy bar tidak bisa memberikan tambahan tenaga terlalu banyak.

Huf…huff…huff…gir depan saya set ukuran paling kecil dan gir belakang diameter paling besar, tapi masih saja tanjakan ini terasa berat dilalui. Beberapa kali saya melirik ban belakang, dan hasilnya semua baik-baik saja. Akhirnya sepeda beberapa kali harus saya dorong untuk mencapai puncak tanjakan.

Kondisi jalanan seperti itu masih dilengkapi dengan cuaca panas sepanjang setengah perjalanan. Angin sering bertiup searah dan dengan kecepatan yang sama dengan sepeda. Mungkin daerah ini termasuk daerah yang berada di bayang-bayang hujan, di mana uap air sudah jatuh menjadi hujan dibalik perbukitan sebelum mencapai daerah ini. Mungkin karena itu juga “Tirtagangga” berada dibalik bukit ini.

Perasaan ini juga yang saya alami ketika melalui tanjakan di jalur Jonggol. Ketika beban yang secara absolut tetap sama, tapi karena stamina yang menurun, maka rasanya beban yang harus di hela menjadi berlipat-lipat.

Kalo dalam keadaan begini, biasaya saya mulai bertanya-tanya; ngapain juga susah-susah bersepeda. Mungkin ini saatnya untuk kembali mensitasi ucapannya Mallory:”because it’s there”. Otak jail saya selalu bilang bahwa ucapan Mallory sebetulnya tidak berhenti disitu, sebetulnya dia bilang “because it’s there, and now LEAVE ME ALONE!!” wajar dong, orang baru cape turun dari Everest, kok ditanya kenapa mendaki everest.

Melalui jalur ini, siksaan tidak hanya berupa cobaan fisik. Saat melewati sebuah perkampungan, tercium bau terasi bakar! Aromanya begitu sampai di syaraf penciuman langsung memberi perintah kepada perut untuk keroncongan. Repotnya, tidak ada warung nasi disekitar perkampungan itu. Tampaknya orang yang membakar terasi hanya untuk dikonsumsi sendiri.

Setelah pukul 14, cuaca mulai bersahabat, mendung yang disusul hujan rintik-rintik membantu mendinginkan suhu tubuh. Ketika hujan mulai bertambah lebat, beberapa sungai yang mati mulai dialiri air. Karena jarangnya hujan di pantai timur ini, maka umumnya tidak dibangun jembatan untuk menyeberangi sungai. Jalanan dibuat untuk bisa dialiri air saat hujan dan kendaraan harus lewat aliran air sungai.

“Sekolah Dasar Negeri Seraya” Plang sekolah ini membuat saya tersenyum. Karena berarti saya sudah mendekati Amlapura.

Jalanan kembali relatif lurus dan menurun, sampai bertemu dengan “Taman Air Ujung”. Sawah di perbukitan masih menemani sampai akhirnya memasuki kota Amlapura.
Menurut LP, Homestay Lila di Abian Soan biasa digunakan sebagai tempat menginap kalau mau melakukan ekplorasi disekitar kaki Gunung Agung. Malam ini saya berencana untuk bisa mencapai penginapan ini. Ditengah hujan gerimis, ternyata saya sudah melewati Abian Soya, dan mencapai Bebandem, terpaksa saya kembali sekitar 2 km untuk menemukan Homestay Lila di Abian Soan.

Ternyata Homestay Lila sudah lama tidak menerima tamu. Ada dua kamar yang disewakan. Semuanya dalam kondisi kurang terawat. Justru pengelolanya menyarankan untuk menginap di Kemang Remaja, empat kilometer dari Abian Soya. Jadilah kembali ke Amlapura.

Kemang Remaja lebih seperti penginapan pengemudi kendaraan antar kota. Losmen ini punya kamar yang berdekatan dengan tempat parkir mobil, dan kamar-kamar yang mengitari taman didalam rumah. Kamarnya sangat basic, dengan coretan-coretan di dinding kamar. Kamar mandinya cukup bersih, dan karena letak Amlapura yang dikaki bukit, airnya sangat menyegarkan.

26 Desember 2004: Amlapura – Rendang – Ubud

Saya mengulang 6 km perjalanan menanjak. Tapi tak apa, karena pagi ini cuaca cerah dan pemandangan layak sekali untuk dinikmati. Apalagi disebelah kanan saya ditemani Gunung Agung, yang kemarin sore disembunyikan oleh awan.

Rute melalui Rendang oleh Lonely Planet direkomendasikan untuk dilalui dari arah barat ke timur, karena jalanannya relative menurun. Mereka menyebut rute ini sebagai “Scenic road”. Tapi terus terang, mungkin untuk orang Indonesia yang cukup sering melihat sawah dan gunung, rute ini tidak terlalu luar biasa.
Yang malah menarik adalah, jalur jalanan ini melalui desa-desa kecil tradisional Bali, dimana “pusat desa” yang bisanya berupa pertempatan, terdapat pohon beringin besar. Karena belum terlalu siang, maka biasanya kegiatan masyarakat di pasar masih belum selesai. Beberapa pura juga masih menggunakan ijuk yang ditumpuk tebal sebagai atapnya.
Di jalur ini banyak ditemui pengrajin batu, yang membelah batu gunung menjadi kepingan-kepingan kecil.

Saya beruntung melewati jalur ini dengan sepeda. Dengan kendaraan yang nyaris tanpa suara ini, dibeberapa tempat ketika melalui Banjar, terdengar sayup-sayup warga banjar yang sedang berlatih gamelan.

Mencapai Rendang dari timur ke barat(kebalikan dari rekomendasi LP) cukup melelahkan. Tanjakan yang konstan, dengan beberapa kali perjalanan memotong punggungan. Mendekati Rendang, mulai terlihat truk pengangkut batu dan pasir.

Lewat di salah satu jembatan saya bisa mendengar gemericik air dari sungai dibawahnya. Tidak tahan lagi, saya menurunkan sepeda saya melalui jalan kecil dipinggir jembatan untuk kemudian mencuci baju dan berendam di sungai.

Untuk meringankan beban, saya memang hanya membawa 3 buah baju. Dua saya pakai bergantian dan satu pertahankan tetap bersih.

Lepas dari Rendang, perjalanan dilanjutkan menuju Bangli via Cempaga. Dari sana selesai sudah jalur naik turun bukit, sekarang jalanan relatif menurun kearah Gianyar.

Di perjalanan tampak sebuah plang “Menyewakan Babi Jantan”-What a job for a male!

Tiba di Ubud, butuh sejenak untuk mengembalikan orientasi. Dari ingatan tahun 96 terakhir mengunjungi Ubud, ternyata hanya kios Pasar Ubud yang masih terlihat sama. Sisanya sudah sama sekali berubah. Jalan utama didepan pasar ubud dipasangi paving blok. Dimana-mana toko.

Atas rekomendasi seorang teman, maka saya melanjutkan perjalanan ke Penestanan Kaja. Kalau menggunakan kendaraan bermotor, maka Penestanan dapat dicapai melalui jalan sesudah Musium Blanco menuju Sayan. Tapi juga ada tangga didepan Hotel Campuan. Tepat dibawah tangga terdapat parkiran motor dan plang yang berisi nama bungalow di Penestanan Kaja. Dengan akses yang tidak terlalu mudah ini, Penestanan Kaja menjadi semacam enclave bungalow.

Yang pertama kita temui tepat sesudah tangga adalah Warung Bu Putu. Lepas dari sana, kita sudah berada ditengah sawah yang diselingi bungalow-bungalow.

Santra Putra milik Pak I Wayan Sadra memiliki 4 bangunan, masing-masing digunakan untuk galeri, rumah utama, dan dua bungalow yang disewakan. Masing-masing bangunan bungalow memiliki dua lantai yang disewakan secara terpisah. Dimasing-masing lantai terdiri atas kamar utama, kamar mandi, dan dapur kecil.

Pembangunan bungalow di Penestanan agak mengkhawatirkan. Ketika beberapa bungalow terlihat tidak lagi dioperasikan, orang masih membangun bungalow baru. Mungkin sebentar lagi pernyataan “ricefield view bungalow” harus menjadi “other bungalow view”.

27 Desember 2004: Ubud

Hari ini sedianya saya memulihkan kekuatan dengkul. Sendi lutut kanan saya mulai terasa sakit untuk gerakan tertentu. Tapi kok gambaran persawahan disekitar Ubud lebih menggoda. Akhirnya saya berkeliling disekitar Ubud.

Seorang teman menyarankan untuk menghabiskan sore di Petulu, dimana ribuan Heron Bird(Burung Kuntul)akan pulang ke kandang. Pemandangan yang spektakuler, namun arah Petulu ini adalah punggungan bukit, yang hampir pasti perjalanan kesana menanjak. Saya tunda dulu rencana itu.

Berkeliling disekitar Campuan saya menyempatkan untuk sekedar melihat pintu masuk Amandari. Dari luar tidak tampak sesuatu yang istimewa. Hanya jalan masuk seperti jalan kampung, dengan sebuah tugu bertuliskan Amandari. Kalau dalamnya? Cukup lihat buku Bali-nya Rio Helmi saja lah….

Berjalan kaki dari Penestanan ke Pasar Ubud melalui Campuan ternyata membuat dengkul kembali berulah.

28 Desember 2004: Ubud

Hari ini, pagi-pagi dibangunkan oleh hujan. Hari ini memaksakan untuk tinggal di penginapan dan berisitirahat. Buku Boy dan Going Solo-nya Roald Dahl dibaca untuk kedua kalinya.

Beruntung membawa kompor lapangan, karena saya bisa memasak sarapan dan makan siang di kamar. Kemarin sore saya sempatkan untuk berbelanja makaroni dan roti di supermarket “Bintang”.

Jumlah ekspatriat yang tinggal di Ubud ternyata cukup ekonomis untuk membuka supermarket dengan kualitas barang yang setara dengan Hero di Kemang Jakarta, dengan koleksi cheese & wine yang kelihatannya lebih lengkap dari Hero Kemang.
Praktis hanya ada dua warung di Penestanan Kaja, rasa makanan Indonesianya terasa biasa sekali.

29 Desember 2004: Ubud – Kuta

Saya meninggalkan Ubud pukul 9.00. Saya turun ke Denpasar melalui Sayan, karena jalur ini lebih sepi. Hujan yang mengguyur membuat jalanan beberapa tempat digenangi air.

Di Celuk saya sempatkan berhenti sebentar untuk membeli oleh-oleh. Tempat ini terkenal sebagai pengrajin perak. Namun pengalaman tawar-menawar ditoko pertama membuat saya bingung tentang nilai sebenarnya dari perhiasan tersebut.

Setelah diperhatikan, ternyata gerakan yang membuat dengkul saya sakit adalah jika lutut saya dibengkokkan untuk melangkahi sepeda ketika akan naik pertama kali. Hari ini saya mulai kebiasaan baru, yaitu kaki diayun dalam posisi lurus saat melangkahi sepeda. Ternyata dengan ini rasa sakit di tempurung dengkul tidak muncul lagi.

Ingatan saya akan Kuta tidak berguna sama sekali. Saya beberapa kali kehilangan orientasi, sampai akhirnya harus bertanya dimana jalan bakung sari.

Saya menginap di Bamboo Inn di Jalan Bakungsari, karena saya tahu persis penginapan ini ditangani langsung oleh pemiliknya. Karena penuh, saya mendapat kamar dengan kamar mandi luar dengan tarif Rp60,000 semalam. Penginapan berbeda dengan penginapan di Kuta umumnya. Ketika penginapan lain ikut hingar bingar, disini sang pemilik menyatakan dengan terus terang kalau dia tidak suka kalau ada tamu yang terlalu berisik.

Kuta tidak menjual Bali. Mungkin terlalu menyederhanakan dan berlebihan, tapi apa yang dijual di Kuta memang tidak berhubungan dengan Bali.Yang sisa hanya orang beraksen Bali. Dan atmosfir ini yang perlahan terdorong sampai ke Ubud.

30 Desember 2004: Kuta

Hari ini saya bersepeda ke Denpasar untuk membeli tiket bus dan memastikan pengiriman sepeda ke jakarta.

Denpasar kota tidak terlalu bersahabat dengan sepeda. Daerah jalan dipusat kota Denpasar banyak dibuat satu arah, sehingga arus kendaraan praktis tanpa jeda. Sepeda motor rules the street.

Setelah itu saya melakukan eksplorasi ke utara kuta; seminyak dan krobokan.

Daerah utara kuta jauh lebih bisa dinikmati, karena bersih dan tidak terlalu padat. Tetapi untuk pilihan makanan dan penginapan murah memang tidak terlalu banyak.

31 Desember 2004: Kuta – Denpasar

Bus tujuan jakarta berangkat dari Ubung pk 15.00. Saya keluar penginapan sekitar pk. 10 dan melewati jalan pantai kuta agar bisa mengambil gambar sepeda di pinggir pantai.

Ketika melewati legian, saya cukup kaget ketika melihat sebuah banjar yang sedang disiapkan untuk pesta malam tahun baru, lengkap dengan rotary lamp á la diskotik. Saya sangat kagum, karena dengan demikian kalangan muda juga punya rasa memiliki terhadap banjar di lingkungannya.

Sepeda saya kirim ke jakarta melalui perusahaan ekspedisi di Pertokoan Jalan Diponegoro. Dari situ saya berjalan kaki ke Terminal Ubung. Cukup Jauh, tapi karena berniat tidak naik kendaraan selain sepeda selama di bali, kecuali bis datang dan pergi.

Ditengah persaingan tiket pesawat terbang, ternyata pengguna bis tidak berkurang. Hari ini bis yang saya naiki tetap penuh, dan ada dua bis lagi dengan tujuan Jakarta.

Sepanjang Denpasar – Gilimanuk peta Bali saya pegang ditangan. Ada beberapa spot yang indah disepanjang jalan ini. Persimpangan jalan arah ke Pupuan juga saya coba tandai, karena suatu saat jalan ini akan saya coba lewati…

Tidak dengan sepeda tentunya…

Kuta tidak menjual Bali. Mungkin terlalu menyederhanakan dan berlebihan, tapi apa yang dijual di Kuta memang tidak berhubungan dengan Bali.Yang sisa hanya orang beraksen Bali. Dan atmosfir ini yang perlahan terdorong sampai ke Ubud.

30 Desember 2004: Kuta

Hari ini saya bersepeda ke Denpasar untuk membeli tiket bus dan memastikan pengiriman sepeda ke jakarta.

Denpasar kota tidak terlalu bersahabat dengan sepeda. Daerah jalan dipusat kota Denpasar banyak dibuat satu arah, sehingga arus kendaraan praktis tanpa jeda. Sepeda motor rules the street.

Setelah itu saya melakukan eksplorasi ke utara kuta; seminyak dan krobokan.

Daerah utara kuta jauh lebih bisa dinikmati, karena bersih dan tidak terlalu padat. Tetapi untuk pilihan makanan dan penginapan murah memang tidak terlalu banyak.

31 Desember 2004: Kuta – Denpasar

Bus tujuan jakarta berangkat dari Ubung pk 15.00. Saya keluar penginapan sekitar pk. 10 dan melewati jalan pantai kuta agar bisa mengambil gambar sepeda di pinggir pantai.

Ketika melewati legian, saya cukup kaget ketika melihat sebuah banjar yang sedang disiapkan untuk pesta malam tahun baru, lengkap dengan rotary lamp á la diskotik. Saya sangat kagum, karena dengan demikian kalangan muda juga punya rasa memiliki terhadap banjar di lingkungannya.

Sepeda saya kirim ke jakarta melalui perusahaan ekspedisi di Pertokoan Jalan Diponegoro. Dari situ saya berjalan kaki ke Terminal Ubung. Cukup Jauh, tapi karena berniat tidak naik kendaraan selain sepeda selama di bali, kecuali bis datang dan pergi.

Ditengah persaingan tiket pesawat terbang, ternyata pengguna bis tidak berkurang. Hari ini bis yang saya naiki tetap penuh, dan ada dua bis lagi dengan tujuan Jakarta.

Sepanjang Denpasar – Gilimanuk peta Bali saya pegang ditangan. Ada beberapa spot yang indah disepanjang jalan ini. Persimpangan jalan arah ke Pupuan juga saya coba tandai, karena suatu saat jalan ini akan saya coba lewati…

Tidak dengan sepeda tentunya…

Kuta tidak menjual Bali. Mungkin terlalu menyederhanakan dan berlebihan, tapi apa yang dijual di Kuta memang tidak berhubungan dengan Bali.Yang sisa hanya orang beraksen Bali. Dan atmosfir ini yang perlahan terdorong sampai ke Ubud.

30 Desember 2004: Kuta

Hari ini saya bersepeda ke Denpasar untuk membeli tiket bus dan memastikan pengiriman sepeda ke jakarta.

Denpasar kota tidak terlalu bersahabat dengan sepeda. Daerah jalan dipusat kota Denpasar banyak dibuat satu arah, sehingga arus kendaraan praktis tanpa jeda. Sepeda motor rules the street.

Setelah itu saya melakukan eksplorasi ke utara kuta; seminyak dan krobokan.

Daerah utara kuta jauh lebih bisa dinikmati, karena bersih dan tidak terlalu padat. Tetapi untuk pilihan makanan dan penginapan murah memang tidak terlalu banyak.

31 Desember 2004: Kuta – Denpasar

Bus tujuan jakarta berangkat dari Ubung pk 15.00. Saya keluar penginapan sekitar pk. 10 dan melewati jalan pantai kuta agar bisa mengambil gambar sepeda di pinggir pantai.

Ketika melewati legian, saya cukup kaget ketika melihat sebuah banjar yang sedang disiapkan untuk pesta malam tahun baru, lengkap dengan rotary lamp á la diskotik. Saya sangat kagum, karena dengan demikian kalangan muda juga punya rasa memiliki terhadap banjar di lingkungannya.

Sepeda saya kirim ke jakarta melalui perusahaan ekspedisi di Pertokoan Jalan Diponegoro. Dari situ saya berjalan kaki ke Terminal Ubung. Cukup Jauh, tapi karena berniat tidak naik kendaraan selain sepeda selama di bali, kecuali bis datang dan pergi.

Ditengah persaingan tiket pesawat terbang, ternyata pengguna bis tidak berkurang. Hari ini bis yang saya naiki tetap penuh, dan ada dua bis lagi dengan tujuan Jakarta.

Sepanjang Denpasar – Gilimanuk peta Bali saya pegang ditangan. Ada beberapa spot yang indah disepanjang jalan ini. Persimpangan jalan arah ke Pupuan juga saya coba tandai, karena suatu saat jalan ini akan saya coba lewati…

Tidak dengan sepeda tentunya…

Kuta tidak menjual Bali. Mungkin terlalu menyederhanakan dan berlebihan, tapi apa yang dijual di Kuta memang tidak berhubungan dengan Bali.Yang sisa hanya orang beraksen Bali. Dan atmosfir ini yang perlahan terdorong sampai ke Ubud.

30 Desember 2004: Kuta

Hari ini saya bersepeda ke Denpasar untuk membeli tiket bus dan memastikan pengiriman sepeda ke jakarta.

Denpasar kota tidak terlalu bersahabat dengan sepeda. Daerah jalan dipusat kota Denpasar banyak dibuat satu arah, sehingga arus kendaraan praktis tanpa jeda. Sepeda motor rules the street.

Setelah itu saya melakukan eksplorasi ke utara kuta; seminyak dan krobokan.

Daerah utara kuta jauh lebih bisa dinikmati, karena bersih dan tidak terlalu padat. Tetapi untuk pilihan makanan dan penginapan murah memang tidak terlalu banyak.

31 Desember 2004: Kuta – Denpasar

Bus tujuan jakarta berangkat dari Ubung pk 15.00. Saya keluar penginapan sekitar pk. 10 dan melewati jalan pantai kuta agar bisa mengambil gambar sepeda di pinggir pantai.

Ketika melewati legian, saya cukup kaget ketika melihat sebuah banjar yang sedang disiapkan untuk pesta malam tahun baru, lengkap dengan rotary lamp á la diskotik. Saya sangat kagum, karena dengan demikian kalangan muda juga punya rasa memiliki terhadap banjar di lingkungannya.

Sepeda saya kirim ke jakarta melalui perusahaan ekspedisi di Pertokoan Jalan Diponegoro. Dari situ saya berjalan kaki ke Terminal Ubung. Cukup Jauh, tapi karena berniat tidak naik kendaraan selain sepeda selama di bali, kecuali bis datang dan pergi.

Ditengah persaingan tiket pesawat terbang, ternyata pengguna bis tidak berkurang. Hari ini bis yang saya naiki tetap penuh, dan ada dua bis lagi dengan tujuan Jakarta.

Sepanjang Denpasar – Gilimanuk peta Bali saya pegang ditangan. Ada beberapa spot yang indah disepanjang jalan ini. Persimpangan jalan arah ke Pupuan juga saya coba tandai, karena suatu saat jalan ini akan saya coba lewati…

Tidak dengan sepeda tentunya…

Kuta tidak menjual Bali. Mungkin terlalu menyederhanakan dan berlebihan, tapi apa yang dijual di Kuta memang tidak berhubungan dengan Bali.Yang sisa hanya orang beraksen Bali. Dan atmosfir ini yang perlahan terdorong sampai ke Ubud.

30 Desember 2004: Kuta

Hari ini saya bersepeda ke Denpasar untuk membeli tiket bus dan memastikan pengiriman sepeda ke jakarta.

Denpasar kota tidak terlalu bersahabat dengan sepeda. Daerah jalan dipusat kota Denpasar banyak dibuat satu arah, sehingga arus kendaraan praktis tanpa jeda. Sepeda motor rules the street.

Setelah itu saya melakukan eksplorasi ke utara kuta; seminyak dan krobokan.

Daerah utara kuta jauh lebih bisa dinikmati, karena bersih dan tidak terlalu padat. Tetapi untuk pilihan makanan dan penginapan murah memang tidak terlalu banyak.

31 Desember 2004: Kuta – Denpasar

Bus tujuan jakarta berangkat dari Ubung pk 15.00. Saya keluar penginapan sekitar pk. 10 dan melewati jalan pantai kuta agar bisa mengambil gambar sepeda di pinggir pantai.

Ketika melewati legian, saya cukup kaget ketika melihat sebuah banjar yang sedang disiapkan untuk pesta malam tahun baru, lengkap dengan rotary lamp á la diskotik. Saya sangat kagum, karena dengan demikian kalangan muda juga punya rasa memiliki terhadap banjar di lingkungannya.

Sepeda saya kirim ke jakarta melalui perusahaan ekspedisi di Pertokoan Jalan Diponegoro. Dari situ saya berjalan kaki ke Terminal Ubung. Cukup Jauh, tapi karena berniat tidak naik kendaraan selain sepeda selama di bali, kecuali bis datang dan pergi.

Ditengah persaingan tiket pesawat terbang, ternyata pengguna bis tidak berkurang. Hari ini bis yang saya naiki tetap penuh, dan ada dua bis lagi dengan tujuan Jakarta.

Sepanjang Denpasar – Gilimanuk peta Bali saya pegang ditangan. Ada beberapa spot yang indah disepanjang jalan ini. Persimpangan jalan arah ke Pupuan juga saya coba tandai, karena suatu saat jalan ini akan saya coba lewati…

Tidak dengan sepeda tentunya…

Kuta tidak menjual Bali. Mungkin terlalu menyederhanakan dan berlebihan, tapi apa yang dijual di Kuta memang tidak berhubungan dengan Bali.Yang sisa hanya orang beraksen Bali. Dan atmosfir ini yang perlahan terdorong sampai ke Ubud.

30 Desember 2004: Kuta

Hari ini saya bersepeda ke Denpasar untuk membeli tiket bus dan memastikan pengiriman sepeda ke jakarta.

Denpasar kota tidak terlalu bersahabat dengan sepeda. Daerah jalan dipusat kota Denpasar banyak dibuat satu arah, sehingga arus kendaraan praktis tanpa jeda. Sepeda motor rules the street.

Setelah itu saya melakukan eksplorasi ke utara kuta; seminyak dan krobokan.

Daerah utara kuta jauh lebih bisa dinikmati, karena bersih dan tidak terlalu padat. Tetapi untuk pilihan makanan dan penginapan murah memang tidak terlalu banyak.

31 Desember 2004: Kuta – Denpasar

Bus tujuan jakarta berangkat dari Ubung pk 15.00. Saya keluar penginapan sekitar pk. 10 dan melewati jalan pantai kuta agar bisa mengambil gambar sepeda di pinggir pantai.

Ketika melewati legian, saya cukup kaget ketika melihat sebuah banjar yang sedang disiapkan untuk pesta malam tahun baru, lengkap dengan rotary lamp á la diskotik. Saya sangat kagum, karena dengan demikian kalangan muda juga punya rasa memiliki terhadap banjar di lingkungannya.

Sepeda saya kirim ke jakarta melalui perusahaan ekspedisi di Pertokoan Jalan Diponegoro. Dari situ saya berjalan kaki ke Terminal Ubung. Cukup Jauh, tapi karena berniat tidak naik kendaraan selain sepeda selama di bali, kecuali bis datang dan pergi.

Ditengah persaingan tiket pesawat terbang, ternyata pengguna bis tidak berkurang. Hari ini bis yang saya naiki tetap penuh, dan ada dua bis lagi dengan tujuan Jakarta.

Sepanjang Denpasar – Gilimanuk peta Bali saya pegang ditangan. Ada beberapa spot yang indah disepanjang jalan ini. Persimpangan jalan arah ke Pupuan juga saya coba tandai, karena suatu saat jalan ini akan saya coba lewati…

Tidak dengan sepeda tentunya…

Kuta tidak menjual Bali. Mungkin terlalu menyederhanakan dan berlebihan, tapi apa yang dijual di Kuta memang tidak berhubungan dengan Bali.Yang sisa hanya orang beraksen Bali. Dan atmosfir ini yang perlahan terdorong sampai ke Ubud.

30 Desember 2004: Kuta

Hari ini saya bersepeda ke Denpasar untuk membeli tiket bus dan memastikan pengiriman sepeda ke jakarta.

Denpasar kota tidak terlalu bersahabat dengan sepeda. Daerah jalan dipusat kota Denpasar banyak dibuat satu arah, sehingga arus kendaraan praktis tanpa jeda. Sepeda motor rules the street.

Setelah itu saya melakukan eksplorasi ke utara kuta; seminyak dan krobokan.

Daerah utara kuta jauh lebih bisa dinikmati, karena bersih dan tidak terlalu padat. Tetapi untuk pilihan makanan dan penginapan murah memang tidak terlalu banyak.

31 Desember 2004: Kuta – Denpasar

Bus tujuan jakarta berangkat dari Ubung pk 15.00. Saya keluar penginapan sekitar pk. 10 dan melewati jalan pantai kuta agar bisa mengambil gambar sepeda di pinggir pantai.

Ketika melewati legian, saya cukup kaget ketika melihat sebuah banjar yang sedang disiapkan untuk pesta malam tahun baru, lengkap dengan rotary lamp á la diskotik. Saya sangat kagum, karena dengan demikian kalangan muda juga punya rasa memiliki terhadap banjar di lingkungannya.

Sepeda saya kirim ke jakarta melalui perusahaan ekspedisi di Pertokoan Jalan Diponegoro. Dari situ saya berjalan kaki ke Terminal Ubung. Cukup Jauh, tapi karena berniat tidak naik kendaraan selain sepeda selama di bali, kecuali bis datang dan pergi.

Ditengah persaingan tiket pesawat terbang, ternyata pengguna bis tidak berkurang. Hari ini bis yang saya naiki tetap penuh, dan ada dua bis lagi dengan tujuan Jakarta.

Sepanjang Denpasar – Gilimanuk peta Bali saya pegang ditangan. Ada beberapa spot yang indah disepanjang jalan ini. Persimpangan jalan arah ke Pupuan juga saya coba tandai, karena suatu saat jalan ini akan saya coba lewati…

Tidak dengan sepeda tentunya…

Dari peta, jarak antara Amed-Amlapura seharusnya kurang dari 25km. Namun bisa terbaca bahwa kontur jalur ini adalah melipir bukit Seraya. Dan benar saja, di perjalanan ini berkali-kali saya harus melalui jalan turun, yang diujungnya merupakan sungai mati, yang sebetulnya adalah dasar lembah diantara dua punggungan. Dan kemudian diikuti belok tajam untuk kemudian menanjak menuju puncak punggungan lagi. Berkali-kali menghadapi medan seperti ini tenaga dengan cepat terkuras habis. Energy bar tidak bisa memberikan tambahan tenaga terlalu banyak.

Huf…huff…huff…gir depan saya set ukuran paling kecil dan gir belakang diameter paling besar, tapi masih saja tanjakan ini terasa berat dilalui. Beberapa kali saya melirik ban belakang, dan hasilnya semua baik-baik saja. Akhirnya sepeda beberapa kali harus saya dorong untuk mencapai puncak tanjakan.

Kondisi jalanan seperti itu masih dilengkapi dengan cuaca panas sepanjang setengah perjalanan. Angin sering bertiup searah dan dengan kecepatan yang sama dengan sepeda. Mungkin daerah ini termasuk daerah yang berada di bayang-bayang hujan, di mana uap air sudah jatuh menjadi hujan dibalik perbukitan sebelum mencapai daerah ini. Mungkin karena itu juga “Tirtagangga” berada dibalik bukit ini.

Perasaan ini juga yang saya alami ketika melalui tanjakan di jalur Jonggol. Ketika beban yang secara absolut tetap sama, tapi karena stamina yang menurun, maka rasanya beban yang harus di hela menjadi berlipat-lipat.

Kalo dalam keadaan begini, biasaya saya mulai bertanya-tanya; ngapain juga susah-susah bersepeda. Mungkin ini saatnya untuk kembali mensitasi ucapannya Mallory:”because it’s there”. Otak jail saya selalu bilang bahwa ucapan Mallory sebetulnya tidak berhenti disitu, sebetulnya dia bilang “because it’s there, and now LEAVE ME ALONE!!” wajar dong, orang baru cape turun dari Everest, kok ditanya kenapa mendaki everest.

Melalui jalur ini, siksaan tidak hanya berupa cobaan fisik. Saat melewati sebuah perkampungan, tercium bau terasi bakar! Aromanya begitu sampai di syaraf penciuman langsung memberi perintah kepada perut untuk keroncongan. Repotnya, tidak ada warung nasi disekitar perkampungan itu. Tampaknya orang yang membakar terasi hanya untuk dikonsumsi sendiri.

Setelah pukul 14, cuaca mulai bersahabat, mendung yang disusul hujan rintik-rintik membantu mendinginkan suhu tubuh. Ketika hujan mulai bertambah lebat, beberapa sungai yang mati mulai dialiri air. Karena jarangnya hujan di pantai timur ini, maka umumnya tidak dibangun jembatan untuk menyeberangi sungai. Jalanan dibuat untuk bisa dialiri air saat hujan dan kendaraan harus lewat aliran air sungai.

“Sekolah Dasar Negeri Seraya” Plang sekolah ini membuat saya tersenyum. Karena berarti saya sudah mendekati Amlapura.

Jalanan kembali relatif lurus dan menurun, sampai bertemu dengan “Taman Air Ujung”. Sawah di perbukitan masih menemani sampai akhirnya memasuki kota Amlapura.
Menurut LP, Homestay Lila di Abian Soan biasa digunakan sebagai tempat menginap kalau mau melakukan ekplorasi disekitar kaki Gunung Agung. Malam ini saya berencana untuk bisa mencapai penginapan ini. Ditengah hujan gerimis, ternyata saya sudah melewati Abian Soya, dan mencapai Bebandem, terpaksa saya kembali sekitar 2 km untuk menemukan Homestay Lila di Abian Soan.

Ternyata Homestay Lila sudah lama tidak menerima tamu. Ada dua kamar yang disewakan. Semuanya dalam kondisi kurang terawat. Justru pengelolanya menyarankan untuk menginap di Kemang Remaja, empat kilometer dari Abian Soya. Jadilah kembali ke Amlapura.

Kemang Remaja lebih seperti penginapan pengemudi kendaraan antar kota. Losmen ini punya kamar yang berdekatan dengan tempat parkir mobil, dan kamar-kamar yang mengitari taman didalam rumah. Kamarnya sangat basic, dengan coretan-coretan di dinding kamar. Kamar mandinya cukup bersih, dan karena letak Amlapura yang dikaki bukit, airnya sangat menyegarkan.

26 Desember 2004: Amlapura – Rendang – Ubud

Saya mengulang 6 km perjalanan menanjak. Tapi tak apa, karena pagi ini cuaca cerah dan pemandangan layak sekali untuk dinikmati. Apalagi disebelah kanan saya ditemani Gunung Agung, yang kemarin sore disembunyikan oleh awan.

Rute melalui Rendang oleh Lonely Planet direkomendasikan untuk dilalui dari arah barat ke timur, karena jalanannya relative menurun. Mereka menyebut rute ini sebagai “Scenic road”. Tapi terus terang, mungkin untuk orang Indonesia yang cukup sering melihat sawah dan gunung, rute ini tidak terlalu luar biasa.
Yang malah menarik adalah, jalur jalanan ini melalui desa-desa kecil tradisional Bali, dimana “pusat desa” yang bisanya berupa pertempatan, terdapat pohon beringin besar. Karena belum terlalu siang, maka biasanya kegiatan masyarakat di pasar masih belum selesai. Beberapa pura juga masih menggunakan ijuk yang ditumpuk tebal sebagai atapnya.
Di jalur ini banyak ditemui pengrajin batu, yang membelah batu gunung menjadi kepingan-kepingan kecil.

Saya beruntung melewati jalur ini dengan sepeda. Dengan kendaraan yang nyaris tanpa suara ini, dibeberapa tempat ketika melalui Banjar, terdengar sayup-sayup warga banjar yang sedang berlatih gamelan.

Mencapai Rendang dari timur ke barat(kebalikan dari rekomendasi LP) cukup melelahkan. Tanjakan yang konstan, dengan beberapa kali perjalanan memotong punggungan. Mendekati Rendang, mulai terlihat truk pengangkut batu dan pasir.

Lewat di salah satu jembatan saya bisa mendengar gemericik air dari sungai dibawahnya. Tidak tahan lagi, saya menurunkan sepeda saya melalui jalan kecil dipinggir jembatan untuk kemudian mencuci baju dan berendam di sungai.

Untuk meringankan beban, saya memang hanya membawa 3 buah baju. Dua saya pakai bergantian dan satu pertahankan tetap bersih.

Lepas dari Rendang, perjalanan dilanjutkan menuju Bangli via Cempaga. Dari sana selesai sudah jalur naik turun bukit, sekarang jalanan relatif menurun kearah Gianyar.

Di perjalanan tampak sebuah plang “Menyewakan Babi Jantan”-What a job for a male!

Tiba di Ubud, butuh sejenak untuk mengembalikan orientasi. Dari ingatan tahun 96 terakhir mengunjungi Ubud, ternyata hanya kios Pasar Ubud yang masih terlihat sama. Sisanya sudah sama sekali berubah. Jalan utama didepan pasar ubud dipasangi paving blok. Dimana-mana toko.

Atas rekomendasi seorang teman, maka saya melanjutkan perjalanan ke Penestanan Kaja. Kalau menggunakan kendaraan bermotor, maka Penestanan dapat dicapai melalui jalan sesudah Musium Blanco menuju Sayan. Tapi juga ada tangga didepan Hotel Campuan. Tepat dibawah tangga terdapat parkiran motor dan plang yang berisi nama bungalow di Penestanan Kaja. Dengan akses yang tidak terlalu mudah ini, Penestanan Kaja menjadi semacam enclave bungalow.

Yang pertama kita temui tepat sesudah tangga adalah Warung Bu Putu. Lepas dari sana, kita sudah berada ditengah sawah yang diselingi bungalow-bungalow.

Santra Putra milik Pak I Wayan Sadra memiliki 4 bangunan, masing-masing digunakan untuk galeri, rumah utama, dan dua bungalow yang disewakan. Masing-masing bangunan bungalow memiliki dua lantai yang disewakan secara terpisah. Dimasing-masing lantai terdiri atas kamar utama, kamar mandi, dan dapur kecil.

Pembangunan bungalow di Penestanan agak mengkhawatirkan. Ketika beberapa bungalow terlihat tidak lagi dioperasikan, orang masih membangun bungalow baru. Mungkin sebentar lagi pernyataan “ricefield view bungalow” harus menjadi “other bungalow view”.

27 Desember 2004: Ubud

Hari ini sedianya saya memulihkan kekuatan dengkul. Sendi lutut kanan saya mulai terasa sakit untuk gerakan tertentu. Tapi kok gambaran persawahan disekitar Ubud lebih menggoda. Akhirnya saya berkeliling disekitar Ubud.

Seorang teman menyarankan untuk menghabiskan sore di Petulu, dimana ribuan Heron Bird(Burung Kuntul)akan pulang ke kandang. Pemandangan yang spektakuler, namun arah Petulu ini adalah punggungan bukit, yang hampir pasti perjalanan kesana menanjak. Saya tunda dulu rencana itu.

Berkeliling disekitar Campuan saya menyempatkan untuk sekedar melihat pintu masuk Amandari. Dari luar tidak tampak sesuatu yang istimewa. Hanya jalan masuk seperti jalan kampung, dengan sebuah tugu bertuliskan Amandari. Kalau dalamnya? Cukup lihat buku Bali-nya Rio Helmi saja lah….

Berjalan kaki dari Penestanan ke Pasar Ubud melalui Campuan ternyata membuat dengkul kembali berulah.

28 Desember 2004: Ubud

Hari ini, pagi-pagi dibangunkan oleh hujan. Hari ini memaksakan untuk tinggal di penginapan dan berisitirahat. Buku Boy dan Going Solo-nya Roald Dahl dibaca untuk kedua kalinya.

Beruntung membawa kompor lapangan, karena saya bisa memasak sarapan dan makan siang di kamar. Kemarin sore saya sempatkan untuk berbelanja makaroni dan roti di supermarket “Bintang”.

Jumlah ekspatriat yang tinggal di Ubud ternyata cukup ekonomis untuk membuka supermarket dengan kualitas barang yang setara dengan Hero di Kemang Jakarta, dengan koleksi cheese & wine yang kelihatannya lebih lengkap dari Hero Kemang.
Praktis hanya ada dua warung di Penestanan Kaja, rasa makanan Indonesianya terasa biasa sekali.

29 Desember 2004: Ubud – Kuta

Saya meninggalkan Ubud pukul 9.00. Saya turun ke Denpasar melalui Sayan, karena jalur ini lebih sepi. Hujan yang mengguyur membuat jalanan beberapa tempat digenangi air.

Di Celuk saya sempatkan berhenti sebentar untuk membeli oleh-oleh. Tempat ini terkenal sebagai pengrajin perak. Namun pengalaman tawar-menawar ditoko pertama membuat saya bingung tentang nilai sebenarnya dari perhiasan tersebut.

Setelah diperhatikan, ternyata gerakan yang membuat dengkul saya sakit adalah jika lutut saya dibengkokkan untuk melangkahi sepeda ketika akan naik pertama kali. Hari ini saya mulai kebiasaan baru, yaitu kaki diayun dalam posisi lurus saat melangkahi sepeda. Ternyata dengan ini rasa sakit di tempurung dengkul tidak muncul lagi.

Ingatan saya akan Kuta tidak berguna sama sekali. Saya beberapa kali kehilangan orientasi, sampai akhirnya harus bertanya dimana jalan bakung sari.

Saya menginap di Bamboo Inn di Jalan Bakungsari, karena saya tahu persis penginapan ini ditangani langsung oleh pemiliknya. Karena penuh, saya mendapat kamar dengan kamar mandi luar dengan tarif Rp60,000 semalam. Penginapan berbeda dengan penginapan di Kuta umumnya. Ketika penginapan lain ikut hingar bingar, disini sang pemilik menyatakan dengan terus terang kalau dia tidak suka kalau ada tamu yang terlalu berisik.

Kuta tidak menjual Bali. Mungkin terlalu menyederhanakan dan berlebihan, tapi apa yang dijual di Kuta memang tidak berhubungan dengan Bali.Yang sisa hanya orang beraksen Bali. Dan atmosfir ini yang perlahan terdorong sampai ke Ubud.

30 Desember 2004: Kuta

Hari ini saya bersepeda ke Denpasar untuk membeli tiket bus dan memastikan pengiriman sepeda ke jakarta.

Denpasar kota tidak terlalu bersahabat dengan sepeda. Daerah jalan dipusat kota Denpasar banyak dibuat satu arah, sehingga arus kendaraan praktis tanpa jeda. Sepeda motor rules the street.

Setelah itu saya melakukan eksplorasi ke utara kuta; seminyak dan krobokan.

Daerah utara kuta jauh lebih bisa dinikmati, karena bersih dan tidak terlalu padat. Tetapi untuk pilihan makanan dan penginapan murah memang tidak terlalu banyak.

31 Desember 2004: Kuta – Denpasar

Bus tujuan jakarta berangkat dari Ubung pk 15.00. Saya keluar penginapan sekitar pk. 10 dan melewati jalan pantai kuta agar bisa mengambil gambar sepeda di pinggir pantai.

Ketika melewati legian, saya cukup kaget ketika melihat sebuah banjar yang sedang disiapkan untuk pesta malam tahun baru, lengkap dengan rotary lamp á la diskotik. Saya sangat kagum, karena dengan demikian kalangan muda juga punya rasa memiliki terhadap banjar di lingkungannya.

Sepeda saya kirim ke jakarta melalui perusahaan ekspedisi di Pertokoan Jalan Diponegoro. Dari situ saya berjalan kaki ke Terminal Ubung. Cukup Jauh, tapi karena berniat tidak naik kendaraan selain sepeda selama di bali, kecuali bis datang dan pergi.

Ditengah persaingan tiket pesawat terbang, ternyata pengguna bis tidak berkurang. Hari ini bis yang saya naiki tetap penuh, dan ada dua bis lagi dengan tujuan Jakarta.

Sepanjang Denpasar – Gilimanuk peta Bali saya pegang ditangan. Ada beberapa spot yang indah disepanjang jalan ini. Persimpangan jalan arah ke Pupuan juga saya coba tandai, karena suatu saat jalan ini akan saya coba lewati…

Tidak dengan sepeda tentunya…

Kuta tidak menjual Bali. Mungkin terlalu menyederhanakan dan berlebihan, tapi apa yang dijual di Kuta memang tidak berhubungan dengan Bali.Yang sisa hanya orang beraksen Bali. Dan atmosfir ini yang perlahan terdorong sampai ke Ubud.

30 Desember 2004: Kuta

Hari ini saya bersepeda ke Denpasar untuk membeli tiket bus dan memastikan pengiriman sepeda ke jakarta.

Denpasar kota tidak terlalu bersahabat dengan sepeda. Daerah jalan dipusat kota Denpasar banyak dibuat satu arah, sehingga arus kendaraan praktis tanpa jeda. Sepeda motor rules the street.

Setelah itu saya melakukan eksplorasi ke utara kuta; seminyak dan krobokan.

Daerah utara kuta jauh lebih bisa dinikmati, karena bersih dan tidak terlalu padat. Tetapi untuk pilihan makanan dan penginapan murah memang tidak terlalu banyak.

31 Desember 2004: Kuta – Denpasar

Bus tujuan jakarta berangkat dari Ubung pk 15.00. Saya keluar penginapan sekitar pk. 10 dan melewati jalan pantai kuta agar bisa mengambil gambar sepeda di pinggir pantai.

Ketika melewati legian, saya cukup kaget ketika melihat sebuah banjar yang sedang disiapkan untuk pesta malam tahun baru, lengkap dengan rotary lamp á la diskotik. Saya sangat kagum, karena dengan demikian kalangan muda juga punya rasa memiliki terhadap banjar di lingkungannya.

Sepeda saya kirim ke jakarta melalui perusahaan ekspedisi di Pertokoan Jalan Diponegoro. Dari situ saya berjalan kaki ke Terminal Ubung. Cukup Jauh, tapi karena berniat tidak naik kendaraan selain sepeda selama di bali, kecuali bis datang dan pergi.

Ditengah persaingan tiket pesawat terbang, ternyata pengguna bis tidak berkurang. Hari ini bis yang saya naiki tetap penuh, dan ada dua bis lagi dengan tujuan Jakarta.

Sepanjang Denpasar – Gilimanuk peta Bali saya pegang ditangan. Ada beberapa spot yang indah disepanjang jalan ini. Persimpangan jalan arah ke Pupuan juga saya coba tandai, karena suatu saat jalan ini akan saya coba lewati…

Tidak dengan sepeda tentunya…

Kuta tidak menjual Bali. Mungkin terlalu menyederhanakan dan berlebihan, tapi apa yang dijual di Kuta memang tidak berhubungan dengan Bali.Yang sisa hanya orang beraksen Bali. Dan atmosfir ini yang perlahan terdorong sampai ke Ubud.

30 Desember 2004: Kuta

Hari ini saya bersepeda ke Denpasar untuk membeli tiket bus dan memastikan pengiriman sepeda ke jakarta.

Denpasar kota tidak terlalu bersahabat dengan sepeda. Daerah jalan dipusat kota Denpasar banyak dibuat satu arah, sehingga arus kendaraan praktis tanpa jeda. Sepeda motor rules the street.

Setelah itu saya melakukan eksplorasi ke utara kuta; seminyak dan krobokan.

Daerah utara kuta jauh lebih bisa dinikmati, karena bersih dan tidak terlalu padat. Tetapi untuk pilihan makanan dan penginapan murah memang tidak terlalu banyak.

31 Desember 2004: Kuta – Denpasar

Bus tujuan jakarta berangkat dari Ubung pk 15.00. Saya keluar penginapan sekitar pk. 10 dan melewati jalan pantai kuta agar bisa mengambil gambar sepeda di pinggir pantai.

Ketika melewati legian, saya cukup kaget ketika melihat sebuah banjar yang sedang disiapkan untuk pesta malam tahun baru, lengkap dengan rotary lamp á la diskotik. Saya sangat kagum, karena dengan demikian kalangan muda juga punya rasa memiliki terhadap banjar di lingkungannya.

Sepeda saya kirim ke jakarta melalui perusahaan ekspedisi di Pertokoan Jalan Diponegoro. Dari situ saya berjalan kaki ke Terminal Ubung. Cukup Jauh, tapi karena berniat tidak naik kendaraan selain sepeda selama di bali, kecuali bis datang dan pergi.

Ditengah persaingan tiket pesawat terbang, ternyata pengguna bis tidak berkurang. Hari ini bis yang saya naiki tetap penuh, dan ada dua bis lagi dengan tujuan Jakarta.

Sepanjang Denpasar – Gilimanuk peta Bali saya pegang ditangan. Ada beberapa spot yang indah disepanjang jalan ini. Persimpangan jalan arah ke Pupuan juga saya coba tandai, karena suatu saat jalan ini akan saya coba lewati…

Tidak dengan sepeda tentunya…

Kuta tidak menjual Bali. Mungkin terlalu menyederhanakan dan berlebihan, tapi apa yang dijual di Kuta memang tidak berhubungan dengan Bali.Yang sisa hanya orang beraksen Bali. Dan atmosfir ini yang perlahan terdorong sampai ke Ubud.

30 Desember 2004: Kuta

Hari ini saya bersepeda ke Denpasar untuk membeli tiket bus dan memastikan pengiriman sepeda ke jakarta.

Denpasar kota tidak terlalu bersahabat dengan sepeda. Daerah jalan dipusat kota Denpasar banyak dibuat satu arah, sehingga arus kendaraan praktis tanpa jeda. Sepeda motor rules the street.

Setelah itu saya melakukan eksplorasi ke utara kuta; seminyak dan krobokan.

Daerah utara kuta jauh lebih bisa dinikmati, karena bersih dan tidak terlalu padat. Tetapi untuk pilihan makanan dan penginapan murah memang tidak terlalu banyak.

31 Desember 2004: Kuta – Denpasar

Bus tujuan jakarta berangkat dari Ubung pk 15.00. Saya keluar penginapan sekitar pk. 10 dan melewati jalan pantai kuta agar bisa mengambil gambar sepeda di pinggir pantai.

Ketika melewati legian, saya cukup kaget ketika melihat sebuah banjar yang sedang disiapkan untuk pesta malam tahun baru, lengkap dengan rotary lamp á la diskotik. Saya sangat kagum, karena dengan demikian kalangan muda juga punya rasa memiliki terhadap banjar di lingkungannya.

Sepeda saya kirim ke jakarta melalui perusahaan ekspedisi di Pertokoan Jalan Diponegoro. Dari situ saya berjalan kaki ke Terminal Ubung. Cukup Jauh, tapi karena berniat tidak naik kendaraan selain sepeda selama di bali, kecuali bis datang dan pergi.

Ditengah persaingan tiket pesawat terbang, ternyata pengguna bis tidak berkurang. Hari ini bis yang saya naiki tetap penuh, dan ada dua bis lagi dengan tujuan Jakarta.

Sepanjang Denpasar – Gilimanuk peta Bali saya pegang ditangan. Ada beberapa spot yang indah disepanjang jalan ini. Persimpangan jalan arah ke Pupuan juga saya coba tandai, karena suatu saat jalan ini akan saya coba lewati…

Tidak dengan sepeda tentunya…

Kuta tidak menjual Bali. Mungkin terlalu menyederhanakan dan berlebihan, tapi apa yang dijual di Kuta memang tidak berhubungan dengan Bali.Yang sisa hanya orang beraksen Bali. Dan atmosfir ini yang perlahan terdorong sampai ke Ubud.

30 Desember 2004: Kuta

Hari ini saya bersepeda ke Denpasar untuk membeli tiket bus dan memastikan pengiriman sepeda ke jakarta.

Denpasar kota tidak terlalu bersahabat dengan sepeda. Daerah jalan dipusat kota Denpasar banyak dibuat satu arah, sehingga arus kendaraan praktis tanpa jeda. Sepeda motor rules the street.

Setelah itu saya melakukan eksplorasi ke utara kuta; seminyak dan krobokan.

Daerah utara kuta jauh lebih bisa dinikmati, karena bersih dan tidak terlalu padat. Tetapi untuk pilihan makanan dan penginapan murah memang tidak terlalu banyak.

31 Desember 2004: Kuta – Denpasar

Bus tujuan jakarta berangkat dari Ubung pk 15.00. Saya keluar penginapan sekitar pk. 10 dan melewati jalan pantai kuta agar bisa mengambil gambar sepeda di pinggir pantai.

Ketika melewati legian, saya cukup kaget ketika melihat sebuah banjar yang sedang disiapkan untuk pesta malam tahun baru, lengkap dengan rotary lamp á la diskotik. Saya sangat kagum, karena dengan demikian kalangan muda juga punya rasa memiliki terhadap banjar di lingkungannya.

Sepeda saya kirim ke jakarta melalui perusahaan ekspedisi di Pertokoan Jalan Diponegoro. Dari situ saya berjalan kaki ke Terminal Ubung. Cukup Jauh, tapi karena berniat tidak naik kendaraan selain sepeda selama di bali, kecuali bis datang dan pergi.

Ditengah persaingan tiket pesawat terbang, ternyata pengguna bis tidak berkurang. Hari ini bis yang saya naiki tetap penuh, dan ada dua bis lagi dengan tujuan Jakarta.

Sepanjang Denpasar – Gilimanuk peta Bali saya pegang ditangan. Ada beberapa spot yang indah disepanjang jalan ini. Persimpangan jalan arah ke Pupuan juga saya coba tandai, karena suatu saat jalan ini akan saya coba lewati…

Tidak dengan sepeda tentunya…

Kuta tidak menjual Bali. Mungkin terlalu menyederhanakan dan berlebihan, tapi apa yang dijual di Kuta memang tidak berhubungan dengan Bali.Yang sisa hanya orang beraksen Bali. Dan atmosfir ini yang perlahan terdorong sampai ke Ubud.

30 Desember 2004: Kuta

Hari ini saya bersepeda ke Denpasar untuk membeli tiket bus dan memastikan pengiriman sepeda ke jakarta.

Denpasar kota tidak terlalu bersahabat dengan sepeda. Daerah jalan dipusat kota Denpasar banyak dibuat satu arah, sehingga arus kendaraan praktis tanpa jeda. Sepeda motor rules the street.

Setelah itu saya melakukan eksplorasi ke utara kuta; seminyak dan krobokan.

Daerah utara kuta jauh lebih bisa dinikmati, karena bersih dan tidak terlalu padat. Tetapi untuk pilihan makanan dan penginapan murah memang tidak terlalu banyak.

31 Desember 2004: Kuta – Denpasar

Bus tujuan jakarta berangkat dari Ubung pk 15.00. Saya keluar penginapan sekitar pk. 10 dan melewati jalan pantai kuta agar bisa mengambil gambar sepeda di pinggir pantai.

Ketika melewati legian, saya cukup kaget ketika melihat sebuah banjar yang sedang disiapkan untuk pesta malam tahun baru, lengkap dengan rotary lamp á la diskotik. Saya sangat kagum, karena dengan demikian kalangan muda juga punya rasa memiliki terhadap banjar di lingkungannya.

Sepeda saya kirim ke jakarta melalui perusahaan ekspedisi di Pertokoan Jalan Diponegoro. Dari situ saya berjalan kaki ke Terminal Ubung. Cukup Jauh, tapi karena berniat tidak naik kendaraan selain sepeda selama di bali, kecuali bis datang dan pergi.

Ditengah persaingan tiket pesawat terbang, ternyata pengguna bis tidak berkurang. Hari ini bis yang saya naiki tetap penuh, dan ada dua bis lagi dengan tujuan Jakarta.

Sepanjang Denpasar – Gilimanuk peta Bali saya pegang ditangan. Ada beberapa spot yang indah disepanjang jalan ini. Persimpangan jalan arah ke Pupuan juga saya coba tandai, karena suatu saat jalan ini akan saya coba lewati…

Tidak dengan sepeda tentunya…

Kuta tidak menjual Bali. Mungkin terlalu menyederhanakan dan berlebihan, tapi apa yang dijual di Kuta memang tidak berhubungan dengan Bali.Yang sisa hanya orang beraksen Bali. Dan atmosfir ini yang perlahan terdorong sampai ke Ubud.

30 Desember 2004: Kuta

Hari ini saya bersepeda ke Denpasar untuk membeli tiket bus dan memastikan pengiriman sepeda ke jakarta.

Denpasar kota tidak terlalu bersahabat dengan sepeda. Daerah jalan dipusat kota Denpasar banyak dibuat satu arah, sehingga arus kendaraan praktis tanpa jeda. Sepeda motor rules the street.

Setelah itu saya melakukan eksplorasi ke utara kuta; seminyak dan krobokan.

Daerah utara kuta jauh lebih bisa dinikmati, karena bersih dan tidak terlalu padat. Tetapi untuk pilihan makanan dan penginapan murah memang tidak terlalu banyak.

31 Desember 2004: Kuta – Denpasar

Bus tujuan jakarta berangkat dari Ubung pk 15.00. Saya keluar penginapan sekitar pk. 10 dan melewati jalan pantai kuta agar bisa mengambil gambar sepeda di pinggir pantai.

Ketika melewati legian, saya cukup kaget ketika melihat sebuah banjar yang sedang disiapkan untuk pesta malam tahun baru, lengkap dengan rotary lamp á la diskotik. Saya sangat kagum, karena dengan demikian kalangan muda juga punya rasa memiliki terhadap banjar di lingkungannya.

Sepeda saya kirim ke jakarta melalui perusahaan ekspedisi di Pertokoan Jalan Diponegoro. Dari situ saya berjalan kaki ke Terminal Ubung. Cukup Jauh, tapi karena berniat tidak naik kendaraan selain sepeda selama di bali, kecuali bis datang dan pergi.

Ditengah persaingan tiket pesawat terbang, ternyata pengguna bis tidak berkurang. Hari ini bis yang saya naiki tetap penuh, dan ada dua bis lagi dengan tujuan Jakarta.

Sepanjang Denpasar – Gilimanuk peta Bali saya pegang ditangan. Ada beberapa spot yang indah disepanjang jalan ini. Persimpangan jalan arah ke Pupuan juga saya coba tandai, karena suatu saat jalan ini akan saya coba lewati…

Tidak dengan sepeda tentunya…

Dari peta, jarak antara Amed-Amlapura seharusnya kurang dari 25km. Namun bisa terbaca bahwa kontur jalur ini adalah melipir bukit Seraya. Dan benar saja, di perjalanan ini berkali-kali saya harus melalui jalan turun, yang diujungnya merupakan sungai mati, yang sebetulnya adalah dasar lembah diantara dua punggungan. Dan kemudian diikuti belok tajam untuk kemudian menanjak menuju puncak punggungan lagi. Berkali-kali menghadapi medan seperti ini tenaga dengan cepat terkuras habis. Energy bar tidak bisa memberikan tambahan tenaga terlalu banyak.

Huf…huff…huff…gir depan saya set ukuran paling kecil dan gir belakang diameter paling besar, tapi masih saja tanjakan ini terasa berat dilalui. Beberapa kali saya melirik ban belakang, dan hasilnya semua baik-baik saja. Akhirnya sepeda beberapa kali harus saya dorong untuk mencapai puncak tanjakan.

Kondisi jalanan seperti itu masih dilengkapi dengan cuaca panas sepanjang setengah perjalanan. Angin sering bertiup searah dan dengan kecepatan yang sama dengan sepeda. Mungkin daerah ini termasuk daerah yang berada di bayang-bayang hujan, di mana uap air sudah jatuh menjadi hujan dibalik perbukitan sebelum mencapai daerah ini. Mungkin karena itu juga “Tirtagangga” berada dibalik bukit ini.

Perasaan ini juga yang saya alami ketika melalui tanjakan di jalur Jonggol. Ketika beban yang secara absolut tetap sama, tapi karena stamina yang menurun, maka rasanya beban yang harus di hela menjadi berlipat-lipat.

Kalo dalam keadaan begini, biasaya saya mulai bertanya-tanya; ngapain juga susah-susah bersepeda. Mungkin ini saatnya untuk kembali mensitasi ucapannya Mallory:”because it’s there”. Otak jail saya selalu bilang bahwa ucapan Mallory sebetulnya tidak berhenti disitu, sebetulnya dia bilang “because it’s there, and now LEAVE ME ALONE!!” wajar dong, orang baru cape turun dari Everest, kok ditanya kenapa mendaki everest.

Melalui jalur ini, siksaan tidak hanya berupa cobaan fisik. Saat melewati sebuah perkampungan, tercium bau terasi bakar! Aromanya begitu sampai di syaraf penciuman langsung memberi perintah kepada perut untuk keroncongan. Repotnya, tidak ada warung nasi disekitar perkampungan itu. Tampaknya orang yang membakar terasi hanya untuk dikonsumsi sendiri.

Setelah pukul 14, cuaca mulai bersahabat, mendung yang disusul hujan rintik-rintik membantu mendinginkan suhu tubuh. Ketika hujan mulai bertambah lebat, beberapa sungai yang mati mulai dialiri air. Karena jarangnya hujan di pantai timur ini, maka umumnya tidak dibangun jembatan untuk menyeberangi sungai. Jalanan dibuat untuk bisa dialiri air saat hujan dan kendaraan harus lewat aliran air sungai.

“Sekolah Dasar Negeri Seraya” Plang sekolah ini membuat saya tersenyum. Karena berarti saya sudah mendekati Amlapura.

Jalanan kembali relatif lurus dan menurun, sampai bertemu dengan “Taman Air Ujung”. Sawah di perbukitan masih menemani sampai akhirnya memasuki kota Amlapura.
Menurut LP, Homestay Lila di Abian Soan biasa digunakan sebagai tempat menginap kalau mau melakukan ekplorasi disekitar kaki Gunung Agung. Malam ini saya berencana untuk bisa mencapai penginapan ini. Ditengah hujan gerimis, ternyata saya sudah melewati Abian Soya, dan mencapai Bebandem, terpaksa saya kembali sekitar 2 km untuk menemukan Homestay Lila di Abian Soan.

Ternyata Homestay Lila sudah lama tidak menerima tamu. Ada dua kamar yang disewakan. Semuanya dalam kondisi kurang terawat. Justru pengelolanya menyarankan untuk menginap di Kemang Remaja, empat kilometer dari Abian Soya. Jadilah kembali ke Amlapura.

Kemang Remaja lebih seperti penginapan pengemudi kendaraan antar kota. Losmen ini punya kamar yang berdekatan dengan tempat parkir mobil, dan kamar-kamar yang mengitari taman didalam rumah. Kamarnya sangat basic, dengan coretan-coretan di dinding kamar. Kamar mandinya cukup bersih, dan karena letak Amlapura yang dikaki bukit, airnya sangat menyegarkan.

26 Desember 2004: Amlapura – Rendang – Ubud

Saya mengulang 6 km perjalanan menanjak. Tapi tak apa, karena pagi ini cuaca cerah dan pemandangan layak sekali untuk dinikmati. Apalagi disebelah kanan saya ditemani Gunung Agung, yang kemarin sore disembunyikan oleh awan.

Rute melalui Rendang oleh Lonely Planet direkomendasikan untuk dilalui dari arah barat ke timur, karena jalanannya relative menurun. Mereka menyebut rute ini sebagai “Scenic road”. Tapi terus terang, mungkin untuk orang Indonesia yang cukup sering melihat sawah dan gunung, rute ini tidak terlalu luar biasa.
Yang malah menarik adalah, jalur jalanan ini melalui desa-desa kecil tradisional Bali, dimana “pusat desa” yang bisanya berupa pertempatan, terdapat pohon beringin besar. Karena belum terlalu siang, maka biasanya kegiatan masyarakat di pasar masih belum selesai. Beberapa pura juga masih menggunakan ijuk yang ditumpuk tebal sebagai atapnya.
Di jalur ini banyak ditemui pengrajin batu, yang membelah batu gunung menjadi kepingan-kepingan kecil.

Saya beruntung melewati jalur ini dengan sepeda. Dengan kendaraan yang nyaris tanpa suara ini, dibeberapa tempat ketika melalui Banjar, terdengar sayup-sayup warga banjar yang sedang berlatih gamelan.

Mencapai Rendang dari timur ke barat(kebalikan dari rekomendasi LP) cukup melelahkan. Tanjakan yang konstan, dengan beberapa kali perjalanan memotong punggungan. Mendekati Rendang, mulai terlihat truk pengangkut batu dan pasir.

Lewat di salah satu jembatan saya bisa mendengar gemericik air dari sungai dibawahnya. Tidak tahan lagi, saya menurunkan sepeda saya melalui jalan kecil dipinggir jembatan untuk kemudian mencuci baju dan berendam di sungai.

Untuk meringankan beban, saya memang hanya membawa 3 buah baju. Dua saya pakai bergantian dan satu pertahankan tetap bersih.

Lepas dari Rendang, perjalanan dilanjutkan menuju Bangli via Cempaga. Dari sana selesai sudah jalur naik turun bukit, sekarang jalanan relatif menurun kearah Gianyar.

Di perjalanan tampak sebuah plang “Menyewakan Babi Jantan”-What a job for a male!

Tiba di Ubud, butuh sejenak untuk mengembalikan orientasi. Dari ingatan tahun 96 terakhir mengunjungi Ubud, ternyata hanya kios Pasar Ubud yang masih terlihat sama. Sisanya sudah sama sekali berubah. Jalan utama didepan pasar ubud dipasangi paving blok. Dimana-mana toko.

Atas rekomendasi seorang teman, maka saya melanjutkan perjalanan ke Penestanan Kaja. Kalau menggunakan kendaraan bermotor, maka Penestanan dapat dicapai melalui jalan sesudah Musium Blanco menuju Sayan. Tapi juga ada tangga didepan Hotel Campuan. Tepat dibawah tangga terdapat parkiran motor dan plang yang berisi nama bungalow di Penestanan Kaja. Dengan akses yang tidak terlalu mudah ini, Penestanan Kaja menjadi semacam enclave bungalow.

Yang pertama kita temui tepat sesudah tangga adalah Warung Bu Putu. Lepas dari sana, kita sudah berada ditengah sawah yang diselingi bungalow-bungalow.

Santra Putra milik Pak I Wayan Sadra memiliki 4 bangunan, masing-masing digunakan untuk galeri, rumah utama, dan dua bungalow yang disewakan. Masing-masing bangunan bungalow memiliki dua lantai yang disewakan secara terpisah. Dimasing-masing lantai terdiri atas kamar utama, kamar mandi, dan dapur kecil.

Pembangunan bungalow di Penestanan agak mengkhawatirkan. Ketika beberapa bungalow terlihat tidak lagi dioperasikan, orang masih membangun bungalow baru. Mungkin sebentar lagi pernyataan “ricefield view bungalow” harus menjadi “other bungalow view”.

27 Desember 2004: Ubud

Hari ini sedianya saya memulihkan kekuatan dengkul. Sendi lutut kanan saya mulai terasa sakit untuk gerakan tertentu. Tapi kok gambaran persawahan disekitar Ubud lebih menggoda. Akhirnya saya berkeliling disekitar Ubud.

Seorang teman menyarankan untuk menghabiskan sore di Petulu, dimana ribuan Heron Bird(Burung Kuntul)akan pulang ke kandang. Pemandangan yang spektakuler, namun arah Petulu ini adalah punggungan bukit, yang hampir pasti perjalanan kesana menanjak. Saya tunda dulu rencana itu.

Berkeliling disekitar Campuan saya menyempatkan untuk sekedar melihat pintu masuk Amandari. Dari luar tidak tampak sesuatu yang istimewa. Hanya jalan masuk seperti jalan kampung, dengan sebuah tugu bertuliskan Amandari. Kalau dalamnya? Cukup lihat buku Bali-nya Rio Helmi saja lah….

Berjalan kaki dari Penestanan ke Pasar Ubud melalui Campuan ternyata membuat dengkul kembali berulah.

28 Desember 2004: Ubud

Hari ini, pagi-pagi dibangunkan oleh hujan. Hari ini memaksakan untuk tinggal di penginapan dan berisitirahat. Buku Boy dan Going Solo-nya Roald Dahl dibaca untuk kedua kalinya.

Beruntung membawa kompor lapangan, karena saya bisa memasak sarapan dan makan siang di kamar. Kemarin sore saya sempatkan untuk berbelanja makaroni dan roti di supermarket “Bintang”.

Jumlah ekspatriat yang tinggal di Ubud ternyata cukup ekonomis untuk membuka supermarket dengan kualitas barang yang setara dengan Hero di Kemang Jakarta, dengan koleksi cheese & wine yang kelihatannya lebih lengkap dari Hero Kemang.
Praktis hanya ada dua warung di Penestanan Kaja, rasa makanan Indonesianya terasa biasa sekali.

29 Desember 2004: Ubud – Kuta

Saya meninggalkan Ubud pukul 9.00. Saya turun ke Denpasar melalui Sayan, karena jalur ini lebih sepi. Hujan yang mengguyur membuat jalanan beberapa tempat digenangi air.

Di Celuk saya sempatkan berhenti sebentar untuk membeli oleh-oleh. Tempat ini terkenal sebagai pengrajin perak. Namun pengalaman tawar-menawar ditoko pertama membuat saya bingung tentang nilai sebenarnya dari perhiasan tersebut.

Setelah diperhatikan, ternyata gerakan yang membuat dengkul saya sakit adalah jika lutut saya dibengkokkan untuk melangkahi sepeda ketika akan naik pertama kali. Hari ini saya mulai kebiasaan baru, yaitu kaki diayun dalam posisi lurus saat melangkahi sepeda. Ternyata dengan ini rasa sakit di tempurung dengkul tidak muncul lagi.

Ingatan saya akan Kuta tidak berguna sama sekali. Saya beberapa kali kehilangan orientasi, sampai akhirnya harus bertanya dimana jalan bakung sari.

Saya menginap di Bamboo Inn di Jalan Bakungsari, karena saya tahu persis penginapan ini ditangani langsung oleh pemiliknya. Karena penuh, saya mendapat kamar dengan kamar mandi luar dengan tarif Rp60,000 semalam. Penginapan berbeda dengan penginapan di Kuta umumnya. Ketika penginapan lain ikut hingar bingar, disini sang pemilik menyatakan dengan terus terang kalau dia tidak suka kalau ada tamu yang terlalu berisik.

Kuta tidak menjual Bali. Mungkin terlalu menyederhanakan dan berlebihan, tapi apa yang dijual di Kuta memang tidak berhubungan dengan Bali.Yang sisa hanya orang beraksen Bali. Dan atmosfir ini yang perlahan terdorong sampai ke Ubud.

30 Desember 2004: Kuta

Hari ini saya bersepeda ke Denpasar untuk membeli tiket bus dan memastikan pengiriman sepeda ke jakarta.

Denpasar kota tidak terlalu bersahabat dengan sepeda. Daerah jalan dipusat kota Denpasar banyak dibuat satu arah, sehingga arus kendaraan praktis tanpa jeda. Sepeda motor rules the street.

Setelah itu saya melakukan eksplorasi ke utara kuta; seminyak dan krobokan.

Daerah utara kuta jauh lebih bisa dinikmati, karena bersih dan tidak terlalu padat. Tetapi untuk pilihan makanan dan penginapan murah memang tidak terlalu banyak.

31 Desember 2004: Kuta – Denpasar

Bus tujuan jakarta berangkat dari Ubung pk 15.00. Saya keluar penginapan sekitar pk. 10 dan melewati jalan pantai kuta agar bisa mengambil gambar sepeda di pinggir pantai.

Ketika melewati legian, saya cukup kaget ketika melihat sebuah banjar yang sedang disiapkan untuk pesta malam tahun baru, lengkap dengan rotary lamp á la diskotik. Saya sangat kagum, karena dengan demikian kalangan muda juga punya rasa memiliki terhadap banjar di lingkungannya.

Sepeda saya kirim ke jakarta melalui perusahaan ekspedisi di Pertokoan Jalan Diponegoro. Dari situ saya berjalan kaki ke Terminal Ubung. Cukup Jauh, tapi karena berniat tidak naik kendaraan selain sepeda selama di bali, kecuali bis datang dan pergi.

Ditengah persaingan tiket pesawat terbang, ternyata pengguna bis tidak berkurang. Hari ini bis yang saya naiki tetap penuh, dan ada dua bis lagi dengan tujuan Jakarta.

Sepanjang Denpasar – Gilimanuk peta Bali saya pegang ditangan. Ada beberapa spot yang indah disepanjang jalan ini. Persimpangan jalan arah ke Pupuan juga saya coba tandai, karena suatu saat jalan ini akan saya coba lewati…

Tidak dengan sepeda tentunya…

Kuta tidak menjual Bali. Mungkin terlalu menyederhanakan dan berlebihan, tapi apa yang dijual di Kuta memang tidak berhubungan dengan Bali.Yang sisa hanya orang beraksen Bali. Dan atmosfir ini yang perlahan terdorong sampai ke Ubud.

30 Desember 2004: Kuta

Hari ini saya bersepeda ke Denpasar untuk membeli tiket bus dan memastikan pengiriman sepeda ke jakarta.

Denpasar kota tidak terlalu bersahabat dengan sepeda. Daerah jalan dipusat kota Denpasar banyak dibuat satu arah, sehingga arus kendaraan praktis tanpa jeda. Sepeda motor rules the street.

Setelah itu saya melakukan eksplorasi ke utara kuta; seminyak dan krobokan.

Daerah utara kuta jauh lebih bisa dinikmati, karena bersih dan tidak terlalu padat. Tetapi untuk pilihan makanan dan penginapan murah memang tidak terlalu banyak.

31 Desember 2004: Kuta – Denpasar

Bus tujuan jakarta berangkat dari Ubung pk 15.00. Saya keluar penginapan sekitar pk. 10 dan melewati jalan pantai kuta agar bisa mengambil gambar sepeda di pinggir pantai.

Ketika melewati legian, saya cukup kaget ketika melihat sebuah banjar yang sedang disiapkan untuk pesta malam tahun baru, lengkap dengan rotary lamp á la diskotik. Saya sangat kagum, karena dengan demikian kalangan muda juga punya rasa memiliki terhadap banjar di lingkungannya.

Sepeda saya kirim ke jakarta melalui perusahaan ekspedisi di Pertokoan Jalan Diponegoro. Dari situ saya berjalan kaki ke Terminal Ubung. Cukup Jauh, tapi karena berniat tidak naik kendaraan selain sepeda selama di bali, kecuali bis datang dan pergi.

Ditengah persaingan tiket pesawat terbang, ternyata pengguna bis tidak berkurang. Hari ini bis yang saya naiki tetap penuh, dan ada dua bis lagi dengan tujuan Jakarta.

Sepanjang Denpasar – Gilimanuk peta Bali saya pegang ditangan. Ada beberapa spot yang indah disepanjang jalan ini. Persimpangan jalan arah ke Pupuan juga saya coba tandai, karena suatu saat jalan ini akan saya coba lewati…

Tidak dengan sepeda tentunya…

Kuta tidak menjual Bali. Mungkin terlalu menyederhanakan dan berlebihan, tapi apa yang dijual di Kuta memang tidak berhubungan dengan Bali.Yang sisa hanya orang beraksen Bali. Dan atmosfir ini yang perlahan terdorong sampai ke Ubud.

30 Desember 2004: Kuta

Hari ini saya bersepeda ke Denpasar untuk membeli tiket bus dan memastikan pengiriman sepeda ke jakarta.

Denpasar kota tidak terlalu bersahabat dengan sepeda. Daerah jalan dipusat kota Denpasar banyak dibuat satu arah, sehingga arus kendaraan praktis tanpa jeda. Sepeda motor rules the street.

Setelah itu saya melakukan eksplorasi ke utara kuta; seminyak dan krobokan.

Daerah utara kuta jauh lebih bisa dinikmati, karena bersih dan tidak terlalu padat. Tetapi untuk pilihan makanan dan penginapan murah memang tidak terlalu banyak.

31 Desember 2004: Kuta – Denpasar

Bus tujuan jakarta berangkat dari Ubung pk 15.00. Saya keluar penginapan sekitar pk. 10 dan melewati jalan pantai kuta agar bisa mengambil gambar sepeda di pinggir pantai.

Ketika melewati legian, saya cukup kaget ketika melihat sebuah banjar yang sedang disiapkan untuk pesta malam tahun baru, lengkap dengan rotary lamp á la diskotik. Saya sangat kagum, karena dengan demikian kalangan muda juga punya rasa memiliki terhadap banjar di lingkungannya.

Sepeda saya kirim ke jakarta melalui perusahaan ekspedisi di Pertokoan Jalan Diponegoro. Dari situ saya berjalan kaki ke Terminal Ubung. Cukup Jauh, tapi karena berniat tidak naik kendaraan selain sepeda selama di bali, kecuali bis datang dan pergi.

Ditengah persaingan tiket pesawat terbang, ternyata pengguna bis tidak berkurang. Hari ini bis yang saya naiki tetap penuh, dan ada dua bis lagi dengan tujuan Jakarta.

Sepanjang Denpasar – Gilimanuk peta Bali saya pegang ditangan. Ada beberapa spot yang indah disepanjang jalan ini. Persimpangan jalan arah ke Pupuan juga saya coba tandai, karena suatu saat jalan ini akan saya coba lewati…

Tidak dengan sepeda tentunya…

Kuta tidak menjual Bali. Mungkin terlalu menyederhanakan dan berlebihan, tapi apa yang dijual di Kuta memang tidak berhubungan dengan Bali.Yang sisa hanya orang beraksen Bali. Dan atmosfir ini yang perlahan terdorong sampai ke Ubud.

30 Desember 2004: Kuta

Hari ini saya bersepeda ke Denpasar untuk membeli tiket bus dan memastikan pengiriman sepeda ke jakarta.

Denpasar kota tidak terlalu bersahabat dengan sepeda. Daerah jalan dipusat kota Denpasar banyak dibuat satu arah, sehingga arus kendaraan praktis tanpa jeda. Sepeda motor rules the street.

Setelah itu saya melakukan eksplorasi ke utara kuta; seminyak dan krobokan.

Daerah utara kuta jauh lebih bisa dinikmati, karena bersih dan tidak terlalu padat. Tetapi untuk pilihan makanan dan penginapan murah memang tidak terlalu banyak.

31 Desember 2004: Kuta – Denpasar

Bus tujuan jakarta berangkat dari Ubung pk 15.00. Saya keluar penginapan sekitar pk. 10 dan melewati jalan pantai kuta agar bisa mengambil gambar sepeda di pinggir pantai.

Ketika melewati legian, saya cukup kaget ketika melihat sebuah banjar yang sedang disiapkan untuk pesta malam tahun baru, lengkap dengan rotary lamp á la diskotik. Saya sangat kagum, karena dengan demikian kalangan muda juga punya rasa memiliki terhadap banjar di lingkungannya.

Sepeda saya kirim ke jakarta melalui perusahaan ekspedisi di Pertokoan Jalan Diponegoro. Dari situ saya berjalan kaki ke Terminal Ubung. Cukup Jauh, tapi karena berniat tidak naik kendaraan selain sepeda selama di bali, kecuali bis datang dan pergi.

Ditengah persaingan tiket pesawat terbang, ternyata pengguna bis tidak berkurang. Hari ini bis yang saya naiki tetap penuh, dan ada dua bis lagi dengan tujuan Jakarta.

Sepanjang Denpasar – Gilimanuk peta Bali saya pegang ditangan. Ada beberapa spot yang indah disepanjang jalan ini. Persimpangan jalan arah ke Pupuan juga saya coba tandai, karena suatu saat jalan ini akan saya coba lewati…

Tidak dengan sepeda tentunya…

Kuta tidak menjual Bali. Mungkin terlalu menyederhanakan dan berlebihan, tapi apa yang dijual di Kuta memang tidak berhubungan dengan Bali.Yang sisa hanya orang beraksen Bali. Dan atmosfir ini yang perlahan terdorong sampai ke Ubud.

30 Desember 2004: Kuta

Hari ini saya bersepeda ke Denpasar untuk membeli tiket bus dan memastikan pengiriman sepeda ke jakarta.

Denpasar kota tidak terlalu bersahabat dengan sepeda. Daerah jalan dipusat kota Denpasar banyak dibuat satu arah, sehingga arus kendaraan praktis tanpa jeda. Sepeda motor rules the street.

Setelah itu saya melakukan eksplorasi ke utara kuta; seminyak dan krobokan.

Daerah utara kuta jauh lebih bisa dinikmati, karena bersih dan tidak terlalu padat. Tetapi untuk pilihan makanan dan penginapan murah memang tidak terlalu banyak.

31 Desember 2004: Kuta – Denpasar

Bus tujuan jakarta berangkat dari Ubung pk 15.00. Saya keluar penginapan sekitar pk. 10 dan melewati jalan pantai kuta agar bisa mengambil gambar sepeda di pinggir pantai.

Ketika melewati legian, saya cukup kaget ketika melihat sebuah banjar yang sedang disiapkan untuk pesta malam tahun baru, lengkap dengan rotary lamp á la diskotik. Saya sangat kagum, karena dengan demikian kalangan muda juga punya rasa memiliki terhadap banjar di lingkungannya.

Sepeda saya kirim ke jakarta melalui perusahaan ekspedisi di Pertokoan Jalan Diponegoro. Dari situ saya berjalan kaki ke Terminal Ubung. Cukup Jauh, tapi karena berniat tidak naik kendaraan selain sepeda selama di bali, kecuali bis datang dan pergi.

Ditengah persaingan tiket pesawat terbang, ternyata pengguna bis tidak berkurang. Hari ini bis yang saya naiki tetap penuh, dan ada dua bis lagi dengan tujuan Jakarta.

Sepanjang Denpasar – Gilimanuk peta Bali saya pegang ditangan. Ada beberapa spot yang indah disepanjang jalan ini. Persimpangan jalan arah ke Pupuan juga saya coba tandai, karena suatu saat jalan ini akan saya coba lewati…

Tidak dengan sepeda tentunya…

Kuta tidak menjual Bali. Mungkin terlalu menyederhanakan dan berlebihan, tapi apa yang dijual di Kuta memang tidak berhubungan dengan Bali.Yang sisa hanya orang beraksen Bali. Dan atmosfir ini yang perlahan terdorong sampai ke Ubud.

30 Desember 2004: Kuta

Hari ini saya bersepeda ke Denpasar untuk membeli tiket bus dan memastikan pengiriman sepeda ke jakarta.

Denpasar kota tidak terlalu bersahabat dengan sepeda. Daerah jalan dipusat kota Denpasar banyak dibuat satu arah, sehingga arus kendaraan praktis tanpa jeda. Sepeda motor rules the street.

Setelah itu saya melakukan eksplorasi ke utara kuta; seminyak dan krobokan.

Daerah utara kuta jauh lebih bisa dinikmati, karena bersih dan tidak terlalu padat. Tetapi untuk pilihan makanan dan penginapan murah memang tidak terlalu banyak.

31 Desember 2004: Kuta – Denpasar

Bus tujuan jakarta berangkat dari Ubung pk 15.00. Saya keluar penginapan sekitar pk. 10 dan melewati jalan pantai kuta agar bisa mengambil gambar sepeda di pinggir pantai.

Ketika melewati legian, saya cukup kaget ketika melihat sebuah banjar yang sedang disiapkan untuk pesta malam tahun baru, lengkap dengan rotary lamp á la diskotik. Saya sangat kagum, karena dengan demikian kalangan muda juga punya rasa memiliki terhadap banjar di lingkungannya.

Sepeda saya kirim ke jakarta melalui perusahaan ekspedisi di Pertokoan Jalan Diponegoro. Dari situ saya berjalan kaki ke Terminal Ubung. Cukup Jauh, tapi karena berniat tidak naik kendaraan selain sepeda selama di bali, kecuali bis datang dan pergi.

Ditengah persaingan tiket pesawat terbang, ternyata pengguna bis tidak berkurang. Hari ini bis yang saya naiki tetap penuh, dan ada dua bis lagi dengan tujuan Jakarta.

Sepanjang Denpasar – Gilimanuk peta Bali saya pegang ditangan. Ada beberapa spot yang indah disepanjang jalan ini. Persimpangan jalan arah ke Pupuan juga saya coba tandai, karena suatu saat jalan ini akan saya coba lewati…

Tidak dengan sepeda tentunya…

Kuta tidak menjual Bali. Mungkin terlalu menyederhanakan dan berlebihan, tapi apa yang dijual di Kuta memang tidak berhubungan dengan Bali.Yang sisa hanya orang beraksen Bali. Dan atmosfir ini yang perlahan terdorong sampai ke Ubud.

30 Desember 2004: Kuta

Hari ini saya bersepeda ke Denpasar untuk membeli tiket bus dan memastikan pengiriman sepeda ke jakarta.

Denpasar kota tidak terlalu bersahabat dengan sepeda. Daerah jalan dipusat kota Denpasar banyak dibuat satu arah, sehingga arus kendaraan praktis tanpa jeda. Sepeda motor rules the street.

Setelah itu saya melakukan eksplorasi ke utara kuta; seminyak dan krobokan.

Daerah utara kuta jauh lebih bisa dinikmati, karena bersih dan tidak terlalu padat. Tetapi untuk pilihan makanan dan penginapan murah memang tidak terlalu banyak.

31 Desember 2004: Kuta – Denpasar

Bus tujuan jakarta berangkat dari Ubung pk 15.00. Saya keluar penginapan sekitar pk. 10 dan melewati jalan pantai kuta agar bisa mengambil gambar sepeda di pinggir pantai.

Ketika melewati legian, saya cukup kaget ketika melihat sebuah banjar yang sedang disiapkan untuk pesta malam tahun baru, lengkap dengan rotary lamp á la diskotik. Saya sangat kagum, karena dengan demikian kalangan muda juga punya rasa memiliki terhadap banjar di lingkungannya.

Sepeda saya kirim ke jakarta melalui perusahaan ekspedisi di Pertokoan Jalan Diponegoro. Dari situ saya berjalan kaki ke Terminal Ubung. Cukup Jauh, tapi karena berniat tidak naik kendaraan selain sepeda selama di bali, kecuali bis datang dan pergi.

Ditengah persaingan tiket pesawat terbang, ternyata pengguna bis tidak berkurang. Hari ini bis yang saya naiki tetap penuh, dan ada dua bis lagi dengan tujuan Jakarta.

Sepanjang Denpasar – Gilimanuk peta Bali saya pegang ditangan. Ada beberapa spot yang indah disepanjang jalan ini. Persimpangan jalan arah ke Pupuan juga saya coba tandai, karena suatu saat jalan ini akan saya coba lewati…

Tidak dengan sepeda tentunya…

Dari peta, jarak antara Amed-Amlapura seharusnya kurang dari 25km. Namun bisa terbaca bahwa kontur jalur ini adalah melipir bukit Seraya. Dan benar saja, di perjalanan ini berkali-kali saya harus melalui jalan turun, yang diujungnya merupakan sungai mati, yang sebetulnya adalah dasar lembah diantara dua punggungan. Dan kemudian diikuti belok tajam untuk kemudian menanjak menuju puncak punggungan lagi. Berkali-kali menghadapi medan seperti ini tenaga dengan cepat terkuras habis. Energy bar tidak bisa memberikan tambahan tenaga terlalu banyak.

Huf…huff…huff…gir depan saya set ukuran paling kecil dan gir belakang diameter paling besar, tapi masih saja tanjakan ini terasa berat dilalui. Beberapa kali saya melirik ban belakang, dan hasilnya semua baik-baik saja. Akhirnya sepeda beberapa kali harus saya dorong untuk mencapai puncak tanjakan.

Kondisi jalanan seperti itu masih dilengkapi dengan cuaca panas sepanjang setengah perjalanan. Angin sering bertiup searah dan dengan kecepatan yang sama dengan sepeda. Mungkin daerah ini termasuk daerah yang berada di bayang-bayang hujan, di mana uap air sudah jatuh menjadi hujan dibalik perbukitan sebelum mencapai daerah ini. Mungkin karena itu juga “Tirtagangga” berada dibalik bukit ini.

Perasaan ini juga yang saya alami ketika melalui tanjakan di jalur Jonggol. Ketika beban yang secara absolut tetap sama, tapi karena stamina yang menurun, maka rasanya beban yang harus di hela menjadi berlipat-lipat.

Kalo dalam keadaan begini, biasaya saya mulai bertanya-tanya; ngapain juga susah-susah bersepeda. Mungkin ini saatnya untuk kembali mensitasi ucapannya Mallory:”because it’s there”. Otak jail saya selalu bilang bahwa ucapan Mallory sebetulnya tidak berhenti disitu, sebetulnya dia bilang “because it’s there, and now LEAVE ME ALONE!!” wajar dong, orang baru cape turun dari Everest, kok ditanya kenapa mendaki everest.

Melalui jalur ini, siksaan tidak hanya berupa cobaan fisik. Saat melewati sebuah perkampungan, tercium bau terasi bakar! Aromanya begitu sampai di syaraf penciuman langsung memberi perintah kepada perut untuk keroncongan. Repotnya, tidak ada warung nasi disekitar perkampungan itu. Tampaknya orang yang membakar terasi hanya untuk dikonsumsi sendiri.

Setelah pukul 14, cuaca mulai bersahabat, mendung yang disusul hujan rintik-rintik membantu mendinginkan suhu tubuh. Ketika hujan mulai bertambah lebat, beberapa sungai yang mati mulai dialiri air. Karena jarangnya hujan di pantai timur ini, maka umumnya tidak dibangun jembatan untuk menyeberangi sungai. Jalanan dibuat untuk bisa dialiri air saat hujan dan kendaraan harus lewat aliran air sungai.

“Sekolah Dasar Negeri Seraya” Plang sekolah ini membuat saya tersenyum. Karena berarti saya sudah mendekati Amlapura.

Jalanan kembali relatif lurus dan menurun, sampai bertemu dengan “Taman Air Ujung”. Sawah di perbukitan masih menemani sampai akhirnya memasuki kota Amlapura.
Menurut LP, Homestay Lila di Abian Soan biasa digunakan sebagai tempat menginap kalau mau melakukan ekplorasi disekitar kaki Gunung Agung. Malam ini saya berencana untuk bisa mencapai penginapan ini. Ditengah hujan gerimis, ternyata saya sudah melewati Abian Soya, dan mencapai Bebandem, terpaksa saya kembali sekitar 2 km untuk menemukan Homestay Lila di Abian Soan.

Ternyata Homestay Lila sudah lama tidak menerima tamu. Ada dua kamar yang disewakan. Semuanya dalam kondisi kurang terawat. Justru pengelolanya menyarankan untuk menginap di Kemang Remaja, empat kilometer dari Abian Soya. Jadilah kembali ke Amlapura.

Kemang Remaja lebih seperti penginapan pengemudi kendaraan antar kota. Losmen ini punya kamar yang berdekatan dengan tempat parkir mobil, dan kamar-kamar yang mengitari taman didalam rumah. Kamarnya sangat basic, dengan coretan-coretan di dinding kamar. Kamar mandinya cukup bersih, dan karena letak Amlapura yang dikaki bukit, airnya sangat menyegarkan.

26 Desember 2004: Amlapura – Rendang – Ubud

Saya mengulang 6 km perjalanan menanjak. Tapi tak apa, karena pagi ini cuaca cerah dan pemandangan layak sekali untuk dinikmati. Apalagi disebelah kanan saya ditemani Gunung Agung, yang kemarin sore disembunyikan oleh awan.

Rute melalui Rendang oleh Lonely Planet direkomendasikan untuk dilalui dari arah barat ke timur, karena jalanannya relative menurun. Mereka menyebut rute ini sebagai “Scenic road”. Tapi terus terang, mungkin untuk orang Indonesia yang cukup sering melihat sawah dan gunung, rute ini tidak terlalu luar biasa.
Yang malah menarik adalah, jalur jalanan ini melalui desa-desa kecil tradisional Bali, dimana “pusat desa” yang bisanya berupa pertempatan, terdapat pohon beringin besar. Karena belum terlalu siang, maka biasanya kegiatan masyarakat di pasar masih belum selesai. Beberapa pura juga masih menggunakan ijuk yang ditumpuk tebal sebagai atapnya.
Di jalur ini banyak ditemui pengrajin batu, yang membelah batu gunung menjadi kepingan-kepingan kecil.

Saya beruntung melewati jalur ini dengan sepeda. Dengan kendaraan yang nyaris tanpa suara ini, dibeberapa tempat ketika melalui Banjar, terdengar sayup-sayup warga banjar yang sedang berlatih gamelan.

Mencapai Rendang dari timur ke barat(kebalikan dari rekomendasi LP) cukup melelahkan. Tanjakan yang konstan, dengan beberapa kali perjalanan memotong punggungan. Mendekati Rendang, mulai terlihat truk pengangkut batu dan pasir.

Lewat di salah satu jembatan saya bisa mendengar gemericik air dari sungai dibawahnya. Tidak tahan lagi, saya menurunkan sepeda saya melalui jalan kecil dipinggir jembatan untuk kemudian mencuci baju dan berendam di sungai.

Untuk meringankan beban, saya memang hanya membawa 3 buah baju. Dua saya pakai bergantian dan satu pertahankan tetap bersih.

Lepas dari Rendang, perjalanan dilanjutkan menuju Bangli via Cempaga. Dari sana selesai sudah jalur naik turun bukit, sekarang jalanan relatif menurun kearah Gianyar.

Di perjalanan tampak sebuah plang “Menyewakan Babi Jantan”-What a job for a male!

Tiba di Ubud, butuh sejenak untuk mengembalikan orientasi. Dari ingatan tahun 96 terakhir mengunjungi Ubud, ternyata hanya kios Pasar Ubud yang masih terlihat sama. Sisanya sudah sama sekali berubah. Jalan utama didepan pasar ubud dipasangi paving blok. Dimana-mana toko.

Atas rekomendasi seorang teman, maka saya melanjutkan perjalanan ke Penestanan Kaja. Kalau menggunakan kendaraan bermotor, maka Penestanan dapat dicapai melalui jalan sesudah Musium Blanco menuju Sayan. Tapi juga ada tangga didepan Hotel Campuan. Tepat dibawah tangga terdapat parkiran motor dan plang yang berisi nama bungalow di Penestanan Kaja. Dengan akses yang tidak terlalu mudah ini, Penestanan Kaja menjadi semacam enclave bungalow.

Yang pertama kita temui tepat sesudah tangga adalah Warung Bu Putu. Lepas dari sana, kita sudah berada ditengah sawah yang diselingi bungalow-bungalow.

Santra Putra milik Pak I Wayan Sadra memiliki 4 bangunan, masing-masing digunakan untuk galeri, rumah utama, dan dua bungalow yang disewakan. Masing-masing bangunan bungalow memiliki dua lantai yang disewakan secara terpisah. Dimasing-masing lantai terdiri atas kamar utama, kamar mandi, dan dapur kecil.

Pembangunan bungalow di Penestanan agak mengkhawatirkan. Ketika beberapa bungalow terlihat tidak lagi dioperasikan, orang masih membangun bungalow baru. Mungkin sebentar lagi pernyataan “ricefield view bungalow” harus menjadi “other bungalow view”.

27 Desember 2004: Ubud

Hari ini sedianya saya memulihkan kekuatan dengkul. Sendi lutut kanan saya mulai terasa sakit untuk gerakan tertentu. Tapi kok gambaran persawahan disekitar Ubud lebih menggoda. Akhirnya saya berkeliling disekitar Ubud.

Seorang teman menyarankan untuk menghabiskan sore di Petulu, dimana ribuan Heron Bird(Burung Kuntul)akan pulang ke kandang. Pemandangan yang spektakuler, namun arah Petulu ini adalah punggungan bukit, yang hampir pasti perjalanan kesana menanjak. Saya tunda dulu rencana itu.

Berkeliling disekitar Campuan saya menyempatkan untuk sekedar melihat pintu masuk Amandari. Dari luar tidak tampak sesuatu yang istimewa. Hanya jalan masuk seperti jalan kampung, dengan sebuah tugu bertuliskan Amandari. Kalau dalamnya? Cukup lihat buku Bali-nya Rio Helmi saja lah….

Berjalan kaki dari Penestanan ke Pasar Ubud melalui Campuan ternyata membuat dengkul kembali berulah.

28 Desember 2004: Ubud

Hari ini, pagi-pagi dibangunkan oleh hujan. Hari ini memaksakan untuk tinggal di penginapan dan berisitirahat. Buku Boy dan Going Solo-nya Roald Dahl dibaca untuk kedua kalinya.

Beruntung membawa kompor lapangan, karena saya bisa memasak sarapan dan makan siang di kamar. Kemarin sore saya sempatkan untuk berbelanja makaroni dan roti di supermarket “Bintang”.

Jumlah ekspatriat yang tinggal di Ubud ternyata cukup ekonomis untuk membuka supermarket dengan kualitas barang yang setara dengan Hero di Kemang Jakarta, dengan koleksi cheese & wine yang kelihatannya lebih lengkap dari Hero Kemang.
Praktis hanya ada dua warung di Penestanan Kaja, rasa makanan Indonesianya terasa biasa sekali.

29 Desember 2004: Ubud – Kuta

Saya meninggalkan Ubud pukul 9.00. Saya turun ke Denpasar melalui Sayan, karena jalur ini lebih sepi. Hujan yang mengguyur membuat jalanan beberapa tempat digenangi air.

Di Celuk saya sempatkan berhenti sebentar untuk membeli oleh-oleh. Tempat ini terkenal sebagai pengrajin perak. Namun pengalaman tawar-menawar ditoko pertama membuat saya bingung tentang nilai sebenarnya dari perhiasan tersebut.

Setelah diperhatikan, ternyata gerakan yang membuat dengkul saya sakit adalah jika lutut saya dibengkokkan untuk melangkahi sepeda ketika akan naik pertama kali. Hari ini saya mulai kebiasaan baru, yaitu kaki diayun dalam posisi lurus saat melangkahi sepeda. Ternyata dengan ini rasa sakit di tempurung dengkul tidak muncul lagi.

Ingatan saya akan Kuta tidak berguna sama sekali. Saya beberapa kali kehilangan orientasi, sampai akhirnya harus bertanya dimana jalan bakung sari.

Saya menginap di Bamboo Inn di Jalan Bakungsari, karena saya tahu persis penginapan ini ditangani langsung oleh pemiliknya. Karena penuh, saya mendapat kamar dengan kamar mandi luar dengan tarif Rp60,000 semalam. Penginapan berbeda dengan penginapan di Kuta umumnya. Ketika penginapan lain ikut hingar bingar, disini sang pemilik menyatakan dengan terus terang kalau dia tidak suka kalau ada tamu yang terlalu berisik.

Kuta tidak menjual Bali. Mungkin terlalu menyederhanakan dan berlebihan, tapi apa yang dijual di Kuta memang tidak berhubungan dengan Bali.Yang sisa hanya orang beraksen Bali. Dan atmosfir ini yang perlahan terdorong sampai ke Ubud.

30 Desember 2004: Kuta

Hari ini saya bersepeda ke Denpasar untuk membeli tiket bus dan memastikan pengiriman sepeda ke jakarta.

Denpasar kota tidak terlalu bersahabat dengan sepeda. Daerah jalan dipusat kota Denpasar banyak dibuat satu arah, sehingga arus kendaraan praktis tanpa jeda. Sepeda motor rules the street.

Setelah itu saya melakukan eksplorasi ke utara kuta; seminyak dan krobokan.

Daerah utara kuta jauh lebih bisa dinikmati, karena bersih dan tidak terlalu padat. Tetapi untuk pilihan makanan dan penginapan murah memang tidak terlalu banyak.

31 Desember 2004: Kuta – Denpasar

Bus tujuan jakarta berangkat dari Ubung pk 15.00. Saya keluar penginapan sekitar pk. 10 dan melewati jalan pantai kuta agar bisa mengambil gambar sepeda di pinggir pantai.

Ketika melewati legian, saya cukup kaget ketika melihat sebuah banjar yang sedang disiapkan untuk pesta malam tahun baru, lengkap dengan rotary lamp á la diskotik. Saya sangat kagum, karena dengan demikian kalangan muda juga punya rasa memiliki terhadap banjar di lingkungannya.

Sepeda saya kirim ke jakarta melalui perusahaan ekspedisi di Pertokoan Jalan Diponegoro. Dari situ saya berjalan kaki ke Terminal Ubung. Cukup Jauh, tapi karena berniat tidak naik kendaraan selain sepeda selama di bali, kecuali bis datang dan pergi.

Ditengah persaingan tiket pesawat terbang, ternyata pengguna bis tidak berkurang. Hari ini bis yang saya naiki tetap penuh, dan ada dua bis lagi dengan tujuan Jakarta.

Sepanjang Denpasar – Gilimanuk peta Bali saya pegang ditangan. Ada beberapa spot yang indah disepanjang jalan ini. Persimpangan jalan arah ke Pupuan juga saya coba tandai, karena suatu saat jalan ini akan saya coba lewati…

Tidak dengan sepeda tentunya…

Kuta tidak menjual Bali. Mungkin terlalu menyederhanakan dan berlebihan, tapi apa yang dijual di Kuta memang tidak berhubungan dengan Bali.Yang sisa hanya orang beraksen Bali. Dan atmosfir ini yang perlahan terdorong sampai ke Ubud.

30 Desember 2004: Kuta

Hari ini saya bersepeda ke Denpasar untuk membeli tiket bus dan memastikan pengiriman sepeda ke jakarta.

Denpasar kota tidak terlalu bersahabat dengan sepeda. Daerah jalan dipusat kota Denpasar banyak dibuat satu arah, sehingga arus kendaraan praktis tanpa jeda. Sepeda motor rules the street.

Setelah itu saya melakukan eksplorasi ke utara kuta; seminyak dan krobokan.

Daerah utara kuta jauh lebih bisa dinikmati, karena bersih dan tidak terlalu padat. Tetapi untuk pilihan makanan dan penginapan murah memang tidak terlalu banyak.

31 Desember 2004: Kuta – Denpasar

Bus tujuan jakarta berangkat dari Ubung pk 15.00. Saya keluar penginapan sekitar pk. 10 dan melewati jalan pantai kuta agar bisa mengambil gambar sepeda di pinggir pantai.

Ketika melewati legian, saya cukup kaget ketika melihat sebuah banjar yang sedang disiapkan untuk pesta malam tahun baru, lengkap dengan rotary lamp á la diskotik. Saya sangat kagum, karena dengan demikian kalangan muda juga punya rasa memiliki terhadap banjar di lingkungannya.

Sepeda saya kirim ke jakarta melalui perusahaan ekspedisi di Pertokoan Jalan Diponegoro. Dari situ saya berjalan kaki ke Terminal Ubung. Cukup Jauh, tapi karena berniat tidak naik kendaraan selain sepeda selama di bali, kecuali bis datang dan pergi.

Ditengah persaingan tiket pesawat terbang, ternyata pengguna bis tidak berkurang. Hari ini bis yang saya naiki tetap penuh, dan ada dua bis lagi dengan tujuan Jakarta.

Sepanjang Denpasar – Gilimanuk peta Bali saya pegang ditangan. Ada beberapa spot yang indah disepanjang jalan ini. Persimpangan jalan arah ke Pupuan juga saya coba tandai, karena suatu saat jalan ini akan saya coba lewati…

Tidak dengan sepeda tentunya…

Kuta tidak menjual Bali. Mungkin terlalu menyederhanakan dan berlebihan, tapi apa yang dijual di Kuta memang tidak berhubungan dengan Bali.Yang sisa hanya orang beraksen Bali. Dan atmosfir ini yang perlahan terdorong sampai ke Ubud.

30 Desember 2004: Kuta

Hari ini saya bersepeda ke Denpasar untuk membeli tiket bus dan memastikan pengiriman sepeda ke jakarta.

Denpasar kota tidak terlalu bersahabat dengan sepeda. Daerah jalan dipusat kota Denpasar banyak dibuat satu arah, sehingga arus kendaraan praktis tanpa jeda. Sepeda motor rules the street.

Setelah itu saya melakukan eksplorasi ke utara kuta; seminyak dan krobokan.

Daerah utara kuta jauh lebih bisa dinikmati, karena bersih dan tidak terlalu padat. Tetapi untuk pilihan makanan dan penginapan murah memang tidak terlalu banyak.

31 Desember 2004: Kuta – Denpasar

Bus tujuan jakarta berangkat dari Ubung pk 15.00. Saya keluar penginapan sekitar pk. 10 dan melewati jalan pantai kuta agar bisa mengambil gambar sepeda di pinggir pantai.

Ketika melewati legian, saya cukup kaget ketika melihat sebuah banjar yang sedang disiapkan untuk pesta malam tahun baru, lengkap dengan rotary lamp á la diskotik. Saya sangat kagum, karena dengan demikian kalangan muda juga punya rasa memiliki terhadap banjar di lingkungannya.

Sepeda saya kirim ke jakarta melalui perusahaan ekspedisi di Pertokoan Jalan Diponegoro. Dari situ saya berjalan kaki ke Terminal Ubung. Cukup Jauh, tapi karena berniat tidak naik kendaraan selain sepeda selama di bali, kecuali bis datang dan pergi.

Ditengah persaingan tiket pesawat terbang, ternyata pengguna bis tidak berkurang. Hari ini bis yang saya naiki tetap penuh, dan ada dua bis lagi dengan tujuan Jakarta.

Sepanjang Denpasar – Gilimanuk peta Bali saya pegang ditangan. Ada beberapa spot yang indah disepanjang jalan ini. Persimpangan jalan arah ke Pupuan juga saya coba tandai, karena suatu saat jalan ini akan saya coba lewati…

Tidak dengan sepeda tentunya…

Kuta tidak menjual Bali. Mungkin terlalu menyederhanakan dan berlebihan, tapi apa yang dijual di Kuta memang tidak berhubungan dengan Bali.Yang sisa hanya orang beraksen Bali. Dan atmosfir ini yang perlahan terdorong sampai ke Ubud.

30 Desember 2004: Kuta

Hari ini saya bersepeda ke Denpasar untuk membeli tiket bus dan memastikan pengiriman sepeda ke jakarta.

Denpasar kota tidak terlalu bersahabat dengan sepeda. Daerah jalan dipusat kota Denpasar banyak dibuat satu arah, sehingga arus kendaraan praktis tanpa jeda. Sepeda motor rules the street.

Setelah itu saya melakukan eksplorasi ke utara kuta; seminyak dan krobokan.

Daerah utara kuta jauh lebih bisa dinikmati, karena bersih dan tidak terlalu padat. Tetapi untuk pilihan makanan dan penginapan murah memang tidak terlalu banyak.

31 Desember 2004: Kuta – Denpasar

Bus tujuan jakarta berangkat dari Ubung pk 15.00. Saya keluar penginapan sekitar pk. 10 dan melewati jalan pantai kuta agar bisa mengambil gambar sepeda di pinggir pantai.

Ketika melewati legian, saya cukup kaget ketika melihat sebuah banjar yang sedang disiapkan untuk pesta malam tahun baru, lengkap dengan rotary lamp á la diskotik. Saya sangat kagum, karena dengan demikian kalangan muda juga punya rasa memiliki terhadap banjar di lingkungannya.

Sepeda saya kirim ke jakarta melalui perusahaan ekspedisi di Pertokoan Jalan Diponegoro. Dari situ saya berjalan kaki ke Terminal Ubung. Cukup Jauh, tapi karena berniat tidak naik kendaraan selain sepeda selama di bali, kecuali bis datang dan pergi.

Ditengah persaingan tiket pesawat terbang, ternyata pengguna bis tidak berkurang. Hari ini bis yang saya naiki tetap penuh, dan ada dua bis lagi dengan tujuan Jakarta.

Sepanjang Denpasar – Gilimanuk peta Bali saya pegang ditangan. Ada beberapa spot yang indah disepanjang jalan ini. Persimpangan jalan arah ke Pupuan juga saya coba tandai, karena suatu saat jalan ini akan saya coba lewati…

Tidak dengan sepeda tentunya…

Kuta tidak menjual Bali. Mungkin terlalu menyederhanakan dan berlebihan, tapi apa yang dijual di Kuta memang tidak berhubungan dengan Bali.Yang sisa hanya orang beraksen Bali. Dan atmosfir ini yang perlahan terdorong sampai ke Ubud.

30 Desember 2004: Kuta

Hari ini saya bersepeda ke Denpasar untuk membeli tiket bus dan memastikan pengiriman sepeda ke jakarta.

Denpasar kota tidak terlalu bersahabat dengan sepeda. Daerah jalan dipusat kota Denpasar banyak dibuat satu arah, sehingga arus kendaraan praktis tanpa jeda. Sepeda motor rules the street.

Setelah itu saya melakukan eksplorasi ke utara kuta; seminyak dan krobokan.

Daerah utara kuta jauh lebih bisa dinikmati, karena bersih dan tidak terlalu padat. Tetapi untuk pilihan makanan dan penginapan murah memang tidak terlalu banyak.

31 Desember 2004: Kuta – Denpasar

Bus tujuan jakarta berangkat dari Ubung pk 15.00. Saya keluar penginapan sekitar pk. 10 dan melewati jalan pantai kuta agar bisa mengambil gambar sepeda di pinggir pantai.

Ketika melewati legian, saya cukup kaget ketika melihat sebuah banjar yang sedang disiapkan untuk pesta malam tahun baru, lengkap dengan rotary lamp á la diskotik. Saya sangat kagum, karena dengan demikian kalangan muda juga punya rasa memiliki terhadap banjar di lingkungannya.

Sepeda saya kirim ke jakarta melalui perusahaan ekspedisi di Pertokoan Jalan Diponegoro. Dari situ saya berjalan kaki ke Terminal Ubung. Cukup Jauh, tapi karena berniat tidak naik kendaraan selain sepeda selama di bali, kecuali bis datang dan pergi.

Ditengah persaingan tiket pesawat terbang, ternyata pengguna bis tidak berkurang. Hari ini bis yang saya naiki tetap penuh, dan ada dua bis lagi dengan tujuan Jakarta.

Sepanjang Denpasar – Gilimanuk peta Bali saya pegang ditangan. Ada beberapa spot yang indah disepanjang jalan ini. Persimpangan jalan arah ke Pupuan juga saya coba tandai, karena suatu saat jalan ini akan saya coba lewati…

Tidak dengan sepeda tentunya…

Kuta tidak menjual Bali. Mungkin terlalu menyederhanakan dan berlebihan, tapi apa yang dijual di Kuta memang tidak berhubungan dengan Bali.Yang sisa hanya orang beraksen Bali. Dan atmosfir ini yang perlahan terdorong sampai ke Ubud.

30 Desember 2004: Kuta

Hari ini saya bersepeda ke Denpasar untuk membeli tiket bus dan memastikan pengiriman sepeda ke jakarta.

Denpasar kota tidak terlalu bersahabat dengan sepeda. Daerah jalan dipusat kota Denpasar banyak dibuat satu arah, sehingga arus kendaraan praktis tanpa jeda. Sepeda motor rules the street.

Setelah itu saya melakukan eksplorasi ke utara kuta; seminyak dan krobokan.

Daerah utara kuta jauh lebih bisa dinikmati, karena bersih dan tidak terlalu padat. Tetapi untuk pilihan makanan dan penginapan murah memang tidak terlalu banyak.

31 Desember 2004: Kuta – Denpasar

Bus tujuan jakarta berangkat dari Ubung pk 15.00. Saya keluar penginapan sekitar pk. 10 dan melewati jalan pantai kuta agar bisa mengambil gambar sepeda di pinggir pantai.

Ketika melewati legian, saya cukup kaget ketika melihat sebuah banjar yang sedang disiapkan untuk pesta malam tahun baru, lengkap dengan rotary lamp á la diskotik. Saya sangat kagum, karena dengan demikian kalangan muda juga punya rasa memiliki terhadap banjar di lingkungannya.

Sepeda saya kirim ke jakarta melalui perusahaan ekspedisi di Pertokoan Jalan Diponegoro. Dari situ saya berjalan kaki ke Terminal Ubung. Cukup Jauh, tapi karena berniat tidak naik kendaraan selain sepeda selama di bali, kecuali bis datang dan pergi.

Ditengah persaingan tiket pesawat terbang, ternyata pengguna bis tidak berkurang. Hari ini bis yang saya naiki tetap penuh, dan ada dua bis lagi dengan tujuan Jakarta.

Sepanjang Denpasar – Gilimanuk peta Bali saya pegang ditangan. Ada beberapa spot yang indah disepanjang jalan ini. Persimpangan jalan arah ke Pupuan juga saya coba tandai, karena suatu saat jalan ini akan saya coba lewati…

Tidak dengan sepeda tentunya…

Kuta tidak menjual Bali. Mungkin terlalu menyederhanakan dan berlebihan, tapi apa yang dijual di Kuta memang tidak berhubungan dengan Bali.Yang sisa hanya orang beraksen Bali. Dan atmosfir ini yang perlahan terdorong sampai ke Ubud.

30 Desember 2004: Kuta

Hari ini saya bersepeda ke Denpasar untuk membeli tiket bus dan memastikan pengiriman sepeda ke jakarta.

Denpasar kota tidak terlalu bersahabat dengan sepeda. Daerah jalan dipusat kota Denpasar banyak dibuat satu arah, sehingga arus kendaraan praktis tanpa jeda. Sepeda motor rules the street.

Setelah itu saya melakukan eksplorasi ke utara kuta; seminyak dan krobokan.

Daerah utara kuta jauh lebih bisa dinikmati, karena bersih dan tidak terlalu padat. Tetapi untuk pilihan makanan dan penginapan murah memang tidak terlalu banyak.

31 Desember 2004: Kuta – Denpasar

Bus tujuan jakarta berangkat dari Ubung pk 15.00. Saya keluar penginapan sekitar pk. 10 dan melewati jalan pantai kuta agar bisa mengambil gambar sepeda di pinggir pantai.

Ketika melewati legian, saya cukup kaget ketika melihat sebuah banjar yang sedang disiapkan untuk pesta malam tahun baru, lengkap dengan rotary lamp á la diskotik. Saya sangat kagum, karena dengan demikian kalangan muda juga punya rasa memiliki terhadap banjar di lingkungannya.

Sepeda saya kirim ke jakarta melalui perusahaan ekspedisi di Pertokoan Jalan Diponegoro. Dari situ saya berjalan kaki ke Terminal Ubung. Cukup Jauh, tapi karena berniat tidak naik kendaraan selain sepeda selama di bali, kecuali bis datang dan pergi.

Ditengah persaingan tiket pesawat terbang, ternyata pengguna bis tidak berkurang. Hari ini bis yang saya naiki tetap penuh, dan ada dua bis lagi dengan tujuan Jakarta.

Sepanjang Denpasar – Gilimanuk peta Bali saya pegang ditangan. Ada beberapa spot yang indah disepanjang jalan ini. Persimpangan jalan arah ke Pupuan juga saya coba tandai, karena suatu saat jalan ini akan saya coba lewati…

Tidak dengan sepeda tentunya…

Dari peta, jarak antara Amed-Amlapura seharusnya kurang dari 25km. Namun bisa terbaca bahwa kontur jalur ini adalah melipir bukit Seraya. Dan benar saja, di perjalanan ini berkali-kali saya harus melalui jalan turun, yang diujungnya merupakan sungai mati, yang sebetulnya adalah dasar lembah diantara dua punggungan. Dan kemudian diikuti belok tajam untuk kemudian menanjak menuju puncak punggungan lagi. Berkali-kali menghadapi medan seperti ini tenaga dengan cepat terkuras habis. Energy bar tidak bisa memberikan tambahan tenaga terlalu banyak.

Huf…huff…huff…gir depan saya set ukuran paling kecil dan gir belakang diameter paling besar, tapi masih saja tanjakan ini terasa berat dilalui. Beberapa kali saya melirik ban belakang, dan hasilnya semua baik-baik saja. Akhirnya sepeda beberapa kali harus saya dorong untuk mencapai puncak tanjakan.

Kondisi jalanan seperti itu masih dilengkapi dengan cuaca panas sepanjang setengah perjalanan. Angin sering bertiup searah dan dengan kecepatan yang sama dengan sepeda. Mungkin daerah ini termasuk daerah yang berada di bayang-bayang hujan, di mana uap air sudah jatuh menjadi hujan dibalik perbukitan sebelum mencapai daerah ini. Mungkin karena itu juga “Tirtagangga” berada dibalik bukit ini.

Perasaan ini juga yang saya alami ketika melalui tanjakan di jalur Jonggol. Ketika beban yang secara absolut tetap sama, tapi karena stamina yang menurun, maka rasanya beban yang harus di hela menjadi berlipat-lipat.

Kalo dalam keadaan begini, biasaya saya mulai bertanya-tanya; ngapain juga susah-susah bersepeda. Mungkin ini saatnya untuk kembali mensitasi ucapannya Mallory:”because it’s there”. Otak jail saya selalu bilang bahwa ucapan Mallory sebetulnya tidak berhenti disitu, sebetulnya dia bilang “because it’s there, and now LEAVE ME ALONE!!” wajar dong, orang baru cape turun dari Everest, kok ditanya kenapa mendaki everest.

Melalui jalur ini, siksaan tidak hanya berupa cobaan fisik. Saat melewati sebuah perkampungan, tercium bau terasi bakar! Aromanya begitu sampai di syaraf penciuman langsung memberi perintah kepada perut untuk keroncongan. Repotnya, tidak ada warung nasi disekitar perkampungan itu. Tampaknya orang yang membakar terasi hanya untuk dikonsumsi sendiri.

Setelah pukul 14, cuaca mulai bersahabat, mendung yang disusul hujan rintik-rintik membantu mendinginkan suhu tubuh. Ketika hujan mulai bertambah lebat, beberapa sungai yang mati mulai dialiri air. Karena jarangnya hujan di pantai timur ini, maka umumnya tidak dibangun jembatan untuk menyeberangi sungai. Jalanan dibuat untuk bisa dialiri air saat hujan dan kendaraan harus lewat aliran air sungai.

“Sekolah Dasar Negeri Seraya” Plang sekolah ini membuat saya tersenyum. Karena berarti saya sudah mendekati Amlapura.

Jalanan kembali relatif lurus dan menurun, sampai bertemu dengan “Taman Air Ujung”. Sawah di perbukitan masih menemani sampai akhirnya memasuki kota Amlapura.
Menurut LP, Homestay Lila di Abian Soan biasa digunakan sebagai tempat menginap kalau mau melakukan ekplorasi disekitar kaki Gunung Agung. Malam ini saya berencana untuk bisa mencapai penginapan ini. Ditengah hujan gerimis, ternyata saya sudah melewati Abian Soya, dan mencapai Bebandem, terpaksa saya kembali sekitar 2 km untuk menemukan Homestay Lila di Abian Soan.

Ternyata Homestay Lila sudah lama tidak menerima tamu. Ada dua kamar yang disewakan. Semuanya dalam kondisi kurang terawat. Justru pengelolanya menyarankan untuk menginap di Kemang Remaja, empat kilometer dari Abian Soya. Jadilah kembali ke Amlapura.

Kemang Remaja lebih seperti penginapan pengemudi kendaraan antar kota. Losmen ini punya kamar yang berdekatan dengan tempat parkir mobil, dan kamar-kamar yang mengitari taman didalam rumah. Kamarnya sangat basic, dengan coretan-coretan di dinding kamar. Kamar mandinya cukup bersih, dan karena letak Amlapura yang dikaki bukit, airnya sangat menyegarkan.

26 Desember 2004: Amlapura – Rendang – Ubud

Saya mengulang 6 km perjalanan menanjak. Tapi tak apa, karena pagi ini cuaca cerah dan pemandangan layak sekali untuk dinikmati. Apalagi disebelah kanan saya ditemani Gunung Agung, yang kemarin sore disembunyikan oleh awan.

Rute melalui Rendang oleh Lonely Planet direkomendasikan untuk dilalui dari arah barat ke timur, karena jalanannya relative menurun. Mereka menyebut rute ini sebagai “Scenic road”. Tapi terus terang, mungkin untuk orang Indonesia yang cukup sering melihat sawah dan gunung, rute ini tidak terlalu luar biasa.
Yang malah menarik adalah, jalur jalanan ini melalui desa-desa kecil tradisional Bali, dimana “pusat desa” yang bisanya berupa pertempatan, terdapat pohon beringin besar. Karena belum terlalu siang, maka biasanya kegiatan masyarakat di pasar masih belum selesai. Beberapa pura juga masih menggunakan ijuk yang ditumpuk tebal sebagai atapnya.
Di jalur ini banyak ditemui pengrajin batu, yang membelah batu gunung menjadi kepingan-kepingan kecil.

Saya beruntung melewati jalur ini dengan sepeda. Dengan kendaraan yang nyaris tanpa suara ini, dibeberapa tempat ketika melalui Banjar, terdengar sayup-sayup warga banjar yang sedang berlatih gamelan.

Mencapai Rendang dari timur ke barat(kebalikan dari rekomendasi LP) cukup melelahkan. Tanjakan yang konstan, dengan beberapa kali perjalanan memotong punggungan. Mendekati Rendang, mulai terlihat truk pengangkut batu dan pasir.

Lewat di salah satu jembatan saya bisa mendengar gemericik air dari sungai dibawahnya. Tidak tahan lagi, saya menurunkan sepeda saya melalui jalan kecil dipinggir jembatan untuk kemudian mencuci baju dan berendam di sungai.

Untuk meringankan beban, saya memang hanya membawa 3 buah baju. Dua saya pakai bergantian dan satu pertahankan tetap bersih.

Lepas dari Rendang, perjalanan dilanjutkan menuju Bangli via Cempaga. Dari sana selesai sudah jalur naik turun bukit, sekarang jalanan relatif menurun kearah Gianyar.

Di perjalanan tampak sebuah plang “Menyewakan Babi Jantan”-What a job for a male!

Tiba di Ubud, butuh sejenak untuk mengembalikan orientasi. Dari ingatan tahun 96 terakhir mengunjungi Ubud, ternyata hanya kios Pasar Ubud yang masih terlihat sama. Sisanya sudah sama sekali berubah. Jalan utama didepan pasar ubud dipasangi paving blok. Dimana-mana toko.

Atas rekomendasi seorang teman, maka saya melanjutkan perjalanan ke Penestanan Kaja. Kalau menggunakan kendaraan bermotor, maka Penestanan dapat dicapai melalui jalan sesudah Musium Blanco menuju Sayan. Tapi juga ada tangga didepan Hotel Campuan. Tepat dibawah tangga terdapat parkiran motor dan plang yang berisi nama bungalow di Penestanan Kaja. Dengan akses yang tidak terlalu mudah ini, Penestanan Kaja menjadi semacam enclave bungalow.

Yang pertama kita temui tepat sesudah tangga adalah Warung Bu Putu. Lepas dari sana, kita sudah berada ditengah sawah yang diselingi bungalow-bungalow.

Santra Putra milik Pak I Wayan Sadra memiliki 4 bangunan, masing-masing digunakan untuk galeri, rumah utama, dan dua bungalow yang disewakan. Masing-masing bangunan bungalow memiliki dua lantai yang disewakan secara terpisah. Dimasing-masing lantai terdiri atas kamar utama, kamar mandi, dan dapur kecil.

Pembangunan bungalow di Penestanan agak mengkhawatirkan. Ketika beberapa bungalow terlihat tidak lagi dioperasikan, orang masih membangun bungalow baru. Mungkin sebentar lagi pernyataan “ricefield view bungalow” harus menjadi “other bungalow view”.

27 Desember 2004: Ubud

Hari ini sedianya saya memulihkan kekuatan dengkul. Sendi lutut kanan saya mulai terasa sakit untuk gerakan tertentu. Tapi kok gambaran persawahan disekitar Ubud lebih menggoda. Akhirnya saya berkeliling disekitar Ubud.

Seorang teman menyarankan untuk menghabiskan sore di Petulu, dimana ribuan Heron Bird(Burung Kuntul)akan pulang ke kandang. Pemandangan yang spektakuler, namun arah Petulu ini adalah punggungan bukit, yang hampir pasti perjalanan kesana menanjak. Saya tunda dulu rencana itu.

Berkeliling disekitar Campuan saya menyempatkan untuk sekedar melihat pintu masuk Amandari. Dari luar tidak tampak sesuatu yang istimewa. Hanya jalan masuk seperti jalan kampung, dengan sebuah tugu bertuliskan Amandari. Kalau dalamnya? Cukup lihat buku Bali-nya Rio Helmi saja lah….

Berjalan kaki dari Penestanan ke Pasar Ubud melalui Campuan ternyata membuat dengkul kembali berulah.

28 Desember 2004: Ubud

Hari ini, pagi-pagi dibangunkan oleh hujan. Hari ini memaksakan untuk tinggal di penginapan dan berisitirahat. Buku Boy dan Going Solo-nya Roald Dahl dibaca untuk kedua kalinya.

Beruntung membawa kompor lapangan, karena saya bisa memasak sarapan dan makan siang di kamar. Kemarin sore saya sempatkan untuk berbelanja makaroni dan roti di supermarket “Bintang”.

Jumlah ekspatriat yang tinggal di Ubud ternyata cukup ekonomis untuk membuka supermarket dengan kualitas barang yang setara dengan Hero di Kemang Jakarta, dengan koleksi cheese & wine yang kelihatannya lebih lengkap dari Hero Kemang.
Praktis hanya ada dua warung di Penestanan Kaja, rasa makanan Indonesianya terasa biasa sekali.

29 Desember 2004: Ubud – Kuta

Saya meninggalkan Ubud pukul 9.00. Saya turun ke Denpasar melalui Sayan, karena jalur ini lebih sepi. Hujan yang mengguyur membuat jalanan beberapa tempat digenangi air.

Di Celuk saya sempatkan berhenti sebentar untuk membeli oleh-oleh. Tempat ini terkenal sebagai pengrajin perak. Namun pengalaman tawar-menawar ditoko pertama membuat saya bingung tentang nilai sebenarnya dari perhiasan tersebut.

Setelah diperhatikan, ternyata gerakan yang membuat dengkul saya sakit adalah jika lutut saya dibengkokkan untuk melangkahi sepeda ketika akan naik pertama kali. Hari ini saya mulai kebiasaan baru, yaitu kaki diayun dalam posisi lurus saat melangkahi sepeda. Ternyata dengan ini rasa sakit di tempurung dengkul tidak muncul lagi.

Ingatan saya akan Kuta tidak berguna sama sekali. Saya beberapa kali kehilangan orientasi, sampai akhirnya harus bertanya dimana jalan bakung sari.

Saya menginap di Bamboo Inn di Jalan Bakungsari, karena saya tahu persis penginapan ini ditangani langsung oleh pemiliknya. Karena penuh, saya mendapat kamar dengan kamar mandi luar dengan tarif Rp60,000 semalam. Penginapan berbeda dengan penginapan di Kuta umumnya. Ketika penginapan lain ikut hingar bingar, disini sang pemilik menyatakan dengan terus terang kalau dia tidak suka kalau ada tamu yang terlalu berisik.

Kuta tidak menjual Bali. Mungkin terlalu menyederhanakan dan berlebihan, tapi apa yang dijual di Kuta memang tidak berhubungan dengan Bali.Yang sisa hanya orang beraksen Bali. Dan atmosfir ini yang perlahan terdorong sampai ke Ubud.

30 Desember 2004: Kuta

Hari ini saya bersepeda ke Denpasar untuk membeli tiket bus dan memastikan pengiriman sepeda ke jakarta.

Denpasar kota tidak terlalu bersahabat dengan sepeda. Daerah jalan dipusat kota Denpasar banyak dibuat satu arah, sehingga arus kendaraan praktis tanpa jeda. Sepeda motor rules the street.

Setelah itu saya melakukan eksplorasi ke utara kuta; seminyak dan krobokan.

Daerah utara kuta jauh lebih bisa dinikmati, karena bersih dan tidak terlalu padat. Tetapi untuk pilihan makanan dan penginapan murah memang tidak terlalu banyak.

31 Desember 2004: Kuta – Denpasar

Bus tujuan jakarta berangkat dari Ubung pk 15.00. Saya keluar penginapan sekitar pk. 10 dan melewati jalan pantai kuta agar bisa mengambil gambar sepeda di pinggir pantai.

Ketika melewati legian, saya cukup kaget ketika melihat sebuah banjar yang sedang disiapkan untuk pesta malam tahun baru, lengkap dengan rotary lamp á la diskotik. Saya sangat kagum, karena dengan demikian kalangan muda juga punya rasa memiliki terhadap banjar di lingkungannya.

Sepeda saya kirim ke jakarta melalui perusahaan ekspedisi di Pertokoan Jalan Diponegoro. Dari situ saya berjalan kaki ke Terminal Ubung. Cukup Jauh, tapi karena berniat tidak naik kendaraan selain sepeda selama di bali, kecuali bis datang dan pergi.

Ditengah persaingan tiket pesawat terbang, ternyata pengguna bis tidak berkurang. Hari ini bis yang saya naiki tetap penuh, dan ada dua bis lagi dengan tujuan Jakarta.

Sepanjang Denpasar – Gilimanuk peta Bali saya pegang ditangan. Ada beberapa spot yang indah disepanjang jalan ini. Persimpangan jalan arah ke Pupuan juga saya coba tandai, karena suatu saat jalan ini akan saya coba lewati…

Tidak dengan sepeda tentunya…

Kuta tidak menjual Bali. Mungkin terlalu menyederhanakan dan berlebihan, tapi apa yang dijual di Kuta memang tidak berhubungan dengan Bali.Yang sisa hanya orang beraksen Bali. Dan atmosfir ini yang perlahan terdorong sampai ke Ubud.

30 Desember 2004: Kuta

Hari ini saya bersepeda ke Denpasar untuk membeli tiket bus dan memastikan pengiriman sepeda ke jakarta.

Denpasar kota tidak terlalu bersahabat dengan sepeda. Daerah jalan dipusat kota Denpasar banyak dibuat satu arah, sehingga arus kendaraan praktis tanpa jeda. Sepeda motor rules the street.

Setelah itu saya melakukan eksplorasi ke utara kuta; seminyak dan krobokan.

Daerah utara kuta jauh lebih bisa dinikmati, karena bersih dan tidak terlalu padat. Tetapi untuk pilihan makanan dan penginapan murah memang tidak terlalu banyak.

31 Desember 2004: Kuta – Denpasar

Bus tujuan jakarta berangkat dari Ubung pk 15.00. Saya keluar penginapan sekitar pk. 10 dan melewati jalan pantai kuta agar bisa mengambil gambar sepeda di pinggir pantai.

Ketika melewati legian, saya cukup kaget ketika melihat sebuah banjar yang sedang disiapkan untuk pesta malam tahun baru, lengkap dengan rotary lamp á la diskotik. Saya sangat kagum, karena dengan demikian kalangan muda juga punya rasa memiliki terhadap banjar di lingkungannya.

Sepeda saya kirim ke jakarta melalui perusahaan ekspedisi di Pertokoan Jalan Diponegoro. Dari situ saya berjalan kaki ke Terminal Ubung. Cukup Jauh, tapi karena berniat tidak naik kendaraan selain sepeda selama di bali, kecuali bis datang dan pergi.

Ditengah persaingan tiket pesawat terbang, ternyata pengguna bis tidak berkurang. Hari ini bis yang saya naiki tetap penuh, dan ada dua bis lagi dengan tujuan Jakarta.

Sepanjang Denpasar – Gilimanuk peta Bali saya pegang ditangan. Ada beberapa spot yang indah disepanjang jalan ini. Persimpangan jalan arah ke Pupuan juga saya coba tandai, karena suatu saat jalan ini akan saya coba lewati…

Tidak dengan sepeda tentunya…

Kuta tidak menjual Bali. Mungkin terlalu menyederhanakan dan berlebihan, tapi apa yang dijual di Kuta memang tidak berhubungan dengan Bali.Yang sisa hanya orang beraksen Bali. Dan atmosfir ini yang perlahan terdorong sampai ke Ubud.

30 Desember 2004: Kuta

Hari ini saya bersepeda ke Denpasar untuk membeli tiket bus dan memastikan pengiriman sepeda ke jakarta.

Denpasar kota tidak terlalu bersahabat dengan sepeda. Daerah jalan dipusat kota Denpasar banyak dibuat satu arah, sehingga arus kendaraan praktis tanpa jeda. Sepeda motor rules the street.

Setelah itu saya melakukan eksplorasi ke utara kuta; seminyak dan krobokan.

Daerah utara kuta jauh lebih bisa dinikmati, karena bersih dan tidak terlalu padat. Tetapi untuk pilihan makanan dan penginapan murah memang tidak terlalu banyak.

31 Desember 2004: Kuta – Denpasar

Bus tujuan jakarta berangkat dari Ubung pk 15.00. Saya keluar penginapan sekitar pk. 10 dan melewati jalan pantai kuta agar bisa mengambil gambar sepeda di pinggir pantai.

Ketika melewati legian, saya cukup kaget ketika melihat sebuah banjar yang sedang disiapkan untuk pesta malam tahun baru, lengkap dengan rotary lamp á la diskotik. Saya sangat kagum, karena dengan demikian kalangan muda juga punya rasa memiliki terhadap banjar di lingkungannya.

Sepeda saya kirim ke jakarta melalui perusahaan ekspedisi di Pertokoan Jalan Diponegoro. Dari situ saya berjalan kaki ke Terminal Ubung. Cukup Jauh, tapi karena berniat tidak naik kendaraan selain sepeda selama di bali, kecuali bis datang dan pergi.

Ditengah persaingan tiket pesawat terbang, ternyata pengguna bis tidak berkurang. Hari ini bis yang saya naiki tetap penuh, dan ada dua bis lagi dengan tujuan Jakarta.

Sepanjang Denpasar – Gilimanuk peta Bali saya pegang ditangan. Ada beberapa spot yang indah disepanjang jalan ini. Persimpangan jalan arah ke Pupuan juga saya coba tandai, karena suatu saat jalan ini akan saya coba lewati…

Tidak dengan sepeda tentunya…

Kuta tidak menjual Bali. Mungkin terlalu menyederhanakan dan berlebihan, tapi apa yang dijual di Kuta memang tidak berhubungan dengan Bali.Yang sisa hanya orang beraksen Bali. Dan atmosfir ini yang perlahan terdorong sampai ke Ubud.

30 Desember 2004: Kuta

Hari ini saya bersepeda ke Denpasar untuk membeli tiket bus dan memastikan pengiriman sepeda ke jakarta.

Denpasar kota tidak terlalu bersahabat dengan sepeda. Daerah jalan dipusat kota Denpasar banyak dibuat satu arah, sehingga arus kendaraan praktis tanpa jeda. Sepeda motor rules the street.

Setelah itu saya melakukan eksplorasi ke utara kuta; seminyak dan krobokan.

Daerah utara kuta jauh lebih bisa dinikmati, karena bersih dan tidak terlalu padat. Tetapi untuk pilihan makanan dan penginapan murah memang tidak terlalu banyak.

31 Desember 2004: Kuta – Denpasar

Bus tujuan jakarta berangkat dari Ubung pk 15.00. Saya keluar penginapan sekitar pk. 10 dan melewati jalan pantai kuta agar bisa mengambil gambar sepeda di pinggir pantai.

Ketika melewati legian, saya cukup kaget ketika melihat sebuah banjar yang sedang disiapkan untuk pesta malam tahun baru, lengkap dengan rotary lamp á la diskotik. Saya sangat kagum, karena dengan demikian kalangan muda juga punya rasa memiliki terhadap banjar di lingkungannya.

Sepeda saya kirim ke jakarta melalui perusahaan ekspedisi di Pertokoan Jalan Diponegoro. Dari situ saya berjalan kaki ke Terminal Ubung. Cukup Jauh, tapi karena berniat tidak naik kendaraan selain sepeda selama di bali, kecuali bis datang dan pergi.

Ditengah persaingan tiket pesawat terbang, ternyata pengguna bis tidak berkurang. Hari ini bis yang saya naiki tetap penuh, dan ada dua bis lagi dengan tujuan Jakarta.

Sepanjang Denpasar – Gilimanuk peta Bali saya pegang ditangan. Ada beberapa spot yang indah disepanjang jalan ini. Persimpangan jalan arah ke Pupuan juga saya coba tandai, karena suatu saat jalan ini akan saya coba lewati…

Tidak dengan sepeda tentunya…

Kuta tidak menjual Bali. Mungkin terlalu menyederhanakan dan berlebihan, tapi apa yang dijual di Kuta memang tidak berhubungan dengan Bali.Yang sisa hanya orang beraksen Bali. Dan atmosfir ini yang perlahan terdorong sampai ke Ubud.

30 Desember 2004: Kuta

Hari ini saya bersepeda ke Denpasar untuk membeli tiket bus dan memastikan pengiriman sepeda ke jakarta.

Denpasar kota tidak terlalu bersahabat dengan sepeda. Daerah jalan dipusat kota Denpasar banyak dibuat satu arah, sehingga arus kendaraan praktis tanpa jeda. Sepeda motor rules the street.

Setelah itu saya melakukan eksplorasi ke utara kuta; seminyak dan krobokan.

Daerah utara kuta jauh lebih bisa dinikmati, karena bersih dan tidak terlalu padat. Tetapi untuk pilihan makanan dan penginapan murah memang tidak terlalu banyak.

31 Desember 2004: Kuta – Denpasar

Bus tujuan jakarta berangkat dari Ubung pk 15.00. Saya keluar penginapan sekitar pk. 10 dan melewati jalan pantai kuta agar bisa mengambil gambar sepeda di pinggir pantai.

Ketika melewati legian, saya cukup kaget ketika melihat sebuah banjar yang sedang disiapkan untuk pesta malam tahun baru, lengkap dengan rotary lamp á la diskotik. Saya sangat kagum, karena dengan demikian kalangan muda juga punya rasa memiliki terhadap banjar di lingkungannya.

Sepeda saya kirim ke jakarta melalui perusahaan ekspedisi di Pertokoan Jalan Diponegoro. Dari situ saya berjalan kaki ke Terminal Ubung. Cukup Jauh, tapi karena berniat tidak naik kendaraan selain sepeda selama di bali, kecuali bis datang dan pergi.

Ditengah persaingan tiket pesawat terbang, ternyata pengguna bis tidak berkurang. Hari ini bis yang saya naiki tetap penuh, dan ada dua bis lagi dengan tujuan Jakarta.

Sepanjang Denpasar – Gilimanuk peta Bali saya pegang ditangan. Ada beberapa spot yang indah disepanjang jalan ini. Persimpangan jalan arah ke Pupuan juga saya coba tandai, karena suatu saat jalan ini akan saya coba lewati…

Tidak dengan sepeda tentunya…

Kuta tidak menjual Bali. Mungkin terlalu menyederhanakan dan berlebihan, tapi apa yang dijual di Kuta memang tidak berhubungan dengan Bali.Yang sisa hanya orang beraksen Bali. Dan atmosfir ini yang perlahan terdorong sampai ke Ubud.

30 Desember 2004: Kuta

Hari ini saya bersepeda ke Denpasar untuk membeli tiket bus dan memastikan pengiriman sepeda ke jakarta.

Denpasar kota tidak terlalu bersahabat dengan sepeda. Daerah jalan dipusat kota Denpasar banyak dibuat satu arah, sehingga arus kendaraan praktis tanpa jeda. Sepeda motor rules the street.

Setelah itu saya melakukan eksplorasi ke utara kuta; seminyak dan krobokan.

Daerah utara kuta jauh lebih bisa dinikmati, karena bersih dan tidak terlalu padat. Tetapi untuk pilihan makanan dan penginapan murah memang tidak terlalu banyak.

31 Desember 2004: Kuta – Denpasar

Bus tujuan jakarta berangkat dari Ubung pk 15.00. Saya keluar penginapan sekitar pk. 10 dan melewati jalan pantai kuta agar bisa mengambil gambar sepeda di pinggir pantai.

Ketika melewati legian, saya cukup kaget ketika melihat sebuah banjar yang sedang disiapkan untuk pesta malam tahun baru, lengkap dengan rotary lamp á la diskotik. Saya sangat kagum, karena dengan demikian kalangan muda juga punya rasa memiliki terhadap banjar di lingkungannya.

Sepeda saya kirim ke jakarta melalui perusahaan ekspedisi di Pertokoan Jalan Diponegoro. Dari situ saya berjalan kaki ke Terminal Ubung. Cukup Jauh, tapi karena berniat tidak naik kendaraan selain sepeda selama di bali, kecuali bis datang dan pergi.

Ditengah persaingan tiket pesawat terbang, ternyata pengguna bis tidak berkurang. Hari ini bis yang saya naiki tetap penuh, dan ada dua bis lagi dengan tujuan Jakarta.

Sepanjang Denpasar – Gilimanuk peta Bali saya pegang ditangan. Ada beberapa spot yang indah disepanjang jalan ini. Persimpangan jalan arah ke Pupuan juga saya coba tandai, karena suatu saat jalan ini akan saya coba lewati…

Tidak dengan sepeda tentunya…

Kuta tidak menjual Bali. Mungkin terlalu menyederhanakan dan berlebihan, tapi apa yang dijual di Kuta memang tidak berhubungan dengan Bali.Yang sisa hanya orang beraksen Bali. Dan atmosfir ini yang perlahan terdorong sampai ke Ubud.

30 Desember 2004: Kuta

Hari ini saya bersepeda ke Denpasar untuk membeli tiket bus dan memastikan pengiriman sepeda ke jakarta.

Denpasar kota tidak terlalu bersahabat dengan sepeda. Daerah jalan dipusat kota Denpasar banyak dibuat satu arah, sehingga arus kendaraan praktis tanpa jeda. Sepeda motor rules the street.

Setelah itu saya melakukan eksplorasi ke utara kuta; seminyak dan krobokan.

Daerah utara kuta jauh lebih bisa dinikmati, karena bersih dan tidak terlalu padat. Tetapi untuk pilihan makanan dan penginapan murah memang tidak terlalu banyak.

31 Desember 2004: Kuta – Denpasar

Bus tujuan jakarta berangkat dari Ubung pk 15.00. Saya keluar penginapan sekitar pk. 10 dan melewati jalan pantai kuta agar bisa mengambil gambar sepeda di pinggir pantai.

Ketika melewati legian, saya cukup kaget ketika melihat sebuah banjar yang sedang disiapkan untuk pesta malam tahun baru, lengkap dengan rotary lamp á la diskotik. Saya sangat kagum, karena dengan demikian kalangan muda juga punya rasa memiliki terhadap banjar di lingkungannya.

Sepeda saya kirim ke jakarta melalui perusahaan ekspedisi di Pertokoan Jalan Diponegoro. Dari situ saya berjalan kaki ke Terminal Ubung. Cukup Jauh, tapi karena berniat tidak naik kendaraan selain sepeda selama di bali, kecuali bis datang dan pergi.

Ditengah persaingan tiket pesawat terbang, ternyata pengguna bis tidak berkurang. Hari ini bis yang saya naiki tetap penuh, dan ada dua bis lagi dengan tujuan Jakarta.

Sepanjang Denpasar – Gilimanuk peta Bali saya pegang ditangan. Ada beberapa spot yang indah disepanjang jalan ini. Persimpangan jalan arah ke Pupuan juga saya coba tandai, karena suatu saat jalan ini akan saya coba lewati…

Tidak dengan sepeda tentunya…

Dari peta, jarak antara Amed-Amlapura seharusnya kurang dari 25km. Namun bisa terbaca bahwa kontur jalur ini adalah melipir bukit Seraya. Dan benar saja, di perjalanan ini berkali-kali saya harus melalui jalan turun, yang diujungnya merupakan sungai mati, yang sebetulnya adalah dasar lembah diantara dua punggungan. Dan kemudian diikuti belok tajam untuk kemudian menanjak menuju puncak punggungan lagi. Berkali-kali menghadapi medan seperti ini tenaga dengan cepat terkuras habis. Energy bar tidak bisa memberikan tambahan tenaga terlalu banyak.

Huf…huff…huff…gir depan saya set ukuran paling kecil dan gir belakang diameter paling besar, tapi masih saja tanjakan ini terasa berat dilalui. Beberapa kali saya melirik ban belakang, dan hasilnya semua baik-baik saja. Akhirnya sepeda beberapa kali harus saya dorong untuk mencapai puncak tanjakan.

Kondisi jalanan seperti itu masih dilengkapi dengan cuaca panas sepanjang setengah perjalanan. Angin sering bertiup searah dan dengan kecepatan yang sama dengan sepeda. Mungkin daerah ini termasuk daerah yang berada di bayang-bayang hujan, di mana uap air sudah jatuh menjadi hujan dibalik perbukitan sebelum mencapai daerah ini. Mungkin karena itu juga “Tirtagangga” berada dibalik bukit ini.

Perasaan ini juga yang saya alami ketika melalui tanjakan di jalur Jonggol. Ketika beban yang secara absolut tetap sama, tapi karena stamina yang menurun, maka rasanya beban yang harus di hela menjadi berlipat-lipat.

Kalo dalam keadaan begini, biasaya saya mulai bertanya-tanya; ngapain juga susah-susah bersepeda. Mungkin ini saatnya untuk kembali mensitasi ucapannya Mallory:”because it’s there”. Otak jail saya selalu bilang bahwa ucapan Mallory sebetulnya tidak berhenti disitu, sebetulnya dia bilang “because it’s there, and now LEAVE ME ALONE!!” wajar dong, orang baru cape turun dari Everest, kok ditanya kenapa mendaki everest.

Melalui jalur ini, siksaan tidak hanya berupa cobaan fisik. Saat melewati sebuah perkampungan, tercium bau terasi bakar! Aromanya begitu sampai di syaraf penciuman langsung memberi perintah kepada perut untuk keroncongan. Repotnya, tidak ada warung nasi disekitar perkampungan itu. Tampaknya orang yang membakar terasi hanya untuk dikonsumsi sendiri.

Setelah pukul 14, cuaca mulai bersahabat, mendung yang disusul hujan rintik-rintik membantu mendinginkan suhu tubuh. Ketika hujan mulai bertambah lebat, beberapa sungai yang mati mulai dialiri air. Karena jarangnya hujan di pantai timur ini, maka umumnya tidak dibangun jembatan untuk menyeberangi sungai. Jalanan dibuat untuk bisa dialiri air saat hujan dan kendaraan harus lewat aliran air sungai.

“Sekolah Dasar Negeri Seraya” Plang sekolah ini membuat saya tersenyum. Karena berarti saya sudah mendekati Amlapura.

Jalanan kembali relatif lurus dan menurun, sampai bertemu dengan “Taman Air Ujung”. Sawah di perbukitan masih menemani sampai akhirnya memasuki kota Amlapura.
Menurut LP, Homestay Lila di Abian Soan biasa digunakan sebagai tempat menginap kalau mau melakukan ekplorasi disekitar kaki Gunung Agung. Malam ini saya berencana untuk bisa mencapai penginapan ini. Ditengah hujan gerimis, ternyata saya sudah melewati Abian Soya, dan mencapai Bebandem, terpaksa saya kembali sekitar 2 km untuk menemukan Homestay Lila di Abian Soan.

Ternyata Homestay Lila sudah lama tidak menerima tamu. Ada dua kamar yang disewakan. Semuanya dalam kondisi kurang terawat. Justru pengelolanya menyarankan untuk menginap di Kemang Remaja, empat kilometer dari Abian Soya. Jadilah kembali ke Amlapura.

Kemang Remaja lebih seperti penginapan pengemudi kendaraan antar kota. Losmen ini punya kamar yang berdekatan dengan tempat parkir mobil, dan kamar-kamar yang mengitari taman didalam rumah. Kamarnya sangat basic, dengan coretan-coretan di dinding kamar. Kamar mandinya cukup bersih, dan karena letak Amlapura yang dikaki bukit, airnya sangat menyegarkan.

26 Desember 2004: Amlapura – Rendang – Ubud

Saya mengulang 6 km perjalanan menanjak. Tapi tak apa, karena pagi ini cuaca cerah dan pemandangan layak sekali untuk dinikmati. Apalagi disebelah kanan saya ditemani Gunung Agung, yang kemarin sore disembunyikan oleh awan.

Rute melalui Rendang oleh Lonely Planet direkomendasikan untuk dilalui dari arah barat ke timur, karena jalanannya relative menurun. Mereka menyebut rute ini sebagai “Scenic road”. Tapi terus terang, mungkin untuk orang Indonesia yang cukup sering melihat sawah dan gunung, rute ini tidak terlalu luar biasa.
Yang malah menarik adalah, jalur jalanan ini melalui desa-desa kecil tradisional Bali, dimana “pusat desa” yang bisanya berupa pertempatan, terdapat pohon beringin besar. Karena belum terlalu siang, maka biasanya kegiatan masyarakat di pasar masih belum selesai. Beberapa pura juga masih menggunakan ijuk yang ditumpuk tebal sebagai atapnya.
Di jalur ini banyak ditemui pengrajin batu, yang membelah batu gunung menjadi kepingan-kepingan kecil.

Saya beruntung melewati jalur ini dengan sepeda. Dengan kendaraan yang nyaris tanpa suara ini, dibeberapa tempat ketika melalui Banjar, terdengar sayup-sayup warga banjar yang sedang berlatih gamelan.

Mencapai Rendang dari timur ke barat(kebalikan dari rekomendasi LP) cukup melelahkan. Tanjakan yang konstan, dengan beberapa kali perjalanan memotong punggungan. Mendekati Rendang, mulai terlihat truk pengangkut batu dan pasir.

Lewat di salah satu jembatan saya bisa mendengar gemericik air dari sungai dibawahnya. Tidak tahan lagi, saya menurunkan sepeda saya melalui jalan kecil dipinggir jembatan untuk kemudian mencuci baju dan berendam di sungai.

Untuk meringankan beban, saya memang hanya membawa 3 buah baju. Dua saya pakai bergantian dan satu pertahankan tetap bersih.

Lepas dari Rendang, perjalanan dilanjutkan menuju Bangli via Cempaga. Dari sana selesai sudah jalur naik turun bukit, sekarang jalanan relatif menurun kearah Gianyar.

Di perjalanan tampak sebuah plang “Menyewakan Babi Jantan”-What a job for a male!

Tiba di Ubud, butuh sejenak untuk mengembalikan orientasi. Dari ingatan tahun 96 terakhir mengunjungi Ubud, ternyata hanya kios Pasar Ubud yang masih terlihat sama. Sisanya sudah sama sekali berubah. Jalan utama didepan pasar ubud dipasangi paving blok. Dimana-mana toko.

Atas rekomendasi seorang teman, maka saya melanjutkan perjalanan ke Penestanan Kaja. Kalau menggunakan kendaraan bermotor, maka Penestanan dapat dicapai melalui jalan sesudah Musium Blanco menuju Sayan. Tapi juga ada tangga didepan Hotel Campuan. Tepat dibawah tangga terdapat parkiran motor dan plang yang berisi nama bungalow di Penestanan Kaja. Dengan akses yang tidak terlalu mudah ini, Penestanan Kaja menjadi semacam enclave bungalow.

Yang pertama kita temui tepat sesudah tangga adalah Warung Bu Putu. Lepas dari sana, kita sudah berada ditengah sawah yang diselingi bungalow-bungalow.

Santra Putra milik Pak I Wayan Sadra memiliki 4 bangunan, masing-masing digunakan untuk galeri, rumah utama, dan dua bungalow yang disewakan. Masing-masing bangunan bungalow memiliki dua lantai yang disewakan secara terpisah. Dimasing-masing lantai terdiri atas kamar utama, kamar mandi, dan dapur kecil.

Pembangunan bungalow di Penestanan agak mengkhawatirkan. Ketika beberapa bungalow terlihat tidak lagi dioperasikan, orang masih membangun bungalow baru. Mungkin sebentar lagi pernyataan “ricefield view bungalow” harus menjadi “other bungalow view”.

27 Desember 2004: Ubud

Hari ini sedianya saya memulihkan kekuatan dengkul. Sendi lutut kanan saya mulai terasa sakit untuk gerakan tertentu. Tapi kok gambaran persawahan disekitar Ubud lebih menggoda. Akhirnya saya berkeliling disekitar Ubud.

Seorang teman menyarankan untuk menghabiskan sore di Petulu, dimana ribuan Heron Bird(Burung Kuntul)akan pulang ke kandang. Pemandangan yang spektakuler, namun arah Petulu ini adalah punggungan bukit, yang hampir pasti perjalanan kesana menanjak. Saya tunda dulu rencana itu.

Berkeliling disekitar Campuan saya menyempatkan untuk sekedar melihat pintu masuk Amandari. Dari luar tidak tampak sesuatu yang istimewa. Hanya jalan masuk seperti jalan kampung, dengan sebuah tugu bertuliskan Amandari. Kalau dalamnya? Cukup lihat buku Bali-nya Rio Helmi saja lah….

Berjalan kaki dari Penestanan ke Pasar Ubud melalui Campuan ternyata membuat dengkul kembali berulah.

28 Desember 2004: Ubud

Hari ini, pagi-pagi dibangunkan oleh hujan. Hari ini memaksakan untuk tinggal di penginapan dan berisitirahat. Buku Boy dan Going Solo-nya Roald Dahl dibaca untuk kedua kalinya.

Beruntung membawa kompor lapangan, karena saya bisa memasak sarapan dan makan siang di kamar. Kemarin sore saya sempatkan untuk berbelanja makaroni dan roti di supermarket “Bintang”.

Jumlah ekspatriat yang tinggal di Ubud ternyata cukup ekonomis untuk membuka supermarket dengan kualitas barang yang setara dengan Hero di Kemang Jakarta, dengan koleksi cheese & wine yang kelihatannya lebih lengkap dari Hero Kemang.
Praktis hanya ada dua warung di Penestanan Kaja, rasa makanan Indonesianya terasa biasa sekali.

29 Desember 2004: Ubud – Kuta

Saya meninggalkan Ubud pukul 9.00. Saya turun ke Denpasar melalui Sayan, karena jalur ini lebih sepi. Hujan yang mengguyur membuat jalanan beberapa tempat digenangi air.

Di Celuk saya sempatkan berhenti sebentar untuk membeli oleh-oleh. Tempat ini terkenal sebagai pengrajin perak. Namun pengalaman tawar-menawar ditoko pertama membuat saya bingung tentang nilai sebenarnya dari perhiasan tersebut.

Setelah diperhatikan, ternyata gerakan yang membuat dengkul saya sakit adalah jika lutut saya dibengkokkan untuk melangkahi sepeda ketika akan naik pertama kali. Hari ini saya mulai kebiasaan baru, yaitu kaki diayun dalam posisi lurus saat melangkahi sepeda. Ternyata dengan ini rasa sakit di tempurung dengkul tidak muncul lagi.

Ingatan saya akan Kuta tidak berguna sama sekali. Saya beberapa kali kehilangan orientasi, sampai akhirnya harus bertanya dimana jalan bakung sari.

Saya menginap di Bamboo Inn di Jalan Bakungsari, karena saya tahu persis penginapan ini ditangani langsung oleh pemiliknya. Karena penuh, saya mendapat kamar dengan kamar mandi luar dengan tarif Rp60,000 semalam. Penginapan berbeda dengan penginapan di Kuta umumnya. Ketika penginapan lain ikut hingar bingar, disini sang pemilik menyatakan dengan terus terang kalau dia tidak suka kalau ada tamu yang terlalu berisik.

Kuta tidak menjual Bali. Mungkin terlalu menyederhanakan dan berlebihan, tapi apa yang dijual di Kuta memang tidak berhubungan dengan Bali.Yang sisa hanya orang beraksen Bali. Dan atmosfir ini yang perlahan terdorong sampai ke Ubud.

30 Desember 2004: Kuta

Hari ini saya bersepeda ke Denpasar untuk membeli tiket bus dan memastikan pengiriman sepeda ke jakarta.

Denpasar kota tidak terlalu bersahabat dengan sepeda. Daerah jalan dipusat kota Denpasar banyak dibuat satu arah, sehingga arus kendaraan praktis tanpa jeda. Sepeda motor rules the street.

Setelah itu saya melakukan eksplorasi ke utara kuta; seminyak dan krobokan.

Daerah utara kuta jauh lebih bisa dinikmati, karena bersih dan tidak terlalu padat. Tetapi untuk pilihan makanan dan penginapan murah memang tidak terlalu banyak.

31 Desember 2004: Kuta – Denpasar

Bus tujuan jakarta berangkat dari Ubung pk 15.00. Saya keluar penginapan sekitar pk. 10 dan melewati jalan pantai kuta agar bisa mengambil gambar sepeda di pinggir pantai.

Ketika melewati legian, saya cukup kaget ketika melihat sebuah banjar yang sedang disiapkan untuk pesta malam tahun baru, lengkap dengan rotary lamp á la diskotik. Saya sangat kagum, karena dengan demikian kalangan muda juga punya rasa memiliki terhadap banjar di lingkungannya.

Sepeda saya kirim ke jakarta melalui perusahaan ekspedisi di Pertokoan Jalan Diponegoro. Dari situ saya berjalan kaki ke Terminal Ubung. Cukup Jauh, tapi karena berniat tidak naik kendaraan selain sepeda selama di bali, kecuali bis datang dan pergi.

Ditengah persaingan tiket pesawat terbang, ternyata pengguna bis tidak berkurang. Hari ini bis yang saya naiki tetap penuh, dan ada dua bis lagi dengan tujuan Jakarta.

Sepanjang Denpasar – Gilimanuk peta Bali saya pegang ditangan. Ada beberapa spot yang indah disepanjang jalan ini. Persimpangan jalan arah ke Pupuan juga saya coba tandai, karena suatu saat jalan ini akan saya coba lewati…

Tidak dengan sepeda tentunya…

Kuta tidak menjual Bali. Mungkin terlalu menyederhanakan dan berlebihan, tapi apa yang dijual di Kuta memang tidak berhubungan dengan Bali.Yang sisa hanya orang beraksen Bali. Dan atmosfir ini yang perlahan terdorong sampai ke Ubud.

30 Desember 2004: Kuta

Hari ini saya bersepeda ke Denpasar untuk membeli tiket bus dan memastikan pengiriman sepeda ke jakarta.

Denpasar kota tidak terlalu bersahabat dengan sepeda. Daerah jalan dipusat kota Denpasar banyak dibuat satu arah, sehingga arus kendaraan praktis tanpa jeda. Sepeda motor rules the street.

Setelah itu saya melakukan eksplorasi ke utara kuta; seminyak dan krobokan.

Daerah utara kuta jauh lebih bisa dinikmati, karena bersih dan tidak terlalu padat. Tetapi untuk pilihan makanan dan penginapan murah memang tidak terlalu banyak.

31 Desember 2004: Kuta – Denpasar

Bus tujuan jakarta berangkat dari Ubung pk 15.00. Saya keluar penginapan sekitar pk. 10 dan melewati jalan pantai kuta agar bisa mengambil gambar sepeda di pinggir pantai.

Ketika melewati legian, saya cukup kaget ketika melihat sebuah banjar yang sedang disiapkan untuk pesta malam tahun baru, lengkap dengan rotary lamp á la diskotik. Saya sangat kagum, karena dengan demikian kalangan muda juga punya rasa memiliki terhadap banjar di lingkungannya.

Sepeda saya kirim ke jakarta melalui perusahaan ekspedisi di Pertokoan Jalan Diponegoro. Dari situ saya berjalan kaki ke Terminal Ubung. Cukup Jauh, tapi karena berniat tidak naik kendaraan selain sepeda selama di bali, kecuali bis datang dan pergi.

Ditengah persaingan tiket pesawat terbang, ternyata pengguna bis tidak berkurang. Hari ini bis yang saya naiki tetap penuh, dan ada dua bis lagi dengan tujuan Jakarta.

Sepanjang Denpasar – Gilimanuk peta Bali saya pegang ditangan. Ada beberapa spot yang indah disepanjang jalan ini. Persimpangan jalan arah ke Pupuan juga saya coba tandai, karena suatu saat jalan ini akan saya coba lewati…

Tidak dengan sepeda tentunya…

Kuta tidak menjual Bali. Mungkin terlalu menyederhanakan dan berlebihan, tapi apa yang dijual di Kuta memang tidak berhubungan dengan Bali.Yang sisa hanya orang beraksen Bali. Dan atmosfir ini yang perlahan terdorong sampai ke Ubud.

30 Desember 2004: Kuta

Hari ini saya bersepeda ke Denpasar untuk membeli tiket bus dan memastikan pengiriman sepeda ke jakarta.

Denpasar kota tidak terlalu bersahabat dengan sepeda. Daerah jalan dipusat kota Denpasar banyak dibuat satu arah, sehingga arus kendaraan praktis tanpa jeda. Sepeda motor rules the street.

Setelah itu saya melakukan eksplorasi ke utara kuta; seminyak dan krobokan.

Daerah utara kuta jauh lebih bisa dinikmati, karena bersih dan tidak terlalu padat. Tetapi untuk pilihan makanan dan penginapan murah memang tidak terlalu banyak.

31 Desember 2004: Kuta – Denpasar

Bus tujuan jakarta berangkat dari Ubung pk 15.00. Saya keluar penginapan sekitar pk. 10 dan melewati jalan pantai kuta agar bisa mengambil gambar sepeda di pinggir pantai.

Ketika melewati legian, saya cukup kaget ketika melihat sebuah banjar yang sedang disiapkan untuk pesta malam tahun baru, lengkap dengan rotary lamp á la diskotik. Saya sangat kagum, karena dengan demikian kalangan muda juga punya rasa memiliki terhadap banjar di lingkungannya.

Sepeda saya kirim ke jakarta melalui perusahaan ekspedisi di Pertokoan Jalan Diponegoro. Dari situ saya berjalan kaki ke Terminal Ubung. Cukup Jauh, tapi karena berniat tidak naik kendaraan selain sepeda selama di bali, kecuali bis datang dan pergi.

Ditengah persaingan tiket pesawat terbang, ternyata pengguna bis tidak berkurang. Hari ini bis yang saya naiki tetap penuh, dan ada dua bis lagi dengan tujuan Jakarta.

Sepanjang Denpasar – Gilimanuk peta Bali saya pegang ditangan. Ada beberapa spot yang indah disepanjang jalan ini. Persimpangan jalan arah ke Pupuan juga saya coba tandai, karena suatu saat jalan ini akan saya coba lewati…

Tidak dengan sepeda tentunya…

Kuta tidak menjual Bali. Mungkin terlalu menyederhanakan dan berlebihan, tapi apa yang dijual di Kuta memang tidak berhubungan dengan Bali.Yang sisa hanya orang beraksen Bali. Dan atmosfir ini yang perlahan terdorong sampai ke Ubud.

30 Desember 2004: Kuta

Hari ini saya bersepeda ke Denpasar untuk membeli tiket bus dan memastikan pengiriman sepeda ke jakarta.

Denpasar kota tidak terlalu bersahabat dengan sepeda. Daerah jalan dipusat kota Denpasar banyak dibuat satu arah, sehingga arus kendaraan praktis tanpa jeda. Sepeda motor rules the street.

Setelah itu saya melakukan eksplorasi ke utara kuta; seminyak dan krobokan.

Daerah utara kuta jauh lebih bisa dinikmati, karena bersih dan tidak terlalu padat. Tetapi untuk pilihan makanan dan penginapan murah memang tidak terlalu banyak.

31 Desember 2004: Kuta – Denpasar

Bus tujuan jakarta berangkat dari Ubung pk 15.00. Saya keluar penginapan sekitar pk. 10 dan melewati jalan pantai kuta agar bisa mengambil gambar sepeda di pinggir pantai.

Ketika melewati legian, saya cukup kaget ketika melihat sebuah banjar yang sedang disiapkan untuk pesta malam tahun baru, lengkap dengan rotary lamp á la diskotik. Saya sangat kagum, karena dengan demikian kalangan muda juga punya rasa memiliki terhadap banjar di lingkungannya.

Sepeda saya kirim ke jakarta melalui perusahaan ekspedisi di Pertokoan Jalan Diponegoro. Dari situ saya berjalan kaki ke Terminal Ubung. Cukup Jauh, tapi karena berniat tidak naik kendaraan selain sepeda selama di bali, kecuali bis datang dan pergi.

Ditengah persaingan tiket pesawat terbang, ternyata pengguna bis tidak berkurang. Hari ini bis yang saya naiki tetap penuh, dan ada dua bis lagi dengan tujuan Jakarta.

Sepanjang Denpasar – Gilimanuk peta Bali saya pegang ditangan. Ada beberapa spot yang indah disepanjang jalan ini. Persimpangan jalan arah ke Pupuan juga saya coba tandai, karena suatu saat jalan ini akan saya coba lewati…

Tidak dengan sepeda tentunya…

admin is
Email this author | All posts by admin

Bookmark and Share

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

Home | About Us | Disclaimer | Credits & Contributor | Join a Contributor | Our Contributor |
Komunitas Backpacker Indonesia | Indobackpacker.com | Travel Photography | Mailinglist Archive | Mailinglist Forum

Copyright ©2004-2009 Indonesia Backpacker Community All rights reserved. All articles and Images may not be reproduced in any form without the express written permission of the copyright holder | All Information contained on this site may not be used for commercial purposes,
for more information please Contact
admin At indobackpacker.com | Powered by the WordPress

Creative Commons License
Except where otherwise noted content on this site is licensed under a
Creative Commons Licence.