Destination: Sabang!

Custom Search

By admin • Feb 24th, 2005 • Category: Petualangan
Bookmark and Share

Usai mengerjakan semua laporan yang berkenaan dengan pekerjaan, aku berangkat bersama dua teman yang juga belum pernah ke Sabang. Sebelumnya, seorang kenalan yang bolak-balik ke Sabang mengatakan, biasanya ada kapal ferry cepat yang tak sampai satu jam. Berangkat pagi dari pelabuhan Ulee Lheue, dan balik pada sore hari. Tapi, berhubung Ulee Lheue yang letaknya di penghujung Pulau Sumatra itu telah rata dengan tanah, semua kapal dialihkan ke Pelabuhan Krueng Raya.

Kapal barang ke Sabang berangkat jam 3 sore. Tiketnya hanya Rp. 5000, meskipun diatasnya tertera angka Rp. 8.150. “Harga khusus sejak Tsunami,”

Mungkin kedengaran ‘sedikit’ tidak berhati? (sedikit? Yang bener aja!) Tapi, akhirnya aku memutuskan untuk pergi saja. Aku butuh liburan. Dan Sabang adalah cita-cita lama yang selalu diimpikan. Pulau kecil di ujung barat Indonesia itu sudah memanggil-manggil sejak dulu. Ironisnya, aku datang saat semua mata tertuju padanya. Tepatnya, setelah Tsunami surut sebulan.

Usai mengerjakan semua laporan yang berkenaan dengan pekerjaan, aku berangkat bersama dua teman yang juga belum pernah ke Sabang. Sebelumnya, seorang kenalan yang bolak-balik ke Sabang mengatakan, biasanya ada kapal ferry cepat yang tak sampai satu jam. Berangkat pagi dari pelabuhan Ulee Lheue, dan balik pada sore hari. Tapi, berhubung Ulee Lheue yang letaknya di penghujung Pulau Sumatra itu telah rata dengan tanah, semua kapal dialihkan ke Pelabuhan Krueng Raya.

Kapal barang ke Sabang berangkat jam 3 sore. Tiketnya hanya Rp. 5000, meskipun diatasnya tertera angka Rp. 8.150. “Harga khusus sejak Tsunami,” kata penjualnya. Harganya memang sepadan dengan kapalnya. Karena, meskipun kami duduk di lantai paling atas, goncangannya sangat terasa. Dua setengah jam yang menyiksa. Tapi, begitu tiba di Balohan, mabuk laut langsung lenyap dan berganti rasa excited luar biasa. Ingin cepat-cepat melihat kota dan pantai-pantainya.

Dari pelabuhan Balohan, sebenarnya bisa naik mobil L300 ke pasar tengah kota. Cukup bayar Rp. 10 ribu saja. Tapi, karena seorang teman menjemput kami, dengan senang hati kami menerima tawarannya. “Maaf, mobilnya butut,” kata Yan, begitu ia dipanggil, sambil tertawa-tawa. Maklum, Sabang memang terkenal dengan mobil-mobil mewahnya akibat harga yang murah, minus pajak. Konon, sebuah BMW, ‘hanya’ berharga 60 juta. Tapi, herannya, aku tidak melihat satu pun mobil mewah di jalanan. “Memang tidak banyak mobil mewah sejak Tsunami,” jawab Yan saat aku bertanya. 

Kesan pertama dari kota pulau ini adalah: bersih! Sepanjang jalan menuju kota, tidak ada sampah-sampah di jalanannya yang mulus beraspal. Juga, sepanjang mata memandang, laut tampak biru berkilau. Pohon kelapa juga tak ketinggalan. Termasuk sapi atau kambing yang bebas berkeliaran di jalan. Tidak tampak kerusakan seperti di UleeLheue. Disini, situasi relatif aman-aman saja. 

Pusat ‘kota’-nya adalah pasar yang didominasi dengan deretan toko, pedagang buah, beberapa hotel dan mobil sewa serta becak motor yang parkir. Beberapa gerombol tentara asing dengan badge bendera Perancis tampak berseliweran. Masih kata Yan, sejak diberlakukannya Syariat Islam di Aceh, tidak begitu banyak turis yang datang ke Sabang. Terlebih setelah Tsunami.

Kami menginap di penginapan Pulau Jaya. Kamarnya bersih dan luas, muat untuk bertiga. Ditambah ekstra bed seharga 20 ribu, kami membayar 90 ribu per malam. Tapi, harga hotel sangat bervariasi. Mulai dari 20 ribu, hingga 180 ribu. Jika mau hotel yang sangat bagus, bisa ke Sabang Hill dengan rate 180-300 ribu per malam. Itu adalah hotel termahal di Sabang yang letaknya di atas bukit. Dari situ, bisa dilihat pemandangan kota Sabang. 

Usai berberes di kamar, kami mencari makan di salah satu warung di pasar. Dari hotel, jaraknya hanya seratus meter. Harga makanannya biasa. Sepiring sate ayam yang saya makan harganya enam ribu perak. Tapi, tiba-tiba pada pukul 9 malam, lampu padam! Ternyata, PLN tengah kekurangan daya. Jadi, sudah sebulan belakangan mereka menghidup-padamkan listrik penduduk bergiliran. Tak apalah, pikirku. Mau tidur ini.

——

Matahari terbil lebih lama di penghujung barat Indonesia ini. Jam tujuh pagi suasana masih gelap, meskipun sudah ada orang-orang yang keluar untuk ngopi. Aku menemui pemilik hotel demi memastikan kejelasan mobil Spacewagon-nya yang akan kami sewa satu hari. Tadi malam, ia menawarkan harga 350 ribu. Jadi, aku menawar 300 saja. Ia setuju, tapi bensin isi sendiri. Ya bolehlah. Lagipula, pemilik hotel telah berbaik hati memfotokopi peta alakadarnya untuk kami.

Transportasi umum di Sabang memang sedikit susah. Angkot sangat jarang dan selalu penuh. Becak mesin dan L300 tentu lebih mahal. Jika memang berniat hanya untuk mengelilingi Sabang – yang notabene bisa dilakukan dalam satu hari – lebih baik menyewa mobil. Hemat waktu dan bisa pergi kemanapun, hingga ke daerah-daerah pelosok.

Pagi itu, kami bertiga ditemani Yan bertekad untuk berkeliling Sabang. Tujuan pertama adalah Tugu Kilometer 0. Disinilah dimulai penghitungan Indonesia. Jaraknya tidak begitu jauh. Ditambah berhenti beberapa kali untuk foto-foto dan lapor ke pos tentara, kami bisa mencapainya satu jam lebih sedikit. Dari speedometer, jaraknya cuma 45 km dari hotel.

Perjalanan ke Km0 melewati beberapa pantai yang terkenal dengan resortnya, seperti Gapang dan Iboih. Beberapa cottage terlihat kotor diterjang Tsunami. Tapi, umumnya masih kokoh berdiri. Paling-paling batu-batu besar berserak di tepi pantai. Selain itu, kami juga mewati jalanan yang kiri-kanannya hutan. Kalau sudah begitni, pasti selalu ada segerombolan monyet yang keluar dari semak-semak dan berharap dilempar makanan. Mereka cukup ramah. Dan kalau beruntung, bisa melihat celeng juga.

Setelah berfoto-foto sejenak di Km0 (typical ya?), kami kembali ke arah kota. Kali ini kami mau ke pantai Iboih yang tadi sudah dilewati. Konon, ini adalah tempat favorit untuk snorkeling. Soalnya, di depan pantainya, ada sebuah pulau lagi bernama Pulau Rubiah. Di pulau ini biasanya ada kapal yang dasarnya berkaca sehingga bisa melihat ikan seperti dalam aquarium Tapi sudah tersapu Tsunami.

Saat kami tiba di Iboih, pantainya terlihat sedikit rusak. Beberapa anggota tentara dan masyarakat tampak membenahi kerusakan. Hanya satu warung makan yang buka. Tapi, semakin ke dalam, pantainya semakin ‘baik-baik’ saja, meskipun banyak cottage tutup dan tempat penyewaan alat snorkeling dan diving sudah tersapu Tsunami. Jadi, jika mau sekedar berenang, Iboih masih sangat representatif.

Dan tak dinyana, usai kami berenang, aku bertemu seorang teman disana. Ternyata dia menginap di Iboih malam sebelumnya. Dia bilang, masih ada satu cottage yang buka dan menyewakan beberapa alat snorkeling. Harga kamarnya 40 ribu dan alat snorklingnya 25 ribu. Meskipun kami ingin tinggal lebih lama dan menginap di Iboih, tapi kami memutuskan untuk pergi. Rasanya tidak benar liburan berlama-lama.

Usai makan di warung di Iboih, kami meneruskan perjalanan mengelilingi pulau. Dalam perjalanannya, kami berhenti di berbagai tempat untuk sekedar memanjakan mata dan memotret. Termasuk berhenti di pinggiran Danau Aneuk Laot yang settingnya mirip-mirip iklan Marlboro.

Kami juga mengelilingi pantai-pantai dan mencari pantai yang paling indah. Pantai Kasih yang sering dijadikan tempat snorkeling tidak bisa diharapkan. Karena pantai yang letaknya paling dekat dengan kota itu telah rusak dihantam Tsunami. Jika terus menyusuri bagian timur pulau, maka ada banyak pantai yang indah, salah satunya adalah Pantai Rumah Tiga yang banyak pohon kelapanya. Kami menyempatkan diri berenang di sini, mengikuti segerombolan tentara Perancis yang terlebih dahulu bersenang-senang bermain bola di pantai itu.

Kami juga sempat ke Pantai Anok Itam yang pasirnya hitam. Disini, penduduk lokal ramai berekreasi. Banyak pondok-pondok kecil dan penjual makanan. Sepanjang jalan menuju pantai ini, mobil kami beberapa kali dipotong oleh segerombolan pemuda membawa motor, berboncengan dengan cewek dibelakang. Maklum, itu hari Minggu.

Capek berenang dan berkeliling, kami akhirnya memutuskan untuk balik ke kota, melihat sunset dari ‘tempat nongkrong favorit’ penduduk setempat: Pekan Raya Sabang. Itu adalah berupa jalan besar yang mulus, dengan pantai di satu sisi, dan areal besar tempat makan di sisi yang lain. Lumayan juga. Kami duduk di trotoar sambil makan kue roda khas Sabang yang dibeli di Pasar. Kue roda ini sama dengan bakpia kalau di Jogja. Makan… sambil menyaksikan matahari tenggelam pelan-pelan.

Keesokan paginya, kami berangkat dari hotel jam 7 pagi ke Pelabuhan Balohan dengan L300. Ternyata ferry cepat masih beroperasi. Kapal ini berangkat jam 8.30. Syukurlah…! Dengan membayar 25 ribu, kami mendapat kenyamanan berlipat ganda dari sewaktu pergi. Bahkan, Balohan-Krueng Raya bisa ditempuh dalam waktu 45 menit saja, minus goyangan-goyangan seperti kapal barang.

Meski ada rasa tak rela jika harus kembali ke Banda Aceh (apalagi Jakarta!), tapi satu harian di Sabang benar-benar luar biasa. Yang pasti, aku harus kembali lagi nanti. Mungkin beberapa bulan lagi saat roda ekonomi sudah berputar lebih cepat disana. Semoga!

Dinda Jouhana 

admin is
Email this author | All posts by admin

Bookmark and Share

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

Home | About Us | Disclaimer | Credits & Contributor | Join a Contributor | Our Contributor |
Komunitas Backpacker Indonesia | Indobackpacker.com | Travel Photography | Mailinglist Archive | Mailinglist Forum

Copyright ©2004-2009 Indonesia Backpacker Community All rights reserved. All articles and Images may not be reproduced in any form without the express written permission of the copyright holder | All Information contained on this site may not be used for commercial purposes,
for more information please Contact
admin At indobackpacker.com | Powered by the WordPress

Creative Commons License
Except where otherwise noted content on this site is licensed under a
Creative Commons Licence.