Hospitality Turki, Hospitality Saudagar Permadani
By Santoso • Feb 1st, 2005 • Category: Petualangan
Orang Konya identik dengan kumpulan penjaja permadani (karpet). Kalau mereka punya lahan garapan lain itu patut dianggap pencaharian sambilan.
Benar demikian? Sembari berolok-olok tak sengaja saya mengiyakan omongan Disraeil (dan/atau Mark Twain?). Katanya ada 3 macam bohong yakni lies, damned lies, dan statistic! Betapa lucu bin aneh simpul yang bisa ditarik andaikata 2 malam kami di Konya dianggap sigi lapangan. Tiga kenalan menyilakan mampir dan semuanya pemilik toko karpet!
Orang Konya identik dengan kumpulan penjaja permadani (karpet). Kalau mereka punya lahan garapan lain itu patut dianggap pencaharian sambilan.
Benar demikian? Sembari berolok-olok tak sengaja saya mengiyakan omongan Disraeil (dan/atau Mark Twain?). Katanya ada 3 macam bohong yakni lies, damned lies, dan statistic! Betapa lucu bin aneh simpul yang bisa ditarik andaikata 2 malam kami di Konya dianggap sigi lapangan. Tiga kenalan menyilakan mampir dan semuanya pemilik toko karpet!
Karpet (dan kilim) adalah karya tekstil tradisionil Turki. Sejak migrasi dari Asia Tengah di abad IX, menganyam menjadi penghalau waktu luang dalam hidup nomad di padang stepa. Dari sentra Isparta, karpet dan kilim membanjiri pazar Turki. Dengan umur seuzur itu, dengan berjilid-jilid kitab yang ditulis, tiada shortcut untuk paham atau menukil sekelumit ke-tahu-an. Booming turis ikut mengerek harga karpet.
Membeli sekadar buat cendera mata pun butuh upaya ekstra agar beroleh harga yang pantas. Orang mesti rajin keluar masuk toko mencari pembanding. Kawan sepenginapan di Kusadasi, keluarga dokter dari Australia, baru berani membeli karpet di kesempatan keduanya plesir ke Turki. Total tuna rujukan, kami hanya tahu bahwa karpet itu satu sisi, sementara kilim bisa bolak-balik. Paling jauh, warna-warni naturalnya mengajak bernostalgia dengan kombu dan pahikung khas Sumba Timur.
Apa buah tangan menyambangi toko karpet? Pernah di bangku sekolah kita dijejali hafalan: apa itu pasar dalam kondisi persaingan, pasar monopoli, pasar monopsoni. Dalam banyak kasus transaksi di toko karpet terhitung unik. Pembeli dan penjual sama-sama hanya satu. Melihat benda-benda antik dan eksotis di toko minat pengunjung pasti segera tersedot. Serupa kerja pemindai (scanner) yang mengirim ion-ion ke CPU, mata akan memindah informasi ke benak. Lantaran rutin dan sudah jadi menu sehari-hari, empunya toko serasa bisa membaui yang paling diminati tamunya.
Hospitality Turki segera terasa. Tamu disodori pilihan, “What do you drink: Turkish tea, lemon tea, orange tea, or apple tea?” Menyusul gelas-mungil-bentuk-tulip penuh teh panas dan gula batu diangsurkan.
Sembari menunggu dingin, obrolan mengalir. Empunya toko tahu betul kapan menggiring obrolan masuk ke topik jualannya. Dengan tangkas tumpukan karpet dibongkar, lipatan dibuka. Motif, warna, umur tiap lembar dijelaskan lumayan rinci. Lagi-lagi ia pandai menahan diri. Ia akan terus bercerita sampai calon pembeli menanyakan harga.
Kalau sebatas ingin tahu sebaiknya tidak menawar. Ingat, sekadar menanyakan harga berbeda dengan menawar. Sekali menawar, orang akan terus diburu dan keramahan penjual melipat. Penawar tak perlu heran jika gelas tehnya yang kosong segera terisi kembali. Buku panduan menyarankan, “Berapa pun gelas yang Anda teguk tidak mewajibkan Anda untuk membeli.” Apa untuk orang-orang Indonesia bisa setega itu? Apa tidak sungkan menerima sesuatu, dari kenalan baru lagi, gratisan?
Tiadanya kompromi harga jamak terjadi. Walau begitu tidak menawar adalah tindak preventif menghindar risih dan tak enak hati.
Sekiranya tiada niat membeli bisa juga sedari awal menolak tawaran. Di Turki ada semacam tradisi menawari hingga 3 kali. Orang asing yang melintas akan disapa, “Anda ingin belanja karpet?” Sekali dijawab ‘tidak’, akan dilanjut, “Tidakkah ingin sekedar melihat-lihat toko kami?” Jawaban ‘tidak’ kedua, masih ditawar, “Anda ingin menikmati secangkir teh Turki?” Setelah ‘tidak’ ketiga kali, baru ia surut.
Jawaban klise, “ukuran karpet besar, kami repot membawanya” akan dibalas, “kami bisa membungkusnya dengan praktis.” Penolakan, “wah …
kami nanti kena excess baggage” langsung disergah, “kami bisa mengirim lewat paket!” Begitulah, gigih dan pantang menyerah. Bukti kegigihan lain saya petik dari pengakuan yang menyilakan kami mampir. Ia pernah kursus bahasa 18 bulan. Sebelum bisa bercas-cis-cus dalam Inggris, kosa katanya pada turis cukup, “Guarantee insyaallah … guarantee insyaallah.”
Selain rayuan maut ala pedagang, ada cukup oleh-oleh lain yang tak kalah khasnya. Di toko pertama, kami menikmati ‘konser’ musik lengkap dengan goyang Turkinya. Orang tua si empunya toko, meski sudah sepuh, kehandalannya memetik sas (gitar Turki) tidak tergerus. Di toko kedua, si empunya mengundang kami makan malam. Jamuannya mengingatkan pada gaya ‘rujakan’. Dengan irisan-irisan roti di tangan kami mengitar satu nampan besar berisi sayur dan beberapa nampan lauk-pauk. Yang mengejutkan, ternyata dia darwis tarekat Mevlana. Sebutan Mevlana (kata Persia yang berarti mahaguru atau sang penuntun dan diserap bahasa Indonesia menjadi Maulana) di Turki selalu merujuk pada sufi besar Jalaluddin Rumi. Usai acara makan bait-bait Matsnavi (puisi sufi karya
Mevlana) meluncur dari bibirnya. Meski tanpa tarbus dan gamis, ia bentangkan tangan dan menari berputar-putar. Sungguh sebuah makan malam yang lengkap 4 sehat 5 sempurna.
Memori berkesan lain terpungut dari Mevlana muzesi, makam sang sufi yang sekaligus dijadikan museum. Diantara peziarah yang berdesakan terselip ABG-ABG Konya. Mereka siswa-siswi preparation class yang ditugasi menyusun sebuah paper (karya tulis). Materinya dari wawancara turis.
Karena satu-satunya asing non-bule, semua malah mengerubut kami. Ini kesempatan baik mengukur seberapa bekennya Indonesia. Para siswi lebih banyak mengorek rencana kami. Sedang siswanya lebih senang bicara bola:
Hakan Sukur, Gheorge Hagi dan Galatasaray. Sekiranya ini Indonesia, mereka pasti segera dilirik produser sinetron. Paras bule dengan kulit Asia mereka tidak kalah mengkilap dari yang biasa nampang di layar kristal.
Konya, 18-Mei-2001



