Perjalanan ke taman nasional karimun jawa

Custom Search

By admin • Feb 23rd, 2005 • Category: Wisata
Bookmark and Share

Pulau Karimunjawa letaknya kurang lebih 90 km di barat laut Jepara, bisa dicapai dari Semarang atau Jepara lewat tiga cara: Naik kapal kecil pengangkut ikan, naik ferry, atau naik kapal cepat 20 knot. Kapal kecil berangkat dari Pelabuhan Kartini, Jepara, setiap pagi jam 5.00.
Jadwalnya enggak tentu, kadang ada kadang enggak(tapi berangkat hampir setiap hari). Ongkosnya murah tapi, Rp. 15.000 saja. Tapi perjalanan lamanya 6 jam dan karena kapalnya kecil goyangannya luar biasa (yang gak biasa bisa langsung mabok). Tidurnya deket mesin yang memekakkan telinga, belum lagi risiko kapalnya terbalik atau tenggelam

Dari cerita kakak saya yang kebetulan mahasiswa kehutanan UGM, dan hobinya jalan-jalan ke mana-mana (kakak saya pernah klaim kalau seluruh taman nasional  di jawa sudah pernah dia masuki, dari ujung kulon di banten sampai alas purwo di jawa timur).

Suatu waktu saya tanya, apa di jawa ini masih ada tempat gelap yang langitnya masih jernih tanpa ada polusi cahaya (kebetulan saya ni mahasiswa astronomi, dan lembang tempat saya biasa penelitian aja langitnya sudah gak bagus). Dia jawab, di Karimunjawa itu langitnya sangat cerah sampai bima sakti saja bisa kelihatan. Pergilah saya kesana, tapi sayang waktunya lagi gak bagus karena tiap hari berawan dan hujan terus.

Bagi yang suka menyelam atau snorkeling pasti akan suka tempat ini, karena lautnya bening sekali (bahkan laut di sekitar dermaga sangat jernih dan ikan-ikan masih bersliweran di bawah kapal yang merapat) dan terumbu karangnya sangat bagus. Yang suka berkemah pasti lebih senang lagi, karena banyak pulau kosong yang tak berpenghuni di kepulauan ini.
Cocok sekali untuk main Robinson Crusoe, hehehe…

Berikut ini ceritanya.

Pulau Karimunjawa letaknya kurang lebih 90 km di barat laut Jepara, bisa dicapai dari Semarang atau Jepara lewat tiga cara: Naik kapal kecil pengangkut ikan, naik ferry, atau naik kapal cepat 20 knot. Kapal kecil berangkat dari Pelabuhan Kartini, Jepara, setiap pagi jam 5.00.
Jadwalnya enggak tentu, kadang ada kadang enggak(tapi berangkat hampir setiap hari). Ongkosnya murah tapi, Rp. 15.000 saja. Tapi perjalanan lamanya 6 jam dan karena kapalnya kecil goyangannya luar biasa (yang gak biasa bisa langsung mabok). Tidurnya deket mesin yang memekakkan telinga, belum lagi risiko kapalnya terbalik atau tenggelam. Pokoknya bahaya lah (tapi lebih seru).

Ferry "Muria" berangkat dua kali seminggu. Hari Rabu dari Pelabuhan Kartini, Jepara, dan kembali lagi Hari Kamis. Ongkos kurang lebih Rp.
20.000, lamanya perjalanan juga 6 jam. Tapi lebih aman walaupun masih ada risikonya juga kalau lagi sial (tenang, ada asuransi. Kalau kapal kecil gak ada). Datang lagi ke Karimunjawa hari Sabtu Sore dan kembali ke Jepara hari Senin pagi.

Kepulauan ini total ada 27 pulau, yang dihuni cuma 5. Penduduk total ada 8000 jiwa. Pulau utama yang terbesar adalah Karimunjawa, soalnya paling besar. Informasi lebih lanjut tentang Karimunjawa bisa dicari di google, tapi dephut punya info di http://www.dephut.go.id/INFORMASI/TN%20INDO-ENGLISH/tn_karimun.htm

Pada awal tahun ini Harian Kompas juga pernah menulis feature tentang Kepulauan ini: www.kompas.com/kompas-cetak/0501/08/Wisata/1454122.htm
www.kompas.com/kompas-cetak/0501/08/Wisata/1454125.htm

Saya dateng ke pulau ini hari kamis tanggal 10 Februari 2005. Hari Rabu Tanggal 9 saya pergi ke Semarang dari Jogja jam enam sore, sampai jam 22.30. Saya telpon pelabuhan, ternyata kapal hanya ada hari sabtu. Oleh karena itu saya langsung pergi ke terminal Terboyo dan naik bus ke Kudus. Dari Kudus nyambung lagi ke Jepara (sebenarnya ada bis langsung, tapi waktu itu tengah malam jadi angkutan rada-rada susah. Kalau beramai-ramai mungkin lebih baik carter mobil) dan di Pelabuhan saya
nyari2 kapal ke Karimunjawa, ternyata ada. Saya sampai jam 3 pagi di pelabuhan Kartini dan kapal baru berangkat jam 5.30, jadi ada waktu tidur dulu di dek kapal yang lebarnya cuma 2 meter (dengan beratap langit-langit. Sempat gerimis sebentar sehingga saya pindah ke palka).

Kapal yang saya tumpangi adalah kapal kecil yang saat itu digunakan untuk mengangkut es batu. Awaknya ada tiga, yang satu di bawah terus ngurus mesin, jadi ini mekaniknya. Di atas ada dua orang, yang satu nyupir. Sepanjang perjalanan saya banyakan tidur soalnya ngantuk belum tidur semaleman. Kapal ini rupanya bukan punya mereka tapi punya juragan mereka rumahnya merangkap gudang barang. Saya kalau tidur di palka. Di samping saya tidur ada mesin kapal, jadi kuping saya rada budek kalo naik ke dek. Tiga awak kapal ini kelihatannya pelaut senior yang pengalaman melautnya sudah tinggi. Pada pagi hari saat hendak berangkat, cuaca mendung dan sedikit gerimis. Salah seorang awak melihat horizon dengan seksama, dan temannya berkata, "Ada nggak?" yang kemudian dijawab, "ada tuh, ada." Dan berangkatlah mereka. Entahlah apa yang dimaksud oleh kedua orang itu, tapi menurut saya yang mereka cari adalah tanda-tanda alam yang menjamin amannya perjalanan mereka. Saya agak ketar-ketir melihat cuaca  mendung ini, jadi saya tanya saja kepada juru mudinya, yang paling tua di situ, "Pak, kalau cuacanya begini apa aman?"
Dan dijawab dengan santai, "Oooh, ini mah aman. Sudah biasa kok."
Sepanjang perjalanan modal mereka hanya sebuah kompas yang dibawa keluar dari palka. Kompas ditaruh di atas dek, begitu saja, dan sepanjang perjalanan mereka hanya mengandalkan pengalaman mereka. Di tengah-tengah perjalanan Pulau Jawa sudah menghilang dari horison dan Kepulauan Karimunjawa pun belum kelihatan. Jadi practically we’re in the middle of nowhere tapi mereka toh bisa juga menentukan arah menuju Karimun.
Rupa-rupanya inilah kehebatan bangsa kita sebagai bahariwan. Pengetahuan mereka tentang perilaku gelombang laut juga sangat hebat. Mereka mengetahui bahwa tinggi gelombang bergantung pada kedalaman laut, bila lautnya dangkal gelombang akan tinggi sementara laut dalam gelombangnya tenang. Tentu saja mereka mengetahui ini dari pengalaman (saya mengetahui hal ini dari kuliah fisika tentang  gelombang, hehehehe).

Sampai di Karimunjawa jam 12.15, jadi lamanya perjalanan kurang lebih 6 jam. Di dekat dermaga ikan (ada dua dermaga di sini, dermaga ikan tempat kapal-kapal kecil berlabuh dan dermaga ASDP tempat kapal cepat dan kapal ferry berlabuh) ada warung punya Bu Ester, terkenal sekampung dan perannya seperti tavern di game Sid Meier’s Pirates. Bisa nyari info, ngobrol sama pemilik warung, mabuk-mabukan, dan dengerin gosip terbaru.

Saya tertarik dateng ke sini sebenernya cuman mo nyari kegelapan.
Bukannya saya pangeran kegelapan sih, tapi tempat ini kan jauh dari mana-mana yang terang-terang jadi pasti langitnya bagus untuk pengamatan astronomi. Sayangnya saya dateng pada bulan yang salah. Di sini cloud coveragenya buruk dan sepanjang hari berawan trus. Mana hujan terus lagi. Jadilah saya terdampar di sini. Besoknya ternyata gak ada kapal karena hari 1 suro. Besoknya lagi juga gitu, gak ada ikan untuk diantar ke Jepara karena kemarennya orang2 pada gak melaut. Jadilah sepanjang hari saya duduk2 di losmen, di warung bu ester, atau di pinggir pantai terdekat sambil mebaca novel. Lumayanlah pulang-pulang saya udah namatin sebuah novel dan 2 buku tentang posmodernisme.

Di sini everybody knows everyone. Orang asing baru datang langsung dikenali. Gak ada yang bawa jam tangan di sini, jadi langsung ketauan kalo saya pendatang. Gak ada yang nenteng2 buku di sini (kecuali anak sd), jadi saya langsung keciri. Gak ada yang berkacamata di sini, jadi saya langsung ketauan. Maling virtually nonexistent, malahan motor itu kuncinya ditinggal terus gak pernah dikantongin. Angkutan umum gak ada karena semua orang punya motor. Malahan kalo mau minjem motor punya orang juga dia pasti berbaik hati minjemin. Gak mungkin dicolong, mau dibawa kemana coba? Hampir semua motor di sini barang curian, dipasok dari pasar gelap (katanya). Jadi surat-suratnya gak pernah ada. Gak penting lah, gak ada yang meriksa ini. Polisi memang ada, tapi mereka kerjaannya maen judi melulu, hwahahahahaha… (kata orang loh) dan kebanyakan adalah polisi2 yang dimutasi, mungkin karena indisipliner kali. Kantor Kodim aja kosong melulu gak ada orangnya.

Nah karena jalanan di sini pada lengang semua, saya pinjem aja motor bebek punya pemilik losmen (padahal saya gak bisa naik motor). Jadilah saya keliling-keliling pulau naik motor, menyebrang ke Pulau Kemojan yang terhubung jembatan dan ngobrol sama petugas bandara dewadaru. Ada bandara di sini tapi tidak ada penerbangan rutin, semuanya carteran.
Petugasnya tinggal di situ, gak bisa pulang karna dia pegawai departemen perhubungan yang ditempatkan di situ. Pokoknya kasihan banget lah dia kesepian di situh. Kelihatannya dia tidak membawa bahan bacaan karena dia bilang bahan-bahan bacaannya adalah brosur wisata yang ada di situ dan itupun sudah habis dibacanya.

Beberapa kilometer dari kota utama, terdapat Makam Sunan Nyamplung, anak Sunan Muria yang diasingkan ke pulau ini. Sunan Nyamplung datang ke pulau dengan menggunakan kapal yang terbuat dari kayu pohon dewadaru. Ia kemudian menanam kayu dewadaru dan tumbuhlah di pulau itu. Pohon dewadaru termasuk pohon yang dikeramatkan dan kayu-nya tak boleh dibawa keluar dari pulau tersebut. Menurut kepercayaan, kapal manapun yang membawa dewadaru keluar dari pulau tersebut pasti akan tenggelam. Bahkan bandara setempat selalu menggeledah siapapun yang akan meninggalkan pulau, takut kalau2 membawa dewadaru nanti mencelakakan kapal terbang.
Pendatang yang menumpang kapal ikan juga selalu ditanya apakah membawa dewadaru. Konon menurut cerita, satu-satunya cara untuk membawa dewadaru dengan aman adalah dengan menaruh dahan tersebut di atas kapal yang dek-nya terbuat dari kayu dewadaru. Kapal ini tak akan tenggelam karena pasti akan kembali ke Karimun.

Sayangnya saya belon sempet muter-muter ke pulau lain karna cuacanya buruk terus dan lagipula duit saya terbatas (Di sini tidak ada ATM jadi sebaiknya nyetok uang dulu di Semarang, Kudus, atau Jepara). Sewa perahu seharian biayanya ratusan ribu dan saya cuman sendirian. Kalo ramai-ramai kan bisa patungan tapi kalo sendiri ya saya tanggung sendiri. Lagian di sini enaknya nyilem tapi saya belum bisa diving. Jadi kalo ke sini lagi udah harus bisa nyilem dan bersertifikat, biar lebih enak.

Seingat saya hanya ada satu penginapan di sini (dikelola oleh kecamatan setempat, kalau tidak salah), sisanya adalah homestay, yaitu rumah penduduk yang difungsikan sebagai penginapan. Biaya menginap satu malam berkisar antara 25 hingga 50 ribu. Pemilik penginapan umumnya menyediakan makan 3 kali sehari dengan tambahan biaya, biasanya umumnya
12 ribu per hari. Menurut penduduk yang saya temui, yang paling murah adalah Hanfah yang biasa ditinggali oleh mahasiswa yang sedang penelitian, jadi mungkin ada diskon khusus untuk mahasiswa di homestay tersebut. Kebetulan saya tak tinggal di homestay tersebut.

Di penginapan saya, makan sebenernya bisa disediakan sama pemilik penginapan, tapi berhubung istri pemilik penginapan sedang berobat ke Jepara maka saya nyari makan sendiri. Kalo makan pasti saya makan di Bu Ester dan situ memang pusat pertukaran informasi gituh, bener-bener tavern-nya Pirates lah. Makanan di sini pasti hasil laut. Ikan atau Cumi. Ayam harganya lebih mahal. Setau saya warung makan cuman ada tiga di sini. Tapi selama di sini saya cuman makan di tempat Bu Ester doang.

Tidak ada warnet di tempat ini, sementara wartel hanya ada satu. Wartel beroperasi dengan menggunakan radar, jadi ongkosnya sangat mahal. Saya kaget juga ketika melihat argonya yang kuda. Cepat sekali! Tapi kalau melihat teknologinya yang juga mahal, pakai radar begitu, saya rasa wajar saja.

Hari Minggu tadi tanggal 13 baru saya kembali naik kapal cepat Kartini I. Abis gak ada kapal lain! Terpaksa deh ngerogoh kocek 80 rebu perak (untuk eksekutif, harganya 95 ribu). Tapi emang cepat! 20 knot dan 3.5 jam saya dah nyampe di Tanjung Emas, Surabaya. Di belakang saya Karimunjawa, tempat gelap yang gagal saya lihat. Lain kali ke sana lagi.
Bulan April sampai ke Oktober setiap tahun adalah saat-saat terbaik.

=====
Tri Laksmana
——————

admin is
Email this author | All posts by admin

Bookmark and Share

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

Home | About Us | Disclaimer | Credits & Contributor | Join a Contributor | Our Contributor |
Komunitas Backpacker Indonesia | Indobackpacker.com | Travel Photography | Mailinglist Archive | Mailinglist Forum

Copyright ©2004-2009 Indonesia Backpacker Community All rights reserved. All articles and Images may not be reproduced in any form without the express written permission of the copyright holder | All Information contained on this site may not be used for commercial purposes,
for more information please Contact
admin At indobackpacker.com | Powered by the WordPress

Creative Commons License
Except where otherwise noted content on this site is licensed under a
Creative Commons Licence.