Lembah Bada, Sebuah Warisan Kemakmuran

Custom Search

By Puguh • Mar 3rd, 2005 • Category: Petualangan

Terletak di Ujung Selatan Taman Nasional Lore Lindu, Lembah Bada dapat dicapai dari arah Utara melalui Palu, atau dari arah Timur melalui Tentena. Melalui Palu, menggunakan minibus yang melayani rute Terminal Masomba – Gimpu selama kurang lebih tiga jam, kemudian menuju Lembah Bada menggunakan Ojek selama sekitar empat jam melalui jalan setapak melintasi perbukitan.

Terletak di Ujung Selatan Taman Nasional Lore Lindu, Lembah Bada dapat dicapai dari arah Utara melalui Palu, atau dari arah Timur melalui Tentena. Melalui Palu, menggunakan minibus yang melayani rute Terminal Masomba – Gimpu selama kurang lebih tiga jam, kemudian menuju Lembah Bada menggunakan Ojek selama sekitar empat jam melalui jalan setapak melintasi perbukitan.

Dari Tentena, Lembah Bada dicapai dengan menggunakan kendaraan penggerak empat roda selama empat setengah jam. Rute Tentena – Lembah Bada dilalui melalui jalan perintis yang sebagian besar belum diperkeras. Dibeberapa tempat kendaraan harus turun kesungai karena jembatan belum selesai dibangun.

Lembah Bada secara administratif pemerintahan berada didalam Kecamatan Lore Selatan. Desa Gintu adalah ibukota kecamatan, dimana pengunjung Lembah Bada biasa tinggal saat melakukan ekplorasi Lembah Bada. Tempat ini sudah terkenal di kalangan pelancong manca negara sejak lama. Sebelum krisis moneter wisatawan dari Eropa Barat sudah berbondong-bondong mengunjungi Lembah Bada. Mereka umumnya berasal dari kelompok penggemar trekking di negaranya.

Lembah Bada memiliki pemandangan yang spektakuler. Sebuah daerah yang relatif datar, yang dikelilingi perbukitan, sehingga awan yang tertahan dipuncak bukit yang mengelilingi lembah menyajikan pemandangan dramatis. Sering terlihat satu bagian Lembah Bada dimana hujan sedang jatuh, sedangkan bagian lainnya matahari menyelinapkan cahayanya dari balik awan. Jika angin bertiup keras maka terlihat tirai hujan yang berjalan menyapu lembah.

Ditengah Lembah Bada mengalir Sungai Laeriang, dan kemudian Sungai Malei menyatu dengan Sungai Laeriang, menambah derasnya aliran Sungai Laeriang. Karena inilah Sungai Laeriang dahulu pernah dipakai sebagai tempat olahraga pengarungan sungai. Di tengah Lembah Bada sendiri arus Sungai Laeriang cukup tenang karena alur yang dilalui relatif datar. Namun setelah Sungai kembali memasuki celah-celah bukit, maka jeram yang dihasilkan dapat mencapai kelas IV-V.

Hal lain yang menjadi daya tarik utama Lembah Bada adalah keberadaan artefak batu berupa patung dan tempayan peninggalan kebudayaan megalithik. Tentang siapa dan apa tujuan membuat artefak ini, sampai sekarang hanya berupa spekulasi. Warga Lembah Bada yang sudah tinggal dan menetap turun temurun sampai hari ini pun, tidak pernah mendapat cerita dari pendahulu mereka tentang siapa pembuat patung-patung ini. Pemberian nama patung-patung ini adalah rekaan dari masyarakat yang sekarang mendiami Lembah Bada, bukan diberikan oleh masyarakat pembuat artefak ini. Yang jelas wajah patung-patung ini selalu menghadap ke Barat.

Patung Megalitik di Lembah Bada merupakan wajah manusia yang sudah distilasi, dimana alis dan hidung digambarkan menjadi satu, sedangkan bagian mulut dihilangkan. Patung di Lembah Bada umumnya memiliki tanda gender yang jelas. Di patung Palindo dan Meturu terukir gambar alat kelamin laki-laki. Dan sedangkan pada patung Langke Bulawa digambarkan alat kelamin wanita. Perbedaan gender juga digambarkan pada raut wajah, dimana pada patung wanita, wajahnya digambarkan seperti dahi yang tertutup poni.

Patung terbesar adalah Palindo yang memiliki tinggi hampir tiga meter. Keadaan patung ini sekarang miring. Menurut cerita, dahulu Raja Palopo memerintahkan untuk memindahkan patung ini kehalaman istananya sebagai tanda kekuasaannya atas lembah Bada. Namun usaha ini gagal dilakukan. Maturu dan Topaturu adalah patung laki-laki yang memiliki ukuran hampir sama dengan Palindo, tetapi kedua patung ini dalam posisi rebah ditanah dengan arah muka Maturu menghadap ke langit dan Topaturu menghadap ke tanah.

Patung-patung manusia lainnya berukuran tinggi sekitar 1,5 meter dengan diameter sekitar 50 cm. Selain patung manusia dewasa terdapat patung Oba yang berukuran tinggi 70 cm dengan raut jenaka, dan tanda kelamin yang belum jelas. Warga menyebutnya sebagai bentuk kera, tetapi juga bisa diartikan sebagai representasi anak-anak.

Selain peninggalan berbentuk patung, terdapat artefak berbentuk tempayan besar bertutup berdiameter 1,5-2 meter, yang dahulu sepertinya digunakan untuk tempat penyimpanan. Mengenai apa yang disimpan didalamnya masih merupakan spekulasi. Bisa jadi tempayan ini dipakai untuk menyimpan air, barang-barang berharga, atau malah merupakan peti mati purbakala. Warga sekarang menyebutnya dengan Kalamba. Ada sekitar 50 buah Kalamba di lembah Bada, sebagian masih dalam kondisi utuh, dan sebagian lagi sudah rusak.

Artefak di Lembah Bada diyakini belum seluruhnya tersingkap. Seperti patung Manitu, yang berada di dasar aliran sungai kecil, sehingga hanya dapat dilihat saat air sungai surut. Sedangkan dimusim penghujan, patung ini terendam dibawah aliran air.

Beruntung kami menginap di Losmen Barito milik Bapak Agus Tohama, salah seorang yang biasa menjadi guide bagi tamu manca negara. Ia bercerita bahwa dahulu satu rombongan pelancong dapat mencapai 20 orang. Mereka sangat menikmati berjalan kaki sepanjang rute Gimpu – Gintu, yang biasanya ditempuh berjalan kaki selama 2 hari, atau rute Gintu – Doda yang dapat ditempuh selama 1 hari berjalan kaki.

Bapak Agus Tohama, sebenarnya adalah seorang guru agama yang berasal dari Kulawi, suatu tempat diantara Gimpu dan Palu. Namun karena ketertarikan dan bakatnya pada bidang kebahasaan, maka ia berhasil menulis sebuah kamus Bahasa Bada – Indonesia. Bahasa Bada memiliki bunyi vokal yang tidak dimiliki bahasa Indonesia, yaitu bunyi A dengan luncuran O. Dengan bunyi vokal seperti ini seharusnya nama Lembah Bada diucapkan. Dahulu seorang Misionaris warga Belanda telah berhasil menuliskan Injil kedalam bahasa Bada, namun karena sebagian besar telah rusak dan hilang. Maka untuk mendapatkan arti dari kosakata Bahasa Bada, Bapak Agus kembali mencocokkan kata-kata dari Injil dalam Bahasa Bada yang tersisa ini dengan Injil yang ditulis dalam Bahasa Indonesia. Dari situ ia kemudian melakukan cek ulang dengan tetua Suku Bada, sehingga akhirnya sebagian kosakata Bahasa Bada dapat diselamatkan dari kepunahan.

Bagi masyarakat yang sekarang menghuni Lembah Bada, hampir tidak ada ikatan yang bersifat emosional-irrasional dengan artefak batu ini. Namun kehadiran artefak batu ini memberi suatu pemahaman pada mereka, bahwa dahulu kala Lembah Bada pernah dihuni oleh masyarakat yang berada dalam suasana damai dan berkemakmuran sehingga dapat menghasilkan karya patung dan tempayan batu ini. Hal ini sedikit banyak memberikan motivasi kepada mereka, untuk tetap menjaga wilayah mereka dalam suasana damai.

Contekan untuk ke Lembah Bada;

Transport

- Rante Pao (Tana Toraja) Tentena (bus sedang-14 jam) : Rp 75,000.-

- Tentena  Lembah Bada (Gintu)(land cruiser  4,5 jam) : Rp 50,000.-

- Lemba Bada (Gintu) Gimpu (Ojek 4 jam): Rp 100,000.-

- Gimpu  Palu(Masomba)(Kijang): Rp 30,000.-

- Bada Excursion(ojeg-1 hari): Rp 100,000.-


Penginapan

- Tentena : Losmen Victory Rp 50,000/malam (tidak termasuk makan)

- Lembah Bada(Gintu) : Losmen Barito (Bp Agus Tohama) 40,000/orang/malam(termasuk 3 x makan)

- Palu: Prince John Dive Resort : Rp. 215,000/malam


Tagged as: , , ,

Puguh is
Email this author | All posts by Puguh

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

Copyright ©2004-2008 Indonesia Backpacker Community All rights reserved. All articles and Images may not be reproduced in any form without the express written permission of the copyright holder | All Information contained on this site may not be used for commercial purposes,
for more information please Contact
admin At indobackpacker.com | Powered by the WordPress

Creative Commons License
Except where otherwise noted content on this site is licensed under a
Creative Commons Licence.