OEDJOENG KOELON
By admin • Mar 20th, 2005 • Category: Petualangan
“Saya, Erwin Djangkaru melaporkan!â€
dengan gaya ala presenter JP, Erwin menutup laporan suasana rehat penumpang dalam perjalanan kami menuju Tamanjaya. Entry point jalur darat menuju Taman Nasional Ujung Kulon.
“Huuuuu…!!†protesku, sebagai kameramen sekaligus sutradara langsung memindahkan arah kamera kepada Joe dan Kris yang sedang makan mie ayam dan memegang botol sprite (sorry … nyebut merk nih ..!! harap makluuumm demi keotentikan bukti sejarah). Sudah jam satu siang. Masih setengah jam lagi perjalanan menuju Tamanjaya.
Sambil memandang mereka yang sedang lahap menyantap makanan, aku mengingat kembali kejadian beberapa hari lalu. Demi memanfaatkan harpitnas bulan Februari, rencanaku semula hendak ke Merapi bersama ibu-ibu yang lain, batal karena satu dan lain hal.
9 – 13 Februari 2005
“Saya, Erwin Djangkaru melaporkan!â€
dengan gaya ala presenter JP, Erwin menutup laporan suasana rehat penumpang dalam perjalanan kami menuju Tamanjaya. Entry point jalur darat menuju Taman Nasional Ujung Kulon.
“Huuuuu…!!†protesku, sebagai kameramen sekaligus sutradara langsung memindahkan arah kamera kepada Joe dan Kris yang sedang makan mie ayam dan memegang botol sprite (sorry … nyebut merk nih ..!! harap makluuumm demi keotentikan bukti sejarah). Sudah jam satu siang. Masih setengah jam lagi perjalanan menuju Tamanjaya.
Sambil memandang mereka yang sedang lahap menyantap makanan, aku mengingat kembali kejadian beberapa hari lalu. Demi memanfaatkan harpitnas bulan Februari, rencanaku semula hendak ke Merapi bersama ibu-ibu yang lain, batal karena satu dan lain hal. Tak disangka tak diduga, mendadak muncul tawaran dari Joe dan Erwin untuk trekking ke Ujung Kulon.
“Waaaaah… susur pantai Maaaannn!!!†Boleh juga nih buat selingan. *busyet deh .. selingan kok nyusul pantai!*
Hingga akhirnya, hanya kami berempat: saya, Erwin, Joe dan Kris yang nekad untuk pergi. Ramalan mama Loren untuk berhati–hati karena bakal ada bencana medio Februari, kami abaikan. Kami hanya percaya ramalan mama Lemon saja …
(catatan : buat temen-temen yang tidak tahu ramalan Mama Loren; info ini beredar luas via email sejak musibah Tsunami tahun lalu) Jenny, Joko dan beberapa temen yang melepas kepergian kami mengingatkan untuk tidak lewat laut. Angin barat lagi jelek-jeleknya.
Untung saja klop. Justru karena alasan biaya, kami memilih jalur darat. Biasanya orang akan menyewa perahu dari Labuan atau Sumur dan langsung menuju Pulau Peucang. Dari sana, baru berkeliling menuju beberapa lokasi yang banyak tersebar di sekitar pulau. Tapi untuk menyewa perahu jelas mahal luar biasa. Kalo rame-rame sih masih mending. Lha .. wong ini cuma berempat.
Itulah sebabnya dengan waktu hanya empat hari, kami berencana untuk dua hari pergi dan dua hari pulang. Selesai nggak selesai … harus dikumpul ..*emang ulangan?* he..he.. maksudnya, sesampainya aja, dimanapun itu. Kalo sudah dua hari, kami akan kembali pulang dengan jalur yang sama. Habis, mau gimana lagi? Jalannya emang jauh kok.
Nggak disangka nggak diduga, waktu di Sumur kami bertemu dengan pak Djun, salah seorang petugas TNUK. Dia bilang, hari Jum’at mau berlayar menuju Peucang dan balik lagi keesokan harinya.
“Lho.. angin baratnya gimana Pak?â€
“Oh… baik-baik saja.†Bener-bener nggak nyambung deh.
Rupanya, ia baru saja mendapat instruksi, untuk menyeberang ke pulau Peucang. Dan laut cukup aman untuk diseberangi. Dan permintaan kami untuk nebeng pulang disambutnya dengan gembira. Nah, jelas sekarang. Rencana berubah total. Kami akan trekking terus menuju Peucang. Dan kembali dengan menumpang perahu petugas TNUK.
Day 1 (wed 09.02.05)
Perjalanan dari Jakarta menuju Tamanjaya memang lumayan jauh dan melelahkan. Kami baru berangkat dari kampung rambutan pukul 1 dinihari. Lanjut ke Cilegon dan nyambung menuju Labuan dengan L-300 yang nangkring di prapatan Cilegon seharga 8000 rupiah perorang. Rencananya, kami mau mampir dulu ke rumah Aip (Simon, Anie… masih inget Aip kan ?) Cari info dan berbelanja tambahan logistik. Sambil nunggu angkutan yang baru start jam 4 subuh, kami minum kopi dan sarapan mie di warung depan.
Jam 4 subuh kendaraan bergerak menuju labuan. Satu setengah jam kemudian kami sudah tiba disana. Istirahat sejenak di rumah Aip. Numpang mandi dan sarapan nasi uduk. Jam 9 pagi, barulah kami siap nangkring di dalam mobil trayek Labuan – Tamanjaya seharga 15.000 rupiah perorang.
Cukup lama di perjalanan. Ditambah, setengah jam ngetem di terminal dan setengah jam lagi ngetem di pasar. Berikut ganti ban yang kempes di tengah jalan. Dan rehat makan siang di Sumur.
Lengkaplah sudah penderitaan kami hari ini. Tenaga sudah terkuras habis selama di perjalanan. Apalagi ruas jalan antara Sumur – Tamanjaya …. ck…ck…. ck…… rusak beraaat!!!
Baru jam tiga sore tiba di Tamanjaya. Mampir sebentar di rumah Pak Djun. Cari porter. Bayar retribusi masuk TNUK. Sejam kemudian, barulah kami berjalan beriringan. Melewati jalan aspal menuju desa Ujung Jaya. *buat temen-temen yang pengen kesana, amat sangat disarankan untuk menyewa kendaraan atau naik ojek sampe ujung aspal deh. Untuk menghemat tenagaaaa!!*
Kemudian menerabas kampung hingga tiba di desa Legon pakis. Ini adalah desa terakhir sebelum akhirnya kami mulai masuk di rerimbunan hutan bakau.
Hari sudah gelap. Mungkin sekitar jam 7 malem. Ini sungai pertama yang harus kami lewati. Rada serem. Kemudian baru kami tahu bahwa memang tempat ini sedikit angker. Kadang-kadang, ada seorang nenek yang suka menyapa orang yang lagi nyebrang. *hmmm … konsentrasi*
Muara sungai berikutnya, cukup dalam. Porter kami saja tidak berani menyeberang, he..he… apalagi kami. Terlalu beresiko. Air lagi pasang-pasangnya. Mau jadi baywatch malem-malem gini ? Maap .. maap saja. Akhirnya kami berbalik beberapa puluh langkah. Mencari tempat datar untuk ngecamp.
Trust me! Yang kami inginkan saat itu, cepet-cepet istirahat, kurang tidur sejak berangkat dari Jakarta.
Dalam gelap kami mencari tempat datar. Menggelar tenda diatas pasir dan pohon bakau. Debur ombak jelas terdengar. Tandanya, masih terlalu dekat dengan pantai. Doa jelas kami panjatkan. Mudah-mudahan tengah malam, kami tidak harus terbangun untuk kemudian menggotong tenda akibat pasang yang datang. Semoga saja.
Day 2 (thu 10.02.05)
Begitu membuka tenda. Huhuuuy..!! udah terang oiiii! Yang kami khawatirkan semalam rupanya tidak beralasan. Walau jelas terdengar debur ombak laut utara, lokasi ngecamp rupanya cukup aman dari pasang. Di hadapan kami, nampak barisan buffer pohon bakau.
Jam setengah sembilan pagi, setelah sarapan, ritual pagi dan packing kami lanjutkan perjalanan. Sungai yang kemarin malam urung kami seberangi rupanya *dalam terang saja sudah* selebar 20 meter. Tetap saja mengkhawatirkan.
Buaya, ular dan hewan air lainnya ..â€maaf..maaf saja ya.. kami mau lewat dulu.†Sengaja sedikit gaduh, biar mereka nggak tergoda untuk bergabung dan nyebrang bareng. He..he..
Air tingginya sudah sebatas dada, warnanya coklat jernih kami lewati. Kerir, satu persatu diseberangkan. Kris malah sempat mengeluarkan kamera, membungkusnya dengan wrap plastic dan mulai menjepret Joe ala under water. (catatan : Joe jadi porter dadakan)
Tidak jauh dari situ akhirnya kami tiba juga di garis tertipis di pulau Jawa. Satu jalur membelah hutan yang memotong antara laut utara dan laut selatan. Kurang lebih 40 menit berjalan, sudah terdengar debur ombak laut pantai selatan. Pos Karang Ranjang!
Meletakkan keril dan berhamburanlah kami menuju pantai yang letaknya tidak jauh dari sana. Ada satu sumur yang jernih airnya. Kami mandi dan mengisi persediaan air. Mulailah Kris di emperan pos Karang Ranjang mempersiapkan set panci dan wajan untuk mulai memasak makan siang. Ngerebus kangkung, bikin sambel super pedes, plus ikan peda goreng. kami makan beralas piring daun. Hmmmmm….
Jam dua siang baru deh mulai jalan. Jalur ada disisi kanan (arah barat) menerabas hutan pakis dan pandan duri. Memotong Tanjung dan satu jam kemudian tiba di pantai di Cibandawoh yang indah itu.
Dari sini sebenernya perjalanan baru saja dimulai. Sejauh mata memandang hanya ada laut-laut dan laut. Kami terus berjalan ke arah barat. Nun jauh disana terlihat bukit. Kata Pak Nahri, di kakinya *kaki bukit itu yaa.. bukan kakinya pak Nahri* itulah muara Cikeusik. Agak jauh di belakang nampak siluet kebiruan Gunung Payung.
You know what …mau tau apa yang bikin frustasi?
Awalnya sih seneng banget, jalan diatas pasir yang putih, bersih dan luas. Di kiri kami ada laut biru gelap dengan debur ombaknya. Di hadapan kami nampak siluet Gunung Payung. Di sisi kanan kami, hijau semak dan hutan. Sementara ombak mengejar-ngejar. Kami berjalan diantara kepiting yang miring jalannya, datang dan pergi.
That’s it! Tapi lama-lama cukup bikin frustasi. Kapan nyampenya ya? Bukit Cikeusik sih udah keliatan. Tapi makin dikejar, kok makin jauh ya? Suwer!
(ini pula penuturan Kris di kemudian hari dalam kesempatan ia bertelepon ria dengan Ibeth : â€ternyata teknik berjalan diatas pasir itu berbeda jauh dengan trekking di gunung ya?â€)
Rasanya ini kaki udah pake speed 100 km/ jam *he.he.. boong ding* masih saja belum sampai.
Aku, Joe dan Erwin sudah melaju di depan. Pak Nahri sudah mendahului kami. Sedang Kris hanya sebuah titik kecil samar di kejauhan. Matahari mulai turun. Sunset yang muncul di ujung Gunung Payung, mulai memudar.
Gelap mulai menyelimuti kami. Aku berhenti sejenak. Mengeluarkan kamera dan mulai mengabadikannya. Rehat dulu dan hasilnya saudara-saudara ..hiks! tertinggal dari rombongan depan. Nggak terlalu jauh sih, tapi lumayaaannn.
“Mulai gelap !!†batinku. “Wah, mana udah capek! kalau nggak dipaksa terus, bakal tumbang nih.â€
Joe, Erwin dan Pak Nahri sudah menghilang. Nah lo ? Kemana sih mereka? Sementara bukit yang dituju sudah dekat. Lagi-lagi aku kok nggak ngeliat kalo ada muara sungai Cikeusik.
“Jangan-jangan ada yang bohong nih, Sengaja dibilang begitu biar aku jadi semangat jalannya.â€
“Uh .. dasar! Konspirasi tingkat tinggi nih!†keluhku.
Huaaaa.. alone !!!!
Ealaaaah… ternyata pantai sedikit menurun menuju muara. Wajar mereka nggak keliatan. Mereka sudah ada di seberang. Dan mulai terlihat muara sungai Cikeusik yang luas itu .. huu.. serem…
“ Anda hendak menyeberang ? †imaginary friendku bertanya.
“Enggak deh … terimakasih!!!â€
“Buaya ..buaya ..buaya ..â€
“ enggak makasih .. saya pilih pak aya saja! He..he..â€
Kulempar daypack. Dengan pakaian basah karena keringat, sepatu, kaos kaki yang basah pula oleh air. Aku langsung merebahkan diri keatas pasir yang hangat itu. Terlentang, mengatur nafas dan memandang kerlip bintang di langit. Lega karena sudah tiba. Yang aku inginkan saat ini adalah langsung ngecamp!
Joe menyeberang kembali. Kemudian duduk disampingku.
“Ries, nyebrang sekarang yuk. Mumpung belum begitu dalem airnya.“ (catatan : karena pasang)
Dalam gelap, kami berdua menyeberang. Air sudah sebatas pinggang. Di atas sana nampak siluet Erwin dan Pak Nahri. Begitu aku tiba, langsung disambut dengan Coca Cola (nyebut merek lagi deh ..) yang rencananya baru akan kami buka entar pas udah di Peucang. Tapi gpp deh, yang ini patut dirayakan kok. Kembali aku teruskan tidur diatas pasir. Sambil memandang bintang. Sedang Kris belum juga nampak.
“udaaah .. jemput aja!â€
Kami mengutus perwakilan (Joe dan Pak Nahri) untuk menjemput Kris. Sedang aku dan Erwin mengarahkan lampu senter untuk memandu Kris.
“Itu dia!!†Samar-samar terlihat sinar head lamp milik Kris. Rasanya lama sekali, hingga akhirnya mereka bertiga tiba.
“Sis Ar. Ada roti nggak?’ Kata pertama Kris.
“ Saya lapeeerr!!!â€
“Roti … Roti …†ujarku ala penjaja roti.
“Minum … Minum dulu Kris!†tawar Erwin.
Sambil berurai air mata dan mengunyah roti *hebat euy… bisa barengan*, Kris mulai curhat.
“ nggak tau kenapa, saya capek banget. Yang tadi kepikir cuma ngejar sis ars biar dapet roti. Udah nyoba ngejar kalian, lari … jalan… lari .. jalan lagi. Tapi nggak terkejar. Begitu udah gelap dan jauh, menyerah deh. Udah nggak ada hiburan lagi. Patokannya cuma jalan terus dan lampu senter ajaâ€
Malam itu kami ngecamp di Cikeusik. Ada satu tempat datar sedikit terlindung di arah utara. Di dekatnya ada satu sumber air *tadah hujan, kelihatannya* berupa satu drum yang tertanam di dasar pasir. Tidak direkomendasikan buat minum. Kalau mandi pun ..he..he.. lebih baik dalam gelap saja.
Dasar, adaaaaaa aja yang kelebihan energi! Malam-malam .. Joe masih aja bersemangat mengajak buat mancing. Kami membuat api unggun di tepi pantai dan memasak ikan plus kepiting panggang .. hmmmm….
Day 3 (fri 11.02.05)
Bayangin aja, baru start jam 11 siang. Habiiisss.. hujan gerimis, bikin males buat nerusin perjalanan. Hari apa ya sekarang? Tanyaku dalam hati. Disini, waktu, hari, mengalir begitu saja. Tanpa berita, tanpa gossip! *He..he….* sama sekali nggak ketemu manusia.
Baru tahu juga kalo tidak jauh dari sini ada lapangan terbuka (mirip lapangan golf), padang buat binatang leyeh-leyeh sambil ngerumput. View-nya bagus sekali dan bisa buat ngecamp.
Begitu hujan reda, kami mulai melanjutkan perjalanan. Kali ini kami menuju Cibunar. Lokasinya persis ada di kaki Gunung Payung. Dari sana, berbelok ke arah utara, memotong hutan dan akan tiba di Cidaun. Entry point bila ingin menyeberang menuju Pulau Peucang.
Masih menyusur pantai. Pantainya lebar sekali *selebar lapangan bola kali* Putih, bersih. Sesekali kami berkejaran dengan kepiting. Plus dikejar ombak. Jauh disana, nampak jelas Gunung Payung. Langit masih mendung. Lumayan rada adem. Kulit nggak begitu perih karena terbakar matahari.
Jam dua siang, tiba-tiba Erwin dan Joe berhenti. Idih… pake rem dong! Aku yang hanya selisih lima langkah dari mereka jelas bertanya-tanya . Ada apa ya? Kalo mau makan siang, bukan begini caranya. Bilang dong .. bilaaangg!!
Terhalang tubuh mereka berdua, begitu aku sudah berdiri di samping mereka, baru deh terlihat muara sungai Citandahan. Dan alirannya deras sekali *40 km per jam deh kayaknya.. kuenceng banget sih!* Di hulu, langit jauh lebih gelap. Mungkin hujan disana. Debit air pasti tinggi. Sementara, ombak di sisi selatan kami begitu besar dan tinggi.
Mau nekad menyeberang? Anda akan langsung dihajar aliran sungai. Digulung ombak dan langsung bye ..bye… dibawa ke laut selatan.
Tak lama kemudian Kris sudah datang menyusul dari belakang, Demi melihat kami yang sedang bengong di tepi sungai, nyengir dan berkata :
“Gue udah lari … jalan. Lari lagi ..jalan lagi. Pokoknya hari ini kagak mau ketinggalan lagi. Tau gini, mendingan gue nyantai deh!â€
Sementara Pak Nahri pergi ke mata air dekat situ untuk menambah persediaan air. Kami berempat berunding. Mau nyebrang? Hi ..hi…Takuuuuuutttt!!! Mana nggak bawa tali. Apalagi dengan keril segede gaban isi kamera *modal euy! Masalahnya* Pak Nahri tadi udah wanti-wanti, berdasarkan pengalaman, biasanya ia memilih untuk ngecamp dan menunggu air surut.
Mau ngecamp disini? Wah … sedangkan kami harus ngejar ke Peucang sesegera mungkin. Kalo nambah sehari lagi? Alamat bisa telat balik ke Jakarta. Sedangkan logistik kami mulai menipis. *Sebenernya yang lebih parah, coca cola untuk dirayakan di Peucang udah di buka kemaren.*
Setelah menimbang dan memutuskan. Kami utus Pak Nahri untuk mencoba menyeberang. Joe dan Kris menyusul tak lama kemudian. Mencoba menjajal menyeberang dari ujung yang satu ke ujung yang lain. Sementara pasir tepi muara mulai tergerus air. Whaduh? Tambah lama muaranya tambah lebar. Sekarang aja lebarnya udah 25 meteran. Air sudah sebatas pinggang dan dada. Alirannya deras sekali. Kami harus memanjat pula disisi seberang. Sementara aliran air di kaki sudah menarik-narik menuju laut.
Hampir sejam menjajal. Berpacu dengan waktu nih. Takut hujan yang ada di hulu bertambah besar. Jauh didasar hati, kami tidak mau ngecamp disini.
Pak Nahri terus berusaha. Diumpan dengan rokok, baru deh jalan. Mencari celah, mulai berjalan ke arah hulu, memotong di tengah sungai, hingga melipir di dekat pantai diantara derasnya aliran sungai dan ombak yang sedang bergulung. Begitu menemukan momen yang tepat, wheladalah … bisa juga nyebrang. Kemudian masih pula kami bujuk buat menyeberangkan keril satu demi satu. (catatan : keril tiba lebih dulu dari si pemilik)
Sejam kemudian barulah kami bisa nyebrang. Setelah berhasil mengurai tali *milik orang yang kayaknya sengaja ditinggal di tepi sungai* Kami berempat saling mengaitkan siku : Erwin, Joe, aku, dan Kris *yang sedang menenteng tali tambang* dan bersama-sama menyeberangi sungai yang alirannya deras itu.
Berteriak-teriak dan tertawa dalam waktu yang bersamaan *gimana coba caranya hayo .!!*
“Ayooo..ha..ha.. ha.. majuuuu!!!†mengalahkan deburan ombak. Sempat terhenti di tengah karena menunggu ombak menjauh, dan mulai maju lagi. Hingga akhirnya kami semua tiba dengan selamat di seberang. Tertawa-tawa. Lega !!!
“lho? Tambangnya?†tanyaku
“Ini tambang, hanya sebagai syarat!†kata Kris. (catatan : waktu menyeberang, sambil menenteng tambang)
“Bahwa, kalau menyeberang (katanya) harus membawa tambangâ€
“huaaaa!!!â€
Perjalanan kami lanjutkan. Masih susur pantai. Nggak jauh dari sana, kami mulai berpindah jalur. Kami naik sekitar 5 meter, melipir tebing dengan lapangan rumput yang luas di sepanjang jalur kami berjalan. Di sisi kiri kami hanya ada laut, laut dan laut sedangkan di sisi lain dari padang itu, gelap oleh pekatnya rimbun pepohonan. Yang lebih menakjubkan lagi, kami sempat bertemu dengan serombongan burung merak yang sedang leyeh-leyeh di padang rumput itu. Sayang, karena kami datang, mereka langsung kabur ke hutan.
Di ujung tebing, *belum sampai Cibunar sih* kami berbelok ke utara. Masuk ke dalam hutan tropis. Bener-bener rimbun dan gelap. Dan jalurnya, bener-bener becek… cek… cek…… Tanah lumpur dan lekat di kaki. Sesekali kami bertemu dengan genangan air dan beberapa jejak babi dan banteng. Erwin, Joe dan Kris yang tidak sempat berganti sepatu. Harus ekstra hati-hati. Pak Nahri malah bertelanjang kaki. Duri, semak … uh .. jangan ditanya lagi.
“Bukan penderitaan seperti ini yang saya harapkan. Durinya banyak! sumpe!!†keluh Kris. Sepotong daun kering nyangkut di rambutnya. Salah satu kakinya, nyangkut di tanah becek.
Jam 6 sore. Persis di tepi sungai Cijengkol. Kami berhenti. Dan ngecamp. Petualangan kami hari ini cukup sudah. Besok .. lanjut lagiiiii!!!! Dua tenda segera didirikan tidak jauh dari sungai. Alirannya hanya sebatas betis. Untunglah, setelah beres, rapi-rapi, mandi dan makan. Hujan gede turun. Sweet dream!
*ada satu lagi situasi yang lupa aku ceritain. Karena di pantai dan ketinggian rata-rata 5 s.d 10 meter mdpl. Gerah oooii!! Dalem tenda aja bisa keringetan. Mau tidur di luar ? he..he… entar di temenin ama macan lagi ..Untung bawa kipas. Berkipas-kipas ria deh di dalem tenda. Terus ada di mana dong sleeping bag-nya? He..he… jadi bantal ajah !!!!*
Day 4 (Sat 12.02.05)
Apakah temen-temen pernah merasakan packing di tengah gerimis hujan? *cieee.. romantis nyaa!* Wara-wiri di sekitar camp dengan raincoat dan payung ? Menyuap sarapan roti dan minum kopi *campur air hujan*? (catatan : kompor ada di luar tenda). Melipat tenda basah *yang beratnya .. jadi dua kali lipat*
Ahaa..!! itulah kami pagi itu.
Jam setengah sepuluh pagi kami lanjutkan perjalanan. Maksud hati menghemat kaos kaki dan sepatu agar tetap kering selama perjalanan, rupanya hanya tinggal mimpi. “masih ada 77 sungai lagi !†seru Pak Nahri (agar dicatat disini : mohon angka 77 jangan terlalu dianggap serius. Angka tersebut hanya ungkapan porter kami untuk menunjukkan betapa banyaknya sungai yang harus diseberangi).
Karena semalam hujan deras. Jalur sudah tertutup dengan air semata kaki. Luar biasa, porter kami hapal banget jalurnya.
“Saya sudah tiga kali pernah tersesat disini!†katanya.
“gleks …!†aku dan Kris menelan ludah. Kami saling berpandangan. Kalo bisa tersesat sampai tiga kali, kemungkinannya cuma dua : jadi hapal jalur ataaaauuuu ….. kami berteriak bareng :
“Tersesat lagi!!â€
He ..he.. who knows kalo ternyata kami diajak jalan muter-muter. Banyak sekali jalur hewan *yang kami pinjam buat lewat* silang menyilang di sini.
Tapi untunglah, setelah beribu-ribu kali memotong sungai. Melalui jalur air yang panjang itu. Melewati jalur tanah yang becek, dua jam kemudian tibalah kami di padang penggembalaan banteng di Cidaun. Joe yang pertama kali muncul disana malah sempat berjumpa dengan sekawanan burung merak. Karena kaget ..*burung meraknya maksudnya, bukan Joe yaa..* ngabur deh mereka.
Lapangannya luas sekali. Di beberapa titik ada beberapa pohon gede buat berteduh. Genangan air *bekas hujan* dimanfaatkan hewan untuk minum. Capung-capung beterbangan di sekitarnya. Di sisi utara, ada menara pengamat. Ada empat level yang dapat di pergunakan sebagai dek pengamat.
“Banteeeeng!â€
Entah siapa yang mulai berteriak. Erwin segera menyerbu dengan kamera tele-nya. Joe membawa handy-cam mengendap-endap dari sisi lain. *sedikit khawatir takut dikejar banteng* (catatan : memakai celana merah), Kris berjalan santai *dengan rokok di tangan* menyusul kemudian. Dan aku, dengan kamera standard di tangan, cukup tahu diri … he..he… dan mulai menjepret Erwin dari belakang *yang sedang serius bergaya ala kameramen national geographic.*
Sejam kemudian, setelah puas. Kami bersiap menuju pantai. Debur ombak laut utara sih sudah terdengar dari sini. Nggak sampe 15 menit kami sudah tiba di tepi pantai Cidaun. Jauh di seberang, nampak pulau Peucang.
Ada semacam kesepakatan tidak tertulis disini. Bila hendak memanggil perahu. Cobalah kibarkan bendera putih yang ada di pantai. Niscaya ….. perahu dari Peucang, akan datang menghampiri.
Satu jam berlalu. Pak Nahri sudah kelelahan. Terduduk ia di tepi pantai. Sementara itu angin kencang menderu-deru. Ombak mulai tidak tenang. Raincoat kuning Joe, sesekali bergerak bak orang-orangan di tengah sawah saja. Langit sudah gelap. Hujan mulai turun rintik-rintik.
Erwin, resah. Berjalan bolak-balik dari pantai. Kemudian ke tempat kami (saya dan Kris) yang sedang menyiapkan makan siang. Aku, apalagi. Tiket pesawatku untuk selasa depan sudah confirm. Kalo telat nyampe Jakarta. Bakal diomelin sama rombongan besar nih.
Joe entah kemana. Kemudian kembali dengan membawa alat pancing. Kris, sama sekali tidak terpengaruh dengan keadaan ini (Kecuali angin kenceng yang mengganggu jalannya api di kompor trangia kesayangannya) dan sibuk memasak nasi goreng untuk makan siang kami.
Kami semua terdiam. Sibuk dengan pikiran masing-masing. Terdampar lagi di UK, Oho…! Bukan masalah besar lagi. Kemarin kami pernah mengalami yang lebih parah dari ini.
Tapi sekarang? Di mana pulau Peucang hanya sejengkal saja jaraknya *he..he…proyeksi tanganku kalo lagi ngecengin peucang dari tepi pantai*. Dimana tanda-tanda kehidupan tidak jauh lagi dari kami.
Kalau harus berbalik lagi ke Tamanjaya. “Hiks .. empat hari perjalanan !!!!â€
Duuh .. gimana dunk?!!!!
Tiba-tiba. Pak Nahri menari-nari gembira. Idih.. nggak salah tuh? Kalo mau ngadain pertunjukan gratis .. mbok ya liat-liat waktu gitu. Kami kan lagi dirundung duka.
“Ada yang dateeeeeengg!!!†teriak Pak Nahri di sela-sela tariannya. Ia pun bergegas mengangkut kerir dan stand by di tepi pantai. Sebuah boat melaju dari Peucang. Apalagi kalau bukan untuk menjemput kami. Bayaran? Urusan belakang. Yang penting, nyampe Peucang dulu.
“Sekarang?†tanyaku pada Joe. “Kita berangkat sekarang? Nggak makan dulu? Nanggung nih!â€
“Buruan deh Ries. Ombaknya mulai gede. Anginnya juga. Mendung dan hujan pula. ntar nggak bisa nyebrang lagiâ€
Kris yang sedang berjongkok dihadapanku. Dengan wajan di tangan, urung menyantap masakan hanya menarik nafas panjang dan berkata :
“Be Te!!!â€
Aku bergegas packing. Mengangkut semua yang bisa diangkut. Kami berlari-lari menuju boat yang sudah tiba di tepi pantai. Kerir, panci, kompor, wajan, sepatu, raincoat, kamera. Kami lanjutkan makan siang kami diatas boat. Nasi goreng bercampur air laut dan air hujan. Hmmmmm…..
jam 5 Sore di Peucang.
Tadi sudah lapor petugas. Lagi-lagi kabar duka. Ternyata pagi tadi kami sempet ditungguin petugas yang mau balik lagi ke sumur dengan kapal. Karena nggak ada yang nongol, ditinggal deh. Hiks! Terdampar lagi ….. nggak ada kepastian kapal yang bakal lewat. Mau nebeng pengunjung Peucang lainnya? Lagi sepi. Tragedi Tsunami dan info laut barat yang heboh itu, membatalkan semua bookingan yang ada. Mau nebeng perahu nelayan, rata-rata mereka baru pergi melaut. Kagak tau kapan baliknya.
“ Seminggu lagi kali’ baru balik!â€
“huaaaaaaaâ€
“Terdampar, waktu molor, atau logistik yang semakin menipis, bukan masalah Sister. Tapi .. kehabisan rokok!!! Itu bencana!!!†Keluh Kris *dying for cigarette*
Kami nggak bisa ngecamp disini. Harus nyewa salah satu cottage yang ada disini. Iya deehh…!!! Kami ngambil kelas yang paliiiiiinnnggg murah. Salah satu kamar di barak panjang tidak jauh dari kantor resort. Diantara rusa yang sedang merumput, monyet-monyet yang ramai mengincar barang bawaan kami dan seekor biawak yang dengan cuek jalan-jalan di sekitar jemuran di samping barak.
Dan jemuran itu sendiri? Jangan tanya. Sudah penuh berkibaran kaos, celana, slyer, matras, dan .. rupa-rupa underwear! He..he…
Untuk menghibur diri, sore itu kami habiskan untuk jalan-jalan dan berenang-renang di pantai Peucang. Sedikit terhibur dengan pantainya yang bersih, putih berikut air laut yang jernih dan tenang. Kami berenang hingga matahari terbenam. Uh .. asyiknyaaaa…. Dunia milik sendiri nih..yang laen pada ngontrak! Ha..ha…
Day 5 (Sun 13.02.05)
Pagi-pagi sudah ada petugas yang memberitahu bahwa kami sudah ditunggu perahu nelayan yang mau balik ke Sumur. Rupanya, sudah ada yang pulang dari melaut. Wah, gossip rupanya sudah beredar dengan cepat. Kami bergegas mandi, sarapan dan packing.
Akhirnyaaaaaa…… dapat juga tumpangan. Jam 11 pagi kami meninggalkan Pulau Peucang. Langit cerah sekali. Laut berombak kecil-kecil. Nun jauh disana, nampak siluet gunung Anak Krakatau. Selama diperjalanan kami dijamu minum susu, pisang rebus dan ikan bakar… *kombinasi yang cukup aneh*.
Perjalanan kemarin, meninggalkan kesan mendalam buat kami. Semua sibuk dengan pikiran masing-masing.
“ Kapan ya bisa balik lagi kesini….â€
Tatapan mataku bertumbuk dengan Kris …….. kami berdua nyengir ….
“secepatnya Sis!â€
Jakarta, 10 Maret 2005
(kami tiba di Sumur, empat jam kemudian. Carter mobil ke Labuan. Lanjut ke Serang …. dan baru nyampe Jakarta jam 11 malem)
Versi singkatnya :
Trekking 5 hari 4 malam jalur darat via Tamanjaya
Pos :
Tamanjaya – Tanjung Lame (camp 1) – Karang Ranjang – Cibandawoh – Cikeusik (camp 2) – Citandahan – Cibunar – Cijengkol (camp 3) – Cidaun – Peucang ( camp 4) – Sumur
Biaya :
Bis Primajasa Jakarta – Merak @ Rp 12000
L 300 Cilegon Labuan @ Rp 8000
Angkot di Labuan (jauh dekat) @ Rp 1000
L 300 Labuan – Tamanjaya @ Rp 15000
Bea masuk TNUK (via Tamanjaya) @ Rp 2000 (krn form habis, kagak pake asuransi)
Porter (@ Tamanjaya) @ Rp 20000/ hari
Boat dari Cidaon ke Peucang total Rp 50000
Sampan dr perahu ke pantai Sumur total Rp 15000
Penginapan di Peucang total Rp 150000/ kamar
Nebeng perahu nelayan total Rp 200000
Breakfast nasi uduk total Rp 20000
Lunch di Sumur total Rp 15000
Souvenir Tshirt UK di Peucang @ Rp 50000
Buku tentang UK @ Rp 35000
Pin UK @ Rp 15000
Souvenir Ukiran Badak (mungil) di Tamanjaya@ Rp 5000
Day 1 (wed 09.02.05)
16.00 desa Tamanjaya. Ada kantor resort TNUK Tamanjaya. (ngelewatin jalan raya 1 mobil, sawah di kanan kiri) kalo mau menghemat waktu dan tenaga. Naek ojek aja atau carter kendaraan sampe ujung aspal.
17.00 ds. Ujung Jaya (memotong desa. Lewat jalan tanah)
19.00 ds. Legon Pakis (nunggu magrib lewat di beranda rumah penduduk, dijamu air putih dan ditungguin sama seekor kucing hitam yang lagi ..krrrrrrr) jalur awal ngelewatin tugu selamat datang TNUK dan langsung dihajar untuk nerabas hutan dan nyebrang sungai. Rencana mau ngecamp di Tanjung Lame
20.10 Ngecamp di Prepet (camp 1) lokasi sebelum Tanjung Lame
Day 2 (thu 10.02.05)
08.30 Prepet, ngelewatin muara sebatas pinggang, setelah itu masuk hutan bakau. Memotong jalur tertipis antara laut utara dan laut selatan di pulau Jawa. Jarak tempuh sekitar 40 menit.
10.30 Karang Ranjang ada bangunan permanen pos resort. Bisa buat ngecamp dan numpang nginep. Sumber air berupa sumur yang jernih airnya.
14.00 start jalan lagi. Jalur jelas. Sedikit terbuka. Masuk hutan pakis dan daun pandan duri. Memotong tanjung dan tiba di :
16.10 Cibandawoh, berupa pantai luas yang pasirnya putih kemerahan, berikut ombak laut selatan yang cukup besar. Banyak bertemu dengan peziarah yang baru balik dari Sanghyang Sirah.
19.30 Cikeusik (Camp 2) muara sungainya cukup lebar. Ada tempat buat ngecamp. Sumber air berupa drum yang tertanam di pasir. (mungkin ada sumber air, mungkin juga tadah hujan) tidak direkomendasikan buat minum.
Ada lapangan terbuka (mirip lap golf) padang ngerumput binatang. view bagus dan bisa buat ngecamp.
Day 3 (fri 11.02.05)
11.00 start dari Cikeusik.
14.00 Citandahan. Muara sungai cukup lebar. Air sebatas dada. Bisa diseberangi, tentunya dengan mempertimbangkan kecepatan dan arus sungai. Ada mata air yang jernih airnya.
15.00 baru bisa nyebrang. Setelah itu, jalur naik sekitar 5 meter. Melipir tebing. Tebing berupa lapangan rumput luas. Kemudian berbelok ke utara dan langsung masuk hutan rapat.
18.00 Cijengkol Camp 3 (lokasi camp persis di sebelah sungai Cijengkol Catatan : air hanya sebatas betis)
Day 4 (Sat 12.02.05)
09.30 Start dari Cijengkol. Trekking hutan tropis. Banyak melewati sungai. Jalur air dan tanah becek. Jalur hewan banyak. Silang menyilang. Jalur relatif datar.
11.30 tiba di padang penggembalaan banteng di Cidaon. Padang luas tempat banteng merumput. Ada menara pengamat 4 dek.
12.30 start lagi
12.45 tiba di tepi pantai Cidaon. Ada bendera putih yang bisa dikibarkan untuk memanggil boat dari Pulau Peucang. Nunggu perahu. Sejam kemudian baru boat dateng.
14.00 tiba di pulau Peucang, base buat pengunjung yang datang via jalur laut. Pulau dengan pasir pantai yang putih dan air yang jernih. Banyak kijang, monyet dan biawak. Ada fasilitas penginapan.
14.30 sudah ada di kantor resort peucang dan nginep di cottage.
Day 5 (Sun 13.02.05)
08.00 perahu nelayan mampir
11.00 start dari p. peucang
15.00 tiba di Sumur



