Kathmandu
By admin • May 12th, 2005 • Category: Petualangan
Di luar bandara suasana perang langsung menyergap. Baru 50m, polisi menghentikan mobil jemputan dan meminta identitas sopir. Tak jauh dari situ, masih di pintu bandara, tumpukan karung pasir dijaga 2 tentara bersenjata lengkap. Anehnya, kegiatan sehari-hari masih terus berlangsung. Mobil memasuki kota dari arah tenggara, melewati Ranipokari (kolam Ratu), di perempatan membelok ke kiri (barat). Tepat di kanan perempatan berdiri istana kerajaan.
Jalan menyempit, kemacetan tak terhindar lantaran becak Nepal (mirip becak India) berebut jengkal-demi-jengkal dengan moda transportasi lain. Kawasn tempat hotel Utse berada mirip dengan Prawirotaman atau Malioboro. Gang-gangnya sempit, di kiri-kanannya mengapit toko-toko souvenir.
Kathmandu (2)
Hasil orientasi singkat di seputar Thamel kira-kira begini. Kompleks penginapan turis di sini dibagi dua: sebelah timur dan sebelah barat Kantipath. Kantipath adalah Thamrinnya Kathmandu. Sebelah barat lebih diperuntukkan menengah ke bawah (backpacker), sebelah timur lebih untuk turis berkantong tebal. Kompleks backpacker meliputi daerah Thamel, Jyatha, Chetrapatti, namun lebih sering disebut greater Thamel
Di Delhi, internasional flight mengharuskan calon penumpang check in 3 jam sebelum keberangkatan. Itu sebabnya jam 07.45 kami sudah meluncur dari hotel. Mesti masih pagi, kemacetan menghadang. Macetnya Delhi lebih parah ketimbang Jakarta di seputar jam kerja. Belum jaun dari hotel ada arak-arakan jalan kaki. Mereja membawa bendera merah berlambang palu arit bertuliskan CPI. Memang pekan lalu poster-poster CPI alias Partati Komunis India marak menyambut konggres besar mereka. Disamping poster kutipan kata-kata bertuah dari Lenin dan Stalin tak lupa sisertakan. Ideologi ternyata belum mati. India belum memasuki ‘Clash of Civilization’ Huntington ataupun ‘End of History’ Fukuyama.
Indira Gandhi Airport terlihat sibuk, terlebih antrian check in ke Karachi yang persis di sebelah antrian Jet Airways ke Kathmandu. Pada petugas saya minta tempat duduk di sisi kiri agar bisa menatap Himalaya. Terus terang banyak tanda tanya di dalam hati. Apakah ke Kathmandu di saat political unrest melanda Nepal bukan sebuah kenekatan? Apalagi kami pergi dengan mengajak anak? Bagaimana pula dengan service maskapai dari India? Tak jauhkah dari kondisi angkutan daratnya?
Servis Jet Airways benar-benar profesional dan di luar dugaan. Meski hanya 1 jam 7 menit, kami menikmati sajian menu vegetarian yang lezat. Sebagai vegetarian saya serasa menemukan sorga di India. Tak sampai jarak selemparan batu, rumah makan vegetarian gampang ditemukan. Harganya pun lebih murah ketimbang Jakarta. Setelah lepas dari kegersangan India, deretan awan putih muncul di kaca cendela. Saya perhatikan sungguh-sungguh, ternyata lebih putih dari awan. Tak salah lagi itulah rangkaian Himalaya! Tak seberapa lama, panorama menakjubkan lembah Kathmandu segera terlihat. Pesawat mulai menurun, goncangan terasa keras walau tak sekeras yang saya rasakan saat mendarat di Athena 4 tahun lalu.
Bandara Tribhuvan terlihat lengang. Di sebelah Boeing 737 milik Jet Airways terparkir raksasa Airbus milik Thai Airways. Beginikah suasana bandara saat pemberontakan berkecamuk? Di bagian imigrasi, atmosfir Nepal yang ditulis di koran-koran sama sekali lenyap. Lebih dari 200-an orang antri aplikasi visa. Karena visa di tangan dan tak ada yang perlu dideklarasi segera saja kami melenggang menerobos jalur ‘red channel’. Di luar bandara kami tukar uang dan mencari penjemput dari hotel yang telah dibooking. Saya booking hotel Utse, milik orang Tibet, di daerah Jyata, Kathmandu.
Di luar bandara suasana perang langsung menyergap. Baru 50m, polisi menghentikan mobil jemputan dan meminta identitas sopir. Tak jauh dari situ, masih di pintu bandara, tumpukan karung pasir dijaga 2 tentara bersenjata lengkap. Anehnya, kegiatan sehari-hari masih terus berlangsung. Mobil memasuki kota dari arah tenggara, melewati Ranipokari (kolam Ratu), di perempatan membelok ke kiri (barat). Tepat di kanan perempatan berdiri istana kerajaan. Jalan menyempit, kemacetan tak terhindar lantaran becak Nepal (mirip becak India) berebut jengkal-demi-jengkal dengan moda transportasi lain. Kawasn tempat hotel Utse berada mirip dengan Prawirotaman atau Malioboro. Gang-gangnya sempit, di kiri-kanannya mengapit toko-toko souvenir.
Kathmandu (2)
Hasil orientasi singkat di seputar Thamel kira-kira begini. Kompleks penginapan turis di sini dibagi dua: sebelah timur dan sebelah barat Kantipath. Kantipath adalah Thamrinnya Kathmandu. Sebelah barat lebih diperuntukkan menengah ke bawah (backpacker), sebelah timur lebih untuk turis berkantong tebal. Kompleks backpacker meliputi daerah Thamel, Jyatha, Chetrapatti, namun lebih sering disebut greater Thamel. Kompleks turis berduit dekat dengan kantor-kantor maskapai asing. Kebetulan pula letaknya menjulur dari istana raja Gyanendra.
Hari ke-2 kami ke lapangan Durbar Kathmandu. Durbar dalam bahasa Nepal berarti istana. Kota kuno ini sungguh eksotis. Sekiranya bisa sedikit lebih bersih, kawasan kota kuno di ibukota negeri Eropa pun akan iri hati. Berbagai monumen arsitektur abad XII sampai XVIII masih utuh, terawat dan digunakan dalam hidup sehari-hari. Rickshaw (becak Nepal) mengedrop kami di belakang kuil Taleju. Sebenarnya bisa saja langsung menjelajah, namun kami harus jujur. Kami berbalik menghampiri gerai tiket. Si petugas menanyakan berapa lama tinggal di Kathmandu? Apakah akan kembali lagi ke lapangan Durbar? Mendapat jawaban kami, ia menyarankan agar ke site office untuk mengurus entry card sehingga kami tak perlu bayar lagi.
Pagi itu di lapangan Durbar sedang ada kampanye penggunaan garam Yodium. Bahkan wakil pemerintah India pun hadir. Tak urung wartawan pun tumplek-bleg di sana. Sengaja kami menjauhi keramaian, menyusur Kumari Bahal (tempat tinggal Dewi Kumari) mencari tempat teduh. Dari jauh nampak seseorang mencuri-curi photo. Langsung saja saya sodorkan kamera, "Could you take our photograph please?" Ternyata dia photo-journalist. Melihat di punggung saya anak tertidur sementara ransel kamera tergantung di depan ia sangat tertarik. Katanya, sangat unik untuk dimuat. Bisa jadi bagi dia ini bukti bahwa Nepal aman sehingga ada yang berani mengajak anak mengunjunginya; Nepal tak seperti yang diberitakan media-media se antero dunia.
Usai mengurus entry card, kami naik ke kuil Narayan. Dari atas pemandangan lapangan Durbar sunggu berbeda. Kami rehat sejenak, melepas haus, kebetulan anak juga bangun dan sudah waktunya minum. Turun dari kuil saya mesti merayap lantaran licinnya tangga. Tujuan berikutnya adalah Kasthamandap. Kasthamandap, dari mana Kathmandu beroleh nama, adalah bangunan kayu berlantai 4. Konon keselurhan kayunya berasal dari sebatang pohon! Kasthamandap berasal dari abad XII dan disebut-sebut bangunan tertua di lembah Kathmandu. Kasthamandap ternyata dipakai untuk tempat pemujaan. Di tiap tangga masuknya (seluruhnya ada 4) berderet penjual bunga. Ada seorang penjual yang memantari bunga-bunganya sembari mengutip bacaan dari buku kecil. Setiap peziarah setelah ke tempat puja juga menghampiri semacam punden yang ada di ke-4 sudutnya. Peziarah membunyikan lonceng, jarinya ditorehkan ke serbuk warna yang kemudian ditorehkan ke kening arca.
Kami bergerak ke seberang lapanagn. ke belakang istana lama (hanoman Dhoka). Bagian ini sebagian sedang direnovasi dan dipasang pagar seng. Dengan membayar Rs 250 (kira-kira 35 ribu) kami masuk halaman istana. Tidak semua bolah dimasuki. Kami ke museum istana yang khusus menyimpan peninggalan raja Tribhuvan. Raja yang namanya diabadikan untuk bandara ini dianggap punya prestasi menonjol karena berani menghapur perbudakan. Koleksi raja Tribhuvan disimpan dalan 2 galeri. Galeri pertama lebih bersifat kenegaraan, galeri kedua lebih bersifat pribadi. Di galeri kedua bahkan peti matinya pun ikut dipajang!
Di hari ke-3 giliran kami ke Patan. Patan dan Kathmandu hanya dipisah oleh sungai Bagmati. Meski demikian kedua kota dulunya kerajaan terpisah sebelum lembah Kathmandu ditaklukkan oleg raja Gurkha Prtivi Narayan Shah. Patan juga dikenal dengan nama Laliput alias kota seni ukir halus. Patan mempunyai lapangan Durbar yang tak kalah cantik dari Kathmandu. Kerapatan kuil per meter persegi di sini bahkan lebih besar. Hari itu, Rabu, 13-April-2005 sedang ada persiapan upacara besar di kuil emas. Pelataran lapangan Durbar sedang disapu, karena anak di ransel belakang sedang tidur kami pun mencari tempat teduh lebih dahulu.
Arsitektur kuil yang menarik perhatian kami di sini adalah Krishna Mandir, di mana di depannya berdiri arca garuda. Garuda dapalm mitologi aslinya adalah manusia yang dapat terbang, bukan semata-mata burung seperti di Indonesia. Kata penjual souvenir teman kami ngobrol. Krishna adalah dewa playboy. Di banyak dikelilingi gopi-gopi. Saya jadi ingat souvenir lukisan yang saya beli Di Jaipur, India. Di lukisan itu digambarkan Krishna dan Radha yang dikelilingi para gopi.
Salam dari Kathmandu,
Santoso
nb: Di Kathmandu HP saya nggak ada sinyal, beda dengan tempo hari waktu di India. Di India malah setiap kali masuk negara baru (Madhya Pradesh, Uttar Pradesh, Rajasthan, Haryana)
admin is
Email this author | All posts by admin



