On the road to Airport
By admin • May 24th, 2005 • Category: Romantika
Tour de Karimun dengan rekan-rekan Indobackpacker berakhir sudah. Kira-kira pukul 16.30 sore perahu motor yang membawa kami dari dermaga Karimun merapat di pelabuhan Kartini Jepara. Perjalanan panjang ke Jakarta yang akan memakan waktu tempuh 10 jam lagi, setelah sebelumnya diayun gelombang selama 6 jam sepertinya tidak membuat kami makin kusut. Buktinya suasana malah jauh lebih meriah dari pada waktu berangkat, mungkin karena sudah kenal lebih baik dan sudah hidup seatap 3 hari ditengah laut kali ya. Aku saja yang tadinya memperkirakan bakal bisa tidur nyenyak karena sudah 4 hari kurang tidur, entah kenapa tetap saja segar bugar. Suasana hati sepertinya memang lagi bagus nih. Akhirnya bareng Yuke yang kebetulan jadi tetangga sebelah, ngobrol macam-macam, sharing pengalaman unik saat travelling.
Jam 8 malam bus berhenti untuk sholat dan makan. Menu makanannya kali ini lumayan membuat aku lapar. Pakai sate udang goreng, hm…enaknya. Perjalanan berlanjut dan aku masih belum bisa tidur, sementara yang lain sudah mulai hening. Hampir tengah malam akhirnya maksa buat merem, tapi ampun deh AC dingin banget. Sudah gitu sepertinya bus jalannya merambat, buktinya beberapa kali dilewati sama bus lain yang ngebut. Aku jadi gelisah, khawatir kalau subuh nanti tidak sampai Jakarta sudah jelas aku bakal ketinggalan pesawat.
Jam 4 subuh bus memasuki tol Cikampek, dan aku makin tidak tenang. Harusnya jam 5 pagi aku sudah nongkrong di airport karena pesawat boarding jam 6 teng!.
“jangan takut, pasti keburu deh,” hibur Yuke and mas Aris. Pffhh, perjalanan di tol ini rasanya tak berujung.
Akhirnya jam 5.20 pagi bus sampai juga di terminal rawamangun. Sudah pesimis banget nih, 40 menit lagi pesawat boarding sementara aku still in the midle of nowhere. Langsung buru-buru turun dan mencari backpack kuning’ku di bagasi bus. Begitu ada sopir yang menawarkan taksi langsung saja aku bilang “iya” dan saat aku tanya pakai argo dia bilang iya. Aku sudah tidak perduli lagi itu taksi apa dan memikirkannya saja sudah tidak sempat. Salam perpisahan dengan teman-teman aku ucapkan dengan teriakan “sorry guyz, aku buru-buru nih, thanks banget ya, aku contact by email saja ntar, daaahhh!”
Berlari aku menuju taksi dan menutup pintu. Taksipun siap buat jalan, tapi hei.. kok argonya tidak dihidupkan. Akhirnya aku tanya ke supirnya,
“kok argonya nggak nyala, pak?”
“wah, ini argonya masih argo lama mbak, belum disesuaikan”, jawabnya enteng.
“lha, trus gimana saya bisa tau ongkosnya kalo argo nggak jalan”, bantahku.
“bayar borongan saja deh mbak, 100 ribu sampe bandara”, jawabnya.
“bapak ini gimana sih, tadi saya tanya pake argo apa tidak, bapak jawab iya, sekarang minta borongan. Saya nggak jadi naik,” marah sudah tidak bisa ditahan, akhirnya aku menarik backpackku dan keluar taksi. Berjalan menuju taksi lain, sementara supir tadi mengejarku sambil tetap memaksaku naik kembali. Akupun tidak kalah marahnya, sudah gitu campur kesal karena waktu yang terbuang percuma. Masih tetap sambil menjajari langkahku supir tadi kembali menawarkan “udah deh, 50 ribu sampai bandara”. Akhirnya ku jawab “gratis juga, aku nggak mau!” (intinya bukan masalah duit, tapi merasa sudah dibohongin yang membuat aku marah)
Aku masuk ke taksi lain, memastikan argonya jalan dan meminta supirnya untuk ngebut karena aku cuma punya waktu 20 menit sebelum pesawat berangkat.
Tapi ternyata seluruh alam Jakarta pagi ini berkolaborasi buat ngerjain aku. Baru lima menit berjalan si supir bilang “mbak, kita isi bensin dulu ya, bensin saya sudah habis nih”.
Ya ampun..apa lagi nih batinku. Refleks ku lirik dashboard taksi dan mengamati jarum fuel meternya. Akhirnya ku bilang, “pak, saya lagi buru-buru nih, nggak usah isi bensin dulu, saya yakin itu cukup sampe bandara” .
“tapi mbak kalau pulangnya nanti saya gimana” jawabnya.
“kalau pulangnya kehabisan, bapak kan bisa pinjam dulu sama taksi lain” jawabku asal (kalau dipikir-pikir gimana caranya yach..)
Akhirnya pak supir diam (mungkin sedang memikirkan jawaban terakhirku yang agak aneh).
Masalah selesai? Ternyata belum. Lima menit berikutnya taksi malah berhenti dan waktu aku tanya ada apa, si supir bilang ban-nya kurang angin. Ku lihat tidak ada orang yang stand by di tempat tambal ban tersebut. Wah jangan-jangan mesti nungguin orangnya mandi nih, pikirku. Akhirnya aku turun taksi, dengan gaya sok yakin aku tendang-tendang ban yang katanya kurang angin itu (padahal sumpah mati, aku nggak tau apa bedanya ban kurang angin atau enggak, sekalian menumpahkan rasa kesal aja nih) Akhirnya aku bilang ke supirnya,”pak, ban ini nggak kenapa-kenapa, anginnya masih cukup, kan tadi saya sudah bilang saya buru-buru, sudah deh pak kita langsung jalan lagi.”
Untungnya si supir manut saja, tanpa banyak omong langsung kembali menjalankan taksinya. Tidak berapa lama hujan turun, deras banget malah, sampai jarak pandang terbatas sekali. Kulihat wiper taksi bergerak tersendat-sendat dengan karet yang mungkin sudah aus, sampai-sampai tidak bisa mengimbangi curah hujan yang jatuh di kaca depan. Dengan keadaan seperti ini tidak mungkin aku minta taksi buat ngebut, yang ada nanti aku malah berakhir di rumah sakit (kalau masih beruntung). Tidak ada lagi yang bisa aku lakukan, tinggal pasrah saja kalo ternyata aku harus ketinggalan pesawat.
Jam 6 kurang 5 menit taksi berhenti diterminal IA, selesai urusan bayaran aku langsung lari ke pintu masuk. Kembali antrian di pemeriksaan bagasi menghentikan aku, ada yang bawa barang banyak sekali. Begitu lolos sensor, langsung lari lagi ke counter Awair sambil berdoa. Ternyata benar saja, papan kecil yang bertuliskan CLOSE sudah dipajang di counter check-in, dan sudah jam 6 tepat. Panik, itu sudah pasti tapi tetap nekad aku datangi petugas yang kebetulan masih ada dibelakang counter. Melihat aku berdiri di depannya dengan ekspresi yang aku yakin sudah tidak karuan, aku di sapa dengan ucapan:
“wah, maaf mbak, sudah tidak bisa check-in lagi, pesawat sudah boarding”
Aku terdiam sambil memperhatikan petugasnya, wanita yang sedang hamil. Entah kenapa tiba-tiba antara mata dan mulutku kordinasinya secepat kilat, sampai akhirnya aku bilang ke dia dengan tampang sesedih mungkin,”aduh, tolongin saya deh mbak, pagi ini anak saya mau operasi di Balikpapan.” What? Aku sampai kaget sendiri mendengar ucapanku. Tidak disangka akhirnya dia bilang,”oh, gitu ya mbak, sebentar deh saya coba contact pesawat”.
Kedengaran komunikasi di HT dengan suara yang kacau balau.
“ok mbak, masih sempat, tapi bagasi sudah tidak bisa masuk lagi, buruan ya mbak di pintu A7” Thanks God, itu suara terindah yang aku dengar.
“aduh makasih banyak ya mbak, semoga melahirkan nanti lancar”, balasku sambil lari pontang panting dengan backpack di punggung. Mungkin saja si mbak tadi tersadar begitu melihat aku berlari menjauh, soalnya penampilan aku jauh dari seorang ibu yang cemas akan kesehatan anaknya. Kusut’nya mungkin sama, tapi backpack and the gank, jelas sama sekali nggak nyambung kan?
Ah, apapun pendapatnya aku terima kok. White lies nggak dosa kan, apalagi kalo kepepet kayak begini. Ruang tunggu A7 sudah kosong, tinggal 1 orang petugas yang mengarahkan aku untuk langsung naik ke pesawat.
Pffhhh..begitu duduk kutarik nafas panjang, dan pesawat langsung bergerak. Terbayang perjuanganku pagi ini untuk duduk dikursi pesawat ini. Jakarta memberikan ucapan selamat jalan dengan episode scary morning’nya, but I can pass it through. Alhamdulillah.
Sampai di Balikpapan masih jam 9 pagi. Sarapan dan santai dulu di airport louge sekalian mengenang kejadian hari ini. Sungguh ending yang manis plus menegangkan buat menutup travellingku kali ini.
Begitu banyak hal baru terjadi yang mempengaruhi suasana hati, bertemu dengan orang-orang baru yang menjadi inspirasi, menjelajah tempat baru yang menjadi bahan kontemplasi. Terlebih lagi teman-teman baru dengan latar belakang yang berbeda memberi warna tersendiri, seperti yang dibilang Anais Nin : Each friend represents a world in us, a world possibly not born until they arrive, and it is only by this meeting that a new world is born.
Tapi tetap saja ada satu hal yang selalu aku hadapi setelah kembali dari berpergian.
Kriinggg… handphone bunyi dan kulihat nama yang tertera “Mama calling”. Nah, inilah yang ku maksud.
Begitu aku menyahut “ya, Ma..” langsung disambut dengan nada marah…dari mana saja kamu? sudah sering mama bilangin kalau..blaa..bla..bla…
10 menit aku cuma bisa bilang “iya ma” buat menanggapi omelan dan nasehat orang tercinta ini. Dan ini sudah yang kesekian puluh kalinya tapi kami berdua tetap tidak pernah bosan. Aku tetap dengan hobi travellingku dan ibuku tetap dengan prinsip over protektif’nya. Tentu saja tidak pernah nyambung.
Life is so bored and flat without adventure. Try to find something new with risks involved make us breath and alive.
Pernah ku katakan itu pada ibuku. hasilnya? Beliau MURKA…. He..he..
Bontang, May’05
Thanks to all Karimun’ers: you make me feel brand new in your own way
admin is
Email this author | All posts by admin



