Purnama di atas Meru Betiri
By Erwin • May 3rd, 2005 • Category: Trekking
Pulang ke pos, hari sudah menjelang sore. Satu botol besar terisi penuh kerang hasil kerja keras Aris dan Yudha. Saat akan di masak, “dicuci dulu mas, pake air laut biar pasirnya hilang” kata Alfian. “walah, telat mas !!,” sesal Aris. Kerang sudah terlanjur dicuci air sumur, untuk ngambil air laut yang jaraknya lumayan jauh, jelas buang-buang energi. Jadilah makan kerang rasa pasir !
Hari ketiga. Jarak tempuh Pantai Bande Alit ke Teluk Meru bisa dipersingkat dengan menggunakan perahu sekitar satu jam. Kalau trekking, perlu waktu enam jam. Harga sewa satu perahu yang dipatok tiga kali lipat dari biasanya, membuat kami mengurungkan niat menggunakan perahu. Apalagi kami disarankan untuk menyewa dua perahu cadik. Saat Purnama, para nelayan tidak melaut. Ikan-ikan susah untuk ditangkap. Lantas, apakah kami yang harus mengganti biaya hidup saat mereka tidak melaut ? “No Way !!,” akhirnya jalan kaki
Dengan menumpang Mobil Patroli Polisi Kehutanan milik Taman Nasional Meru Betiri (TNMB) Jawa Timur, kami berempat diantar menuju Bande Alit. Jarak Ambulu, kota kabupaten Jember ke Bande Alit masih sekitar 34 Km lagi. Artinya, dengan kondisi jalan hutan yang sangat buruk, masih diperlukan waktu kurang lebih tiga jam lagi.
Di tengah perjalanan, Mobil yang kami tumpangi sempat mampir di dekat areal tumbuhnya tanaman Bunga Rafflesia Zollingeriana. Saat kami lihat, jenis bunga raksasa ini belum mekar. Kuncupnya sudah berbentuk segi lima.
“Lima hari lagi baru mekar,” ungkap Pak Andri, petugas TNMB yang akan mengantar kami ke Bande Alit. Bunga Rafflesia ini kalau mekar warnanya merah dan ukurannya sangat besar. “Perlu waktu kurang lebih sembilan puluh hari dari kuncup sampai mekar,” tambahnya. Padahal kalau sudah mekar hanya bertahan lima hari lalu membusuk.
Sepanjang perjalanan menuju Bande Alit, beberapa kali kami disambut oleh sekawanan Lutung yang sedang bergelantungan di atas pohon. Tiga gerbang pos penjagaan sudah dilalui. Tertulis di papan penunjuk jalan, “Pantai Bande Alit masih 6 Km.” Jalanan tanah sedikit lebih halus dibanding sebelumnya. Mobil dipacu lebih cepat supaya tidak kemalaman. Sepanjang jalan perkebunan ini bisa ditemui tanaman Kopi, Cokelat, Jeruk Bali, Sirsak dan buah-buahan lainya tampak siap panen. Menjelang maghrib, sampai juga di Pos Bande Alit yang berupa bangunan permanen dengan fasilitas dua kamar dan MCK untuk tempat tinggal para petugas TNMB. Kampung di Bande Alit kalau malam gelap gulita karena belum ada penerangan listrik, hanya ada satu-dua rumah yang menggunakan aki, termasuk Pos ini untuk penerangan malam hari.
Beruntung kami diberi tempat untuk menginap, jadi gak perlu gelar tenda. Alfian (Polisi Hutan) dan Pak Herdjumin (Porter) yang akan mengantar selama berada di TNMB, malam itu menemani kami ngobrol-ngobrol seputar TNMB dan Harimau Jawa yang dipercaya masih ada di sini. Niat ber-night safari untuk mengintai Banteng dan Rusa di Savana dibatalkan, rupanya phobia Harimau menyerang. Akhirnya kami lebih memilih acara santai di Pantai Bande Alit, tidur-tiduran di atas flysheet sambil memandangi ribuan bintang di langit, diterangi sinar bulan Purnama dan menikmati suara deburan ombak di pantai yang sepi ini.
Hari kedua. Sedianya kami akan bermain kano seharian di Muara Timur. Namun, Lagi-lagi gak kesampaian. Pasalnya, waktu habis seharian menjelajah pantai, walau masih sempat menengok Savana untuk mengintai Banteng dan ke tempat Penangkaran Rusa yang beberapa ekor penghuninya ditemui sedang berkeliaran di semak-semak dekat pantai.
Selain batal main kano, kunjungan ke Goa Jepang juga gak jadi, padahal jaraknya tinggal beberapa ratus meter lagi dari garis pantai. “Dari pada ke Goa Jepang, lebih baik nyari Kerang !!,” prinsip Aris dan Yudha. Di teriknya panas sinar matahari, mereka rela menggali pasir untuk mencari sesuap kerang. Sementara aku pilih berteduh sambil tidur-tiduran di atas karang, Nefran malah sibuk cari obyek-obyek foto yang menantang. Untuk mengisi perut siang itu, kami bakar ikan hasil tangkapan nelayan. Dengan ditukar uang sepuluh ribu perak, tiga ikan besar disantap lahap !
Pulang ke pos, hari sudah menjelang sore. Satu botol besar terisi penuh kerang hasil kerja keras Aris dan Yudha. Saat akan di masak, “dicuci dulu mas, pake air laut biar pasirnya hilang” kata Alfian. “walah, telat mas !!,” sesal Aris. Kerang sudah terlanjur dicuci air sumur, untuk ngambil air laut yang jaraknya lumayan jauh, jelas buang-buang energi. Jadilah makan kerang rasa pasir !
Hari ketiga. Jarak tempuh Pantai Bande Alit ke Teluk Meru bisa dipersingkat dengan menggunakan perahu sekitar satu jam. Kalau trekking, perlu waktu enam jam. Harga sewa satu perahu yang dipatok tiga kali lipat dari biasanya, membuat kami mengurungkan niat menggunakan perahu. Apalagi kami disarankan untuk menyewa dua perahu cadik. Saat Purnama, para nelayan tidak melaut. Ikan-ikan susah untuk ditangkap. Lantas, apakah kami yang harus mengganti biaya hidup saat mereka tidak melaut ? “No Way !!,” akhirnya jalan kaki yang menjadi pilihan. Dengan alasan keamanan, peraturan mewajibkan pengunjung yang trekking di TNMB wajib didampingi oleh seorang Polisi Hutan. Selain Polhut, satu orang porter juga kami sewa untuk mengangkut logistik.
Berjalan sejauh enam kilo meter, jalur semakin mengarah ke hutan setelah melewati areal perkebunan. Beberapa aliran sungai berair jernih juga dilalui. Jalur yang paling berat saat harus menanjak setinggi 290m yang disebut sebagai Gunung Meru. Tanjakan belum juga habis, tiba-tiba mendengar gonggongan sekelompok anjing. Anjing-anjing galak itu memang sengaja dilepas pemiliknya untuk memburu Babi hutan. “Win, itu Babi hutan !!,” teriak Aris. Babi hutan sedang terdesak oleh kepungan anjing-anjing, ini malah mengkhawatirkan. Pak Herdjumin meminta kami untuk mempercepat langkah dan segera meninggalkan tempat itu karena sekelompok anjing kemungkinan malah akan menyerang manusia.
Semakin jauh berjalan di kedalaman hutan, akhirnya Teluk Meru tampak di depan mata, kami telah menjejak pasir pantai, namun ternyata ini belum selesai dan masih harus berjalan menyusuri garis pantai sejauh tiga kilometer lagi sebelum mencapai tujuan. Berjalan di atas pasir yang gembur sangat berat, ditambah sengatan cahaya matahari rasanya ingin buru-buru sampai lokasi. Sebuah pohon besar (Barringtonia asiatica) mempunyai bentuk buah yang mirip bengkuang dan berdaun lebar, menjadi tempat untuk berteduh. Saat mencapai tempat ini, hari masih siang. Masih banyak kesempatan untuk menjelajahi pantai dan mandi di muara air tawar yang jernih dan banyak ikannya. Udara pantai sangat sejuk dan semua sepakat untuk tidak mendirikan tenda. Cukup gelar flysheet, dan kami akan tidur diudara terbuka menghadap ke laut sambil menyalakan api unggun semalam suntuk. Apalagi malamnya masih Purnama, pasti terang benderang.
Saat berada di sini, dua kelompok nelayan sedang mencari ikan di Teluk Meru. Kabarnya, hasilnya kurang memuaskan, namun kami masih kebagian ikan ukuran besar yang kami bakar malam itu, ditambah makan kerang laut hasil tangkapan Pak Herdjumin. Purnama ini menyebabkan para nelayan butuh waktu ekstra sebelum pulang dengan hasil tangkapan yang memuaskan.
Hari keempat. Teluk Permisan, itulah tujuan kami selanjutnya. Setelah sarapan pagi dan packing ransel, perjalanan dilanjutkan. Memasuki hutan yang lembab karena sinar matahari tidak mampu menembus kerapatan pepohonan di sini. Beberapa kali perjalanan terhenti karena asyik menyaksikan kawanan Burung Rangkong. Burung Rangkong yang ukurannya kira-kira lebih besar dari Ayam Bangkok, hinggap berpasang-pasangan di ranting pohon setinggi 30m. Berbulu hitam dan memiliki paruh panjang berwarna kuning, dianggap sebagai burung yang paling setia terhadap pasangannya. Kibasan sayapnya cukup kuat untuk mengeluarkan bunyi sekelebatan saat terbang. Macan Kumbang juga sempat terlihat nangkring di atas dahan setinggi dua puluhan meter, sedang mengintai Rangkong.
Pantas saja beberapa kali orang tersesat di hutan ini. Selain tidak ada jalur/trek yang jelas, perjalanan harus menyusuri sungai dan menerabas tumbuhan. Daya ingat Polhut terhadap jalur ini nyatanya tidak lebih baik daripada ingatan sang Porter. Pak Herdjumin sangat berperan dalam menemukan jalan yang benar untuk menuju Teluk Permisan. Beberapa kali ditemukan juga jalur para penebang kayu. Kayu Suren adalah jenis yang paling diincar untuk dijadikan perahu. Taman Nasional yang luasnya lebih kurang 50,000ha ini namun tetap masih terbilang lebat.
Setelah muncul di Teluk Permisan Barat, kami masih harus menyusuri pantai untuk mencapai Teluk Permisan Timur. Perjalanan yang hanya sekitar empat jam dari Teluk Meru, membuat kami optimis dapat mencapai Sukamade di Kabupaten Banyuwangi (Teluk Penyu) dalam hari yang sama. Kegagalan mendapat tumpangan perahu memang sedikit mengganggu rancangan perjalanan kami. Pukul dua belas siang kami sudah sampai. Setelah berunding, di putuskan tidak perlu bermalam di sini, dengan pertimbangan harus mencapai hutan bambu sebelum gelap. Perjalananpun akhirnya dilanjutkan setelah makan siang di pinggir teluk.
Satu jalur etape terakhir yang dilewati adalah yang dianggap paling berat. Jalur yang langsung menanjak, tingkat kemiringannya cukup untuk membuat dengkul bertemu dagu saat melangkah. Belum lagi harus melewati jalur yang dianggap banyak bercokol Kutu Babi. Untuk menghindari Kutu Babi, saat istirahat disarankan tidak duduk di tanah. Kalau menyerang kulit, masuk ke dalam pori-pori dan sangat gatal !! “Kalau pulang nanti, bajunya di rendam air panas,” saran Pak Herdjumin.
Setelah melewati puncak tanjakan, satu jalur mendatar yang disebut ‘Jalan Jepang’ pernah dibangun para Romusha untuk akses militer Pasukan Jepang. Bekas-bekas jalurnya bila diperhatikan masih terlihat karena adanya susunan bebatuan untuk pengeras jalan.
Perkiraan yang tepat !! kami dapat melewati hutan bambu sebelum gelap dan mencapai Desa Sukamade. Saat keluar dari hutan, langsung ketemu perkampungan penduduk. Seperti orang yang sedang ngidam, langsung cari minuman dingin di warung.
Saat melewati jalur perkebunan sepanjang lima kilometer selepas kampung penduduk kami sempatkan memetik Cokelat dan Kelapa, sebelum akhirnya tiba di Resort Sukamade
Satu malam terakhir, pihak Resort berbaik hati memberi tempat menginap, walaupun hanya sebuah ruangan yang tak terawat. Di ruang bagian belakangnya dipakai sebagai tempat penangkaran Tukik yang sedang diteliti oleh WWF. Malam itu, dengan ditemani personel WWF, kami ‘berburu’ Penyu yang akan bertelur di Pantai. Sinar Bulan Purnama tidak henti-hentinya menemani kami selama berada di sini. Sebagai informasi, Penyu sangat sensitif terhadap cahaya dan bisa batal naik ke darat. Akankah Penyu bertelur saat terang Bulan Purnama ?
Sebuah penantian panjang didapat oleh Nefran dan Yudha yang dengan sabarnya menunggu semalam suntuk di Pantai Sukamade, sementara Aku dan Aris lebih memilih tidur sambil dikerubuti nyamuk. April 2005
Travel Tips:
Rute yang lazim digunakan untuk menjelajahi TNMB adalah Bande Alit – Sukamade.
Perjalanan di mulai dari Jember, dapat di capai dari Surabaya atau Banyuwangi. Dari Jember dilanjutkan ke Ambulu untuk mendaftar ke kantor PHPA di Jl. A. Yani (Telp: 0336-881369)
Angkutan umum dari Ambulu ke Bande Alit terbilang langka. Untuk itu mobil Petugas PolHut dapat di carter.
Untuk keluar dari Sukamade, truck angkutan reguler berangkat setiap pk. 7 pagi menuju pesanggaran. Pemandangan Teluk Hijau yang indah masih dapat disaksikan sepanjang jalur ini. Dari Pesanggaran ada angkutan umum ke Terminal Jajag untuk selanjutnya mencari bis rute Surabaya/Banyuwangi.
photo-photo klick link.
• http://odesya.multiply.com/photos/album/2
• http://eyulianto.multiply.com/photos/album/1






