Antara Kathmandu - Pokhara 206 km = 7,5 jam

Custom Search

By admin • Jun 1st, 2005 • Category: Petualangan

Jarak Kathmandu - Pokhara sekitar 206 km. Kira-kira sama dengan Delhi - Agra yang kami lewati 2 pekan berselang. Di India untuk jarak sejauh itu perlu waktu tempuh sekitar 3,5 jam. Bagaimana dengan di Nepal? 3 sumber saya tanya dan jawabannya berbeda secara signifikan.
Resepsionist hotel bilang antara 7-8 jam. Officer bis Greenline (yang dianggap bis turis terbaik) memberi ancar-ancar 9-10 jam. Seorang agen persewaan mobil memberi perkiraan sangat optimis yakni 4-5 jam.
Alasannya? Karena Anda orang asing, katanya, dan tidak perlu berhenti di pos pemeriksaan. Mana dari ketiga perkiraan yang paling mendekati?

Kathmandu - Pokhara bisa dibagi beberapa ruas dengan titik-titik simpul kota-kota kecil seperti Naubise, Mugling, dan Abu Khaireni. Kathmandu - Naubise hanya 40-an kilo namun untuk menempuh sependek itu perlu 3 jam!


Thamel bukanlah Kathmandu dan Kathmandu bukanlah Nepal. Keluarlah dari Kathmandu bila ingin melihat ‘real Nepal’, begitu saran setiap kenalan kami. Thamel, lebih tepatnya greater Thamel, tak bisa dipungkiri adalah produk rekayasa globalisasi tourisme. Padanannya, jika Anda tersesat di dalam mall Anda tak akan bisa mengenali apakah sedang di Jakarta, Paris, atau New York. Sederhana saja, suasananya nyaris tak beda. Begitu juga halnya di tengah Thamel tak ada beda nyata dengan di Legian; sepanjang sudut-sudut kota tua Plaka, Athena; atau lorong-lorong sempit seputar museum Hagia Sophia, Istanbul.

Meski serupa tentu saja tak semuanya persis sama. Di Thamel ada 4 hal menonjol yang membedakannya dari kompleks turis-turis lain. Pertama, banyaknya toko-toko penjual peralatan outdoor sport. Kualitasnya tak perlu ditanyakan lagi. Beruntung ransel dan peralatan yang saya bawa bukan merek imitasi. Maksudnya, 100% merek buatan dan bermerek dalam negeri. Sekiranya saya memakai merek pinjaman akan malu dibuatnya.
Hampir semua merek asing yang dijiplak pengusaha Indonesia bisa ditemukan aslinya di sini dan jamak dipakai turis-turis bule!

Kedua, banyaknya toko yang khusus menjual postcard dan peta. Selain ukuran yang umum postcardnya ada yang ukuran panorama. Postcard biasa dijual Rs10 sebuah, yang panorama Rs35. Sedang peta-petanya adalah peta pendakian. Harga termurahnya Rs400. Tinggal pilih puncak mana yang hendak dijejak. Apa itu Ganesh Himal, Sagharmata, Annapurna, Cho Oyu, atau Langtang Ri semuanya tersedia lengkap.

Ketiga, kios-kios penjual kaos. Kios ini menjual 2 jenis kaos: cetak atau bordir. Bordir lebih dominan dan langsung ditisik di tempat.
Makanya di tiap toko kaos selalu tersedia 2-3 buah mesin jahit. Anda bisa memesan bordir macam apa pun. Biasanya sebuah tim seusai pulang trekking membuat kenangan dengan memesan desain bordir khusus.

Keempat, beberapa Khukuri house. Khukuri adalah pisau tradisional tentara Gurkha. Sayang kami tidak masuk ke salah satu pun, dan hanya melihat-lihat etalasenya dari luar. Kami hanya bisa mengira-ira, setiap pembeli tentu mendapat sertifikat atau semacam bukti bahwa Khukuri itu untuk souvenir, sama halnya saat saya membawa clurit berhias sepulang dari Sumenep.

Jarak Kathmandu - Pokhara sekitar 206 km. Kira-kira sama dengan Delhi - Agra yang kami lewati 2 pekan berselang. Di India untuk jarak sejauh itu perlu waktu tempuh sekitar 3,5 jam. Bagaimana dengan di Nepal? 3 sumber saya tanya dan jawabannya berbeda secara signifikan.
Resepsionist hotel bilang antara 7-8 jam. Officer bis Greenline (yang dianggap bis turis terbaik) memberi ancar-ancar 9-10 jam. Seorang agen persewaan mobil memberi perkiraan sangat optimis yakni 4-5 jam.
Alasannya? Karena Anda orang asing, katanya, dan tidak perlu berhenti di pos pemeriksaan. Mana dari ketiga perkiraan yang paling mendekati?

Kathmandu - Pokhara bisa dibagi beberapa ruas dengan titik-titik simpul kota-kota kecil seperti Naubise, Mugling, dan Abu Khaireni. Kathmandu - Naubise hanya 40-an kilo namun untuk menempuh sependek itu perlu 3 jam!
Di sini suasana perang terasa. Keluar dari Kathmandu ke arah barat kemacetan langsung menyergap. Maklum, inilah satu-satunya highway di bagian barat Kathmandu. Lolos dari hadangan macet, di exit point ke luar lembah sebuah pos pemeriksaan keamanan harus dilewati. Baik kendaraan masuk maupun ke luar harus diperiksa, kecuali yang mengangkut turis. Sekilas enak bahwa kami akan bisa melenggang. Benar bahwa di pos kami tak perlu apa-apa. Pengemudi memberi tahu tentara yang berjaga dan kami segera dipersilakan melenggang. Tapi untuk sampai ke pos itu mensyaratkan perjuangan nan melelahkan.

Pos itu terletak tepat di pucuk bukit. Baik yang masuk mau pun ke luar Kathmancu berarti mendaki. Pos dioperasikan bergilir. Jika jalur ke luar dibuka, jalur masuk ditutup. Begitu juga sebaliknya. Saat angkutan yang kami tumpangi antri, saya lihat jarak ke pos tak kurang dari 3km! Bayangkan 3 kilo, ini baru yang akan ke luar, semuanya terisi kendaraan. Lebih parah lagi, antrian berjalan sangat tidak tertib.
Lebar jalan hanya cukup untuk 2 kendaraan. Saat jalur ke luar Kathmandu dibuka, sisi kanan yang kosong langsung dipenuhi mobil-mobil (pribadi) yang tak sabar. Seperti halnya Indonesia, Nepal memberlakukan ‘jalur kiri’. Pada saat jalur masuk dibuka, yang berarti sisi kanan harus kosong untuk kendaraan yang turun, keributan pun tak terhindar.

Setelah pos dilewati dan tinggal menurun saya pikir sesuatunya akan mudah. Ternyata saling serobot pun berlangsung tak kalah serunya di jalur masuk Kathmandu. Celakanya, sopir-sopirnya kadang tak tahu persis stamina kendaraan yang dibawa. Beberapa kendaraan, umumnya truk-truk besar pengangkut barang, mogok ketika hendak menyiap. Mogoknya di jalur kanan alias mengeblok jalur yang bukan haknya karena jelas terlihat marka jalan bukan garis putus-putus! Akibatnya polisi harus mengendalikan arus di sekitar kendaraan yang mogok.

Sampai di Naubise saya menghela napas panjang dan membatin, "Berapa lagi pos harus dilewati?" Untungnya anak kami sepanjang 3 jam dipanggang terik lembah Kathmandu tidak rewel. Naubise sendiri hanya sekumpulan rumah-rumah beton tanpa ciri khas. Sekilas seperti pos perhentian truk-truk gandeng di Pantura Jawa.

Setelah Naubise ruas jalan memasuki panorama sangat menawan. Sejujurnya inilah salah satu panorama paling elok yang pernah saya lihat. Jalan terus menguntit sungai Trisuli yang ada di sisi kanan. Badan jalan sendiri berada di tubuh bukit yang diratakan. Ke bawah terjal, ke atas setali tiga uang. Mirip di ‘kebun kopi’ Tawaeli - Toboli, Sulawesi
Tengah atau ruas Atambua - Dili, Timor. Sekiranya dibuatkan peta
dengan kontur per 10 meter pun garis kontur akan berimpit. Jalan terus meliuk dan di beberapa tempat longsor tak terhindarkan. Ciri khas Nepal di ruas ini kian kentara. Bis-bis sarat penumpang melaju dari kedua arah. Setiap bis punya upper class alias duduk ramai-ramai di atap.
Angkutan singgah di sebuah warung makan, rehat dan mendinginkan mesin.
Kami gunakan kesempatan untuk mencari pengganjal perut, mengganti baju dan diapers anak, dan menikmati bentang alam menakjubkan.

Setelah perhentian di warung makan itu drainasi buatan mengawal sisi kiri jalan. Di jarak-jarak tertentu dibuat fasiltas pengambilan air.
Di sanalah bis-bis jarak jauh rehat dan para penumpangnya turun untuk meredakan panas dan dahaga. Rambu-rambu jalan jamaknyq nama-nama berakhiran ‘khola’. Apa itu nama desa? Khola, dalam Nepal, berati penggal sungai. Rambu-rambu itu menandai titik cabang atau pertemuan sungai. Kian dekat Mugling warung-warung persinggahan kian banyak.
Warung-warung itu persis sejawatnya di India. Agak di kejauhan berdiri berjajar kedai-kedai beratap seng atau ijuk mirip di pasar tradisional kita. Ruang antara deretan kedai dan jalan diisi meja-meja yang masing-masing dikitari 4 kursi. Seluruhnya berlantai tanah! Mungling sedikit lebih besar dari Naubise namun tanpa sesuatu yang istimewa. Di dekat pos pemeriksaan jalan berlobang besar dan membentuk kubangan.

Mugling - Abu Khaireni yang hanya 18 kilo melewati 3 titik penting.
Pertama, jembatan panjang yang sebagian aspalnya terkelupas sehingga setiap yang melintas mesti berjalan zig-zag. Kedua, sebuah power station yang dijaga tentara. Ketiga, perhentian cable car menuju kuil Manakamana.

Tepat di luar Abu Khaireni ada pertigaan menuju Gorkha. Gorkha adalah ibukota dinasti Shah sebelum Prtivi Narayan Shah menyatukan kerajaan-kerajaan kecil di lembah Kathmandu. Boleh jadi belum banyak yang tahu bahwa sumber income utama Nepal dari tentara Gorkha! Setelah itu tourisme di posisi kedua. Selepas Khaireni ada yang unik di pekarangan rumah-rumah petani di kiri-kanan jalan. Di samping rumah ada sekam yang digunakan untuk atap dan bentuknya dibuat menyerupai stupa.
Setelah mengamati berkali-kali baru jelas, ternyata itu atap atau peneduh untuk kandang kerbau. Lagi sebuah jembatan panjang di depan, selewat itu jalan berkejaran dengan sungai Seti. Makin dekat Pokhara jalan tambah buruk. Malah ada ruas makadam yang hanya berfungsi separuh jalan lantaran material untuk perbaikan ditumpuk di separuh jalan yang lain.

Akhirnya setelah 7,5 jam di jalan tibalah kami di Pokhara. 7,5 jam itu termasuk berhenti untuk mengganti ban bocor sesaat angkutan masuk kota.
Pokhara mengingatkan kami pada Maninjau. Hotel tempat kami menginap tepat di pingggir danau. Letak ini mencerminkan namanya: Lake View.
Denahnya berbentuk U dengan semua ruang menghadap ke taman yang ada di tengah. Annapurna dan Machchapuchare sore itu terbungkus kabut tebal.
Nun di seberang danau ada 7 lapis bukit yang kian jauh kian kabur tertelan kabut dan tak terusik mentari senja.

Ditulis: Pokhara, 17-April-2005
Diedit: Sangatta, 1-Juni-2005

Santoso

admin is
Email this author | All posts by admin

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

Copyright ©2004-2008 Indonesia Backpacker Community All rights reserved. All articles and Images may not be reproduced in any form without the express written permission of the copyright holder | All Information contained on this site may not be used for commercial purposes,
for more information please Contact
admin At indobackpacker.com | Powered by the WordPress

Creative Commons License
Except where otherwise noted content on this site is licensed under a
Creative Commons Licence.