Kinabalu Funtrekking

Custom Search

By Puguh • Jun 20th, 2005 • Category: Gunung / Mountain, Hiking

Setelah mengklaim batik sebagai asli Malaysia, sekarang mereka mengklaim memiliki puncak tertinggi di Asia Tenggara. Lalu berikutnya apa lagi? Mungkin Kris Dayanti dibilang aslinya orang Malaysia?

Ketika mulai sepi, kami naik juga ke Low’s peak. Indah juga pemandangan pagi ini. Kami bisa melihat Kota Kinabalu dari kejauhan. Pak Bungin dengan semangat menunjukkan kampungnya di jauh dibawah sana, dan diutara tampak lautan yang membatasi ujung utara Pulau Kalimantan. Secara pribadi, sebenarnya saya tidak suka naik ke puncak gunung. Karena pemandangan terindah sebuah puncak gunung adalah ketika dilihat dari….jauh. Begitu naik kepuncak, semua exitement jadi hilang. Tidak lagi ada rasa penasaran yang menggoda. Mungkin seperti rasanya pacaran terus menikah…he…he…he…. Some friend then argued hard; it was not the peak that you are after, but what you can see from the peak that matter. Iya deh….Percaya deh….

Staff penjualan tiket bus SJS yang melayani jalur Pontianak – Kuching menyodorkan kembali satu buku passport dan sambil berkata,“Bisa tolong passport barunya, Pak?”

Lho!? Ternyata passport yang terbawa oleh teman seperjalanan saya adalah passport lama yang telah habis masa berlakunya. Jadilah kami bermalam di Pontianak untuk menunggu pengiriman passport yang masih berlaku dari Jakarta ke Pontianak. Blessing in disguise, karena berarti saya bisa naik bis yang berangkat pukul 7.30 pagi keesokan harinya, sehingga dapat menikmati pemandangan antara Pontianak-Kuching. Sedangkan teman saya punya waktu untuk berputar-putar Pontianak dan melihat tugu lintang 0 derajat.
Ke Kuching

Jalan sepanjang Pontianak – Entikong relatif datar, dengan kondisi jalan yang mulus. Beberapa kali kami berpapasan jalan dengan kendaraan asal Malaysia, yang ditandai dari plat nomer registrasi yang berbeda dengan kendaraan Indonesia. Jalanan ini adalah ukuran gengsi Indonesia dimata Malaysia. Jangan sampai ada cerita penumpang kendaraan yang terbangun dari tidurnya, hanya karena kendaraannya sekarang melintas di jalanan Indonesia.

Sampai di Entikong sekitar pukul 16 dan kami turun dari bis untuk melalui pintu pemeriksaan imigrasi. Suasana di kedua sisi pintu imigrasi terasa sangat berbeda, dimana di Entikong terasa lebih meriah. Waktu saya turun dari bis, langsung disambut pedagang asong minuman, valuta asing, dan yang paling tidak kreatif; mengasongkan departure card. Untung staff bus SJS sudah membantu mengisikan lengkap departure card Indonesia dan arrival card Malaysia, jadi kami tinggal berjalan dari sekitar 50 meter antara pintu imigrasi Indonesia dan Malaysia.

Tebedu adalah pintu perbatasan di sisi Malaysia. Suara paling merdu di semua counter imigrasi adalah suara stempel dijatuhkan di passport dan arrival card.

“Jedug…jedug” Lega rasanya, walaupun petugas imigrasi dimana-mana jarang tersenyum, tapi suara dua stempel itu rasanya sudah cukup membuat hati saya tersenyum.
Setelah penumpang bus kembali terkumpul, kami melanjutkan perjalanan di atas aspal Malaysia. Jalanan antara Tebedu - Kuching cukup cantik. Dibeberapa tempat jalanan lurus dan terlihat dikejauhan naik turun bukit. Marka jalur jalan terawat dengan baik. Tak ada kampung dan perumahan di pinggir jalan. Rupanya kampung dan rumah warga dibangun agak kedalam. Plang-plang dengan tulisan “KPG…….” di depan jalan kecil adalah penunjuk kearah kampung-kampung tersebut. Mungkin karena kebanyakan warga memiliki kendaraan sendiri, sehingga tinggal agak jauh dari jalan utama bukanlah masalah besar.

Memasuki Kota Serian jalanan mulai lebih padat. Sampai di Terminal Bis Kuching, saya naik taksi untuk mencapai B&B Inn di Jalan Tabuan. Ternyata B&B Inn cuma penginapan di Ruko berlantai tiga, yang lantai dasarnya dijadikan praktek dokter gigi kosmetik. Cuma? Tunggu dulu, setelah memperhatikan agak lama, ternyata lantai 2 dan 3 yang dipergunakan sebagai penginapan dibuat dengan standard bangunan yang cukup baik. Tersedia fire hose, alat pemadam kebakaran portable di beberapa pojok, dan pintu kamar yang semuanya fire retardant. Ah, serius banget sih Malaysia ini.

Kuching ternyata jauh lebih indah dari yang saya bayangkan. Kotanya tidak terlalu besar, bangunan tinggi tidak terlalu banyak, tetapi bersih dan tertata dengan sangat baik. Bangunan tua masih banyak yang terawat dengan baik. Kuil Tua Pek Kong terletak di pertigaan besar, dimana dibelakangnya tampak bangunan moderen tinggi menjulang. Dan yang paling membuat iri hati adalah waterfront ditepi Sungai Sarawak yang ditata dengan baik, sehingga memberikan ruang publik terbuka bagi masyarakatnya. Dari Riverbank Suite sampai di Court House, warga Kuching dimanja oleh pemerintahnya dengan promenade yang cantik. Apalagi ketika matahari mulai tenggelam, karena Sungai Serawak yang melintang dari timur ke barat cahaya matahari yang tenggelam sering terpantul di air sungai. Beberapa tim perahu naga terlihat berlatih dengan bersemangat. Selain itu ada dua panggung terbuka di waterfront, satu dengan tata cahaya cukup baik, dan satu lagi berupa tenda permanent. Dimana pada bulan-bulan ini, sedang diadakan pembacaan puisi setiap malam sabtu dan minggu.

Beberapa kiosk pedagang minuman tersedia sepanjang waterfront ini, tanpa mengganggu kenyamanan pengunjung taman yang ingin menikmati keteduhan pohon. Ada juga pedagangan makanan yang juga menyediakan kursi makan persis dipinggir pagar. Saya langsung teringat bayangan akan gambaran kota2 di Eropa. Bukan sebuah kota yang berjarak hanya beberapa jam naik bis dari Indonesia.

Walaupun serba indah dan tertata, waterfront ini tidak lalu menyingkirkan kepentingan warga Kuching yang masih menggunakan transportasi sungai. Terdapat dua pelabuhan untuk perahu yang menyeberangkan warga ke utara sisi Sungai Sarawak. Menarik juga mendengar bahwa kampung-kampung diseberang Sungai Sarawak ini memiliki nama yang familiar di kuping, seperti Kampung Gersik, Kampung Surabaya, dan Kampong Semarang.

Salah satu tema wisata yang ditampilkan Kuching adalah History walk. Pada tempat-tempat dimana terjadi peristiwa bersejarah menyangkut perkembangan Kuching di buatkan prasasti dari logam dan diberi nomer urut. Sehingga pengunjung Kuching yang ingin tahu sejarah Kuching sambil berkeliling kota, dapat mengikuti jejak prastasi ini.

Di waterfront juga terdapat Musium Sejarah Tionghoa. Isi museum ini sendiri tidak terlalu istimewa. Ukuran ruang dalamnya sekitar 25×25 meter, dengan dua barongsai, alat musik dan barang keseharian yang biasa dipergunakan oleh warga peranakan Tionghoa. Yang menarik adalah penjelasan bahwa suku-suku Tionghoa yang datang ke Kuching pada masa lalu memiliki pembagian profesi sesuai daerah asalnya. Mungkin museum ini memang tidak bermaksud untuk memberi penjelasan rinci tentang sejarah keturunan Tionghoa di Kuching, tapi lebih merupakan pengakuan terhadap eksistensi keturunan Tionghoa yang sekarang tinggal di Kuching.
Ke Kinabalu
Sebenarnya ada dua alternatif untuk mencapai Kota Kinabalu(KK) dari Kuching; terbang langsung atau menggunakan bis ke Miri baru kemudian terbang ke KK. Karena pertimbangan bahwa bis menempuh perjalanan malam hari sehingga tidak ada pemandangan yang dilihat dan total penghematan ongkos tiket yang hanya RM 30 sebelum dikurangi taksi dan lain-lain, maka kami memutuskan untuk terbang langsung dari Kuching ke KK

Di KK kami menginap di daerah Jalan Gaya yang ternyata merupakan daerah ruko. Umumnya backpackers lodging di daerah ini adalah toko 2 lantai dan penginapannya ada di lantai 2. Lantai 1 biasanya digunakan untuk toko atau food court. Taksi kami menurunkan kami di ujung Jalan Gaya, persis di sebelah penginapan Planet Kinabalu. Setelah mengetahui harganya lebih murah dari penginapan yang semula kami rencanakan untuk ditinggali, kami langsung memutuskan untuk tinggal dipenginapan yang sederhana ini. Sederhana? Tunggu dulu. Para tamu dipenginapan ini tidak diberikan anak kunci logam untuk masuk kedalam pintu penginapan. Tetapi menggunakan smart card yang tinggal di tempelkan pada sebuah panel di pintu untuk membuka pintu. Di jalan gaya tidak perlu takut kekurangan makanan. Persis di depan penginapan kami, ada Warung Banu yang menjual masakan muslim dan buka 24 jam.

Beberapa hari di Malaysia, tanpa sadar kami menjadi fans berat Chicken Rice. Dan kami berkesimpulan bahwa Chicken Rice walaupun kelihatan sangat sederhana, adalah masakan yang cukup rumit. Kami tidak pernah menemukan Chiken Rice dengan rasa yang sama. Hal ini mengingatkan kami pada film JIFFEST asal Singapura berjudul “Chicken Rice War”, yang bercerita tentang persaingan dua keluarga penjual Chicken Rice yang saling berseteru namun ternyata anak mereka pergi ke sekolah yang sama dan saling jatuh cinta. Wajar kalau resep Chicken Rice masing-masing keluarga adalah rahasia yang hanya diberikan secara turun menurun.

Ke Gunung Kinabalu

Prosedur normal pendakian Gunung Kinabalu adalah melakukan booking penginapan di Laban Rata melalui www.suterasanctuarylodges.com, yang secara otomatis memberikan jatah kuota untuk ijin pendakian. Tetapi pertanyaan kami melalui email tidak pernah berbalas, dan reservasi melalui web selalu penuh. Sebetulnya kami bisa ke Kantor Sutera Sanctuary Lodge di Lot 15 Ground Floor Wisma Sabah di KK, tetapi kami memutuskan untuk langsung pasang badan. Kami langsung berangkat ke Pintu Taman Negara Gunung Kinabalu. Kami menggunakan Bis Tung–Ma yang sebetulnya melayani rute KK – Sandakan, tetapi penumpang bisa turun di Pintu Taman Negara untuk RM 10.

Kami tiba pukul 11 di Head Quarter. Jawaban yang tegas, bahwa kuota pendakian sudah penuh sampai akhir Juni kami terima dari Martha petugas bagian reception. “But Sir…..”(I loved this phrase)” …..today there’s cancellation for two people. If the guide is now available and you want to start climbing today, we can issue a permit”

Rupanya para pendaki lepas seperti kami, bersaing jatah kuota dengan penyelenggara pendakian beregu. Pada akhir Mei ini, kuota pendakian sampai akhir Juni sudah penuh terisi. Bagusnya adalah, para organizer ini juga hampir pasti tidak bisa menggunakan semua jatah kuotanya. Jatah inilah yang kemudian bisa diambil oleh pendaki lepas seperti kami. Seorang rekan pendaki dari Kuala Lumpur menyatakan, ia berhasil mendapat cancellation kuota booking karena rajin menelpon ke Kantor Taman Negara, sehingga akhirnya ia berhasil mendapat konfirmasi ijin pendakian sebelum berangkat ke KK.

Karena hari sudah terlalu siang dan kami belum makan siang, kami memutuskan untuk melepaskan cancellation tadi dan mengadu keberuntungan untuk cancellation besok pagi. Biasanya cancellation ini diketahui pukul 9, ketika para pendaki sudah berangkat semua. Keputusan menginap ini juga memberikan kesempatan untuk melihat-lihat Visitor Center Hall, dimana diputar video tentang Taman Nasional pada pk 14.00 dan pameran tentang kekayaan flora-fauna Sarawak.

Resiko terburuk jika tidak mendapatkan pembatalan pendakian pada hari yang sama adalah menginap di dormitory untuk RM 14 per-orang per-malam. Di dormitory disediakan perlengkapan masak sederhana termasuk kompor gas. Jadi jika berniat berhemat, dapat membawa bahan makanan untuk dimasak sendiri. Á la carte restorant terletak di visitor center. Tetapi kalo mau menikmati steam boat, ada juga rumah makan “you can eat all” untuk RM 30. Mohon dicatat tidak ada kesalahan tulis untuk peletakan kata “all”. Yang umumnya kita dengar di indonesia memang “All you can eat”. Tapi di malaysia mereka memindahkan “All” ke bagian belakang.

Walaupun dormitory, perawatan bangunan dan fasilitasnya sangat baik. Seprai dan selimut yang bersih, dan kaca jendela nako yang selalu di lap setiap hari. Tidak kelihatan sama sekali corat-coret “sifulanpala”. Teman kamar kami yang paling dahulu datang adalah kakak beradik gadis asal Inggris. Mereka liburan 2 minggu dan mengkhususkan diri menjelajah Kalimantan Utara. Tekad mereka lebih mengerikan, karena tidak dapat kuota untuk menginap di Laban Rata, mereka akan bikin perjalanan satu hari sampai ke puncak untuk terus turun lagi. Sebetulnya kami berniat menasehati,”Jangan ngoyo, Nduk…” Mungkin akan dijawab,”Kalo ngak ngoyo, how come British ruled the waves, Mas?!” Tak lama kemudian empat orang pendaki yang baru turun langsung masuk kamar dan tidur seperti bayi.

Keesokan pagi setelah sarapan di luar Taman Negara, kami mendapat kabar adanya 2 orang yang membatalkan pendakian sehingga kami dapat melanjutkan proses pengurusan ijin pendakian. Permit, insurance, dan guide kami bayar di satu loket. Kemudian shuttle bus yang membawa kami ke Timpohon Gate kami bayar di kantor operasional.
Kami mendapat kalung kartu identitas yang bertuliskan nama kami dan dipertemukan dengan guide kami; Pak Bungin, orang Kadazandusun, warga Kampung Ranau yang sudah 20 tahun malang melintang di G. Kinabalu. Setelah kami menitipkan sebagian barang di deposit counter, kami naik kendaraan ke Timpohon Gate.

Setiap memulai acara trekking seperti ini, selalu ada rasa takut bahwa dengkul saya akan kembali berulah. Seumur hidup sudah dua kali tempurung kiri dengkul saya dislokasi, dan biasanya butuh waktu 2 bulan untuk kembali ke kapasitas normalnya. Tapi pada akhirnya saya memutuskan bahwa tubuh ada untuk melayani jiwa. Jadi ketika jiwa saya ingin naik gunung, dengkul saya harus siap. Tetapi saya juga tidak mau konyol, untuk aktifitas jalan jauh seperti ini, apalagi yang menanjak saya selalu membawa pelindung dengkul, yang sewaktu-waktu bisa dipakai dan membantu memastikan tempurung kaki saya tetap ditempatnya.

Tidak banyak yang bisa diceritakan tentang jalur menuju puncak. Membutuhkan waktu hampir 7 jam berjalan kaki melalui jalur jalan tanah dan batu yang terawat dengan baik untuk mencapai Laban Rata, diketinggian sekitar 3000 meter dari permukaan laut, dimana kita akan bermalam sebelum melakukan summit attack keesokan paginya. Dibanyak bagian yang menanjak, pengelola menyediakan tangga kayu. Hampir setiap kilometer disediakan pondok untuk berteduh dengan air dan kloset. Yang hampir lepas dari perhatian adalah diatap setiap pondok disediakan stretcher untuk keadaan darurat. Selama perjalanan kami selalu merasa bahwa kami adalah orang pertama yang mendaki G. Kinabalu. Karena disepanjang jalan, hampir tidak tampak sepotong sampah pun yang terserak.

Yang menarik adalah orang-orang yang kami temui sepanjang perjalanan. Dimana kami sempat bertemu dengan keluarga muda asal Kuala Lumpur yang mengajak anak mereka berusia 1,5 tahun didalam baby carrier. Si anak dan ibunya berencana untuk hanya sampai Laban Rata, tapi si ayah dan anggota tim lainnya berniat sampai ke puncak. Dan ketika beristirahat di salah satu pondok, kami bertemu dengan warga jepang yang berusia sudah 70 tahun yang sedang dalam perjalanan turun. Saya langsung berdiri dengan tangan sikap memberi hormat. Si bapak hanya tertawa kecil. Pertemuan ini meninggalkan pertanyaan kecil kepada diri sendiri. What would I be doing if I were alive at 70 years old? Just sitting and nagging about? I hope not.

Mungkin juga filosofi pengelolaan gunung yang berbeda dengan umumnya gunung di Indonesia. Seperti sebuah low cost airlines, pengelola G. Kinabalu sepertinya ingin menerapkan motto “Now everyone can climb the mountain”. That the risk exists, it’s acknowledged and could be managed. So then mountain climbing is not something extraordinary, that only physically tough people can do it. Everyone has right to enjoying the Beauty of Nature.

Sepanjang perjalanan kami juga sering berpapasan dan menyalip para porter, yang umumnya adalah orang Kadazandusun. Mereka biasa membawa beban sampai 30 kg sekali angkat. Untuk barang turis biasanya dibatasi hanya 10 kg setiap porter. Tetapi untuk bahan logistic Kabin Laban Rata, maka yang diangkut bisa mencapai 30 kg. Gambaran yang paling spektakuler adalah ketika mereka mendaki dengan tabung gas elpiji di punggung mereka.

Laban Rata adalah kejutan besar. Tujuh jam berjalan kaki melintas hutan tropis, lebih 3000 meter dari permukaan laut, saya bisa duduk di kabin yang hangat dengan kaca jendela kearah lembah sambil menyendok Sup Tom Yam dan menghirup coklat hangat. Teman-teman saya yang puritan pasti menentang keras ide seperti ini.

Sore seperti ini restorant ini ramai dengan pendaki yang baru tiba di kabin. Pendaki yang berasal dari berbagai negara, membuat cabin dipenuhi bahasa yang bercampur-campur. Petugas kabin yang umumnya berusia muda, tampak sigap meladeni pesanan makanan pendaki atau mengarahkan pendaki ke kamar masing-masing. Mereka melayani tamu tanpa harus menjadi pelayan. Mereka umumnya bertugas di Laban Rata selama 1 bulan, untuk kemudian mendapat istirahat selama 1 minggu di rumah. Toko kecil juga tersedia dan menjual keperluan pendaki seperti energy bar dan poncho.

Walaupun di gunung, semua uang yang kami keluarkan accountable, karena untuk semua transaksi semenjak di Pintu Taman Nasional selalu dilengkapi dengan Tanda Terima. Hanya untuk pembelian air panas senilai RM .6, yang tidak dilengkapi tanda terima.

Menjelang tidur sesekali terasa gejala mountain sickness. Perut mual karena sebab yang tidak jelas. Namun kami merasa tidak jauh dari rumah. Karena diluar ruangan, para petugas kabin yang belum tidur, memutar “Ada apa dengan mu”nya Peter Pan. Artis Indonesia memang ngak ada matinya di Malaysia.

Pukul 2 pagi kami bangun dan mulai sarapan. Sialnya tiba-tiba alam memanggil. Kamarmandi di kabin ini sebetulnya sangat memadai, namun dudukan klosetnya itu lho! Duingiiin!!! Saya jadi ingat Roald Dahl dibukunya Boys, ketika pada suatu musim dingin dia disuruh oleh seniornya di Boarding School untuk pergi ke kamar mandi dan duduk di atas kloset supaya dudukan kloset hangat, sebelum seniornya melaksanakan buang hajat. Beginilah rasanya duduk diatas dudukan kloset yang duingin.

Pukul 3 kami mulai mendaki, dan ternyata kami berada dibarisan paling belakang. Lampu senter didepan kami mengular sepanjang jalur pendakian. Beberapa kali kami terhenti karena kemacetan di jalur naik. Pendaki dari eropa yang berangkat dibelakang kami, dengan mudahnya menyusul barisan. Agak mengesalkan memang.

Masuk daerah puncak, kami harus melewati Check Point terakhir; Sayat-sayat Hut. Print out yang berisi nama guide dan peserta dalam kelompok sudah tiba di check point ini. Petugas akan mencatat waktu kami tiba di pos ini dan mengecek kalung kami satu persatu. Diatas check point ini medan adalah berupa lapangan batu terbuka tanpa pohon. Terkadang angin terdengar bersiul ditelinga saya. Dibeberapa tempat, berpeganggan pada tali harus dilakukan karena jalana terlalu curam. Tetapi ditempat lain tali lebih banyak digunakan sebagai penunjuk arah perjalanan.
Matahari mulai terbit sebelum kami sampai di Low’s Peak. Dari kejauhan tampak Low’s Peak penuh dengan orang yang ingin berfoto di “The Highest Peak in South East Asia”. What a smart way to phrase it! Kalo mereka dicecar tentang keberadaan Puncak Jaya di Papua yang bersalju, yang lebih tinggi dari G. Kinabalu, mereka akan menjawab, bahwa yang dimaksud adalah “The Highest Peak in South East Asia Plate”-lempeng Asia Tenggara. Mereka tidak memasukkan Puncak Jaya karena menganggap bahwa pengunungan Jayawijaya terletak di Lempeng Pasifik.

Setelah mengklaim batik sebagai asli Malaysia, sekarang mereka mengklaim memiliki puncak tertinggi di Asia Tenggara. Lalu berikutnya apa lagi? Mungkin Kris Dayanti dibilang aslinya orang Malaysia?

Ketika mulai sepi, kami naik juga ke Low’s peak. Indah juga pemandangan pagi ini. Kami bisa melihat Kota Kinabalu dari kejauhan. Pak Bungin dengan semangat menunjukkan kampungnya di jauh dibawah sana, dan diutara tampak lautan yang membatasi ujung utara Pulau Kalimantan. Secara pribadi, sebenarnya saya tidak suka naik ke puncak gunung. Karena pemandangan terindah sebuah puncak gunung adalah ketika dilihat dari….jauh. Begitu naik kepuncak, semua exitement jadi hilang. Tidak lagi ada rasa penasaran yang menggoda. Mungkin seperti rasanya pacaran terus menikah…he…he…he…. Some friend then argued hard; it was not the peak that you are after, but what you can see from the peak that matter. Iya deh….Percaya deh….

Well…..now I am standing at the highest point in entire Borneo!
But that’s it. Because the real highest peak of Southeast Asia, is still in my own backyard.

Karena banyak memotret kami termasuk turun paling akhir dari puncak. Guide kami sudah mulai meminta kami cepat turun. Karena Sayat-sayat check point akan mulai bereaksi jika diketahui ada pendaki yang tidak turun untuk waktu yang terlalu lama, apalagi kalo cuaca memburuk.

Pukul 11 siang kami tiba kembali di Laban Rata ditengah hujan gerimis. Ketika saya menghirup minuman coklat hangat, kabut di jendela sudah menutupi semua pandangan kearah lembah, suara air hujan yang jatuh diatap juga terdengar tambah ramai. Sebetulnya sejak kemarin kami sudah memutuskan untuk bermalam satu malam lagi di Laban Rata. Tetapi kami sempat ragu karena semua tempat tidur di ruangan dengan pemanas sudah penuh terpesan dan hanya tersedia tempat tidur di ruangan tanpa pemanas. Sekali lagi kami beruntung karena ada pembatalan pemesanan ruangan berpemanas, sehingga kami bisa tidur dengan nyenyak. Maklum pendaki hedon.

Keesokan harinya perjalanan turun kami mulai sekitar pukul 9. Cuaca masih cerah dan belum berawan. Tiga jam kami lalui untuk sampai kembali ke Timpohon Gate. Di perjalanan kami bertemu dengan pekerja yang sedang memasang kabel listrik tiga fasa. Rupanya pasokan energi listrik untuk Kabin Laban Rata yang semula menggunakan generator set, segera akan digantikan dengan listrik dari generator didekat Kantor Taman Nasional. Saya selalu bertanya-tanya, bagaimana dampak lingkungan yang ditimbulkan akibat aktifitas pendakian di Taman Negara G. Kinabalu ini. Tetapi saya bukan seorang ahli etika lingkungan yang bisa menjawab pertanyaan tersebut. Yang masuk di logika sederhana saya, dengan pengelolaan G. Kinabalu yang sedemikian baik, banyak pengunjung yang datang dan mendaki. Sehingga ratusan Pak Bungin, porter tamu, porter logistik Laban Rata bisa hidup dari kedatangan turis-turis tersebut. Sehingga pada akhirnya kerusakan lingkungan yang ditimbulkan akibat aktifitas wisata bisa lebih kecil daripada kalo ratusan Pak Bungin, porter tamu, dan porter logistik harus memenuhi kebutuhan hidupnya secara langsung dari Taman Negara melalui pembukaan lahan atau penjarahan hasil hutan.

Yang menggelitik sampai sekarang, membayangkan salah satu gunung di Indonesia bisa di kelola dengan cantik, secantik pemandangannya. Rinjani mungkin?

Jakarta – Pontianak Adam Air Rp 375.000/orang
Supadio Airport – SJS Taxy Rp 30.000/trip
Pontianak - Kuching Bus Super Ex: Rp 150.000
Ex: Rp 100.000
Berangkat 7.30 dan 21.00
Opsi: Damri, SJS (Jl. Sisingamangaraja 155, tel 0561, 734626 – 739544 – 765651). Kalo supir taksi bandara nawarin yang lain, bilang aja udah dipesenin temen, tinggal ambil tiket. Karena waktu kami cek, perusahaan bis yang ditawarkan supir taksi, bisnya lebih jelek.
Terminal Bis Kuching – Jalan Tabuan Taxy (turn) RM 15
B&B Inn Jalan Tabuan. Next to Borneo Hotel
Private room:
RM 24/orang
RM 32/2 orang
Dormitory Room:
RM 16
(Bayar dimuka perhari, kalo bisa minta receipt atao saksikan pembayaran kita dicatat di buku mereka. Kemarin sempet ada kekacauan karena pergantian penjaga)
Jalan Tabuan – Kuching Airport Taxy (turn) RM 15
Kuching – Kota Kinabalu MAS RM 250
KK Airport – Jalan Gaya Taxy(turn) RM 13.6
KK – Pintu Taman Nasional Bus/Minibus RM 10
Penginapan di Pintu Taman Nasional Dormitory: RM 14 / orang
(meals: Steamboat you can eat all RM 30, A la Carte di Visitor Center, Rumah Makan “Bayu Kinabalu”, diseberang jalan depan gapura masuk)
Climbing Fee RM 100 / orang
Insurance RM 7 / 2 orang
Guide RM 70 / 2 days
Pintu taman nasional – Timpohon Gate RM 25 / 2 orang
Laban Rata Room (heater) RM 34
Room (non-heater) RM 17
Meals @ Laban Rata Hot Soup : RM 10
Fried Rice : RM 22
Hot Drinks: RM 5
Buffet: RM17(Breakfast) - RM22(Dinner)
Hot water: RM .60
Additional Day for Guide RM 40/day
Penginapan di KK Planet Kinabalu
Jl. Gaya #98 & 100
088 319 168
RM 18/person

The Trekkerslodge
www.thetrekkerslodge.com

North Borneo Cabin
Jl. Gaya (Sederetan Planet Kinabalu)
RM 20/person

Borneo Backpackers
www.borneobackpackers.com
#24 lorong dewan – diatas museum kopitiam, deket sama Atkinson Tower dan Markas Polisi.
088 234 009
starting RM 25/person
(paling ok secara fisik, konon nyediain mesin cuci gratis)

KK - Airport Taxy (turn) RM 15

Tagged as: , ,

Puguh is
Email this author | All posts by Puguh

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

Copyright ©2004-2008 Indonesia Backpacker Community All rights reserved. All articles and Images may not be reproduced in any form without the express written permission of the copyright holder | All Information contained on this site may not be used for commercial purposes,
for more information please Contact
admin At indobackpacker.com | Powered by the WordPress

Creative Commons License
Except where otherwise noted content on this site is licensed under a
Creative Commons Licence.