Toraja Mine!
By admin • Jun 17th, 2005 • Category: Petualangan
Saat memandang ke langit, serta merta yang muncul di ingatan
saya adalah pelajaran SD tentang jenis-jenis awan. Awan cirrus, stratus dan cumulus! Dan langit yang
amat biru didominasi oleh awan cumulus, awan-awan putih yang menyerupai
bola-bola kapas. Sungguh, saya tidak ingat kapan terakhir kalinya saya melihat
langit yang sebiru ini. Serupa dengan
lukisan krayon anak saya. Langit biru, awan putih, sawah menghijau, kerbau di
sawah, rumah-rumah panggung di kejauhan di sisi kanan saya. Sementara di sisi
kiri, laut biru berkilau ditimpa cahaya matahari sore, perahu-perahu nelayan,
sesekali tampak orang menjemur jaring. Aiihh, perjalanan ini begitu
menyenangkan mata dan batin.
Matahari yang selalu setia mengejar cakrawala, akhirnya
menghilang, meninggalkan kegelapan. Tak seperti berkendara di Pulau Jawa yang
riuh, mengendarai mobil dalam perjalanan ke Toraja
JUM’AT
Tepat pukul 14.30 Jumat siang yang terik kendaraan kami meninggalkan hotel menuju
Toraja. Pak Nuar, pengemudi mobil menjelaskan dalam bahasa Indonesia yang
kental dengan aksen Bugis bahwa perjalanan dari Makasar ke Toraja akan ditempuh
dalam waktu 7-8 jam. Hmm… not too bad, pikir saya sembari mengeluarkan buku
bacaan. Buku “No Regrets” tulisan Wimar Witoelar ini sudah lebih dari seminggu berada di tas saya
dan tak tersentuh. Sesekali saya melempar pandang keluar jendela dan serta
merta saya letakkan buku. Pemandangan di luar begitu indah untuk dilewatkan
begitu saja.
Saat memandang ke langit, serta merta yang muncul di ingatan
saya adalah pelajaran SD tentang jenis-jenis awan. Awan cirrus, stratus dan cumulus! Dan langit yang
amat biru didominasi oleh awan cumulus, awan-awan putih yang menyerupai
bola-bola kapas. Sungguh, saya tidak ingat kapan terakhir kalinya saya melihat
langit yang sebiru ini. Serupa dengan
lukisan krayon anak saya. Langit biru, awan putih, sawah menghijau, kerbau di
sawah, rumah-rumah panggung di kejauhan di sisi kanan saya. Sementara di sisi
kiri, laut biru berkilau ditimpa cahaya matahari sore, perahu-perahu nelayan,
sesekali tampak orang menjemur jaring. Aiihh, perjalanan ini begitu
menyenangkan mata dan batin.
Matahari yang selalu setia mengejar cakrawala, akhirnya
menghilang, meninggalkan kegelapan. Tak seperti berkendara di Pulau Jawa yang
riuh, mengendarai mobil dalam perjalanan ke Toraja layaknya perjalanan ke
negeri sepi yang gulita. Kadang beberapa lama kami tidak berpapasan dengan
kendaraan lain. Jarang sekali saya melihat rumah-rumah penduduk, alih-alih
warung makan atau tukang asongan.
Setiap sebentar saya bertanya kepada Pak Nuar, kapan tiba di
Toraja dan dengan sabar dia selalu menjawab “kira-kira satu jam lagi”. Tapi
“kira-kira satu jam lagi” terasa sangat lama.
Maros ……………………….
Awan putih di langit yang biru, rumah-rumah panggung di sisi
kiri jalan. Sinar matahari terasa panas menembus kaca jendela, meninggalkan
silau di mata. Langit begitu biru.
New blood joins this earth
and quickly he’s subdued
through constant pain disgrace
a young boy learns their rules
Pangkajene …………………
Mengejar matahari terbenam. Sinarnya keemasan membakar, dari
sela-sela rumah, pepohonan, masjid, pertokoan. Warung-warung penjual dange bertebaran di sisi kanan kiri jalan. Suara
adzan magrib menembus gendang telinga.
with time the child draws in
this whipping boy done wrong
deprived of all his thoughts
the young man struggles on and on he’s known
a vow unto his own
that never from this day
his will they’ll take away
Barru ………………………..
Matahari sempurna meninggalkan siang ketika kami tiba.
Begitu pekat, begitu sunyi. Tak banyak orang lalu lalang di jalan yang kami
lalui di
kecil ini. Kendaraan melaju kencang bagai mengejar kekasih. Yang sembunyi entah
dimana.
what I’ve felt
what I’ve known
never shined through in what I’ve shown
never be
never see
won’t see what might have been
Pare-pare …………………………………………………
Sebuah papan nama penunjuk arah tampak sekelebat.
malam dan
sudah tampak mati.
what I’ve felt
what I’ve known
never shined through in what I’ve shown
never be
never see
won’t see what might have been
Sidrap ………………………….
Gelap sempurna membungkus
Gonggongan anjing bersahutan. Menyalak galak ketika saya turun di sebuah warung
kecil untuk membeli gula-gula. Seorang ibu muda melayani dengan mata mengantuk.
what I’ve felt
what I’ve known
never shined through in what I’ve shown
never free
never me
so I dub thee unforgiven
Enrekang …………………………
Jalan berkelok-kelok, udara dingin menyergap. Sekali dua
mobil berpapasan dengan bus-bus besar bertulisan TORAJA. Udara dingin, pekat
malam, jalan yang berkelok-kelok membuat saya tetap terjaga.
they dedicate their lives
to running all of his
he tries to please them all
this bitter man he is
throughout his life the same
he’s battled constantly
this fight he cannot win
a tired man they see no longer cares
the old man then prepares
to die regretfully
that old man here is me
Makale ………………….
Sebuah gapura besar bertuliskan TORAJA menghadang di tengah
jalan. Saya menegakkan punggung dan meluruskan kaki. Di kanan kiri jalan tampak
beberapa tempat yang diterangi lampu-lampu. Akhirnya ada juga sinar kehidupan. Mobil
terus melaju dan kegelapan kembali menyergap. Ternyata Rantepao masih jauh.
what I’ve felt
what I’ve known
never shined through in what I’ve shown
never be
never see
won’t see what might have been
Rantepao …………………..
Papan bertulis Selamat datang di Novotel Toraja tampak jelas
tersorot lampu mobil. Mobil masih melaju kencang membelah malam.
what I’ve felt
what I’ve known
never shined through in what I’ve shown
never be
never see
won’t see what might have been
22.48.
Mobil bergerak pelahan memasuki pelataran Hotel Misialiani.
Hotel dengan kapasitas sekitar 40 kamar ini tampak lengang. Di papan nama hanya
tampak 4 nama pengunjung. Deretan bangunan lumbung khas Toraja tampak dari lobi hotel yang luas ini. Sejenis
wedang jahe dihidangkan terasa amat membantu mengusir dingin yang lumayan
menggigit sesaat setelah keluar dari mobil. Welcome to Toraja, Land of Heavenly
King.
what I’ve felt
what I’ve known
never shined through in what I’ve shown
never free
never me
so I dub thee unforgiven
you labeled me
I’ll label you
so I dub thee unforgiven
SABTU
Ke’te Kesu
Usai sarapan lengkap dengan jus terong merah yang enak
sekali dan kopi toraja yang sangat enak, kami bergegas menuju Ke’te’ Kesu. Nenny teman baru yang menemani
kami menjelaskan bahwa akan ada upacara pernikahan pada tanggal 25. Banyak
kesibukan yang terjadi di sini. Makam keluarga di Ke’te’ Kesu terletak di
perbukitan di bagian belakang. Kami menuju kesana melewati tangga-tangga yang
licin dan rimbun. Konon, makam orang Toraja dibedakan menurut 3 jenis, yaitu,
makam untuk anak-anak, makam untuk orang yang meninggal dengan wajar (sakit,
karena usia tua), dan makam untuk orang yang meninggal secara tidak wajar
(bunuh diri).
Lili Kira
Selanjutnya Nenny dan Pak Pur membawa kami ke Nenek Gandeng
di daerah Lili Kira. Sungai Saddang megalir
berliku sepanjang jalan menuju ke tempat ini.
Air yang jernih mengalir di sela-sela bebatuan sungguh menerbitkan
hasrat untuk sekedar membasahi wajah. Saya meratapi kenyataan yang memaksa saya
untuk hidup dan tinggal di
Tiba di Nenek Gandeng saya terperangah melihah Tongkonan yang berukuran besar
di tempat ini. Sungguh luar biasa pemandangan di tempat ini. Jembatan yang
membelah Sungai Saddang tampak kokoh, sementara hamparan padi yang menguning
bertemu dengan langit biru di ujung cakrawala.
Sekali lagi saya meratapi kenyataan yang memaksa saya untuk hidup dan
tinggal di
Hampir pukul 1 siang, kami memutuskan untuk istirahat makan.
Hidangan ikan mas bakar dan goreng, sambal kecap dan tumis kangkung memuaskan
hasrat yang mulia naga di perut saya. Satu hal yang agak merepotkan adalah
sulit sekali mencari batu es di tempat ini. Akan tetapi, siapa yang butuh batu
es di tempat sesejuk ini? Satu pertanyaan yang mengganggu terjawab ketika saya
melihat bendera putih yang terpasang di beberapa rumah dalam perjalanan. Konon,
bendera putih adalah pertanda bahwa di dalam rumah tersebut terdapat jenazah
yag belum dimakamkan karena berbagai alasan. Syahdan, jenazah tersebut dirawat
sebagaimana layaknya manusia hidup, mereka juga “diberi” makan dan diperlakukan
sebagai orang sakit, bukan sebagai orang yang sudah meninggal.
Londa
Usai mengisi perut kami meluncur ke Londa. Memasuki goa yang
banyak terdapat di Londa saya disergap oleh perasaan asing yang begitu menyengat.
Suasana sakral dan …hmm.., asing, hanya kata-kata itu yang bias menggambarkan
suasana di dalam goa ini. Tengkorak dan tulang belulang berserakan di berbagai
tempat. Juga peti mati dan rangkaian
bunga-bunga kering. Diterangi lampu petromaks yang banyak disewakan oleh
penduduk lokal kami menyusuri kedalaman goa. Suasana amat hening di dalam sini.
Melihat tulang belulang yang berserakan di dalam goa, saya membatin. Di sinilah
akhir perjalanan itu.
Hampir 2 jam kami berada di Londa sebelum akhirnya memutuskan
untuk menuju ke Kambira di Sangalla. Kambira adalah tempat pemakaman bagi
anak-anak. Jenazah anak-anak tersebut dimasukkan ke dalam batang pohon yang
menjulang tinggi sebesar 2 pelukan orang dewasa. Konon getah pohon yang
berwarna putih dianggap sebagai pengganti ASI (air susu ibu). Pohon-pohon bambu
yang mengelilingi area pemakaman ini begitu rimbun tak tertembus sinar
matahari. Kami tidak menghabiskan banyak waktu di sini.
Lemo
Hari menjelang petang ketika kami tiba di Rantelemo tempat
di mana orang-orang memahat cadas untuk sebagai tempat pemakaman. Di antara
sawah yang terbentang, di latar belakangi pegunungan batu yang tampak kelabu
dari kejauhan, tempat ini terasa begitu misterius. Patung-patung yang merupakan
simbol orang-orang yang dimakamkan tampak rapi berjejer. Tampak nyata dari
kejauhan. Menimbulkan perasaan ngeri yang hadir sesaat lalu berlalu setelah
menyadari bahwa itu hanyalah patung belaka.
Kembali ke Rantepao, saat gelap menyelimuti
Awan yang biru permai bagai dicat kelabu tua. Saya menyempatkan diri berfoto di
dalam Sitor (taksi motor) yang lewat di depan hotel. Haa, bertambah juga
koleksi foto becak (dan) saya.
MINGGU
Pukul 7 pagi, tanpa sarapan kami meninggalkan hotel,
mengejar pesawat jam 15.50. Perjalanan yang membosankan selama 8 jam 2 malam
sebelumnya terbayar pagi ini. Rantepao benar-benar bagaikan negeri di awan.
Kabut yang melayang di atas dedauan yang berkilau sisa embun dini hari. Jalanan
begitu senyap. Daun-daun pintu dan jendela masih tertutup rapat. Sesekali kami
bersua dengan rombongan anak-anak. “Sekolah Minggu”, jelas pengendara mobil
kami.
Kami sarapan di rumah makan dengan pemandangan spektakuler.
Gunung Nona yang terbungkus kabut. Mie instant yang saya kunyah terasa amat
nikmat. Usai menyeruput kopi kami melanjutkan perjalanan.
Dalam terang, saya bisa menebus pemandangan yang terlewatkan pada perjalanan
malam lalu. Pemandangan indah yang begitu membius. Mobil terus melaju,
meninggalkan segalanya di belakang, kenangan, keindahan alam, teman-teman baru,
pengalaman baru. I know, at this very moment. I am falling in love with this
beautiful place.
Dan lagu standard itu tiba-tiba terngiang. Selalu begitu,
selalu saja setiap kali saya meninggalkan tempat-tempat yang keindahannya
membius hati dan membuat saya jatuh cinta.
Time, flowing like a river
Time, beckoning me
Who knows if we shall ever meet again
If ever
But time
Keeps flowing like a river
To the sea
Goodbye my love, maybe for forever
Goodbye my love, the tide waits for me
Who knows when we shall meet again
If ever
But time
Keeps flowing like a river (on and on)
To the sea, to the sea



