Asyiknya Camping & Rafting di Probolinggo
By Evy • Jul 5th, 2005 • Category: Petualangan
Sambil menggigil kedinginan kita menikmati sarapan pagi, dan lagi-lagi dengan pisang sebagai pencuci mulutnya (hidup pisang!). Setelah berkemas, kita kembali ke basecamp, diawali dengan berjalan kaki mendaki bukit, beberapa peserta terlihat mendaki dengan meringis karena agak terjal. Tapi dengan perjuangan keras dan keringat bercucuran… ceeileh… dramatis sekali… kita sampai juga di lokasi penjemputan yang terletak di sebelah sebuah SD. Jadilah kami tontonan bagi anak2 SD itu. Kacian deh… Tapi tidak lama, mobil ranger kesayangan kita itu datang menjemput dan kami kembali berjuang mempertahankan posisi di acara jungkir balik sepanjang perjalanan menuju basecamp :-p
Di basecamp kita hanya beristirahat sebentar untuk menyimpan barang-barang dan perjalanan kembali dilanjutkan dengan ranger….
***
Sebelumnya saya ucapkan terima kasih untuk Vibri sehingga rencana untuk camping dan rafting dapat terlaksana. Bayangkan, quota yang seharusnya 30 orang, pada akhirnya berguguran dan peserta yang bisa berangkat pada hari H akhirnya hanya 14 orang. Namun berkat perjuangan Vibri yang gigih menawar
(baca: memaksa! Hehehe..) akhirnya pihak Noars bersedia memberikan harga diskon yang dijanjikan… Yeepee… !!
Day One : June 26, 2005
10 peserta dari Surabaya (Vibri, Evy, Dian, Retno, Julia, Inayah, Kiki, Ari, Yuda n Cepi) berangkat dari terminal Bungurasih Surabaya ± jam 12.45 naik bis biasa tapi pake AC (good choice by Cepy!) dan tiba di terminal Probolinggo 2 jam kemudian.
4 peserta lainnya (Yuyun, Hari, Nova n Arif) ternyata sudah menunggu di terminal Probolinggo bersama mobil Isuzu yang sudah dicarter untuk mengantarkan kita ke basecamp Noars.
Perjalanan yang saya kira cuma sekitar 15 menit, ternyata salah! Basecamp Noars cukup masuk ke pedalaman melalui pedesaan dan memakan waktu ± 1 jam. Di basecamp kita disambut oleh mas Adi (yang ternyata adalah Vice President of Noars. Hmmm, that’s why Vibri bisa dapet dispensasi dengan jumlah peserta yang kurang dari quota).
Setelah beristirahat sejenak, perjalanan diteruskan dengan menggunakan mobil ranger Noars ke lokasi camping. Aduh mak…! Ternyata jalan ke lokasi camping cukup membuat kami yang berada di bak belakang mobil ranger jungkir balik mempertahankan diri dari guncangan jalan kecil yang berliku dan tajam.
Berbahagialah teman-teman yang mendapat jatah duduk dikursi depan, suer…!
Perjalanan dengan mobil sekitar 30 menit akhirnya berakhir tapi masih harus dilanjutkan dengan berjalan kaki. Untunglah pemandangan menuju lokasi cukup menyejukkan mata (maklum orang kota, jarang lihat hutan dan pohon hijau sebanyak itu) sehingga walaupun jalan yang kami lalui menuruni bukit cukup melelahkan akhirnya terobati. Lokasi camping terletak di tepi danau Ranu Gedang yang berada di sebuah lembah. Terlihat kesibukan beberapa orang yang berusaha mencari sinyal hp sampai membalik2 hp-nya kayak iklan di tv aja.
Mana mungkin lah, sungguh usaha yang sia2. Btw, mengapa dinamakan Ranu Gedang (terjemahannya : Danau Pisang)?? Bisa ditebak, karena disana banyak pohon pisang! Jadi setiap kali kami mendapat hidangan, pisang pasti selalu tersedia. Hidup pisang!!
OK, balik lagi. Saat kami tiba tenda sudah disiapkan. Berhubung cowoknya hanya 5 orang, mereka hanya mendapat jatah 2 tenda, sedangkan sisanya milik para cewek, yes! Sekali lagi wanita mendominasi.. hehehe. Setelah meletakkan barang-barang, sebagian rekan duduk termenung, sebagian nekad mandi di kamar kecil yang ukurannya hanya 75 x 75 cm plus beratapkan langit luas, sebagian lagi, seperti saya, asyik berpose untuk difoto, sementara rekan-rekan dari Noars menyiapkan minuman hangat dan api unggun.
Sudah jam 19.30, makan malam terlambat dikirim dari basecamp. Terdengar dengungan lirih dari teman2: lapar.. lapar.. waduh, segitunya ya kalo soal makan? Mungkin karena prinsip kita: logika tidak bisa jalan tanpa logistik..
walah! Sambil menunggu makan malam datang kami bermain rakit ke danau. Belum puas bermain2 dan berfoto2 di tengah danau, kami dipanggil ke tepi, ternyata makan malam sudah datang, asyik..! Serbuuu!
Setelah makan malam, acara api unggun dimulai dengan penyalaan nama kelompok yang terbuat dari sumbu kompor. Nama yang kami pilih GOLPUT. Kenapa? Karena tanggal 27 Juni seharusnya kami yang berdomisili di Surabaya mengikuti pemilihan walikota secara langsung
Sebagai team leader, Vibri mendapat kehormatan untuk menyalakannya. Ternyata pembakaran nama tersebut untuk memicu tembikar pembawa minyak yang berfungsi menyalakan api unggun. Blesh!
Tembikar terlepas dan meluncur turun ke tumpukan kayu bakar. Seru deh! Api unggun langsung berkobar. Acara dilanjutkan dengan pidato dari team leader, yang isinya cuman cengingisan, karena Vibri bingung nggak tau kudu ngomong apa, kemudian diteruskan dengan acara menyanyi diiringi gitar oleh mas Bambang dan mas Tapir (dari Noars). Yang merasa suaranya terlalu indah diperdengarkan (ehem.. ehem… jadi nggak enak nih..), akhirnya memilih aktivitas lain. Ada yang main kartu, seperti saya, Cepi, Yuda n Arif, ada yang membakar anak jagung (rencananya sih mau dijual, tapi nggak laku karena jagungnya mungil-mungil :-p), ada yang rebutan ayam bakar, ada juga yang merenung menghitung bintang.. Wuiih keren.. Baru kali ini liat bintang sebanyak itu… dan ada yang menghitung domba alias tidur. Suka-suka lah… Malahan ada yang bermain rakit ke tengah danau jam 1 malam, walah.. itu sih nekat banget!
Ada-ada aja .
Day Two, : June 27, 2005
Rencana saya untuk tidur sampai siang tidak dapat terlaksana karena jam 5 pagi mas-mas dari Noars dengan gegap gempita membuat keributan sehingga mau tidak mau, rela tidak rela, kita harus bangun untuk mengikuti acara senam.
Setelah senam ala kadarnya krn masih pada ngantuk n setengah hati, acara dilanjutkan dengan games memindahkan tali. Kita dibagi menjadi dua kelompok, yaitu kelompok Singa (dengan suara aumannya yang menggelegar ! sepertinya sih meyakinkan…), dan kelompok Hiu (yang yel-yelnya berbunyi ‘hiu’ dengan nada memelas.. emang hiu itu melas ya bukannya seram??). Sayangnya auman Singa yang menggelegar tidak cukup karena setelah dikalahkan dalam lomba tali (2 kali malah, memalukan ya?) kelompok Singa kembali dipecundangi saat lomba mendayung rakit, maklumlah… Singa kan raja hutan bukan raja air, begitulah pembelaan kelompok Singa. Maksa sekali bukan ???
Dan sebagai hukuman, semua peserta kelompok Singa harus merasakan dinginnya air danau di pagi hari, kita diceburin bok ! Yah, itung2 mandi pagi lah.
Sambil menggigil kedinginan kita menikmati sarapan pagi, dan lagi-lagi dengan pisang sebagai pencuci mulutnya (hidup pisang!). Setelah berkemas, kita kembali ke basecamp, diawali dengan berjalan kaki mendaki bukit, beberapa peserta terlihat mendaki dengan meringis karena agak terjal. Tapi dengan perjuangan keras dan keringat bercucuran… ceeileh… dramatis sekali… kita sampai juga di lokasi penjemputan yang terletak di sebelah sebuah SD. Jadilah kami tontonan bagi anak2 SD itu. Kacian deh… Tapi tidak lama, mobil ranger kesayangan kita itu datang menjemput dan kami kembali berjuang mempertahankan posisi di acara jungkir balik sepanjang perjalanan menuju basecamp :-p
Di basecamp kita hanya beristirahat sebentar untuk menyimpan barang-barang dan perjalanan kembali dilanjutkan dengan ranger menuju lokasi rafting. Kali ini acara jungkir balik bagi penumpang di bak belakang ranger tidak terlalu menyiksa, syukurlah… lega sekali… Tapi, kelegaan itu tidak berlangsung lama.
Kami kembali harus berjalan kaki menuju lokasi sambil membawa perlengkapan perang masing-masing : pelampung, dayung dan helm. Untunglah perjalanan tidak terlalu jauh. Tidak lama berjalan terdengar suara gemericik air yang membuat kami mempercepat langkah menuju sungai dengan penuh antusias.
Di tepi Sungai Pekalen Atas rakit2 sudah siap berjejer. Sekitar 10 menit kami diberi penjelasan singkat mengenai cara mendayung dan keamanan dipandu oleh mas Usman. Kami dibagi dalam 3 rakit dengan masing-masing rakit didampingi seorang guide, ditambah satu rakit yang berisikan 4 orang rescue team.
Berdasarkan informasi, sungai yang kami lalui sepanjang ± 15 km dengan ± 50 jeram dan 4 air terjun. Namun berhubung kami terlalu asyik menikmati guncangan plus mempertahankan diri agar selalu berada di atas rakit selama mengarungi jeram, saya tidak sempat menghitung jumlah jeram yang kami lalui, yang ada di kepala hanya, asyik men !! Air terjun pertama beserta gua kelelawarnya terlewati tanpa kami sempat berhenti. Di air terjun kedua akhirnya kami berhasil merayu guide kami, mas Imam, untuk berhenti sejenak berfoto (penting loh berfoto itu sebagai bukti… hehehe..).
Perjalanan diteruskan, kali ini kami sengaja dihentikan di air terjun keempat - yang terbesar. Kami mendapatkan kesempatan untuk berdiri dibawah air terjun yang derasnya curahan air membuat kepala saya seperti digebukin orang sekampung, plus bonus terpeleset karena batunya licin banget.
Selama kurang lebih 15menit, beberapa peserta penasaran mencoba. Ada yang mau komentar lagi bagaimana rasanya berada di bawah derasnya air terjun itu, Yuda? Cepy? Dian?
Perjalanan dilanjutkan sampai di camp peristirahatan. Disini kami disuguhi minuman hangat (namanya Poka, yang dari keterangan bapak penjaga camp terbuat dari teh dicampur jahe, keningar n kayu manis. Rasanya? Yah, gitu
deh…) dan (lagi-lagi.) pisang goreng!
Setelah cukup mengisi perut, perjalanan dilanjutkan lagi. Kali ini hanya ada jeram dan pemandangan alam tanpa air terjun. Suasananya tenang menghanyutkan, rasanya betah deh berjam-jam disana. Perjalanan kembali berhenti untuk memberikan kesempatan kami menunjukkan keberanian terjun bebas dari tebing yang tingginya ± 5meter (Beberapa orang merasa memiliki bakat atlit lompat indah dan mengulang sampai 2-3 kali, bravo!). Setelah semua puas beraksi dan berenang-renang ke tepian, merasakan nikmatnya arus sungai Pekalen, perjalanan dilanjutkan.
Tidak terasa tibalah kami di akhir perjalanan karena rute selanjutnya belum dibuka karena jeram di depan kami terlalu terjal, sempit dan berbatu sehingga tidak dapat dilalui oleh rakit (informasi: tim Noars sudah mencoba jalur tersebut tapi masih dirasakan terlalu berbahaya untuk pemula jadi belum bisa dijadikan rute umum).
Terlihat beberapa wajah yang masih penasaran. dan sedikit kecewa karena petualangan sudah berakhir..
Meskipun demikian, serasa pasukan menang perang, kami bersemangat kembali menuju lokasi penjemputan yang untungnya tidak terlalu jauh. Ternyata kali ini kami tidak dijemput oleh mobil ranger, melainkan pick up (agak kecewa sih, tapi gimana lagi ??) lagipula perjalanan pulang jalannya tidak terjal.
Berarti tidak ada lagi acara jungkir balik. Fiuh. Jadilah kita bisa foto2 di atas pick-up. Bener2 jiwa atlit foto (istilah Yuda) kita gak pernah pudar!
Kembali ke basecamp acara berikutnya adalah antri untuk mandi (seperti biasa… kayaknya tanpa antri kurang afdol deh). Beberapa rekan yang memang pede berat, cuek aja mandi n keramas di shower terbuka, termasuk seorang
nona: Julia.
Selesai mandi hidangan makan siang sudah tersedia: nasi, sayur sop, ikan n tempe penyet dengan sambalnya yang super pedas, perkedel jagung dan tahu goreng. Hmmm.. yummy… dan tidak lupa, pisang!!
Di luar basecamp, mobil carteran kita sudah menunggu untuk mengantarkan kembali ke terminal Probolinggo. Tepat pukul 14.30 kami meluncur kembali ke peradaban.
Selamat tinggal Noars, Sungai Pekalen Atas, Danau Ranu Gedang dan pohon pisang!
Suatu saat kami pasti kembali!!!
Cerita Camping & Rafting - Probolinggo - 26-27
Juni 2005
Narator : Evy
Editor : Vibri
***
Untuk foto-foto bisa diintip di
http://evy900.myphotoalbum.com/albums.php
Evy is suka jalan-jalan dan mendapatkan pengalaman baru
Email this author | All posts by Evy



