Bako National Park Sarawak
By Erwin • Jul 4th, 2005 • Category: Petualangan
Menurut petugas di VIC, kalau ingin camping bisa langsung mendaftar di TN Bako. Kami memang tidak ingin menginap di hostel yang tersedia di taman nasional.
Kalau ingin menginap di penginapan taman nasional, memang harus booking dulu di sini. Setelah mendapatkan informasi, kami mulai berjalan ke terminal Petra Jaya untuk mencari bus umum tujuan Bako. TN Bako jaraknya masih 37 km dari kota Kuching. Dengan menggunakan bus, satu jam kemudian kami sudah berada di Bako Bazaar, Kampung Bako. Di sekitar dermaga, terdapat banyak warung dan restoran. Bis pariwisata dan minibus untuk turis, tampak parkir berderet menunggu tamu yang kembali dari taman nasional. Untuk menuju gerbang taman nasional, masih harus menggunakan perahu motor yang tarifnya sudah ditentukan.
Tiba-tiba mesin perahu motor yang kami tumpangi dimatikan. “Perkenalkan, nama saya Taruna,” kata si tukang perahu membuka percakapan. Saya dan Simon juga saling memperkenalkan diri. Saat itu perahu baru saja keluar dari muara Sungai Bako dan mulai menyentuh Laut China Selatan. Ombaknya sedang tenang, jadi tidak perlu menggunakan pelampung yang sudah tersedia di atas perahu. Jauh di hadapan kami, tampak Gunung Santubong yang berketinggian 810 meter dan terkenal memiliki pantai yang indah. Setelah memberikan sedikit gambaran tentang lokasi sekitar, Pak Taruna kembali menghidupkan mesin perahunya. Sebentar lagi perahu akan merapat di Jetty Point Taman Nasional Bako.
Taman Nasional Bako adalah salah satu taman nasional yang tertua dari sekian banyak taman nasional di Sarawak, Malaysia Timur. Hari pertama saya dan Simon tiba di Kota Kuching, kami langsung bergegas mencari informasi untuk menuju lokasi. Sebelum mengunjungi TN Bako, kami disarankan untuk mendaftarkan diri di Visitors’ Information Centre (VIC) Kuching. Sesuai petunjuk Chan, pemilik penginapan di Kuching yang kamarnya sudah kami booking untuk keesokan harinya, kami cukup berjalan kaki saja menyusuri Water Front City. Dengan bermodal selembar peta kota, ditambah sedikit tanya sana-sini ke pejalan kaki, akhirnya ketemu gedung yang dimaksud. Sebenarnya tidak terlalu jauh, namun karena sambil memanggul ransel yang berat, cukup menguras tenaga. Gedung VIC merupakan bangunan tua peninggalan Inggris, lebih mirip istana karena pilar-pilarnya yang tinggi. Berseberangan dengan VIC, ada Water Front City yang sepanjang hari menjadi tempat bersantai semua kalangan. Tempatnya sangat teduh, dengan trotoar yang cukup luas untuk pejalan kaki. Kalau malam, separuh trotoar dimanfaatkan untuk kafe-kafe tenda. Water Front City letaknya di tepi Sungai Sarawak. Sarana angkutan air dengan perahu masih digunakan untuk ke kampung seberang atau pariwisata.
Menurut petugas di VIC, kalau ingin camping bisa langsung mendaftar di TN Bako. Kami memang tidak ingin menginap di hostel yang tersedia di taman nasional.
Kalau ingin menginap di penginapan taman nasional, memang harus booking dulu di sini. Setelah mendapatkan informasi, kami mulai berjalan ke terminal Petra Jaya untuk mencari bus umum tujuan Bako. TN Bako jaraknya masih 37 km dari kota Kuching. Dengan menggunakan bus, satu jam kemudian kami sudah berada di Bako Bazaar, Kampung Bako. Di sekitar dermaga, terdapat banyak warung dan restoran. Bis pariwisata dan minibus untuk turis, tampak parkir berderet menunggu tamu yang kembali dari taman nasional. Untuk menuju gerbang taman nasional, masih harus menggunakan perahu motor yang tarifnya sudah ditentukan. Satu perahu motor dapat memuat enam orang. Jadinya, kami harus menunggu muatan penuh. Satu jam berlalu, tidak ada satupun penumpang. Karena sudah kesiangan, terpaksa naik perahu dengan tarif carter RM 40. Perjalanan dengan perahu hanya dua puluh menit.
“Welcome to Bako,” Mungkin itu yang ada di benak monyet-monyet dan babi hutan yang ‘menyambut’ kami saat baru melangkahkan kaki di taman nasional. Saya dan Simon cukup kecut melihat pemandangan ini. Kami langsung siaga. Masing-masing memegang satu tongkat untuk menghalau serangan babi. Saat mendaftar di loket taman nasional, kami sedikit lengah. Ransel dan snack dalam kantong plastik, kami letakkan di lantai. Gak nyadar seekor monyet nyolong minuman kaleng yang ada. Kami baru sadar setelah melihat ceceran air di dekat ransel yang ternyata menuju ke arah monyet. Si monyet lagi asyik nenggak minuman kaleng. Tetapi caranya ?
bukan membuka lewat bagian atasnya, melainkan dengan merobek bagian tengah kalengnya. Monyet-monyet di sini memang ganas. Kami khawatir kalau tenda kami sobek karena ulah monyet-monyet yang ingin cari makan. Niat nge-camp harus diurungkan. Lokasi tempat camping memang agak riskan dari serangan binatang, walaupun sudah dikelilingi oleh pagar untuk menghalau babi hutan. Kami beruntung, masih tersedia kamar kosong kelas dormitory di hostel. Dari empat tempat tidur yang ada, hanya kami yang mengisi. Sementara di kamar-kamar sebelah kami sudah penuh terisi turis.
Kalau membawa logistik, di hostel juga tersedia kulkas dan dapur untuk memasak.
Ada beberapa Trail atau lintasan untuk melakukan trekking di sekitar taman nasional. Jarak terpendek menurut hitungan waktu, mulai setengah jam sampai delapan jam jalan kaki. Taman nasional di sini dikelola sangat professional. Fasilitas untuk pengunjung benar-benar diperhatikan dan semuanya tersedia. Mulai dari toilet, kamar penginapan bermacam kelas, kafetaria yang selalu buka sampai jam makan malam, ruang audio visual untuk informasi, dan tempat ibadah. Trail-trail jalan setapak bersih dari sampah dan dibuat sejelas mungkin, jadi gak perlu takut nyasar walau tanpa ditemani guide. Di beberapa bagian jalan menanjak, dilengkapi tangga kayu sehingga pengunjung, baik anak-anak maupun manula masih bisa melintas.
Proboscis monkey juga dijuluki sebagai ‘orang belanda’
karena monyet ini berbulu bule dengan hidungnya yang besar dan mancung, banyak ditemui di Taman Nasional Bako. Saat kami sedang berjalan di dalam hutan, terlihat beberapa ekor sedang bergelantungan. Malahan, di sekitar hutan mangrove pinggir laut, kami sempat melihat ratusan Proboscis berhamburan menjauh karena tahu sedang diamati pengunjung. Waktu yang kami miliki sangat singkat, hanya sehari. Gak mungkin menjajal semua jalur. Trail Tanjung Sapi sangat menarik buat kami. Dari pucak sebuah bukit, kami bisa bersantai di pos peristirahatan sambil memandang ke arah pantai di bawahnya, perbukitan, dan Laut China Selatan.
Lintasannya cukup berat, banyak jalan menanjak.
“Hitung-hitung pemanasan sebelum menjajal tanjakan Gunung Kinabalu,” pikir kami. Dua hari lagi, kami akan terbang ke Kota Kinabalu untuk mendaki gunungnya.
Setelah sarapan di kafetaria, kami mulai packing dan bersiap akan kembali ke Kuching. Tetangga kamar kami, sepasang Backpacker dari Inggris menawarkan untuk sharing ongkos perahu motor. Ide yang bagus!. Sewaktu berangkat ke sini, kami tentu harus merogoh kocek lebih dalam karena tidak ada penumpang lain, tapi kali ini……”hmm, lumayan lah !!” Roger dan pasangannya sedang ber-backpacking selama dua belas bulan. Saat itu sudah memasuki bulan kelima dari perjalanannya sebelum terbang ke Bali dan Lombok melalui Kuala Lumpur. “Your currency is very strong!” kata Simon.
Mata uang manapun memang tidak ada apa-apanya terhadap Pounds. Di Kuching, rupanya mereka menginap di penginapan yang sama dengan kami.
Erwin
foto-foto
http://eyulianto.multiply.com/photos
Erwin is
Email this author | All posts by Erwin



