Buspacking Viet Nam

Custom Search

By Puguh • Jul 21st, 2005 • Category: Budaya / Cultural, Kota - Kota, Wisata
Bookmark and Share

Warning: htmlspecialchars_decode() expects parameter 1 to be string, NULL given in /hsphere/local/home/odesya/indobackpacker.com/wp-includes/compat.php on line 113

Bus besar tidak boleh masuk ke kota tua dimana area turis dan Danau
Hoan Kiem berada. Jadi kami berhenti agak jauh dari pusat kota. Sebuah
hotel menawarkan jasa untuk membawa kami ke tengah kota tanpa kewajiban
untuk menginap di hotelnya. Kami ikut dengan mereka, hotelnya tidak
terlalu buruk. Tapi kami hendak langsung pergi ke Halong Bay.

Halong Bay
Kami
akhirnya memesan langsung dari hotel ini. USD 30 untuk perjalanan 3 jam
dengan minibus menuju Halong City, dan semalam menginap di atas boat,
full meals. Berdiri dipelabuhan penyeberangan ke Halong Bay, saya cukup
terkejut melihat jumlah kapal tour operator yang berlabuh. Ada sekitar
tiga puluh perahu junk yang mengantri untuk merapat ke pelabuhan.

“Why do you go to Vietnam?”, Ausielander yang mengelola Hostel di Hanoi bertanya kepada kami. Pertanyaan yang justru diajukan tepat sehari sebelum kami menyelesaikan perjalanan di Vietnam. Iya, kenapa ya?

Apakah karena Vietnam negara komunis?
Heroism perang Viet Nam?
Respect to the people who kicked superpower out of their land?
Exotism wanita vietnam yang bercaping dengan baju melambai?
Tourist booming?
Kharisma Uncle Ho?
Atau cerita Putri Champa yang membuat Raja Mojopahit termehek-mehek?

Rasanya semua itu menjadi satu, yang membuat kami memutuskan untuk menyambangi Vietnam dari Selatan ke Utara. Lain dari itu, kebetulan kami tiba di vietnam tepat sehari sesudah Presiden Indonesia bertemu dengan Presiden Vietnam. Koran berbahasa inggris Vietnam News dengan gambar Headline kedua presiden sedang bersalaman yang kami dapat di penerbangan Vietnam Airlines kami tenteng, rencananya untuk menjawab pertanyaan “Where do you come from?”.

Mampir Singapore
Penerbangan terakhir dari Kota Kinabalu ke Johor Bahru tiba hampir pukul 22.30. Sudah tidak ada lagi bis yang melayani rute Johor Bahru – Singapore. Alternatif terakhir adalah taksi dengan ongkos sebesar RM 160. Wah kemahalan euy. Toko-toko di airport juga mulai tutup. Tampaknya tidak ada penerbangan lagi setelah kami. Karena ada dua orang lagi yang juga berusaha masuk ke Singapore malam itu juga, akhirnya kami berbagi ongkos taksi dengan mereka. Untuk penumpang Malaysian Airlines ditawarkan shuttle bus ke downtown Singapore dari airport Johor Bahru untuk biaya hanya RM 12. Sedangkan penumpang airline lain biasanya menggunakan taksi untuk sampai ke terminal bus atau kereta yang menuju singapore.

Kami masuk Singapore melalui pintu imigrasi Tuas. Lepas dari pintu imigrasi Malaysia bukan masalah. Setelah melewati jembatan melintas selat, kami tiba di pintu imigrasi Singapore. Pintu imigrasi di penyeberangan kedua negara ini lebih mirip jalan tol. Karena penumpang cukup mengacungkan dokumen perjalanan melalui jendela mobil, dokumen diperiksa dan kalo semuanya ok, maka bisa melanjutkan perjalanan. Dan hanya perlu turun dari kendaraan pada saat pemeriksaan Custom.

Imigration Hassle
“For these two, please proceed to the office”, kata petugas imigrasi sambil memisahkan passport saya dan kawan saya. Rupanya kami dianggap baru pertamakali masuk Singapore, karena kami menggunakan buku pasport baru tanpa melampirkan buku lama dimana terdapat bukti kami pernah masuk Singapore sebelumnya. Dan mungkin ditambah jam kedatangan kami yang dipagi buta.

Jadilah kami harus turun dari kendaraan dan melapor ke kantor imigrasi. Dua orang petugas imigrasi yang tampaknya cukup senior kelihatan dibangunkan karena kedatangan kami. Jadilah kami harus menjawab pertanyaan; dari mana, mau kemana, mau apa, tinggal dimana, ketemu siapa. Dan karena ini interograsi, maka pertanyaan terus diulang lagi dari belakang ke depan, dari petugas satu kemudian diulang kepetugas lainnya untuk memastikan bahwa jawaban kami konsisten. Barang kami dibagasi juga digeledah sampai ke kantong terkecil.

Waktu ditanya apa acara kami di Singapore, sempat terpikir untuk menjawab; “Well, in brief; we are going to spend years of our saving in a couple day in singapore” Jangan lah, mereka mengerjakan tugas mereka dan kami harus hormati itu. Terus terang, kalo mengalami hal ini di negara berkembang, kami akan mulai berpikir untuk menggunakan “the power of How”. Maksudnya kalo rasanya urusan udah dipersulit biasanya mulai mesem-mesem sambil tanya,”Bagaimana baiknya, Pak…? Supaya urusan kami lancar dan bapak juga senang …? Hmm….?”.

Kami dilepas oleh petugas imigrasi dengan pesan untuk mendeklarasikan kepemilikan pisau lipat yang kami bawa kepada petugas custom di gerbang berikutnya. Lepas dari situ, kami lewat palang pintu yang dijaga petugas Civil Defence. Dan akhirnya kami resmi menginjak Singapore hampir pukul 1 dinihari.

Rencananya kami bergabung dengan teman kami yang telah tiba lebih dulu di Singapore, dan menginap di Sarkies Road dekat Newton Circus. Sebelumnya ia sudah deal dengan pemilik penginapan, hanya perlu menambah S$10/orang/permalam untuk tambahan dua orang lagi. Tapi jangankan menginap. Menginjakkan kaki ke penginapan pun kami tak diijinkan. Teman kami yang sudah lebih dulu menginap dilarang membukakan pintu untuk kami. Sudah terlalu malam kata pemiliknya. Teman kami pun menyerah. Menurut deskripsinya pemilik penginapan adalah seperti “ibu tua yang cerewet dalam film kung-fu”. Untung ada sisa sedikit singapore dolar untuk mengisi perut di Newton Circus, food court di taman yang buka 24 jam.

Pukul 2 dini hari, bukan hari libur, Newton Circus ternyata masih cukup ramai. Beberapa pemilik restoran mulai menawarkan untuk duduk dekat kiosnya. Tapi karena uang yang kami miliki tak lebih dari S$ 15 dari sisa perjalanan sebelumnya, maka saya memilih gerai yang memajang daftar harga. Saya menolak dengan halus beberapa tawaran pemilik kios makanan. Sampai kemudian seorang pemilik gerai yang cukup presistent memanggil saya dengan simpatik,”Excuse me, are you a malay gentlemen” Karena malas berdebat saya mengiyakan. “So, have a seat and let my daugther serve you”. Wadoh! What a desperate offer, Pak Cik. But thanks anyway, I only have S$15 in my pocket, while looking at your daughter, I would realy like to spend more than that.

Selesai makan kami tidur-tiduran dibalik halte bus didepan Pusat Kebudayaan Perancis. Mau pindah ke hotel lain, malam begini takut ditolak lagi. Apalagi kalo harus naik taksi, uang singapur tak ada. Jam 4 dinihari kami terbangun oleh sebuah kendaraan yang merapat di halte. Oh no…mobil minibus polisi dengan ruang belakang berterali! Untung mereka mau menerima penjelasan bahwa kami kepagian tiba di Singapore dan ditolak masuk penginapan. Malah kami disuruh berhati-hati menjaga barang bawaan kami. We appreciate it Pak Cik. Tapi kalo masalah hati-hati dengan barang bawaan, let me tell you one thing: We’re coming from jakarta! Dimana kalo naik bis, dijembatan penyeberangan, dan tempat-tempat umum lainnya backpack harus selalu menjadi frontpack.

Paginya kami mulai berburu travel agent dan mendapatkannya di Lucky Plaza. Tiket seharga S$ 430 untuk open loop; Sing-Saigon, Hanoi-Sing. Sebetulnya tawaran pertama cukup menarik S$ 300 untuk Sing-Saigon-Sing. Dan ternyata memang sebaiknya membeli tiket terputus-putus karena dengan demikian kita lebih bebas menentukan jadwal perjalanan. Toh harganya tidak selisih banyak.

Kami akhirnya baru bisa berangkat keesokan harinya dengan penerbangan pukul 14. Malamnya kami menginap di Lloyd Inn di Lloyd Road. Rumah yang dijadikan penginapan dengan harga hotel. Tapi karena letaknya strategis di ujung Orchad Road dan cukup dekat dengan MRT station, maka kami ambil juga.

Rumah Uncle Lee
Kami menandai sebuah rumah di Oxley Road tidak jauh dari penginapan kami, karena dijaga dua tentara Gurkha. Padahal rumah tersebut tidak terlihat mewah. Ketika kami bertanya kepada pemilik penginapan kami tentang siapa pemilik rumah tersebut, dengan bangga ia menyatakan bahwa itulah rumah mantan Perdana Menteri Singapura Lee Kuan Yew. Disitulah Lee Kuan Yew tinggal since…ever; sebelum, selama, dan sesudah menjabat sebagai “CEO” Singapore. Dia tidak memiliki rumah dinas, dan berkantor di Istana. “He’s a humble person!” kata pemilik penginapan kami dengan antusias. Kalo yang bilang ini adalah buku otobiografi Mr. Lee, mungkin saya menyimpan sedikit keraguan. Tapi karena yang bilang begini adalah tetangga rumah Mr. Lee sendiri, maka saya percaya.
Mulai saat itu kalo kami ditanya dimana kami menginap di Singapore, saya menjawab,”Yah, beberapa rumah dari rumah Lee Kuan Yew, mantan PM Singapore itu”

Mampir Saigon
Walaupun cuma dua jam waktu tempuh, yang namanya penerbangan internasional selalu ada pilihan makanan,”Would like eating fish with rice or beef with potato, Sir?”. Sesudah itu ditambah tawaran pilihan wine walaupun tidak terlalu enak. Sebetulnya tidak banyak berbeda dengan penerbangan AKAP (antar kota antar propinsi), yang juga selalu ada pilihan,”Would you like eating or starving, Sir?”
Mendarat di Ho Chi Minh City (HCMC), bandara kelihatan cukup sibuk. Pesawat kami parkir di luar apron dan menggunakan bis untuk sampai ke apron. Walau dahulu disebut Saigon, untuk urusan yang bersifat resmi orang Vietnam sekarang menggunakan nama Ho Chi Minh City. Dahulu Saigon adalah Ibukota Vietnam Selatan, sampai pembebasan pihak utara pada 30 April 1975.
Imigrasi terlihat ketat. Beberapa orang-orang didepan kami ditanyai cukup lama oleh petugas imigrasi. Beberapa di perintahkan untuk pergi ke ruangan imigrasi, mungkin karena masalah visa. Rencananya kalo kami dipersulit, kami akan menunjukkan foto presiden kedua negara sedang bersalaman yang ada di headline di koran. Mungkin karena sesama negara ASEAN dan angin segar kunjungan Presiden RI, petugas imigrasi yang menangani saya tidak banyak mengajukan pertanyaan. Selesai ambil bagasi, giliran custom clearance yang juga ternyata lancar-lancar saja.
Sebelum berangkat kami sempat membaca section Danger & Annoyance di travel guide kami. Kok rasanya tidak asing, berbagai modus operandi kejahatan dan gangguan terhadap pelancong rasanya sama saja dengan yang harus kami hadapi di Jakarta. Cuma yang berbeda di Saigon & Hanoi masih banyak jambret bermotor, sedangkan di Jakarta sudah tidak terlalu banyak, karena …Macet! Di bandara HCMC, taksi yang menolak menggunakan argometer adalah hal yang biasa. Karena membayangkan pelayanan taksi seperti di Cengkareng, maka kami memilih menggunakan Limousine Service. Walaupun tempat kami menginap di Pham Ngu Lao terletak di backpackers area.
HCMC, terutama daerah pinggiran, lalulintasnya dasyat. Super semrawut dan penuh kejutan. Sepeda motor yang berpindah jalur, memotong di perempatan. Dan ditambah bunyi klakson. Pengendara motor yang umumnya tidak menggunakan helm, bercampur dengan pengendara sepeda angin. Mungkin hanya ada satu hal yang ditekankan ketika seseorang mulai belajar mengemudi di Vietnam: Don’t worry too much, there’s also a driver in the incoming vehicle. Pemandangan di perburuk karena garis sepadan bangunan yang hanya menyisakan sedikit jarak antara jalanan dan bangunan yang rata-rata berupa ruko minimal dua lantai. Kabel listrik dan telefon berseliweran di menambah kentalnya suasana semrawut. Herannya dengan segala kesemrawutan dan kepadatan ini, kami tidak menemukan antrian yang berarti selain lampu merah. Padat tapi lancar.
Semakin ketengah kota, jalanan semakin sempit dan umumnya dibuat satu arah. Rupanya kami sedang melewati daerah lama kota Saigon. Beberapa kali leher kepala menengok tak habis-habisnya melihat gedung-gedung tua bergaya baroque terlihat masih terawat di kota tua ini. Kami mulai kagum dengan preservasi bangunan tua di Saigon.
Penginapan kami terletak diselatan Saigon. Didaerah padat, dimana yang disebut rumah adalah di Ruko yang tidak terlalu lebar. Rata-rata ruko memiliki lebar 5 meter, bahkan ada yang cuma 3 meter. Karena itu mereka berlomba membangun keatas. Umumnya ruko disini dapat mencapai ketinggian lima lantai. Mungkin karena Vietnam berdiri diatas tanah tua sehingga mereka tidak terlalu khawatir masalah gempa.
Kami bertemu dengan teman yang sudah lebih dulu tiba di penginapan Bich Thuy. Ruko lima lantai yang beberapa lantainya dibuat menjadi kamar dormitory. Pemiliknya menjalankan usaha potong rambut lantai paling bawah. Delapan USD untuk tiga orang permalam, with aircon. Bukan tawaran yang jelek, bukan? Dolar amerika rupanya diterima secara luas di Vietnam. Untuk pembayaran oleh turis hampir semua penyelenggara jasa menerima pembayaran dalam USD. Tapi untuk makanan sebaiknya tetap membayar dengan Viet Nam Dong(VND), karena pecahan yang pasti lebih lengkap.
Teman yang berangkat sehari lebih dulu, memanfaatkan waktunya untuk ikut group tour ke musium perang Vietnam melawan Amerika Serikat. Dimana masih terdapat lubang terowongan persembunyian dan artefak perang lainnya, termasuk kesempatan untuk mencoba menembakkan senjata api M-16 dan AK-47 dengan harga peluru USD 1/butir. Ini disediakan agar pengunjung tahu perbedaan suara letusan senjata yang dipergunakan Amerika dan pihak Vietnam Utara. Selain itu juga dipajang berbagai jenis booby trap, yang telah membantu Vietnam memenangi peperangan melawan Amerika Serikat.

Warisan Perancis
Malamnya kami sempatkan untuk melihat The Basilica “Notre Dame de Saigon” yang dibangun tahun 1880 dengan gaya Gothic dan diklaim bahwa semua materialnya didatangkan dari Perancis, termasuk semen, batubata, besi dan bahkan sekrup. Disamping gereja ini terdapat kantor pos besar, yang menempati bangunan bergaya baroque. Disetiap tiang segmen bangunan kantor pos ini diletakkan prasasti batu bertuliskan nama-nama filsuf dan ilmuwan seperti Ampere, Faraday, Descartes, Voltaire, dan beberapa lagi nama-nama yang tidak saya kenal.
Malam itu di jalanan antara kantor pos dan gereja tampaknya sedang diadakan latihan baris-berbaris untuk sebuah parade. Seorang berseragam berteriak-teriak memberi perintah, dan terkadang menggunakan pengeras suara, kepada barisan pemuda. Entah pelajar atau buruh. Ketika kami coba bertanya, tidak ada diantara mereka yang bisa berkomunikasi dalam bahasa inggris.
Butuh waktu sejenak menyusun pengetahuan yang saya miliki tentang sebuah negara komunis dengan hal-hal yang saya lihat dalam beberapa jam di Saigon. Ada orang baris berbaris dengan langkah kaki á la negara komunis, disamping sebuah gereja yang terawat baik dan masih digunakan, dan dekat sebuah shoping mall. Rasanya saya harus merekonstruksi gambaran saya tentang tentang sebuah negara komunis. Mungkin juga perubahan di Cina yang menjadi salah satu kiblat komunisme dunia setelah runtuhnya Uni Soviet, yang perlahan mulai masuk ke sistim pasar bebas, memaksa negara-negara komunis lainnya perlahan mengangkat tirai bambunya.
Pengaruh penjajahan Perancis di Saigon, dan Vietnam pada umumnya tidak hanya berupa gaya bangunan dan ukuran trotoir yang murah hati. Alat pembuat kopi Vietnam yang idenya adalah Dripping Coffee dari Perancis. Ditempat kami makan Pho Bo(sop daging sapi dengan mie) juga ditawarkan semacam roti baquet untuk pengganti mie. Cuma roti ini tidak sepadat roti Baquet asli Perancis yang kita kenal sekarang. Selain itu, kalo kita bicara dengan orang yang agak tua, umumnya mereka akan melafalkan Saigon sebagai “saigong”, dan Hanoi sebagai “anoi”. Ah, Oui, oui….
Penggunaan huruf latin untuk menuliskan bahasa Vietnam adalah juga buah karya Misionaris Perancis. Dahulu Vietnam memiliki aksara sendiri, yang lebih mirip aksara cina. Namun kemudian Misionaris Perancis menuliskan bunyi aksara tersebut kedalam huruf latin. Sulitnya, seperti juga aksara cina, aksara vietnam sangat kaya dengan berbagai variasi intonasi. Karena itu aksara latin Vietnam yang kita kenal sekarang banyak memiliki banyak tanda aksen. Dan tanpa aksen tanda baca tersebut, dijamin terjadi kekacauan karena sebuah kata dapat memiliki dua arti yang samasekali berbeda. Kalau anda cukup iseng ingin tahu lebih jauh tentang berbagai aksara Viet Nam, dan kebetulan Hand Phone anda bermerek Nokia yang dibuat untuk pasar asia tenggara, maka cukup pindahkan setting bahasanya menjadi bahasa Viet Nam.

Pulau Galang, perekat Indonesia – Vietnam
Sekembali dari Kathedral kami kembali ke daerah Pham Ngu Lao. Kali ini target kami adalah untuk duduk di teras warung yang menghadap jalan sambil minum bir dingin. Pilihan tempat begitu banyak mulai yang touristy sampai yang sekelas warung. Kami memilih untuk duduk di sebuah warung yang dikunjungi hanya oleh warga setempat. Setelah sok akrab dengan bapak-bapak yang sudah lebih dulu duduk diwarung, akhirnya kami tahu bahwa seorang bapak yang paling baik bahasa inggrisnya adalah seorang karyawan di perusahaan hilir minyak bumi. Bapak ini bercerita bagaimana pemerintah telah banyak menyesuaikan diri dengan keadaan di luar Viet Nam. Sekitar tahun 80-an, ia pernah berurusan dengan polisi, hanya karena ia berbicara dalam bahasa Inggris tanpa memiliki surat ijin untuk berbicara bahasa Inggris!
Ditengah obrolan ngalor-ngidul tentang perubahan Viet Nam dibawah sistim komunis, bapak ini sempat mengungkapkan terimakasihnya kepada Indonesia dan Malaysia, karena telah memberikan perlakuan yang layak kepada pengungsi Vietnam yang dikenal sebagai Manusia Perahu. Diwaktu-waktu kemudian ternyata sangat mudah bagi kami untuk mencairkan komunikasi, dengan menyebut,“We’re from Indonesia –You know: Galang Island?”. Beberapa karena kesalahan komunikasi malah jadi menyangka kami adalah orang Vietnam yang orang tuanya dari Pulau Galang kemudian lahir di Amerika, karena itu kami tidak bisa bicara bahasa Vietnam walaupun wajah kami mirip dengan orang Vietnam.
Sebetulnya warga Viet Nam diluar negeri tidak terlalu disukai oleh warga yang tinggal di Viet Nam. Mereka menganggap orang Viet Nam yang lari keluar negeri semasa perang sebagai tidak patriotik, pengecut dan mau enaknya saja. Padahal saat ini pemerintah Viet Nam sendiri menghimbau agar warganya yang dulu lari ke luar negeri untuk mau kembali tinggal di Viet Nam. Tentu salah satunya demi pertumbuhan ekonomi.

Saigon – Mui Né – Hoi An
Jumlah turis yang mengunjungi Viet Nam, telah menghidupi beberapa operator bis yang membuat jasa bis seperti kereta Eurail. Bis ini melewati tujuan wisata yang populer. Penumpang cukup membayar sekali, dan mereka bisa berhenti dimana mereka suka, selama mereka suka, dan ketika mereka memutuskan untuk kembali melanjutkan perjalanan, maka tinggal melakukan rekonfirmasi di cabang bus terdekat.
Kami membayar bis untuk rute Saigon – Hanoi sejauh hampir 1800km perjalanan sebesar USD 17 per orang. Mohon dicatat, bahwa harga per liter minyak solar dan bensin di Vietnam lebih mahal dari Indonesia. Dan instalasi penyulingan minyak bumi di Vietnam baru akan dibangun. Rencananya kami akan berhenti dan bermalam di Hoi An, Hue, dan akhirnya Hanoi.
Etape pertama yang kami tempuh adalah Saigon ke Nha Trang untuk kemudian malam harinya berganti bus di Nha Trang menuju Hoi–An. Keluar dari pusat kota Saigon kami mulai melihat wajah Saigon yang sesungguhnya. Dimana-mana bangunan rumah toko, dan setelah lebih keluar lagi daerah pabrik mendominasi kiri-kanan jalan sepanjang berkilometer. Kendaraan angkutan barang memenuhi jalan, dan bersaing dengan sepeda motor.
Melewati daerah pabrik, jalanan mulai lengang dan kebanyakan kami melewati daerah persawahan dan perkebunan. Dipinggir jalan banyak kami lihat warung minuman yang menyediakan fasilitas untuk pembelinya berupa hammock dan kursi malas untuk leyeh-leyeh.
Antara Saigon dan Nha Trang, kami makan siang di Mui Né. Pantai berbukit pasir yang mengingatkan saya pada gambaran Parang Tritis, dengan skala yang lebih besar. Dibeberapa tempat, pinggiran jalan dibatasi oleh tanggul agar pasir yang tertiup angin tidak masuk ke jalan. Garis pantai membentuk teluk dengan air yang biru indigo. Mungkin karena tidak ada sungai yang bermuara ke pantai ini, membuat air laut tetap jernih. Setelah agak menjauh dari pantai pemandangan mengingatkan pada gambaran padang savana Afrika tengah.
Nha Trang ternyata kota yang cukup besar. Kota ini sendiri tidak terlalu menarik, tetapi banyak dijadikan base untuk turis yang berniat diving ke pulau-pulau dilepas pantai. Oh ya, bicara masalah kepadatan penduduk, Vietnam sebetulnya memiliki kepadatan penduduk yang lebih tinggi dari Indonesia. Namun karena penyebarannya relatif merata, maka tidak terlampau terasa.
Karena kami memasuki Nha Trang hari sudah gelap maka kami tidak dapat melihat pantainya yang katanya indah. Kami langsung berganti bus yang menuju Hoi An. Yang berarti semalaman ini kami akan berada di bis. Malam itu kami melihat di beberapa tempat anak-anak berpakaian rapi dan pergi menuju tempat-tempat perayaan yang dibuat seperti pesta ulang tahun. Melihat kami menunjuk-nunjuk keheranan, penumpang sebelah kami yang orang Viet Nam menjelaskan bahwa hari itu adalah “Hari Anak Nasional”. Boleh juga idenya…
Lucu juga memperhatikan bis di Vietnam ini. Walaupun lalulintas didalam kota semrawut, di jalur luar kota cukup jarang kita melihat dare-devil driver seperti di jalur pantura. Satu dua kendaraan minibus menyalib tipis, tapi malah mereka yang jadi aneh. Pengemudi bis hampir tidak pernah menekan pedal gas ke lantai.

Hoi-An
Pagi hari kami tiba di Hoi An. Rupanya ada semacam kesepakatan antara pengelola bus dan pengelola penginapan yang mengarahkan kami ke penginapan yang “affiliated” dengan pengelola bus. Jadi bus tidak berhenti di kantornya justru di beberapa penginapan yang affiliated dengan perusahaan bus. Walaupun tidak ada paksaan samasekali untuk menginap di hotel yang dimaksud. Kalo kita punya pilihan hotel sendiri maka kita tinggal turun dan berjalan kaki atau mencari kendaraan ke penginapan lain.
Hoi An adalah kota pelabuhan tua yang sekarang sudah dilestarikan. Kebanyakan rumah di daerah kota tua sekarang dijadikan restoran, toko souvenir, lukisan, atau usaha menjahit pakaian. Untuk pengunjung dari negara maju, bisa memiliki baju yang tailor made memang merupakan kebanggaan sendiri. Kebanyakan penginapan diarahkan untuk berada di luar daerah kota lama. Di Hoi An, kita dapat membeli tiket untuk masuk ke beberapa bangunan yang dianggap paling tua dan bersejarah. Salah satu obyek yang bersejarah dan masih digunakan oleh masyarakat adalah Jembatan Jepang.
Jembatan ini ditandai dengan konstruksinya yang sangat berlebih, karena dibangun oleh orang Jepang yang terbiasa dengan gempa bumi. Disatu sisi pintu masuk jembatan dijaga oleh patung anjing dan disisi lain terdapat patung monyet. Ada yang beranggapan bahwa patung ini membawa lambang, bahwa kebanyakan kaisar jepang lahir pada tahun monyet dan anjing. Tetapi juga ada yang berkata bahwa ini lambang bahwa jembatan ini dibangun pada tahun monyet dan berakhir pada tahun anjing. Hoi An juga terkenal sebagai bekas daerah kekuasaan Kerajaan Champa, dimana kompleks candi besarnya terletak di My Son.
Hoi An sudah berada di Vietnam tengah. Tidak seperti Vietnam Selatan yang dipengaruhi dua musim; hujan dan kemarau, Vietnam Utara lebih banyak dipengaruhi oleh empat musim. Kali ini adalah musim panas untuk daerah di utara Tropic Cancer. Karenanya sejak di Saigon, seorang teman sudah memperingatkan bahwa pada tanggal-tanggal ini cuaca di Utara akan jauh lebih panas dibanding di selatan dan siang haripun akan jadi lebih panjang.
Kami sarapan di dekat hotel. Di kaki lima yang berjualan sering terlihat tulisan Cao Dao. Maka kami dengan sok tau memesan tiga mangkok Cao Dao. Ternyata pilihan tepat. Sup daging sapi dengan mie dari tepung beras, bumbu yang spicy, dan lalap daun-daunan aromatic seperti kemangi dan mint. Wah pas banget buat memulai hari. Tapi yang bikin kami menelan ludah adalah melihat cangkir teh komunal. Seusai makan hampir setiap orang mengambil gelas yang diletakkan terbalik di nampan, menggunakannya untuk menciduk teh di ember, diminum dan kemudian meletakkan kembali gelas ke nampan sebagaimana gelas lain yang nampak belum dipergunakan. Untuk sarapan, ada juga pilihan sandwich roti baquet á la Vietnam, dengan pilihan isi daging babi. Biasanya si penjual memasang pilihan isi sandwich cukup lengkap termasuk keju “La Vache qui Rire”. Lucunya sandwichnya berbumbu rempah-rempah yang sangat kuat.

Jajan Pasar
Duduk di pinggir sungai dekat pasar, kami mulai memperhatikan barang jualan yang ditawarkan. Ternyata para pedagang jajan pasar menawarkan jenis makanan yang tidak jauh berbeda dengan yang ditawarkan di daerah di pasar-pasar di pasar tradisional di Jawa. Kami melihat ketan, sejenis gemblong, dan kue pisang. Salah satunya yang paling mirip adalah penjual kembang tahu, dengan bumbu gula kelapa dicairkan dan ditambahkan Jahe. Kami sedikit berimajinasi, bahwa hal ini disebabkan oleh perkawinan Putri Kerajaan Champa dengan Raja Majapahit yang juga membawa jajan pasar ke tanah jawa. Padahal kalo dilihat lagi, lebih masuk akal kalo kesamaan jajanan ini adalah pengaruh budaya cina yang datang sesudah era kerajaan Champa. Anyway, sejarah ditulis oleh yang menang toh?
Saat memotret sore di Jembatan Cam Nam yang melintas Sungai Thu Bon satu persatu dari kami didekati seorang ibu yang mengaku bernama Madam Lang. Ia menawarkan jasa untuk berkeliling sungai dengan sampannya. Cuma ia meminta untuk tidak berangkat dari pelabuhan didekat pasar, tetapi justru di pelabuhan kecil dekat jembatan. Selesai dengan penawaran acara bersampan, Madam Lang juga menawarkan untuk memasakkan masakan Vietnam untuk kami. Bahasa inggrisnya yang terbata-bata tetapi tetap nyambung membuat kami tidak bisa menolak. “I cook, you eat, you like you pay, you don’t like no pay” Semuanya ditawarkan sambil tersenyum. Semenjak awal perjalanan kami merasa selalu terkurung dalam bingkai industri wisata. Mungkin sekarang saatnya untuk lepas dari itu semua dan mencoba untuk tahu sedikit keseharian seorang warga Vietnam. Ok, besok sore jam 16 seusai kunjungan ke My Son di jembatan ini kami janjian untuk ketemu.

My-Son, Buah karya Nenek Buyut
My-Son [baca: mi-son] adalah kompleks candi pemujaan kepada Shiva yang dibangun oleh Kerajaan Champa. Berbeda dengan Indonesia, kebudayaan Hindu di Vietnam tidak lagi berlanjut sesudah masuknya Agama Budha. Kami menggunakan Taksi selama 1,5 jam untuk tiba di kompleks candi. Kami memilih menggunakan taksi agar sampai di My-Son sebelum kelompok wisatawan tiba dan dapat melihat atmosfer candi sebelum terlalu ramai.
Karena petugas penjual tiket masuk kelihatan bingung dan tidak bisa berbahasa inggris, saya memilih untuk masuk kedalam area taman untuk mencari informasi lebih lanjut. Ternyata saya berselisipan jalan dengan perempuan cantik yang sedang membawa laptop dan kertas kerjanya keluar dari gedung perkantoran menuju gudang penyimpanan artefak. Dari dia saya tahu bahwa tempat saya membeli tiket sudah benar. Jawaban ini diberikan dengan aksen Italia yang sangat kental. Italia memang memberikan bantuan untuk pelestarian My Son, berupa tenaga arsitek untuk rekonstruksi dan arkeolog.
Setelah membayar tiket, akhirnya kami sepakat untuk berpura-pura nyasar ke bangunan gudang dimana Mbak Italiano tadi sedang bekerja. Dari pintu terlihat kotak-kotak berisi terracotta yang baru diselamatkan melalui penggalian dan sedang dalam penelitian. Silvia, belakangan kami tahu adalah arkeolog dari University of Rome. Sebelumnya ia sempat bekerja di penggalian Koloseum Roma. Kemeja lengan panjang berwarna khaki yang dilipat sebatas siku dan celana panjang birunya yang berdebu membuat saya seperti melihat cermin diri. Duh, andaikata keadaannya sedikit berbeda… konon memiliki pasangan seorang arkeolog sangat menyenangkan. Karena semakin tua, semakin disayang.
Dalam usaha untuk bisa lebih lama memandangi Silvia, kami mulai berceramah tentang sejarah Jawa yang punya kedekatan khusus dengan Champa. Apalagi Silvia mengaku bahwa ia adalah ahli India, namun bukan ahli Asia Tenggara. Silvia bercerita bahwa dia sedang riset selama empat bulan di My Son. Ia memillih My Son karena ia menemukan banyak simbol yang berasal dari India tetapi telah mengalami asimilasi di My Son. “Gee, you should come to Indonesia then. We’ll take care of you there….”
Silvia, do you know that the epics of Ramayana in Indonesia has different plot than in India? Di Indonesia, Rahwana tak pernah menculik Sinta. Adalah Rama yang terlalu dingin sebagai pria, sehingga Sinta memilih untuk sejenak bersama Rahwana. Walaupun Sinta sudah memasrahkan diri kepada Rahwana, Rahwana berkata:”Sinta…tak kan kusentuh kau seujung rambutpun. Sampai kau jatuh cinta kepada-ku”. (yang ini tak sempat saya ceritakan ke Silvia. Ide orisinilnya dari wawancara sebuah stasiun TV dengan Sujiwo Tedjo. Thanks for making Rahwana such gentleman)
Kami menawarkan untuk bercerita lebih banyak tentang sejarah Hindu dan pengaruh India di Indonesia sambil makan malam di Hoi An nanti. Sayangnya Mbak Indiana Jones wannabe ini mengaku jadwal risetnya sangat padat. Yah sudah lah….
Kami masuk lebih jauh ke dalam taman candi. Ternyata untuk mengurangi aktifitas yang mungkin menganggu keaslian candi, jarak antara pintu candi dan kompleks candi dibuat cukup jauh. Dan untuk itu pengelola menyediakan kendaraan antar jemput yang sudah termasuk dalam harga tiket. Dan karena kami hanya bertiga, maka kami diantar menggunakan shuttle car berupa Ford Utility M-151 MUTT(Military Utility Tactical Truck). Di Vietnam, naik Ford Utility sisa perang vietnam. What a boy’s dream!
Candi-candi di My Son, beberapa terbuat dari batu bata dan sebagian lagi dari batu cadas. Melihat ornamen pada candi sama sekali tidak terasa asing bagi orang yang pernah melihat Musium Gajah, Gedong songo, kompleks Candi Prambanan atau kompleks Candi di dataran Tinggi Dieng. Patung Shiva menari, Nandini – Sapi Suci yang menjadi kendaraan Shiva, lingga & yoni. My-Son adalah salah satu candi yang merekam pengaruh India di Asia Tenggara dan secara skala setara dengan Angkor di Kamboja, Pagan di Myanmar, Ayuthaya di Thailand, dan Borobudur di Jawa.
Kami kembali ke Hoi An, sambil mampir di Gereja yang terletak di puncak sebuah bukit kecil di desa Tra Kieu. Para arkeolog memperkirakan bahwa didesa inilah bekas Simhapura pusat Kerajaan Champa. Namun sudah tidak ada peninggalan bangunan yang dapat dilihat didaerah ini.

Madam Lang
Sesuai perjanjian dengan Madam Lang kami berangkat ke jembatan Cam Nam untuk bersampan. Dalam rombongan kami sekarang bertambah satu orang. Kiran, Irish yang sudah sembilan bulan berkeliling Asia. Kami bertemu dalam bus antara Nha Trang dan Hoi-An. Jadilah kami berempat menyeberang dengan perahu. Dimana akhirnya kami dibagi menjadi dua perahu. Semua perahu di sungai ini semuanya memiliki gambar mata pada bagian lambungnya. Konon ini adalah lambang keselamatan bagi si kapal.
Usai bersampan kami kembali ke jembatan dan memastikan untuk bertemu lagi pukul 18.30 untuk makan malam di rumah Madam Lang. Kami memanfaatkan jeda waktu untuk duduk di pinggir pasar yang menghadap ke sungai sambil minum air tebu. Banyak sekali yang menjual air tebu di Hoi An, tapi penjual di pinggir ini adalah yang paling enak rasanya dan paling kental diantara penjual air tebu lainnya. Masing-masing penjual air tebu memiliki resep sendiri-sendiri. Ada yang memberikan jeruk peras sesudah tebu diperas, ada yang membiarkan jeruknya di peras bersama dengan tebu, dan ada juga yang menambahkan nenas kedalam perasan tebunya. Tetapi semua memiliki kesamaan, dimana di meja tempat menghidangkan air tebu selalu disediakan garam. Rasanya ide garam ini cocok untuk mengganti mineral yang hilang terbawa keringat. Dengan kondisi cuaca di Hoi An saat ini, keringat cepat sekali keluar walaupun tidak sedang beraktifitas.
Ketika hari sudah gelap kami kembali ke dermaga untuk menyeberang menuju rumah Madam Lang. Ketika melihat kami tiba didermaga, Madam Lang tampak tertawa kepada seorang wanita didekatnya. Ternyata ia dan wanita itu bertaruh, walaupun tanpa uang, apakah kami akan datang memenuhi janji kami. Dan sekali ini Madam Lang benar karena kami menepati janji.
Sambil mendayung, Madam Lang dengan semangat berkata,”I cook you one dog and one cat!”. Glug! Rasa lapar saya hilang seketika. I don’t think I could eat them. They are too cute! Wah, jangan-jangan ada kesalahan komunikasi tentang “Vietnamese Cuisine”! Kiran dengan sigap menjawab, bahwa sebenarnya dia tidak begitu lapar.
Rumah Madam Lang terbuat dari kerangka bambu dengan dinding dan atap seng. Kami tidak bisa membayangkan panasnya saat siang hari dirumah ini. Tidak banyak perabotan di rumah yang berukuran kurang lebih lima belas meter persegi. Suami Madam Lang adalah nelayan yang menangkap ikan menggunakan jaring. Jadi mereka memang bukan keluarga yang berkelebihan. Tapi cukup mengherankan bahwa Madam Lang punya kosakata bahasa Inggris yang lumayan. Dua anak Madam Lang, salah satunya sedang mengalami panas yang cukup tinggi. Rupanya mereka tetap harus membayar jumlah uang yang cukup tinggi untuk berobat ke rumah sakit.
Madam Lang memasak untuk kami telur dadar, tumis kangkung, dan mie goreng dengan udang. Sebagai lalapan dihidangkan campuran daun-daunan yang didalamnya terdapat daun-daunan seperti kemangi dan daun mint. Lumayan untuk mengurangi rasa kangen terhadap masakan rumah. Saya makan agak cepat dan banyak, berharap bahwa kalo hidangan utama keluar, saya bisa mengaku sudah kenyang.
“Dog no good”, kata Madam Lang ketika karena penasaran pelan-pelan saya tanya, kenapa masakan anjingnya belum juga dikeluarkan. Syukurlah dia hanya bergurau tentang masakan daging anjing dan kucing. Agak tidak biasa, seorang wanita asia yang tinggal di pedesaan, bisa mengundang tamu kerumahnya untuk makan malam. Posisi wanita di masyarakat Vietnam tampaknya lebih setara dengan pria dibanding masyarakat Asia lainnya. Pedagang pikul yang kami temui rata-rata wanita. Konon hal ini dipicu oleh perang yang berkepanjangan dan kebijakan partai komunis yang menekankan kesamaan hak bagi semua warganegaranya. Atau apakah karena President Ho tidak menikah, sehingga dia bisa melihat wanita sebagai rekan yang setara?

New item on hit list
Pagi keesokan harinya, tinggal kurang dari 6 jam kami di Hoi An. Saya berjalan kepasar untuk melihat keseharian warga Hoi An. Saya masuk pasar senggol, tempat menjual perkakas pertukangan dan alat pertanian. Sederetan kios salon, yang penjaganya berteriak-teriak menawarkan haircut atau massage. Di bagian kota lama yang berdekatan dengan pasar saya terkejut-kejut melihat sebuah rumah yang terlihat masih asli Hoi An, karena tiang dan lantai atasnya terbuat dari kayu hitam, dijadikan penginapan. Cuma ada 8 tempat tidur yang terbagi jadi 3 kamar, dengan suasana yang autentik Hoi An. Jadi maaf, di penginapan ini tidak ada AC. Karena yang dijual adalah suasana didalam bangunan rumah asli Hoi An. Yang membuat saya agak kesal ternyata penginapan ini sudah berdiri cukup lama sebelum buku panduan kami diterbitkan, tapi ternyata tidak tercantum dalam buku kami. Pokoknya kalo anda ke Hoi An, tolong menginaplah disini sebagai pelampiasan dendam saya: Minh A – #2 Nguyen Thal Hoc. Telp 0510.861368, Mobile: 0903.583671. Kalo bisa mintalah kamar di lantai 2 yang menghadap langsung ke pasar. Ato kamar yang menghadap opening di tengah rumah. Aduh…!

Hoi An – Hué
Kami meninggalkan Hoi An pukul 14, setelah sehari sebelumnya melakukan rekonfirmasi ke perwakilan bis kami. Kami melewati perbukitan di pinggir pantai, dimana terletak kota Da Nang. Dulu, disinilah pangkalan terbesar pasukan Amerika selama perang. Marka jalan di perbukitan terawat dengan baik. Sesekali kami melihat rel kereta didekat jalan raya, untuk kemudian hilang dibalik bukit.
Dan kami tiba di Hué pukul 18.00. Yang agak mengesalkan, bis tidak berhenti di kantornya yang berlokasi dekat dengan pusat kota, justru bus kami mengarahkan kami untuk menginap di satu daerah hotel baru yang jauh dari Perfume River, yang sebenarnya adalah atraksi utama kota Hué. Karena sudah terlanjur merasa dibodohi kami memilih untuk berjalan agak jauh dari daerah hotel-hotel baru tersebut. Beberapa orang juga tampak marah kepada awak bis dan memilih naik becak.
Malamnya kami coba untuk berjalan ke daerah Pham Ngu Lao, dimana sebenarnya daerah penginapan backpakers berada. Cukup sepi untuk ukuran sentral penginapan tourist. Yang mencolok adalah tukang cyclo (becak) yang menawarkan untuk melihat tempat massage.
Kami makan malam dekat hotel di sebuah rumah makan sederhana dengan tulisan besar dibawah papan namanya “recommended by Lonely Planet”. Biasanya yang seperti ini menghadirkan suasana yang touristy. Tapi karena kelihatan ramai, kami mau juga mencoba. Ternyata didalamnya pengunjung bercampur baur antara warga Hué dan tamu asing. Namun suasana tetap hangat karena sikap para pelayan rumah makannya. Inilah salah satu kelebihan industri turis Vietnam; mereka tidak lalu memandang rendah warga negaranya sendiri. Di bis yang seharusnya hanya untuk turis kami bercampur dengan warga Vietnam yang juga menggunakan jasa bis. Dalam group tour kami juga beberapa kali berada dalam group yang sama dengan warga Vietnam yang ingin melihat kekayaan budaya dan sejarah negerinya sendiri. Berbeda sekali dengan beberapa tempat hiburan di Kuta yang pada masa booming turis nyata-nyata memajang tulisan menolak tamu lokal.

Makam raja-raja
Esok paginya, demi efisiensi waktu kami mendaftar City Tour menggunakan mini bus. Rencananya kami akan mengunjungi beberapa kuburan dinasti Nguyen, Benteng Hué, sebuah pagoda di tepi Parfume river dan kembali ke arah Hué menggunakan dragon boat. Ternyata keputusan menggunakan city tour cukup tepat. Letak kuburan raja-raja yang berjauhan dan cukup jauh dari kota. Kalaupun kami menggunakan kendaraan umum, rasanya tidak mungkin lebih murah dari US$ 8 untuk berputar-putar seharian. Tapi rupanya harga ini belum termasuk tiket masuk ke obyek-obyek yang untuk warga negara asing dikenakan sebesar VND 55,000, atau Rp 33,000.
Rupanya masing-masing dari ke tigabelas raja dinasti Nguyen memiliki makam sendiri-sendiri. Untuk hal ini, rasanya kita cukup berterimakasih kepada raja-raja jawa yang punya ide membangun kompleks pemakaman alih-alih membuat makam sendiri-sendiri. Seluruh kuburan ini sekarang sudah dinyatakan sebagai World Heritage Site oleh UNESCO. Dahulu pada awal komunisme berkuasa di Vietnam kuburan-kuburan ini sempat menjadi dirusak dan dibiarkan tidak terawat karena dianggap sebagai lambang feodalisme. Namun Guide kami memiliki keterangan yang lebih bijak. Menurutnya, rakyat pada saat itu hidup sangat susah sehingga mereka mengambil material kuburan ini untuk kemudian dijual sebagai penopang hidup. Lagi, sejarah ditulis oleh yang menang, bukan?
Kami mengunjungi tiga makam raja yang sudah berhasil di renovasi. Dan disalah satu makam raja saya tiba-tiba merasa berada di Trusmi, Cirebon, karena tiang kuburan dihiasi dengan motif yang plek sama dengan motif Megamendung khas batik cirebon.

Imperialis Amerika
Usai makan siang di Hué, kami menuju Benteng Hué. Dasyat, begitu besar tembok benteng ini. Dibagian depan tiang bendera besar mengibarkan bendera Vietnam berukuran besar. Aslinya, inilah kota tua Hue yang dikelilingi oleh parit. Namun bangunan yang masih berdiri hanya tinggal sedikit. Menurut guide kami, Imperialis Amerika yang menghancurkan melalui pengeboman udara selama perang Vietnam. Tak banyak yang kami bisa lakukan selain melihat kepada maket yang menggambarkan ketika benteng masih utuh. Belasan generasi telah tinggal di benteng ini. Bangunan yang sekarang kami kunjungi dahulu adalah Forbiden City dimana hanya keluarga raja yang boleh masuk dan pelayannya yang orang kasim. Hebat euy!
Sewaktu di My-Son, kami juga mendapati bahwa penjelasan mengenai kehancuran bangunan bersejarah di Viet Nam disebabkan oleh pemboman yang dilakukan oleh “Imperialis Amerika”. Tergelitik rasa ingin tahu saya, dan saya bertanya kepada guide saya, apakah ia akan menggunakan istilah yang sama “Imperialis Amerika”, jika di rombongannya terdapat orang Amerika? Ia menjawab, bahwa ia akan berkata bahwa bangunan itu hancur karena perang. Titik.
Usai melihat pagoda, kami kembali menyusur Perfume River dan berhenti di pelabuhan kecil di taman kota. Rupanya hari itu tepat sehari sebelum ujian nasional tingkat SMA. Saya menyaksikan pemandangan yang jarang, atau malah belum pernah saya saksikan di Indonesia. Taman kota yang juga tempat mendisplay patung-patung bekas Hue sclupture symposium, penuh dengan remaja yang duduk dan membuka buku pelajaran. Dan dari sekilas penglihatan kami, tidak tampak pelajar yang menggunakan catatan fotokopian.
Sore harinya, karena ingin minum kopi yang baik dan benar, kami mampir sebuah toko bernama La Boulangerie Française (http://laboulangerie.hue.free.fr/). Walaupun cukup kecewa karena ternyata mereka tidak memiliki esspresso maker, namun rupanya toko roti ini punya visi dan misi yang menarik. Didirikan oleh dua pelajar perancis yang bertujuan mendidik pemuda Viet Nam dari golongan yang kurang beruntung untuk dapat menjalankan sebuah usaha pembuatan roti. Menarik juga idenya. Apalagi gadis penjaganya ternyata cukup lancar berbahasa perancis. Kami berseloroh…politik etis.
Malam ini kami kembali menginap di bis menuju Hanoi.

The Capital: Hanoi
Bus besar tidak boleh masuk ke kota tua dimana area turis dan Danau Hoan Kiem berada. Jadi kami berhenti agak jauh dari pusat kota. Sebuah hotel menawarkan jasa untuk membawa kami ke tengah kota tanpa kewajiban untuk menginap di hotelnya. Kami ikut dengan mereka, hotelnya tidak terlalu buruk. Tapi kami hendak langsung pergi ke Halong Bay.

Halong Bay
Kami akhirnya memesan langsung dari hotel ini. USD 30 untuk perjalanan 3 jam dengan minibus menuju Halong City, dan semalam menginap di atas boat, full meals. Berdiri dipelabuhan penyeberangan ke Halong Bay, saya cukup terkejut melihat jumlah kapal tour operator yang berlabuh. Ada sekitar tiga puluh perahu junk yang mengantri untuk merapat ke pelabuhan. Padahal selama ini kalau melihat postcard atau foto tentang Halong Bay, kesan yang didapat adalah lokasi yang masih terpencil dan belum tereksploitasi industri wisata.
Acara pertama dikapal adalah makan siang. Asik juga, sambil melihat ke arah batuan kapur yang menjulang dari dasar laut. Karena pencucian batu kapur, maka air laut disekitar Halong Bay juga menjadi hijau. Ini mengingatkan saya pada green canyon di Pangandaran.
Halong Bay terletak di teluk besar yang bernama Teluk Tonkin. Tapi ketika guide kami ditanya, ada apa diselatan teluk Tonkin, ia hanya menjawab bahwa diselatan teluk Tonkin adalah “Ocean”. Walaupun secara budaya Vietnam sangat dipengaruhi oleh Cina, namun mereka berusaha membuat jarak dengan segala yang berbau Cina. Masalah penamaan lautan ini mengingatkan pada cerita tentang penamaan Samudera Hindia vs Samudera Indonesia.
Di rombongan kami yang berjumlah duabelas orang hanya kami bertiga yang berasal dari Asia. Salah satu peserta ternyata veteran surfer berusia 48 tahun asal Australia. Tingkahnya yang agak overacting terkadang membuat repot guide kami. Ketika tahu kami dari indonesia, dia mengucapkan selamat malam dengan lafal yang cukup baik. Ia kemudian bercerita bahwa ia mulai surfing di Bali semenjak tahun 1976! Bali tahun 76! Kok jadi ada rasa cemburu begini…
Usai makan siang kami merapat disebuah pelabuhan kecil untuk naik ke tebing. Disana terlihat mulut gua Thien Cung dengan tinggi mulut gua sekitar 10 meter. Masuk ruang pertama, ukuran gua masih belum mengesankan. Tetapi kemudian kami masuk kedalam celah yang sedikit lebih besar dari lebar badan dan sampai di ruang ke dua. Baru terlihat ukuran gua yang sebenarnya. Hampir sepanjang dua ratus meter dan tinggi 50 meter. Gua ini sudah ditata sedemikian baiknya termasuk pencahayaannya. Kami keluar gua melalui pintu lain, dimana dibawah kapal kami sudah menunggu.
Kapal berhenti disebuah teluk dan kano-kano di turunkan. Kami berkano masuk kedalam sebuah atol dimana laut terkurung dikelilingi dinding batu hampir setinggi 30 meter dan air laut mengalir masuk ke enclave ini melalui gua setinggi sekitar 1,5 meter dari permukaan air. Dari jalan ini pula kami mendayung kano.
Pukul enam sore mesin kapal dihidupkan. Kebanyakan penumpang terkejut karena sebelumnya diumumkan bahwa kita akan bermalam ditempat itu. Ternyata awak kapal memindahkan sedikit posisi kapal untuk mendapat tangkapan antene yang lebih baik untuk menonton televisi. Sore itu, kesebelasan Vietnam melawan kesebelasan Indonesia dalam Honda Cup. Wah, moga-moga awak kapal tidak kecewa dan berlaku anarkis kepada kami kalo kesebelasannya dikalahkan Indonesia!
Seisi kapal bertaruh. Kami harus memilih nomor punggung pemain dan asal kesebelasannya. Dan kalo pemain pilihan saya mencetak gol, maka saya harus meminum satu kaleng bir, ditambah dengan 11 kaleng bir lain dari peserta taruhan lainnya. Ini terjadi setiap terjadi gol. Untunglah pertandingan berakhir seri, dan hanya satu orang yang pemain pilihannya berhasil mencetak gol. Itupun dia tidak dipaksa untuk meminum semua bir yang dimenanginya. Kami makan malam ditemani U2.
Keesokan paginya kami mampir di pelabuhan di Pulau Cat Ba, untuk mengantarkan peserta tour yang akan melakukan trekking di Cat Ba National Park. Sisanya kembali ke Halong Bay untuk kembali ke Hanoi.
Kami menginap di tempat kami memesan city tour kemarin. Kami mulai mendapat pelajaran tentang berbagai taktik yang dimainkan hotel-hotel di Hanoi. Mereka bermain dengan komponen sarapan, AC. Bahkan disalah satu hotel mereka tidak ragu untuk mengingkari komitmen yang sudah ditawarkan sebelumnya. Karena itu kami selalu berpindah hotel setiap malam. Sampai akhirnya kami sampai di sebuah hostel yang dikelola warga australia yang tinggal di Hanoi.(Hanoi backpackers’ Hostel – 48 Ngo Huyen St, Hoan Kiem Hanoi, telp 84 4 828 5372, web: www.hanoibackpackershostel.com – tapi tampaknya tidak aktif). Walaupun hanya kamar dormitory, tetapi semuanya dikelola dengan standard yang baik.
Sebenarnya area kota tua di Hanoi didisain dengan cukup indah. Trotoir yang lebar, dengan rain gutter ditepi jalan, sayangnya saat ini rain gutter dibanyak tempat sudah menjadi saluran air kotor, dan trotoir banyak yang menjadi tempat parkir motor sehingga agak sulit berjalan di trotoir. Saat pagi hari biasanya petugas keamanan dan ketertiban berkeliling untuk mengingatkan pemilik motor agar tidak parkir di trotoir. Walaupun tampak ketinggalan beberapa tahun dari Jakarta, semua hotel di Hanoi menawarkan koneksi internet gratis bagi tamunya!

Mengunjungi Uncle Ho
City tour pagi ini dimulai dengan mengunjungi Presiden Ho Chi Minh. Demikian penjelasan di pintu metal detektor. Bahwa kami bukan memasuki mausoleum, tapi “to visit President Ho Chi Minh”. Setelah semua kamera dan hand phone kami titipkan kepada guide kami, kami harus melalui sebuah metal detektor dan tas tangan harus melalui x-ray scanner. Dari situ kami berjalan kearah bangunan mausoleum. Kami diharuskan mengantri dalam dua baris, melalui jalur yang sudah dipasangi tenda. Mendekati pintu masuk, kami mulai berjalan diatas karpet – walau terbuat dari plastik – berwarna merah, sebuah standard protokoler kenegaraan. Penjaga berpakaian putih-putih dengan senjata Automatik Kalasnikov 47 tampak mengawasi dengan ketat antrian. Teman saya diminta keluar dari antrian untuk diperiksa isi kantongnya, rupanya karena dompetnya terlalu tebal penjaga menyangka ia masih menyimpan kamera didalamnya. Dia juga diperingati untuk tidak memasukkan tangan ke kantong celana.
Masuk ke dalam bangunan maoseleum udara sejuk mulai menyergap. Di antara teralis penyejuk ruangan kami melihat beberapa kamera pengawas. Kami mulai menaiki tangga ke kiri, kemudian berbelok kekanan masuk ke ruang yang ditengahnya terdapat kotak kaca dimana jasad President Ho di baringkan. Lampu sorot kecil mencahayai tangan dan wajahnya. Kotaknya diletakkan agak tinggi, dan disetiap pojoknya dijaga oleh prajurit jaga. Kami dapat mengelilingi tiga sisi ruangan segi empat. Jalur jalan keliling ruangan ini dibuat tiga jalur, dimana jalur yang paling dekat dengan kotak kaca dibuat lebih tinggi dan di khususkan agar pengunjung anak-anak dapat melihat dengan lebih jelas Uncle Ho. Tidak mengherankan kalo remaja putri yang mengurusi pendaftaran city tour kami menyebut President Ho dengan sebutan “My Uncle Ho”. Di berbagai tempat penjualan postcard di Hanoi juga banyak kami temui kartu pos dengan gambar President Ho menggendong anak. Sebuah baliho besar di jalan utama, juga menggambarkan silouette Uncle Ho menggendong anak kecil.
Selesai kunjungan ini, kami diajak melihat museum dan bekas rumah tinggal President Ho Chi Minh. Di bekas kamar, dipajang peralatan keseharian President Ho. Yang menarik, di tempat tidurnya tidak tampak kasur, tetapi hanya tikar pandan. Di ruang makannya dipajang seperangkat peralatan makan keramik sederhana dan … rantang aluminium! Di ruang kerjanya masih dipajang buku-buku yang menjadi inspirasi perjuangan Ho. Mungkin ini yang digambarkan oleh kalimat Umar Kayam lewat kalimat low living but high thinking.
Sebagai pemimpin kharismatik, gambar-gambar Uncle Ho dalam kartu post lain adalah gambar Uncle Ho yang sedang bekerja, atau membaca, bukan gambaran pemimpin kharismatik yang gagah-gagahan dengan sejuta bintang perang didadanya. Disisi lain kebijakan Presiden Ho yang menerapkan gaya Stalin dalam politik dan ekonomi, termasuk mendirikan “re-education camp” dan perlakuannya terhadap kaum intelektual banyak disesalkan berbagai pihak.
Setelah itu kami berjalan melalui Mango Lane. Sebuah jalan dimana di kiri dan kanannya ditanami pohon mangga. Pohon mangga adalah tumbuhan asli daerah Selatan Viet Nam. Presiden Ho mendedikasikan sebuah jalan di dalam lingkungan istana negara untuk menjadi perlambang persatuan Vietnam Selatan dan Utara.
Di lantai bawah bungalow President Ho terlihat meja rapat tempat dimana rapat dengan menteri-menterinya sering dilakukan. Bungalow ini juga dijaga oleh pasukan berseragam putih. Sekali lagi di ruang tidur dan ruang kerja di bungalow ini juga digambarkan kesederhanaan President Ho dan tidak lupa…tumpukan buku-buku.
Setelah itu kami mulai masuk ke Musium Ho Chi Minh. Saya mengharapkan didalamnya adalah sebatas memorabilia President Ho, atau gambar-gambar kenangan. Ternyata didalam musium ini, pesan-pesan disampaikan melalui seni instalasi. Penggambaran kondisi Vietnam pada masa penjajahan. Pemikir-pemikir yang sangat berpengaruh pada President Ho, seperti Lenin, Stalin dan Karl Marx. Kondisi dunia saat perang dingin, sampai diorama tempat kelahiran President Ho. Sekali lagi digambarkan bahwa President Ho adalah seorang rakyat biasa yang lahir di gubuk di pinggir sebuah kolam teratai. Di pinggir diorama tersebut baru diberi keterangan dan benda-benda bersejarah seperti foto, tulisan tangan, dan kliping tulisan President Ho di L’Paria, harian golongan kiri di Perancis. Yang mungkin belum ada adalah, gambaran bagaimana faham komunis saat harus menghadapi pasar bebas. Atau keberadaan saya dan turis-turis lainnya dalam musium ini adalah jawaban bagaimana reaksi komunisme terhadap tekanan pasar bebas.
Saat makan siang, kami kembali ke daerah kota tua. Tidak jauh dari tempat kami makan, terlihat dua kios pembuat stempel dari kayu. Kami memang membaca di buku petunjuk perjalanan, salah satu kenang-kenangan khas Viet Nam adalah stempel nama yang ditulis dalam kata bahasa Viet Nam tetapi ditulis dalam aksara Cina. Jadilah kami semua memesan nama kami dalam stempel kayu. Masing-masing dari kami juga minta dijelaskan arti nama kami dalam bahasa Viet Nam. Entah serius atau sekedar menyenangkan hati kami, semua nama kami memiliki arti yang indah.
Selain membuat stempel Mr. Pham Ngoc Toan juga membuat stempel dengan gambar dan cetakan untuk membuat kue. Setiap membuat order nama, dia akan minta pemesannya untuk menuliskan namanya di selembar kertas. Kemudian ia mulai memecah sukukata kedalam bahasa Vietnam, kemudian ia membuka kamus bahasa Vietnam-Cina sambil menerangkan arti sukukata kepada pemesannya. Jika ia kesulita menjelaskan kepada tamunya, ia akan memanggil anaknya yang ternyata membuka kios disebelahnya.
Di kartu nama Pham tertulis “Two Golden Hands of Viet Nam” yang ternyata ia penerima medali dari pemerintah karena kepiawaiannya mengukir. Ia menunjukkan medalinya, dan gambar fotonya di buku travel guide berbahasa Jepang. Dengan segala pengakuan itu, Pham tidak terlihat greedy atau sok sibuk. Pernah kami bermaksud memesan lebih banyak stempel, tapi ditolak dengan halus karena ….ia sedang menonton pertandingan bola! Ah, Communist-hedonist…
Ketika kami berpisah, kami meninggalkan uang kertas Indonesia sebagai souvenir, yang ternyata cukup menarik perhatiannya adalah gambar orang yang mendayung perahu ditengah sungai, sebuah pemandangan yang juga umum di Vietnam. Indonesia … Viet Nam… same-same, huh?

Museum Vietnam
Museum pertama yang kami kunjungi adalah musium Etnologi Viet Nam. Bangunan dua lantai yang dibangun atas bantuan pemerintah perancis. Isi dalamnya lebih kepada pengenalan berbagai etnik yang ada di Viet Nam, khususnya suku-suku yang masih tinggal di pegunungan.
Salah satu suku memiliki teknik menenun dimana serat dari tumbuhan yang akan ditenun terlebih dahulu di beri pewarna dengan cara mencelup. Dan bagian serat yang tidak mau diberi warna, diikat dengan kuat agar bahan pewarna tidak masuk. Dalam poster yang menjelaskan metode ini, jelas-jelas disebut bahwa teknik ini disebut teknik “ikat”, persis seperti yang dilakukan masyarakat didaerah nusatenggara.
Musium berikutnya adalah Viet Nam Fine Art Museum, yang mengkoleksi contoh-contoh lukisan pelukis vietnam dari berbagai era. Tampak sekali perubahan tema ketika tahun-tahun komunis mulai memimpin Viet Nam, dimana penuh gambaran yang revolusioner; buruh, tentara, produksi.
Terakhir, kami mengunjungi Temple of literature. Ini juga satu obyek yang pada saat komunis baru berkuasa, dianggap kontra revolusi.

Tentang Hanoi
Rasio sepeda motor terhadap jumlah penduduk di Hanoi adalah satu berbanding dua. Namun kebanyakan orang Vietnam melihat sepeda motor sebagai alat produksi; Pergi ke kantor, membawa barang dagangan, dll. Untuk masalah membawa barang, seorang fotografer asing telah membuat buku yang mendokumentasikan berbagai atraksi membawa barang dengan motor. Mulai dari hewan ternak, cetakan es balok, bahkan ban truk. Namun entah karena kesadaran sepeda motor sebagai alat produksi atau karena dilarang oleh peraturan, selama kami di Vietnam kami tidak menemukan sepeda motor yang dijadikan sarana ekspresi diri pemiliknya dengan mengganti knalpot berisik dan modifikasi lain yang tidak bersifat fungsional. Lalulintas di Hanoi memang padat, tapi yang mengherankan adalah kami tidak menemukan kemacetan akibat antrian. Semuanya padat tapi lancar. Dengan tingkat hampir tabrakan yang cukup sering, cukup aneh bahwa kami tidak pernah mendengar sumpah serapah di jalanan.
Di jalanan Hanoi masih banyak terlihat sepeda motor tipe bebek C-50 dan C-70 super cub, keluaran pabrik Honda yang kalau di Indonesia sudah hampir menjadi motor antik. Honda merupakan merek bergengsi di Viet Nam. Namun penjual motor di Viet Nam juga menggunakan taktik merek plesetan dengan menjual merek motor Honcda, dan pada stripping stikernya ditulis dengan cukup mencolok menyatakan bahwa motor tersebut adalah buatan Indonesia. Kata-kata “buatan Indonesia” di Viet Nam ternyata memiliki nilai jual. Bahkan tim sepak bola Indonesia dianggap sebagai tim yang superior oleh masyarakat Viet Nam.
Di kota tua, setiap jalan memiliki spesialisasi sendiri-sendiri. Ada jalan yang menjual perlengkapan sembahyang, perlengkapan rumah tangga, perlengkapan sepeda motor, obat-obatan, sepatu, perhiasan dan uang kertas untuk persembahan kepada arwah ketika sembahyang.
Walaupun harga BBM di Vietnam lebih mahal, harga makanan di Vietnam tidak lebih mahal dari Jakarta. Biasanya kita membandingkan biaya hidup di suatu negara kita menggunakan menggunakan BicMac Indeks. Tapi berhubung di Vietnam tidak ada McDonald, mari membandingkannya dengan Noodle Soup Index. Kami dapat menikmati semangkok beef noodle soup untuk harga yang kalau dikonversi sekitar Rp 10.000, dengan jumlah daging yang jauh lebih banyak dari sebutir bakso. Atau menggunakan Index Air Tebu, dimana di Vietnam dijual sekitar 2000 Dong, atau Rp1200.-. Rupanya untuk keperluan rumah tangga dan niaga, masyarakat Hanoi lebih banyak menggunakan briket batubara sebagai bahan bakar, sehingga rumah tangga dan harga makanan matang tidak terlalu terpengaruh oleh harga bahan bakar minyak.
Malam terakhir kami menonton Water Pupet Show. Boneka seperti wayang golek yang dimainkan diatas air. Para dalang yang berjumlah sembilan orang berdiri dibalik layar bambu. Setiap boneka muncul dari air karena sang dalang menahannya menggunakan batang kayu. Sebenarnya bentuk kesenian ini aslinya berasal dari Delta Sungai Mekong. Banjir yang tiap tahun melanda Sungai Mekong, menginspirasi warganya untuk membuat pertunjukan Wayang Golek dengan panggung air. Cukup kreatif dan orisinil, dimana ada adegan perkelahian dua naga yang menggunakan kembang api dan petasan, telur angsa yang kemudian “menetas” dan boneka anak-anak angsa berenang-renang diatas air. Pertunjukan ini dimulai dengan pertunjukan kelompok musik tradisional Vietnam.

Bia (Beer)
Dari Vietnam Selatan ke Utara kami berhasil menemukan paling tidak tujuh merek bir(bia) berbotol yang masing-masing punya daerah distribusi. Di daerah Selatan, tampaknya yang berjaya adalah Saigon Bia, dengan dua jenis; Lager yang berlabel hijau dan Export yang berlabel Merah. Larue Bia tampaknya berkuasa di selatan sampai ke Vietnam Tengah. 333 (dibaca; ba-ba-ba) di daerah Vietnam Tengah. Huda Bia dan Festival mulai dari tengah ke Utara. Hanoi Bia di kota Hanoi. Dan justru di Hanoi kami menemukan Saigon Premier yang tidak kami temui di kota Saigon sendiri. Di Hanoi sendiri banyak warung yang menjual “Bia Hoi Viet Ha”, bir yang dijual langsung dari drumnya, dengan harga yang hampir sama dengan perasan air tebu yaitu 2500 Dong/gelas atau 7000 Dong/liter atau sekitar 4200 Rupiah/liter. Yang membuat saya memalingkan kepala adalah ketika penjualnya menghisap selang dengan mulutnya untuk mengalirkan bir, dan sesaat bir mengalir langsung di tuang ke gelas. Anyway, alcohol kills the germ. (but not avian flu virus..he..he…). What a heck, duaribulimaratus Dong kok minta higienis! Dari hasil survey kami memutuskan bahwa yang paling cocok dengan lidah kami adalah Saigon Bia – Lager. Karena tidak terlalu pahit dan tidak terlalu berat.

Terbang pulang
Beruntung kami menggunakan Vietnam Airlines, karena mereka menyediakan shuttle mini-bus dari depan kantornya yang dekat dengan Danau Hoan Kiem, sehingga cuma butuh US$ 2 untuk sampai ke airport yang memang cukup jauh. Kalo harus menggunakan taksi butuh US$ 10 untuk sampai ke airport.
Dalam perjalanan ke airport, kami dibuat menggaruk-garuk kepala, melihat sebuah jembatan yang melintas sungai. Tidak hanya panjang, jembatan ini…bertingkat dua. Beberapa hari sebelumnya, di TV nasional juga diberitakan bahwa Presiden Viet Nam baru saja meresmikan terowongan terpanjang di Asia Tenggara, di daerah sebelah timur Da-Nang. Seakan akan mau bilang,”Ucapkan selamat datang kepada Macan Asia”.
International Airport Hanoi masih tampak lengang. Mungkin baru kurang dari seperempat ruang tunggunya yang dipergunakan. Tampak beberapa first time flyer bersama dengan kepala rombongan tournya. Petugas bandara juga masih tampak bingung menggunakan mesin konfirmasi boarding pass di pintu belalai, sampai akhirnya dirobek secara manual. Itupun bagian kecil dari boarding pass yang diberikan kepada penumpang, bukan sebaliknya seperti umumnya bandara lain.

Catetan Tambahan :
• Untuk practicalities, lihat guide book aja ya, karena terlalu buanyak kalo di jelasin disini. Lagipula pilihannya sangat banyak, sedangkan yang kami coba sangat terbatas.
• Buat yang mau pergi ke Viet Nam, layak untuk pertimbangkan lewat jalan darat JKT – Pontianak – Kuching – Sing – KL – BKK – PhnomPhen – SiamRiep – Saigon – Hanoi – Beijing – Trans Siberia Railway – Moskow – trus masuk Eropa. He..he..he… Bus Pnom Phen – Saigon : USD 4 !!.

Tagged as: , , , , , , , , , ,

Puguh is
Email this author | All posts by Puguh

Bookmark and Share

One Response »

  1. [...] 6. Saya kurang tahu karena ngga naik bis. Mungkin bisa dibaca CatPer-nya Puguh tentang Buspacking disini : http://www.indobackpacker.com/2005/07/buspacking-viet-nam/ [...]

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

Home | About Us | Disclaimer | Credits & Contributor | Join a Contributor | Our Contributor |
Komunitas Backpacker Indonesia | Indobackpacker.com | Travel Photography | Mailinglist Archive | Mailinglist Forum

Copyright ©2004-2009 Indonesia Backpacker Community All rights reserved. All articles and Images may not be reproduced in any form without the express written permission of the copyright holder | All Information contained on this site may not be used for commercial purposes,
for more information please Contact
admin At indobackpacker.com | Powered by the WordPress

Creative Commons License
Except where otherwise noted content on this site is licensed under a
Creative Commons Licence.