Foto-foto : Erwin Yulianto
Tak ada yang istimewa dalam perjalanan Pontianak – Kuching kecuali bahwa segalanya serba tepat waktu. Bis berangkat pk. 21, tiba di Entikong pk. 4:40 dan berhenti di Terminal Bas (yup, bas kata orang M’sia. Bukan bus atau bis) Regional Kuching pk. 9 waktu lokal (BBWI+1). Sarapan sebentar dan lanjut lagi ke Kuching pakai taksi.
Kami turun di B&B Inn (pesan kamar untuk besok) dan berjalan kaki menuju pasar. Kuching benar-benar kota yang menyenangkan: jalannya bersih, kelakuan pengemudinya tertib, penuh dengan bangunan-bangunan tua yang terpelihara (mesjid, kelenteng, gereja, istana, dll), kabarnya crime rate juga sangat rendah. Hotel-hotel terkenal banyak ditemui disana, mulai dari bintang 5 diamond s/d kelas melati, mawar dan kamboja..
Dari Kuching hanya perlu 1 jam perjalanan ke Kampung Bako, ongkosnya RM 1.5 (pasti disubsidi tuh..). Di jetty Kmp. Bako sudah menunggu sebuah perahu, tarifnya RM 40 sekali jalan ke Bako National Park. 45 Menit kemudian kami pun mendarat di jetty Bako National Park, lapor diri dan bayar biaya untuk tenda. Operasi teritorial dimulai, sasaran
pertama: camping ground. Hmm..
Foto-foto : Erwin Yulianto
Sabtu, 18/06/05
Sta. K.A – Terminal bis – Bandara
Sukarno-Hatta – Bandara Supadio – Kantor SJS
Sesuai kesepakatan, kami bertemu di stasiun kereta api Depok Baru. Hari ini adalah hari pertama dalam perjalanan kami dan tampaknya kami hanya akan sibuk berpindah dari satu moda angkutan ke lainnya. Dimulai dengan MRT-nya penduduk Bogor dan Depok (MRT = Maaak.. Rame Teruuss !!) alias kereta api kaum proletar dan masyarakat pinggiran, disambung dengan bis khusus Pasar Minggu – Bandara Sukarno-Hatta dan akhirnya besi terbang buatan Boeing, sampai juga kami di bandara Supadio (Pontianak). Langsung menghadapi masalah klasik backpacking: data ongkos di buku dan di bumi tak sama.
Data terakhir (+/-30 hari lalu) taksi bandara – kantor bis SJS cuma 30rb dan sekarang 45rb. “Sudah naik mas”, kata mereka. “Kami baru saja demo menuntut kenaikan tarif”, tambahnya lagi. Bau amis nih.. naiknya langsung 50%???. Seorang backpacker haram
hukumnya tertipu di ongkos, kami pikir soal taksi ini baiknya ditunda dulu, isi perut di jajaran warung depan bandara adalah lebih penting. Nasib baik, seorang bapak juga mengantarkan adiknya ke kantor SJS dan kami diajaknya serta sekaligus dia pesankan 2 tiket jurusan Pontianak – Kuching atas nama Simon Pardede dan Erwin Yulianto lewat HP-nya. Selesai masalah.
Minggu 19/06/05
Entikong dan Tebedu – Kuching – Kampung Bako – Bako Nat. Park
Tak ada yang istimewa dalam perjalanan Pontianak – Kuching kecuali bahwa segalanya serba tepat waktu. Bis berangkat pk. 21, tiba di Entikong pk. 4:40 dan berhenti di Terminal Bas (yup, bas kata orang M’sia. Bukan bus atau bis) Regional Kuching pk. 9 waktu lokal (BBWI+1). Sarapan sebentar dan lanjut lagi ke Kuching pakai taksi.
Kami turun di B&B Inn (pesan kamar untuk besok) dan berjalan kaki menuju pasar. Kuching benar-benar kota yang menyenangkan: jalannya bersih, kelakuan pengemudinya tertib, penuh dengan bangunan-bangunan tua yang terpelihara (mesjid, kelenteng, gereja, istana, dll), kabarnya crime rate juga sangat rendah. Hotel-hotel terkenal banyak ditemui disana, mulai dari bintang 5 diamond
s/d kelas melati, mawar dan kamboja..
Dari Kuching hanya perlu 1 jam perjalanan ke Kampung Bako, ongkosnya RM 1.5 (pasti disubsidi tuh..). Di jetty Kmp. Bako sudah menunggu sebuah perahu, tarifnya RM 40 sekali jalan ke Bako National Park. 45 Menit kemudian kami pun mendarat di jetty Bako National Park, lapor diri dan bayar biaya untuk tenda. Operasi teritorial dimulai, sasaran
pertama: camping ground. Hmm.. letaknya tepat dipinggir hutan dan kamar mandinya kotor. Bangunan yang ada disanapun tak terawat. Tujuan kami pergi ke Bako bukanlah untuk uka-uka, uji nyali, ataupun bedah rumah, maka kami putuskan untuk tidur di pondok tamu saja, tidur di tendanya lain kali (kalau indobackpacker bikin acara kesana). Sasaran berikut adalah Visitor Information Centre. Dari sana kami tau bahwa aktivitas utama di Bako N.P. adalah jalan-jalan di hutan melalui trail yang ada. Ada banyak trail, yang tersingkat adalah 60 menit dan terjauh 14 jam (pp). Kami memilih Jalur Telok Paku, 2 jam pp, berakhir di pantai dan berjumpa dengan bekantan (monyet berhidung bulat panjang). Di teluk kecil inilah terdapat sebuah batu karang berbentuk paku yang fotonya selalu ada di brosur-brosur tentang Bako N.P. Setelah kembali lagi di HQ kami lanjutkan lagi dengan trail tersingkat: Tanjung Sapi. 40 menit tapi mendaki secara konsisten dari pantai dan berakhir di sebuah kursi panjang dengan atap seng, tepat dipuncak
bukit. Dari situ kita bisa memandang seluruh teluk dimana kompleks Bako N. P. berada. Terhibur juga dengan panorama indah itu… ditambah lagi dengan panorama matahari terbenam yang bisa kita saksikan sambil duduk di tepi pantai, setelah turun dari puncak bukit tsb… Aaaahhhh satu hari yang indah…
Senin 20/06/05 Bako N.P. – Kampung Bako – Kuching
Perjalanan kembali ke Kuching dimulai pk. 11, kali ini perahu dimuati oleh 4 orang. Saya, Erwin dan sepasang orang Inggris: Roger dan Laura (yang sudah ber-backpacking selama 6 bulan dan masih akan berlanjut 7 bulan lagi). Dari Kampung Bako ke Kuching kami
naik minivan. Seharian kami sightseeing Kuching dan rasanya semakin memikat saja kota tua ini.. Waterfront-nya begitu mempesona (kecuali daftar menu dan harga dari warung tenda disekitarnya). Pendeknya, Kuching memang kota yang membuat betah, kira-kira seperti Yogyakarta (awal 90-an dan sebelumnya).
Selasa 21/06/05
Kuching airport – KK airport – Taman Negara Kinabalu (TNK)
Hari yang tak terlupakan. Tergesa-gesa karena khawatir kantor Taman Negara Kinabalu tutup, kami langsung naik bas yang akan berangkat dan membayar RM 5 lebih mahal. Akh.. Kota Kinabalu.. belum lagi 1 jam kami disana, sudah membuat menderita (ada cerita menarik tentang ini, kita bahas nanti). Hanya 1 jam dari KK ke pintu Taman Negara Kinabalu (TNK), panorama dan jalannya persis seperti Bandung – Subang, bahkan papan nama dan tikungan (M’sia: lencongan(?)) jalan masuknya pun mirip dengan pintu masuk (yang lama) ke Tangkuban Parahu. TNK sejak 6 bulan lalu dikelola oleh pihak swasta (Sutera Sanctuary Lodges) bersama dengan Poring Hot Spring dan Manukan Island. Akibatnya, turis ke TNK semakin banyak dan perlu reservasi dulu 3 bulan sebelum mendaki (www.suterasanctuarylodges.com). Kami penuhi semua ketentuan pendakian disini dan mendapat tempat tidur di
Menggilan Hostel. Pendakian dimulai besok pk. 7 dan ada briefing pk. 18 sore setiap hari. Selalu begitu. Pk. 20 saya kembali ke hostel setelah makan malam yang enak di R.M. Bayu Kinabalu. Tampak dari hostel, kerlap-kerlip sinar lampu di punggung Gunung Kinabalu: Laban Rata. Syahdu sekali malam itu.
Rabu 22/06/05 Laban Rata
Dengan diantar mobil Toyota Usher (Ind: Kijang Krista) kami tiba di Timpohon Gate 10 menit perjalanan dari Kantor Taman Negara. Saat kami tinggalkan, pelataran kantor mulai dipenuhi para pendaki. Antusiasme terasa menghangati udara pagi Kinabalu yang dingin. I love the spirit! Tua, muda, anak-anak, bapak-bapak, ibu-ibu, bercampur dengan para guide yang sibuk memanggil-manggil klien-nya, semua ada disana. Saya tersenyum pada 3 orang ibu paruh baya dari Jepang. Bukan main!! Paling tidak usia mereka 45 tahun!. Saat itu pk. 7 pagi dan cuaca cerah: awal yang baik untuk mendaki.
Jalur yang kami lalui jelas terawat, selalu ada tangga kayu atau susunan batu yang memudahkan kaki ini menapak. Setiap jarak (datar?) 500 m ditandai dengan patok dan setiap 1 km patok juga dilengkapi dengan peta jalur. Dengan begitu para pendaki mengetahui, berapa lama lagi harus “menderita”
Selain terawat, jalur juga sangat bersih, hampir tak ada sampah. Pada tempat-tempat yang strategis dibuat pondok-pondok untuk beristirahat, lengkap dengan tong air, toilet dan tempat sampah. Ada 7 pondok/shelter antara Timpohon dan Laban Rata, dan 1 shelter (sekaligus sebagai check point) antara Laban Rata dan puncak gunung, yaitu Sayat-sayat Hut. Setelah 7 jam perjalanan yang menyejukan mata karena banyaknya panorama indah, tibalah kami di Laban
Rata. Laban Rata adalah nama sebuah bangunan/rumah. Selain Laban Rata ada lagi Waras Hut, Gunting Lagadan dan Panar Laban. Kesanalah 161 orang pendaki “didistribusikan” dan bersiap sebelum menggapai puncak pagi hari esok. Dari semua hut itu, Laban Rata adalah “titik pusatnya” karena satu-satunya restoran berada disana (juga helipad dan telepon umum kartu!). Kita dapat menikmati
makanan panas di restoran itu (ketinggian 3200-an m dpl), seraya memandang ke lembah-lembah dan jajaran bukit-bukit dikejauhan:
Sabah highland, kampung halaman para guide dan porter di TNK. Atau anda lebih suka duduk di teras restoran dan menikmati gemuruh air yang deras mengalir tepat di hadapan? Atau mungkin melihat sekeliling dan memperhatikan orang-orang dengan aktivitasnyammasing-masing? Tentukan pilihan anda, semuanya menyenangkan kok!
[NB: terbiasa dengan kondisi tanpa fasilitas di gunung-gunung di Indonesia, saya merasakan sensasi yang sedikit aneh dari "atmosfir"
ini. Kemungkinan besar pendaki gunung dari Indonesia juga akan merasakan hal yang sama. Kita sebut saja situasi ini sebagai: "gagap fasilitas"??
]
Kamis 23/06/05 The Summit
Setelah “jalur enak” dari Timpohon Gate hingga Laban Rata kemarin (6 km), dini hari ini para pendaki menghadapi segmen tersulit dari keseluruhan jalur (saya pribadi secara ngawur menyebut hal ini sebagai: “kepribadian yang asli” dari sebuah gunung). Laban
Rata ke Low’s Peak berjarak sekitar 2,7 km, jalurnya tetap enak ditapaki tetapi kali ini lebih terjal (kemiringan: 45° – 70°) dan licin (basah karena kabut malam). Pendakian dimulai pk. 2:30, saat tubuh biasanya sedang beristirahat, ditambah lagi sehari sebelumnya stamina telah terkuras karena 7 jam “funtrekking”. Jangan lupa juga satu hal: Negara Bagian Sabah dikenal sebagai “The land below the wind” dan tampaknya Gunung Kinabalu adalah salah satu dari “pabrik angin” di Sabah. Anehnya, dengan kondisi seperti itu, para pendaki memulai pendakian dengan sangat terburu-buru! Not good! Nampaknya tiap orang termotivasi oleh motto: “now everyone can climb” tapi sedikit yang menyadari bahwa “you can also get mountain sickness”.
Jalur senantiasa terjal sejak kami meninggalkan Laban Rata dan terkadang barisan pendaki terhenti 2 atau 3 menit karena pendaki terdepan beristirahat. Saat itu bila saya memandang ke atas, tampak titik-titik lampu senter sambung-menyambung sampai jauh diatas, seolah seekor ular merayapi punggung hitam Kinabalu yang basah. Km. 7, Sayat-sayat Hut. Kami diregistrasi ulang untuk alasan keselamatan dan Low’s Peak hanya tinggal 1.7 km lagi. Berada di “ekor ular” membuat saya melewati dan menyaksikan
orang-orang yang berhenti mendaki karena mountain sickness dan juga kedinginan. Dari cerita para guide di Sayat-sayat Hut, perkiraan kasar antara 15 – 20% pendaki bertumbangan di segmen Laban Rata – Sayat-sayat Hut.
1,7 Km terakhir jalur pendakian hanyalah berupa batuan granit yang ditandai dengan tali putih hingga puncak. Km 7,5: Stamina sudah merosot neh..!, harus memompa semangat!! Harus ingat cerita-cerita pendaki top jaman dulu dan sekarang… bagaimana mereka
bertahan dalam kondisi yang lebih parah dari ini. Ingat Tenzing Norgay, Edmund Hillary, Heinrich H., dll Ini yang disebut dengan: mentalitas juara. Tak menyerah sampai kapanpun!. Yang kedua adalah mentalitas Paman Gober: harus ingat setiap rupiah yang dikumpulkan tiap bulan, beratnya menahan nafsu demi tabungan, juga total biaya yang sudah dikeluarkan sampai detik ini. Masak sih
setelah berhitung, tetap ngga semangat??? Never.. never.. neverrrrr surrenderrrrrr!! He he he yang jelas, salah satu atau kedua mentalitas ini dijamin bikin semangat tidak padam….
Pk. 6:15 akhirnya saya tiba di Low’s Peak, yang dipenuhi orang-orang yang sibuk saling berfoto. Para guide juga sibuk mengingatkan para pendaki untuk bergantian berdiri di titik tertinggi tersebut seraya mengingatkan bahwa sebentar lagi semua harus turun karena kabut akan menutupi seluruh puncak Kinabalu. Pk. 6:30 perjalanan turun yang dimulai. Saat itu dunia indah sekali terlihat.. dan langkah kaki lebih ringan. Sepanjang 20 menit pertama, kami berjalan turun sambil memandang South Peak yang terkenal itu, seolah trophy bagi para pendaki yang pulang. Pk. 9 kami sudah memesan makanan di Laban Rata, pk. 10:15 perjalanan turun dimulai, dan pk. 15 kami sudah tiba di kantor depan, mengambil backpack Erwin yang kemarin dititipkan disana.
Ternyata semua tempat tidur di park HQ hari ini sudah penuh. Untunglah pemilik restoran Bayu Kinabalu juga memiliki tempat penginapan yang tak jauh dari situ, Bayu Lodge namanya. RM 10/nite/pax. Tanpa banyak teori kami membayarnya dan langsung ngacir kesana. Beres-beres dan tidur… zzzz….zzzzz….zzzz Pk. 20 dibangunkan oleh layanan pesan-antar dari restoran (khusus untuk kami berdua). Terima kasih pak! Maklumlah… kaki ini sudah seperti tiang pancang jalan tol. Kaku ngga bisa ditekuk..!
Jumat 24/06/05 Bayu lodge – KK bus terminal – KK airport – Senai airport – Singapore
Penerbangan kami hari ini adalah pk. 21, masih banyak waktu dan Erwin memutuskan untuk mengunjungi Poring Hot Spring, saya sendiri memilih untuk kembali ke Kantor Taman Negara dan melihat apa yang belum sempat saya lihat kemarin. Ada 9 trails, lapangan golf, segerombolan rumah tamu dan beberapa hal lain seperti tayangan pandang-dengar tentang Gunung Kinabalu, souvenir shop dan gedung tempat pegawai TNK bekerja. Cukuplah jalan-jalan pagi ini untuk melemaskan otot kaki yang kaku.
Tepat pk. 14:40 kami naik minivan menuju KK, di dalamnya ada seorang penumpang, orang Indonesia dari Enrekang. Darinya kami tau bahwa di KK cukup banyak orang Indonesia dan mereka adalah “penguasa” taksi dan bas. Pantas ada calo di terminal bas kemarin! Setibanya di terminal bas kami makan dan setelah itu saya pun mendatangi kumpulan taksi disana, tawar-menawar ongkos ke airport. Betul-betul seperti di tanah air gaya mereka. Kali ini kami mendapat harga bagus. Sembuhlah sudah luka batin kemarin. :p
Sabtu 25/06/05
Little India – Chinatown – Clarke Quay – ferry terminus
Kami naik bas terakhir di Senai airport (airport-nya Johor Bahru) yang menuju terminal bas Johor Bahru (Larkin). Disana menunggu taksi resmi yang akan mengantar kami masuk ke Singapura. 1 Jam kami menunggu. Bosan juga tapi memang tak ada pilihan lain (tawaran taksi gelap tak termasuk dalam opsi tentunya.). Sedikit terhambat di check point Singapura dan akhirnya kami berhenti di Queens st. pk. 2 dini hari. Acara dilanjutkan dengan mencari hotel. Backpacker hotels umumnya mengunci pintu antara pk. 1 hingga pk. 4 pagi di Singapura, meskipun demikian ada banyak hotel di Singapura dan kami mendapat tempat di hotel kecil di depan Sim Lim. Langsung mandi dan tidur…! Pk. 10 kami sudah duduk manis di restoran Melayu terdekat, tujuan utama hari ini adalah ferry terminus dan membeli tiket ke Batam. Tak sulit ternyata kesana, naik MRT jalur ungu dan berhenti di stasiun terakhir. Kami habiskan hari itu dengan menelusuri Little India, Chinatown dan Clarke Quay. Tentunya dengan naik turun MRT. Saya senangsekali naik MRT di Singapura dan Erwin tampaknya juga tertular sudah. Ini pasti didorong oleh kekuatan bawah sadar! Di Depok kereta api parah!!.. kami
merindukan kereta api yang manusiawi seperti MRT di Singapura! MRT.. MRT.. MRT.. we love it so much…!!
Minggu 26/06/05 SG, Batam, Jakarta & Depok
Singapore ferry terminus ke Batam Centre di Pulau Batam cuma 1 jam perjalanan. Dari Batam Centre ke Hang Nadim airport cuma 20 menit. Dari Batam ke Cengkareng cuma 1 jam 20 menit. Dari Cengkareng ke Pasar Minggu cuma 2 jam. Cuma itu saja yang bisa diceritakan, karena liburan sudah usai dan tak ada MRT di Jakarta/Depok. Tak ada semangat bernarasi.
photo2x lihat di http://eyulianto.multiply.com/photos/album/4