Kereta Pagi Berangkat Siang Hari
By admin • Jul 27th, 2005 • Category: Rangkuman Diskusi
Pendek kata, kereta di jaman republik tinggalah sisa-sisa, kereta tua yang selalu mengeluh. Seperti kata Leo Kristi kereta kita adalah ’kereta pagi berangkat siang hari.’ Dalam bahasa Iwan Fals, ’biasanya kereta terlambat 2 jam.’ Kendati begitu Leo tetap optimis. Di sebuah lagu lain ia bernostalgia, ’kereta melaju berlari, di atas kopor kuangkat kaki, serasa melayang serasa terbang.’ Nada optimis juga disuarakan alm. Gombloh, ’kukuh kuat keretaku, menerjang dan gemuruh hembuskan angin keras menuju kotaku.’
Sebagai miniatur kehidupan kereta terus-menerus melahirkan romantika
Satu Gerbong 125 Penumpang
(Bagian 1)
Apa moda transportasi yang paling merakyat? Kepada 100 orang pertanyaan itu diberikan, 90% niscaya memilih kereta api. Kereta api kita memang identik angkutan ’wong cilik’. Benar ada Parahiyangan, tapi itu baru muncul 90-an. Kereta kelas ’Argo’ (yang memaksa kereta lain mendekam di stasiun) juga baru lahir seiring mencuatnya peran Habibie di pentas politik. Sejak zaman kolonial kereta telah dikenal sebagai miniatur kehidupan. Bau keringat, balsem, minyak angin dan parfum khas K5; panorama sawah, gunung, belukar a la goresan mooi-Indie; teriak lantang pedagang asongan; kondektur yang biasa diajak ’damai’; peminta-minta yang tega mengobral do’a; semua lengkap ada. Tak ada penyanyi yang sah disebut penyanyi rakyat tanpa meng-close-up kereta api dalam salah satu lagunya. Tak layak seorang mengaku ’backpacker’ tanpa pernah berjejal di bordes kereta di antara keranjang, karung-karung, dan aroma peturasan nan memabukkan.
Bila pergeseran zaman dari kolonial ke kemerdekaan dianggap ’kemajuan’, yang terjadi di kereta api justru ’kemunduran’. Di Jawa saja dulu setidaknya ada 20 perusahaan swasta mengoperasikan ’sepur kluthuk berbahan bakar areng stengkul’. Disebut sepur (Belanda: spoor) kluthuk karena suara yang muncul dari gilasan roda besi di atas sambungan rel. Kini seluruh jalur rel di-nasional-isasi, di-negeri-kan. Kalau bicara instansi negeri, saya hanya bisa menyebut judul kumpulan puisi Pak Taufik Ismail ’Malu Aku Jadi Orang Indonesia’. Sejak di-negeri-kan banyak jalur hilang dari peta. Jalan baja antara Yogya – Semarang mayoritas tinggal besi tua. Balast (bantalan rel) dan wessel (pemindah jalur) antara Rembang – Blora satu demi satu tanggal berpindah tangan. Malah rel yang membelah pusat kota Pati kini tertimbun di bawah aspal alun-alun! Adakah stasiun baru yang dibangun Orla, Orba, atau Orref? Yang terjadi justru stasiun beralih fungsi. Stasiun Juwana berubah menjadi pasar. Stasiun Magelang berganti fungsi untuk deretan ruko.
Pendek kata kereta di jaman republik tinggalah sisa-sisa, kereta tua yang selalu ngos-ngosan. Seperti kata Leo Kristi kereta kita adalah ’kereta pagi berangkat siang hari’. Iwan Fals menghaluskannya dengan, ’biasanya kereta terlambat 2 jam.’ Kendati selalu ngaret Leo tetap optimis. Di sebuah lagu lain ia bernostalgia, ’kereta melaju berlari, di atas kopor kuangkat kaki, serasa melayang serasa terbang.’ Nada optimis juga disuarakan alm. Gombloh, ’kukuh kuat keretaku, menerjang dan gemuruh, hembuskan angin keras menuju kotaku.’
Sebagai miniatur kehidupan kereta terus-menerus melahirkan romantika. Rita Rubby Hartland berlagu sendu, ’peluit kereta menjerit seketika, mengusir senyumku jadi duka.’ Franky Sahilatua juga punya kisah senada, ’peluit berbunyi kereta berangkat, kau berdiri di pintu dan melambaikan tangan kepadaku, dan roda-roda berputar menggetarkan seluruh perasaan di dada.’ Mau yang lebih sentimentil? Simak saja suara jernih Ebiet G. Ade, ’selimut biru yang kau ulurkan ke padaku, penahan dingin di kereta biru malam.’ Tentu saja romantika harus selalu bertaut pada sepasang kekasih yang berpisah atau dipertemukan. Kisah sedih bisa didengar dalam tembang Jane Sahilatua yang menuturkan pertemuan ’si aku’ dengan ibu. ’Si aku’ yang mirip almarhumah putri si ibu cepat mengundang rasa haru. Ada juga realitas kelam yang diangkat Iwan Fals dengan, ’di sudut dekat gerbong yang tak terpakai, perempuan bermake up tebal dengan rokok di tangan menunggu tamunya datang.”
Bagaimana ragam romantika yang lain, utamanya pengalaman anggota milis indobackpacker di atas kuda besi ini? ’Tuan rumah’ website-milis indobackpacker, boz Aris, mengawali rantai posting dengan berkisah:
Dalam perjalanan ke Baduy kemarin, saya naik kereta dari sts Tenjo - Rangkasbitung. Tiketnya cuma Rp. 1500. Yang naik banyak tapi yang beli tiket cuma 3 orang. Sisanya maksa dapat subsidi dari pemerintah. Naik kereta gratis ji … Lama sekali saya tidak naik kereta ini. Hampir 4 tahun lebih.
4 tahun lalu saya naik kereta ini untuk survey rumah. KRD Rangkasbitung - Jakarta Kota. Jumlah pedagang lebih banyak ketimbang penumpang. Kalau ada kambing di jalan, kereta KRD akan berhenti untuk menaikan kambing. Tentu kondektur kereta dapat uang apa tuh. Bahasa Sundanya ’celokan’.
Kalau rute Sby - Jakarta, kereta KRD yg terkenal dengan celokan namanya Kereta Gaya Baru Malam Utara, kereta terakhir dari stasiun Jakarta Gudang - Surabaya Gubeng. Kalau Anda beruntung, ke surabaya cukup dengan uang Rp. 3000. hehehe … (sebaiknya anda tidak bayar ke konduktur, walaupun duduknya tidak di kursi, tapi di bawah kursi). Kalau beli tiket, dulu tiketnya cuma Rp. 14.500 nggak tau kalau sekarang.
(::Aris [kunlun_it@yahoo.com.sg]; Tuesday, March 29, 2005 9:01 AM)
Bagaimana kesan lain atas kereta ke Rangkas ini? Berikut tuturan Teh Aya, finance manager saat partai IDBP menyerbu Karimunjawa Mei lalu.
Aku selalu menyebut kereta ke Rangkas ini dengan sebutan KERETA KAMBING. Karena Aku sering menemui kambing di dalamnya. dan juga karena begitu banyak manusia di dalamnya, yang berhimpit-himpitan. Aku sangat akrab dengan kereta ini sejak kecil. Karena setiap tahun, kalau mau Lebaran di kampung Aku selalu menaikinya. atau jika Aku kangen ama Nenek or berlibur dari penatnya Jakarta. Kampungku di Jahe, Cimarga, tidak jauh dari Leuwidamar.
Awal-awal Aku sebel banget naik kereta ini, karena terlalu banyak pedagang yang hilir mudik. Yang kadang tidak peduli ada manusia yang duduk di bawah. Juga copet yang jumlahnya banyak (pernah Adik2ku kehilangan 2 tasnya yg berisi pakaian, dll. Yang akhirnya pulang ke kampung dgn lenggang). Aku merasa tidak nyaman. Tapi karena sering menggunakan kereta kambing ini, Aku jadi terbiasa. Kadang malah Aku menikmati tingkah polah para penumpang. Yang sometime juga menghibur, melupakan kesesakan kereta dan juga kejenuhan menunggu kereta sampai di Rangkas.
Tapi sejak ada kereta Patas dan kereta AC, Aku tidak pernah menaiki kereta ini lagi. Baru kemarin ke Baduy Aku merasakannya kembali. Dan Aku sangat menikmati. Berbaur dengan penumpang lain. Bisa merasakan jajanan di kereta, and melihat tingkah polah pedagang yang ternyata masih sama … hehehe … Kereta Kambing ternyata bisa bikin Aku kangen juga … hehehe ….
(AYA [rayacantik@yahoo.com]; Tuesday, March 29, 2005 12:11 PM)
Tulisan Teh Aya mendapat komentar pendek. Satu dari jeng Anie, satu dari om Krisna yang tinggal nun jauh di Eropa sana.
Memory daun pisang, Sungguh indah untuk dikenang
Jadi pingin… ngerasain naik kereta bareng kambing, wah parfumnya pasti tiada duanya ya :)))
(mercyanie hadi [mercyanie_hadi@yahoo.com]; Tuesday, March 29, 2005 2:41 PM)
kereta semacam ini tidak ideal
tapi untuk sesekali menaikinnya memang nikmat
cuma kasihan yang tiap hari merasakannya kan
(krisna diantha [krisnadiantha9@yahoo.com]; Tuesday, March 29, 2005 2:58 PM)
Barangkali di museum Eropa lokomotif kereta ke Rangkas hanya sedikir lebih muda ketimbang temuan George Stephenson-:). Tanggapan om Krisna segera ditanggapi balik oleh 2 orang: Teh Aya dan Jeng Anie.
Emang Kris. Aku pikir sangat tidak manusiawi. Apalagi kalau menaikinya malam hari, sangat gelap. mungkin hanya satu dua yg diterangi cahaya lampu. Kereta seperti ini tidak layak dioperasikan lagi. Apalagi kalau melihat nenek2 atau anak2 kecil, bahkan baby, yang naik kereta ini. Aku sangat Iba melihatnya. Tapi mau ngomong apa? sepertinya pemerintah tidak mau peduli dengan keadaan ini.
( AYA [rayacantik@yahoo.com]; Tuesday, March 29, 2005 3:26 PM)
BRAVO! Menggaris bawahi kata kasihan, buat saya pribadi, bukan rasa kasihan yang terbesit, justru … wow ! two tomb.. buat mereka yang mungkin mau gak mau mesti menjalani, karena urusan isi perut barangkali?
(mercyanie hadi [mercyanie_hadi@yahoo.com]; Tuesday, March 29, 2005 4:26 PM)
Saya sendiri belum pernah mencoba kereta ke Rangkas ini. Saya kira suasananya tak jauh dari kereta Solo – Semarang. Kereta ini dalam sehari hanya beroperasi sekali pergi-pulang, menyinggahi stasiun-stasiun kecil Kaliyoso, Kedung Jati, Gundih. Karena melewati daerah tandus, kering, dan minus orang terkadang kurang percaya. Benarkah ini Jawa Tengah? Benarkah ini bumi yang telah dimanjakan 6 Pelita dan siap memasuki PJPT tahap II? Sering di tengah jalan petani-petani naik dengan keranjang dagangannya. Dagangan itu dijual di Pasar Legi Solo yang tak berapa jauh dari stasiun Balapan. Malamnya mereka tidur di los-los pasar dan baru pulang ke desanya dengan kereta keesokan harinya. Demi uang yang tak sampai selembar WR. Supratman perjuangan mereka demikian gigih dan mengharukan. Bukan kasihan, tapi sebuah rasa hormat. Mereka tetap menyimpan optimisisme khas ’wong cilik’ yang ’dengan setumpuk padi dan jagung, mungkin cukup sehari hidup’.
Kasihan yang digaris-bawahi Jeng Anie mengingatkan boz Aris pada sebuah pengalamannya. Kasihan, kata Pramoedya, adalah keinginan baik yang hanya dalam hati dan belum sampai ke tindakan nyata. Dengan kata lain, kasihan hanya satu kemewahan. Ternyata kasihan pun bisa datang dari banyak sebab. Mungkin sulit membayangkan bagaimana orang dengan jam jalan sebanyak boz Aris bisa kena palak-:). Yang memalak malah berseragam lagi.
Anie, dua tahun silam saya backpacking ke Yogya. Naik kereta Senja
Utama. Jadi inget lagi "kereta seja" Tommy J Pisa ya yg nyanyi..
Karena go show, terpaksa beli tiket Rp. 70.000 tanpa tempat duduk. Kalau sering jalan, artinya sebagian orang percaya, jadi punya banyak
teman.
Eh, di kereta ketemu kawan lama, bisa nitip tas. Di kereta bisnis, kalau nyaman ya deket WC hehe … Ketika Konduktur kereta memeriksa dia bilang, ”Mas sampeyan udah duduk deket WC kok mau saja bayar Rp. 70.000. Tambah 10.000 bisa naik Bus AC. Dapet makan lagi. Besok2x, kalau mau duduk deket WC jangan beli tiket ya". Ternyata yg duduk deket WC emang nggak pada bayar, alias dapet subsidi. Transport gratis, tentu dengan uang colekan lagi dong.
Kalau anda sering ke Yogya dengan kereta senja, yg anda tungu2x pasti si pengamen bencong dengan goyang inulnya. Wah, sebagian besar penumpang kereta ini selalu menunggu si pengamen, yg selalu beraksi ketika "subuh mulai tiba".
Ada yg pernah naik kereta lilin?
(:: Aris [kunlun_it@yahoo.com.sg]; Tuesday, March 29, 2005 4:38 PM)
Apa balasan Jeng Anie? Romantika di atas kereta yang seramai rasa ’nano-nano’ tak ayal mengundang ingin tahunya.
Uhui! Tomy J Pisa? Wajah sendu, merayu:) Kereta senja itu kayaknya yang nyanyi Anie J Pisa deh … :hehe
Wuih, pingin banget ngerasain gaya ‘ngere’ apalagi kalo rame-rame pasti enak. Plus nyobaain tiket catutan. Selama ini aku, kalo jalan maunya yang nyaman, duduk selonjor, ruang ber-AC, telinga tertutup walkman, males ber cuap-cuap dengan penumpang lain, iihhh soliter sekali!
Terima kasih berbagi ceritanya, mudah-mudahan ada kesempatan dan kemauan kuat untuk mencoba.
(mercyanie hadi [mercyanie_hadi@yahoo.com]; Tuesday, March 29, 2005 5:34 PM)
Bahagia, senang, susah adalah parameter yang fleksibel dan tak terukur. Makanya nikmat tidaknya hidup berpulang pada mampu-tidaknya kita menikmatinya. Gaya ‘ngere’ memberi banyak hikmah. Dari gaya ‘soliter’ pun bisa dipetik jenis pelajaran yang lain. Satu lagi serunya romantika di atas rel coba memprovokasi Jeng Anie-:).
Belum tau dia indahnya naek kereta ekonomi jarak jauh, apalagi ampe penuh sesak … lebih enak lagi yang bawa pasangan …
Gw pernah waktu dari Argopuro - Raung dalam kehabisan dana untuk pulang, jangankan untuk makan untuk ngerokok aja susah, ech pas kebetulan arus balik dari mudik lebaran jadi penuh sesak lah tuh kereta.
Gw termasuk yg beruntung dapet temen "ngegembel" yg PD dan berani, waktu berdiri dan berdesakan di Bordes (dekat WC), temen gw berani deketin beberapa cewek2 yg mo balik ke Jakarta. Temen gw berkenalan ama beberapa ce yang notebene para pekerja di rumahan alias (maaf) PRT. Jadilah obrol punya obrol tawaran makan dan merokok pun datang dengan senang hati gw menyambutnya. Dasar playboy kereta dapet aja ngakalin para PRT itu, cuma modal OMDO alias omong doang.
Temen2 pengalaman ini jangan ditiru dan tidak patut dicontoh karena merusak ’citra’ karena ada adegan yang emang gw gak tulis dimilis yg dilakukan temen gw sewaktu kereta berjalan malam hari di Bordes tersebut, hingga beberapa penumpang bergumam dengan sindiran maut khas logat jawa kental.
(heru gunawan [gundul15@yahoo.com]; Tuesday, March 29, 2005 5:57 PM)
Jeng Anie membalasnya dengan bercanda:
huaaa haaa, ambillah kesempatan dalam kesempitan, sebelum bener-bener sempit. apa memang salah satunya yang dicari itu ya? Hmm, gak pa-pa manusiawi, asal jangan keblabasan.:)
(mercyanie hadi [mercyanie_hadi@yahoo.com]; Tuesday, March 29, 2005 6:23 PM)
Kereta gelap melaju selewat maghrib adalah hal lumrah. Apalagi nanti setelah krisis energi semakin mencekik, kereta hantu akan tambah sering beroperasi. Di kegelapan purbasangka memang gampang kelayapan-:) 20 tahun lalu saya naik ‘Argopuro’ Yogya – Jember. Rencana awalnya saya pergi berdua dengan teman kuliah. Ternyata tetangga di Solo mau ikut. Kata tetangga ini, satu temannya juga mau gabung. Saya ‘monggo’ saja. Tambah teman saya rasa tambah enak. Tak tahunya teman tetangga ini tak lain gandengannya. Saya pastikan mereka baru ’jadi-an’ sebab gosipnya di kampung belum meledak.
Teman kuliah naik dari stasiun Tugu, kami bertiga dari Balapan. Belum 10 menit di kereta teman kuliah memberi kejutan. Ia akan turun dulu di Surabaya, mampir rumah kerabatnya, dan baru melanjutkan jalan dengan kereta sore. Tinggal kami bertiga. Lepas dari Probolinggo langit mulai gelap. Ketimbang jadi obat nyamuk, sekalian saja saya beri kesempatan-:). Saya lebih sering berdiri di bordes. Teman tadi sering menahan tapi saya selalu berdalih mau cari angin. Singkat cerita, kami berempat kembali berkumpul di Denpasar. Setelah itu berpisah. Tetangga dan ’kawan baru’-nya ke Gianyar, kami berdua tetap di Denpasar.
Bertahun-tahun saya mengunci mulut atas kejadian di kereta. Setiap mudik ke Solo dan ngobrol dengan sebaya, saya hindari topik jalan ke Bali itu. Saya merasa terikat oleh ’gentleman agreement’-:). Akhirnya teman itu sendiri yang membuka rahasia. Dari cerita teman-teman lain ia mengaku di kereta sudah saya beri kesempatan yang seluas-luasnya-:). Tetangga ini sudah lama pindah, lebih dari 10 tahun saya tak bertemu. Yang pasti pasangan ini ’bubar’. Saya jadi ingat pesan tuan rumah (ibu teman saya) di Denpasar, ”Nak .. kalau mereka pacaran, jangan boleh ke Tanah Lot ketimbang nanti putus!”
Sangatta, 19-Juli-2005
admin is
Email this author | All posts by admin



