Bukan di Titanic
By Santoso • Aug 10th, 2005 • Category: Romantika
Hiburan bagi penumpang lanjutan bisa dilihat setelah penumpang turun. Di luar pagar dermaga bisa dirasakan aura kegembiraan orang tua yang menjemput anaknya, istri yang berkumpul kembali dengan suami, atau Arjuna yang bersua pujaan hatinya. Kejadian ini sontak berbalik ketika kapal mengangkat sauh, di kala jarak antara lambung kapal dan ujung jetty kian lebar. Di dermaga maupun di dek ada ribuan tangan melambai. Tak jarang lambaian itu diikuti gerimis air mata.
Masih cerita soal kapal. Momen berkesan adalah manakala kapal merapat di pelabuhan. Untuk pelabuhan kecil, karena hanya 1 jam sandar, penumpang transit tak diijinkan turun. Mereka ini umumnya berkerumun di dek yang menghadap ke pelabuhan (selanjutnya cukup disebut dek). Begitu pintu kapal dibuka, pasukan porter langsung merangsek hingga ke gang-gang kamar penumpang kelas. Penumpang yang hendak turun selalu berbaris menepi layaknya pasukan semut dengan seabreg bawaannya. Barang tak terkawal akan jadi mangsa empuk pasukan porter.
Hiburan bagi penumpang lanjutan bisa dilihat setelah penumpang turun. Di luar pagar dermaga bisa dirasakan aura kegembiraan orang tua yang menjemput anaknya, istri yang berkumpul kembali dengan suami, atau Arjuna yang bersua pujaan hatinya. Kejadian ini sontak berbalik ketika kapal mengangkat sauh, di kala jarak antara lambung kapal dan ujung jetty kian lebar. Di dermaga maupun di dek ada ribuan tangan melambai. Tak jarang lambaian itu diikuti gerimis air mata. Perpisahan memang menyakitkan, termasuk bagi yang ‘pasti’ akan berkumpul lagi lantaran ikatannya jelas (orang tua-anak) dan dikuatkan hukum (suami-istri). Bagi sepasang kekasih (yang relasinya masih bersifat ‘kemungkinan’) tentu lebih perih dan menusuk ulu hati-:). Hujan tangis paling lebat saya alami di Ambon (1995) ketika siswa SPK setempat berangkat kerja praktek ke Ternate.
Untuk pelabuhan besar biasanya waktu sandar antara 2-4,5 jam. Penumpang transit yang turun ke kota jamaknya mencoba menu lokal/favoritnya dan tak lupa membawa lauk-pauk cadangan. Maklum, menu di kapal sangat-sangat-sangat-monoton. Karena cukup waktu (tentu saja jika merapatnya saat langit masih terang) awak kapal mengusung keyboard ke dek. Bergantian mereka mainkan lagu-lagu wajib seperti Nyiur Hijau, Rayuan Pulau Kelapa, Desaku, Indonesia Pusaka.
Di tengah upacara 17-an, di tengah kota yang sesak polusi, lagu-lagu wajib itu langsung menguap ke udara. Di atas kapal ada emosi lain. Di belakang lambung lautan luas mengepung, di kejauhan hiruk-pikuk kota yang sama sekali tak kita kenal, di sisi lain rimbuan nyiur meliuk seirama hembusan angin, sementara kita bisa tiba di pelabuhan itu setelah 4 hari dimainkan gelombang. Ah … alangkah luasnya ibu pertiwi! Jika sayup-sayup terdengar, “Tanah airku tidak kulupakan, kan kukenang selama hidupku ..” atau “Indonesia tanah air beta, pusaka abadi nan jaya ..” siapa sanggup menahan haru yang merasuki sanubari? Karena tiap ngeluyur dengan kapal hampir selalu sendiri, rutin mata saya basah lantaran haru yang datang.
Salam dari Sangatta



