CatPer’ku di Kalimantan Selatan

Custom Search

By admin • Aug 29th, 2005 • Category: Wisata

Malam pertama aku diajak ke Mandiangin, yaitu lokasi Wanawisata, Camping Ground yang memiliki air terjun yang bersumber dari pemandian putri di atas bukit. Lokasi ini ditempuh dengan angkot kurang lebih lima ribu perak, atau dengan motor satu jam dari Simpang Empat-Banjarbaru. Pertama menyusuri jalur menanjak, aku ngos-ngosan. Berusaha menyusul rekan-rekan yang sudah terbiasa. Sepanjang jalur terdapat pendopo-pendopo yang biasa digunakan untuk pacaran.

Lalu di atas ternyata ada jalan aspal, tembus dari jalur lain. Banyak ABG yang mandi-mandi di empat bak air besar yang konon tempat mandi para putri.


Bermula dari perkenalan dengan rekan-rekan Borneo di lomba Galon Rafting Kalimas, Delta-Surabaya September 2002, memicu keinginanku untuk menginjak bumi Kalimantan yang eksotik. Menjelang Tahun Baru 2003, seorang teman sms aku untuk datang kesana merayakan tahun baru. Sesampai disana, aku minta di jemput (ngeri, sendirian dan belum pernah kesana juga) menginap di kampus di Banjarbaru selama tujuh hari. Jauh diluar dugaan, ternyata angkot lebih mudah ditemukan di sana daripada di Bali.

Malam pertama aku diajak ke Mandiangin, yaitu lokasi Wanawisata, Camping Ground yang memiliki air terjun yang bersumber dari pemandian putri di atas bukit. Lokasi ini ditempuh dengan angkot kurang lebih lima ribu perak, atau dengan motor satu jam dari Simpang Empat-Banjarbaru. Pertama menyusuri jalur menanjak, aku ngos-ngosan. Berusaha menyusul rekan-rekan yang sudah terbiasa. Sepanjang jalur terdapat pendopo-pendopo yang biasa digunakan untuk pacaran.

Lalu di atas ternyata ada jalan aspal, tembus dari jalur lain. Banyak ABG yang mandi-mandi di empat bak air besar yang konon tempat mandi para putri. Agak naik bukit lagi, akan terlihat beberapa Benteng Belanda. Mandiangin biasa digunakan untuk Diklat, Camping atau sekedar tempat mangkal. Ada satu rumah pos lapor dan beberapa warung. Dihutannya terdapat Gajah-gajah yang dilindungi, kalau beruntung, bisa berpapasan dan dapat disaksikan burung-burung Elang. Sayangnya lokasi ini sekarang ditutup untuk umum.

Malam menjelang tahun baru, teman-teman mengajakku ke Bendungan Riam Kanan, sekitar 40 menit dari simpang empat. Setiba di pelabuhan yang kecil, kita harus naik klotok (sejenis perahu motor alat transportasi khas borneo) menuju jajaran pulau-pulau kecil berpenghuni yang dikelilingi oleh perbukitan Pegunungan Meratus. Konon kisah terbentuknya bendungan ini, pada jaman pendudukan Jepang, seribu desa ditenggelamkan khusus untuk membuat waduk ini. Luas dan dasarnya tak terkira. Kalau jatuh, ya wassalam. Kami menuju pulau halus (kecil, istilah jawa’nya). Pulau itu benar-benar kecil. Gak sampe se-atrium mall. Untuk mengitarinya hanya perlu sepuluh menit. Malam harinya selagi cewek-cewek menyiapkan ayam dan ikan bakar, aku diajak para cowok naik klotok menuju tengah waduk (gak tau mana sebenarnya tengah-tengah). Kami “minum-minum” dan tepat pukul dua belas malam tahun baru, mereka telanjang dan terjun ke air dingin kelam dibawah sana. Hiiiii… Aku gak ikutan lho. Segera setelah berpakaian, kami kembali ke pulau dan menikmati ikan dan ayam bakar lezzzaatt.. Oh ya, ayam dibawa dari kota, sedangkan ikannya, ada seorang teman yang sorenya “nyundak iwak” yaitu menembak ikan sambil nyelam didalam waduk situ. Alatnya bernama sundak, yaitu panah kayu yang memiliki beberapa ujung-ujung mata tombak yang diikat dengan sulur karet panjang. (bisa bayangin gak?) Kami dapat nila merah dan ikan-ikan gede lainnya.

Sehari setelah tahun baru, aku dan tiga rekan pergi ke Banjarmasin dan menginap dirumah ortu rekanku, untuk dapat pergi ke Pasar Terapung di pagi buta. Pukul empat subuh berlalu, akhirnya kami berangkat pukul enam dimana sudah terang, dengan menyewa klotok seharga 40 ribu, kami berkeliling pasar terapung tersebut. Hehe..dah kesiangan. Agak sepi. Aku berpikir, hebat juga orang-orang nih. Berjualan lewat perahu yang saling berdesakan. Mirip deh kayak iklan salah satu TV swasta. Kalau ada yang dinginkan, mereka akan mengacungkan galah/besi berkait untuk mengambilnya atau untuk merapatkan perahu. Kebanyakan yang dijual adalah sayur-mayur dan buah-buahan. Perdagangan lebih berupa barter di sini. (masih ada juga sistem beginian ya ?). Ada satu perahu yang menjual penganan kecil dan teh. Lalu perahu agak besar dimana jual soto banjar dan pembeli bisa naik kesana untuk makan setelah mengaitkan perahunya ke perahu itu. Mereka berdatangan dari berbagai penjuru. Bahkan dari Kalimantan Tengah melalui hulu sungai Barito. Sungainya keruh kecoklatan karena dasarnya berlumpur.

Akan pasang bila ada kapal datang untuk bersandar di pelabuhan. Namun akhir-akhir ini pasar terapung berubah, yang biasanya dimulai pukul 3 sampai 8 pagi, sekarang pukul 6 sudah sepi dan berkurang. Itu dikarenakan mereka pindah ke darat. Entah gejala ekososbud apa itu. Nah, mumpung nyewa klotok, kami sekalian berkeliling ke pulau Kembang, gak mampir karena itu pulau kecil berpenghuni babon –babon yang dilestarikan, dan lalu melewati bawah Jembatan Barito, yang katanya jembatan terpanjang di Asia Tenggara.

Menjelang kepulanganku, aku pergi ke Martapura, yang dikenal sebagai kota Intan. Di persimpangan empat, ada sebuah tugu yang puncaknya terdapat simbol sebuah intan besarrrr. Aku berjalan-jalan di pasar martapura, lima belas menit dari simpang empat (pusat persimpangan dari berbagai daerah). Ada dua lokasi pasar, yang baru (kain, mainan, pasar basah) dan lama (khusus batu-batuan dan intan) juga terdapat terminal di situ. Souvenir khas banjar dan dayak ada di sana. Kalau pinter nawar dapat juga barang bagus. Yang kalau dijawa dijual seharga lima belas ribu, tasbih batu diberikan dengan harga lima ribu aja. Tas dari kulit pohon ( keren abis, pak!) dijual bervariasi. Klepon (tau kan?), makanan manis dari tepung beras diisi gula merah didalam bertabur kelapa, disana dijual dalam bentuk yang lucu, mirip lonceng. Kebanyakan manis jajanannya. Kalau musim buah, cari aja cempedak, semacam nangka, yang kulitnya bisa dibikin lauk (diasinin trus digoreng, nyam..nyam). Lalu ada juga buah semacam durian tapi lebih kecil berwarna lebih kuning dan aroma tidak terlalu kuat yang adanya cuma di Borneo.

Perjalananku ke Borneo setahun berikutnya membawaku ke Perkampungan Dayak Meratus di Loksado. Aku ke desa Loksado, yaitu desa dayak terluar. Disana rumah berbentuk joglo, gak nempel tanah dan berternak babi dan ayam yang dibiarkan berkeliaran. Pertama datang aku mampir ke kepala desa untuk melaporkan kedatangan (asyik dikasih cincin anyaman) lalu tidur di Pondok Informasi. Kaget bener banyak babi berkeliaran disana dengan ayam dan anjing. Mata pencarian mereka berasal dari hutan, kebun dan hasil anyaman rotan berupa cincin, gelang, tampah, tas dan lain-lain. Air terjun terdekat sekitar tiga puluh menit perjalanan dan kampung suku dayak berikutnya harus jalan naik kurang lebih tiga jam lagi. Dari desa Loksado itu kita bisa rafting yang dikenal dengan Bamboo Rafting yang juga dirayakan setiap tahunnya sebagai festival bamboo rafting. Rakit atau Ranting dibuat sendiri dari anyaman bambu aja, dinaiki maksimum empat orang, dengan dua guide penduduk lokal, seharga dua ratus ribu rupiah, gak ada helm atau life jacket. Di Kalsel yang terkenal adalah pesta tradisional Aruh Ganal (=besar) yang diadakan setiap tiga bulan sekali pada tiap masa panen (bibit, siram dan panen) disemua desa.

Tagged as: ,

admin is
Email this author | All posts by admin

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

Copyright ©2004-2008 Indonesia Backpacker Community All rights reserved. All articles and Images may not be reproduced in any form without the express written permission of the copyright holder | All Information contained on this site may not be used for commercial purposes,
for more information please Contact
admin At indobackpacker.com | Powered by the WordPress

Creative Commons License
Except where otherwise noted content on this site is licensed under a
Creative Commons Licence.