Obrolan minggu ini : Kapal Laut..

Custom Search

By admin • Aug 3rd, 2005 • Category: Rangkuman Diskusi
Bookmark and Share

Ferry terlama antara Bastiong (Ternate) – Bitung (1995). Waktu
tempuhnya 17 jam! Saya tertipu membeli tiket ekonomi A yang katanya
plus kamar. Kondisi badan saat itu agak flu sehingga maunya bisa
istirahat. Prakteknya kamar bisa diakses semua pemegang tiket. Sebagai
catatan, waktu tempuh 17 jam hanya dilampaui oleh jalur Waingapu -
Kupang dan Kalianget – Kangean.



Peristiwa paling menegangkan terjadi di ferry Galala (Ambon) – Namlea
(Buru) 1995. Ingat, ini terjadi di zaman Orba saat Buru masih tak
ubahnya

Obrolan minggu ini : Kapal Laut.. 

Dipancing mas moderator, saya buru-buru mendata hari-hari yang pernah dilewatkan di atas kapal. Ternyata lumayan banyak, maklum romantika di antara geladak dan buritan itu bermula lebih dari 20 tahun lalu(!). Kapal di sini meliputi semua jenis, mulai ferry, armada PELNI, motor boat hingga kapal motor cepat. Saya batasi hanya untuk perjalanan di tanah air. Ikhtisarnya kira-kira seperti berikut.

Ferry terlama antara Bastiong (Ternate) – Bitung (1995). Waktu tempuhnya 17 jam! Saya tertipu membeli tiket ekonomi A yang katanya plus kamar. Kondisi badan saat itu agak flu sehingga maunya bisa istirahat. Prakteknya kamar bisa diakses semua pemegang tiket. Sebagai catatan, waktu tempuh 17 jam hanya dilampaui oleh jalur Waingapu – Kupang dan Kalianget – Kangean.

Peristiwa paling menegangkan terjadi di ferry Galala (Ambon) – Namlea (Buru) 1995. Ingat, ini terjadi di zaman Orba saat Buru masih tak ubahnya Gulag Archipelago. Saya masuk Buru tanpa ijin, sampai di Namlea malam hari ada pengumuman penumpang dilarang turun. Di dermaga terdengar sepatu-sepatu lars menginjak lantai semen. "Matilah aku," begitu terlintas di benak. Apa lantaran ada bule Jerman di antara salah satu penumpang? Ternyata ada seorang camat yang harus diprioritaskan.

Ferry terpadat antara Padang Bai – Lembar (1984). Jangankan duduk, cari tempat berpijak saja sulit. 4,5 jam melintas selat Lombok nyaris saya tak bergerak. Sekiranya sekarang mesti naik kapal dengan kondisi yang sama (lantaran sudah melek tentang safety) mending nunda sehari perjalanan. 20 tahun lalu belum ada Mabua. Bali – Lombok dalam sehari hanya dilayani 2 kali return trip oleh sebuah kapal.

Penumpang paling sedikit saya alami di jalur Sape (Sumbawa) – Labuhan Bajo (Flores) 1984. Hanya 8 orang, padahal kapalnya seukuran yang melayari Bali – Lombok! Jalur ini terhitung gawat lantaran pertemuan 3 arus dari laut Sulawesi, selat Gilibata, dan selat Sape. Banyak kapal kayu karam di sini. Sekitar tengah hari ferry berputar-putar, dari dek atas semua penumpang menunggu (dengan degub jantung keras) arus pusar itu bergerak ke utara.

Waktu tunggu terlama di Bastiong. Hampir 3 jam sementara penambangannya sendiri, dari Bastiong ke Rum (Tidore) hanya perlu 30 menit! Waktu tunggu yang lama juga saya alami di Banjarmasin (1996). Dermaga Trisakti ada di sungai Barito yang terpengaruh pasang surut. Penumpang sudah dipersilakan naik ‘Kelimutu’ tapi sauh baru diangkat 3 jam ke depan menunggu laut pasang.

Antrian terpanjang adalah di Bangkalan (1994). Bis yang saya tumpangi tiba di dermaga sekitar jam 16.00, bis baru bisa masuk ferry jelang pergantian hari. Siang itu di Pamekasan digelar putaran final karapan sapi se Madura. Antrian terpanjang berikutnya juga terjadi di sini. Saat itu Sabtu sore paruh kedua 1997. Saya ingin menghadiri pernikahan teman di Bangkalan. Di dermaga antrian luar biasa panjangnya. Mobil yang saya carter naik ferry sekitar 16.30. Nun jauh di belakang saya lihat ada teman se-company yang juga mau datang ke mantenan. Jangan-jangan dia datang setelah mantenannya selesai, begitu saya pikir. Apa yang terjadi? Ketika saya masuk gedung, rekan tadi telah duduk di barisan muka lengkap dengan baju batiknya. Di akhir acara saya tanyakan bagaimana bisa secepat itu. Ia bilang ketika ferry berikut kosong, ia datangi petugas yang mengatur masuknya mobil. Ia sodorkan 50 ribu pada si tukang atur dan ditahanlah semua mobil untuk memberi prioritas padanya. Terus terang saya malu  karena teman ini (yang kebetulan bule) sangat fasih adat Indonesia!

Pengalaman paling menakutkan saya dapatkan akhir 1998 di atas ‘Kambuna’ Makassar – Surabaya. Pagi hari seluruh lampu mati, demikian juga mesin kapal. Teriak histeris pecah di sana-sini. Pintu kamar kelas 4 yang saya tempati langsung dikunci teman di tempat tidur bawah untuk ‘mengamankan’ pelampung. Sekitar 15-an menit kapal mengapung tak berdaya. Tak lama setelah mesin berhasil dihidupkan, bel-bel kapal dibunyikan. Ini adalah pertanda perairan tempat ‘Tampomas II’ karam 1981 lalu. Setiap kapal yang melintas membunyikan di situ selalu memberi ‘penghormatan’.

Kejadian paling ‘memalukan’ menimpa saya dalam pelayaran Ende – Surabaya 1984. Saya hitung uang di saku, cukuplah kalau jalan darat sampai Mataram. Di Mataram ada teman kuliah dan bisa pinjam darinya untuk ongkos ke Yogya. Oleh orang-orang di pelabuhan Ende saya dikipasi. "Naik saja mas, nanti bayar di atas. Pasti ada potongan, mas barusan naik Kelimutu." Saya naik, oleh kenalan-kenalan baru disembunyikan. Baru setelah angkat sauh saya diantar ke loket. Kapal itu bukan milik PELNI tapi swasta. Semua uang di saku kurang untuk membayar tiket. Si penjaga loket pun ngomel, "Kapal ini bukan nenkmu punya, tahu." Terpaksalah nahan diri, masuk telinga kiri ke luar telinga kanan. Akhirnya kesalnay reda, uang ‘tiket’ ia terima dan saya menerima secarik kertas. Bukan tiket, tapi sobekan kertas bertulisan ‘tolong penumpang ini diberi makan seperti penumpang lainnya’!

Rendahnya kualitas layanan di atas kapal kita sudah jadi rahasia umum. Makanya pengalaman di kapal cepat Tanjung Pinang – Pekanbaru awal 2000 membuat saya kaget bin tak menyangka. Dari Tg. Pinang, kapal berangkat on-time. Singgah di Batam hanya 5 menit untuk menaikkan penumpang. Singgah di Tanjung Balai sekitar sejam, kemudian bertolak lagi. Nasi bungkus jatah kapal masih panas. VCD Melayu yang diputar untuk hiburan pun enak di telinga. Inilah satu-satunya kenyamanan di atas kapal yang patut dipuji. Apakah lantaran banyaknya penumpang dari negeri tetangga?

Saya beruntung naik Rinjani ketika belum genap 6 bulan beroperasi. Saya sempat mencoba Kelimutu di masa ‘in reyen’-nya. Di kali lain saya pun ‘diminta’ merasai Lawit di masa tuanya dan Kambuna yang sudah loyo. Sejak awal 90-an armada PELNI melayani penambangan Labuhan Lombok – Pototano. Ini beda dengan medio 80-an ketika dermaga Sumbawa masih di Labuhan Alas dan dari Lombok hanya ada kapal kayu milik konglomerat setempat. Sehari ada 3 trip, tapi tiket trip tersiang (bertolak jam 9) ‘terjual’ habis sejak jam 5 pagi.

Salam dari Sangatta

admin is
Email this author | All posts by admin

Bookmark and Share

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

Home | About Us | Disclaimer | Credits & Contributor | Join a Contributor | Our Contributor |
Komunitas Backpacker Indonesia | Indobackpacker.com | Travel Photography | Mailinglist Archive | Mailinglist Forum

Copyright ©2004-2009 Indonesia Backpacker Community All rights reserved. All articles and Images may not be reproduced in any form without the express written permission of the copyright holder | All Information contained on this site may not be used for commercial purposes,
for more information please Contact
admin At indobackpacker.com | Powered by the WordPress

Creative Commons License
Except where otherwise noted content on this site is licensed under a
Creative Commons Licence.