Rinjani, ++(Jukung menyeberang Selat Lombok)

Custom Search

By Puguh • Aug 8th, 2005 • Category: Petualangan

Rasanya dekat sekali dengan laut. Rasanya bingung apakah saya gembira, ato ketakutan. Sesekali saya berkhayal menjadi Santiago dalam The Old Man and The Sea-nya Hemingway…alah, tiga setengah jam aja kok menghayalnya jauh amat…

Kaled dan temannya mengemudi kapal sambil berdiri di buritan. Yang mereka lakukan adalah memilih rute supaya tidak melewati daerah yang terlalu bergelombang. Heran juga, kami sudah cukup jauh dari pantai, tapi dikejauhan masih terlihat buih putih dari ombak yang memecah. Ternyata daerah tersebut adalah daerah dangkal dimana gelombang menjadi ombak dipermukaan.


Bali – Gili
Sekarang, mumpung ada barengan yang mau ke Rinjani, saya menawarkan cara tak biasa menuju lombok.
Sembilan tahun saya menunggu saat yang tepat hanya untuk menyeberangi selat lombok dengan jukung. Masalah waktu, ongkos, temen buat patungan, sampe masalah keselamatan jadi pertimbangan yang membuat saya maju mundur. Tahun 96, ketika pertamakali mengunjungi Amed. Seorang nelayan mendekati saya dan menawarkan perahunya untuk melihat lumba-lumba. Selain itu dia juga menawarkan alternatif untuk menyeberang ke Gili menggunakan perahunya

Di Amed kami menginap di Good Karma Bungalow. Baba, panggilan Pak Subali adalah pemilik bungalow ini. Pria berbadan besar dengan kumis, jenggot dan aksesori yang dipakainya memantapkan kesan seram. Tapi begitu kita bicara dengan beliau semuanya mencair dan berubah menjadi pribadi yang hangat.

Mengingat Amed masa lalu, Pak Subali menggambarkan, dulu bukit di amed saat malam hari gelap gulita, hanya bintang diangkasa yang bersinar. Kalo sekarang, di bukit pun banyak bintang berkelip, yang berasal dari lampu listrik rumah warga.
Beliau memerintahkan anak buahnya untuk membantu kami mencari perahu untuk menyeberang ke Gili. Kami sudah mencoba membandingkan sendiri harga perahu didesa-desa lain, yang ternyata mentok di titik Rp 500 ribu. Lumayan lah, membandingkan dengan tamu asing, yang biasanya membayar Rp 800rb untuk dua orang.

Penginapan Good Karma, terletak di teluk kecil dan bercampur dengan desa nelayan. Pemilik Jukung yang menemani kami menyeberang bernama Kaled, yang berasal dari desa nelayan di lokasi Good Karma. Jukungnya selebar 60 cm dan panjang sekitar 6 meter. Dengan batang bambu di kiri dan kanan sebagai penyeimbang.

Kami disarankan menyeberang sepagi mungkin. Untuk menghindari ombak dan arus yang besar. Pukul delapan lepas sarapan kami mulai menaikkan barang ke Jukung. Kami keluar teluk menggunakan mesin tempel 15 HP, untuk kemudian layar dibuka dan mengembang dengan sempurna.

“Nenek moyang Bangsa Indonesia menggunakan perahu bercadik untuk berlayar mengarungi lautan”. Begitu kata buku teks yang saya ingat, yang menceritakan keberanian nenek moyang kita menjelajahi lautan. And now I am on it.

Sebetulnya kami tidak tepat sekali menyeberang selat lombok. Karena jalur kami adalah di “Pintu Utara Selat Lombok”

Semula saya senang dengan harga yang ditawarkan, 500rb untuk 3 orang. Tapi setelah ditengah laut, ternyata harus merasakan langsung akibatnya. Dengan beban di perahu yang semakin berat, jumlah air yang terciptrat ketika perahu menghantam gelombang semakin banyak. Ditambah beban barang bawaan yang dipersiapkan untuk mendaki Rinjani.

Nelayan di Amed umumnya berangkat berlayar untuk menangkap ikan pada pukul 3 pagi, dan kembali ke desa pukul 7 pagi. Sisanya kapal diparkir di pantai. Pada rentang waktu itu umumnya ombak belum besar sehingga mengurangi resiko kerusakan pada perahu mereka. Membawa tamu ke lombok memang kelihatan menarik secara finansial, tapi juga besar resiko kerusakan bagi perahu mereka. Jukung milik Kaled sudah ia miliki selama lebih dari sebelas tahun dan terbuat dari kayu bulat yang di buang bagian tengahnya. Hebatnya Jukung ini terawat dengan apik. Tidak ada kotoran didasar perahu. Semua badan perahu di cat dengan rapih.

Saya berbagi pengalaman tentang nelayan di Pangandaran, yang menggunakan perahu jukung juga, tetapi sudah terbuat dari fiberglass. Karena dengan begitu, dapat mengurangi jumlah kayu bulat yang ditebang dari hutan. Menurut Kaled, beberapa nelayan di Candi Dasa juga sudah mulai menggunakan perahu fiberglass untuk menangkap ikan.

Gelombang laut dengan panjang gelombang yang mendekati panjang kapal adalah yang paling kami takuti. Karena walaupun tinggi gelombang hanya 1 meter, dapat membuat ujung perahu menghujam air dam memindahkan sebagian air laut kedalam kapal. Ketika matakaki saya mulai terendam air, biasanya saya mulai mengambil ember dan menimba air keluar. Jadi ABJ-Anak Buah Jukung, kata teman. Karena kapal penuh saya duduk ditempat dimana air biasa ditimba keluar kapal dan menjalankan peran tersebut.

Gelombang yang lebih besar juga menciutkan karena terkadang mengilangkan horizon dari pandangan mata.

Rasanya dekat sekali dengan laut. Rasanya bingung apakah saya gembira, ato ketakutan. Sesekali saya berkhayal menjadi Santiago dalam The Old Man and The Sea-nya Hemingway…alah, tiga setengah jam aja kok menghayalnya jauh amat…

Kaled dan temannya mengemudi kapal sambil berdiri di buritan. Yang mereka lakukan adalah memilih rute supaya tidak melewati daerah yang terlalu bergelombang. Heran juga, kami sudah cukup jauh dari pantai, tapi dikejauhan masih terlihat buih putih dari ombak yang memecah. Ternyata daerah tersebut adalah daerah dangkal dimana gelombang menjadi ombak dipermukaan.

Siluet pulau pertama yang tampak adalah Gili Trawangan, dengan antena BTS di bukit tertingginya. Tapi masih butuh sekitar 2 jam untuk mencapai pulau.
Kami mendarat dekat pelabuhan shuttle boat menuju Bangsal. Sebetulnya Kaled bisa saja mengantar sampe Bangsal, tetapi karena ia mengaku belum mengenal medan, saya tidak berani memaksa. Para nelayan tradisional memang hanya mengandalkan pengalaman untuk sampai di titik-titik yang biasa mereka kunjungi. Kaled, moga-moga suatu hari Bli bisa punya GPS.


Bangsal – Sembalun Lawang

Tiba di Bangsal mulailah dengan segala kerepotan menghadapi tawaran makelar angkutan umum di Terminal Pemenang. Sebetulnya tips menghadapi situasi seperti ini adalah pergi menjauh dulu dari terminal, ato bilang menunggu jemputan. Tapi kami berada di perempatan sebuah desa kecil. Jadi ok lah, asal masih masuk akal.

Dahulu saya sangat muak dengan praktek percaloan di terminal. Tapi lama-lama saya perhatikan para calo ini kan sekedar belajar dari bos-bos besar berdasi yang motif bisnisnya juga tidak lebih dari percaloan.

Karena hari menjelang sore, maka kami langsung mencarter kendaraan ke Sembalun Lawang sebesar Rp 150,000. Mikro bus yang kami sewa akan mengantar kami sampai di Sembalun Lawang dan kemudian pulang ke garasinya di Bayan. Supir angkutan asal Pemenang tidak ada yang mau mengantar kami karena takut pulang malam hari.
Menginap di Penginapan Lembah Rinjani, dibelakang Kantor PHPA Sembalun Lawang. Harga kamar yang paling murah dengan kamar mandi luar untuk 3 orang sebesar Rp. 100,000. Penginapannya bersih dengan restoran yang pantas. Kami meminta porter dari sini dengan biaya Rp. 50,000/orang/hari.

Sembalun Lawang - Pos 1- Pos 2 - Pos 3
Jalur didominasi savana, dengan kemiringan yang “bisa dinikmati”. Sumber air tidak terdapat dijalur ini, sampai di Pos 3 yang sumber airnya berupakan air yang tertampung di ceruk sungai kering.

Usai Pos 3, dimulailah jalur “Bukit Penyesalan”. Buat saya, bukit ini lebih cocok disebut “Bukit Terlambat untuk Menyesal”, karena pun kita menyesal, terlalu jauh untuk kembali pulang.

Plawangan Sembalun
Tempat datar di bibir Kawah Tua Rinjani yang cukup datar dan menyediakan sumber air tawar yang mengalir.
Umumnya pendaki yang berniat naik ke puncak berangkat pada pukul 3 pagi, untuk naik ke punggungan terakhir menuju Puncak Rinjani


Danau Segara Anak

Dengan langkah orang kota, memakan waktu hampir empat jam untuk sampai di Danau Segara Anak. Pada dasarnya, kita menuruni bibir kawah menuju ke dasar kawah tua Rinjani. Tapi masalah pemandangan, jalur ini menyediakan pemandangan yang luar biasa, karena di kejauhan tampah Koh Putih, sungai yang bersumber di Air Panas dekat danau.
Dekat air panas terdapat sumber air mengalir. Banyak warga Lombok yang sengaja meluangkan waktu selama beberapa hari tinggal di tepi danau. Mereka umumnya memancing dan mandi di air panas.

Plawangan Senaru
Menuju Plawangan Senaru, adalah keluar dari dasar kawah tua Rinjani menuju kembali ke bibir kawah tua.
Selama jalur ini jangan lupa sering-sering menengok ke belakang. Karena pemandangan danau yang luar biasa, terutama ketika pagi dan langit bersih.

Pos 4 - Pos 3 – Pos 2 – Pos 1 – Senaru
Ada yang menyebutnya pos 5 tapi antara bangunan ini dan Pos 3 tidak tampak tanda adanya pos, jadi saya menyebutnya pos 4.
Pos 4 terletak persis setelah kita menuruni turunan tajam menuruni bibir kawah. Setelah beberapa saat berjalan di trek terbuka kita mulai memasuki jalur dibawah kanopi pohon, dan kita bertemu pos 3. Semenjak danau, tempat ini adalah sumber air pertama, berupa ceruk sungai kering.

Pos 1 terletak di beringin berkaki 3. Ini juga tanda bahwa pintu jalur pendakian tinggal 1 kilometer. Di gapura ini terdapat warung yang menyediakan makanan ala kadarnya.

Butuh sekitar setengah jam untuk sampai di Desa Senaru melalui kebun penduduk. Kami menginap di Bale Bayan. Kamar bersih dengan kamar mandi dalam seharga Rp 30,000 permalam. Juga terdapat rumah makan di penginapan ini.

Mungkin dengan maksud mengakomodasi tamu asing, menu sarapan di restoran di daerah wisata selalu berusaha meng-imitasi sarapan ala barat. Jaffle, toast, scramble egg. Akhirnya saya memilih jalan naik sedikit ke arah jalur yang kami lewati malam tadi untuk mampir di warung. Pisang goreng, Ketela Rebus, dan teh manis hangat, yang airnya dimasak dengan kayu bakar sehingga memberi bau yang khas…ini baru sarapan.

Lombok Perimeter
Kami memutuskan untuk menyewa kendaraan dari Senaru untuk kembali ke Mataram, dengan perjanjian rute yang dilalui tidak Utara – Barat (lewat Senggigi) tetapi Utara – Timur – Praya – Kuta baru Mataram. Lumayan, Rp 300rb termasuk bahanbakar. Mobil Panther yang kami sewa membuat kami sempat mampir di Mesjid Kuno yang dipakai oleh pemeluk Waktu Telu.

Kuta Lombok pantainya cantik, walaupun pengunjung dibuat tak nyaman dengan adanya pedagang acung yang terlalu persistent. Tetapi melihat lombok bagian tengah dan selatan, baru disadari bagaimana keras dan sulitnya kehidupan di Lombok. Sangat jarang menemui sungai yang airnya mengalir. Anehnya tanaman favorit di lombok tengah adalah Tembakau, komoditas yang harusnya harganya cukup tinggi. Hampir semua pabrik rokok punya gudang pembelian tembakau disekitar lombok tengah.

Rinjani Practicalities
Penginapan
Sembalun Lawang: Lembah Rinjani (HP: 0852 3954 3279)
Senaru: Bale Bayan (HP: 0817 579 2943)
Foto-foto trek Rinjani(dari perjalanan tahun 2003) : puguhimanto.multiply.com

Tagged as: , , , ,

Puguh is
Email this author | All posts by Puguh

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

Copyright ©2004-2008 Indonesia Backpacker Community All rights reserved. All articles and Images may not be reproduced in any form without the express written permission of the copyright holder | All Information contained on this site may not be used for commercial purposes,
for more information please Contact
admin At indobackpacker.com | Powered by the WordPress

Creative Commons License
Except where otherwise noted content on this site is licensed under a
Creative Commons Licence.