Satu Gerbong 125 Penumpang
By Santoso • Aug 3rd, 2005 • Category: Rangkuman Diskusi
muat 5-6 orang tapi tidak ada yang menempati. Usut punya usut ternyata di situ atapnya bocor hingga tempat duduknya basah. Karena sedang pusing kepala dan ingin duduk, aku lap tempat duduk tadi dengan tisu, akupun duduk dengan memakai payung. He…..he…… mana ada di dalam kereta memakai payung kalau bukan di KRD. Ada ibu-ibu didepanku yang tersenyum melihat kreatifitasku.
Selama naik KRD, dua kali aku naiknya di ruang masinis (tentu saja seijin dari masinisnya). Ternyata asyik juga meski tidak ada tempat duduk. Olala
Kereta Pagi Berangkat Siang Hari
Bagi backpacker naik kereta pertama-tama tentu demi menghematan. Meski bersaku tebal backpacker umumnya pantang bermewah-mewah di angkutan. Mereka sadar bahwa murahnya tiket setara dengan tingkat pelayanannya dan karenanya siap dengan 1000 macam konsekuensinya. Cerita om Heru Gunawan berikut membuka dimensi baru. Kereta ternyata bisa dijadikan sarana uji-kemampuan mempertahankan diri-:). Pengalaman om Heru tak kalah heroik dari kisah survival calon anggota Kopassus di tengah belantara. Sekiranya membaca kisah ini bisa jadi Bill Gates berubah pikiran. Siapa tahu ia tak lagi mengirim karyawan barunya ke biro-biro operator uji survival yang mahal tapi cukup berwisata ke Indonesia dan mencoba setidaknya 3 ruas KRD-:). Satu lagi yang perlu dicatat, seperti reality show ’Tolooong’ produk SCTV, pertolongan lebih sering didapat dari orang yang biasa-biasa saja, dari yang yang tidak berkelebihan.
Pengalaman menarik adalah saat naik kereta sapi campur rakyat dan mungkin disitu juga ada sapi rakyat, anggap aja kereta rakyat berangkat dari stasiun Panguyangan (DIY) sampe stasiun kecil di daerah Pemalang (Jateng). Ceritanya abis jadi backpacker waktu itu gw lebih seneng nyebutnya “ngegembel” ke Yogya bareng temen SLTA pada tahun 1995. Berhubung duit yang dibawa cuma pas-pasan dan tinggal selama 1 minggu di Yogya, mau gak mau gw berempat harus naek kereta sapi yang jalannya geal-geol gak jelas kapan nyampenya.
Jam berganti jam dan haripun terus bergulir hingga menjelang malam, gw terus2an berangin2 ria dibawah terik matahari yang menyengat dengan angin pantai yang menerpa tubuh kering emang karena gak mandi selama 2 hari. Bercampur dengan sapi dan beberapa penumpang yang kusam (termasuk gw bertiga) kereta terkadang berhenti di tengah sawah dan ladang untuk menaikan penumpang yang menyetop di jalan atau sekedar berhenti mengalah kereta “mahal” mau lewat duluan. Sambil menunggu kereta jalan lagi gw pake kesempatan untuk meminta buah yang sedang dipanen petani di ladang yaitu buah ketimun (lumayan untuk ganjal perut).
Akhirnya sampe di Pemalang untuk melanjutkan perjalanan dan pencarian yang gak jelas juntrungannya. Ternyata enak juga naek kereta rakyat atau juga kereta sapi milik rakyat yang subsidinya disunat juga oleh sebagian rakyat yang udah keliatan mapan.
Selamat menikmati kereta rakyat sebelum subsidinya dicabut kayak BBM.
(heru gunawan [gundul15@yahoo.com]; Tuesday, March 29, 2005 9:45 AM)
Pertolongan tak terduga juga bisa dibaca pada pengalaman om Irfan Yusuf dari Yogya. Apakah ini kebetulan belaka? Robert Langdon, tokoh utama dalam novel ’Da Vinci Code’, agak alergi dengan ‘kebetulan’. Sebaliknya, ia melihat dunia teranyam oleh jaring-jaring sejarah dan peristiwa yang keterhubungannya kadang tak terlihat mata telanjang. Tokoh utama (saya lupa namanya) dalam ’The House of the Spirit’ juga percaya bahwa antara satu dan lain peristiwa itu sambung-menyambung. Setelah selalu merasakan ’kebetulan’ setiap kali jalan, saya makin yakin bahwa kebetulan-kebetulan itu bukan ‘kebetulan’. Ibaratnya sebelum saya ketuk pintu sudah dibuka, sebelum saya duduk tikar sudah tergelar. Memang bila selalu bersandar kepada-Nya, baik sadar maupun tanpa sadar, selalu saja ada tangan terulur.
jd inget punya pengalaman menarik ttg kereta rakyat. waktu itu 15 th yll aku msh kelas 5 sd yg dengan nekatnya pergi dr Jogja ke jakarta sendirian hanya buat pengen ngerasain naek ke puncak tugu monas
aku dianter bapakku sampai di stasiun tugu untuk naek kereta senja ekonomi yg dl msh sampai ke gambir. dr jogja aku bener2 sendiri berangkat ke jakarta, tp dalam perjalanan kereta ekonomi yg penuh sesak itu aku menemukan byk keramahan serta saudara2 baru yg mungkin senasib dan sepenanggungan karena keadaan yg memaksa untuk naek kereta ekonomi itu. ini dapat dilihat dari obrolan yg ada dalam gerbong kereta, ramah, polos dan jujur. Alhamdulillah setelah sampai jakarta ada seorang penumpang dalam kereta itu yg kelihatannya iba ngelihat aku sendirian di stasiun gambir mau mengantarkan aku sampai ke rmh familyku di petukangan.
sungguh suatu hal yg jarang ditemukan lg sekarang, rasa persaudaraan senasib sepenanggungan sebagai rakyat kecil.
tentunya rasa itu ga bakalan ditemukan kl kita naek transportasi semacam kereta executive atau kapal terbang
(Irfan Yusuf [maspelth@yahoo.com]; Tuesday, March 29, 2005 6:00 PM)
Ditolong orang tidak mengurangi pahala si penolong. Jika kita bahagia karena mendapat pertolongan, kebahagiaan si penolong tentu lebih berlipat. Manakala ada kesempatan dan mampu, mengapa bukan kita saja yang menolong? Di pengalaman rohani berikut rasa ‘iba’ yang terbesit di hati ibu Endah lekas direalisasikan dalam tindakan. Pada dasarnya setiap orang suka menolong. Sayang tidak ada realitas di manusia dalam keadaan ‘pada dasarnya’. Manusia punya otonomi untuk mengolah kondisi dasarnya. Apakah ia mau ringan tangan memberikan bantuan atau tidak; keputusan sepenuhnya ada di tangannya. Seringkali sebelum memutuskan menolong orang menilai pantas tidaknya ybs diberi bantuan. Apakah benar perlu ditolong, bersandiwara, atau sengaja mengeksploitasi kita? Tak ada panduan yang pasti. Satu-satunya cara adalah dengan terus mengasah nurani.
Ketika aku ditugaskan sebagai Kasi Pelayanan di Kantor Cabang Telkom (Kancatel) Rancaekek, satu setengah tahun aku menjalaninya hingga kemudian mutasi mengikuti suami ke Balikpapan. Rumahku sendiri di Bandung. Pada awal aku bertugas di sana terus terang saja sepulang kantor badanku terasa letih dan capai karena jarak antara lokasi kerja dengan rumahku yang cukup jauh (jika lewat jalan tol sekitar 23 km). Terlebih-lebih jika sedang tidak enak badan, rasanya enggan pergi ke kantor. Awalnya aku membawa kendaraan pribadi, tapi di jalan tol ternyata suka ngantuk (mungkin karena sendirian dan tidak ada teman mengobrol), dan juga silau karena arah matahari kebetulan berlawanan. Daripada riskan, akhirnya aku cuma bertahan satu minggu sebelum memutuskan untuk menggunakan angkutan umum. Ada empat macam kendaraan yang kunaiki sejak berangkat dari rumah sampai ke kantor, begitu pula sebaliknya. Ada ojek, kereta api, angkot, dan becak. Satu kali jalan 4x berganti kendaraan, jadi PP berganti angkutan sebanyak 8x. Kalau kebetulan ada rapat di Bandung, bisa lebih dari 10x aku berganti kendaraan umum. Jika naik kereta api, yang kunaiki kadang kereta Patas, kadang KRD yang penuh sesak itu, tergantung dari jadual keperluanku.
Kereta KRD (Kereta Rel Diesel), sering kupelesetkan menjadi Kereta Rakyat Djelata.
KRD adalah keretanya rakyat kecil, warnanya kusam, dan cukup tua usianya. Aku menggunakannya ketika sekali jalan taripnya Rp 600 hingga terakhir hanya Rp 1.000. Kereta ini sangat membantu masyarakat kecil, karena tarifnya yang murah meriah. Meski sangat murah namun jangan salah, kereta ini juga ber-AC (Angin Cemiliir….), ditambah lagi full-asap (rokok). Setiap gerbong jika kondisi normal kapasitasnya sekitar 50 orang, namun untuk KRD ini bisa terisi hingga 125 orang termasuk yang di atap gerbong, bahkan lebih. Jangan tanya soal kenyamanan, dari aroma keringat, asap rokok, barang belanjaan kadang bahkan hewanpun bercampur baur menjadi satu. Tempat duduk menjadi barang yang sangat mahal. Begitu masuk, mataku juga penumpang lainnya sudah terlatih jelalatan untuk mencari tempat duduk barangkali masih ada sedikit yang tersisa. Itupun harus berdesak-desakan dengan penumpang yang berbarengan naiknya. Tempat duduknya berupa bangku yang berderet panjang dan berhadapan. Jika ada sisa ruang di pojok selebar 10-15 cm pun rasanya sudah sangat nikmat. Padahal capai juga dengan tempat duduk selebar itu, tapi daripada berdiri sampai Bandung kaki juga tak kalah pegalnya. Jika kebetulan berdiri terasa pusing, kadang akupun ‘melantai’ alias duduk di lantai gerbong beralaskan koran. Atau kalau ada yang membawa setumpuk bambu atau sapu lidi untuk di jual di Bandung, itupun sudah merupakan tempat duduk tambahan yang cukup ‘istimewa’ bagiku. Enaknya di sini, mau duduk dimanapun kita tidak perlu gengsi, cuek saja.
Pernah suatu saat menjelang Idul Adha aku harus rapat ke Bandung. Begitu naik setelah berdesak-desakan, kulihat ada sebuah tempat duduk yang kosong. Aku agak heran karena penumpang kereta tersebut penuh sesak. Begitu aku mau duduk, aku baru sadar ternyata di sebelah tempat duduk tersebut ada seekor kambing (mungkin dijual untuk Qurban di Bandung). Dan maaf …. ‘pantatnya’ pas menghadap tempat duduk yang kosong tersebut. Akupun hanya bisa tersenyum kecut dan berdiri dengan pegal hingga stasiun Bandung. Beberapa saat ketika kereta telah berjalan, akhirnya ada juga seorang bapak tua yang mungkin karena lelah, rela duduk berdampingan dengan kambing tersebut.
Pernah juga di suatu gerbong yang kunaiki ada sekeranjang besar ayam kampung hidup, mungkin mau dijual ke Bandung. Karena aroma kotorannya sangat menyengat, akupun pindah ke gerbong lain yang sangat sesak. Karena kereta sangat penuh, ada beberapa penumpang yang bertahan di gerbong tersebut. Ketika kereta berhenti di stasiun Kiaracondong, terlihat pemandangan yang cukup ‘menakjubkan’. Yaa……. penumpang yang turun dari gerbong yang ada ayamnya tersebut membuat ‘koreografi’ spontan; yang meski tanpa koreografer namun mereka melakukan gerakan yang sama, yaitu para penumpang yang turun tadi meludah semuanya. Mungkin karena mereka sudah tidak kuat lagi menahan aroma ‘istimewa’ sejak ada di dalam kereta. Membuatku tak tahan untuk menahan tawa.
Atau suatu ketika hujan turun cukup deras. Di gerbong yang aku naiki, ada tempat duduk kosong yang cukup lebar, muat 5-6 orang tapi tidak ada yang menempati. Usut punya usut ternyata di situ atapnya bocor hingga tempat duduknya basah. Karena sedang pusing kepala dan ingin duduk, aku lap tempat duduk tadi dengan tisu, akupun duduk dengan memakai payung. He…..he…… mana ada di dalam kereta memakai payung kalau bukan di KRD. Ada ibu-ibu didepanku yang tersenyum melihat kreatifitasku.
Selama naik KRD, dua kali aku naiknya di ruang masinis (tentu saja seijin dari masinisnya). Ternyata asyik juga meski tidak ada tempat duduk. Olala….. aku jadi tahu cara masinis mengemudikan kereta. Bisa melihat laju kereta berjalan menyusuri rel dari tempat yang paling depan. Hmm….. kapan lagi bisa mencobanya jika bukan karena naik KRD, satu hal yang bikin aku penasaran sejak aku masih bujangan.
Sobatku di kereta ini ada bermacam-macam, ada karyawan pabrik, guru, pedagang sate, pedagang asongan, pengamen, dan lain-lain.
Suatu sore ‘KRD-ku sayang’ berjalan dari Stasiun Rancaekek.
Ketika kondektur memeriksa karcis, seorang Bapak pedagang cobek batu saat diminta karcisnya berkata :”Maaf Pak, saya tidak punya uang untuk membeli karcis karena jualan seharian dagangannya tidak ada yang laku!”. Kondektur diam dan berlalu, seperti memahami himpitan bebannya. Waktu itu harga karcis Rp. 1.000, benar-benar sangat murah untuk jarak puluhan kilometer. Namun tidak untuk Bapak tersebut yang tidak mendapatkan penghasilan sama sekali. Kulihat ada dua tumpuk cobek batu di dekat Bapak tadi duduk, di lantai dekat pintu kereta. Segelas aqua yang baru saja kubeli kutawarkan kepadanya dan langsung diminum habis. Pemandangan sawah yang kami lewati sore itu cukup segar, karena padi di sawah sedang menghijau; namun Bapak tadi matanya menatap kosong ke arah pemandangan di luar.
Sementara itu, pedihnya aku membayangkan isteri dan anaknya yang menunggu di rumah sambil menunggu Bapak tersebut membawa uang hasil jualannya yang ternyata nol. Padahal jualan cobek batu bukanlah pekerjaan yang ringan, seharian harus memikul cobek batu yang sangat berat tersebut dengan berjalan kaki keluar-masuk kampung.
Dan kalau tidak ada yang membeli, ah … aku tak kuasa berandai-andai untuk melanjutkan ceritanya. Dadaku turut merasa sesak. Kutatap dalam-dalam wajah Bapak penjual cobek batu itu. Terbaca jelas kegundahan dan kegalauan pikirannya.
Wajah lelahnya terlihat semakin kusut, matanya menerawang……….redup…….., menghentak-hentak dinding nuraniku. Semilir sejuk angin persawahan yang terbawa laju kereta, bahkan tak mampu menghapuskan kegalauan Bapak tadi. Saat kutanya, rumahnya di daerah Padalarang (sekitar 60 km dari tempatnya menjajakan dagangannya). Ketika aku hendak turun, kuberikan sedikit uang yang tersisa (mohon maaf sekali kalau disebutkan), kebetulan aku jarang membawa uang berlebih karena trauma pernah kecopetan HP dan dompet di kereta. Ya Allah…….. mata Bapak tadi………. tak kuasa aku untuk menatapnya lama-lama. Matanya mulai basah……, kemudian terucap syukur serta doa yang membuatku semakin terharu.
Aku turun di Stasiun Kiaracondong
Dan ketika KRD-ku sayang kembali berangkat untuk melanjutkan perjalanan, dari pintu kereta Bapak penjual cobek batu tadi melambaikan tangannya. Kubalas lambaian tangannya. Ada sebuah kelegaan luar biasa dalam hatiku ketika kulihat sebuah senyuman mengembang dibibirnya. Kepalaku yang sejak naik kereta terasa pening, tiba-tiba kini terasa ringan. Sambil berjalan menyelusuri gang yang menuju pangkalan ojek, aku merenung….. Seharian mencari nafkah tanpa se-senpun uang yang didapat, mungkin bukan hanya Bapak penjual cobek tersebut yang kebetulan saja aku menemuinya hingga bisa kudapat sebuah PR (Pengalaman Rohani) yang begitu berkesan. Mungkin banyak ‘Bapak-Bapak’ penjual lainnya yang mengalami nasib sama dengan Bapak tadi, namun hanya sedikit sekali yang bisa kuperbuat.
Di KRD…..
Aku melihat sebuah realita kehidupan yang begitu nyata ada di depan mata, meminjam slogannya Telkomsel ’so close, so real’.
(Endah RH [endahrh@telkom.co.id]; Tuesday, March 29, 2005 4:07 PM)
Semua potpuri di atas roda baja berjalan sepertinya telah dikupas tuntas oleh tulisan di atas. Adakah tersisa ‘kreativitas’ yang lain? Tentu saja ada mengingat setiap naga, sebagaimana ditulis Gibran, akan melahirkan pendekar yang akan menyembelihnya. Terus terang, akal bulus di tulisan berikut untuk menyiasati padatnya gerbong belum pernah saya lihat. Usil, aneh, nekad, tapi 100% orisinil!
Wah mbak Endah…. bener2 berkesan aku jadinya. Antara percaya dan gak loh (maap yaa, abisnya top banget sih ceritanya). Pengalaman yg berharga banget tuh. Desi jarang2 ngerasain kaya gitu.
Waktu mau ke Slamet, aku dan temen2 naek KA ekonomi (namanya lupa). Karena abis Lebaran, jadi penumpangnya masih banyak. Murah meriah rame …
Murah … ya emang murah. Meriah … banyak “hiburan” dan gak kawatir kelaperan karena orang jualan selalu seliweran. Rame … sebenarnya sih bukan rame tapi penuh sesak. Saking penuhnya, kami yang perempuan duduk berempat di tempat duduk yang seharusnya untuk berdua ato paling banyak bertiga. Sedang yg laki-laki harus puas berdiri, karena sudah gak mungkin lagi untuk duduk lesehan di bawah! Kasian, harus berdiri selama berjam-jam. Malahan ada temenku yg sempat berdiri satu kaki, dia bilang latihan keseimbangan biar jago kungfu.
Ada juga temenku yg punya ide kreatif (gila sebenarnya). Dia naek ke tempat barang dan duduk/tiduran di situ, mumpung gak ada barang disana dia bilang.
Seperti yg mbak Endah pernah bilang, waktu itu emang agak2 kesel. Tapi sekarang, baru tau hikmahnya … dan akan trus kita kenang.
(Desi [desi_nuha@yahoo.com]; Tuesday, March 29, 2005 4:43 PM)
Menurut hitungan para pakar astrofisika, jagad raya ini sudah berusia 15 milyard tahun. Sementara rerata usia manusia tak sampai seabad. Bagi yang belajar geologi juga akan tersadar betapa pendeknya usia manusia dibanding uzurnya kerak-kerak bumi. Berapa potong bagian dunia dan kehidupan yang bisa dikenali dan diambil hikmahnya sepanjang hayat seseorang? Sebagai bandingan, kita memakai metafora, memakai perbandingan sifat, untuk mengatasi keterbatasan bahasa. Makanya ada benarnya bahwa:
Kalau mau belajar dari kehidupan di Indonesia, naiklah kereta rakyat. Di kereta rakyat, walaupun asep rokok ngebul, debu beterbangan, bawah kursi dipenuhi orang … ada ketenangan, ada kedamaian, ada juga keceriangan. Yg paling banyak adalah kesabaran. Aku jadi kangen nih, pengen naik kereta Gaya Baru malam lagi … nggak tau, kapan lagi ya.
Kapan2x, kita naik kereta rakyat rame2x yuk … tentu, tidurnya di kolong kursi, duduknya di deck kereta berasalkan koran, kalau punya kursi lipet, boleh juga dipinjem.
Hidup kereta Rakyat Djelata, kapan kereta ini bisa nyalip kereta Argo? Jawabannya, nanti … nunggu sampai 4 abad lagi ya!
Alam seharusnya membuat kita semakin tau tentang makna hidup
(:: Aris [kunlun_it@yahoo.com.sg]; Tuesday, March 29, 2005 5:18 PM)
Romantika di kereta belum lengkap tanpa hadirnya tokoh antagonis. Si jahat perlu hadir lantaran sebagian orang baru bisa memetik pelajaran bila diberi teladan. Itu sebabnya si jahat selalu muncul di mana-mana, dalam cerita rakyat, drama tragedi-komedi Yunani, epos besar Mahabharata, opera sabun, telenovela hingga sinetron multivision. Pengamatan om Juni atas si jahat dalam tulisan berikut kelasnya sama dengan info intelijen kategori A1-:). Tentu akan seru andaikata ada bandit kelas teri (apalagi teri Medan-:)) yang melek internet dan membaca tulisan itu. Mau tak mau si jahat mesti berinovasi menemukan teknik-teknik baru demi mengasapi dapur. Ujung-ujungnya om Djuni pun akan jadi makin sering ngalor-ngidul di atas gerbong untuk memetakan perilaku mereka dengan lebih rinci.
Dengan naek kereta ekonomi kita akan dapat belajar mengenai banyak hal. Adalah sangat menarik mengamati segala tingkah polah orang2 yg naek kereta itu. Contoh kecil adalah mengamati kegiatan para pencopet di kereta.
Dalam acara jalan2 ke Baduy tgl 19 - 20 Maret kemarin ada kawan (Aya) yg diincar sekawanan pencopet sejak dari Stasiun Tanah Abang. Penumpang kereta ekonomi Jakarta - Merak sudah penuh di St. Tanah Abang dan menjadi semakin berjejal di Serpong dst hingga kami turun di Rangkasbitung. Aya membawa tempat duduk portabel dan duduk di sebelah saya di dekat bordes. Saat itu kami ber-16 orang dan Aya termasuk rombongan.
Gerak-gerik kawanan copet itu semakin mencurigaikan selewat Serpong. Mereka (ada 4 orang) mulai mengepung Aya di samping kiri-kanan dan belakang. Wah ini mulai berbahaya saya pikir, maka saya pindahkan kawan perempuan yg di sebelah saya dan posisi saya sekarang tepat di sebelah pencopet tsb. Tahu ada yg mengawasinya, kawanan copet itu tdk berbuat lebih lanjut. Tetapi ketika selewat dua-tiga stasiun sehabis Serpong, mereka mulai mengepung Aya lagi dan kali ini mereka tampak akan bertindak sesuatu. Oleh karena itu segera saya menarik satu kawan laki2 utk berdiri di samping Aya di dekat bordes kereta. Jadi posisinya sekarang adalah copet - kawan cowok - Aya - copet (di belakang Aya) - saya. Kawanan copet tsb juga segera tahu kalo
calon mangsanya ada yg “melindungi”, maka mereka menyingkir agak jauh di gerbong sebelah.
Saya lihat kawanan copet itu masih tetap mengawasi kami utk mengambil
kesempatan berikutnya, yg saya perkirakan akan terjadi ketika banyak
penumpang turun di Rangkasbitung. Setelah satu kawanan copet itu
menyingkir, perhatian saya alihkan ke sekeliling lagi dan ternyata ada kelompok lain yg mengincar mangsa yg sama (kali ini mereka berdiri di dekat pintu masuk). Waduh, ini tambah berbahaya pikir saya lagi. Maka saya tarik lagi satu kawan cowok utk berdiri mengelilingi Aya, maka jadilah ada 3 laki2 di sekitar Aya.
Tiba di Rangkasbitung memang banyak penumpang yg turun. Spt biasa kalo mo turun, penumpang berjejal di pintu keluar. Utk keamanan saya minta kepada kawan2 rombongan utk turun belakangan aja setelah sebagian besar penumpang telah turun dan tidak lagi berjejal. Dan benar saja ketika gerbongnya mulai sepi, dua kawanan copet itu sudah tdk nampak batang hidungnya lagi. Kami turun satu persatu dan tetap dalam satu rombongan yg saling mengawasi utk menghindari kejadian yg tdk diinginkan.
Dan omong2, ketika pulang naek bus dari Rangkasbitung ke Kalideres pun kawan2 rombongan juga diincar kawanan copet (2 orang yg saya tahu). Tapi mereka hanya dapat gigit jari dan kawan2 rombongan tetap aman.
Mengapa saya dapat mendeteksi/mengamati adanya kawanan copet ini? Kalo kita di stasiun/terminal/angkutan umum, kawanan copet ini cukup mudah utk diamati (mungkin mereka terlalu percaya diri ya :-)) shg tdk menggubris reaksi orang laen). Ciri-ciri kawanan copet (ciri umum):
# Mereka bergerak dalam kelompok yg ketat; seolah2 tdk saling kenal, kalo diamati perilaku dan gerak matanya mereka selalu saling memberi kode2 tertentu.
# Pandangan mata mereka tampak “liar”; menjelajah calon2 mangsanya,
terutama dandanan, tas, asesoris dll. Jarang sekali mereka berani
bertatapan mata.
# Mereka suka bergerombol di pintu masuk mencari kesempatan saat2 orang naek dan turun dari angkutan umum.
(Djuni Pristiyanto [senoaji@cbn.net.id]; Wednesday, March 30, 2005 5:55 AM)
Saya ingin menutup romantika kereta dengan kisah peminta-minta. Karena tak menemukannya di arsip milis, saya berpaling ke dunia literer, ke ‘Mata Yang Enak Dipandang’ tulisan Kang Ahmad Tohari. Alkisah ada seorang pengemis buta yang mangkal di depan stasiun. Ke mana-mana ia mesti dituntun oleh sang ’asisten’. Merasa diperlukan, si asisten jadi kerap berulah. Demi segelas limun atau sebatang rokok ia tega memeras si tuan dengan meninggalkannya sendirian di tengah panas menyengat.
Karena minimnya ’setoran’ hingga tengah hari mereka berdua saling menyalahkan. Si asisten menyalahkan tuannya yang kurang kompeten karena ia telah membawanya naik-turun gerbong berkelana dari satu kursi ke kursi lain. Si pengemis membalas menyalahkan asistennya karena kurang pandai membaca situasi. Si pengemis telah puluhan tahun menjalani profesinya. Dari sejawatnya yang melek ia tahu bahwa mata orang yang suka memberi berbeda. Mata itu tidak garang, mata itu enak dipandang. Mata itu lebih sering ia ’temukan’ dari penumpang yang keluar dari kereta kelas tiga.
Suatu kali ada rangkaian kereta masuk peron. Rem besi yang ditekan dalam-dalam oleh kaki masinis terasa menggores di ulu hati yang mendengar. Bergegas si asisten menyambar tangan tuannya. Tapi si tuan menolak dengan enggan bangkit dari duduknya. Ia telah hapal benar kereta apa yang masuk di jam segitu. Ini kereta klas utama dan kita tak diijinkan masuk, katanya. Dari balik jendela, sambungnya, hanya bisa dilihat mata sedingin mata bambu, bukan mata yang enak dipandang.
Sangatta, 20-Juli-2005
Santoso is
Email this author | All posts by Santoso



