Apa sih asyiknya backpacking?
By admin • Sep 26th, 2005 • Category: New Article
Anda ingin melihat bentang alam nan indah yang terus salah
satu lubangnya mengepulkan asap namun menyimpan potensi bahaya yang luar
biasa? Anda ingin merasakan bermalam di
kampung yang jarang di kunjungi dan berada jauh di hutan pedalaman yang harus ditempuh
dengan waktu dan jalur yg sulit dengan berjalan kaki?
Anda ingin melihat bentang alam nan indah yang terus salah
satu lubangnya mengepulkan asap namun menyimpan potensi bahaya yang luar
biasa? Anda ingin merasakan bermalam di
kampung yang jarang di kunjungi dan berada jauh di hutan pedalaman yang harus ditempuh
dengan waktu dan jalur yg sulit dengan berjalan kaki?
Anda mengangankan berendam sepuasnya di pantai seraya
berkhayal Anda seorang milyarder pemilik pulau mungil tak berpenghuni di
hadapan Anda? Atau mau melihat bentang alam yang lain di mana
padang rumput meluas hingga ke kaki bukit di mana kuda dan lembu merumput
sepuasnya?
Jawabnya
hanya satu: berjalan lah, buatlah perjalanan.
Lebih tepat lagi silakan ber-backpack karena tempat-tempat eksotis yang
jarang sekali ditawarkan oleh paket-paket wisata.
Apa sih asyiknya backpacking? Ini adalah pertanyaan yang sering terdengar
ketika saya dan backpack atau keril besar menemani perjalanan. Jawabnya sederhana, karena saya
suka. Kesukaan ini saya wujudkan dengan mengatur/merancang
sendiri setiap perjalanan ke lokasi-lokasi yang ingin saya kunjungi. Selain
lebih mandiri, kepuasannya juga lebih terasa.
Umumnya lokasi-lokasi yang saya kunjungi lebih banyak berjenis alam
bebas. Misalnya trekking ke pegunungan,
hiking ke hutan, menjelajah sebuah pulau atau ke desa terpencil. Dari sisi jumlah traveling ke pegunungan
lebih banyak saya lakukan. Alasannya, lebih mengasyikan, hemat biaya
dan harus jalan kaki menggendong ransel.
Mungkin Anda bertanya: mengapa mesti menggendong?
Menurut
asal-usulnya, backpack terdiri dari kata ’back’ dan ’pack’. Back dalam bahasa Indonesia artinya belakang. Sedang pack dalam bahasa Indonesia bisa
dipadankan dengan bungkus atau paket. Backpack
per definisi sama dengan tas (paket/bungkus) belakang, tas yang digendong di
belakang. Dalam dunia para backpacker, backpack
lebih ngetrend dengan sebutan ransel atau rucksack atau keril. Dari backpack turun kata backpacker, orang
yang berjalan kaki menggendong ransel.
Umumnya ransel yang
dipakai para backpacker lumayan besar.
Rata-rata di atas 50 liter, bahkan sampai 120 liter. Seberapa sih besar ransel 120 liter itu? Dalam kondisi terisi penuh kira-kira
tingginya hampir 120 cm atau kalau mau diukur takaranya sama dengan 120 liter
air. Tentu saja ransel tidak selalu
harus digendong. Manakala perjalanan
harus dilewatkan di atas bis atau angkutan umum, ransel terpaksa mesti
’berpisah’ sementara dengan tuannya.
Ransel harus rela mendekam sementara di bagasi atau ditaruh di atas kap.
Pengalaman-pengalaman
unik yang saya sebut di muka baru sebagian dari keasyikan backpacking. Masih banyak nilai plus lain yang akan
dipetik kalau kita backpacking.
Nilai-nilai itu bisa muncul dari tahapan baik sebelum, selama, mau pun
sesudah backpacking.
- Mencari sendiri data dan informasi lokasi yang
akan dikunjungi. Ini wajib
dilakukan. Tanpa persiapan sama
artinya tidak bisa backpacking.
Dengan mencari sendiri, data dan info akan lama menempel di otak. Bukankah membeli sesuatu dari keringat
sendiri lebih berharga ketimbang pemberian orang lain? - Itinerary bisa kita atur sendiri (suka-suka
kita) sesuai dengan rencana. Bisa me-manage
perjalanan sendiri sehingga memungkinkan banyak lokasi bisa dikunjungi. - Tidak terikat seperti kalau mengikuti
tour&travel (jadwal, tujuan, waktu dll), walaupun backpacking juga
bisa dilakukan rame-rame. karena tidak terikat jadual berarti
alokasi waktu di tempat tujuan lebih fleksibel. - Biaya bisa lebih murah, karena backpacker tak
perlu mengeluarkan uang (hanya demi merasakan empuknya tilam) nginep di
hotel berbintang. Backpacker tidak
perlu makan di restauran, di warung kaki lima pun asalkan bersih sudah
cukup. Singkatnya, alokasi biaya
terbesar ada di jalan-jalannya. - Daya jelajah lebih luas. Lokasi yang hendak dituju kadang cuma
backpacker yang mau bersusah payah mendatanginya, entah itu suku-suku
pedalaman, hutan belantara, gunung - Banyak suka-duka dan pengalaman berharga. Misalnya, dengan turun naik angkot kita lebih
banyak berinteraksi dengan masyarakat sekitar. (Dengan ke pedalaman kita tahu bahwa
barang kelontong itu semudah mendapatkannya di Jakarta. Di Wamena, sabun mandi dijual potongan
layaknya es). - Kalau suka photography tentu akan
mendapatkan lebih banyak momen untuk dipotret. (Backpacking adalah salah satu sarana
pelatihan terbaik bagi peminat photography).
Dalam pengalaman
saya berbackpacking, saya banyak menemui hal-hal baru, misalnya kearifan
masyarakat dan budaya nya, teman baru yang baru saja di kenal di perjalanan dan
kami bisa langsung akrab. kalau trekking
ke pegunungan, saya suka dengan keindahan alam nya. Tapi kalau ke laut
saya suka dengan kegiatan yg dilakukan oleh nelayan, dan banyak lagi pengalaman
lainnya.
Peralatan backpacking, ada banyak sekali karena banyaknya,
ada komentar seorang backpacker itu kalau melakukan perjalanan seperti orang yg
membawa seisi rumah, bagaimana tidak.
Didalam backpack besarnya hampir memuat semua peralatan yg di butuhkan,
mulai dari alas tidur, kompor, buku, peta, dan peralatan lainnya. Tapi dalam melakukan perjalanan, backpacker
akan menyesuaikan bawaan nya sesuai dengan tujuan, tapi untuk backpacker yg
merencanakan perjalanan dalam waktu lama dan punya tujuan hampir ke semua
lokasi. Umumnya membawa semua peralatan nya.
Backpack,Coverbag atau Bullsack, Daypack,Tenda,Sleeping bag,
Alat masak, pakaian secukupnya, sepatu dan sandal dan alat-alat kebutuhan pribadi lainnya.
beberapa di sadur dari Berbagai sumber
ARIS



