Jerash Situs Romawi di Ranah Arab

Custom Search

By Santoso • Sep 15th, 2005 • Category: Budaya / Cultural, Wisata
Bookmark and Share

Bertanya ke sebuah gedung, sepertinya perpustakaan, tiada jawaban. Kali kedua melintas theater seseorang menyapa. Pakaiannya a la barat tapi berkefiyeh kotak-kotak merah putih. “No tourist office here, but I can explain anything you want,” katanya seraya mengajak ke theater, “Where are you from?”. Tahu kami dari Indonesia, ia meneruskan, “How is Megawati? Is she better than Wahid?” Karena theater bukan target, kami pun minta diri.

Dengan taksi kami ke hotel Le Meridien. Suasana hotel sendiri adem-ayem. Di lobby hotel seseorang mengabarkan bahwa kedutaan Israel telah pindah ke Al Rawabi. Sudah 5 tahun terakhir, jelasnya.


Inginnya bangun pagi, apa daya badan tak kuasa berontak pada irama alam.

Selain kurang tidur perubahan zonasi Dari Kairo ke Amman cukup mengagetkan dan membekukan tulang. Saat kami siap, jarum pendek telah lewat angka 9. Sembari nunggu sarapan, rentetan gambar di layar kristal sungguh memilukan. Dome of Rock, masjid Umar, di Yerusalem muncul berkali-kali. Seorang petani yang tengah menggarap lahan dihampiri sekelompok serdadu. Sebentar terjadi cekcok, senapan menyalak dan si petani roboh. Menyusul kemudian suara penuh gelora, “Ummi labaik …

ummi labaik!” Agaknya sejenis layanan masyarakat sekaligus indoktrinasi karena diputar berulang-ulang.

Tempat kami menginap dekat dengan simpul pertemuan 4 ruas jalan. Di seputar itulah il-balad, pusat niaga Amman, berada. Menyertai toko-toko, money changer tumbuh sesubur cendawan di musim hujan. Hari itu USD 100 setara JD 9 (dinar Yordania). Kami menyusuri jalan Hashimiyah sampai di theater Romawi karya semasa Antoninus Pius (138-161). Kami cermati kiri-kanan, di mana letak visitor center?

Bertanya ke sebuah gedung, sepertinya perpustakaan, tiada jawaban. Kali kedua melintas theater seseorang menyapa. Pakaiannya a la barat tapi berkefiyeh kotak-kotak merah putih. “No tourist office here, but I can explain anything you want,” katanya seraya mengajak ke theater, “Where are you from?”. Tahu kami dari Indonesia, ia meneruskan, “How is Megawati? Is she better than Wahid?” Karena theater bukan target, kami pun minta diri.

Dengan taksi kami ke hotel Le Meridien. Suasana hotel sendiri adem-ayem. Di lobby hotel seseorang mengabarkan bahwa kedutaan Israel telah pindah ke Al Rawabi. Sudah 5 tahun terakhir, jelasnya. Untungnya kami tak perlu mencari-cari. Seorang sopir taksi yang biasa ngetem di depan Le Meridien mau mengantar. Singkat kata, kami tiba di tujuan jam

11 lewat. Dengan tentara yang berjaga sopir bertanya-jawab dalam Arab.

Taksi balik kanan. Katanya, “Kita diminta masuk dari arah sebelah.”

Ternyata keadaan setali tiga uang. Kedutaan telah tutup dan kami disarankan datang esoknya. “Besok jam 06.30 Anda harus sudah di sini,”

saran sopir yang memperkenalkan diri Majid Mubarak.

Majid asli Palestina. Ia mengobral cerita seputar keluarganya. Jika besok kami mendapat visa, ia tawarkan tumpangan ke jembatan raja Hussein atau tapal batas Yordania – Israel. Dari Al Rawabi berturutan taksi lewat masjid Raja Abdullah, gereja Coptic, pos angkutan ke Damaskus, sebelum kami turun di terminal Abdali. Platform tujuan Irbid tak sulit dicari. Sebuah bis sedang memanaskan mesin dan segera saja kami pesan tiket di kantornya. 51km Amman – Jerash kami lalui dalam tidur-tidur ayam. Kami terjaga saat di balik kaca nampak reruntuhan bangunan Romawi. Penumpang di kursi sebelah membenarkan bahwa yang ada di depan itu situs Jerash.

*****

Kota modern Jerash beririsan dengan kota kuno Gerasa. Tepatnya, separuh Gerasa tumbuh dan berkembang menjadi Jerash. Seperti lazimnya kota Yunani-Romawi, Gerasa dikitari tembok tinggi. Tata kotanya dirancang

mengikuti kaidah Hippodamos. Jalan-jalan saling-silang tegak lurus

dengan bangunan publik didirikan di sekitar persilangan. Gerasa terasa unik karena berdenah nyaris simetris. Cardinus maximus, arteri utara – selatan, sepanjang 800m, ibarat cermin menautkan gugus barat dan gugus timur kota. Cardinus dipotong decumanus, atau jalan utama arah barat – timur, satu di utara dan satu di selatan. Tepat di perempatannya dibangun tetrapylon, gapura atau lengkung empat sisi. Gugus barat situs, yakni kawasan antara cardinus dan tembok barat kota, relatif utuh. Ketebalannya sekitar 500 m. Sedang gugus timur situs relatif tipis, itupun dirimbuni belukar tebal. Seratus meter dari cardinus membujur jalan aspal Al-Qayrawan.

Mengemuka sedari era Megas Alexander (333SM), masa suram Gerasa tiba pasca pendudukan pasukan Perang Salib di abad XII. Kendati panjang usia, takdir Gerasa selalu gayut dengan dinamika regional. Pompeyus, 64SM, menganeksasi Gerasa ke dalam provinsi Syria. Relasi dagang dengan orang-orang Nabati menyemai kemakmuran dalam 2 abad ke depan.

Kemakmuran makin berlipat dengan penaklukkan kerajaan orang Nabati oleh kaisar Trajan (106 M). Di abad III puncak kejayaan digapai menyusul penganugerahan status koloni. Jatuhnya Palmyra di Syria 273 M, beralihnya moda niaga dari kekafilahan ke pelayaran samudra, berangsur menggeregoti kejayaan Gerasa. Semasa hegemoni Byzantium, terutama di bawah Justinian (527-565), gereja-gereja bermekaran di dalam tembok kota. Pasukan Islam yang menguasai Gerasa sejak 636 M, mewariskan masjid bertarikh abad VIII karya bani Umayyah.

Antara 121-132 Kaisar Hadrian melakukan turba hingga di ujung imperiumnya. Tembok pertahanan di Inggris; perpustakaan di Athena; kuil di Ephesus; mausoleum di Roma; dan tentu saja Hadrianopolis, kota Hadrian, di Turki yang kini beralih nama Edirne; adalah sebagian dari jejak-jejak Hadrian. Tahun 129 M Kaisar Hadrian bertamu ke Gerasa.

Untuk peringatan dibuatlah gapura kemenangan di luar tembok kota.

Gapura ini telanjur jadi trade mark situs. Mereka yang datang dari

Amman kontan akan mengenalinya.

Karena masih dalam perbaikan, kami lewat celah antara gapura dan Hippodrome. Hippodrome Gerasa mampu menampung 15.000 penonton. Mengapa arena atletik dan pacuan kereta kuda itu di luar tembok? Apa tawuran antar supporter (atau bonek) sudah mentradisi bahkan semenjak Romawi?

Dari arah depan riuh rombongan anak-anak High School. Sesekali mereka mengajak bercakap, mempraktekkan yang didapat di kelas. Liburan? Study tour? Gerai penjualan tiket situs menyatu dengan visitor center.

Bangunannya mewah namun belum dioptimalkan. Di dalamnya baliho-baliho kronologi penggalian dibentang menjuntai.

Selewat gerbang selatan, di sebelah kiri teronggok puing kuil Zeus.

Kuil ini menyandar di tanah membukit. Dengan sedikit berkeringat dari puncak kuil kami nikmati panorama elok ke seluruh situs. Kepala kuil buatan 162M ini tersambung dengan theater berkapasitas 5000 tempat duduk. Sedangkan kaki kuil tepat menginjak tepian plaza oval, atau Forum. Fungsi plaza oval masih diperdebatkan. Satu pendapat menunjuk forum semata-mata ruang publik, mengingat bentang ekstrimnya mencapai 90m. Pendapat lain meyakini Forum bagian kuil Zeus karena adanya altar persembahan. Digempur cuaca ribuan tahun, ketrampilan tangan khas Romawi masih terekam lewat detail geometri susunan lantai Forum.

Forum adalah ujung selatan cardinus maximus. Antara forum dan perempatan selatan terselip agora di sisi kiri jalan. Agora bukan semata-mata pasar, namun juga tempat isu-isu politik dibincangkan. Kami ambil arah ke kiri mengikuti decumanus selatan. Sejarak 100-an meter, di kanan jalan berserak pemukiman bani Umayyah. Selewat itu jalan tertutup gundukan tanah. Kami memintas ke kanan, ke utara menyusur jalan setapak. Dahulu sudut itu merupakan kompleks gereja. Penggalian telah menyingkap minimal 15 gereja. Berpedoman ke panduan, yang bisa kami kenali hanya gereja-gereja Genesius, Cosmos dan Damianus, St. John the Baptism, dan St. George.

Monumen terbesar di Gerasa, yaitu kuil Artemis, belum pudar kemegahannya. 11 dari 12 pilar adikarya 150-170M ini tetap kokoh.

Berarah memunggungi kompleks gereja, istana untuk sang Godmother itu dilengkapi propylaeum. Selemparan batu dari kuil berdiri theater lain dalam matra lebih kecil. Posisinya tepat di pinggir decumanus utara.

Hasil konstruksi 165 M ini lebih kerap untuk pertemuan dewan kota ketimbang menggelar pertunjukan. Hijau tua dan merah hati marmernya nan mengkilap segera menjulur angan ke keelokkan wujud utuhnya.

Tetrapylon perempatan utara sedikit aneh karena beratap kubah.

Ditengarai ia juga difungsikan untuk gerbang ke theater. Ke utara adalah cardinus maximus ke arah gerbang kota Romawi yang lain. Dari gerbang itu seruas jalan berbatu menautkan Gerasa dengan Pela. Kami berbalik arah, kembali di cardinus maximus. Sebelum pulang ke Amman, kami mampir di museum situs. Museumnya bersahaja, ditunggui seorang penjaga, dan memotret dilarang.

Ditulis: Amman, akhir April 2003

Diedit: Sangatta, 6-September-2004

Tagged as: , , ,

Santoso is
Email this author | All posts by Santoso

Bookmark and Share

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

Home | About Us | Disclaimer | Credits & Contributor | Join a Contributor | Our Contributor |
Komunitas Backpacker Indonesia | Indobackpacker.com | Travel Photography | Mailinglist Archive | Mailinglist Forum

Copyright ©2004-2009 Indonesia Backpacker Community All rights reserved. All articles and Images may not be reproduced in any form without the express written permission of the copyright holder | All Information contained on this site may not be used for commercial purposes,
for more information please Contact
admin At indobackpacker.com | Powered by the WordPress

Creative Commons License
Except where otherwise noted content on this site is licensed under a
Creative Commons Licence.