Kesegaran di Seberang Hong Kong
By admin • Sep 8th, 2005 • Category: Petualangan
Di hari terakhir berada di Hong Kong, awal Agustus lalu, saya memang
ingin menikmati suasana Hong Kong yang beda, yang tidak stereotipe:
deretan toko tempat berbelanja, kerumunan gedung-gedung pencakar
langit, jalanan yang sibuk, dan lautan manusia di mana-mana.
Dari sejumlah teman di Jakarta, saya mendengar Pulau Lamma merupakan
kawasan yang eksotis. Pulau yang terletak di sisi selatan Hong Kong itu
merupakan pulau terbesar ketiga di Kepulauan Hong Kong.
Pulau Lamma bagaikan pesanggrahan di seberang Hong Kong. Wartawan Tempo Nugroho Dewanto menikmati suasana pedesaan yang alami di sana.
Dengan agak tergesa-gesa saya melompat ke dalam mass transit railway.
Berangkat dari Stasiun Tsim Sha Tsui, Kowloon, kereta yang saya tumpangi bergerak ke arah Stasiun Central, Hong Kong. Jalanan belum terlalu ramai kendati sebagian besar toko sudah mulai buka. Pukul 07.00 waktu setempat, pagi memang baru terjaga.
Sekitar lima menit berselang, kereta bawah tanah yang nyaman itu sudah tiba di Stasiun Central. Keluar dari stasiun, saya menyeberang jalan dan langsung menuju ke dermaga feri. Tujuan sudah terpancang jelas: Pulau Lamma. Feri pertama menuju pulau itu akan berangkat pukul 07.20.
Di hari terakhir berada di Hong Kong, awal Agustus lalu, saya memang ingin menikmati suasana Hong Kong yang beda, yang tidak stereotipe: deretan toko tempat berbelanja, kerumunan gedung-gedung pencakar langit, jalanan yang sibuk, dan lautan manusia di mana-mana.
Dari sejumlah teman di Jakarta, saya mendengar Pulau Lamma merupakan kawasan yang eksotis. Pulau yang terletak di sisi selatan Hong Kong itu merupakan pulau terbesar ketiga di Kepulauan Hong Kong. Pulau terbesar adalah Lantau, tempat Bandar Udara Chek Lap Kok dan lokasi patung Buddha raksasa setinggi 26 meter. Yang terbesar kedua adalah Hong Kong yang menjadi pusat pemerintahan, bisnis, dan permukiman warga.
Setengah jam menumpang feri dengan harga tiket HK$ 10 atau sekitar Rp 13 ribu, akhirnya saya menjejakkan kaki di dermaga Yung Shue Wan, Pulau Lamma.
Di dermaga, sejumlah warga terlihat sudah bersiap-siap naik feri yang sama untuk berangkat kerja ke Hong Kong. Penampilan mereka bermacam-macam. Ada yang perlente dengan jas dan dasi, ada yang berkemeja rapi tapi sederhana saja.
Apa pun jenis pakaian mereka, ada kesamaan yang menyatukan. Mereka berdatangan ke dermaga dari segala penjuru Kampung Yung Shue Wan dengan berjalan kaki atau mengayuh sepeda. Beberapa kereta angin terlihat digeletakkan begitu saja di jembatan menuju dermaga, tak dikunci. Di Pulau yang luasnya hanya sepertiga Hong Kong itu, mobil memang diharamkan. Sepeda motor juga tak terlihat barang satu pun.
Satu-satunya kendaraan bermesin yang tampak hanya gerobak motor beroda tiga. Itu pun menggunakan tenaga baterai. "Warga Pulau Lamma biasanya memakainya untuk membawa sayuran, buah-buahan, dan barang dagangan," kata A Fuk, seorang pemilik toko di sana. Di kesempatan lain, warga menggunakannya untuk mengangkut pasir, semen, dan bata yang dipergunakan buat membangun atau merenovasi rumah.
Jalan-jalan yang dibangun di Lamma sengaja dibuat cuma untuk para pejalan kaki dan pengayuh sepeda. Terbuat dari semen cor, bukannya aspal, lebar jalan setapak itu hanya semeter, dan di beberapa tempat dua meter. Bangunan tertinggi pun hanya berlantai tiga. Benar-benar mengesankan suasana pedesaan yang alami.
Mungkin itulah yang membuat sejumlah orang asing berkulit putih betah menetap di sana. A Fuk bercerita, mereka biasanya sudah cukup lama tinggal dan bekerja di Hong Kong. Sesudah pensiun, mereka tetap tinggal di Pulau Lamma karena harga dan sewa rumah lebih murah ketimbang di Hong Kong.
Kehadiran orang-orang asing itu cukup terasa karena jumlah penduduk Pulau Lamma relatif sedikit. Di pagi hari, sejumlah orang tampak duduk santai menikmati sarapan di kedai-kedai teh di sekitar dermaga. Dibandingkan dengan suasana Hong Kong yang hiruk-pikuk, Pulau Lamma yang damai memang ibarat pesanggrahan yang menenteramkan. Di sana, waktu seakan macet, tak mau berputar.
Berbekal sebotol air mineral, saya memulai perjalanan dari dermaga Yung Shue Wan. Pemandangan pertama yang saya jumpai adalah deretan kedai di kiri-kanan jalan yang menjual barang kelontong dan buah-buahan serta restoran yang menyediakan hidangan laut. Kendati letak kedai-kedai itu tak beraturan, serba alami, semua terlihat asri.
Sedikit di luar kawasan perkampungan terdapat Kuil Tin Hao. Sebetulnya tak ada yang istimewa dari kuil itu, kecuali di dalamnya tersimpan kerangka paus yang konon sudah berusia ratusan tahun. Berbekal peta wisata dari dermaga feri di Central, Hong Kong, saya terus melangkah.
Perjalanan terasa mudah karena di tiap persimpangan pun tertera penunjuk arah yang sangat jelas. Selepas kawasan perkampungan, jalan mulai mendaki.
Kontur Pulau Lamma memang berbukit-bukit. Dua bukit yang tertinggi di pulau itu adalah Bukit Stenhouse setinggi 353 meter dan Ling Kok Shan dengan ketinggian 250 meter.
Di awal Agustus, Hong Kong masih dipeluk musim panas. Udara lembab dan bahang matahari membuat tubuh gampang berkeringat. Sebentar saja baju yang saya kenakan sudah basah kuyup. Terlebih lagi ketika memasuki daerah ketinggian, yang rimbunan pohonnya mulai berkurang.
Walau begitu, di ketinggian bukit pula, keindahan lain Pulau Lamma mulai terpampang. Hamparan luas Laut Cina Selatan membentang di depan mata. Nun di sisi bukit, di tepi pantai, sebuah kompleks pembangkit listrik yang memasok setrum ke seantero Hong Kong berdiri gagah. Udara segar pedesaan bercampur semilir angin laut merasuk ke paru-paru.
Tak lama jalan kembali menurun. Sayup-sayup terdengar debur ombak. Rupanya saya sudah mendekati pantai Hung Shing Yeh. Setelah dekat terlihat dua pekerja sedang menyapu daun-daun kering yang mengotori pantai berpasir putih itu. Pantai itu merupakan tempat piknik umum dengan fasilitas lengkap.
Di sana ada menara pengawas bagi penjaga pantai. Kamar kecil dan kamar ganti pakaian selalu terjaga kebersihannya. Bahkan tersedia juga fasilitas memanggang makanan. Tentu, tak ketinggalan sarana kesehatan dan pertolongan pertama pada kecelakaan. Jadi, kendati berada di tempat terpencil yang sepi, Pemerintah Hong Kong tetap memperhatikan kenyamanan pantai tersebut.
Puas rehat dan menikmati debur ombak, saya melanjutkan perjalanan. Kali ini jalur lebih terjal mendaki. Kadang-kadang turun dengan tingkat kecuraman yang cukup tinggi. Bagi wanita tentu tak dianjurkan menggunakan sepatu berhak tinggi untuk berjalan-jalan di Pulau Lamma.
Jalan yang naik-turun membuat paru-paru terasa sesak karena kekurangan oksigen. Di puncak bukit akhirnya saya memutuskan kembali beristirahat. Di sana tersedia gazebo berarsitektur Cina untuk duduk-duduk sambil menikmati panorama dari ketinggian. Di angkasa tiga ekor elang laut tampak melayang-layang mencari mangsa.
Hujan yang tiba-tiba turun membuat waktu istirahat saya di gazebo bertambah panjang. Hari itu jalur treking membelah Pulau Lamma begitu sepi. Maklum, hari kerja. Di hari libur kabarnya banyak turis mancanegara maupun dari Hong Kong sendiri datang berkunjung. Tak jarang mereka datang komplet satu keluarga.
Setelah hujan reda, perjalanan berlanjut. Kali ini jalan lebih banyak menurun. Dari ketinggian, dermaga Sok Kwu Wan mulai terlihat. Di sebuah pertigaan terlihat penunjuk arah menuju pantai Lo So Shing. Perut yang mulai keroncongan membuat saya tak bersemangat melongok pantai tersebut.
Akhirnya, saya tiba di perkampungan Sok Kwu Wan. Tak terasa sudah tiga jam saya berjalan membelah Pulau Lamma. Di dekat dermaga feri, bertebaran sejumlah kedai hidangan laut. Aroma masakan yang bertiup dari arah dapur sungguh menggugah selera makan.
Saya memilih sebuah kedai berbentuk panggung yang berada di atas permukaan laut untuk beristirahat. Untuk menu makan siang saya memesan broccoli scallop dan nasi goreng ikan asin. Tak ketinggalan seteko teh Cina.
Semuanya menghabiskan HK$ 160 atau sekitar Rp 208 ribu.
Sambil menikmati hidangan yang begitu lezat, saya berbincang dengan A Lok, pemilik restoran. Ia bercerita, beberapa restoran di Pulau Lamma, termasuk kepunyaannya, memang terkenal sebagai tempat favorit untuk menikmati hidangan laut. Begitu terkenalnya sampai-sampai ada agen wisata yang khusus membawa tamu hanya untuk bersantap di sana. Ada juga yang sengaja datang sendirian dengan perahu motor sewaan. Seusai makan siang atau malam, yang biasanya ditutup dengan menyesap anggur, para tamu kembali ke Hong Kong.
Begitu pula saya. Bersamaan dengan tandasnya hidangan saya, sebuah feri merapat ke dermaga. Tiba saatnya untuk pergi. Di atas feri yang membawa saya kembali ke Stasiun Central, kealamian Pulau Lamma masih terasa menyegarkan kepala dan jiwa.
***
Cat : Foto di ambil dari situs; www-personal.umich.edu/~alandear/images/Travels/HongKong/HongKong-1.JPG






