Menyusuri Jejak Awan Panas Merapi
By admin • Sep 22nd, 2005 • Category: Trekking
Penduduk yang tinggal di sekitar gunung merapi sejak lama telah akrab dengan fenomena awan panas yang dasyat itu dan memberinya sebuah nama manis: “Wedus Gembel”, istilah jawa ini berarti domba atau biri-biri. Kenampakan awan panas yang turun dari puncak merapi tampak seakan-akan rombongan domba yang sedang turun menyusuri lerengnya. Istilah wedus gembel telah digunakan selama berabad-abad oleh masyarakat di sekitar gunung merapi.
Kamis, 22 november 1994
Pagi itu cuaca di dasar sungai boyong di lereng merapi terasa begitu damai, sunyi ditemani oleh gemericik air di dasar jurang, namun menjelang siang keadaan berubah 180 tiba-tiba terdengar letusan dasyat dari puncak gunung, tak lama kemudian tampak gulungan awan panas berwarna putih kecoklatan keluar dari puncak gunung dan sepersekian detik kemudian bergerak turun menerjang dan menghancurkan semua yang dilewatinya, termasuk aliran sungai boyong yang indah.
Istilah awan panas dipakai untuk menyebut aliran suspensi dari batu, kerikil, abu dan pasir dalam suatu massa gas vulkanik panas yang keluar dari gunung api dan mengalir turun sepanjang lerengnya. Kecepatan aliran dapat mencapai lebih dari 100 km/jam!! Dan jarak jangkaunya dapat mencapai puluhan kilometer.
Dari kejauhan, aliran tersebut tampak seperti awan bergulung-gulung menuruni lereng gunung api. Diwaktu malam aliran tersebut tampak seperti lidah membara dengan temperatur sekitar 300-500C!!.
Penduduk yang tinggal di sekitar gunung merapi sejak lama telah akrab dengan fenomena awan panas yang dasyat itu dan memberinya sebuah nama manis: “Wedus Gembel”, istilah jawa ini berarti domba atau biri-biri. Kenampakan awan panas yang turun dari puncak merapi tampak seakan-akan rombongan domba yang sedang turun menyusuri lerengnya. Istilah wedus gembel telah digunakan selama berabad-abad oleh masyarakat di sekitar gunung merapi. Lebih tua dari istilah nuee-ardente yang mulai dipakai oleh La Croix pada letusan Mount Pelee tahun 1902. penduduk sekitar gunung merapi sering menyaksikan peristiwa wedus gembel ini, karena gunung merapi sering menunjukkan aktivitas letusan. Pada aktivitas tinggi, hampir tiap hari awan panas keluar dari puncaknya. Terbenamnya candi-candi di daerah sekitar merapi menunjukkan Gunung Merapi sudah aktif sejak berabad-abad yang lalu.
Kejadian letusan gunung merapi yang menimbulkan awan panas 22 november 1994 itu menyebabkan 62 orang meninggal, 22 luka bakar hebat dan 6 orang hilang, kemungkinan terkubur tumpukan material di dasar sungai boyong. Disamping itu puluhan rumah di desa turgo dan kaliurang rusak parah, lereng timur bukit turgo dan kawasan hutan di sekitarnya hancur dan terbakar diterjang awan panas.
Sabtu, 20 Agustus 2005
Setelah melapor dan mengunjungi pos pengamatan gunung merapi di kaliurang sekaligus menanyakan keadaan gunung dan menyampaikan tujuan perjalanan kami, Kulangkahkan kakiku menuruni sisi timur sungai boyong, kami bertiga bermaksud untuk mencari jejak-jejak awan panas yang terjadi hampir 11 tahun yang lalu. Sampai di dasar sungai boyong terlihat pemandangan yang kontras. Timbunan material yang berwujud pasir, kerikil sampai batu-batu berukuran besar memenuhi seluruh dasar sungai, aku heran walaupun hampir tiap hari puluhan truk menambang dan mengambil timbunan material ini akan tetapi seolah-olah timbunan material tidak ada habisnya. Setelah berbincang-bincang sejenak dengan beberapa penambang pasir yang sedang bekerja kamipun berjalan ke arah hulu sungai boyong.
Walaupun di dasar sungai pemandangan terasa gersang tetapi tidak dengan pemandangan di atas tebing dan bukit-bukit di sekitarnya, hamparan pemandangan hijau dari tumbuhan yang mulai tumbuh sungguh menyejukkan mata, sungguh kontras sekali dengan pemandangan 11 tahun yang lalu dimana tempat sekitar ini hancur dan terbakar hebat, hampir mustahil tanaman dapat kembali tumbuh di daerah ini. Akan tetapi alam menjawab ketidakmungkinan tersebut dengan proses “menyembuhkan dirinya sendiri”.
Di sekitar aliran sungai boyong masih banyak terdapat sisa-sisa jejak awan panas tersebut dari material sisa letusan, tumbuhan yang terkena awan panas sampai tebing-tebing yang terkikis panas. Semakin ke hulu suasana semakin mengasyikkan, keragaman hayati yang mulai tumbuh di kanan kiri tebing dan bukit-bukit kecil sungguh menyejukkan mata. Di pertengahan perjalanan terlihat air mengalir di sela-sela bebatuhan dan membentuk sebuah aliran sungai kecil, air yang jernih ini berasal dari mata air sungai boyong yang terdapat di hulu atas sana.
Tanpa terasa perjalanan sampai di ujung timur sungai boyong tepat dibawah kaki bukit turgo. Disini terdapat persimpangan alur sungai, sebelah kiri terdapat celah sempit menuju mata air sungai boyong yang terletak di utara bukit turgo, jalur ini cukup menantang sebagai jalur trekking, selain medannya bervariasi pemandangannya pun cukup memikat. Jika cuaca cerah puncak gunung merapi terlihat jelas dan dekat dari daerah ini tanpa halangan, dan tidak terlalu jauh dapat dilihat jelas daerah aliran sungai-sungai yang berfungsi sebagai jalan pembuangan lahar material dari kawah merapi, dari kejauhan daerah itu terlihat seperti jalanan berpasir mulus, sedangkan jika didekati merupakan tumpukan lahar dari atas yang mungkin masih bersuhu amat tinggi dan jelas berbahaya.
Sedangkan sebelah kanan terdapat patahan sungai yang berbentuk waterfall cukup tinggi. Cukup lama kami beristirahat di persimpangan sungai ini. Menikmati damainya alam sekaligus keindahan waterfall di ujung kanan, sayang karena sedang musim kemarau aliran air dari atas tidak ada, hanya ada tetesan-tetesan dan rembesan air dari atas yang bergerak turun diantara celah celah batuan andesit yang berwarna hitam kemerahan.
Dua hari kemudian….
kami berjalan menuju dusun tritis tepat dibawah kaki bukit turgo, dusun ini merupakan salah satu dusun yang terkena langsung awan panas di letusan 94, masih ditemukan beberapa rumah yang hancur terkena awan panas serta beberapa saksi hidup yang mengalami kejadian tersebut, kehidupan di dusun ini tampak telah berjalan normal kembali, sebagian penduduknya berprofesi sebagai petani dan sebagian lagi berprofesi sebagai penambang pasir di dasar sungai boyong yang terletak tepat di sisi timur dusun ini. Keramahan khas desa di jogja selalu menyapa kami, mempersilahkan kami untuk sekedar mampir ke rumahnya. Dari beberapa kali perbincangan dengan mereka ada satu yang menarik ketika aku menanyakan apakah mereka tidak takut dengan ancaman letusan dari gunung merapi, mengingat lokasi dusun mereka yang merupakan daerah bahaya satu dan cukup dekat dengan aliran lava merapi, apalagi mereka pernah terkena letusan merapi secara langsung. Namun jawaban mereka cukuplah sederhana sesuai dengan filosofi hidup mereka yang juga sederhana. “Bagi kami hidup dan mati itu sudah diatur oleh Yang Di Atas, kalau sudah takdirnya mati mau lari kemanapun tidak akan terhindar, akan tetapi kamipun tidak akan berlaku sembrono, kami yakin alam tidak akan mengkhianati kami, oleh sebab itu kami menjaga alam ini sebagaimana kami menjaga diri dan keluarga kami”. Sebuah sifat sederhana yang didapat dari alam ketika mereka hidup, mengenal dan menghargai alam di sekitar mereka.
Alam Membina Kepribadian
Irfan Yusuf



