Nggak nemu Badak, bekas kaki nya pun Tak apa
By admin • Sep 13th, 2005 • Category: Petualangan
tidak banyak yg kami jumpai, ular python yg biasanya gelayutan Di pohon tepian sungai tidak terlihat kali ini, mungkin kami kurang pagi, suara burung-burung Dan ada beberapa monyet dan Bajing melompat kesana-kemari, wah ada bekas telapak badak nih, Mungkin semalam dia lewat sini, tak apalah nggak melihat badak, Nemu bekas kakinya pun Sudah senang.
Setelah puas dengan Kanoing dan Makan siang di tepian pantai yg indah ini, perjalanan dengan Perahu motor dilanjutkan ke Pantai Nyiur, laut nya sangat hijau, walaupun perahu tidak bisa Menepi, keinginan untuk berenang dari tengah laut ke tepian pnatai Nyiur begitu cepat Memompa adrenalinku, hmm… Biurrr… Dan mulai berenang, tak disangka,
"Nggak nemu Badak, bekas kaki nya pun Tak Apalah"
Dalam setiap perjalanan, saya selalu menemukan hal baru, teman baru, dan keganjilan Keganjilan baru, tak ketinggalan yg namanya "taman Nasional Ujung Kulon", yang berada Sekitar 200 km dari Jakarta, termasuk kota lumayan sangat berpolusi di dunia.
Taman nasional Ujung kulon, menjadi tempat yg sering di Kunjungi, belum lagi Status nya sebagai "world heritage place", karena di sini menjadi tempat tinggal Terakhir populasi Badak bercula satu dan satu-satu nya yg ada di dunia.
Dalam perjalanan kemarin, saya lagi – lagi kebagian sebagai kordinator team dari
22 peserta yg ikutan jalan bareng ke taman Nasional yg menurut saya berbiaya tinggi, Sama seperti hidup di Jakarta, biaya hidup di Jakarta lumayan tinggi.
Sebagai kordinator, kadang cape, sibuk sedikit dan harus mengarahkan beberapa teman Yg bergabung, kali ini di bantu Mba Suzanna makalu. It’s first time katanya untuk Mengatur perjalanan sendiri, mandiri dan tidak tinggal duduk manis!
Jum’at kami berkumpul di halaman Parkir Gedung WTC – Jakarta, menjelang tengah Malam, dengan 1 elf dan 1 panther kami mulai berangkat menuju desa Sumur, perjalanan Kalau dengan carteran seperti ini, Jakarta – Sumur bisa di tempuh +/- 4 jam.
Kalau naik Angkutan umum, lewat terminal kali deres, perjalanan bisa memakai Bus besar jurusan Labuan atau Bus sedang jurusan Cibaliun – kali deres, tentu Waktu perjalanan akan sedikit lebih Lama ketimbang carter kendaraan.
Pagi Buta, 04.00 pagi disaat ayam belum juga berkokok, kami sudah tidak di desa sumur, Sambil menunggu pagi, beberapa teman melanjutkan mimpi indah nya di teras rumah Pak Haji Di desa Sumur, saya mencoba mengecek perahu yg di janjikan di pantai Muara baru, Gelap sekali pagi ini, tidak ada tanda2x perahu ada disana.
Pagi mulai tiba, pak Komar sudah datang, dan tampa pikir panjang, kami semua mulai Bergegas untuk melanjutkan perjalanan ke P. Heundeuleum, Kawasan Taman Nasional Ujung Kulon, Kami harus mampir dulu di Desa Taman Jaya, untuk menjemput 2 orang bule asal belgia Yg ingin bergabung dengan team kami. Lalu perjalanan di lanjutkan ke P.
Heundeleum yg
Yg memakan waktu satu sampai satu setengah jam perjalanan.
Saya mulai merasakan tiupan angin kencang, wah.. Bisa susah nih, untuk menyandarkan perahu Di dermaga kecil di P.heundeuleum untuk mengurus ijin kanoing di cigenter dan santa-santai Sejenak. Perjalanan lalu dilanjutkan ke tepian pantai muara sungai Cigenter, dari sini Perjalanan dengan Kanoing menuju tepian pantai, lalu berkanoing ria di Sungai cigenter Yg heboh ini, di mulai. Sayangnya biaya ijin untuk kanoing di cigenter ini terlalu mahal Rp. 50.000 / person, sementara pendayung dan pemilik kanoing hanya di bayar Rp. 100.000,- Dan harus membawa kano nya dari desa taman jaya ke P. heundeuleum.
Kadang bapak-bapak ini, keberatan dengan bayaran ini, belum lagi harus bermalam di tepian Pantai menunggu pengunjung datang! Bagaimana kalau tidak ada pengunjung?
tidak banyak yg kami jumpai, ular python yg biasanya gelayutan Di pohon tepian sungai tidak terlihat kali ini, mungkin kami kurang pagi, suara burung-burung Dan ada beberapa monyet dan Bajing melompat kesana-kemari, wah ada bekas telapak badak nih, Mungkin semalam dia lewat sini, tak apalah nggak melihat badak, Nemu bekas kakinya pun Sudah senang.
Setelah puas dengan Kanoing dan Makan siang di tepian pantai yg indah ini, perjalanan dengan Perahu motor dilanjutkan ke Pantai Nyiur, laut nya sangat hijau, walaupun perahu tidak bisa Menepi, keinginan untuk berenang dari tengah laut ke tepian pnatai Nyiur begitu cepat Memompa adrenalinku, hmm… Biurrr… Dan mulai berenang, tak disangka, tepian pantai Ternyata jauh, dan ah.. Akhir nya sampai juga di tepian pantai. !
Menjelang sore, perjalanan kami lanjutkan ke P. peucang, ombak tidak terlalu besar walaupun Angin mulai kencang, setelah menurunkan beberapa teman dan tukang Masak kami, perjalanan Di lanjutkan ke semenanjung Karang Copong, menunggu sunset terbenam disini, sambil nunggu Sunset terbenam, saya coba mancing iseng, dapat 2 ekor ikan lumayan..
Sebenernya, kalau waktu memungkinkan, dari akomodasi peucang, trekking sekitar 1-2 jam, Menembus hutan tropis dataran rendah untuk mencapai karang copong, tempat yang katanya Bagus untuk "waiting sunset".
Karena weekend dan libur nasional, Pulau peucang lumayan banyak pengunjung, di Pulau ini beberapa Hewan seperti Rusa, Monyet, dan Biawak begitu akrab dengan pengunjung.
Terkadang beberapa
Monyet suka nakal mencuri makanan pengunjung. kami nggak kebagian Tempat di barak wisma tamu, akhirnya kami menempati Akomodasi milik "petugas TNUK", seharus Nya akomodasi yg kami tempati ini di huni oleh petugas Polhut, tapi karena petugasnya nggak Ada di tempat, akhirnya di sewakan kepada kami.
Kemana petugas nya?
Sabtu pagi yg cerah, rencananya kami melanjutkan perjalanan ke Pantai Bidur, di selatan Taman Nasional ini, karena faktor cuaca dan angin yg sangat kencang, terlalu beresiko untuk berlayar Melewati laut selatan yg terkenal dengan ombak besar nya, saya memutuskan untuk putar haluan, Trekking dari Cibom menembus hutan alam sampai ke ciramea, perjalanan tidak banyak kami Temu, beberapa burung Rangkong, sedikit terganggu dengan kedatangan kami, juga beberapa lutung Berloncatan di pohon2x tinggi, perjalanan trekking ini hanya di ikuti sebagian dari kami, Sementara yg lainnya sudah cukup senang bermain-main di Pulau Peucang.
Dipantai Ciramea, dengan deburan khas pantai selatan, kami beristirahat sejenak, lalu Perjalanan di lanjutkan susur pantai disiang yg panas ke Tanjung Layar, sepanjang perjalanan Ada dua jalur bekas penyu bertelur semalam, di tanjung layar kami tidak mau berlama-lama Karena siang mulai terik, sementara perut mulai lapar. Saya dan beberapa teman mencoba memanjat Mercusuar, karena angin sangat kencang, jadi agak ragu2x.
Perjalanan dari Tanjung layar ke Cibom butuh waktu sekitar 1 jam kalau jalan santai, ketika tiba di Cibom, alamak… Angin kencang sekali, tidak bisa pakai kano untuk mencapai perahu, untung nya tugas TN mengerahkan Raftboat nya, untuk mengangkut kami sampai ke Perahu, lalu kami kembali ke Pulau Peucang untuk Makan siang. Setelah makan siang, berkemas untuk bermalam lagi di desa Taman Jaya!
Menjelang sore, tak lupa kami sempatkan mampir di Padang pengembalaan Cibom, tempat kumpulan banteng liar dan beberapa hewan lain nya merumput! Hanya terlihat beberapa ekor banteng liar dan ada juga Ayam merak di Padangan pengembalaan ini.
Lalu perjalanan dilanjutkan lagi, saya sudah bisa membayangkan kalau perjalanan pulang akan melawan arus angin, karena ketika sore. Angin laut akan datang dan hmm..hmm.. Beberapa teman mulai menjerit untuk menghilangkan rasa panik karena beberapa kali ombak hampir 1 meter mulai datang. Aku pikir, ah mereka lagi main-main di Dufan kali ya!
Perahu mulai di tumpahi air karena menerjang ombak, sementara perjalanan masih jauh, ah tenang saja, terkadang saya harus berbohong kepada teman2x kalau perjalanan sudah mau sampai, padahal masih jauh. Menjelang 07:00 malam, akhirnya perahu merapat dengan tenang di Dermaga Desa Taman Jaya.
Di Desa Taman Jaya, kami bermalam di Homestay Sundajaya binaan WWF ujung kulon, itu tulisan di papan namanya milik Pak Komar, penduduk Asli Desa Taman Jaya. Desa termasuk paling ujung di barat pulau jawa dan berada di tepian Kawasan Taman nasional Ujung Kulon. Didesa ini ada Kampung Makassar, penduduknya umumnya berbahasa sunda dan bekerja sebagai petani dan nelayan.
Jalan Menuju desa ini, seperti jalan kubangan kerbau, tak pernah di perbaiki, atau memang sengaja dibiarkan seperti ini?
Minggu pagi, saya beritahu keteman-teman untuk semua nya ikutan trekking, agar merasakan nyamannya jalan kaki di hutan, perjalanan dengan perahu menuju tanjung Laban menembus hutan alam ke pantai Karang Ranjang – di laut selatan, merupakan perjalanan trekking yg santai. Nenek – dan kakek juga bisa jalan-jalan dijalur ini, lalu perjalanan pulang, melewati hutan yang sama sampai ke Tanjung lemo, perkiraan saya untuk softrekking ini, kira-kira sekitar 5-6 kilometer saja.
Lalu perjalanan kembali ke Desa Taman Jaya. Dan.. Hmm…hmmm… "goodbye desa Taman Jaya dan Taman Nasional Ujung Kulon", kami kembali ke Pantai Muara Baru dengan perahu, karena disini Mobil carteran kami menunggu!
ARIS
Photo available at http://odesya.multiply.com/photos/album/13
Catatan kaki:
Ke Taman Nasional Ujung kulon ini biaya nya terlalu mahal, Dari perijinan sampai ke sewa perahu. Tapi kalau ramai-ramai bisa Menjadi murah! Kalau jalan sendiri atau hanya beberapa teman, sebaiknya Full trekking! Tentu, dengan peralatan tenda, kompor, keperluan makan Harus di gendong sendiri.



