Perjalanan Panjang dari Beijing ke Mongolia
By admin • Sep 27th, 2005 • Category: Petualangan
Malam itu, aku lagi termenung menantikan liburan musim panas. Ya, semester ini yang terasa sangat berat berlalu dengan tugas-tugas kuliah yang seakan tak pernah berakhir, membuatku setiap saat menantikan kedatangan musim panas. Rencana sudah matang, pulang ke Indonesia, dengan terlebih dulu transit di Thailand atau Hong Kong.
Dolar untuk tiket pesawat pun sudah ada. Bahkan reentry visa untuk RRC pun sudah kugenggam. Tinggal menantikan datangnya liburan, dan aku pun sudah ada di atas pesawat. Kubayangkan Borobudur yang megah, Bali yang eksotik, dan Semeru yang gagah, semuanya menantikan kedatanganku di Indonesia.
Malam itu, aku lagi termenung menantikan liburan musim panas. Ya, semester ini yang terasa sangat berat berlalu dengan tugas-tugas kuliah yang seakan tak pernah berakhir, membuatku setiap saat menantikan kedatangan musim panas. Rencana sudah matang, pulang ke Indonesia, dengan terlebih dulu transit di Thailand atau Hong Kong. Dolar untuk tiket pesawat pun sudah ada. Bahkan reentry visa untuk RRC pun sudah kugenggam. Tinggal menantikan datangnya liburan, dan aku pun sudah ada di atas pesawat. Kubayangkan Borobudur yang megah, Bali yang eksotik, dan Semeru yang gagah, semuanya menantikan kedatanganku di Indonesia. Juga makanan lezat kesukaanku: soto, rawon, nasi goreng… membayangkannya saja sudah hampir meneteskan air liurku. Tekanan belajar yang lumayan berat di sini membuatku hampir setiap saat merindukan kampung halamanku di tanah Jawa sana.
Malam itu aku tengah mengerjakan tugas elektro yang lumayan bikin pusing. Tiba-tiba telepon berdering. Takkusangka bahwa telepon itulah yang membuat semua rencana liburan musim panasku berubah total. Dari Lily. Dia adalah pelajar Indonesia yang belajar bahasa mandarin di sebuah universitas bahasa di Beijing sini.
“Gimana nih? Aku masih mau jalan di RRC, tapi visaku cuman sisa satu bulan.”
“Perpanjang dong,” jawabku.
“Nggak bisa, harus ganti visa turis.”
“Ya ganti aja, gitu aja kok repot.”
“Susah, katanya imigrasi mesti ke luar negeri baru bisa ganti.”
“Pergi saja ke Hong Kong, kan gampang, tinggal naik kereta saja,” kataku menawarkan
“Nggak ah, aku sudah pernah ke Hong Kong, males ah ke sana lagi,” dia menolak.
“Ya kalau begitu Mongolia aja, deket kan dari Beijing.” Aku pun sebenarnya cuma asal-asalan saja memberikan solusi.
“Mongolia? Ide bagus. Tapi temenin dong,” tak kusangka ia menyambut ideku.
Kala itu aku baru sadar apa yang kukatakan. Terbayang dalam benakku, Mongolia, padang rumput yang menghampar, penggembala nomaden yang hidup di alam bebas, dan tentu saja Genghis Khan, pahlawan besar Mongolia. Tapi cuma sebatas itu saja pengetahuanku tentang Mongolia, tidak lebih.
Akhirnya malam itu aku benar-benar merenung, bingung memilih antara Indonesia dan Mongolia. Bingung antara menebus rasa kangen atau mencari pengalaman baru dalam hidupku, berkelana ke negeri asing. Bingung juga antara menemani si Lily ke Mongolia (tentu saja sekalian jalan-jalan) atau menikmati masa istirahat di rumahku di Jawa sana.
Malam itu juga aku langsung online, mencari informasi tentang Mongolia. Kulihat foto-foto Mongolia di internet, kebanyakan padang rumput semua, dengan nama-nama tempat yang sangat asing dan susah diingat. Namun ada satu hal yang sangat memikat hatiku, langit biru Mongolia benar-benar merupakan senjata yang ampuh untuk mengalahkan daya pikat kampung halamanku. Ya, tak pernah sebelumnya kulihat warna langit yang sedemikian biru, baik di RRC maupun di Indonesia.
Esok harinya, setelah berunding dengan keluarga di Indonesia, akhirnya kuputuskan untung melepaskan kesempatan pulang kali ini. Terlebih lagi dengan kondisi ekonomi keluarga yang juga kebetulan lagi seret, ditambah lagi harga tiket pesawat ke Indonesia yang juga tidak murah, keputusan membatalkan kepulangan mungkin adalah yang terbaik.
Lily juga sudah mendapat ijin dari keluarganya untuk ke Mongolia. Dan akhirnya kita mengambil keputusan: Mongolia.
Begitulah, hari-hari berat di Tsinghua berlalu seperti biasa. Aku juga terkadang menyempatkan diri mencari informasi dari internet. Selain itu aku pun bertugas mencari informasi tentang visa Mongolia, yang sekarang sudah jauh lebih mudah pengurusannya daripada dulu. Rupanya Mongolia telah mulai membuka pintunya bagi dunia luar, sangat berbeda dengan negara blok timur lainnya yang pengurusan visanya hingga sekarang masih sangat rumit.
Visa Mongolia di Beijing bisa diurus di Kedubes Mongolia, Jianguomen, Beijing. Harganya 40 usd. Sebenarnya kita bisa mendapatkan visa 30 hari dengan mudah, tetapi saat itu kami salah mengisi formulir, akhirnya cuma mendapat visa 14 hari. Ini adalah kesalahan fatal. Kami terlalu menganggap remeh Mongolia, menganggapnya sebagai negara kecil, dua minggu cukup. Ya, Mongolia adalah negara kecil, dibandingkan dengan dua tetangga raksasanya, Rusia dan RRC. Tapi bagaimanapun juga dia adalah negara terluas ke-17 di dunia, hanya dua peringkat di bawah Indonesia.
Sehabis mengurus visa, kami mulai mencari informasi yang benar benar akurat tentang bertualang di Mongolia. Tak disangka, di RRC yang merupakan tetangga terdekatnya, buku panduan tentang Mongolia tak satupun yang tersedia. Selama satu minggu lebih aku putar-putar di toko-toko buku besar di Beijing, tak satupun yang menyediakan buku tentang Mongolia, sangat ironis. Aku hampir putus asa, bagaimana mungkin kita ke negara yang teramat sangat asing tanpa sedikitpun persiapan. Lily bilang kita nggak usah mempersiapkan apa-apa, nanti saja di Ulaan Baatar, ibukota Mongolia, cari informasinya. Aku tidak setuju. Kita harus memikirkan kemungkinan yang terjelek. Di Beijing yang maju saja informasi tentang Mongolia tidak ada, apalagi di sana yang relatif masih miskin, kalau ada pun pasti dalam bahasa Mongolia yang satu patah katapun tak aku mengerti. Dan satu hal yang perlu diingat, sebelum memulai suatu perjalanan, setidaknya kita mempunyai pengetahuan mendasar tentang tempat yang kita tuju, supaya kita memperoleh faidah yang maksimal dari perjalanan kita.
Untunglah seorang teman dari Singapura bersedia membantu dengan mengirimiku Lonely Planet: Mongolia. Lonely Planet adalah sebuah buku panduan perjalanan terkenal, yang telah menjadi semacam bible bagi para petualang dan backpacker dari seluruh dunia.
Awal liburan musim panas itu kuhabiskan dengan banyak belajar tentang Mongolia, tentang sejarahnya, masyarakatnya, adat kebiasaannya, bahasanya, dan tentu saja tempat-tempat yang patut dikunjungi di sana. Khusus mengenai bahasa, seorang teman memperkenalkanku dengan seorang pelajar jurusan bahasa Mongolia di Universitas Peking, dan sepanjang hari itu aku mendapatkan kursus bahasa Mongolia gratis. Tentu saja, aku tidak mungkin mempelajari semuanya dalam satu hari. Hari-hari berikutnya aku belajar sendiri beberapa kata penting bahasa Mongolia, dan yang paling penting serta paling berguna, menghafalkan huruf Rusia.
Dan dua minggu sebelum hari keberangkatan kita, aku berencana membeli tiket kereta api Trans Mongolia, dari Beijing ke Ulaan Baatar. Dalam buku LP dianjurkan agar kita menghubungi Biro Perjalanan Internasional RRC, di mana kita bisa mendapatkan tiket dengan harga yang paling miring. Tak kusangka mereka menjawab telponku hanya dengan dua kata, “Tiket habis”. Bahkan ‘habis’ di sini bukan berarti hanya satu dua minggu ke depan, tapi untuk sepanjang musim panas sudah tidak ada tiket lagi. Tiket biasa harganya 700 rmb, mereka menawarkan tiket kelas vip, harganya 1700 rmb. Gila, dengan harga segitu aku bisa naik pesawat langsung dari Beijing ke Ulaan Baatar sana.
Akhirnya hanya ada satu jalan, lupakan Trans Mongolia. Aku sendiri pun tak tahu bagaimana caranya ke Ulaan Baatar, karena sama sekali tidak ada informasi, dan orang orang di sekitarku tak satupun yang pernah ke Mongolia sana. Tapi kita sudah tak mungkin mundur lagi, visa sudah di tangan. Masa 40 usd melayang begitu saja dengan percuma?
Berdasarkan rute Trans Mongolia, aku membeli tiket kereta lokal dari Beijing ke Datong, seharga 31 rmb untuk hard seat. Perlu diingat, Trans Mongolia adalah kereta internasional, semua layanannya serba wah, dan kebanyakan penumpangnya adalah orang asing dan orang kaya. Sedangkan kereta lokal yang kita pilih ini adalah kereta lokal yang paling murah dari semua kereta lokal yang ada, penumpangnya adalah orang RRC kebanyakan.
Sebenarnya aku baru mempersiapkan barang-barangku tepat pada hari keberangkatan itu. Baju-baju kumasukkan ke dalam tas punggungku, termasuk jaket dan perlengkapan toilet. Tapi… ah, terlalu berat. Kukeluarkan jaket-jaket dan jeansku. Kusadari bertualang sebagai backpacker itu sangat berat, paling tidak backpack atau tas punggungnya juga tidak ringan. Dan aku telah membuat kesalahan besar, dengan dikeluarkannya jaket-jaket dari tasku berarti aku harus siap menghadapi dinginnya malam Mongolia yang menggigit hanya dengan baju-baju yang biasa dipakai di bawah teriknya matahari Jakarta. Aku benar benar lupa bahwa Mongolia, sekalipun dalam musim panas, tetap saja dingin.
Kami juga membeli banyak sekali makanan, biskuit, mi instan, coca cola, dan juga 12 bungkus rokok. Bukan, aku bukan perokok. Demikian juga Lily. Tapi aku sempat membaca bahwa rokok merupakan senjata ampuh di Mongolia, paling tidak hampir sama dengan di Indonesia lah, di mana banyak masalah selesai dengan sebungkus rokok.
Malam itu, Jum’at 26 Juli 2002, kami berdua memulai petualangan kami ke Mongolia. Dan selain mensukseskan perjalanan kali ini, aku juga berusaha menekan biayanya seminim mungkin. Kereta yang akan kita tumpangi, 4433, berangkat jam 11 malam dari stasiun Beijing menuju stasiun Datong, dan sampai di sana keesokan paginya jam 7 pagi. Harga tiketnya murah karena kereta ini non ac, sedangkan kereta lain yang lebih cepat dan ber-ac harga tiketnya 40 rmb. Cuma beda 10 rmb, tetapi sebagaimana sudah kubilang tadi, aku mau harga yang paling minim.
Sebagaimana dimaklumi bersama, kereta RRC selalu penuh sesak, dan tentu saja, bau. Kebetulan kami saat itu juga lagi apes, tempat duduk kami bersebelahan dengan toilet. Malam itu waktu di atas kereta benar benar berlalu dengan lambat. Lily berusaha untuk tidur terus selama perjalanan. Aku membaca-baca buku bahasa C, dan sesekali ngobrol dengan penumpang lain sekompartemen. Jenuh membaca, aku pun berusaha tidur. Tapi susah sekali tidur dalam keadaan terguncang-guncang begitu, kelas hard-seat kereta api RRC benar benar melelahkan. Apalagi setiap berhasil memejamkan mata, angin berhembus menyebarkan aroma dari toilet sebelah ke seluruh kompartemen. Bisa dikatakan sepanjang malam itu aku selalu terjaga. Untung perjalanan juga tidak panjang, dan semangatku untuk segera mencapai Mongolia mengalahkan semua perasaan menderita itu. Aku teruskan membaca buku mengenai Mongolia, diselingi buku pelajaran pemrograman, dan terkadang diselingi ngobrol juga.
Petualangan seperti ini membuat kita mudah memperoleh teman, banyak sekali orang di sekitar kita yang berusaha membantu kita. Benar saja, dari obrolan sepanjang perjalanan di kereta, aku berkenalan dengan seorang mahasiswa asal Datong yang berkuliah di Beijing. Obrolan pagi itu berlangsung seru, mulai dari masalah beratnya kuliah di universitas masing-masing sampai masalah sosial. Lama kemudian baru aku memberitahunya bahwa aku adalah orang Indonesia dan akan ke Mongolia. Ia sama sekali tak menduga bahwa aku orang asing. Dan anak itu semakin ramah kepada kami. Jam 7 kereta merapat di stasiun Datong, dan teman yang baik itu membantu kami menanyakan kereta apa yang harus kita tumpangi untuk meneruskan perjalanan. Akhirnya aku membeli tiket ke Jining, seharga 9 rmb, berangkat jam 9:30. Masih ada waktu 2 jam, ia bahkan mentraktir kami makan makanan khas datong, mi daoxiaomian. Semula ia mengajak kami ke rumahnya, tetapi karena waktu yang sangat terbatas, kami menolak tawarannya. Kota Datong sendiri tidak besar ukurannya, sehingga kami juga tidak memerlukan banyak waktu untuk mencapai stasiun kereta api kembali selepas sarapan pagi yang sungguh sangat lezat itu. Keramahan seorang warga Datong itu mengawali perjalanan panjang kami ke Mongolia dengan sebuah senyuman.
Kereta kedua kami, antara Datong dan Jining, merupakan trek pendek sepanjang 3 jam setengah. Di kereta ini seorang wanita setengah baya, bangsa Mongol, duduk tepat di sebelahku. Dan dia benar benar memberikan bantuan yang sangat berarti bagi perjalanan kami. Dia memberi tahu bahwa dari Jining ke Erenhot (perbatasan RRC dengan Beijing), hanya ada satu kereta tiap harinya, yang berangkat tepat pada saat kereta kami dari Datong merapat ke Jining. Artinya, begitu kereta ini sampai di Jining, kami harus bergegas melompat ke kereta yang menuju ke Erenhot kalau kami tak ingin menginap satu malam. Sepanjang perjalanan dia juga terus mengisahkan keramahan bangsa Mongol, kebesaran bangsa Mongol, dan perjuangan bangsa Mongol yang tak kenal henti.
Begitu kereta sampai di Jining, aku langsung melompat turun, dan bergegas lari ke kereta berikutnya. Demikian juga Lily. Dan benar saja, tak sampai 5 menit kami di atas kereta ketiga itu, kereta pun mulai bergerak. Di antara ketiga kereta RRC ini, kereta ketiga inilah yang paling seram. Wajah-wajah penumpangnya sangat berbeda dengan wajah-wajah orang China yang kita lihat di Beijing. Tampangnya sangar-sangar, bajunya kotor-kotor, dan asap rokok bertebaran di mana-mana. Kereta penuh sesak, tidak ada tempat duduk bagi kami. Tapi di balik wajah sangar itu sebenarnya tersimpan hati yang baik, melihat gadis seperti Lily dengan beban berat di punggungnya, seorang penumpang mempersilakan dia duduk. Aku pun meletakkan backpack ku di tempat barang, dan bergegas pergi membeli tiket di gerbong belakang. Penumpang yang berjubel membuatku keder juga, aku sangat takut kecopetan. Selama mengantre tiket kugenggam erat-erat terus dompetku dalam celana jeansku yang ketat. Harga tiketnya 22 rmb, untuk 7 jam perjalanan, harga yang tidak buruk.
Justru kereta ketiga inilah yang paling berkesan bagiku. Kotor, bau, tapi benar-benar memberikan warna bagi perjalanan kami. Selama 3 stasiun aku berdiri, akhirnya ada tempat kosong juga. 2 jam pertama perjalanan kereta penuh sesak, namun kemudian berangsur-angsur sepi. Gurun Gobi mulai nampak. Di sepanjang perjalanan rumah-rumah penduduk berangsur-angsur menjadi jarang, pohon-pohon yang semula memang sudah tidak banyak semakin tak terlihat. Yang aja hanya rumput dan pasir, terkadang pula tersebar domba-domba gembalaan di atas hamparan rumput dan pasir itu. Ya, inilah gobi, bukan seperti sahara yang pasir melulu, semak-semak belukar masih mewarnai gundukan-gundukan pasir.
Tiba-tiba datanglah badai pasir. Benar-benar menyebalkan. Dua tahun yang lalu saat pertama kali aku mengalami badai pasir di Beijing, aku merasa takjub. Tapi kini, aku sangat membencinya. Pasir-pasir halus dari gurun gobi menyelinap melalui jendela kereta. Mulutku yang walaupun sudah terkatup rapat masih saja dipenuhi pasir. Kita berhenti ngobrol, Lily pun mulai membungkus seluruh wajahnya dengan baju-bajunya. Aku kini menyadari mengapa pakaian wanita-wanita arab sangat sesuai untuk dipakai di Sahara sana. Bukan saja pasir, badai ini juga membawa hawa dingin yang sangat menggigit. Sedangkan dua ibu-ibu setengah baya, dengan cueknya asyik mengobrol di sebelah sana, sambil makan buah-buahan dan membuang semua sampahnya begitu saja di atas lantai. Seperti sudah kubilang tadi, kereta ini yang paling berkesan adalah joroknya. Aku mencoba untuk tidur, pemandangan di luar sana mulai nampak monoton, walaupun aku sempat sangat bersemangat pada awalnya karena pertama kali melihat gurun. Sedangkan kurasakan betapa kotornya tubuh ini selepas badai pasir, rambutku, kulitku, tasku, minumanku, semuanya dipenuhi pasir. Demikian juga dengan Lily. Dan kapan kami ada kesempatan mandi untuk membasuh semua kotoran ini juga masih merupakan tanda tanya besar.
Jam 7 malam kita sampai di Erenhot. Tinggal selangkah lagi kita sudah sampai ke tanah tujuan kita. Tetapi ada satu masalah besar. Aku lupa bahwa perbatasan tutup pada hari minggu, sedangkan saat itu sudah sabtu malam. Kita harus menunggu sampai hari senin kalau ingin menyeberang ke Mongolia, dan aku tak ingin menghabiskan uangku untuk tinggal di penginapan.
Begitu keluar dari pintu stasiun, ada seorang supir bangsa Mongol yang menawarkan kita untuk naik kereta internasional. Hanya untuk 7 km dari Erenhot (Ereen atau Erlian dalam bahasa mandarin) ke Zamyn Uud di perbatasan Mongolia. Harganya sangat mahal, 120 rmb untuk 7 km, tetapi kita sudah tidak ada jalan lain. Dan supir ini juga menawarkan bantuan untuk menukarkan uang ke Tugruk Mongolia.
Aku tahu, tidak ada bantuan yang gratis di RRC, makanya kami menanyakan dia mau berapa. Pertama dia mengatakan terserah, tetapi aku minta harga pasti, daripada berantem nanti di belakang. Dia mengajukan 30 rmb, kita tawar terus sampai 20 rmb.
Rupanya supir sialan ini sudah dari awal ingin mengincar uang kami. Dia terus menerus menanyakan identitas kami, tentu saja kami tidak begitu saja memberitahunya. Aku selalu bilang kami berasal dari Hong Kong. Tapi dia tidak percaya. Aku sih cuek saja. Pertama dia mencoba memeras kami dari penukaran uang, untung aku sudah tahu patokan harga tukar tugruk Mongolia, jadi paling tidak kami tidak sampai rugi terlalu banyak saat itu.
Yang paling mengesalkan, saat dia selesai menunaikan semua tugasnya, termasuk mengantarkan kami makan dan membeli tiket, dia minta bayaran di atas harga yang sudah kita sepakati sebelumnya. Kami sempat berantem juga, akhirnya karena sudah sangat lelah sepanjang perjalanan dari Beijing, aku dan Lily sudah tidak ada semangat berjuang lagi, 40 rmb kuberikan ke supir sialan itu sebagai ongkos. Ada perasaan dongkol juga, mengingat betapa susahnya kita menghemat setiap yuan dari kantong kita, dan begitu saja kita memboroskannya. Ditambah lagi harga kereta trans Mongolia yang mahal, bayangkan 120 rmb untuk 7 km, bahkan ditotal pun masih lebih murah harga tiket dari Beijing ke erenhot dan dari Zamin Uud ke Ulaan Baatar. Tapi mungkin memang tidak ada jalan lain, kalaupun kita tidak naik kereta lux ini, kita pun terpaksa harus menghabiskan dua malam di Erenhot, dengan harga yang tidak jauh berbeda.
Kereta berangkat jam 12 malam. Suasana negara asing mulai terasa di Erenhot. Banyak orang berbicara bahasa Mongolia di sini. Dan huruf huruf Rusia serta huruf tradisional Mongolia tersebar di mana-mana, mendampingi karakter-karakter china. Kita menunggu di stasiun. Cuci muka. Aku pun menulis memo, menghitung pengeluaran kita sampai sejauh ini. Satu jam sebelum keberangkatan kita mendapatkan cap berangkat di paspor kita. Tidak ada pemeriksaan barang sejauh ini, semuanya berjalan lancar.
Dan akhirnya kita menginjakkan kaki dalam gerbong Trans Mongolia, yang merupakan percabangan dari Trans Siberia yang terkenal itu. Kesannya kereta ini sangat lux, mewah, memang bukan diciptakan untukku. Sebenarnya dari Beijing ke ulaan baatar jika naik kereta ini sangat praktis, tidak perlu gonta-ganti kereta, dan juga semua fasilitas tersedia, tetapi harganya terlalu berat bagi kantongku, 700 rmb paling murah, atau 1700 rmb untuk kelas I-nya.
Hanya 7 km dari Erenhot ke Zamyn Uud, tapi kita menghabiskan 3 jam. Ya, karena roda kereta di RRC berbeda dengan Mongolia. Rupanya negara negara blok timur takut serangan dari RRC via kereta, makanya mereka membuat rel dengan ukuran yang berbeda. Kita menunggu di atas kereta selama mereka mengganti roda. Dan kita pun tertidur, ini adalah tidur termewah dalam perjalanan ini, dalam kompartemen yang serba bagus…
Aku terbangun saat petugas imigrasi Mongolia memeriksa paspor kami. Dengan wajah yang serius, bahasa inggris yang pendek-pendek dan tegas, mereka mulai menginterogasi kita. Mungkin karena sudah terbiasa dengan aparat Indonesia yang korup, setiap kali berhubungan dengan aparat aku selalu merasa takut. Wanita petugas itu membolak-balik halaman paspor kita dengan kasarnya, kemudian memberikan cap tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Kemudian datang wanita lain yang tak kalah sangarnya, memeriksa barang kita. Kala itu sudah jam 3 pagi waktu Beijing, dan kita sudah sampai di Zamyn Uud.
Karena kita hanya membeli tiket untuk lewat perbatasan, kita pun ‘didepak’ dari kereta segera setelah itu. Bayangkan, jam 3 pagi buta di sebuah tempat yang sama sekali asing. Semula aku berencana tidur di luar saja, lumayan bisa menghemat satu hari duit hotel. Tapi karena suasana Zamyn Uud yang sunyi senyap, diselingi gonggongan anjing dan suara tawa pemabuk, cukup juga untuk menciutkan nyali kami. Akhirnya kita bergegas ke hotel di sebelah stasiun, Zamyn Uud Hotel. Sebenarnya dalam keadaan gelap gulita itu, aku pun tak tahu hotel apa yang kita masuki.
Dalam hotel wanita resepsionis menjawab sudah tidak ada kamar lagi, dengan bahasa inggris yang terpatah-patah. Dia juga susah sekali mengerti bahasa inggrisku. Saat itu kita berdua hampir putus asa, tidak ada hotel lagi, ataukah kita memang harus tidur di emperan stasiun? Tiba-tiba wanita resepsionis itu menawarkan kamar asrama, 3 usd per orang per malam, tanpa shower. Tentu saja kami setuju. Kami hanya butuh tempat tidur dan toilet.
Kami pun melewati lorong-lorong hotel yang gelap, sebelum akhirnya sampai ke kamar asrama. Sebenarnya ada 8 ranjang di kamar itu, plus satu toilet, tapi semuanya kosong. Sebenarnya kami berdua adalah satu-satunya tamu di asrama itu, lumayan juga, 3 usd per orang untuk kamar seluas ini. Aku dan Lily segera bergantian ke toilet, dan segera sesudah itu, aku pun terlelap setelah perjalanan panjang ini. Di luar angin dingin berhembus, sesekali terdengar suara peluit kereta ditiup. Kupejamkan mataku, “Aku sudah di Mongolia,” batinku. Dan aku mulai merasakan nuansa yang sangat berbeda dengan kehidupan di RRC, dan juga mencium aroma bahayanya Mongolia. Ya, di sini terasa kuat bau vodka, sepanjang malam terdengar suara canda tawa para pemabuk di luar sana yang turut menghiasi mimpi pertamaku di Mongolia, negeri langit biru. Dan aku pun tak sabar menantikan petualangan apa yang bakal kita alami pada hari-hari berikutnya di Mongolia.
photo visit : http://www.avgustin.net/gallery.php?id=1






