Zamyn Uud, Pintu Gerbang Mongolia

Custom Search

By admin • Sep 27th, 2005 • Category: Petualangan

Sinar matahari yang menyeruak masuk mengawali hari pertama kami di Mongolia. Malam yang terasa begitu lambat berlalu, karena berbagai bayangan mengenai Mongolia memenuhi pikiranku sepanjang tidurku, akhirnya digantikan oleh pagi yang biru. Aku melongok ke luar jendela. Sepi. Beberapa gerbong kereta api barang dari Rusia diparkir di stasiun. Tak sabar untuk segera mencicip pengalaman pertama kami di negri ini, kami pun segera bergegas berbenah untuk check out.

Sinar matahari yang menyeruak masuk mengawali hari pertama kami di Mongolia. Malam yang terasa begitu lambat berlalu, karena berbagai bayangan mengenai Mongolia memenuhi pikiranku sepanjang tidurku, akhirnya digantikan oleh pagi yang biru. Aku melongok ke luar jendela. Sepi. Beberapa gerbong kereta api barang dari Rusia diparkir di stasiun. Tak sabar untuk segera mencicip pengalaman pertama kami di negri ini, kami pun segera bergegas berbenah untuk check out.

Arlojiku menunjukkan pukul setengah delapan pagi. Pada waktu checkout kami juga menitipkan tas-tas kami pada resepsionis hotel yang sama sekali tak memungut biaya. Lily sempat menanyakan di mana tempat mandi umum. Resepsionis tidak tahu, entah benar-benar tidak tahu, ataukah malas menjelaskan kepada kami dengan bahasa inggrisnya yang sangat minim itu.

Kami pun melangkah ke bangunan stasiun yang hanya beberapa puluh meter dari hotel kami. Bangunan stasiun ini sangat memiliki ciri khas arsitektur eropa timur, lengkap dengan menara jamnya pada atapnya yang berbentuk limas. Juga ada tulisan besar berwarna biru dan merah, Zamin Uud, dalam bahasa inggris, mongolia, dan china di bagian atas stasiun. Tapi ada sesuatu yang kurang yang sangat terasa di stasiun ini. Sepi. Tak ada penumpang berbaris membeli tiket, tak ada petugas, tak ada kereta-kereta yang siap berangkat. Aku pun mencari bangunan dengan tulisan “Passengers Service Center” yang kalau tidak salah seharusnya tempat pemesanan tiket. Tetapi sama saja, sepi.

Kebetulan di halaman stasiun ada 3-4 orang bule yang duduk-duduk di sana. Seorang gadis membaca buku lonely planet. Aku pun memberanikan diri bertanya.
“Sorry, can you speak english?”
“Yes,” jawab salah seorang pria di antara mereka.
“May I know how to get the ticket to Ulaan Baatar?” tanyaku
“Ya, kamu bisa pergi ke bangunan “passengers service center” itu membeli tiket, tapi mereka baru buka jam 2 sore nanti,” jawab gadis yang tadi sedang membaca LP.
Ternyata mereka adalah traveler dari Polandia yang telah mengakhiri perjalanan mereka di Mongolia dan berencana melanjutkan perjalanan ke RRC, negara yang baru saja kami tinggalkan.

Baru jam delapan lebih, masih ada enam jam lagi. Perut kami pun sudah keroncongan. Kami berdua pun melangkah keluar dari bangunan stasiun itu. Anjing-anjing besar sedang tidur dengan malasnya di pelataran itu. Dan akhirnya kami pun menyaksikan pandangan pertama kami akan kota Zamin Uud ini. Ada lapangan besar di depan stasiun. Meja-meja bilyard tertata rapi di sana. Tak ada seorang pun, kecuali dua tiga kakek-kakek yang berjalan-jalan santai. Di kanan-kiri lapangan itu berdiri beberapa bank kecil, semuanya tutup. Tentu saja, hari itu hari Minggu.

Kami melangkah masuk ke salah satu toko kelontong yang buka di bagian utara lapangan. Papan namanya bertuliskan huruf china. Aku sempat berharap penjualnya bisa bahasa Mandarin.
“Nihao,” sapaku.
Diam, tak ada jawaban, hanya sepasang matanya yang terus menatap kami.
“Sain baina uu,” ganti Lily yang menyapa dalam bahasa Mongol. Dan pemilik toko itu pun menjawab.
“Tuh kan, nggak bisa mandarin, cuman tulisannya aja,” kata Lily.

Kami pun melongok barang-barang di etalase toko itu. Mi instan, roti, kecap… ada yang merknya dalam huruf china, ada pula yang huruf Rusia, juga beberapa dalam huruf latin. Tapi tidak ada yang cocok untuk sarapan kami. Setidaknya aku ingin sebuah sarapan yang cukup layak pada hari pertama ini.

Aku pun bertanya pada penjualnya,”Guanz?”. Guanz adalah restoran atau warung dalam bahasa mongol. Si pedagang menampakkan wajah bingung, tak mengerti. Aku pun mencari-cari tulisan “guanz” dalam buku LP-ku, dan kutunjukkan padanya. Dia pun menjelaskan kepada kami dalam bahasa Mongol, lengkap dengan gerakan-gerakan tangannya. Ganti kami yang bingung. Aku pun cuman bisa mengartikan, keluar dari pintu ini, belok kanan dan sampai. Akhirnya mungkin karena putus asa, akhirnya pemilik toko itu pun mengantarkan kami ke rumah makan yang ternyata tepat di sebelah tokonya. Kami pun mengucapkan “bayarlala (terima kasih)”.

Tak ada seorang pun yang bersantap di warung kecil itu. “Sain baina uu”, dan datanglah seorang gadis pelayan mendatangi kami. Wajahnya yang gemuk kemerahan itu tersenyum ramah kepada kami. Kami mengambil tempat duduk di tengah, dan kubaca sejenak daftar menu di atas meja. Semuanya dalam bahasa Mongol. Aku sedikit pun tak mengerti. Akhirnya kubuka buku LP-ku, kucari bagian “daftar makanan”, dan kutunjukkan kepada gadis itu. Banyak dari makanan dalam daftar itu yang tidak tersedia di warung kecil ini. Akhirnya gadis itu menunjukkan sebuah nama makanan, khuitsai, kulihat terjemahan inggrisnya, bola daging kambing. Boleh juga kataku. “yamar unte vee? (berapa?)”. “650 T” katanya dalam bahasa Mongol.

Akhirnya makanan Mongolia pertama yang pernah kumakan adalah semangkuk khuitsai, ditemani semangkuk shutetsai (teh susu), 750 T (kira-kira 6000 rupiah) totalnya. Cukup sedap juga. Khuitsai seperti bakso di Indonesia, hanya kurang saus tomat dan sambelnya saja. Shutetsai terasa aneh pada awalnya, namun aku cukup menikmatinya juga. Lily tampaknya kurang suka. “Bau susunya terlalu kuat,” jelasnya.

Setelah membayar, aku pun menanyakan di mana bisa menukarkan uang (tentu saja berkat bantuan buku panduanku). Dia pun menjawab dalam bahasa Mongol. Karena kami tidak mengerti, ia pun berulang-ulang menjelaskan kepada kami, lengkap dengan bahasa isyarat. Akhirnya aku simpulkan, bank-bank tutup karena hari ini hari Minggu. Akhirnya ia mengajak kami ke lapangan lagi, dan ada seorang muda yang duduk-duduk di sana, dengan segepok uang Mongolia di tangannya. Penukaran gelap. Tapi karena nilai tukar yang bahkan jauh lebih buruk dari di Erenhot, aku pun membatalkan niatku, dan hanya menukar 10 usd untuk persiapan di Ulaan Baatar nanti.

Kami pun membunuh waktu dengan berjalan-jalan sejenak di kota kecil itu. Kota ini seperti kota hantu, di sekitar lapangan banyak rumah-rumah sederhana, tapi hampir sama sekali tak nampak orang di sana. Tidak ada jalan beraspal. Gundukan pasir di mana-mana. Sangat gersang kesannya. Kalau boleh kulukiskan, sangat mirip Ghost City dalam cerita-cerita cowboy dari kota-kota bagian barat Amerika yang ganas.

Matahari mulai tinggi, arlojiku menunjukkan pukul sepuluh. Terik dan kering, benar-benar udara gurun. Kota Zamyn Uud sendiri cukup membosankan, tidak ada sama sekali yang istimewa di sana. Hanya sederetan rumah sederhana, bahkan lebih sepi dibandingkan sebuah kampung kecil di pelosok Jawa. Beberapa anak kecil bermain sepeda roda tiga. Juga ada orang berkerumun di sekitar meja bilyar. Tukang sepatu juga mulai menggelar perkakasnya. Selain itu sudah tidak ada lagi aktivitas lain yang nampak di lapangan itu, kecuali anjing anjing yang berjemur sinar matahari.

Kami pun kembali ke gedung “passengers service center”. Tak ada seorang pun di bangsal itu. Aku pun membaca-baca jadwal keberangkatan kereta, semuanya dalam bahasa Mongol. Rupanya kerja keras menghapalkan huruf-huruf Rusia sepanjang liburan musim panas juga tak sia-sia. Kemudian nampak dua gadis kecil menyeruak masuk, berkejar-kejaran. Seorang anak perempuan yang tak lebih dari 3 tahun itu berjalan tertatih-tatih. “Lihat kakinya, bentuk O,” bisik Lily, “kasihan ya.” Daerah ini begitu miskinnya, sehingga anak-anak pun kekurangan gizi. Anak-anak kecil itu seolah tak memperhatikan keberadaan kami di bangsal itu. Aku pun hanya terdiam memperhatikan asyiknya mereka bermain. Dalam hati aku bersyukur, bahwa suratan nasib yang aku terima paling tidak jauh lebih baik daripada mereka. Aku pun termenung lama.

“Sudah ah,” kata Lily memecah keheningan, “aku mau balik ke hotel, capek.” Aku pun mengangguk. Kami pun kembali ke loby Hotel Zamin Uud. Ada dua kursi di pojok ruangan, dan kami pun duduk di sana. Lily mulai membaca buku Lonely Planet. Aku tiduran di kursi. Tak kusadari, satu jam lebih tertidur di sana, dan kudapati Lily pun sudah terlelap di kursi sebelah.

Sudah tengah hari, aku pun kembali ke stasiun dan lapangan itu, berjalan-jalan sejenak membunuh waktu. Masih saja sepi. Bahkan orang-orang Polandia itu pun tak nampak lagi di sana. Tak ada yang menarik perhatianku. Aku pun kembali ke bangsal gedung “passengers service center”. Masih juga tak ada seorang pun di sana. Kulihat ada tangga di sebelah loket. Aku naik. Lantai dua juga sepi. Seakan bertualang di kota hantu, pikirku. Lantai dua seharusnya adalah losmen, tapi yang nampak hanya lorong-lorong panjang tanpa sedikitpun ada tanda-tanda kehidupan di sana. Aku kembali ke bawah, duduk-duduk sebentar di bangsal itu. Karena bosan, aku pun kembali ke hotel. Lily masih di sana. Kami pun duduk-duduk dan ngobrol sebentar. Jam tanganku menunjukkan pukul 12. Tetapi jarum pendek jam di meja resepsionis sudah berada di angka 1.

Kami berdua pun beranjak kembali ke bangsal “passengers service center”. Mulai banyak orang di sana. Selain orang-orang Mongolia, Kudapati pula sepasang traveler asia. Yang laki-laki bertubuh agak gemuk, sedangkan yang perempuan kurus dan berambut pendek, asyik membaca LP. Yang jelas bukan orang Korea atau Jepang, mungkin orang RRC, tebakku.

Lily melangkah ke bangsal sebelah. Aku pun mengikutinya. Rupanya ada televisi di sana. Di layar nampak siaran CETV Hong Kong yang juga bisa ditangkap di Beijing. Kebetulan sedang memutar sinetron kesukaan Lily, dia pun mengambil tempat duduk dan asyik menonton. Di barisan depan ada beberapa orang Mongolia, yang nampaknya juga tidak mengerti isi sinetron yang menggunakan bahasa Mandarin. Kemudian masuk juga dua orang pemuda Mongol, kesannya sangat berandal sekali, kulit dadanya yang telanjang nampak hitam legam, telinganya beranting, rambutnya sangat gimbal, dan bau badannya pun cukup kuat. Ia menawarkan sesuatu kepada orang-orang di ruang tunggu itu, mungkin sebuah telepon genggam bekas, entah benar-benar bekas atau curian. Aku tak begitu tertarik. Tiba-tiba pemuda berandal itu meraih remote control dan mengganti chanel televisi dengan siaran mongolia. Lily nampak kesal, karena sedang asyik-asyiknya nonton sinetron kegemarannya. Aku pun bosan, kembali ke bangsal penjualan tiket.

Arlojiku baru menunjukkan pukul setengah dua, dan rupanya loket mulai dibuka. Orang-orang mulai berbaris dengan kasarnya. Aku pun memanggil Lily, karena untuk pembelian tiket dibutuhkan paspor. Gadis Asia tadi juga berbaris di depanku. Sedangkan si pria masih saja duduk tidak ikut mengantre.
“Ulaan Baatar?” tanyaku memulai percakapan dengannya.
“Yes. By the way, you are Indonesian, right?” tanyanya.
“Yes. How do you know?”
“From your passport. By the way, at first I thought you must be Vietnamese or Indonesian, but I was not sure yet.”
Dan begitulah obrolan kami dimulai, pada awalnya dalam bahasa Inggris, kemudian berganti Mandarin, dan akhirnya bahasa Melayu. Sama sekali tak kusangka aku malah berbahasa Indonesia di Mongolia. Cepat juga kami menjadi akrab. Waktu mengantre tiket pun serasa sangat cepat berlalu. Rupanya mereka berasal dari Malaysia, telah berjalan selama 6 bulan, mulai dari Malaysia, Thailand, Laos, RRC, dan sekarang Mongolia. Kami pun sepakat membeli tiket bersama, agar duduknya berdekatan. Lumayan juga, ada teman seperjalanan.

Harga tiket hard seat ke Ulaan Baatar adalah 4100 T atau kira-kira 36.000 Rupiah. Petugas penjualan tiket tidak bisa bahasa Inggris, seorang Mongolia membantu kami. Setelah mendapatkan tiket, Lily kembali ke bangsal tunggu untuk menonton televisi. Aku bersama kedua orang Malaysia itu melangkah keluar. Orang-orang Polandia yang kutemui pagi tadi juga berada di luar, dan mereka nampak sangat kecewa. Rupanya mereka gagal mendapatkan tiket ke RRC, dan terpaksa harus menunggu sampai keesokan harinya. Aku pun memberitahu mereka bagaimana aku bisa masuk ke Mongolia. Walaupun perbatasan ditutup pada hari Minggu, kami berdua bisa masuk karena menggunakan kereta api internasional. Mereka mengatakan bahwa dari Zamyn Uud tidak bisa membeli tiket kereta api internasional ke RRC, tidak ada jalan lain, harus menunggu sampai Senin besok dan menyeberangi perbatasan dengan mobil umum.

Aku pun melangkah bersama kedua orang Malaysia itu ke salah satu toko. Mereka membeli roti dan selai. Berhubung dalam dompetku tak ada selembar uang Mongol pun, aku hanya melihat-lihat saja. Setelah itu kita kembali ke stasiun dan mengobrol. Mereka mengisahkan pengalaman traveling mereka di Laos dan Vietnam. Lim Yuet, gadis yang kukira masih pelajar itu, ternyata sudah berusia 30 tahun lebih. Sedangkan Lam, si pria, sedikit lebih tua. Mereka berencana melintasi benua Asia menuju Inggris dan bekerja di sana, untuk kemudian kembali lagi ke Malaysia. Mereka mengatakan bahwa perjalanan ini adalah untuk 5 tahun, dan Mongolia bisa dikatakan masih merupakan awal dari perjalanan panjang mereka. Sungguh merupakan sebuah petualangan yang mengagumkan.

Tak lama kemudian kami berempat, termasuk Lily, pergi santap siang. Aku merekomendasikan warung tempat kita makan pagi tadi. Sayangnya, khuitsai yang lezat itu sudah tidak ada lagi. Akhirnya kami hanya memesan talkh (roti) dan sutetsai (teh susu). Lumayan juga.

Kereta kami akan berangkat pukul 6 sore. Arlojiku baru menunjukkan pukul 4, tetapi kedua orang Malaysia itu mengajak kami untuk bergegas. Akhirnya aku baru menyadari, ada perbedaan waktu satu jam antara Mongolia dengan RRC. Pantas saja tadi jam setengah dua kita sudah bisa membeli tiket, padahal semestinya jam dua loket baru dibuka. Setelah menyesuaikan jam tanganku, kami pun segera kembali ke hotel mengambil backpack kami dan bergegas ke stasiun.

Kereta Zamyn Uud – Ulaan Baatar sudah menunggu di sana. Kereta tidak begitu penuh. Rupanya hard seat di Mongolia setara dengan hard sleeper di RRC. Bayanganku sebelumnya mengenai perjalanan panjang penuh penderitaan, duduk sepanjang malam seperti dalam kereta RRC sirna dalam sekejap.
“Li, kita bisa tidur nyaman nih malam ini,” kataku.
Kita pun mengambil tempat duduk di ranjang bawah, dan mulai mengobrol. Selain kita berempat datang juga seorang pemuda mongolia di kompartemen kita. Kereta terasa lengang, tidak ada kesan berdesak-desakan seperti dalam kereta RRC. Nyaman sekali.

Tiba-tiba Lam, pemuda Malaysia itu, berkata,” Saya nak turun sebentar, ambil gambar.”
”Cepat balik, sudah nak berangkat,” Lim mengingatkan.
Dan kami pun melanjutkan obrolan, Lily yang semula diam pun mulai larut juga. Sedangkan pemuda Mongolia, yang karena perbedaan bahasa, akhirnya hanya berdiam diri saja di kursi jendela.

Tak lama kemudian Lam kembali. Dan obrolan kami pun semakin seru. Masih ada dua puluh menit sebelum keberangkatan kereta. Tak lama kemudian datang dua orang laki-laki Mongol, yang satu sangat kekar, yang satu kurus. Mereka datang ke kompartemen kami dan berbicara dalam bahasa Mongol.
“Ta angliar yairdag uu?” aku menanyakan apakah mereka bisa bahasa inggris.
Sambil tertawa-tawa sinis mereka menjawab dalam bahasa Mongol yang aku pun juga tidak mengerti.
Mereka terus mengoceh dalam kompartemen kami. Semula kukira mengajak kita bergurau.
“Mereka nak duit,” kata si Lam, “mereka habis minum vodka.”
Akhirnya aku menyadari bahwa wajah kedua orang itu amat sangat merah, kedua pasang mata itu pun berkilatan ganas. Aku mulai takut.

Tiba-tiba hening.
Pemuda kekar itu meraih botol Coca Cola milikku, Kemudian diangkatnya seolah-olah hendak dilemparkan. Semula aku mengira ia hendak minum dari botolku. Aku pun secara spontan berusaha merebutnya kembali, tetapi setelah sadar kami sedang dalam bahaya berhadapan dengan pemabuk, aku pun segera mengambil posisi duduk manis.

Dia tidak jadi melemparkan Coca Colaku ke luar jendela. Botol itu dikembalikan dengan baik ke pangkuanku. Mereka berdua kembali nyerocos dalam bahasa Mongol. Kali ini nadanya tidak begitu ramah. Penumpang-penumpang Mongol yang lain mulai berkerumun, tapi tidak ada yang mengambil tindakan.

Dengan berbisik-bisik dalam bahasa Melayu si Lam mengatakan bahwa kedua orang ini minta bayaran karena mengira tadi sudah diambil gambarnya oleh Lam. Sebenarnya Lam sama sekali tidak memotret mereka. Dan sama sekali tak disangka mereka mengejar ke atas kereta. Kecemasan pun mulai merasuki diriku. Waktu seakan berlangsung begitu lama. Aku dapat merasakan jantungku memukul-mukul dadaku dengan kerasnya. Tak pernah sebelumnya aku berhadapan begitu dekat dengan pemabuk yang sedang ganas-ganasnya. Menit demi menit berlangsung lambat. Kedua orang Mongol itu terus berbicara sendiri, sedangkan kami berempat tidak menanggapinya.

Tiba-tiba hening lagi.
Kukira mereka sudah selesai marah-marah. Tak lama kemudian si kekar itu mengarahkan kedua tangannya yang besar ke arah meja kami yang dipenuhi makanan-makanan kecil dan botol-botol minuman. Dengan berteriak diobrak-abriknya meja itu, makanan-makanan dan botol-botol yang ada di sana dibanting ke lantai. Teriakannya sangat mengejutkanku. Kusaksikan makanan-makanan kami bertebangan ke lantai. Kami berempat pun hanya diam tak bergerak, memandang dengan ngeri. Penumpang-penumpang yang lain pun diam tak beraksi.

Meja kecil kompartemen kami tiba-tiba digebrak dengan kerasnya. Penumpang-penumpang Mongol mulai berteriak dan menyeret kedua pengacau itu turun. Suasana menjadi sangat ricuh. Aku menduga para penumpang yang lain pun marah dan memaki-maki kedua pemabuk itu. Yang jelas kedua orang itu diseret turun, namun kami berempat masih dicekam ketakutan. Kereta yang sebenarnya tidak penuh itu pun menjadi sangat ribut, bahkan lebih ribut daripada kereta china yang selalu padat.

Setelah suasana sedikit mereda, kami mulai merapikan kembali meja kecil kami. Dan mulai membicarakan kejadian barusan. Aku kini menyadari betapa tepatnya yang ditulis dalam LP bahwa kita harus berhati-hati dalam mengambil gambar orang Mongolia, karena banyak orang Mongol yang tidak suka difoto. Lam juga menambahkan, jika menemui masalah di negeri asing, kalau tidak ingin terlibat dalam kesulitan, selalu tunjukkan bahwa kamu tak mengerti sedikit pun bahasa mereka, sekali pun kamu sebenarnya bisa. Cara ini sangat ampuh untuk menghindarkan kita dari permasalahan yang lebih runyam.

Sedikit demi sedikit suasana pun mencair. Tiba-tiba jendela kami diketuk dari luar. Masih dua pengacau itu. Kami sama sekali tak menghiraukan mereka. Sayup-sayup mereka meneriakkan “sorry”, tapi tidak begitu terdengar jelas. Kami tak peduli.

Kereta pun perlahan-lahan mulai bergerak. Kami pun mulai bernapas lega. Paling tidak, tidak akan ada lagi pemabuk dari luar yang bisa menyusup naik ke atas kereta. Lima menit kemudian datang seorang polisi, didampingi petugas kereta. Mereka mulai menginterogasi kami dalam bahasa Mongolia atau bahasa Rusia, aku pun tidak begitu tahu. Karena kesulitan bahasa, pemuda Mongol dalam kompartemen kami membantu menjelaskan kepada polisi itu. Setelah memeriksa paspor-paspor kami, polisi itu pun pergi, seolah sudah tidak terjadi apa-apa lagi.

Dan dalam sekejap, kota Zamyn Uud mulai lenyap dari pandangan. Zamyn Uud yang senyap, Zamyn Uud yang masih terlelap, Zamyn Uud yang liar dan ganas, akhirnya menutup kisahnya dengan menorehkan sebuah kenangan seram di benak kami….

http://avgustin.net/
photo gallery http://www.avgustin.net/gallery.php?id=1

admin is
Email this author | All posts by admin

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

Copyright ©2004-2008 Indonesia Backpacker Community All rights reserved. All articles and Images may not be reproduced in any form without the express written permission of the copyright holder | All Information contained on this site may not be used for commercial purposes,
for more information please Contact
admin At indobackpacker.com | Powered by the WordPress

Creative Commons License
Except where otherwise noted content on this site is licensed under a
Creative Commons Licence.