Borneo Trekking : Menyusuri jejak pemburu kepala

Custom Search

By ambar • Nov 16th, 2005 • Category: Petualangan
Bookmark and Share

Aku sempat mulai panik ketika antrian mendekati pukul 12 lebih. Flight ke Miri adalah pukul 1300, sedang aku masih tersangkut disini. Begitu melewati imigrasi, jelalatan mencari taksi. Karena ngga sempat tukar uang kami bayar supir taksi dengan SGD25 (outrages !!!). Tapi mau dibilang apa, tidak ada pilihan lain.

Sekitar 30menit (lama juga ya..), nyampe bandara JB di Senai. Kecil dan baru dirombak sana sini. Bahkan bau cetnya masih terasa. Kami terbang dengan Air asia yang punya flight ke beberapa
wilayah pedalaman Malaysia.

http://ambarbriastuti.blogspot.com

Ini adalah perjalanan yang tak terlupakan. Dari berdesakan antre dengan ribuan orang di Johor Baru/JB checking points hingga berjuang di belantara Borneo melawan ganasnya pacet. Dan yang paling berkesan adalah menulusuri gua2 di Serawak, mendaki the Pinnacles yang terkenal itu serta mengunjungi beberapa suku Dayak (Iban dan Penan). Lebih serunya lagi adalah bertemu sesama trekker bergelar Miss Lucu asal Swiss dan seorang British yang selalu berdendang lagu “Begadang”-nya Rhoma. Mencoba hitchhiker di trans Miri-Bintulu, atau nyewa mobil yang selalu berbunyi “ting-ting-ting’ kalo lajunya lebih dari 100km/jam. Dan yang menciutkan adalah tidak menyalakan hape dan email selama trekking. Duh mana tahan……

Day 1 Sat 22/05/05 Singapore-JB-Miri

Sengaja berangkat pagi untuk menghindari ramenya lalulintas. Dengan taksi kami menuj Arab St tempat mangkalnya bis menuju JB. Dengan tarip SGD2.40 per orang aku duduk manis dibelakang. Maklum dengan rucksack segini paling tidak makan dua tempat. Masih mending ngga dicharge tambahan. Tak lama kemudian bis melaju nyaman…

Untuk melewati dua immigration control (ngga nggabung), kita kudu turun bis, jalan plus scanning rucksack. Padahal jarak keduanya ngga ada 500m. Hari ini Sabtu dan sekitar pukul 10an sudah berderet bis, mobil dan motor yang akan menyeberang. Gate pertama adalah Singapore. Sangat efisien dengan gedung megah ber AC. Selanjutnya dengan naik bus (lagi) menuju pintu imigrasi Malaysia. Celakanya aku lupa klo Senin adalah bank Holiday Vesak . Surprised dengan kondisi ini, mau tidak mau harus segera antre di ruangan yang sebesar kantor kecamatan itu. Sebuah kontradiksi yang langsung terasa. Malaysia agaknya perlu diingatkan bahwa JB adalah pintu masuk menuju kemana saja setelah dibukanya era budget flight. Ngga ada tanda yang jelas dan ngga ada jalur antre
yang rapi. Betul-betul chaos.

Aku sempat mulai panik ketika antrian mendekati pukul 12 lebih. Flight ke Miri adalah pukul 1300, sedang aku masih tersangkut disini. Begitu melewati imigrasi, jelalatan mencari taksi. Karena ngga sempat tukar uang kami bayar supir taksi dengan SGD25 (outrages !!!). Tapi mau dibilang apa, tidak ada pilihan lain.

Sekitar 30menit (lama juga ya..), nyampe bandara JB di Senai. Kecil dan baru dirombak sana sini. Bahkan bau cetnya masih terasa. Kami terbang dengan Air asia yang punya flight ke beberapa
wilayah pedalaman Malaysia. Ini pertama kali kami naik pesawat ini. Lumayan penuh, dengan pesawat B737 hampir dua pertiga penumpang penuh. Dua jam flight lumayan boring, sadar kami
lupa ngga bawa buku bacaan. Ngabisin waktu sembari mengagumi pulau2 yang kami lewati. Cantik dan ideal untuk snorkeling. Perkiraan bodo-nya adalah pulau2 masuk M’sia, nyatanya setelah liat peta adalah bagian dari Indonesia. Wahh koq ngga denger promonya ya. Padahal luarbiasa cantik….

Tiba di Miri, kesan pertama adalah wow ! (jaw dropping…neee). Bandaranya gedee!!! Nanya sana sini
ternyata mereka baru membangun sekitar setahun lalu untuk melengkapi status Miri menjadi city yang tepatnya tanggal 20 May lalu. So kami ketinggalan pesta perayaan dua hari sebagai syukuran atas naiknya status Miri. Kami juga (akan) ketinggalan Hari Gawai yakni pesta perayaan panen padi suku Dayak yang dimulai bulan Juni ini. Wehh serba ngga beruntung nih. Malam ini menginap di Miri karena flight ke Mulu National Park esok harinya.

Day 2 Sun 23/05/05 Miri-Mulu

Trekking ke Kuala Terikan dan menyusuri sungai Mendalam

Kami menginap di River Inn-sebuah losmen kecil di tengah kota Miri. Taripnya RM25 perkepala, terletak di pertigaan Jl.Brooke. Aku membawa buku Rough Guide untuk Malaysia-Brunei-dan Singapore yang ternyata sudah ketinggalan jaman. Miri terlalu cepat berubah. Letaknya yang
strategis dengan Brunei membuat kota ini jadi singgahan bagi kawanan expat minyak.

Kondisi River Inn sendiri memrihatinkan. Ngga ada air panas, ada TV tapi rusak. Untung saja AC masih bisa jalan tapi yang tidak kami sadari bahwa di lantai 1 dipakai untuk karaoke. Jadilah malam minggu kami habiskan dengan mendengarkan dangdut dan live sampai tengah malam. Lengkap sudah penderitaan hari ini….

Pagi hari mengepak rucksack. Thomas dari Borneo Adventure menjemput kami di lantai 1 dengan mobil Wira-nya. Kami mengontak Thomas dengan hape pinjaman dari waitress yang melayani makan sehari sebelumnya. Gratis katanya…..

Beberapa barang kami tinggalkan di Miri karena untuk bagasi dibatasi hanya 10kg. Maklum kami akan terbang dengan pesawat kecil dari Malaysia Arlines. Dari Miri ke Mulu dibutuhkan waktu 1/2 jam flight tapi bisa jadi butuh dua hari dengan perahu dengan empat tahapan.

Hari ini pesawat kami Fokker 50. Lumayan gede. Sedang Mulu sendiri baru membuka diri sekitar tahun 1996. Setiba disana, Tom seorang Iban guide menjemput dan menyatakan akan bersama kami hari ini. Lantas ditempatkan disebuah lodge yang waaaa gedee dan airee. Kayaknya balas dendam dengan River Inn dah…

Pukul 1430 Tom dengan sandal gunungnya mengantar ke dua show caves. Ngga jauh dari lodge, sekitar 45 menit jalan ala Iban (cepet buanget..). Gua pertama yang kami kunjungi adalah Lang
Cave. Lang berasal dari nama penduduk local yang menemukan pertama kali. Cantik dengan ornament yang bisa disetarakan dengan gua2 di Pacitan Jatim. Terutama bentukan curtains
sangat indah.

Gua kedua adalah Deer Cave atau Gua Rusa. Awalnya menjadi persinggahan kawanan rusa untuk berteduh dan minum. Deer Cave sendiri sangat besar dengan entrance setinggi 80 meter dengan plank sejauh 3km yang diterangi lampu. Kebetulan malam sebelumnya di Mulu hujan deras jadi kami
bisa menikmati cucuran air dari atap di pintu masuk gua seperti layaknya sinar jatuh dari matahari. Sebuah formasi batu yang diberi nama Abraham Lincoln karena dari dalam akan nampak siluet wajah dengan muka seperti si Presiden USA ini.

Puas pusing-pusing, kami menunggu di sebuah tempat observasi tak jauh dari kedua gua tadi. Seperti panggung kecil dengan deretan bangku. Ini adalah panggung tempat kami menonton atraksi berikutnya: kelelawar. Di saat matahari tenggelam sibinatang malam ini keluar mencari mangsa. Cuma karena sarangnya gede banget jadi kebayang jumlahnya adalah 2-3 millions.

Sekitar pukul 1730 tampak gerombolan pertama keluar membentuk sederetan gelombang yang
panjang. Mereka keluar dengan group tersendiri, terkadang bisa hingga 10 menit tanpa putus. Kita bikin itungan kasar. Sekitar 30,000 kelelawar dalam semenit maka itung sendiri dalam 1 jam. Menurut Tom mereka keluar dalam waktu 1-2 jam. Nampak juga elang yang mengambil kesempatan dengan memburu kelelawar. Sekitar 6 ekor mengelilingi tiap kali gerombolan keluar. Bahkan kami sempat melihat hornbill yang memantau di kejauhan.

Sebelum gelap kami mencapai lodge dan tidur dengan sangat nyaman (forget about “Hotel California” di Miri). Paginya kami sudah nongkrong di tepi sungai Melinau untuk memulai hari. Nampak sebuah board berisi tarip untuk transport sungai yang terpampang dengan jelas. Beberapa tukang perahu bahkan sudah standby menunggu penumpang. Mulai hari ini dan seterusnya kami didampingi Richard-seorang Iban berperawakan kecil tapi lincah. Dalam perahu sendiri nampak piranti masak dan juga bahan yang siap dibawa hingga Camp 5.

Tambahan info : di Serawak dan Sabah serta Kalimantan kita hanya mengenal Dayaks. Padahal banyak sekali suku2 yang disebut subcategory yakni : Iban, Penan, Kelabit, Kedayan, Tagal, Bisaya dan Lun Bawang maupun Bidayuh (land Dayaks)

Lanjutan day 2 Miri – Kuala Berar – Camp 5

Trekking ke Kuala Terikan dan menyusuri sungai Mendalam

Gunung Mulu National Park dibuka tahun 1985, namun nama besarnya dikenal sebagai World Heritage oleh Unesco karena biodiversity dan kekayaan karst-nya. Untuk mengeksplorasi Mulu kita harus menggunakan jasa guides. Park HQ sendiri mempunyai Park Ranger yang siap sedia mengantar. Taripnya jelas, baik transport, biaya masuk juga retribusi untuk tinggal di camp. Untuk Pinnacles taripnya adalah RM400 (3D/2N per group), sedang Headhunters trail adalah RM160.

Dari sungai Melinau kami mampir ke Penan settlement. Suku ini secara tradisional adalah nomadic, tapi saat ini hanya sekitar 4% saja yang masih berburu dihutan. Lainnya menjadi petani padi, umbi atau sagu. Sedang kaum wanitanya membuat kerajinan yang dijual untuk turis. Umumnya mereka berbahasa Berawan, bahasa untuk Orang Ulu (tinggal di hulu sungai), tapi mereka bisa berkomunikasi dengan bahasa Malay. Satu cerita adalah umumnya orang Penan tidak bisa berenang, namun setelah settlement para generasi baru Penan mulai beradaptasi dengan kehidupan tepian sungai.

Rumah suku Penan yang saya datangi terdapat tiga longhouse yang terpisah. Menurut Richard-guide kami beberapa tahun lalu terjadi kebakaran besar sehingga diputuskan memisah longhouse. Disana-sini juga terdapat Bilek terpisah, yang masih dalam satu kompleks. Mereka memelihara ayam dan anjing juga monyet. Terdapat sebuah gereja tua yang dipakai untuk kegiatan ibadah. Suku-suku di Borneo memang menganut agama Kristen Catholic namun bukan berarti animisme ditinggalkan.

Saya sempat ngincer parang dan blowpipe yang merupakan ciri khas mereka. Tapi heksss…disadarkan ini bisa jadi masalah di imigrasi. Akhirnya mengagumi seruling bamboo yang ditiup melalui hidung. Juga semacam potongan bambu yang digetarkan dimulut menciptakan bunyi khas. Satu alat musik yang saya sukai adalah sepotong gitar yang dawainya diiris dari kulitnya.

Disini kami membutuhkan satu porter yang bersedia mengantarkan bekal ke camp 5. Seorang laki2 muda Penan dibangunkan dari tidur siangnya. Jadilah kami kembali berlima berperahu menuju Kuala Berar. Sebelumnya kami mampir di dua buah gua lagi yang hanya bisa diakses dengan perahu, yakni Clearwater cave dan Wind cave.

Wind cave hampir sama cantiknya dengan Lang cave. Yang langsung menjadi perhatian adalah lapisan karstnya yang nampak lebih muda juga terlihat kering. King Chamber yang menjadi point of view sangat menarik karena stalagtite lebih berupa jeruji yang menyambung dengan stalagmite. Sedang Clearwater cave mempunyai system yang panjang dengan sungai yang lumayan dalam. Dijamin airnya jernih sekali sesuai dengan namanya. Disini kami menemukan bentukan karst yang
unik seperti layaknya stalagmite yang terpotong. Mereka menamakannya Adam and Eve karena sepasang.

Selepas makan siang kami melaju kembali dengan perahu. Sungai Melinau sebenarnya ngga dalem amat, bahkan beberapa kali mesinnya terantuk batuan. Cuma terkadang terdapat arus deras yang membuat Richard mengeluarkan dayungnya. Kami sempat mendorong perahu karena tersendat-sendat. Saya sih duduk manis saja…(anyway ini karena saya ngga mahir berenang).

Sekitar 1 jam kemudian kami tiba di Kuala Berar. Dari sini kami akan memulai trekking 8km menuju camp 5. Elevasinya datar aja, tapi karena ini hutan maka delapan kilo serasa dua kali lipatnya. Menurut petunjuk plangnya sih cuma dua jam tapi sekali lagi ini standard orang local. Si porter sudah berangkat duluan dengan keranjang anyaman yang dikaitkan di kepala dengan tanpa alas kaki. Sedang kami masih sibuk meramu “jungle mix” –campuran insect repellant dan sun cream. Saya
sih no problem klo nyamuk tapi yang aku takuti adalah pacet.

Ketakutan –ku menjadi kenyataan setelah satu jam trekking mendadak hujan turun. Ini akan membuat serangan pacet bertambah ganas. Pacet menggunakan sensor panas untuk mencari mangsa. Disaat hujan temperature cenderung turun membuat mereka lebih mudah mengindetifikasi korban. Beberapa kali si imut ini nemplok di kaki dan sempat merayap wajah (karena ternyata nyangkut lewat ponco yang aku pake). Aku sempat ngga gubris sambil beberapa kali berhenti mengambil foto tumbuhan disana-sini. Setelah sekitar tiga jam trekking termasuk istirahat 1/2 jam
nyampe juga kami di camp 5. Acara selanjutnya adalah “leech operation”-buka baju dan sepatu. Hasilnya tiga pacet di kaki dengan sukses mengambil darahku sedang satu biji di belakang berdarah-darah hingga setengah jam. Agaknya beberapa nemplok melalui rucksack. Untuk melepasnya kami pake insect repellent dengan 100% deet alias sedikit semprot langsung wessssss tewas.

Camp 5 sendiri sangat nyaman. Terdapat 5 ruangan besar yang per ruang bisa untuk tidur sekitar 10 orang. Papan tidurnya dilengkapi pelapis busa yang menurut aku termasuk klas mewah (hiks…) Juga sebuah dapur umum dan kamar mandi yang bersih. Jika mulai gelap sebuah generator akan dinyalakan untuk memberi penerangan. Di atapnya berderet solar panel sebagai tambahan tenaga listrik. Disini kami akan tinggal selama dua malam untuk pendakian the Pinnacles keesokan harinya dan meneruskan trekking Headhunter’s trail ke Nanga Medamit.

Day 3 Mon 24/05/05 The Pinnacles (Gn Api)

Beratnya pendakian Pinnacles dan cerita tentang Miss Lucu

Ada sekitar 4 groups yang akan mengadakan pendakian hari ini. Dari Singapore, rombongan besar dari Malaysia dengan film crew, lima orang turis asing dan kami. Kebanyakan tim sekitar 5 hingga 10 orang. Cuma group kami yang berdua plus guide. Richard sudah memberi tahu bahwa kami akan berangkat pagi sekitar pukul 700.

Selesai mengepak kami set off ke jalan setapak tak jauh dari camp 5. Perasaan-ku ngga mood pagi ini. Mungkin karena kurang tidur semalam. Hujan lebat cukup membuat atap seng jadi riuh dan entah kenapa sulit sekali menutup mata untuk tidur. Jalanan langsung menanjak dengan grade yang lumayan. Perutku jadi mulas. Benar saja belum ada setengah jam mendaki aku muntah karena system pencernaan terlalu diforsir bekerja bersamaan dengan otot kaki. Anehnya sehabis muntah aku malah
seger waras. Cuma agaknya perlu tambahan energi untuk menggantikan sarapan yang keluar.

Jalur trek lumayan bagus, disana-sini terkadang diberi tali. Terutama untuk turun karena licinnya batuan dan akar pepohonan. Teduh sekali karena rimbunnya pohon. Jarang banget mendapat sinar matahari langsung. Kalo diitung sebenarnya hanya 2.4 km tapi ini totally vertical. Dalam buku dikatakan paling tidak butuh 3-4 jam untuk sampai ke Pinnacles for fit people. Jarang ada jalur datarnya. Karena itu sangat essensial untuk membawa packing seminim mungkin. Aku lihat beberapa botol minuman di letakkan di tepian trek sebagai suplai kalo turun. Paling tidak perorang membawa dua liter, idealnya sekitar 3 liter. Ngga ada sumber air di sepanjang trek.

The Pinnacles adalah lapisan limestone yang mengalami erosi karena curahan hujan. Ini membuat bentukannya menjadi jeruji tajam. Bahkan tingginya bisa mencapai 30-40m . Letak Pinnacles adalah di lereng Gunung Api (1750m). Belum ada yangmencoba menaklukan puncak sesungguhnya. Sebuah gunung di sampingnya Gunung Benarat (1580m) meski pendek tapi juga belum terjamah. Satu2nya Gunung yang bisa didaki adalah Gunung Mulu (2376m) yang pertama ditaklukan oleh Lord Shackleton (anaknya Ernest Shackleton) di tahun 1932. Anyway bagi aku Pinnacles sudah lebih dari cukup.

Sekitar pukul 10an kami nyampe di sepertiga bagian terakhir (I called it : jalur besi). Di papan peringatan disebut bahwa paling ngga kita nyampe di tahap ini sebelum pukul 11 siang. Alasannya karena cuaca yang sering berubah, kabut dan mungkin hujan juga jalurnya sendiri lumayan berat. Terdapat sekitar 14 tangga besi dan beberapa jembatan penolong juga tali untuk melalui lapisan limestone yang keras. Disana-sini juga ditemui lubang dalam yang klo ngga ati2 bisa nyebur juga.

Trek berubah menjadi merayap, scrambling dan climbing. Menurut aku ini lebih menarik karena beberapa point betul2 memakan tenaga. Jadi jangan percaya dengan guide atau tour operator yang menyebut jalur ini “moderate”. Richard-guide kami malah menganggap the Pinnacles lebih berat ketimbang Mt Kinabalu di sisi tingkat kesulitan. Untung saja hari itu cukup cerah jadi jalur tidaklah terlalu licin.

Setelah total 4 jam pendakian, dengan basah kuyub keringat sampai juga kami ke the Pinnacles. Luar biasa ! Kebetulan kabut juga baru terangkat, jadi nampaklah gerombolan batuan runcing yang seakan menantang langit ini. Bersama kami adalah rombongan yang berangkat lebih dulu, dua orang Singaporean dan serombongan turis asing. Tempat untuk menikmati the Pinnacles juga sempit banget. Maksimal bisa nampung sekitar 10-15 orang dengan beberapa memanjat pohon. Ngga seperti lapangan bola.

Disini pula aku bisa ngobrol rame dengan salah satu turis. Gara-gara ia memakai kaos bertuliskan : Pemilu 2004 Pemilihan Miss Lucu Indonesia. Dari sini mengalir cerita tentang pengalamnnya 4 bulan di Indonesia. Dari mendaki Merapi, Semeru dan upayanya mencapai Rinjani. Juga salah satu trik-nya mengelabui petugas imigrasi untuk tinggal di Indonesia. Miss Lucu bilang bahwa Indonesia adalah
tempat terindah yang dikunjunginya. Nah loooo……….asli ini ngga bosa-basi.

Makan siang kami habiskan di the Pinnacles. Terkadang kabut turun dengan cepat dan dalam sekejap hilang dalam gulungan putih. Setelah puas kami bersiap turun. Sekitar pukul 1300 kami meninggalkan lokasi. Untuk turun, ini yang lebih susah sebenarnya. Apalagi satu jam kemudian hujan turun walau tidak terlalu deras. Efeknya jalur menjadi sangat licin. Untung saja akar pohon yang kuat bisa dipergunakan untuk pegangan.

Jalur trek sebenarnya mudah diikuti karena ditandai dengan cat merah di pepohonan. Yang pasti jalur ini dijamin “pacet free”. Setelah berjuang turun (aduh…rasanya ngga gagah banget) tiba di kaki gunung. Richard mendahului karena mungkin ngga sabar karena kita lelet banget terutama aku yang kelelahan. Guide kami ini juga berbaik hati membantu anggota grup lain yang tidak bisa melanjutkan di “jalur besi”. Ada sekitar 3 orang dengan satu orang mengalami gagal sepatu yang mengharuskan guide turun dan naik kembali untuk mengambilkan sepatu. Sekitar pukul 5 sore kami kembali di camp 5 dengan suguhan teh hangat.

Disini sembari leyeh-leyeh aku kebali chatting ria dengan rombongan Miss Lucu dan secara kebetulan aku ketemu kembali dengan bapak separuh baya tambun berwarga negara Inggris yang selalu menyanyikan lagu Begadang. Dia pernah tinggal empat tahun di Indonesia di era 1970an. Bahkan mengaku kenal baik dengan Iswadi Idris (orang bola) dan Hetty Koes Endang (penyanyi). Bahkan ia dengan bangga menyanyikan lagu Indonesia lama yang lain. Kadang aku geli sendiri, tapi kadang terharu. Orang asing ini lebih menghargai budaya kami sendiri.

Makan malam dihidangkan secara komunal. Di dapur terdapat sekitar 7 orang yang memasak. Kebanyakan Park Ranger yang jadi guide. Jadi kita ngga perlu masak jikalau di camp 5. Aku berharap bisa tidur tenang malam ini. Setelah menenggak oralit plus banyak minum kami segera masuk peraduan. In total hari ini hanya sekitar 2 + 1/2 group yang bisa ke puncak. Satu tim dengan film crew balik kanan di setengah jam pertama mendaki. The Pinnacles bukan untuk orang yang
gampang menyerah.

Day 4 Tues 25/05/05 Headhunter’s Trail

Menyusuri kembali jejak Pemburu Kepala

Waktu itu sekitar abad 18an suku Iban yang aslinya tinggal di muara sungai Kapuas bermigrasi ke wilayah hulu Borneo. Ini menghasilkan tentangan dari beberapa suku yang telah menetap di tepian sungai. Terjadi perang suku yang dasyat yang digambarkan sebagai “sungai menjadi merah oleh darah”. Ini juga menjadi awal tradisi yang ditakuti : headhunter alias memburu kepala.

The headhunters trail sekarang adalah jalur trek yang dulunya dipakai suku Kayan untuk menyergap orang Iban dan suku-suku lain yang hidup di sekitar Limbang.,Jalur ini kemudian berkembang menjadi jalur perdagangan bagi warga yang tinggal,di pegunungan ataupun yang ingin memasuki Indonesia. Perang suku yang panjang inilah yang menjadikan suku Iban jatuh ke tangan White Rajah James Brooke di tahun 1835.

Hari ini hanya kami yang melakukan trekking hingga Kuala Terikan. Tim-tim lain memilih balik ke Miri dan sebagian meneruskan ke Sabah untuk mendaki Mt. Kinabalu. Kami berangkat sekitar 0800am. Richard –sang guide sudah mengingatkan bahwa trek ini terkenal akan keganasan pacet-nya. Waaaaa jadi yang kemaren itu belum ada apa2nya toh ????

Menurut dia ada dua tipe pacet. Ground leech bentuknya seperti cacing, berwarna kecoklatan, bergerak mirip dengan ulat (pake perut). Biasanya mengenai kaki ketika kita berjalan di belukar. Sedang Tiger leech (Hassiphonia Species), Bentuknya tidak panjang, warna kehitaman, terasa klo mengigit, dan suka menyerang badan keatas. Perilaku yang lain adalah pacet tipe ini menghasilkan
enzym yang membuat darah berhenti membeku. Jadi sekali kena bisa berdarah-darah sampe setengah jam. Aku juga mengamati bahwa pacet suka memilih lekukan tubuh yang mempunyai pembuluh darah lunak seperti paha, perut dan pinggang (hmmm yummy…)

Sadar dengan bahaya kami eksperiment taktik baru. Pake celana sengaja kepanjangan, kaos kaki wol tinggi dan gaiter disemprot dengan insect repellent dulu. Si Richard ngetawain aja. Dia memilih celana pendek, kaos lengan pendek dan cuma sandal gunung !! Bah….ini namanya mengorbankan diri.

Trek ini berjarak 11.3 km cenderung rata. Vegetasi juga lebih rimbun dengan pepohonan yang tinggi. Sinar matahari hanya kadang2 menyelip diantara pepohonan yang ditebang khusu untuk pemeliharaan trek. Beberapa kali kami memergoki hasil perbuatan pemburu hutan yang mengambil rebung bamboo ataupun tanaman lainnya Jalur ini juga dipakai orang China di awal perdagangannya dengan suku Dayak. Kami santai saja hari ini dan kebetulan cuaca sangat membantu. Bunyi cicadas
ngga henti-hentinya terdengar, kadang terdengar aneh. Burung-burung pun bergantian menghasilkan konser alam yang indah. Kami sempat memergoki seekor burung yang mempunyai ekor sangat panjang (eee lupa namanya, liat di foto aja). Kami musti mengendap-endap dan mengamati dalam jarak 20m.

Guide kami ini juga menunjukkan daun kayu api (ngga pasti namanya). Daunnya jika dibakar akan menghasilkan suara letusan seperti petasan. Mereka percaya dengan membakarnya akan mengusir ruh jahat. Biasanya dilakukan jika turun gunung atau ketika seseorang meninggal. Tapi dasar anak2 biasanya dinikmati karena suaranya yang riuh. Jalur trek ini lumayan rapi, walau kadang hilang disana-sini. Juga terdapat plank kayu jika trek melewati rawa atau sungai dangkal. Oya kami banyak menemui sungai berwarna coklat seperti teh karena tanah sekitanya yang bergambut (peat).

Setelah sekitar 4 jam kami sampai di sungai Terikan. Disini terdapat jembatan taliuntuk menyeberang. Asyik juga melewatinya. Terutama karena diikatkan di pepohonan di kedua ujungnya dan tali tambahan untuk mengurangi efek ayunan. Usai menyebrang terdapat sebuah tempat peristirahatan kecil tak jauh dari sungai. Kami berhenti dan kembali melancarkan aksi “leech operation”. Kali ini hanya dua tiger leech di perut dan beberapa nempel di gaiter dan rucksack. Sedang Richard- hmm harus menerima konsekuensi bersandal gunung. Tiga gigitan ganas mengenai kakinya. Aku juga menemukan fakta menarik bahwa rucksack-ku yang berwana lebih gelap ternyata sangat digemari pacet. Terbukti eksperiment lumayan berhasil walau tidak memuaskan. Pacet cuma nemplok di tangan dan segera dibuang sebelum menancapkan giginya.

Tak lama seorang laki-laki paru baya datang menghampiri. Ternyata beliau ini Pak Payong, penghulu Sigah yang akan membawa kami dengan perahu untuk tinggal di rumah panjangnya di tepi sungai Mentawai. Di keranjang khasnya telah tersedia makan siang buat kami. Wah nikmat apalagi sehabis cibang-cibung di sungai. Kali ini rucksack dan semua peralatan kamera terpaksa dimasukkan dalam tas waterproff. Karena sungai Mendalam yang akan kami lalui ini terkenal arus derasnya.Juga melihat cuaca kayaknya hujan segera tiba.

Benar saja tak ada 20 menit kami tinggalkan Kuala Terikan, hujan mengguyur dengan derasnya. Benar- benar seperti tercurah dari langit. Beberapa kali kami harus melewati arus yang mendebarkan. Aku cengar-cengir aja, terkadang rada gelagapan. Pak Payong dengan sigap mengendalikan perahunya.

Walau hujan kami menikmati 2 jam perjalanan berperahu. Bahkan sempat terbuai dengan suasana. Hingga sampai juga kami di rumah Pak Payong. Rumah panjang yang dihuni hampir 23 keluarga ini cukup rapi. Aku lihat beberapa jala disangkut didepan rumah. Sebagai penghulu, Pak Payong hidup diatas rata2 orang Dayak. Akan sangat mudah ditemui freezer atau toaster disini. Bahkan demi kenyamanan turis, sebuah toilet duduk dan shower siap sedia. Walau tentu saja air-nya dari ember.


Day 5 Wed 25/05/05 Longhouse-Nanga Medamit-Limbang

Menuju Limbang dan makan malam dengan pakis hutan

Lagu ini dinyanyikan orang Iban untuk mengawali “sampi kena mantap” sebuah upacara membersihkan bilek sebagai awal dimulainya musim tanam padi. Renungan yang sangat dalam tentang penghormatan leluhur dan alam.

O, ni kita
Petara aki
Petara ini?

Ti dulu kalia ke dulu
nubah,

tanah mungkal menoa tu.
Kita ka dulu berumpang,
besawang
berimba,

ngaga temuda dulu
kalia?

Kami tu anak,
telesak,
uchu ambu kita,

Deka bumai dalam memoa
tu,

Nganti tulong urat
kita ka dulu menya

Nya alai kita enda tau
enda

Ngemata lalu ngintu
pengawa ka

Laban kami tu meh uchu
ambu kita,
Darah getah kita,
nampong nerujong,

Ngintu bilik penaik
kita.

Nya alai kita enda tau
enda

nulomg nukong aku dalam
umai tu.
O, where are you

Spirits of our
grandfathers

Spirits of our
grandmothers?

You who long ago opened
the

bountiful land of this
domain.

You who first felled
the jungle,

Cleared the land,

Cut down the virgin
forest,

Who first created as
estate of farmland?

We are your children,
Your offspring,

Your favorite
descendants,

Who wish to farm this
land.

We take your place,

You who have long ago
gone before us,

We attend with care to
the work

Which you have
entrusted to us,

Because we are your
beloved

Grand children,
Your flesh and blood,
your true descendants,

We carefully look after
your legacy.

Therefore help us so
that I do

Not suffer unhappiness
while I

Work this farm

(recorded and translated by Sather 1984)

Pak Payong Sabit dan Ibu Sally mempunyai 9 anak. Empat diantaranya perempuan. Salah seorang putrinya menikah dengan cina dan saat ini menetap di Canada. Sedang kedua putri lainnnya tinggal di Kutching yang salah satunya masih sekolah. Saya bahkan dipersilakan melihat setumpuk album keluarga yang berisi kisah sukses anak-anak Pak Payong.

Bagi suku Dayak, perkawinan antar etnis memang tidak terlalu bermasalah. Bahkan ibu Sally mengatakan sejumlah orang Jawa dan Bandung banyak yang menetap dan membuka usaha di daerah ini dengan menikahi perempuan Dayak. Hanya saja kecendurangan laki2 Dayak untuk menunda pernikahan. Richard guide saya, berjanji menikah jika semua anak perempuan dalam keluarganya bersuami. Ini bukan ketentuan, tapi katanya “hanya sebuah sikap pribadi”. Padahal umurnya diatas 35an.

Bilek Pak Payong terbagi atas beberapa ruang. Yang terdepan sebagai tempat tidur kami ini sangat lapang, hanya terdapat meja sudut yang berisi foto2 dan souvenir dari Canada. Sebuah ruang keluarga dengan TV dan kursi tak jauh dari situ. Barulah dapur dan ruang makan yang mampu menampung 10-15 orang. Di dapur banyak ditemui peralatan modern seperti freezer (bukan kulkas), kompor gas dan alat bantu lainnya. Bercampur dengan blowpipe, senjata buru (biasanya menembak
monyet atau burung), alat instrument seperti gitar dan berbagai sertificate pelatihan untuk keselamatan tranportasi sungai.

Malam ini kami dihidangkan nasi beserta lauk pauknya. Disini baru aku tahu bahwa “makanan aneh” yang kami makan di Miri adalah daun pakis muda. Ditumis hanya dengan bawang putih dan kecap, tapi rasanya ……mantap oiiii. Menurut ibu Sally pakis ini didapatnya dari pinggiran sungai atau sedikit masuk kedalam hutan. Di pasar, katanya bahkan dijual dengan sangat murah. Terakhir sebagai teman ngobrol malam ini : hmmm rice wine alias tuak . Untuk brewing, membutuhkan
paling tidak dua minggu hingga menghasilkan kualitas yang lumayan. Klo mau lebih keras yah simpan aja sampai bertahun-tahun. Rasanya seperti alkohol dari tape ketan yang biasanya dijual di Magelang itu. Mungkin kalah keras dari tape malah. Jadi ngga ngefek sama sekali.

Sebelumnya aku sempat ditanya beberapa laki2 yang kebetulan sliweran. Agak susah juga berkomunikasi dengan bahasa Melayu, walau beberapa masih bisa dipahami. Lama-lama ngomongnya ngelantur ngga karuan. Barulah aku sadar ketika tercium bau alkohol dari mulutnya. Wah pantesan ini orang2 pada mabuk tuak. Untung aku bisa kabur.

Keesokan harinya kami meninggalkan rumah panjang menuju Nanga Medamit. Sungai Mentawai yang kami lalui ini sudah termasuk hilir dan lumayan lebar. Dari hujan deras kemaren permukaan air masih saja tinggi. Tidak terlalu bergelombang bahkan sangat tenang. Sejam kami lewati sungai legendaris ini dengan kesan yang dalam tentang kampung suku Iban. Hingga tampaklah asap mengepul dari bahan bakar diesel alat2 berat logging. Oooo jadi ini toh logging. Walau yang ini legal.
Sebuah perahu geret yang besar hampir penuh sedang alat berat lainnya untuk memindahkan kayu2 gelondongan dengan cengkeramannya yang kuat.

Nanga Medamit ini lebih tepatnya seperti mini kota. Karena kegiatan logging rame disini, maka muncul pasar yang merupakan arena pertemuan orang Dayaks dan pedagang kota. Ngga heran saya nemu penjual semen ataupun bahan berat lainnya disini. Dan semuanya diangkut dengan perahu !!! Dari sinilah kembali akses lewat jalan. Jalanan trans limbang ini baru dibuka dan setengah beraspal. Jadi kebayang nikmatnya. Lagipula ini hari terakhir, dan timbul rasa asing ketika kembali ke peradaban.

Day six (Thur 26/05/05 Miri-Lambir Hills National Park)

Hitchiker Guide To The Jungle
Lambir Hills ini hanya sebagai hiburan setelah capek trekking selama 5 hari di Gunung Mulu. Setiba kembali di Miri dari penerbangan pendek 40 menit dari Limbang kami dipesankan hotel oleh guide kami Richard. Hotel Miri terletak ngga jauh dari tempat nginap kami di malam pertama. Taripnya RM65 dengan fasilitas yang lumayan. Maksudnya ada air panas, TV nyala dan dekat laundry. Maklum baju2 kami bau hutan plus beberapa basah karena kehujanan. Repotnya laundry diitung dalam
kg, jadi kebayang baju basah bisa dua kali berat kering. It cost nearly RM40. Hahh !!!

Secara kebetulan kami ditawari mampir ke penginapan backpacker oleh pilot MAS kewarganegaraan New Zealand. Si Kiwi ini mempromosikan lounge backpackernya The Highlander yang ternyata oke banget. Ada komputer untuk download gambar, internet, laundry kapasitas besar (duh telat taunya !). Sayangnya pas disana semua akomodasi penuh. Jadilah kami ngobrol dengan sesama backpacker di warung minumnya tepat dibawah hostel. Dari tips melawan pacet hingga tempat2 menarik lainnya. Ia juga menawarkan “paket stag mad”. Gambarannya begini: kalian yang cowok kudu dandan ala Dayak Kelabit (hmmm telanjang dada cuma pake celana pendek dengan hiasan kepala), trus arung jeram di sungai Mendalam dengan rakit bamboo sampai pos Park Ranger. Edan, lucu tapi juga seru !

Lambir Hills ditempuh sekitar 45 menit dari Miri. Setelah bertanya ke Tourist Information Centre kami dirujuk bis arah Bintulu. Ngendon di bus stop seorang laki2 tua berambut putih bersama seorang anak muda enerjik datang menghampiri. Menawarkan mengantar ke Lambir dengan RM25 one way. Oke kami segera naik 4wheel drivenya menuju Lambir.

Ada beberapa trek menarik, tapi saat kami kesana hampir separuh Taman Negara ditutup untuk maintanance. Dalam ati aku ngucap syukur juga. Soalnya kaki masih pegel buanget dan efek salonpas ternyata butuh lebih lama. Untungnya kami banyak menemukan object photo menarik terutama satwa. Walaupun hutannya ngga serapat seperti pedalaman Serawak tapi banyak menyimpan keunikan. Jamur merah ini misalnya kami temukan banyak sekali, sedang cicadas di pohon (yang seperti jangkrik ini) sebenarnya adalah kulit yang ditinggal ketika ia merambat dari
tanah dan berubah dewasa.

Untuk balik ke Miri, nah ini yang jadi problem. Soalnya bis jarang banget. Adanya juga jam2 tertentu. Dari jadual tertera, bis akan lewat sekitar 430 sore. Yang agak menguntungkan adalah letak Lambir Park ini di pinggiran jalan Miri-Bintulu. Jadi ngga jauh2 amat. Tak tahan dengan penantian membuat aku bersiasat. Hmmm gimana ya klo hitchiker aja…. Soalnya mobil2 yang lewat ini paling juga berpenumpang 1-2 orang.

Oke langsung pasang badan. Jangan lupa acung thumb keatas. Dan smile yang muanissssss. Wuuusssss….sebuah truk lewat cuma ngedim tanpa mengurangi kecepatan. Wowwww buangs***. Awas lo ya… Beberapa mobil menyalakan klakson, sedang beberapa penumpang menengok sambil senyum. Seorang sopir bis berisi para pekerja ladang sawit dengan gentle melambai tangan. Aduhhhh uncle..please….please….please.

Tak lama sebuah mobil Wira warna merah tua berhenti. Wawww berhasil juga neh. Aku duduk manis dibelakang sembari memangku trimmer ( itu loh buwat motong rumput). Sang pengemudi seorang devotee chatolic yang banyak memberikan cerita latar belakang agama2 di Serawak. Ia harus pulang balik seminggu dua kali ke Bintulu untuk bekerja. Jangan dikira mobilnya bersih dan mulus. Yang ini malah penuh serpihan rumput dan bensin untuk bahan bakar trimmer. Yang penting kan nyampe
juga….

Tagged as: , , , , , , ,

ambar is
Email this author | All posts by ambar

Bookmark and Share

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

Home | About Us | Disclaimer | Credits & Contributor | Join a Contributor | Our Contributor |
Komunitas Backpacker Indonesia | Indobackpacker.com | Travel Photography | Mailinglist Archive | Mailinglist Forum

Copyright ©2004-2009 Indonesia Backpacker Community All rights reserved. All articles and Images may not be reproduced in any form without the express written permission of the copyright holder | All Information contained on this site may not be used for commercial purposes,
for more information please Contact
admin At indobackpacker.com | Powered by the WordPress

Creative Commons License
Except where otherwise noted content on this site is licensed under a
Creative Commons Licence.