Camel safari di Jaisalmer

Custom Search

By Aity Meivers • Nov 22nd, 2005 • Category: Petualangan
Bookmark and Share

Cobaan pertama saya adalah: naik ke atas unta. Karena
untanya tinggi dan sadelnya tidak berpedal, jadi saya harus agak-agak
mengerahkan tenaga untuk naik ke punggungnya. Setelah itu, untanya berdiri…
waduh… rasanya jantung saya mau copot. Tinggi juga yah ternyata, dan setelah itu
untanya jalan sendiri. Walah, jelas saya panik, mau dibawa kemana nih saya sama
si unta?

Perjalanan saya di Rajashtan membawa saya ke Jaisalmer, kota terdekat dengan Great Thar Dessert yang berbatasan langsung dengan Pakistan. Kenapa Jaisalmer? Saya dengar kota ini masih dikelilingi benteng seperti jaman dahulu dan seluruh bangunannya dibuat dari batu. Dan yang ingin saya lakukan, tentu saja camel safari. Naik kuda sih sudah pernah, walaupun hanya kuda poni. Tapi naik unta? Seumur-umur saya cuma pernah lihat unta di kebun binatang.

Setelah 12 jam lebih di kereta dari Agra menuju Jaisalmer, saya mulai melihat-lihat keluar jendela. Mana ya kotanya? Kok, yang kelihatan hanya hamparan stepa yang luas? Saya sempat kecewa karena sampai di stasiun keretapun tidak terlihat benteng yang saya ingin lihat. Namun pada saat saya menggunakan mobil untuk mencapai hostel tujuan saya, kekecewaan saya terobati sudah. Di kejauhan, dari hamparan stepa tersebut muncullah sebuah bangunan besar berwarna pasir, persis seperti dongeng seribu satu malam. Seluruh bangunan di sekitar benteng inipun dibangun dengan batu yang berwarna pasir. Bahkan tempat tidur di hostel yang saya tempati juga terbuat dari batu! Unik bukan? Saat saya mulai menjelajahi isi benteng Jaisalmer, isinya banyak terdapat bangunan-bangunan kecil yang digunakan sebagai toko dan tempat tinggal.

Jalan-jalannya sempit, sehingga seringkali saya memilih jalan memutar jika bertemu dengan sapi suci yang sedang memamah ditengah jalan. Karena saya agak-agak khawatir ditanduk atau ditendang sama sapinya. Toko-toko kecilnya banyak menjual barang kerajinan, terutama tekstil warna warni cerah dihiasi dengan sulaman dan kaca-kaca kecil. Saya sempat mencoba membuat tato dari henna
yang bagus sekali hasilnya. Puas deh pokoknya, mana murah pula.
Setelah itu, mulailah saya berburu tempat untuk booking camel safari. Banyak sekali yang menawarkan paket perjalanan seperti ini, dengan berbagai macam harga. Yang termurah saya dapatkan sekitar 150 Rupee atau 15ribu rupiah sehari. Itu sudah termasuk makan 3 kali sehari dan air minum.


Tapi saya sempat agak ragu, kok bisa ya semurah itu? Akhirnya saya memilih yang agak mahal sedikit, tapi rutenya dijamin gak barengan dengan safari group yang lain.
Keesokan harinya saya dijemput dengan jeep, yang sudah berisikan beberapa peserta safari yang lain. Grup kita terdiri dari sembilan orang, ditambah 4 orang guide. Jeep tersebut membawa kami ke tepi Great Thar Dessert. Disana unta-unta sudah menunggu dan saya mendapatkan unta yang lebih besar jika dibandingkan dengan yang lain. Setelah ransel-ransel diikatkan ke unta masing-masing, mulailah perjalanan 3 hari tersebut.

Cobaan pertama saya adalah: naik ke atas unta. Karena untanya tinggi dan sadelnya tidak berpedal, jadi saya harus agak-agak mengerahkan tenaga untuk naik ke punggungnya. Setelah itu, untanya berdiri… waduh… rasanya jantung saya mau copot. Tinggi juga yah ternyata, dan setelah itu untanya jalan sendiri. Walah, jelas saya panik, mau dibawa kemana nih saya sama si unta? Ya saya tanya dong ke guidenya, gimana nih… mereka enak aja bilang “sama kok kayak mengendalikan kuda…” Yeee.. masalahnya, saya kan nggak pernah mengendalikan kuda sendiri!! Akhirnya setelah unta itu dengan sukses membawa saya ke tengah jalan raya, ada juga yang membantu saya membawa unta tersebut ke jalurnya yang benar. Padang pasir yang akan kami jalani terlihat panas, tetapi ternyata anginnya dingin sekali. Walaupun matahari terik, saya tetap memakai pullover. Suasana disana sepi sekali, dan memang seperti janji travel agentnya, memang tidak ada group lain yang kami temui. Singkat kata, saya belajar berderap dengan unta, sampai setelah beberapa jam mulai terasa kaki saya pegal dan agak kram. Wah, saya sempat ragu, gimana 3 hari nih di atas unta?

Kami sempat mengunjungi beberapa desa di tengah padang pasir tersebut, menyaksikan sendiri
kehidupan mereka yang keras. Terus terang yang paling berkesan buat saya adalah tidur di atas hamparan pasir dengan selimut berlapis-lapis di bawah taburan bintang-bintang.


Rasanya gimanaaaa gitu… Tidak ada lampu di sekeliling di malam hari, hanya ada nyala api dari api unggun. Yang terdengar hanya suara lonceng si unta yang mencari makan.
Beberapa kali saya berhasil melihat bintang jatuh hanya dalam semalam! Oya, masalah akomodasi, jangan harap pake hostel ya. Seperti yang saya sebutkan tadi, tidurnya hanya beralaskan selimut, lalu masalah
mandi… ya nggak mandi. Soal cuci piring, mereka cucinya pake pasir.


Bersih juga kok! Lalu masalah penting lainnya yang butuh toilet? Ya, di belakang kaktus saja hehehe… Pokoknya setelah 3 hari bersafari bersama para unta, saya juga berbau mirip-mirip unta
lah! Pengalaman lainnya yang buat saya berkesan adalah: bagaimana mengendalikan unta yang sedang full (maaf) birahi. Sengaja memang unta yang dipakai dalam safari ini semuanya jantan. Sayangnya,
ternyata di tengah jalan kami harus bertemu dengan sekumpulan unta betina liar. Walhasil unta-unta kami yang kebetulan pada usia pubertas, kalang kabut.


Lidahnya menjulur keluar, menggembung seperti balon dan mulutnya mengeluarkan buih-buih putih, sampai saya sempat berpikir apa unta saya kena rabies ya? Hahaha… Sulit ternyata mengendalikan unta tersebut. Saya sempat terjatuh dari atas unta saya, tepat di atas sebuah belukar yang memiliki bunga kecil-kecil tajam. Sampai beberapa bulan perjalanan saya yang berikutnya, saya masih saja
menemukan bunga tajam tersebut menusuk saya walaupun jaket yang saya kenakan telah saya bersihkan sebisa mungkin.

Setelah 3 hari berkeliling padang pasir dan mengenal semakin dekat dengan unta saya, safari harus berakhir. Namun terus terang, saya senang sekali ketika saya melihat kembali kamar hostel saya dan tentu saja, mandi dengan air hangat, serta tidur di atas kasur yang empuk.

Sekedar info buat yang mau mencoba camel safari di India, kalau tidak mau ke Jaisalmer, bisa juga di Bikaner. Tapi saya banyak mendengar keluhan dari traveler lain soal camel safari di Bikaner. Jadi, camel safari yang saya jalani,
bisa dicoba deh!


Oya, kalau mau lihat foto perjalanan saya yang lebih banyak, cek ke

http://yahoo.photos/smeivers

http://yahoo.photos/asukidjo

Tagged as: , ,

Aity Meivers is
Email this author | All posts by Aity Meivers

Bookmark and Share

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

Home | About Us | Disclaimer | Credits & Contributor | Join a Contributor | Our Contributor |
Komunitas Backpacker Indonesia | Indobackpacker.com | Travel Photography | Mailinglist Archive | Mailinglist Forum

Copyright ©2004-2009 Indonesia Backpacker Community All rights reserved. All articles and Images may not be reproduced in any form without the express written permission of the copyright holder | All Information contained on this site may not be used for commercial purposes,
for more information please Contact
admin At indobackpacker.com | Powered by the WordPress

Creative Commons License
Except where otherwise noted content on this site is licensed under a
Creative Commons Licence.