Chiang Mai Trek

Custom Search

By Erwin • Dec 25th, 2005 • Category: Trekking
Bookmark and Share

Iron, si bule Amrik yang terkesan paling Bengal diantara yang lainnya,
malam itu membuat satu permainan. Dikeluarkannya satu botol Vodka dari dalam saku celananya. Satu-persatu bergiliran diminta menyebut angka berurutan, setiap kelipatan tujuh, harus teriak “Bottle !”, kalau salah, hukumannya harus nenggak Vodka. Hmmm….daripada minum alkohol, rasanya saya lebih milih minum teh botol. Padahal, ditengah udara yang sangat dingin malam itu, minuman Bandrek atau Bajigur rasanya pasti lebih oke.

Celingak-celinguk saya mencari Peter, agen yang akan mengurus trekking di Chiang Mai. Saya tidak melihat ada tulisan nama saya diacung-acungkan diantara sekumpulan para penjemput penumpang yang baru turun dari kereta di stasiun Chiang Mai. Padahal sewaktu di stasiun Bangkok, saya sempat menghubungi Peter sebelum kereta berangkat, tapi pembicaraan harus
terputus karena kehabisan koin di telepon umum.

Perjalanan dengan kereta api dari Bangkok ke Chiang Mai bagi saya sangat menyenangkan. Walaupun kereta berjalan lamban dan selalu berhenti di setiap stasiun, tapi saya benar-benar bisa menikmati perjalanan santai ini dari atas kereta kelas ekonomi. Pemandangan sisa-sisa
reruntuhan candi selepas stasiun Ayuthaya, patung Budha raksasa yang sedang duduk bersila, persawahan dengan latar belakang tebing-tebing karst, dan matahari terbenam, semuanya kelihatan jelas dari jendela.

Berangkat siang sekitar pukul 14 waktu setempat, kereta tiba pukul 6 pagi keesokan harinya. Peter yang saya tunggu gak nongol juga. Terpaksa naik Tuk-tuk ke kantornya yang sekaligus dijadikan penginapan. Sambil menunggu guide yang sedang menjemput tamu ke masing-masing penginapannya, saya masih sempat mandi, packing ulang dan sarapan.

Boonlay, Guide yang ditunggu-tunggu, datang pukul 9 bersama sepuluh orang turis asal Amerika, Perancis, Belanda, dan Swis. Jadi, kali ini saya harus berkelompok dengan mereka. Dengan menumpang mobil pick-up, kami berangkat ke Taman Nasional Doi Inthanon. Sebelumnya kami sempat mampir di pasar tradisional untuk menambah keperluan pribadi,
sementara Boon belanja kebutuhan logistik untuk kami. Puncak Doi Inthanon merupakan puncak tertinggi di seluruh Thailand. Di atas ketinggian 2,656 mdpl terdapat sepasang Stupa yang dibangun untuk menghormati Raja dan Ratu Thailand.

Setelah turun dari Puncak Stupa, perjalanan dilanjutkan dengan jalan kaki mulai dari perkampungan Suku Hmong (Meo). Saat itu warganya sedang berkumpul di depan rumah, sebagian tampak sedang memetik bunga. Pakaian sehari-hari mereka warna-warni, kaum laki-lakinya mengenakan celana panjang hitam model baggy. Suku Hmong berasal dari Yunan,
China dan menganut animisme.


Kami melewati ladang anggur milik penduduk, dan masuk ke dalam hutan sampai akhirnya berhenti di sebuah rumah panggung di tepian sungai berair jernih. Hanya dua orang dari kami yang berani berenang di sungai yang airnya sangat dingin itu. Saat hari sudah mulai gelap,
api unggun dinyalakan, masakan masih dimasak oleh Boon yang ternyata jago masak. Masakan Thailand umumnya mengandung babi, jadi sebelum berangkat saya telah tekankan kalau saya tidak makan yang satu itu. Untungnya Boon sudah mengerti hal ini, dan bule-bule lainnya juga bisa memaklumi.

Nikmat sekali masakan yang dibuat oleh Boon, dan sangat cocok dengan selera kami. Malam itu kami duduk mengelilingi api unggun sambil ngobrol-ngobrol tentang apa saja; sepak bola, film, bahasa, atau tentang negara masing-masing. Di antara mereka, hanya Greg, asal
perancis yang pernah ke Bali dan Lombok. Sementara yang lain ? mungkin takut kena bom !

Boon, guide kami yang berusia 29 tahun, pemuda yang kocak, suka bermeditasi. Selain jago masak, bahasa Inggris dan Perancisnya cukup bagus. Dia juga pintar mencairkan suasana. Malam itu kami semua,diajarkan nyanyi lagu Thailand layaknya anak-anak TK. Kelihatannya
bodoh, tapi semua benar-benar menikmati lagu tentang Gajah yang diajarkannya. Iron, si bule Amrik yang terkesan paling Bengal diantara yang lainnya, malam itu membuat satu permainan. Dikeluarkannya satu botol Vodka dari dalam saku celananya. Satu-persatu bergiliran diminta menyebut angka berurutan, setiap kelipatan tujuh, harus teriak “Bottle !”, kalau salah, hukumannya harus nenggak Vodka. Hmmm….daripada minum alkohol, rasanya saya lebih milih minum teh botol. Padahal, ditengah udara yang sangat dingin malam itu, minuman Bandrek atau Bajigur rasanya pasti lebih oke.

Malam itu kami semua meringkuk di dalam sleeping bag dan masih ditambah selimut tebal, tapi nyatanya masih belum mampu mengusir hawa dingin. Sampai pagi, semua tidak ada yang bisa tidur, hawanya sangat dingin.

Matahari belum juga muncul, satu per satu dari kami bangun dan langsung nangkring di dekat api unggun sisa semalam. Sambil menunggu sarapan siap dihidangkan, ada tontonan menarik dari beberapa ekor gajah yang muncul tiba-tiba. Bersama dua orang pawangnya, mereka siap dimandikan di sungai dekat tempat kami. Gajah-gajah ini juga yang nantinya akan kami tunggangi menyusuri hutan untuk rute selanjutnya.

Baru kali ini saya bisa menunggang gajah, dengan cara duduk tepat di atas kepalanya. Ada rasa ngeri saat gajah berhenti di pinggir jurang, apalagi kalau gajah itu ngamuk, sebabnya ia baru saja disengat segerombolan tawon. Duduk dengan kedua kaki dijepit diantara kuping
besarnya, seandainya sambil menggenggam pedang di tangan, mirip dengan penampilan pasukan perang Thailand jaman dulu. Hanya sempat menikmati naik gajah sekitar satu jam, perjalanan dilanjutkan dengan trekking ke perkampungan Suku Karen.

Suku Karen berasal dari Burma (Myanmar) dan memiliki jumlah populasi yang terbesar diantara suku-suku terasing yang tinggal di kawasan pegunungan Thailand Utara. Suku-suku di sini rata-rata telah mengubah kebiasaan mereka bercocok tanam opium dan beralih ke tanaman buah-buahan maupun bunga. Ini berkat usaha gencar pemerintah kerajaan melalui proyek-proyek untuk mensejahterakan kehidupannya.


Tiga jam melintasi jalan setapak di hutan, kami telah menginjak perkampungan Suku Karen. Kebanyakan dari mereka tampak sedang menenun kain. Yang menarik dari penampilan suku-suku pegunungan di sini, pakaian sehari-hari mereka berwarna-warni dan antar suku memiliki warna dan arti sendiri. Bagi wanita yang telah menikah, kostum hariannya berwarna biru tua. Sama halnya dengan suku-suku di manapun, setiap suku juga memiliki sub-suku.

Selama perjalanan, kami tidak pernah menjumpai kelompok trekking lainnya. Setiap Trek Agency memiliki rute masing-masing dan rata-rata memberangkatkan 5-10 orang perharinya. Rasanya sulit bagi independent trekker untuk melakukan perjalanan tanpa guide karena tidak adanya peta dan petunjuk rute yang jelas. Mengikuti Trek Agency menjadi pilihan yang tepat.

Kali ini kami menginap di rumah panggung lagi, di tengah-tengah perkampungan Suku Karen. Udara di sini tidak sedingin di kampung Suku Hmong sebelumnya, jadi kami bisa tidur nyenyak.

Hari ketiga. Meninggalkan kampung, menembus hutan menuju air terjun, dilanjutkan dengan menyusuri Sungai Mae Rim. Selama menyusuri sungai berarus deras ini, dari atas rakit bambu, saya menyaksikan beberapa Camp pelatihan gajah yang benar-benar dimanfaatkan untuk kepentingan turisme. Saya kebagian tugas mengendalikan rakit. Dengan sebatang bambu panjang, rakit saya kendalikan mengikuti kuatnya arus sungai supaya jangan sampai menabrak batu atau pohon yang melintang. ‘Bamboo rafting’ di sungai ini arusnya lebih kuat ketimbang yang pernah saya rasakan di Sungai Amandit Kalimantan Selatan.

Kembali ke Chiang Mai, acara trekking telah usai, dan saya harus mencari penginapan. Kawasan Night Bazaar menjadi incaran untuk tempat menginap. Keluar masuk beberapa guest house, sampai akhirnya ketemu satu yang lokasinya cukup strategis dan paling cocok harganya.

Chiang Rai – Mae Sai

Dengan angkutan bis, saya lanjutkan perjalanan ke Chiang Rai. Waktu tempuh antara Chiang Mai – Chiang Rai 3,5 jam. Terminal bus Chiang Mai selain melayani rute Bangkok, juga beberapa kota kecil di Thailand Utara lainnya. Pemberangkatan bis terjadual, pembelian tiket dilayani di loket-loket di dalam terminal. Dalam perjalanan, bis sempat berhenti di pos polisi setempat. Setiap kendaraan umum, terutama bis, wajib berhenti untuk pemeriksaan tanda pengenal seluruh penumpang.

Saya memegang selembar peta Chiang Rai, namun isinya hanya berupa titik lokasi nama-nama penginapan, sedangkan nama jalannya tidak dijelaskan secara detail. Keluar dari Terminal Bis Chiang Rai, mata saya langsung tertuju ke arah tulisan “Room for rent”. Daripada harus capek-capek cari penginapan lagi, lebih baik pilih yang satu ini. Tempat tidur besar dan Hot Shower hanya dengan 200 baht. Lagipula letaknya strategis, di seberang Night Market.


Ransel saya masukkan dalam kamar. Saya langsung kembali ke terminal dan naik bus ke Mae Sai. Mae Sai adalah kota kecil yang letaknya paling utara. Jarak tempuhnya hanya 2 jam. Selama perjalanan, 3 kali bis yang saya tumpangi harus berhenti untuk pemeriksaan tanda pengenal penumpang. Pemeriksaan kali ini dilakukan oleh polisi dan tentara. Mae Sai berbatasan dengan negara Myanmar, dihubungkan dengan sebuah jembatan bernama Thachileik. Dengan membayar 250 baht atau 5 dollar, Anda sudah dapat masuk negara Myanmar untuk jangka waktu seharian.

Tagged as: , , , , ,

Erwin is
Email this author | All posts by Erwin

Bookmark and Share

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

Home | About Us | Disclaimer | Credits & Contributor | Join a Contributor | Our Contributor |
Komunitas Backpacker Indonesia | Indobackpacker.com | Travel Photography | Mailinglist Archive | Mailinglist Forum

Copyright ©2004-2009 Indonesia Backpacker Community All rights reserved. All articles and Images may not be reproduced in any form without the express written permission of the copyright holder | All Information contained on this site may not be used for commercial purposes,
for more information please Contact
admin At indobackpacker.com | Powered by the WordPress

Creative Commons License
Except where otherwise noted content on this site is licensed under a
Creative Commons Licence.