Shahjahanabad: Sorga di Bumi
By Santoso • Dec 5th, 2005 • Category: Petualangan
Nama asli benteng ini
Qila-i-Mubarak. Sebutannya semasa Shahjahan Qila-i-Mualla. Karena
strukturnya berbahan dasar sandstone merah jadilah ia kondang dengan
Lal Qila, Benteng Merah. Diarsiteki Ustad Ahmad Lahori, Lal Qila
diselesaiakn dalam 9 tahun. Peletakan batu pertamanya, sesui petunjuk
juru nujum istana, dilakukan 29-April-1639. Sewaktu dibangun benteng
yang melapis pinggiran timur Shahjahanabd ini tepat berada di
2 hari pertama praktis kami hanya berkutat di seputar New Delhi. Padahal menurut target minimal mengantongi dua obyek. Memang beginilah irama jalan dengan mengajak anak. Kemampuan adaptasinya tidak secepat tubuh orang dewasa. Bagaimanapun titik terang (dengan didapatnya vias) ke Nepal perlu dicatat tersendiri. Artinya fokus kami bisa ke India tanpa terganggu perkembangan politik di kerajaan Himalaya itu. Kesempatan jalan yang sebenar artinya, yakni menambah pengetahuan dengan melihat sesuatu yang baru, tiba di hari ke-3. Jadualnya menggeser yang mestinya terealisasi di hari pertama yakni ke Shahjahanabad. Tepatnya ke jantung dan paru Delhi kuno: Benteng Merah dan Masjid Jama. Dalam bahasa Persi kata ‘abad’ setara dengan kata ‘pur’ dalam Hindi. Keduanya berarti kota. Dengan mencermati peta India-Pakistan akan kita temukan puluhan kota berakhiran abad atau pur.
Pagi itu tawar-menawar agak alot. Baru di bajaj ke-5 sopir sepakat dengan Rs40. Dari Qutb road bajaj mengambil jalan ke kanan. Antrian untuk masuk Netaji Subash Marg sudah memanjang zig-zag layaknya ekor barongsai. Meski selebar jalan arteri, Netaji malah macet total. Barang 20-an menit bajaj melata. Selewat sebuah bundaran, tembok kuno mulai menyapa dari arah kanan (sisi timur) jalan. Tepat di bundaran itulah terletak gerbang Delhi, satu dari 5 gerbang Shahjahanabd. 4 gerbang lain masing-masing dinamai Turkman, Ajmeri, Lahori, dan Moti.
Kami didrop di sudut tenggara sebuah perempatan, kira-kira sejauh 2,5km dari gerbang Delhi. Di barat perempatan berdiri 2 tempat ibadah megah kuil Gauri Shankar dan kuil Digambara. Yang pertama untuk pemeluk Hindu, yang kedua untuk penganut Jain. Cabang jalan perempatan ke arah timur berakhir di sebuah maidan, sebuah lapangan terbuka. Antara maidan dan tembok depan benteng terpisah oleh parit keliling. Di belakang tembok benteng, nun di ketinggian, mencuat 2 menara ciri khas arsitektur Mughal berupa ‘rumah monyet’ beratap kubah. Di antara ke-2 menara bendera India menyapu angkasa.
Nama asli benteng ini Qila-i-Mubarak. Sebutannya semasa Shahjahan Qila-i-Mualla. Karena strukturnya berbahan dasar sandstone merah jadilah ia kondang dengan Lal Qila, Benteng Merah. Diarsiteki Ustad Ahmad Lahori, Lal Qila diselesaiakn dalam 9 tahun. Peletakan batu pertamanya, sesui petunjuk juru nujum istana, dilakukan 29-April-1639. Sewaktu dibangun benteng yang melapis pinggiran timur Shahjahanabd ini tepat berada di bantaran barat sungai Yamuna. Air dari Yamuna lah yang menggenangi parit keliling. Kini aliran Yamuna telah bergeser 1km ke timur dan parit keliling pun kerontang. Bangun Lal Qila mendekati persegi dengan panjang tembok keliling lebih dari 2km. Bangun persegi itu bisa dibelah utara-selatan oleh sumbu simetri imajiner. Bila sumbu diperpanjang akan menyambung dengan perempatan di depan benteng. Monumen bersejarah di dalam benteng ada di kiri-kanan sumbu simetri. Dalam gambar denahnya serupa huruf T dengan kaki ada di ujung barat dan kepala di ujung timur.
Satu-satunya akses ke Lal Qila adalah dari gerbang Lahore. Nama gerbang ini sama dengan gerbang Shahjahanabad karena keduanya menghadap ke Lahore di Pakistan. Di sini ada pemeriksaan ketat. Semua ransel pengunjung harus dibuka di depan penjaga. Di atas tembok gerbang ada semacam podium tempat para pemimpin India (sejak era Jawaharlal Nehru) menyampaikan orasi setiap peringatan kemerdekaan 15-Agustus. Podium menghadap ke maidan tempat massa berkerumun.
Dari gerbang Lahore pengunjung akan disambut gerbang lebih kecil. Gerbang kecil ini, untuk mudahnya, berimpit dengan kaki huruf T. Di belakangnya memanjang sebuah koridor dengan deret kios-kios souvenir di kanan-kirinya. Blok yang sekilas mirip Kapali Karsi, mall era kekhalifahan Osmanli di Istanbul, ini dinamakan Chata Chowk. Menurut sebuah panduan, fungsinya semula untuk memasarkan emas, permata, sutra yang digemari keluarga raja. Sedang kata pictorial book produk lokal, hanya pasar biasa untuk para saudagar-pengelana.
Selewat Chata Chowk ke arah timur, makin ke arah dalam, nampak Naqqar Khana, bangunan berlantai dua tempat musisi istana unjuk kebolehan secara rutin di depan kaisar. Naqqar Khana itu ‘kulit terluar’ dari kompleks istana. Di sini ada pemeriksaan tiket. Besar kemungkinan lantaran lantai duanya kini digunakan untuk museum perang.
Diwan-i-Am, atau aula audiensi publik, kira-kira berjarak 150m dari Naqqar Khana. Keduanya terhubung oleh jalan yang diapit taman hijau nan asri dan berpagar besi setinggi dada. Elemen Diwan-i-Am, mulai dari lantai, pilar, hingga langit-langit yang berukir seluruhnya dari sandstone merah. Di sinilah pada 18-April-1648 dilakukan inagurasi Shahjahanabad. Pestanya sendiri, sesuai titah kaisar, berlangsung 10 hari.
Di pusat aula ada canopy dari marmer tempat duduk kaisar selama audensi. Dasar lantainya hampir setinggi orang dewasa. Sementara tempat untuk sang wazir ada di platform marmer yang menempel di kaki canopy. Setiap audensi kaisar mendengarkan petisi dan perkara yang telah putus langsung dieksekusi. Saya bayangkan, kira-kira tak beda dengan suasana jejer pada pembuka pentas wayang orang. Aula ini teduh dan menyediakan ‘tempat duduk’ yang nyaman.
Inti istana berada di ujung timur. Inilah bagian kepala huruf T, letaknya 100-an meter di belakang Diwan-i-Am. Dari selatan ke utara berturut-turut Mumtaz Mahal, Rang Mahal, Khas Mahal, Diwan-i-Khas, pemandian, Shahi Burj, dan masjid Moti; semuanya berbahan pualam putih. Mumtaz Mahal (Persia: mahal=istana) berganti peran menjadi museum arkeologi. Rang Mahal, atau istana warna-warni, dulunya tempat tinggal permaisuri dan tempat kaisar bersantap. Shahi Burj untuk menggelar pembicaraan rahasia kaisar dengan para menterinya. Karena bangunan termuda Masjid Moti, yang dibangun 1622 semasa Aurangzeb, letaknya menyempal dan tidak segaris. Selaku istana pribadi Khas Mahal lebih mirip bungker. Yang termewah dari semua bangunan adalah Diwan-i-Khas, aula audensi pribadi.
Seluruh dinding dan pilar Diwan-i-Khas diperindah batu permata. Semasa kejayaan Mughal di pusatnya ada singgasana merak, kursi khusus dari emas murni berlapis saphire, rubi, berlian, mutiara dengan figur merak di sandarannya. Di atas singgasana yang ditaksir berharga £12.037.500, berbalut busana kebesaran resmi sementara di kepala kaisar bertengger mahkota bersematkan intan koh-i-nur, dipuji sebagai puncak gemerlap tiada tara. Bukan hanya di India tapi juga seantero jagad raya. Tak aneh jika di salah satu dinding Diwan-i-Khas tertulis ungkapan kebanggaan dalam Persia: ‘Agar firdaus bar ru-yi zamin ast; Hamin ast, u hamin ast, u hamin ast’ (jika ada sebuah surga di atas bumi, ya seperti ini). Setelah dinasti Mughal surut, singgasana merak dan koh-i-nur dirampas Nadir Shah ke Persia 1739. Kini singgasana itu masih bisa dilihat di Teheran, sementara koh-i-nur hinggap di kepala ratu Elizabeth II. Berat koh-i-nur di mahkota Britaria tinggal 108,93 karat. Bandingan dengan semasa Shah Jahan yang sekitar 756 karat!
Bagian inti istana hanya bisa diintip dari luar. Di tiap bangunan dipasang pembatas dan tulisan ‘do not enter’. Paling jauh pengunjung hanya bisa naik ke platform marmer di antara Khas Mahal dan Diwan-i-Khas. Dari sini ke arah timur bisa disaksikan keriuhan lalu lintas Old Delhi. Di platform itu pun pengunjung tak mungkin berlama-lama. Panas demikian terik dan luas peneduh tak seberapa. Setelah kepala melongok ke sana-sini, mulut berdecak takjub akan tajirnya dinasti Mughal, jamaknya memilih menyingkir di rerumputan di bawah rindangnya pohonan. Kami pun lesehan di depan Rang Mahal, rehat, santai sekalian bergantian menyuapi anak. Waktu makan siangnya telah lewat lebih dari 1 jam. Di tengah Delhi yang kumuh dan dekil taman-taman di situs itu bagaikan oasis. Sangat lumrah bia harta karun yang tak kunjung tandas itu rapi, terawat dan terurus.
Kami sampai di masjid Jama setelah melintas pasar yang sumpek. 2km Lal Qila – masjid Jama kami lalui jalan kaki. Naik dari tangga utara, di gerbang kami langsung ditodong, “Rs300 for 2 cameras” Saya kontan reaktif, “No just 1 camera.” Saya sesali mengapa kamera masih bergayut di leher. Bukan kami ingin gratisan. Senyatanya, tiket itu mahal dan cetakannya tak meyakinkan!
Masjid yang konstruksinya dimulai 1644 ini punya 3 gerbang. Antar gerbang terhubung dinding tebal yang sekaligus membatasi kompleks berdaya tampung 25.000 jemaah. Dinding itu berupa beranda memanjang tempat orang-orang bisa santai, ngobrol bahkan tiduran. Gerbang utama di sisi timur hanya dibuka pada sholat Jum’at dan hari besar keagamaan. Kendati warnanya memudar, statusnya sebagai masjid terbesar di India bergeming. Sekitar 30menit kemi merintang waktu di beranda selatan. Sore itu mentari telah merangkak ke barat, tiket kamera ternyata sia-sia! Selagi hendak turun tangga seseorang menjulurkan tangan, merengek uang titipan sepatu. Apa bukti ia benar-benar menjaga sepatu-sepatu yang berserak tak teratur di depan gerbang? Kami tak peduli, kami tak mau rugi dua kali.
Delhi, 2-April-2005
Sangatta, 13-Agustus-2005



