Bersepeda Keliling Amsterdam
By admin • Jan 12th, 2006 • Category: Wisata
Rasanya, kakiku tidak pernah ingin berhenti untuk menyusuri jalan-jalan
kecil. Di mana-mana ada sepeda tua yang diparkir. Ada sepeda yang hanya
dikunci di pagar besi jembatan, di mulut gang atau di dekat halte bus.
Yang unik, kunci-kunci sepeda itu sering berupa rantai sebesar lengan
anak kecil. Banyak sepeda tua dan kotor. Bisa jadi, kalau sepeda itu
masih baru,
Hari ini awal musim panas 1998. Saat inilah untuk pertama kalinya aku menginjakkan kaki di negeri Belanda. Negeri ini dulu hanya kudengar sayup-sayup dari orang-orang tua di kampungku di Jawa. Bahkan ketika guru sejarahku di sekolah dasar menerangkan zaman kolonial, kami murid-muridnya mendengarkan dengan agak terkantuk-kantuk. Namun guruku saat itu tidak kurang akal, lalu disisipkan cerita ringan tentang keindahan bunga tulip dan kincir angin.
Terbukti siasat guruku itu berhasil ketika kami mulai tertarik dan bergairah mendengarkan penjelasannya.
Belanda, sebuah negara kecil yang pernah kerasan menjajah hingga 350 tahun serta menguras kekayaan ibu pertiwi itu, kini sedang aku datangi. Aku tak mampu menagih balik hasil jajahan dari ratu Wilhelmina.
Berbeda dengan saat mereka datang untuk menguras kekayaan, saat ini, aku datang ke negeri Belanda hanya jalan-jalan dan mengamati kehidupan bangsa ini secara sepintas.
Aku datang ke negeri belanda dengan istriku. Kami menginap di sebuah hotel murah di tengah kota Amsterdam. Di sebelah kamarku ada kamar yang berisi seorang cewek sendirian di antara banyak cowok. Kami sempat melihat mereka sepintas. Hotel ini ternyata untuk kaum muda yang sedang menghabiskan liburan awal musim panas. Tradisi cewek dan cowok tidur dalam satu kamar, di negeri barat bukanlah sebuah hal yang tabu.
Semata-mata karena mereka ingin mendapatkan biaya kamar yang lebih ringan. Selain itu mereka bisa mengobrol bersama.
Pada saat sarapan pagi di kafetaria hotel, aku melihat sebuah tulisan terpampang: Dilarang membawa makanan untuk keperluan piknik. Tulisan itu menandakan, betapa anak-anak muda maunya irit. Kadang sambil makan pagi, mereka juga membungkus beberapa roti atau buah untuk dimakan di perjalanan. Cewek yang tinggal di kamar sebelah kamarku kulihat juga sedang sarapan bersama kawan-kawannya. Tiap orang yang berada di kafetaria ini berbicara dengan bahasanya sendiri-sendiri, sehingga mirip dengung tawon madu yang akan berpindah rumah. Bisa ditebak, betapa bising dan ramai hotel itu?
Pagi itu kami jalan kaki keluar hotel. Di gang kecil sudah kulihat deretan bangunan tingkat yang kuno. Di jendela paling atas, kulihat gantungan besi bundar mirip timba disertai tali panjang ke bawah. Persis seperti orang desa akan menimba air dari sumur.
Ternyata tali dan alat seperti timba itu untuk menaikkan barang-barang yang dibutuhkan penghuni di kamar paling atas. Entah barang belanja atau yang lain. Pokoknya jendela itulah pintu masuknya barang-barang. Juga termasuk untuk penghuni di lantai bawahnya, karena itu jendela-jendela di bangunan dibuat sedemikian rupa, lurus dari bawah ke atas.
"O…berarti rumah kuno menjulang tinggi itu tidak punya lift," pikirku. Barangkali bangunan kuno itu didirikan sebelum lift ditemukan manusia.
Rasanya, kakiku tidak pernah ingin berhenti untuk menyusuri jalan-jalan kecil. Di mana-mana ada sepeda tua yang diparkir. Ada sepeda yang hanya dikunci di pagar besi jembatan, di mulut gang atau di dekat halte bus. Yang unik, kunci-kunci sepeda itu sering berupa rantai sebesar lengan anak kecil. Banyak sepeda tua dan kotor. Bisa jadi, kalau sepeda itu masih baru, cepat hilang dicuri. Sebab kuamati ada beberapa sepeda masih baru diparkir dan dikunci, namun kedua rodanya atau sadelnya sudah hilang. Cuma tersisa kerangka sepeda yang mirip belalang mengantuk.
Sepeda adalah benda yang tidak bisa dipisahkan dari kota Amsterdam. Bahkan banyak orang bilang, sepeda adalah raja jalanan di Amsterdam.
Dengan cepat ingatanku berpulang ke jalan-jalan raya di Klaten, Kebumen dan Muntilan yang masih banyak orang naik sepeda. Bahkan di tiap pasar sering ada tempat penitipan sepeda yang sampai terakhir aku sempat pulang ke Indonesia tetap berjaya.
Di pinggir jalan, aku terbelalak melihat tulisan; Restoran Suka Sari, Restoran Sarang Mas, Restoran Selecta, Restoran Java, Restoran Bali. Wah, banyak restoran Indonesia, pikirku, sehingga mungkin aku harus mencobanya kelak. Lalu di stasiun kereta api Amsterdam ada plang bertuliskan: Spoor. Aku mulai bisa menerka. Pasti ini yang menyebabkan orang Jawa menamai sepur untuk menyebut kereta api. Bahkan ada gedung
bertuliskan: Pos Kantoor. Berdecak hati ini sambil memikirkan siapa gerangan yang membalik nama kantor pos di tempat kita dan di Belanda menjadi post kantoor? Rasanya tak mungkin Belanda yang mengimpor kata itu. Kemungkinan besar kita yang dapat istilah kantor pos itu dari Belanda. Lalu mengapa harus dibalik susunannya? Ah, itu pekerjaan ahli bahasa. Aku lebih tertarik menyusuri lorong kecil di kota pelabuhan itu.
Di jalan, pertokoan, sering aku bertatapan dengan wajah Asia. Setelah dekat, dan pasang telinga. Benar mereka berbahasa Indonesia. Lalu percakapan segera terjembatani. Mereka ramah dan bersahaja. Tak pernah aku di kota-kota besar lain di Eropa bertemu orang Indonesia sebanyak di Amsterdam ini.
Bersepeda
Di sudut-sudut jalan ada banyak sepeda berwarna kuning diparkir berderet. Makin dekat, aku makin tahu kalau itu kantor wisata yang menawarkan program keliling Amsterdam dengan bersepeda. Rasanya program ini akan memikat. Apalagi langit menyorot tiada henti, sebuah petunjuk tak akan ada gangguan cuaca. Lalu dengan segera kami mendaftar untuk mencoba program ini.
Seorang gadis Belanda muncul menghitung para peserta.
Aku taksir pesertanya sekitar 12 orang. Lalu para peserta mulai sibuk mencoba sepeda. Ada yang sedang mengatur tinggi rendah sadel. Ada yang memijat-mijat ban depan dan belakang. Dan gadis belanda yang tadi menghitung peserta, ternyata berperan sebagai pemandunya. Dia berkaus kuning sama dengan warna sepeda. Rombongan kecil mulai bergerak maju. Membelah jalan ramai dan menerobos gang-gang kecil. Pemandu yang lancar berbahasa Inggris itu sering mengacungkan tangannya ke depan, pertanda rombongan ini akan membelah jalan.
Kemudian rombongan bersepeda ini berhenti di tepi sungai dan masuk ke sebuah kapal. Kapal mengapung dan mendaratkan kami di ujung ruas sungai yang lain.
Perjalanan kami lanjutkan dengan merayapi jalan kecil berbatu. Pemandu berada di paling depan sementara aku dan istriku di deretan paling belakang. Rasanya tak rela mataku mengedip sekejap saja karena di sekitarku menghampar pemandangan unik rumah orang-orang Belanda beserta tamannya yang rapi di sepanjang jalan. Kadang aku dan istriku tertinggal rombongan, terutama kalau jalannya menikung sehingga kami sering kehilangan jejak. Syukurlah di saat-saat seperti itu, pemandu datang dan memberi tahu agar kami berdua lebih cepat menggenjot sepeda sehingga bisa selalu bersama rombongan. Lalu tibalah kami di sebuah jembatan dari kayu. Semua peserta berhenti dan berkumpul. Kami melihat jembatan yang bagian tengahnya terbelah dua itu terangkat sendiri ke atas. Dan dari arah lain terlihat ada kapal bertubuh jangkung akan lewat. Baru aku sadar, kalau memang jembatan itu bisa membuka dan menutup. Setelah jembatan merapat kembali, kami menyeberang.
Kebanyakan peserta rombongan adalah anak muda.
Sebagian dari mereka sudah saling mengenal satu dengan yang lain. Mungkin mereka kawan lama atau berasal dari satu negara. Seorang anak muda berkaca mata minus, tiba-tiba akan menyalipku. Aku dibuat sedikit kaget, dan sepedaku agak oleng ke kiri. Pasalnya, posisi sepedanya sangat dekat dengan posisi sepedaku. Anak muda itu tak tahunya menyodorkan tape rekaman ke arahku dan bertanya, “Where are you from?“ “Indonesia, and you?“ “America.“ “What are you doing here?“ “Holiday.“
Percakapan sambil naik sepeda itu singkat-singkat saja. Ya, karena konsentrasi tidak penuh. Mana yang harus melihat jalan, mana yang harus menikmati pemandangan, ditambah lagi harus berbicara. Akan tetapi pemuda ini makin nekad dan mengharapkan aku menjawab agak panjang. Sialan batinku, tidak fair ini, dia tanya pendek-pendek minta dijawab yang panjang.
Akhirnya aku sanggupi, demi menyenangkan dia.
Bahkan pada saat kami tiba di sebuah jalan yang lurus dan sempit sementara di sebelah kiri ada sungai dan sebelah kanan terdapat tanaman kehijauan yang luas, anak muda asal Amerika ini pun masih berusaha mengajakku bercakap-cakap. Ia menaiki sepeda dan berusaha berdampingan denganku, walaupun kadang lebih maju dan kadang lebih mundur dan tangan kirinya berusaha terus menyodorkan tape rekaman ke arahku lagi, sementara tangan kanannya memegang setang sepeda.
Beberapa menit berlalu, dia menyalip lagi dan berganti posisi di sebelah kiriku. Ketika kepala dia masih menatap ke arahku agak lama, tak terasa sepeda dia meluncur ke sungai. Kontan suara teriak berhamburan.
Para penggenjot sepeda berhenti mendadak dan mencoba turun ke sungai untuk menolong. Sungai berlumpur itu warnanya kuning keemasan. Pemandu di urutan paling depan juga terpaksa kembali ke tempat musibah. Pemuda Amerika itu tenggelam bersama sepedanya.
Sebentar-sebentar kepalanya muncul beserta sepeda. Dia tak hanya basah kuyup, melainkan bajunya yang putih juga berubah kecokelatan karena lumpur. Dan yang paling parah, kaca matanya hilang. Kawan-kawannya banyak yang cekikikan, sedang dia sendiri tak tampak sedih. Lalu dia berhasil merangkak ke atas jalan dan melanjutkan perjalanan lagi. Aku menjadi kasihan dengan dia. Tapi aku masih belum tahu, apa tujuannya mewawancarai tadi.
Kemudian di pertigaan jalan rombongan berhenti sebentar dan pemandu itu bercerita bahwa di Belanda tanahnya tiap tahun turun beberapa milimeter. Dia menunjuk pada sebuah plang warna putih bertuliskan deretan angka-angka. Dia menerangkan lagi, kalau kata Nederland berasal dari Neder artinya rendah dan Land artinya negeri. Sehingga Nederland itu kira-kira artinya adalah negeri yang datarannya rendah.
Kira-kira ada 25% daratan di seluruh negeri berada di bawah permukaan air laut. Bahkan di dekat kota Rotterdam, tanahnya 7 meter di bawah permukaan air laut. Oleh karena itu teknik pembangunan bendungan atau dam di negeri ini mempunyai sejarah yang sangat tua dan kwalitasnya sangat menonjol. Bisa kubayangkan kalau dam-dam itu jebol, penduduk Belanda yang sekitar
15 juta jiwa bisa tenggelam. Mungkin karena itu ada banyak nama kota di Belanda menggunakan nama berakhiran dengan kata dam, seperti; Amsterdam, Rotterdam, Volendam. Aku jadi teringat beberapa dam di desaku di Jawa. Ada sebuah dam bernama Dam Siti.
Diberi nama Dam Siti karena dulu ada pengantin yang baru saja melangsungkan pernikahan. Mempelai perempuannya bernama Siti. Suatu saat, ketika Siti sedang mandi di dam itu, ia tenggelam dan meninggal dunia.
Perjalanan berlanjut dengan memasuki wilayah perdesaan. Aku mengira daerah ini pasti berada di luar Amsterdam karena masih begitu alami. Pemandu yang bertubuh kurus dan murah senyum itu berhenti di sebuah rumah kuno yang di belakangnya berdiri sebuah kincir angin. Kincir angin itu besar dan sudah tua. Dia menerangkan bahwa kincir angin tersebut sudah ada sejak abad ke-13. Pada abad ke-17 jumlah kincir angin di Belanda telah mencapai 10.000 buah. Adapun fungsi kincir angin itu antara lain untuk membuang air agar daratan kering, serta untuk tenaga penggerak penggilingan tepung di zaman ketika belum ada tenaga listrik, uap maupun disel. Lebih jauh dia menerangkan bahwa di zaman perang, kincir angin juga bisa sebagai isyarat rahasia misalnya dengan mengarahkan baling-baling tersebut ke lokasi persembunyian musuh.
Masih menurut pemandu, Rembrant pelukis eksentrik ternama dari Belanda bertahun-tahun hidupnya mengurung diri di dalam gubuk kincir angin.
Sore semakin pudar. Sepeda-sepeda kembali lagi ke kantor asalnya. Kami segera berpisah dengan rombongan kecil itu. Dari dalam kantor terdengar suara, “Tunggu dulu.“ Semua kepala berpaling ke arah pemanggil. Tak tahunya pemandu itu keluar membawa kaus berwarna kuning lalu memberikan kaus itu ke pelancong Amerika yang bajunya masih tampak lengket karena air.
Multatuli Memandang Pelacur
Aku dan istriku berencana melihat museum Multatuli, penulis buku Max Havelaar yang terkenal itu. Max Havelaar bercerita tentang sistem tanam paksa yang menindas kaum bumiputra di daerah Lebak, Banten. Max Havelaar adalah karya besar yang diakui sebagai bagian dari karya sastra dunia. Hermann Hesse dalam bukunya
berjudul: Die Welt Bibliothek (Perpustakaan Dunia) memasukkan Max Havelaar dalam deret buku bacaan yang sangat dikaguminya. Bahkan Max Havelaar sekarang menjadi bacaan wajib di sekolah-sekolah di Belanda.
Aku berpikir tentulah generasi muda Belanda akan tercengang membaca sejarah leluhurnya dalam sebuah roman. Roman itu sendiri hanya ditulis oleh Multatuli dalam tempo sebulan pada tahun 1859 di sebuah losmen murah di Belgia. Setahun kemudian, tepatnya pada tahun 1860 roman itu terbit untuk pertama kalinya. Kemudian HB Jassin menerjemahkan Max Havelaar dari bahasa aslinya Belanda ke dalam bahasa Indonesia pada tahun 1972. Luar biasa. Dalam kurun waktu tiga bulan buku tersebut habis di pasaran. Tahun 1973 buku tersebut dicetak ulang. Sayang pembaca kita baru mendapatkan versi Indonesianya setelah buku itu berusia lebih dari satu abad, atau lebih tepatnya setelah Belanda pulang.
Bisa dibayangkan, seandainya buku itu dibaca secara luas di tanah air ketika Belanda masih menjajah, mungkin api revolusi bisa lebih cepat menyala. Berkat jasa Jassin-lah, karya penulis yang punya nama asli Eduard Douwes Dekker itu, bisa dibaca oleh lebih banyak orang, terutama orang Indonesia. Pada tahun
1973 Jassin mendapat penghargaan dari yayasan Prins Bernhard. Dia diundang untuk tinggal di Belanda selama satu tahun.
Peta Amsterdam sudah di tangan. Jalan-jalan tipis sudah disisir rapi. Tapi rumah Multatuli masih belum kami hampiri. Menjelang malam tiba, aku mencari rumah Multatuli di jalan Korjespoortsteeg. Sebenarnya aku lebih senang bertanya pada orang di jalan daripada membaca peta kota. Maklum, membaca peta bukan tradisi bangsaku. Kebetulan ada pemuda Belanda bersepeda lewat, lalu aku bertanya kepadanya di manakah letak rumah bernomor 20. Dengan ringan tangan dia angkat sepedanya. Kemudian sepeda itu dia hadapkan ke jalan yang semula aku lewati. Anak muda itu ramah, dan dengan cepat ia berhasil menemukan rumah yang aku cari. Ketika aku mengajukan pertanyaan seputar buku Max Havelaar, ia mengerutkan dahi dan menjawab, “Maaf, aku tidak berpendidikan tinggi. Aku tak banyak tahu tentang sejarah.“
Mendengar itu, lalu kuubah pertanyaanku menjadi seputar pendapatnya pribadi tentang kolonialisme yang dilakukan oleh Belanda. Dia lalu menjawab, “Ya, kami sebenarnya malu membaca sejarah masa lampau. Tapi mau bagaimana lagi…. Dulu zaman kolonial setiap anak muda diwajibkan menjadi tentara, dan harus bersedia dikirim ke Indonesia.“
Anak muda Belanda itu tampak tak tergesa-gesa. Di tengah kota besar, ternyata masih ada orang yang sabar. Aku berterima kasih padanya, lalu dia pergi.
Di depanku, berdirilah rumah bercat putih: rumah kelahiran Multatuli. Rumahnya dihimpit oleh gedung yang sejajar sama tinggi. Poster Multatuli menempel di jendela seperti menatap ke arah para pelacur di etalase kaca. Memasuki jalan itu pandangan dan langkahku dihadang oleh tiga atau empat pilar besi setinggi satu meter. Pilar-pilar itu berwarna merah dengan bentuk menyerupai lingga. Sebelum aku bertemu pemuda Belanda, dan menemukan rumah Multatuli, sebenarnya wajahku sudah menatap etalase jendela yang di dalamnya berisi tubuh-tubuh berdandan menor bak boneka hidup dengan pose berdiri atau duduk. Di depan etalase itu ada seseorang yang menenteng telepon genggam. Wajahnya tumpah ke jalan pada orang-orang yang lewat. Tapi angannya terbang ke orang lain yang ia ajak bicara.
Aku kembali menatap poster itu. Di poster itu tertera jam buka museum:
Selasa, pukul: 10.00 – 17.00.
Sabtu dan Minggu, pukul: 12.00-17.00.
Alamat: Korsjespoorsteeg 20. 1015 AR Amsterdam.
Telp: 020-6381938. E-mail: multatulimuseum@zonnet.nl
Sekarang ini di deretan rumah tempat lahirnya seorang pujangga pemberontak sebesar Multatuli telah dihuni banyak pelacur. Mungkin ruas jalan itu masih merupakan perluasan kompleks Red Light. Tapi aku masih tetap merasa beruntung sebab rumah kelahiran Multatuli masih diabadikan. Paling tidak masih ada sebuah situs untuk mengenangnya. Sebab mungkin ada banyak rumah kelahiran sastrawan besar lain sudah tak dikenali lagi.
Seandainya rumah mereka masih ada, itu pun sekadar rumah bekas hunian mereka. Tidak ada arsip atau kegiatan apapun yang diabadikan di dalam rumah hunian mereka. Misalnya Gottfried Keller, sastrawan realis Swiss, setahuku juga tidak memiliki museum. Hanya rumah hunian biasa di Zürich. Sayang sekali jejak Keller sulit dilacak secara intensif. Keterangan tentangnya hanya bisa ditemukan di perpustakaan-perpustakaan umum.
Sekitar tiga menit jalan kaki dari rumah Multatuli ke arah jalan Herrengracht, berdiri patung di atas jembatan dengan tulisan Multatuli. Patung dari metal berbentuk kepala itu tertancap di atas tembok. Wajah Multatuli kusut dan berkumis lebat mirip Nietzsche.
Pandangan patung sunyi itu mengarah ke air sungai.
Hampir setiap pejalan atau penikmat lorong-lorong sungai di sekitar Herrengracht bisa menatap wajah patung itu. Rumah kelahiran Multatuli tak pernah sepi terutama di malam hari. Kalau dulu di Lebak dia sering menyaksikan para pekerja tanam paksa, maka sekarang ini setelah dia mati, wajahnya yang di poster pun memandang ke arah para pekerja berahi, kelas orang yang juga tersingkirkan.
Malam segera menjemputku di sebuah pertigaan. Aku bergegas mencari rumah Anne Frank. Menurut peta kota, rumah Anne Frank tak begitu jauh jaraknya dari patung Multatuli. Aku tinggalkan jembatan dan turun ke jalan kecil dengan deretan Toko Suriname terletak di samping kiri jalan.
Tiba di jalan Prinsengracht aku bertanya ke seorang perempuan yang memarkir sepeda dayung tua, “Di mana rumah Anne Frank?“
Perempuan berambut merah menebar senyum ramah sembari menerangkan, “Di sebelah sana.“
Aku berjingkrak riang dan segera melaju sambil menendang-nendang kecil bebatuan di jalanan dengan sepatu putihku. Patung Anne Frank yang kurus itu berdiri menghadap jalan. Wajah Anne Frank yang biasanya di sampul buku tampak ayu tak bisa kutatap dengan jelas. Ketika aku akan memotret patung itu, datang rombongan anak sekolah mengerubuti patung itu.
Mungkin mereka mengagumi penulis perempuan yang penuh dengan penderitaan itu.
Malam mulai memayungi Amsterdam. Hari ini kebetulan hari kelahiranku. Istriku ingin sedikit memanjakanku di hari istimewa itu. Bagi budaya dia, ulang tahun adalah momentum yang tidak bisa dilewatkan dengan begitu saja. Sehingga perlu ditandai dengan sesuatu yang khusus. Sejak masa kanak-kanak itu, aku tak pernah lagi mengenal istilah ulang tahun. Tapi bukan berarti tidak ada sejenis upacara ulang tahun.
Biasanya, kami orang kampung jika memperingati kelahiran, tidak kami lakukan setiap tahun melainkan setiap bulan atau lebih tepatnya tiap kelahiran dalam hitungan Jawa (weton). Weton-ku adalah Sabtu Wage. Aku pertama kali sadar dan mengenal peringatan kelahiran saat masih kelas II SD. Saat itu, ibuku membelikan jajan pasar dan membuat nasi dengan kluban urap. Hal seperti itu tentu sudah cukup meriah untuk ukuran orang desa.
Usia memang melesat begitu cepat, tanpa tanda-tanda.
Nah, pada ulang tahunku sekarang ini kebetulan sedang berada di Amsterdam. Akhirnya aku punya gagasan untuk merayakannya di restoran Indonesia. Di benakku, selain untuk memperingati ulang tahunku sekaligus aku ingin memperkenalkan istriku dengan makanan Indonesia.
Maklum dia masih belum banyak tahu tentang berbagai masakan ala Indonesia.
Sesampai di restoran Indonesia, dengan cepat aku mengenali suasananya memang khas. Ada taplak meja dari batik, sementara ada topeng dan wayang kulit menggantung di dinding. Hemmm, rasanya sudah tak sabar hati ini ingin memesan, dan merasakan sesuatu yang lezat. Semampang daftar menu dengan segera kupelototi.
“Mau makan Indonesia Rijsttafel?“ tanya seorang pekerja berambut keriting.
Aku membayangkan sebentar, lalu mengangguk. Memang itu yang aku ingin coba. Disamping sudah sering dengar.
Basa-basi lalu menyeruduk sebentar antara aku dan pekerja restoran itu. Ternyata dia berasal dari Ambon.
Sudah puluhan tahun dia menetap di belanda. Aku bermaksud agar pesanan itu untuk berdua dengan istri.
Tapi pekerja tadi menyarankan, menurutnya, Indonesia Rijsttafel itu hanya untuk satu orang. Akhirnya aku mengalah, karena kupikir dia pasti lebih tahu.
Kemudian istriku memesan nasi goreng, agar dia bisa menemaniku makan.
Aku menunggu dengan harap-harap cemas. Seperti apa bentuknya jenis makanan yang katanya resepnya dicuri dari tanah air itu. Tak lama kemudian keluarlah; serundeng, tempe bacem, disusul kemudian oleh sayur, sambal goreng, dan terakhir adalah nasi. Banyak piring kecil memonopoli tempat, dan hidangan hampir memenuhi meja.
“Astaga!“ gerutuku. Makanan sebanyak itu harus aku habiskan sendiri? Padahal aku sudah mulai cukup kenyang karena ikut mencoba nasi goreng pesanan istriku. Di desaku makanan sebanyak itu bisa untuk satu keluarga. Aku berpikir lagi, mungkin ini makanan orang kaya. Yang biasa makan dengan banyak pilihan.
Perlahan-lahan aku comot satu persatu. Lumayan enak.
Lidah ini seperti mudik ke kampung halaman lagi.
Karena kenyang, tubuhku aku putar ke kiri, lalu ke kanan. Layaknya ular piton yang usai menerkam anak ayam sambil menggeser-geser tubuhnya. Tapi masih saja tersisa banyak di masing-masing piring kecil. Aku tak mampu menghabiskan makanan. Istriku juga sudah kenyang karena nasi goreng. Akhirnya, dengan perut yang sangat kenyang, kami kembali ke hotel dengan jalan kaki dituntun oleh lampu-lampu jalanan. Malam mengerudungi kota dengan warna gelapnya.
Anne Frank
Halo Kitty,
Kamis, 2 Maret 1944
…cinta, apakah itu cinta? Aku pikir cinta adalah sesuatu, yang tak bisa kuraba dalam kata-kata. Cinta adalah untuk mengerti pada seseorang yang disukai dan dimiliki. Saling membagi duka dan bahagia. Sampai jenjang cinta ragawi. Kau telah berbagi, memberi, dan menerima. Apakah kau kawin atau tak kawin, apakah kau punya anak atau tidak, apakah jalan terhormat itu telah sirna. Semuanya datang begitu saja, jika kau tahu, seluruh hidupmu ada seseorang yang mendampingimu, yang mengerti akan dirimu serta tempat curahan hatimu….
Anne Frank
Pagi hari suasana sudah riuh oleh suara orang-orang yang sedang antre makan di hotel. Itu adalah hari terakhir kami di kota pelabuhan ini. Cepat-cepat saja aku dan istriku menuju sebuah loket kapal untuk ikut berkeliling dengan kapal menyusuri sungai-sungai di dalam kota. Kapal bertuliskan Holland International itu berbadan rendah dan berjendela kaca hingga sampai atap. Orang-orang seperti ikan dalam akuarium saja.
Kapal bergerak mundur beberapa meter, lalu maju memasuki sebuah sungai sempit. Sampai di pertigaan sungai terdapat traffic light. Luar biasa! Traffic light dipasang di bawah jembatan karena memang banyak sekali sungai yang bercabang. Amsterdam sering dijuluki sebagai “Venesia dari Utara“. Ada sekitar 90 sungai dan 1000 jembatan. Air sungainya pun untuk ukuran sungai kota, cukup bersih. Mungkin karena di negara-negara Barat selalu menanam pipa besar untuk menyalurkan air cucian, kotoran toilet atau limbah.
Tentu proyek pipa ini biayanya sangat besar. Di Indonesia, ruas-ruas jalan masih perawan. Paling banyak hanya kabel telepon atau pipa air minum yang kecil tertanam. Sebaliknya di Barat, pipa-pipa raksasa bagaikan ular yang menghuni di bawah jalan-jalan.
Indah sekali melihat bangunan kuno dari sungai.
Arsitekturnya tidak membosankan. Di samping kiri, kami saksikan beberapa rumah berbentuk kapal yang terapung.
Di balkon-balkon rumah mereka terdapat bunga yang merambat ke atap. Rumah-rumah itu membuat sungai semakin menyempit. Menurut buku petunjuk tentang Amsterdam, pada tahun 1950-an para kapten kapal menjual kapal-kapalnya pada warga setempat.
Kapten-kapten itu beralih menempati apartemen.
Alasannya pada waktu itu harga apartemen sangatlah murah. Sementara itu ada juga orang-orang yang ingin hidup romantis di rumah kapal. Tak heran, bila keluarga yang tinggal di rumah kapal makin membengkak.
Sampai kini jumlah rumah kapal mencapai 5000 buah.
Separuhnya tak punya izin. Hal ini membuat repot pemerintah setempat. Sehingga pemerintah merasa perlu untuk memberi batasan pemberian fasilitas listrik, air dan gas.
“Lihatlah ke sebelah kiri kita. Rumah nomor 263 di jalan Prinsengracht adalah rumah persembunyian Anne Frank,“ kata pemandu di kapal itu. Semua kepala spontan menggeleng ke kiri, dan melihat orang-orang antre masuk rumah kuno yang mempunyai banyak jendela.
Di rumah warna bata cokelat tersebut Anne Frank gadis berusia 13 tahun itu menulis buku hariannya selama dua tahun hingga berusia 15 tahun (12 Juni 1942 - 1 Agustus 1944). Ketika tentara Nazi datang menggeledah rumahnya, dia selamat, karena bersembunyi di belakang lemari yang sempit.
Sebenarnya Anne Frank menulis buku hariannya untuk dirinya sendiri. Tapi pada awal tahun 1944 dia mendengar di radio, sebuah pidato dari menteri pendidikan Belanda yang sedang menetap di London sebagai orang eksil. Menteri itu menyatakan sehabis pendudukan tentara Nazi nanti, semua dokumen akan diterbitkan. Termasuk buku harian. Terkesan dengan pidato tadi, Anne Frank bertekad ingin menerbitkan buku hariannya. Tapi naas, pada 4 Agustus 1944, 3 hari setelah menulis buku harian terakhirnya, sebuah mobil mendatangi rumah di jalan Prinsengracht 263 itu.
Polisi berseragam hijau membawa seluruh penghuni, termasuk Anne Frank dan kakak perempuannya Margot Frank, yang kemudian dibawa ke tahanan Nazi di Bergen-Belsen. Akhirnya Anne Frank meninggal pada Maret 1945 karena serangan tifus. Otto Frank, ayahnya berhasil diselamatkan oleh tentara Rusia.
Setelah keadaan politik normal kembali, banyak ahli menyangsikan orisinalitas naskah Anne Frank, seorang anak keluarga Yahudi yang mengungsi dari Jerman ke Amsterdam. Lepas dari kontroversi itu, kini buku harian tersebut sudah diterjemahkan ke lebih dari 50 bahasa. Pada salah satu surat untuk sahabatnya di sekolah, hari Senin, 15 Juni 1942, dia menuliskan sangat suka dengan film anak-anak: Rin Tin Tin, seekor anjing cerdik.
Kapal terus menyusuri bawah jembatan. Kemudian memasuki sebuah daerah yang disebut Red Light, sebuah lokalisasi pelacuran internasional. Bertaburanlah bangunan bertuliskan: Sex-Shop, Lesbi-Homo Bookshop, dan lain-lain. Juga terdapat museum seks. Pelacur dari berbagai bangsa bisa ditemukan di sini. Amsterdam seperti lazimnya kota-kota pelabuhan lainnya, memiliki cukup banyak tempat pelacuran.
Kapal kemudian berbelok-belok memasuki pelabuhan Amsterdam. Dari kejauhan teronggok bangunan restoran Cina yang megah warna cokelat. Tak jauh dari situ terdampar kapal warna cokelat kuno bentuknya mirip kapal bajak laut. Pemandu menerangkan, itulah salah satu kapal VOC yang sengaja dipajang untuk umum.
Menurutku kapal VOC itu kecil sekali untuk ukuran kapal perang zaman kini. Di sinilah kapal itu diberangkatkan, dan di sinilah kapal itu kembali, mungkin untuk selamanya.
Tulip
Aku dan istriku masih ingin melihat banyak hal yang lain. Kami mencoba keluar dari kota Amsterdam dan sampailah kami di sebuah taman Keukenhof. Keuken artinya dapur dan hof artinya taman. Mungkin maksudnya dapur dan taman. Taman ini indah sekali. Berbagai jenis bunga ditanam dan dipamerkan dengan sentuhan artistik. Bunga tulip tampak paling banyak dan dominan, saling bergerombol sesuai warna dan jenisnya.
Bahkan ada tulip yang ditanam begitu banyak dan memanjang dengan warna jambon semua. Uniknya, ditengah warna jambon terselip sebatang tulip warna putih.
Menurut sejarahnya, tulip berasal dari Turki pada zaman kerajaan Osmania. Pada saat itu ibukotanya masih bernama Konstantinopel, yang sekarang menjadi Ankara.
Konon waktu itu, datanglah orang Austria ke Konstantinopel dan akan membawa beberapa benih bunga semacam bawang ke Wina. Orang Austria tersebut bertanya pada orang Turki, “Apa nama bawang ini?“
Rupanya salah pengertian. Orang Turki mengira, yang ditanyakan peci merah yang dia pakai. Maka dia jawab, “Tülbend.“ Maksudnya turban. Turban adalah peci warna merah yang biasa dipakai orang Turki. Salah kaprah itu terus berlanjut. Sehingga berubah dari tulbend ke tulip. Sejak itu tulip dikembangkan lebih pesat di Belanda.
Mata Hari dan Pasar Malam Besar
Hari telah beranjak sore ketika kami kembali ke Amsterdam lagi. Dari Amsterdam kami bermaksud akan ke Den Haag. Kami ingin tahu seperti apa ibu kota Belanda itu? Di stasiun, kereta api jurusan Den Haag tak kunjung datang. Aku iseng-iseng membaca lagi buku tentang Amsterdam. Mataku tertohok pada dua kata bahasa Indonesia: Mata Hari. Ada apa gerangan dengan nama itu? Aku kira sekadar nama supermarket. Ternyata Mata Hari adalah spion perempuan warga Belanda di era perang dunia I. Aku sangat penasaran dengan kisah ini, hingga belakangan aku temukan buku berjudul Mata Hari, karangan Julia Keay. Sekarang makin jelas kisahnya.
Margarethe Gertruide Zelle, seorang gadis Belanda bersuamikan perwira tinggi Belanda yang bertugas di Indonesia. Kedua pasangan ini pernah tinggal di Semarang, Malang, dan Sumatera. Kedua anaknya lahir di Malang. Pada tahun 1902 Zelle meninggalkan Indonesia dan kemudian bercerai dengan suaminya. Tahun 1904 dia pergi ke Paris untuk belajar balet dan sebagai model lukisan. Karena Zelle merasa tak berhasil belajar balet di kota besar, karena harus memerlukan waktu lama dan keuletan, maka dia tempuh jalan pintas agar ia bisa memenuhi cita-citanya menjadi orang kaya dan terkenal. Setahun kemudian dia menjadi penari orientalis telanjang di klab-klab malam. Untuk mengelabuhi publik barat dan meyakinkan bila tariannya orientalis asli, maka dia pakai nama samaran Mata Hari. Sebenarnya, tarian orientalis yang dia tarikan itu berasal dari pengalamannya saat ia melihat tarian serimpi di candi Jago, Malang. Dalam waktu singkat namanya melambung dan tergolong menjadi penari termahal di Eropa. Dia banyak punya pacar orang elit dan kaya. Ketika perang dunia I berkecamuk, tahun 1916 dia ditawari sebagai spion untuk pemerintah Jerman.
Setengah tahun kemudian Mata Hari bekerja sebagai spion untuk pemerintah Perancis. Pada 13 Pebruari 1917 dia ditangkap di Paris. Penari sekaligus pelacur terkenal yang juga dijuluki Double Agent ini akhirnya dieksekusi di dekat Paris pada 15 Oktober 1917.
Lalu aku jadi ingat, ketika istriku dulu mulai belajar bahasa Indonesia dan menghapal hari-hari. Tiba-tiba dia nyelonong dengan ucapan: Matahari. Awalnya aku heran. Mengapa dia sudah hapal kata matahari, sedang pelajaran tentang nama-nama hari ia tidak hapal. Lalu dia balik bertanya, “Bukankah dia spion?“
Waktu itu aku hanya bengong. Belum pernah aku mendengar nama spion itu. Nah, sekarang aku sudah tahu.
Kereta api jurusan Den Haag telah tiba. Kami mencari tempat duduk dan membenamkan diri di dalamnya. Di Den Haag kami akan menemui sahabat-sahabat lama, dua orang Belanda yang sudah tua. Sesampai di stasiun kereta api Den Haag, kami bingung sendiri, sebab orang yang akan ditemui tak kunjung datang. Kami lalu bertanya ke bagian penerangan, dan ternyata stasiunnya ada dua.
Celaka! Buru-buru kami mendatangi stasiun yang lain.
Siapa tahu mereka menunggu di sana. Eh, di sana pun orangnya tidak ada. Kemudian aku menelepon mereka ke rumahnya. Mereka bilang, baru masuk rumah. Katanya, mereka juga menunggu di kedua stasiun. Mungkin kami selalu berpapasan. Sekitar dua puluh menit kemudian, mereka datang.
Meskipun mereka sudah tua, tapi masih gesit mengendarai mobil. Kami diajak berputar-putar di sekitar Den Haag. Dilanjutkan dengan jalan kaki di taman dan kemudian lewat gedung Tribunal Internasional untuk penjahat perang. Tak lupa kami diajak mengunjungi museum Panorama yang sangat menawan.
Terakhir, kami dibawa ke sebuah arena “Pasar Malam Besar“. Luar biasa, begitu banyak dekorasi dan pertunjukan kesenian dari Indonesia. Aku melihat penyanyi trio Batak sedang tarik suara. Di bagian lain, sederet meja berisi aneka ragam makanan khas Indonesia.
Sayang, waktu berambat begitu cepat. Kami hanya sempat membeli beberapa makanan kecil untuk bekal di jalan.
Usai sudah kunjungan kami di Den Haag. Kami segera permisi kepada kedua orang Belanda itu untuk melanjutkan perjalanan dengan kereta api malam menuju Paris. Kota Den Haag kami tinggalkan tepat di tengah malam.(Sigit Susanto)
Daftar Pustaka:
1.Burger, Sabine. Schwarz, Alexander. 2000, Amsterdam und Umgebung, Bielefeld: Reise Know-How Verlag Peter Rump GmbH.
2.Bonazza-Annette Krus. 2002, Amsterdam, Erlangen:
Michael Müller Verlag.
3.Keay, Julia. 1987. Mata Hari, München: Wilhelm Heyne Verlag GmbH & Co.
4.Sievers, Dirk 2000, Niederlande, Erlangen: Michael Müller Verlag
admin is
Email this author | All posts by admin



