Jalan-Jalan di Paris

Custom Search

By admin • Jan 25th, 2006 • Category: Wisata

Tak sampai 15 menit,
kami menemukan penginapan di depan stasiun kereta api. Losmen itu tepatnya di
belakang toko seks-erotik. Resepsionisnya laki-laki berkulit hitam sambil
mengepulkan gulungan asap rokok. Setelah kami dapat kunci kamar, lalu kami
menuju kamar lantai tiga melewati tangga berundak-undak. Lift belum terpasang
dan di tikungan tangga lantai selalu terurai kabel-kabel listrik warna-warni.
Kami makin ekstra hati-hati, jangan sampai tangan menyentuh kabel yang
dibiarkan telanjang itu. Kamarnya besar, namun

„Be not inhospitable to strangers
Lest they be angels in disguise“
(Tertulis pada dinding toko buku  Shakespeare & Co)
 

Kereta api malam
melesat cepat dari Swiss menuju Paris. Tiba di stasiun Paris sekitar jam 08.00
pagi. Suasana stasiun masih lengang. Dua tentara bersenjata siap tembak
berjalan seperti merak. Mereka melirik ke berbagai arah yang dicurigai. Bahkan
mereka  menendang kardus rusak di
emperan. Segera aku sadari, akhir September 2004 itu terjadi aksi teror yang
meledakkan dua pesawat Rusia. Pagi itu aku dan istri bergegas mencari
penginapan. Namun kami keburu ingin buang hajat. Istriku ingin berak dan aku
ingin kencing. Sebelum WC kami temukan, justru kami melihat seorang laki-laki
separuh baya nekad berak di depan pintu keluar stasiun. Pemandangan seperti itu
sulit dipercaya terjadi di kota modern seperti Paris. Orang yang berak itu
bukan orang gila, juga bukan orang yang kebelet atau sakit perut. Sepertinya
dia orang yang biasa tidur di emperan. Kami berjalan mengikuti angin pagi
sambil menahan beban. Di sebuah tempat parkir berdiri bangunan kubus warna cokelat
tertulis WC umum. Setelah memasukkan koin, pintu WC terbuka sendiri. Akan
tetapi aku bingung, karena WC itu tak ada lubang pembuangan sama sekali.
Kepalaku berkeliling bundar, tak menemukan jawaban. Lalu nekad saja kukucurkan
air kencing di sebuah marmer putih cembung tak berlubang tersebut. Pertanyaan bagaimana
air kencing itu akan terbuang? Kiranya tak perlu jawaban mendesak. Yang penting
buang hajatnya terkabulkan. Lalu aku keluar dan gantian dengan istriku untuk membuang
hajat berat. Setelah kami berdua di luar WC, pintu menutup secara otomatis. Tak
begitu lama terdengar suara air gemuruh, seperti orang menumpahkan air dari
ember. Mungkin mesin itu yang bekerja membersihkan kotoran dan malu dilihat manusia.

 

Tak sampai 15
menit, kami menemukan penginapan di depan stasiun kereta api. Losmen itu
tepatnya di belakang toko seks-erotik. Resepsionisnya laki-laki berkulit hitam
sambil mengepulkan gulungan asap rokok. Setelah kami dapat kunci kamar, lalu kami
menuju kamar lantai tiga melewati tangga berundak-undak. Lift belum terpasang
dan di tikungan tangga lantai selalu terurai kabel-kabel listrik warna-warni.
Kami makin ekstra hati-hati, jangan sampai tangan menyentuh kabel yang
dibiarkan telanjang itu. Kamarnya besar, namun tampak kotor. Sehabis kami
mandi, kedapatan kalau istri lupa membawa kutang. Maka dia mencuci kutang yang
sudah dipakai, lalu digantungkan di jendela menganga.


 
Menara Eiffel

Pukul 09.00 kami
sudah berada di pelataran menara Eiffel. Metro lah yang membawa kami ke sini.
Suasana pagi di situ sungguh damai nan indah. Lagi-lagi aku melihat komandan
tentara bersenjata dan berjalan dikuntit dua anak buahnya yang juga bersenjata.
Komandan itu berjalan keliling dengan meletakkan kedua tangannya di pinggang.
Mirip tokoh wayang kulit akan berkelahi. Pengunjung belum banyak di situ. Di
kaki menara aku antre untuk naik menara Eiffel. Tak jauh dariku kusaksikan
petugas seragam oranye memakai helm komplit memegang tali panjang. Mungkin
mereka petugas pemadam kebakaran sedang latihan. Kemudian mereka memanjat kaki
menara dan terus naik. Antara petugas satu dengan lainnya saling dihubungkan
dengan tali sebagai pengaman. Ketika pintu menuju menara Eiffel dibuka, kami segera
menuju lift. Dari lantai ke lantai hingga mencapai puncak dihubungkan dengan lift.
Tapi ada juga tangga biasa. Semuanya ada tiga lantai. Pada lantai paling atas,
aku melihat sebuah patung insinyur Alexandre Gustave Eiffel bersama Thomas A. Edison.
Gustave Eiffel sedang memegang kertas sketsa calon menara. Menara dengan
ketinggian 300 meter itu dibangun tahun 1889 oleh Gustave Eiffel. Sebab itu
namanya diabadikan sebagai nama menara Eiffel. Zaman itu sedang terjadi
revolusi industri. Semua bentuk seni diperbarui dengan temuan paling aktual.
Termasuk menara Eiffel ini dirancang dari 15.000 keping metal yang dipateri
menjadi satu. Beratnya mencapai 7000 ton serta bertumpu pada empat kaki
penyangga dengan pondasi dasar dari beton. Dari atas terlihat panorama kota
Paris yang aduhai. Aku mencoba meneropong istriku yang duduk di bawah pohon. Namun
tak berhasil. Pohon-pohon itu bak rumput-rumput datar. Lalu aku menuruni Eiffel
dengan lift lagi.

 

Shakespeare
& Co

Dari menara Eiffel
kami ingin mencari dua tempat lagi. Pertama, toko buku Shakespeare
and Company
. Kedua, restoran Indonesia yang didirikan oleh
saudara-saudara kita yang terhalang pulang. Dengan metro bawah tanah kami
muncul di daerah Jardin de Luxembourg. 
Lalu kami menyusuri jalan beraspal. Jalan-jalan itu bersih apalagi di
pinggirnya mengalir air yang siap menghanyutkan sampah atau puntung rokok.  Restoran Indonesia berdiri di antara deretan
gedung bertingkat dengan alamat 12, Rue De Vaugirard. 75006 Paris. Telepon:
01.43.25.70.22. Sebenarnya kalau dengan metro bisa juga turun di stasiun Odeon.
Aku berhenti sejenak di depan restoran Indonesia. Sementara istriku membeli air
mineral ke kios seberang jalan. Di luar restoran ada plang berwarna merah putih
tertulis Specialités indonesiennes. Hari itu Sabtu pagi dan restoran
masih tutup. Namun di pintu masuk tertulis; Sabtu malam buka. Maka kaki kami
menapak ke arah Sorbonne Universités. Antara Quartier Latin dan Quartier
St.Michel terdapat banyak gang yang dipenuhi restoran dari berbagai negara. Antara
lain ada restoran Yunani, Tunisia, Turki, Vietnam, dan Cina. Tapi aku amati
paling banyak restoran Yunani. Ada sedikit keanehan. Hampir di  setiap depan pintu restoran Yunani, aku
temukan pecahan piring banyak. Aku pikir apa barusan ada orang bertengkar,
sehingga mereka membanting piring. Istriku cengar-cengir membantah, kalau
pecahan piring itu artinya barusan ada sejenis tarian tradisional khas
Yunani yang biasa memecah piring.

 

Ketika hari sudah
siang, kami membeli Kebab dan kami makan sambil berjalan. Di seberang sungai berdiri
megah katedral Notre-Dame. Di pinggir sungai itu kami berlama-lama
menikmati deretan kios panjang. Kios-kios itu menjajakan buku bekas dan lukisan
serta berbagai cendera mata antik. Tak disangka hanya menyeberang jalan ke arah
semula, terdapat toko buku Shakespeare & Company. Tepatnya beralamat
di 37 rue de la Bucherie. Toko buku bersejarah itu ternyata tempatnya diujung
dan cukup sederhana. Di depan pintu masuk tertata buku-buku bekas. Kebetulan
yang menunggu seorang cewek Asia berwajah murung. Sambil jongkok aku menyortir
buku dan berkenalan dengan cewek pendiam itu. Senyumnya mulai mekar, tapi wajahnya
masih terbalut sayu. Dia bernama Saehee Kwon alias Sally asal Korea. Di situ dia
hanya membantu membersihkan toko sambil berjualan buku bekas. Dia mengaku tak
dapat gaji. Tapi dia bisa menumpang tidur gratis. Apalagi dia di Paris sedang
liburan. Aku amati di depan toko buku ini ada taman kecil berumput hijau. Ada
papan kecil menempel di dinding bertuliskan George Whitman. Sementara pada
ruang dalam tampak beberapa orang sibuk memilih buku. Seorang petugas
menunjukkan sebuah buku karangan Sylvia Beach, sang pemilik toko. Sebuah buku
yang menceritakan seluk-beluk pendirian toko buku. 100 tahun silam toko buku
itu hanyalah sebuah toko minuman anggur. Kesanku memasuki ruangan toko buku itu
sangat apa adanya. Pada undak-undakan di lantai tertulis „Live for Humanity“.
Sedang pada dinding atas tertulis „Be not inhospitable to strangers, lest
they be angels in disguise“.
Buku-buku baru dan bekas tertata di rak-rak
dari papan kasar. Kebanyakan buku tersebut berbahasa Inggris. Aku mencoba naik
ke lantai atas lewat tangga sempit yang rapuh dan remang. Di lantai atas
kutemukan empat dipan kecil yang lusuh sebagai tempat baca atau tidur. Seekor
kucing hitam mendekam anggun di atas buku berdebu. Coretan tangan di dinding
dari para pengunjung di seluruh dunia mudah dikenali. Seorang pengunjung dari
Norwegia misalnya menulis:

What I was
looking, when I came to Paris? I don`t know, I was choosing some romantic
illusion, looking something genuine. Both feeling got lost among the crowded
souvenirshops. For this book shop alone, I would move all the way from Norway.

Ada lagi
pengunjung dari Rusia yang hanya menempelkan kesannya pada sepotong kertas putih
kecil:

Dear George,

You have
changed this world more than you may know. We will take with us. A new way to
live inspired by you.

Rosna &
Peter,

St.Petersburg.

Ada yang lebih
unik lagi. Pengunjung lokal membuat coretan dengan lipstik merah di kaca yang
berbunyi:

This bookstore
is a gift to Humanity

(Anonymous
Frenchman)

Coretan yang lain
dari Sylvia Beach sendiri pada Anne Frank, berjudul A Letter to Anne Frank. Pada
salah satu ruang sempit di lantai atas, terlihat atapnya akan ambrol serta
udaranya pengap. Tapi buku berjejer dari lantai sampai menyentuh atap. Orang
tetap saja lalu lalang dan naik turun tangga dengan sabar. Lalu aku masuk
ruangan perpustakaan di lantai atas yang menghadap ke jalan. Seorang gadis dari
Amerika duduk di jendela sambil membuka-buka buku. Dari jendela bisa melihat
pemandangan langsung ke arah katedral Notre-Dame. Ruangan ini yang aku anggap
paling nyaman. Buku-buku kuno bahasa Inggris tertata rapi di rak yang
melingkari ruangan. Aku perhatikan ada buku-buku karangan; Andre Maurois,
Balzac, Marcel Proust, Sartre, Simone de Beauvoir, Rousseau, Wilde, hingga John
Irving.

 

Toko buku itu bersahaja.
Toko buku yang tak mementingkan kemegahan dan penampilan. Toko buku yang tak hanya
mengejar keuntungan materi semata, namun juga menyediakan sarana perpustakaan.
Pada zaman dulu bahkan sampai kini, masih jarang ada toko buku yang mau
bersosial dengan membuka sarana perpustakaan. Banyak penulis pemula atau yang sudah
menjadi besar mengaku pernah meminjam buku di toko buku ini. Ketika Hemingway masih
belum terkenal, dia salah satu pelanggan setia perpustakaan di Shakespeare
& Co.
Waktu itu alamat toko bukunya masih di tempat yang lama 12, rue
de l`Odeon. Usaha Sylvia Beach patut dipuji. Dia tak hanya menyediakan
fasilitas perpustakaan saja. Tapi dengan inisiatifnya sendiri turut membantu
menerbitkan novel „Ulysses“ karya James Joyce pada tahun 1922. Pada
waktu itu Joyce kesulitan mencari penerbit, disamping namanya belum dikenal
luas. Novel tebal yang akhirnya menggemparkan dunia sastra itu ditulis selama delapan
tahun. Sylvia Beach memang pengagum Joyce dan menerbitkan „Ulysses“
dalam bentuk kertas sederhana dan hanya beberapa ratus eksemplar saja. Sehingga
Joyce pada ulang tahunnya ke 40, pada 2.2.1922 sudah bisa memegang novelnya
sendiri. Dalam beberapa hari saja novel tersebut sudah habis di pasaran.
Sehingga masih dalam tahun yang sama diterbitkan lagi edisi kedua. Reaksi lebih
keras terjadi di Amerika dan di Inggris. Di kedua negara itu melarang
beredarnya „Ulysses“. Tapi di Paris tahun 1924 beberapa kawan dekat
Joyce justru mengadakan perayaan menyambut „Bloomsday“. Diambil dari
nama tokoh „Ulysses“ Leopord Bloom dan Bloom Molly. Ternyata penyambutan
novel „Ulysses“ menjadi makin terkenal sampai kini. Dalam 20 tahun
kemudian mengalami berkali-kali cetak ulang. Bahkan sempat dibajak dengan
cetakan ilegal. Puncaknya, „Ulysses“ dianggap sebagai novel yang paling
berbobot di abad 20. Dan Joyce menjadi penulis yang terkenal.

 

Antara tahun 1920-1930,
toko buku Shakespeare & Co menjadi pusat kegiatan sastra yang
dianggap penting di Paris. Beberapa penulis terkenal tercatat sering bertandang
ke sini. Mereka antara lain; André Gide, T.S.Eliot, Samuel Beckett, Anäis Nin,
Henry Miller, Erza Pound, dan Scott Fitzgerald. Namun ketika Jerman menguasai
kota Paris tahun 1941, Sylvia Beach seorang perempuan Amerika keturunan Yahudi diharuskan
menutup toko bukunya. Dia sendiri dijebloskan ke tahanan selama enam bulan.
Akan tetapi seusai perang, George Whitman, seorang dokter terkenal membuka lagi
bagian perpustakaan milik Sylvia Beach. George Whitman mengambil alih
pengurusan toko buku secara keseluruhan pada bulan Agustus tahun 1951. Kemudian
tahun 1962 Sylvia Beach meninggal. Untuk melestarikan usaha humanis George
Whitman, maka dibentuklah Whitman Fondation. Ketika George Whitman berusia 91
tahun, dia masih rajin menunggui toko buku kesayangannya. Sampai sekarang toko
buku ini masih dikelola oleh keluarga George Whitman.

 

Siang itu makin
menjadi sore. Kami bergegas akan kembali ke losmen. Dalam perjalanan ada
insiden kecil menimpa kami. Ketika kami masuk metro, bersamaan pula dua bocah
berambut ikal pendek mendesak tubuhku. Kebetulan semua tempat duduk penuh. Sehingga
banyak penumpang di metro yang berdiri atau bergantungan. Desakan bocah berkulit
hitam di depanku itu makin kuat. Apalagi kami sama-sama berdiri. Aku hanya senyum
dalam hati. Ada apa dengan dua bocah ini? Kenapa begitu lengket dengan tubuhku.
Cepat aku sadari dan aku periksa dompetku di dalam tas sabuk yang melilit
perut. Ternyata dompet merahku sudah raib. Aku membungkukkan tubuh sedikit sambil
mengincar gulungan kaus putih yang dipegang bocah di depanku. Aku dapati dompetku
sudah dililit gulungan kaus, bak tikus dililit piton. Maka aku segera merebut dompet
itu dan berhasil. Drama singkat itu luput dari perhatian banyak orang. Para
penumpang terbenam dalam lamunannya sendiri-sendiri. Tapi istriku curiga dengan
gerak-gerikku, lalu bertanya. Apa yang terjadi? Setelah aku beritahu dia, kalau
bocah di depanku itu mengambil dompetku. Istriku mendorong bocah tadi dan kebetulan
metro sedang berhenti dan mereka berdua kabur tanpa hasil. Sejak kejadian itu
aku menjadi lebih hati-hati dalam perjalanan, khususnya di dalam metro. Apalagi
sebelum metro berangkat, sering diumumkan lewat pengeras suara; hati-hati
banyak copet. Tiba di losmen kami langsung mandi, lalu pergi lagi.

 

Restoran
Indonesia

Kali ini kami akan
mengulangi pergi ke restoran Indonesia. Lampu remang-remang restoran sudah
terlihat dari luar. Beberapa pengunjung di meja terdepan sudah menyantap
hidangan. Ketika kami sudah di dalam, segera aku hampiri seorang pegawai:

„Bisa bertemu J.J.
Kusni?“

Pegawai yang masih
muda itu menjawab ramah:

„Dia masih sibuk di
dapur. Nanti aku panggilkan. Namanya siapa?“

Sambil menunggu
J.J. Kusni, kami dipersilakan menempati di meja nomor dua. Aku sendiri belum
pernah bertemu dia.  Tapi di Internet aku
sering membaca tulisannya. Seperti juga tulisan Umar Said dan Sobron Aidit yang
sering bercerita tentang restoran Indonesia. Sebuah restoran yang didirikan
oleh orang-orang eksil dari Indonesia atas tragedi 1965. Mereka sering
menyebutnya sebagai orang-orang klayaban atau terhalang pulang. Sekarang aku
berada di restoran itu. Tentu sebagai warga biasa yang layak ingin tahu. Kenapa
Soeharto dulu melarang para diplomatnya yang sedang bertugas di Paris, agar
tidak mampir restoran itu. Restoran itu dianggap pemerintah Orde Baru sebagai
sarangnya berkumpul para eksil PKI. Sepintas lalu aku amati ruangan itu. Tak
kutemukan atribut ideologi komunis. Juga tak ada simbol palu arit. Apalagi
poster seperti Karl Marx, Lenin, Mao atau Che tak ada sama sekali. Justru dekorasinya
khas kebudayaan Indonesia. Ada peta Indonesia dari batik. Ada topeng Bali,
Jawa, serta batik bermotif wayang. Tak berapa lama muncul seorang cewek membawa
makanan sambil menyunggingkan senyum. Juga seorang laki-laki tua berbaju batik
sibuk melayani tamu. Saat kami masih memilih makanan, masuk dua muda-mudi
berkaus hitam dengan tulisan warna putih:“Gue Anak Jakarta“. Perasaanku
seperti sedang berada di Bogor atau di Bandung saja. Sebab anak-anak Jakarta biasa
keluar masuk restoran dengan mudahnya. Tapi ini di Paris yang jauh dari sabuk
khatulistiwa. Kemudian istriku memesan sate ayam dan nasi goreng. Sedang aku
memilih Indonesia Rijsttafel berjenis Widuri. Pesanan makanan datang masih
panas. Tak terasa hidangan cepat sirna, alias tak tersisa. Bukan saja kami yang
lapar, tapi masakannya memang lezat serta rasanya seperti di negeri sendiri.
Meja-meja makin penuh orang. Di meja sampingku diduduki orang-orang Afrika.
Lalu kami berbasa-basi dengan pegawai muda tadi. Aku minta kartu nama dan
brosur restoran. Kemudian aku ketahui dia bernama Yoso asal dari Surabaya. Pada
brosur berbahasa Perancis tersebut, terdiri atas daftar menu, termasuk sejarah
berdirinya restoran yang berbentuk koperasi. Serta dilengkapi dengan informasi
singkat tentang Indonesia. Akhirnya J.J. Kusni keluar dan langsung duduk di
depanku. Kami mengobrol ringan sekitar dunia tulis menulis. Kebetulan kita
punya kesenangan yang sama yaitu menulis. Setelah itu J.J. Kusni pamit kembali
ke dapur lagi meneruskan memasak. Aku hanya titip salam dia buat Sobron Aidit
yang sebelumnya sempat menawari menginap di rumahnya di Paris. Tapi batal,
karena dia berada di Belanda. Dari restoran kami mengarungi gelapnya malam
dengan perut membuncit.

 

Di depan gedung
museum „Musée National du Moyen-Age“ kami duduk menghadap gemerciknya air
mancur yang deras menumpahkan air. Dengan tak sengaja kami bangkit dari bangku
dan menatap punggung anak muda berkaus hitam bertuliskan „ACEH“. Setelah
kami berkenalan sesaat, anak muda itu bernama Najib Azca, dosen departemen
sosiologi UGM. Dia di Paris menghadiri undangan seminar tentang aksi kekerasan
di negara-negara Asia Tenggara. Menurutnya ada sekitar 20-an aktivis Indonesia
ikut ambil bagian dalam acara tersebut. Rupanya Najib sedang santai sendirian.
Lalu kami bertiga jalan-jalan membelah kerumunan manusia. Kami sempat mencicipi
„Crépe“ di pinggir jalan. Makanan khas Perancis mirip kue terang bulan
yang manis, tapi tipis. Sebenarnya aku akan mengajak Najib ke toko buku Shakespeare
& Co
yang tak jauh dari situ. Namun dia justru menawarkan jalan-jalan
ke restoran „Les Deux Magots“, tempat mangkal Sartre, Simone de Beauvoir
serta Camus. Dia sendiri sudah ke sana bersama kawan-kawannya. Sebab itu dia
tahu arah jalannya. Maka kami sepakat menuju restoran tempat Sartre itu. Sayang
di tengah jalan, Najib keburu akan kembali ke penginapannya. Terpaksa aku dan
istri terus mencari restoran yang sudah ditunjukkan arahnya. Setelah melewati
gereja tua di samping kanan, kami sampai di depan restoran „Les Deux Magots“.
Di teras dan dalam restoran ada beberapa orang sedang santai mengobrol. Restoran
itu terkesan mewah, setidaknya untuk ukuran kantong kami. Dulu restoran itu juga
sering dipakai berkumpul Wilde, Joyce, serta Hemingway. Tapi sebenarnya para
tokoh eksistensialis, Sartre, Beauvoir serta Camus lebih sering mangkal di
restoran „Le Flore“. Pada perang dunia kedua, Sartre menulis:

„Simone de
Beauvoir dan aku menganggap Le Flore sebagai rumah sendiri.“

Meskipun Sartre
dan Beauvoir saling berhubungan akrab, namun keduanya tak pernah tinggal bersama
dalam satu apartemen. Mereka lebih sering bertemu di kafe. Bahkan sampai akhir
hayatnya Sartre tak memiliki rumah pribadi. Di Climetiere de Montparnasse, kuburan
terbesar kedua di Paris, Sartre dimakamkan satu nisan dengan Beauvoir. Ketika
penguburan Sartre ini, sekitar 50.000 orang ikut mengantar jenasahnya. Sartre
pernah mengenang masa-masa sulitnya:

„Ketika aku masih
menjadi guru dengan gaji yang sedikit, maka aku tinggal di hotel. Seperti orang-orang
lain yang tinggal di hotel, maka aku sering menghabiskan waktu di kafe.“

Kebiasaan Sartre
ini mengingatkan kita pada Iwan Simatupang yang juga suka tinggal di hotel.
Iwan menganggap orang-orang yang tinggal di hotel adalah orang-orang yang punya
mobilitas tinggi. Malam itu makin menepi, kami pun kembali ke penginapan lagi.

 
Notre-Dame dan Montmartre

Paris belum
seluruhnya terjejaki. Minggu pagi itu masih sepi. Kami segera membenamkan diri
dengan metro dan muncul di stasiun lle de la Cité. Sebuah pulau kecil yang
diapit dua sungai. Aku amati ada banyak penjual bunga dan sederetan orang
menjual burung parkit dan jenis burung kecil lainnya. Ada juga orang yang
menjual tikus putih dan hitam. Ada pula orang yang menjual anak anjing,
kelinci, ikan serta kura-kura. Di tengah orang berjualan binatang piaraan itu.
Tergolek orang-orang jalanan di lantai. Mereka baru bangun pagi dengan beralas
kardus serta terbungkus selimut. Tampak ada seorang berwajah Asia. Aku teringat
pada buku „Pangeran Kecil“ (Le Petit Prince) karangan Antoine De
Saint-Exupéry. Tujuan Exupéry menulis cerita fantasi itu, sebenarnya karena dia
melihat seorang anak muda di Perancis yang kelaparan dan kedinginan. Sehingga
anak muda itu tak mampu lagi sekadar berfantasi, untuk keluar dari beban
beratnya. Dari situ muncul idenya Exupéry dan dimaksudkan cerita itu untuk
filsafat orang dewasa. Meskipun kenyataannya karyanya itu menjadi bacaan
anak-anak. Di tengah pulau itu berdiri anggun katedral Notre-Dame yang
didirikan tahun 1163 di bawah uskup Maurice de Sully. Aku melihat hanya ada
beberapa orang saja yang mulai mengepung bangunan gotik warna krem itu. Aku
duduk di bangku taman sambil menatap rapat dua punggung katedral  Notre-Dame yang sama tinggi. Pada tahun
1831 Victor Hugo menulis novel „Notre-Dame de Paris.1482“ yang berlatar cerita
kemegahan katedral itu.

 

Hari terakhir di
Paris kami mulai menghitung waktu lebih pelit lagi. Agar kami masih bisa
mengunjungi tempat lain. Metro sebagai kendaraan umum bawah tanah memang seperti
naga yang rakus, cepat dan gesit. Kemudian kami menuju daerah Montmartre.
Sebelum mencapai gereja Sacre-Coeur Basilica, kami berjalan melewati
daerah yang banyak bermukim orang-orang dari Afrika. Bahkan warung-warung
sederhana pun menjual dagangan berciri khas negeri dunia ketiga. Di pelataran
gereja Sacre-Coeur Basilica ada anak-anak muda kulit hitam menjajakan
gelang dari anyaman bahan nilon. Kami memasuki gereja warna putih yang dibangun
dengan bahan batu pilihan. Bentuk gereja yang dipengaruhi oleh arsitektur
romawi-byzantini itu sedianya akan dibangun pada abad 17. Namun waktunya mundur
dua abad dan baru dilaksanakan pada tahun 1870. Adalah seorang suster sederhana
bernama Marguerite-Marie yang pertama mendapat perintah oleh raja untuk
membangun gereja sebagai simbol hati yang suci. Di dalam gereja kami hanya
sebentar, lalu keluar dan membelok ke arah kanan di jalan bebatuan. Terlihat beberapa
pelukis sedang berdiri sambil beraksi melukis wajah pejalan. Kami makin
menembus kerumunan massa dan sampai di tempat rindang bernama Place Du Terte.
Di pinggir jalan ada seorang ibu menyanyikan lagu-lagu bahasa Perancis dengan
temperamen tinggi. Ibu itu menghadap sebuah gerobak orgen dari kayu dan tangan
kirinya memutar gagang besi bak kernet truk akan menghidupkan mesin. Sementara
tangan kanannya melambai-lambai seperti akan terbang. Ada kertas panjang
berlempit-lempit serta berlubang warna krem bergerak dan menghasilkan musik
merdu. Paduan musik orgel manual dan nyanyian ibu itu mengundang decak kagum
para pejalan kaki. Dalam waktu tak begitu lama, topi yang terbuka di depan ibu
itu sudah kemasukan banyak koin Euro. Baru aku ketahui, Place Du Terte ternyata
tempat para pelukis melukis wajah. Di tengah arena itu ada restoran dengan
suasana romantis. Setelah berkeliling beberapa kali, maka kami putuskan untuk menuju
Arc de Triomphe dengan menumpang metro lagi.

 
Arc de Triomphe

Api itu berkobar
diterjang angin metropolitan. Api abadi berdampingan karangan bunga kecil itu
terletak di altar bangunan Arc de Triomphe. Tujuannya adalah untuk
menghormati para pahlawan tak dikenal yang gugur. Dan setiap petang tiba
diadakan upacara. Bangunan Arc de Triomphe itu mirip sebuah gapura atau gerbang,
namun bagian atasnya bergandengan. Pada 18 Februari 1806 Napoleon I
memerintahkan pada arsitek Jean-Francois Chalgrin untuk mendirikan tugu sebagai
simbol kemenangan tentara imperialis. Tinggi „Gerbang Kemenangan“ itu sekitar
50 meter dan luasnya 40 meter. Setelah Napoleon I meninggal, abunya juga
ditaruh di bawah altar tugu sejak 1840. Pada tubuh tugu terdapat relief yang
menggambarkan keberangkatan sukarelawan, serta tercatat ada 558 jenderal gugur
di medan pertempuran. Aku melihat seorang veteran berkaki satu masih mengenakan
seragam tentara sedang berpose. Dia dipotret di antara pelancong muda-muda.
Baju hijau veteran itu bergantungan tanda jasa, serta tangan kanannya memegang
bendera perang. Sebelum kami meninggalkan tempat ini. Aku menghitung ada 12 jalan
yang terpecah ke berbagai arah dan „Gerbang Kemenangan“ ini berada di tengahnya.
Kami melangkah memasuki Avenue des Champs-Elysées. Sebuah jalan yang lebar dan
paling ramai serta lurus sampai ke Place de la Concorde dan Musee du Louvre.
Kami berjalan ke arah Place de la Concorde. Paris memang indah dan menawan.
Ingat Paris, ingat pula Mata Hari, sang penari orientalis juga spion perang. Dia
memulai kariernya di Paris. Di sebelah kiriku berdandan bangunan toko modern
berarsitektur kubus dari kaca. Mungkin inilah impian André Breton, sang
pencetus manifesto Surrealisme pertama kali pada tahun 1924. Menurutnya Surrealisme
tak hanya berkutat pada seni dan sastra, melainkan sebagai jalan keluar dari
masalah pokok manusia. Masih di Avenue de Champs-Elysées, aku saksikan mobil-mobil
terbaru lalu-lalang. Banyak orang keluar masuk pertokoan mengumbar kehidupan
materi. Paris dikenal sebagai kota mode. Orang percaya berbagai mode pakaian
dilahirkan di kota ini. Atau Paris sering disebut kota bisnis yang sering
disejajarkan dengan London, New York atau Tokyo. Hemingway dalam bukunya
berjudul „A Moveable Feast“ menyebutkan:

„Paris tak
pernah berakhir untuk mengenang orang-orang yang pernah hidup di sana dan
berbeda dengan yang lainnya. Kita tetap akan kembali ke Paris lagi, walaupun
kita telah berubah atau banyak kesusahan. Paris tetap masih berharga. Itu masa
awalku yang miskin dan bahagia di Paris.“

Pada tahun 1956
Hemingway dan Mary, istrinya tiba di Paris. Hemingway mulai bekerja menjadi
wartawan untuk sebuah media di Kanada. Ketika Hemingway mulai tertarik menulis
novel dan tak lagi mengirim berita ke media di Kanada. Dia merasakan kesulitan
ekonomi, karena tak ada pemasukan keuangan lagi. Esai Hemingway berjudul
„Lapar adalah sebuah disiplin yang baik,“
menyebutkan:

“Kalau aku lapar, maka aku belajar Cézane lebih mendalam dan bisa melihat
realitasnya, bagaimana dia menciptakan lanskap.“

 

Hemingway pernah menulis
surat pada seorang kawan sebagai berikut:

„Bila kamu
beruntung sebagai anak muda tinggal di Paris. Nikmatilah kota itu untuk sisa
hidupmu. Kemanapun kamu ingin melangkah, Paris adalah sebuah tempat pesta
kehidupan.“

 

Sepertinya Paris
sejak dulu memang dimanjakan. Utamanya peninggalan gedung-gedung kuno sangat
banyak dan masih terawat dengan baik. Balzac adalah salah satu yang paling
gemar memakai Paris sebagai objek dalam novelnya. Dua novelnya berjudul „Orang
Paris ke Daerah“
dan „Orang Besar dari Daerah ke Paris.“ Balzac
menggambarkan tokoh Lucien dari daerah merantau ke Paris. Lucien menganggap,
orang mengobrol di kafe di Paris dalam waktu setengah jam saja pengetahuannya sudah
bertambah banyak. Pengetahuan sebanyak itu, kalau di daerah baru bisa
didapatkan selama 10 tahun. Gustave Flaubert juga tak mau kalah memuji Paris.
Dalam novelnya berjudul „L`education sentimentale“ disebutkan, dua tokoh
Henry dan Jules saling berkirim surat. Henry kuliah di Paris dan Jules sebagai
penyair di daerah. Jules selalu membayangkan, seperti apa gemerlapnya Paris?

 

Di tengah
perjalanan kami sampai di bundaran, lalu membelok ke kanan. Di situ ada dua
bangunan saling berhadapan. Kedua bangunan istana tua itu bernama Petit
Palais
di samping kiri dan Grand Palais berada di samping kanan.
Kami menyeberang jembatan P.t. Alexandre III. Jembatan yang banyak
ornamen dengan warna emas itu dibangun antara tahun 1896-1900. Adapun tujuan
pembangunan jembatan itu untuk memperingati persekutuan antara Rusia dan Perancis.
Sehingga saat peresmiannya kaisar Nicolas II dari Rusia datang. Di seberang
jembatan bertengger Hotel des Invalides. Kemudian kami menuruni tangga
jembatan dan berjalan di tepi sungai Seine ke arah Place de la Concorde. Setelah
kami sampai di alun-alun Place de la Concorde  yang luasnya mencapai 84.000 meter persegi.
Segera kami kenali dari dekat sebuah obelisk dari kuil di Luxor, Mesir. Obelisk
berdiri tegak dengan ornamen rumit itu adalah pemberian Mohamet Ali, raja muda
dari Mesir kepada Louis Philippe, raja Perancis. Obelisk setinggi 23 meter dan
berat 230 ton itu mulai didirikan pada tahun 1836 oleh insinyur Jean-Baptiste
Apollinaire Lebas. Tentang hadiah obelisk dari raja Mesir ini, mengingatkanku
pada tradisi para raja Jawa dulu. Konon beberapa kepala patung di candi
Borobudur dan candi lain dulunya dihadiahkan oleh para raja Jawa pada pimpinan
bangsa-bangsa dari Eropa.

 

Dari sini kami
terus berjalan memasuki benteng dan istana Louvre. Pada tahun 1546 Louvre tidak
lagi sebagai istana kerajaan. Arsitek Pierre Lescot mendapat tugas dari Francic
I untuk menghancurkan benteng dan memperluas bangunan agar lebih sesuai dengan
selera Renaissance. Ketika istana kerajaan berpindah ke Versailles tahun 1682,
kompleks Louvre siap akan dihancurkan. Berkat aksi para wanita di pasar-pasar
di Paris. Mereka turun ke jalan dan konvoi jalan kaki menuju istana Versailles
pada 6 Oktober 1789 serta memaksa keluarga kerajaan untuk kembali ke Paris. Tapi
sejak 10 Agustus 1793 salah satu gedung Louvre yang menyimpan koleksi seni, dijadikan
museum umum. Dulu Napoleon I punya akal bulus. Dia mensyaratkan bagi
bangsa-bangsa yang kalah ditaklukkan, harus menyerahkan karya-karya seni untuk
dikoleksi. Tercatat ada 400.000 karya seni dari Mesir, Yunani, Roma dan Dunia
timur. Termasuk lukisan Mona Lisa dari Leonardo da Vinci ada di sini. Di arena
ini aku mencoba menengok ke belakang. Baru aku sadari, ternyata antara Louvre,
obelisk dan Arc de Triomphe yang jaraknya cukup berjauhan terlihat satu garis
lurus. Angin mendorong sekelompok awan dengan langit biru membayangi. Maka obelisk
yang tegak itu seperti sedang berjalan lamban. Seluruh tubuhku mulai
pegal-pegal dan utamanya kedua kaki terasa terpotong-potong. Kami membelok ke
kiri memasuki taman rindang bernama Palais Royal. Di taman ini kami berusaha
mencari kursi yang kosong untuk mengendurkan otot di bawah terik matahari.
Sayang semua kursi di taman itu sudah dipakai orang. Di bawah pohon ada seorang
cewek yang lagi pacaran menggunakan tiga kursi. Aku beranikan diri meminta satu
kursi yang hanya ditumpangi kaki. Eh, cewek itu ternyata galak dan tak mau tahu
urusan orang lain. Terpaksa aku dan istri menjatuhkan diri di rerumputan.
Sekitar 30 menit berlalu, capai kami berkurang. Kami bangun dan mendekat ke
kolam bundar yang banyak dilayari perahu kecil dari kayu. Anak-anak membawa
tongkat menyodok perahu layar warna-warni agar tertiup angin. 

 

Paris memasuki
senja Minggu. Kereta api kami ke Swiss berangkat jam 22.30 malam. Sisa di awal
malam segera kami habiskan ke Quartier Latin lagi. Kami senang berjalan-jalan
sambil melihat orang-orang di sekitarnya. Mengamati mereka lebih menarik,
daripada duduk bengong di kursi restoran.

Akhirnya kami terdampar
lagi di toko buku Shakespeare & Co. Di depan pintu ada perempuan
memainkan musik terompet sendirian. Aku masuk toko itu dan membeli novel bekas „Idiot“
karya Dostojewski. Ternyata setiap buku yang dibeli pada halaman paling depan
dicap Shakespeare & Co oleh penjualnya. Sebuah brosur foto
dari Sylvia Beach dan kegiatan toko buku juga aku beli. Dalam foto hitam putih itu
tampak ada kegiatan pembacaan puisi di teras toko dengan tulisan:

„A poetry
reading on the esplanade outside Shakespeare & Co.“

Lalu kami bermaksud
akan pergi. Tapi di bawah pohon aku lihat ada Sally sedang berbincang-bincang
dengan seorang cowok. Kami ingin berpamitan dengan Sally. Kali ini wajahnya
sedikit ceria. Benar, hatinya gembira. Dia bercerita, kalau tak sengaja bertemu
kawannya sekota Seoul di jalan raya. Cowok itu ramah dan memperkenalkan diri namanya
Sang Yong. Sally dan Sang Yong memberitahu, kalau keduanya keliling Eropa
dengan sepeda. Ketika aku bertanya mereka, di mana ditaruh sepedanya? Mereka hampir
bersamaan menunjuk ke arah dua sepeda yang diparkir di pagar taman. Aku
menggoda Sally, lebih baik bersatu saja sekarang daripada liburan
sendiri-sendiri, toh mereka sudah berkawan sejak di Korea. Rupanya mereka punya
prinsip keras. Masing-masing punya rencana liburan yang berbeda. Sally dari
Paris akan ke Kroasia. Sedang Sang Yong akan tetap di Perancis membantu petani
desa memetik anggur. Dengan harapan dia dapat bekal tambahan. Istriku
mengajukan pertanyaan pada Sang Yong, naik apa dia ke Paris? Kami berdua agak
kaget, ternyata Sang Yong ke Paris dari Itali hanya mendayung sepeda. Lebih
kaget lagi ketika aku bertanya, di mana Sang Yong akan menginap malam ini? Sang
Yong menjawab dengan ringan; akan tidur di taman-taman. Aku dan istri saling
beradu mata, tanda terharu. Sally masih lumayan dapat penginapan gratis di toko
buku Shakespeare & Co. Sebelum kami berpisah, sempat kami bertukar
alamat E-mail. Kami menawarkan kedua petualang muda Korea yang gigih itu untuk
menginap di apartemen kami, seandainya mereka berada di Swiss. Malam makin
pekat, kami berlalu menuju stasiun kereta api. Sebelum tulisan ini dibuat,
datang E-mail dari Sally. Dia memberitahu, sudah berada di Kroasia dengan
sepedanya. Sementara dari Sang Yong kami tak mendengar beritanya lagi.

 

*Bagi pembaca yang
ingin melihat dari dekat toko buku Shakespeare & Co di Paris, bisa mengunjungi
website: http://www.shakespeareco.org/

 
***
 
 
Daftar Pustaka:

1.Murat, Laure,
1997, Paris, Stadt der DICHTER, München, Verlag KG.

2.Magi, Giovanna, Paris,
Firenze, Centro Stampa Editoriale Bonechi.

3.Nestmeyer, Ralf,
2003, Paris, Erlangen, Michael Müller Verlag.

4.Schultz, Uwe,
2003, Paris, Literarische Spaziergänge, Frankfurt am Main, Insel Verlag.

admin is
Email this author | All posts by admin

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

Copyright ©2004-2008 Indonesia Backpacker Community All rights reserved. All articles and Images may not be reproduced in any form without the express written permission of the copyright holder | All Information contained on this site may not be used for commercial purposes,
for more information please Contact
admin At indobackpacker.com | Powered by the WordPress

Creative Commons License
Except where otherwise noted content on this site is licensed under a
Creative Commons Licence.