Jalan-jalan ke Luar Negeri dan Dibayar, Siapa Tak Tergiur?

Custom Search

By admin • Jan 6th, 2006 • Category: Travel Tips
Bookmark and Share

bagi kita para pecandu plesiran atau apapun kita menyebutnya,
tentunya mendapatkan kesempatan jalan-jalan ke luar negeri gratis tapi dibayar
sangatlah menggiurkan. Kata orang bijak, banyak jalan menuju Roma. Jika aspal tekad
yang sudah bulat dikompori dengan usaha yang “tak kenal malu” , hasilnya pasti
jalan mulus yang solid kan
?!

Jangan keburu kaget dulu membaca judul di atas, ini benar dan nyata
adanya. Ada sebagaian dari kita yang berstatus “kuli
orang” sering mendapat kesempatan bepergian ke luar negeri untuk tugas dan training. Ada pula yang mampu membiayai diri sendiri
untuk plesiran ke luar negeri setiap tahunnya.
Namun, bagi kita para pecandu plesiran atau apapun kita menyebutnya,
tentunya mendapatkan kesempatan jalan-jalan ke luar negeri gratis tapi dibayar
sangatlah menggiurkan. Kata orang bijak, banyak jalan menuju Roma. Jika aspal tekad
yang sudah bulat dikompori dengan usaha yang “tak kenal malu” , hasilnya pasti
jalan mulus yang solid kan
?!

Selain dari para fotografer yang mendapat order motret dari client,
wartawan, reporter atau karyawan travel
agent, masih ada satu profesi yang patut dipertimbangkan, yaitu menjadi Freelance Tour Leader. Yup, ini profesi
benar-benar ada dan yang pasti selalu terbuka menjelang libur panjang
sekolahan, antara bulan Juni – Juli. Kalau
ingin mencoba memetik buah dari pohon duit selama musim liburan tiba, jawabannya
rajin-rajinlah buka koran karena beberapa perusahaan yang menawarkan paket
homestay ke luar negeri dan travel agent
sering jor-joran memasang iklan
antara bulan Januari – Mei. Selanjutnya silakan hubungi mereka dan siapa
tahu dewi fortuna sedang berpihak pada kita.

Apa Saja
yang dibutuhkan ?

Persyaratan yang diterapkan tentu saja penguasaan bahasa asing (Bahasa
Inggris itu wajib hukumnya), juga pengalaman berinteraksi dengan orang-orang
pada usia tertentu, misalnya, orang tua, anak remaja atau bahkan anak kecil,
baik laki-laki maupun perempuan. Sebab pastinya tiap kategori umur tersebut perlu
penanganan yang berbeda lho! Ini serius dan tidak bisa dianggap enteng sebab
karakter orang berbeda-beda pun latar belakang mereka. Karena biasanya Tour Leader ini membawa rombongan (minimal 10 orang) yang
sebelumnya belum tentu semua saling mengenal satu dengan lainnya, para Tour Leader pun dituntut untuk mampu
menjadi ice breaker dan juga harus
sigap menghadapi berbagai situasi.
Pengetahuan teknis tour and travel
seperti masalah ticketing, prosedur pengurusan visa dan paspor pastinya akan
dipelajari pada saat persiapan sebelum keberangkatan. Hal lain yang tak kalah
pentingnya adalah seorang Tour Leader
tidak saja memposisikan diri sebagai pendengar yang baik, namun juga mampu
bersikap tegas pada waktu bersamaan. Wajarlah karena selama beberapa minggu
bersama-sama keakraban pasti tercipta, jangan kaget kalau Tour Leader nantinya dianggap sebagai tempat curhat segala macam
urusan, bahkan ada juga yang memperlakukan
kita tak lebih dari seorang kacung mereka belaka, ngangkat koper, jadi tukang belanja, dll. Pada prinsipnya jangan ragu untuk berkata
tidak apabila peserta sudah mulai bertindak diluar batas yang sewajarnya.

Jangan
Panik, Sabar vs Sok Tahu

Selalu saja ada kejadian-kejadian tak terduga yang justru menjadi untaian
bunga pemanis selama perjalanan. Mulai dari masalah tempat duduk dalam pesawat,
keterlambatan jadwal penerbangan, petugas imigrasi di negara tujuan yang sikapnya
tak bisa ditebak alias tergantung mood,
ataupun tugas yang kita emban justru membawa kita ke tempat yang belum pernah kita kunjungi
sebelumnya.

Jangan keburu panik bila ternyata hal itu terjadi pada kita, lha wong peserta biasanya menyerahkan
sepenuhnya “nasib” mereka di tangan Tour Leader koq. Intinya, malu bertanya sesat di jalan. Namanya saja manusia, selama perjalanan ada
saja tingkah polah mereka dan pertanyaan-pertanyaan yang mereka lontarkan bisa membuat
kerutan di dahi mendadak bertambah karena kita sendiri tidak tahu jawabannya,
mau mengaku tak tahu, repot juga karena biasanya ini hanya akan menimbulkan
protes dari peserta, mau menjawab asal, peserta kan nggak
bego-bego
amat . Karena itu jangan cepat panic dan sabar. Kadang bersikap sok tahu itu menguntungkan juga lho.

Seringkali rangkaian acara tour yang ditawarkan tidak menarik bagi
peserta sebab sudah bukan rahasia umum lagi, bahwa acara belanja harus masuk
dalam daftar acara wajib. Makanya jangan
heran kalau tiba-tiba Tour Leader ketibang pulung membawa sebagian beban
belanjaan. Kalaupun tak kuasa mengelak
dari tugas dadakan menjadi porter,
menghibur dirilah dengan menganggap ini sebagai latihan angkat beban gratis.
Tapi jangan kuatir, selalu ada cara untuk menyiasati dan “memberi pelajaran”
kepada para peserta (bukan balas dendam lho!).

Pengalaman
Pribadi

Ada saat di mana saya
berkesempatan merengkrut para Tour Leader,
biasanya saya menggunakan feeling pada waktu interview untuk meraba apakah
calon Tour Leader ini mampu bekerja
sama dengan saya dan tim. Kemudian kriteria umum lain adalah kemampuan Bahasa
Inggrisnya, kemampuan beradaptasinya dan mental baja serta sikap pantang
menyerah yang mereka miliki. Pengalaman calon Tour Leader ke luar negeri tidak begitu saya pentingkan, karena
menurut saya itu bisa dipelajari belakangan. Attitudes and mentality are very crucial.

Ketika akhirnya saya
tidak lagi bertugas, justru saya menawarkan diri untuk menjadi salah satu Tour Leader, dan ternyata negara tujuan
saya adalah negara yang belum pernah saya kunjungi sebelumnya ! Okay-lah, urusan visa, paspor, ticketing dll,
boleh dibilang saya kuasai, tapi tetap saja saya harus mencari tahu tentang
negara itu, bukan hanya masalah pengetahuan geografis tapi lebih kepada
manusianya. Namanya saja homestay
dengan membawa anak-anak remaja dengan rentang usia antara 10 sampai 18
tahun, akan tinggal di rumah orang asing selama 14 hari. Bingung juga mencari akal bagaimana meyakinkan
anak-anak bahwa mereka bisa melewati masa adaptasi 3 hari pertama tinggal di
lingkungan asing tanpa merasa homesick.

Alih-alih berpikir
terlalu jauh, sebelum keberangkatan pun, saya sudah diwajibkan berkenalan
dengan mereka melalui telepon, berbicara dengan para orang tua, karena
bagaimana pun, orang tua perlu merasa secure
kalau anaknya dititipkan ketangan orang yang mereka kenal. Saat bertemu di
bandara, ada saja orang tua yang menitipkan berbagai hal, mulai dari petuah dan
nasihat tentang kelakuan anaknya, kado untuk orang tua angkat, sampai uang
jajan sang anak ! Sampai-sampai saya
sempat membatin,”apakah saya akan se-protective
ini ini bila menjadi orang tua kelak ?”

Rasanya begitu bebas
ketika kita semua masuk menuju ruang keberangkatan. Justru disinilah
petualangan itu dimulai. Bagaimana
caranya mencairkan suasana, terlebih lagi anak-anak generasi MTV sekarang ini di
mana sifat anti-sosial mereka justru lebih menonjol. Belum lagi masalah gap antar anak daerah dan anak ibukota. Bahkan sesama anak ibukota
pun masih ada gap, karena rupanya
mereka mengelompokkan diri menjadi anak Jakarta Selatan, Jakarta Barat, dst.
“Phew….sebegitu ekslusifkah mereka
membagi diri dan kelompoknya ?” lagi-lagi saya membatin. Kesimpulannya banyak
sekali ilmu tentang human behavior dan
managing young people yang tidak
tertulis dibuku-buku manapun justru saya dapatkan selama menjadi Tour Leader, selain jalan-jalan gratis
dan dibayar (US$$) pula …..hhhhmmmm….mau lagi dong !


admin is
Email this author | All posts by admin

Bookmark and Share

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

Home | About Us | Disclaimer | Credits & Contributor | Join a Contributor | Our Contributor |
Komunitas Backpacker Indonesia | Indobackpacker.com | Travel Photography | Mailinglist Archive | Mailinglist Forum

Copyright ©2004-2009 Indonesia Backpacker Community All rights reserved. All articles and Images may not be reproduced in any form without the express written permission of the copyright holder | All Information contained on this site may not be used for commercial purposes,
for more information please Contact
admin At indobackpacker.com | Powered by the WordPress

Creative Commons License
Except where otherwise noted content on this site is licensed under a
Creative Commons Licence.