Perjalanan Batam, Singapore + Vietnam

Custom Search

By admin • Jan 19th, 2006 • Category: Wisata
Bookmark and Share

aKe
Halong Bay, lupa beli baju renang ? Don’t worry be happy. Di seberang kantor
pos, tiap malam, ada pasar malam.
Buanyak buanget yang jual baju renang. Ada
juga kaos Halong Bay, dan souvenir lain. Jangan lupa
untuk menawar seperti biasa. Di belakang pasar malam itu pantai. Eit tapi
jangan salah. Kalau kita lihat ada
kursi-kursi pantai, jangan langsung duduk

Dan begitulah, karena kegilaan belanja sebelum berangkat
ke singapore,
i ran out of money begitu sampai di Batam. Setelah mendarat, barulah saya
pusing tujuh keliling. Terpaksa niat langsung ke ferry terminal menuju singapore pun
buyar. Mau gak mau, saya terpaksa terdampar di Batam semalam menunggu
transferan dari rumah.

Begitu turun pesawat, saya sibuk SMS bertanya ke teman
yang tinggal di Batam tentang penginapan murah. Ternyata, memang para taxi
driver-lah yang lebih tahu mengenai hal tersebut. Karena baru pertama kalinya
ke Batam, sendirian, perempuan pula, saya cukup dag dig dug. Eh, ternyata,
begitu ngobrol sama Bapak Driver, saya merasa, Batam tidak seperti yang saya
pikirkan. Untuk urusan hotel yang sesuai dengan kantong saya yang sudah hampir
kempes, saya direkomendasikan untuk menginap di Hotel Bahari di kawasan Nagoya Square
(belakang hotel mandarin). Setelah membayar taxi 50 ribu rupiah dari Hang Nadin
ke Nagoya, di
sinilah saya malam ini. Berbekal laptop butut beserta matrix-nya.

Hotel ini menurut saya, termasuk dalam kategori lumayan.
Dengan 120 ribu rupiah, ada TV, AC, Shower,
air panas, Kipas, Spring Bed, lumayan lah pokoknya kalau saya
banding-bandingkan. Bersih terutama. Oh ya, mungkin karena tetangga-nya Singapore kali
ya, colokan di kamar saya berkaki tiga.

Keesokan paginya saya melanjutkan perjalanan dari Hotel
Bahari di Nagoya menuju Pelabuhan Nongsa, untuk menuju Tanah Merah di
Singapore. Soalnya mau terusan ke
Changi. Jadi itung-itungannya lebih deket dengan rute begitu. Alias mau ngirit
ongkos.

Karena baru pertama kalinya di Batam dan pertama kalinya
juga ke luar negeri, selain itu, karena kopernya terlalu berat buat
ditenteng-tenteng, saya memilih cara yang praktis-praktis saja. Naik taksi dari
hotel. Habis sekitar 60 ribu dari Nagoya ke Nongsa. Selisih
10 ribu dengan ongkos taksi dari Bandara Hang Nadim menuju Nagoya malam sebelumnya, 50 ribu (kalau tidak
salah). Kita bisa melihat tarif taksi dari airport menuju beberapa kawasan di
Batam, di papan pengumuman dekat pintu keluar.
Maklum deh, di Batam kan
tidak memakai sistem argo.

Setelah sampai di Nongsa, saya sudah "disambut"
beberapa awak kapal yang ferri-nya sudah stand by pada jam kedatangan
saya. Saat itu saya naik Batam Fast.
Return tiket saya beli 116 ribu kalau
tidak salah, pulang pergi. Port tax-nya saya lupa. Saya ditanyain mau pakai
kwitansi atau nggak (Karena sepertinya kalau tidak memakai kwitansi bisa kurang
dari 500 ribu kali ya, fiskalnya). Karena saya ingin menjadi warga negara yang
baik, tentu saja saya bayar yang resmi 500 ribu, dengan kwitansi.

Namun karena petugasnya tidak ada, saya diminta mengambil
kwitansi-nya sekembalinya saya nanti dari Singapore. Yo wis.
Saya diminta mengingat nama petugas tiket tersebut. Sampai saya nulis ini, saya
lupa nama Bapak itu. Siapa ya ? Saya belum ambil kwitansinya, karena saya
pulangnya tidak lewat Tanah Merah lagi, tetapi via Harbor Front.. Menuju Batam
Center
. Bukan Nongsa.
Tiketnya sih tetap berlaku, karena return.
Dari Harbor Front ke Batam Center waktu pulang kemarin, port tax-nya 10 Singapore
Dollar.

Nongsa itu cantik. Sepanjang perjalanan ferry, yang
penumpangnya cuma beberapa orang saja, saya sudah terkagum-kagum saking ndesonya. Maklum, pertama kali. Sayang
saya sendirian. Travelling Solo tidak enak, karena tidak ada temen ngobrol,
temen sharing. Tapi di ferry, sebelum saya keluar kapal karena sudah sampai,
saya sempat kenalan sama beberapa ABK dan sama kapten-nya kalau tidak
salah. ABKnya rata-rata pada masih
muda-muda, dan ada yang dari Semarang
pula. Iso ngomong jowo tho? hehe. Ada yang namanya Handi. Siapa tau ada yang
mau naik Batam Fast, salam ya, buat Handi.

Karena saya pakai matrix, sim card saya secara otomatis
bisa dipakai di mana-mana. Walau saya
yakin tagihan bulan September bakal membengkak, harus diakui, matrix membantu
saya dalam berkomunikasi dan menyelesaikan beberapa masalah yang saya alami di
negeri orang. Termasuk ketika saya bengong di ferry.

Tips naik ferry ala Erika:

1. Berkenalanlah dengan para ABK, kalau perlu, kapten-nya
juga.

2. Naiklah ke bagian dek atas, kita bisa menghirup udara
laut.he he. Selain itu, bagus untuk yang hobi jeprat jepret, kan lumayan, bisa dapetin beberapa
pemandangan.

Pemandangan dari
Harbor Front ke Batam Center
lebih bagus daripada Nongsa ke Tanah Merah (itu menurut saya lho). Karena bisa melihat pulau sentosa kali ya? Setelah
45 menitan dan sampai di Tanah Merah dan melalui imigrasi singapore, di
depan sudah ada antrian taksi. Saya
membayar SGD 7.80 dari sana sampai ke Changi Airport.
Berapa tuh, sekitar 50 ribu rupiah kali ya ?

Setelah melihat papan pengumuman di Terminal 1 Changi,
counter Tiger Airways di row 5 belum dibuka. Saya dapet harga paling rendah
waktu itu SGD 100.96 atau sekitar 600 ribu untuk return ticket, Singapore -
Hanoi – Singapore. Nggak tau, apa karena
di press release-nya ditulis pesawat kepunyaan Tiger Airways itu baru atau
karena pilotnya bule, saya merasa ini kali pertama saya merasa paling mantap
naik pesawat murah. Rasanya kok beda gitu kalau saya naik pesawat murah waktu
di Indonesia.

Changi memang sibuk, tapi tetap tertib. Bersih. Saya salut
dengan Pemerintah Singapore.
Terdengar di pengeras suara bandara, penumpang diingatkan atas barang
bawaan-nya. Jangan sampai ada yang tidak terjaga, karena bakal diangkut sama
polisi bandara. Saya liat polisi-polisi muda lalu lalang sambil bawa senjata
laras panjang yang lumayan besar. Cukup menarik perhatian. Begitu lewat di
depan saya, saya pasang senyum manis. Mereka pun tersenyum ramah.

Iseng-iseng saya bertanya kepada seorang petugas
kebersihan bandara, di mana letak telepon lokal sama internet yang katanya
gratis. Eh, ternyata ada di dalam pintu
keberangkatan. Wah, alamat deh tidak bisa membuang waktu dengan bertelpon ria
dan browsing sembari menunggu meja counter buka. Ya sudah, saya menghabiskan
waktu dengan meneruskan "pengamatan" saya kepada para pengunjung
bandara.

Dua jam sebelum keberangkatan, counter cek in dibuka.
Karena pesawat TR 308 yang akan ditumpangi adalah jurusan Hanoi,
penumpang sebagian besar orang-orang Vietnam. Saya baru tau rasanya jadi
orang asing. Nggak enak ya, soalnya yang lain pada bawa temen. Setelah
menunjukkan paspor dan tiket yang cuma lembaran email, petugas memberikan
boarding pas dan baggage identification tag sambil memberitahu, bahwa borading
gate kita di C11. Masuk ke dalam pintu keberangkatan, petugas imigrasi
Singapore sudah di depan mata. Coba kalau mereka senyum dikit, khan jadi enak
diliat. Setelah paspor dicap keluar Singapore, saya belok ke sebelah kiri
sesuai papan petunjuk, mencari gate C11. Sambil menyambar satu koran bandara
gratisan dan brosur2 Singapore, saya ngiler melihat orang pada belanja di
toko-toko bandara yang katanya import duty free alias bebas pajak. Boro-boro
beli, uang aja cekak. Setelah naik elevator ya, sekali, dan berjalan melewati
gate-gate lain, sampailah saya di gate C11. Setelah selesai merentangkan badan
(sesuai prosedur pemeriksaan penumpang kali ya), kita sudah sampai di boarding
gate. Nah, di situlah letak pesawat telpon dan internet gratis.

Saya amati, para calon penumpang yang orang-orang Vietnam
(terutama wanitanya, cantik-cantik dan putih-putih). Modis-modis lagi. Saya
merasa jadi keliatan ngejreng dengan jilbab viscose. Bukan karena warnanya,
tetapi karena saya pikir cuma saya yang memakainya. Eit, tunggu, itu ada Mbak
yang juga memakai jilbab. Hore, saya bukan satu-satunya WNA yang benar-benar
asing..hihi. Wah, tapi Mbak itu sama suami sama anaknya. Duduknya misah pula.
Alamak, nggak jadi deh, dapet kenalan sesama asing.

Yang bikin saya lega, berarti nanti petugas imigrasi di
Vietnam tidak kaget, karena di depan saya sudah ada yang memakai jilbab duluan.
Moga-moga tidak dicurigai macam-macam. Soal jilbab, sempat membuat saya kuatir.
Karena baru pertama kalinya ke Vietnam, sedangkan Partai yang berkuasa adalah
Partai Komunis, dan mayoritas penduduk beragama Budha, saya takut saja tidak diterima di sana.

Saat mau terbang, para ABG Vietnam yang duduk di seberang
saya cekikikan sewaktu Kepala Pramugrari menerangkan bahwa Smoking is the big No
No alias strictly prohibited, memang lucu sih kedengarannya, kata-kata Big No
No. Wah, saya suka deh, terbang dengan maskapai asing seperti Tiger. Para
penumpang juga tidak bandel. Dari awal sudah diterangkan kalau pada saat
memasuki pesawat, HP sudah dimatikan, kemudian di dalam pesawat diingetin lagi,
HP hanya bisa dibunyikan setelah berada di gedung bandara, alias sudah
benar-benar keluar dari pesawat. Asli kontras dengan para penumpang Indonesia
di penerbangan lokal dari Batam ke Jakarta pada saat saya pulang. Oh Indonesia,
kapan majunya kita ini kalau kita tidak disiplin dan susah diatur?

Kalau kita mau naik pesawat Tiger, sedikit tips, bawalah
Headphone. Soalnya, di tiap-tiap kursi, ada radionya. Jadi kita tinggal colok,
bisa dengerin lagu, tapi saya tidak bawa itu headphone. Nggak tau sih. Di pesawat, setelah take off, Para Pramugari
memberikan form imigrasi Vietnam. Berbeda dari Indonesia, Singapore dan
Malaysia yang form imigrasinya kecil-kecil, form visa Vietnam masih berbentuk
lembaran sehalaman buku, rangkap dua warna putih dan kuning. Mbak-mbak
pramugari juga mulai menawarkan makanan, minuman dan brosur belanjaan. Khas
airline murah. Saya cuma beli susu Milo panas aja waktu pulang. Harganya SGD 2,
sekitar 12 ribu waktu itu.

Kurang lebih tiga jam waktu yang ditempuh dari Changi ke
Hanoi. Perbedaan naik pesawat di LN sama Indonesia, pilotnya apa co-pilotnya
cukup melegakan penumpang. Dia menerangkan jarak yang ditempuh, cuaca, kemudian
peringatan dan permintaan maaf bila pesawat akan menabrak awan tetapi sebisa
mungkin akan memberikan yang terbaik.

Akhirnya, setelah tiga jam lebih dari Changi, sampailah
pesawat Tiger Airways di Noi Bai Hanoi.
Sampainya pukul 18.00 an. Maghrib kali ya, kalau di Indonesia. Mbak kepala pramugari mengingatkan agar HP
diaktifkan nanti setelah memasuki gedung bandara. Para penumpang nurut semua.
Enak ya, kalau semua orang disiplin. Terminal kedatangan Hanoi tidak terlalu
ramai seperti Cengkareng pada saat kami mendarat.

Setelah berjalan beberapa saat, tibalah kita di imigrasi
bandara. Saya amati, para petugas imigrasinya rata-rata masih muda semua. Dua
puluhan lah. Yang tua-tua ke mana ya ?
Sewaktu giliran saya, sempet deg-degan juga. Takut ditolak masuk Vietnam. Waktu
itu karena di blangko visa saya tidak menulis tempat tinggal selama di Vietnam,
petugas menanyakan hal itu. Saya tulis
nama sebuah hotel dekat bandara yang saya temukan di website. Hang Gia Hotel.
Eeeeh, malah petugas imigrasinya ketawa sama temennya. Bete juga waktu itu
diketawain orang. Belakangan, ternyata
emang saya yang salah tulis. Nama Hotel-nya adalah Dai Hoang Gia, alamatnya di
Km 5,5 Duong Cao Toc Thang Long-Noi Bai. Telponnya +84 4 9580144 atau
belakangnya 2220.

Di Vietnam, kita akan sering menemukan atau membaca
tulisan Khach San yang artinya Hotel. Tarif hotel di Vietnam sama dengan di
Indonesia. Alias lebih mahal kalau kita orang asing. Waktu itu menginap
semalam, trus order makan malam dan telpon-telpon, habis sekitar 364.000 VND.
Satu USD = 15 ribuan Vietnam Dong. Kalau tidak salah, kamarnya sendiri yaitu
250 ribu Dong.

Untuk transportasi dari bandara Noi Bai bisa memilih, ada
di website www.noibaiairport.com. Katanya
kalau naik airport bus lebih murah. Waktu itu saya dari bandara naik taksi.
Bensin di Vietnam kata seorang sopir taksi per liternya lebih dari 10 ribu
Dong. Maka harap maklum kalau argo taksi di Vietnam juga mahal. Dari bandara ke
hotel Dai Hoang Gia yang ada di kilometer 5,5 saja tarifnya sekitar 80 ribu
Dong. Oh ya, kalau naik taksi di Vietnam jangan kaget karena sopir taksi
kenceng juga nyetirnya. Belum lagi, orang-orang yang naik kendaraan membunyikan
klakson tiada hentinya. Termasuk pak sopir taksi yang saya tumpangi. Kacau deh.

Keesokan harinya, saya melanjutkan perjalanan ke kota
Hanoi. Jarak dari bandara ke kota Hanoi seperti dari Cengkareng ke Gambir.
Waktu itu hari Jum’at. Saya janjian ketemuan sama seorang Vietnam yang mualaf
di Masjid Hang Luoc Hanoi. Itu di Ba Dinh District. Distrik paling dekat dengan
Bandara NoiBai, yang ditempuh setelah melewati jembatan Thang Long (kalau tidak
salah) yang di bawahnya membentang Sungai Merah (Red River). Masjidnya kecil.
Tidak kelihatan dari luar kalau itu masjid.
Katanya sih lebih banyak diplomat-diplomat/orang-orang asing yang sholat
di sana. Menurut teman saya, bahasa pengantar untuk sholat Jum’at-nya biasanya
bahasa Inggris atau Indonesia. Malah bukan bahasa Vietnam, saking mungkin
sedikitnya orang Vietnam yang beragama Islam.

Setelah dari Masjid Hang Luoc di distrik Ba Dinh, Hanoi,
saya meneruskan perjalanan ke Halong Bay.
Menurut saya, cara ke Halong Bay versi Mas Puguh di tulisan Buspacking
Viet Nam di www.indobackpacker.com/content/view/137/1/
perlu ditiru. Soalnya itu murah itungannya bila saya bandingkan dengan versi
saya. Mas Puguh dapet USD 30 per orang, Halong Bay Junk Boat Tour, dijemput
dari Hanoi PP, trus nginap di kapal (junk boat) di Halong Bay, full meal, itu
asli paling murah Saya sudah tanya sana sini. Waktu saya di sana, kebingungan
nyarinya, akhirnya nggak ketemu.

Buat semua, pokoknya, di manapun anda berada, ambilah
kartu nama dan brosur yang tersedia bila sedang bepergian. Biar bisa dibagi ke
temen-temen lain. Soalnya bila kita menginap di sana, jatuhnya lebih mahal
kalau dihitung-hitung (Pengalaman pribadi). Dari pinggiran kota Hanoi, ada
terminal bis, Jadi ada minibus seperti van, muat sekitar 15an orang, jurusan
Halong Bay (Bai Chay) PP. Tiketnya 35 ribu Vietnam Dong one way. Bagus lho
mobilnya. AC. Sepertinya untuk transportasi umum, Hanoi OK juga. Tapi ya itu,
bunyi klakson udah seperti menu utama.

Karena tidak ikut tour (highly recommended untuk ambil
tour), saya menginap di Hotel Melati di jalan Vuon Dao seberang Hotel Bintang
Ha Long Dream yang sebelahan sama kantor pos Halong, yang seberang pantai.
Deket-deket warnet yang paling bagus saya rasa di Halong Bay. Soalnya ada
webcamnya, komputernya juga OK, pakai ADSL,
cepet, murah lagi, 2 ribu Dong per jam. Soal internet, di Vietnam,
warnet sudah seperti jamur. Banyak banget. Cuma rata-rata, tidak bisa nge-print
alias tidak tersedia printer, kecuali di daerah turis di daerah Cau Go Hanoi,
deket Danau Hoan Kiem.

Oh ya, untuk hotel, tarifnya 200 ribu Dong, kalau weekend
nambah 50 ribu. Pokoknya kalau kita sudah di daerah Vuon Dao, para pemilik
hotel sudah siaga menyambut kita, menawarkan hotelnya. Bersaing, karena
sederetan hotel melati semua. Kamar tempat saya menginap lumayan. Cukup luas,
semua kamar dengan dua tempat tidur. Bisa muat 4-5 orang mungkin. Untuk air
panas, bila panasnya tidak muncul, bisa telpon ke pemilik hotel di resepsionis
karena penggunaannya dibatasi.

Nah ini dia yang saya salut sama orang Vietnam. Pemilik
hotel adalah suami istri, dengan dua orang anak. Mereka menjalankan bisnis hotelnya cuma
berdua, tanpa ada room boy. Membersihkan
kamar mereka lakukan sendiri. Hebat ! Memang sih, sebagai konsekuensi, mereka
tidak menyediakan sarapan. Jadi, cuma kamar saja.

Oh ya, soal makanan, waduw, makanan di resto-resto Halong,
harganya mahal-mahal. Sebagai contoh nasi goreng (Cam Rang, vietnamese), di
Halong harganya 25 ribu. Sementara di
Hanoi cuma 10 ribu-an. Menu makanan di
Halong versi saya selalu nasi putih, telur dadar goreng dan kangkung (morning
glory?). Di sepanjang jalan Vuon Dao, resto seafood sangat mendominasi, seperti
layaknya daerah pantai. Cuma ya itu, harganya selangit. Untuk mineral water,
rekomendasi saya, belilah selalu Aqua Vina, produknya Pepsi, nggak tau kenapa,
kayaknya beda aja. Atau mungkin karena terlalu brand minded, udah melekat Aqua
di Indonesia ? Maybe.

Ke Halong Bay, lupa beli baju renang ? Don’t worry be
happy. Di seberang kantor pos, tiap malam, ada pasar malam. Buanyak buanget yang jual baju renang. Ada juga kaos Halong
Bay
, dan souvenir lain.
Jangan lupa untuk menawar seperti biasa. Di belakang pasar malam itu pantai.
Eit tapi jangan salah. Kalau kita lihat
ada kursi-kursi pantai, jangan langsung duduk. Vietnam cukup komersil. Kursi-kursi
tersebut milik restoran-restoran di sepanjang pantai. Kalau kita sudah duduk,
pasti akan ada petugas restoran yang mendekati, dan memberitahu tarif kursi
tersebut. Mahal sekali, kalau tidak salah, 25 ribu Dong. Hmmm. Harga kelapa
muda-nya juga begitu. Yah, umumnya
daerah wisata lah.

admin is
Email this author | All posts by admin

Bookmark and Share

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.

Home | About Us | Disclaimer | Credits & Contributor | Join a Contributor | Our Contributor |
Komunitas Backpacker Indonesia | Indobackpacker.com | Travel Photography | Mailinglist Archive | Mailinglist Forum

Copyright ©2004-2009 Indonesia Backpacker Community All rights reserved. All articles and Images may not be reproduced in any form without the express written permission of the copyright holder | All Information contained on this site may not be used for commercial purposes,
for more information please Contact
admin At indobackpacker.com | Powered by the WordPress

Creative Commons License
Except where otherwise noted content on this site is licensed under a
Creative Commons Licence.